• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Temuan Hasil Penelitian

1. Peran Wanita Pekerja Garmen dalam Keluarga

Untuk mengawali wawancara, peneliti memulai pertanyaan yang terkait dengan peran wanita pekerja garmen dalam keluarga.

a. Wanita sebagai istri

Berikut ini adalah hasil wawancara beberapa responden tentang peran mereka sebagai istri:

Ibu J mengungkapkan:

Saya bekerja untuk membantu suami saya mbak, karena

harus dipenuhi. sebelum kerja saya ngopeni anak dulu, bersih-bersih

rumah dan membantu suami menyiapkan dagangan mbak.” (Ibu

J/Selasa/9-08-2016)

Ibu NY juga mengungkapkan:

Sebagai ibu yang bekerja, tanpa melepas tanggung jawab sebagai istri dan ibu, nak saya harus benar-benar bisa memanfaatkan dan bagi-bagi waktu mbak. Saat saya di rumah benar-benar ngurus suami dan anak mbak.” (Ibu NY/jum’at/12-08-2016)

Hal yang sama diungkapkan ibu PI:

Meskipun saya bekerja, nomor satu adalah keluarga mbak, setiap pagi sebelum berangkat kerja saya memasak untuk suami dan anak, saya sambi mencuci baju. (Ibu PI/senin/8-08-2016)

Cerita berbeda dari ibu SF:

“Saat jam lembur saya merasa kurang ada waktu untuk keluarga mbak. Berangkat pagi pulang malam, sampai di rumah kedua anak saya sudah tidur. Saya merasa kasihan kepada anak-anak mbak, tiap hari dari pagi sampai sore diasuh mbahnya, jarang diasuh ibu kandungnya. Dan terkadang rumah sudah kayak kapal pecah mbak tidak ada yang ngurus.” (Ibu SF/Sabtu/13-08-2016)

b. Wanita sebagai ibu rumah tangga

Berikut adalah jawaban responden tentang peran mereka sebagai ibu rumah tangga:

“Bersih-bersih rumah, alhamdulillah semua itu tidak saya kerjakan sendiri mbak, anak-anak mau turun tangan, bisa diandalkan.” (Ibu NH/Kamis/11-08-2016)

Untuk bersih-bersih rumah alhamdulillah dibantu anak, jadi saya sangat merasa terbantu.” (Ibu PI/senin/8-08-2016)

Dalam mengerjakan pekerjaan rumah, alhamdulillah suami dan anak saya yang nomer dua mau membantu mbak.” (Ibu NY/jum’at/12 -08-2016)

Setiap hari di rumah berdua dengan anak. Jadi ya bagi-bagi tugas. Saya masak anak bersih-bersih, jadi kerjaan rumah cepat beres. (Ibu IH/Rabu/10-08-2016)

“semua itu butuh bantuan dari semua anggota keluarga mbak. Rumah bersih dan nyaman tidak akan tercipta jika satu orang bersih-bersih sementara yang lain tidak bisa menjaga kebersih-bersihan.” (Ibu SS/Minggu/14-08-2016)

c. Wanita sebagai pendidik

Setelah dilakukan wawancara, berikut adalah jawaban beberapa responden:

Ibu SS menyampaikan:

“Masalah pendidikan agama, saya tanamkan ke anak sejak kecil mbak.” (ibu SS/minggu/14-08-2016)

Hal yang senada juga disampaikan ibu NY:

“Masalah pendidikan agama sebisa mungkin saya kenalkan sejak kecil, meskipun sepaham saya saja mbak” (ibu NY/jum’at/12 -08-2016)

Ibu PI juga menyampaikan:

“Dalam memberikan pendidikan agama kepada anak, saya menanamkan kepada mereka sejak kecil. Meskipun saya sendiri tidak pintar masalah agama, tapi untuk anak, saya berusaha memberikan yang terbaik mbak. Di rumah sebisa mungkin saya berikan contoh langsung dalam mendidik mereka.” (ibu PI/senin 8-08-2016)

Pendapat lain dari Ibu IH:

“Saya awam mbak masalah agama, makanya anak saya, saya sekolahkan di sekolah Islam, dengan tujuan supaya mendapatkan pendidikan agama yang lebih dari pada sekolah umum mbak. Saya tidak ingin anak saya nanti seperti orang tuanya” (Ibu IH/Rabu/10-08-2016)

2. Religiusitas (Keberagamaan) Anak

Untuk mengetahui bagaimana religiusitas (keberagamaan) anak pekerja garmen maka peneliti langsung melakukan wawancara dengan anak yang bersangkutan.

a. Memiliki keyakinan/aqidah terhadap rukun iman.

Dari wawancara yang telah dilakukan berikut ini jawaban responden:

Tuhan itu Allah, Nabinya Muhammad terus kitabnya

Alqur’an” (ananda ZB/selasa/9-08-2016).

Tuhan yang disembah Allah, Nabinya Muhammad,

Tuhan itu Allah, Nabinya Muhammad terus kitabnya Alqur’an” (ananda OP/sabtu/13-08-2016).

Tuhan yang disembah Allah. Nabi yang menjadi panutan

Muhammad. Kitab sucinya Al-Qur’an. Malaikat yang wajib diketahui

ada sepuluh. Nama-nama dan tugasnya hafal, ada lagunya diajari di

TPA” (ananda C/minggu/14-08-2016).

Lebih lengkapnya, jawaban yang diungkapkan oleh ananda IA, NA, LP, MR, dan I berikut ini:

Ananda IA mengungkapkan:

Allah tuhan yang disembah dan yang jadi panutan Nabi Muhammad. Kitab suci Al-quran. Malaikat yang wajib diketahui ada 10 mbak. Saya hafal nak dinyanyikan mbak. Hari kiamat itu hari hancurnya dunia ini” (Ananda IA/senin/8-08-2016)

Hal senada diungkapkan ananda NA:

Tuhan yang disembah Allah. Nabi yang menjadi panutan

Muhammad. Kitab sucinya Al-Qur’an. Malaikat yang wajib diketahui

ada sepuluh. Nama-nama dan tugasnya hafal, di sekolah kan diajari. Kata bu guru kiamat itu sangat dasyat bisa menghancurkan alam semesta” (Ananda NA/Rabu/10-08-2016).

Ananda LP juga mengungkapkan:

Tuhan yang disembah Allah. Nabi yang menjadi panutan

Muhammad. Kitab sucinya Al-Qur’an. Malaikat yang wajib diketahui

ada sepuluh. Nama-nama dan tugasnya hafal, di TPA kan diajari. Kiamat itu hancurnya alam semesta” (Ananda LP/minggu/14-08-2016).

Hal yang sama juga diungkapkan Ananda MR:

Tuhan yang disembah Allah. Nabi yang menjadi panutan

Muhammad. Kitab sucinya Al-Qur’an. Malaikat yang wajib diketahui

ada sepuluh. Nama-nama dan tugasnya hafal. Hari kiamat itu semua yang ada di dunia ini akan mati” (ananda MR/jum’at/12-08-2016). Lebih lanjut ananda I menambahkan:

“Tuhan yang disembah Allah. Nabi yang menjadi panutan Muhammad. Kitab sucinya Al-Qur’an. Malaikat yang wajib diketahui ada sepuluh. Nama-nama dan tugasnya hafal, dulu taunya karena diajari oleh guru agama dan di TPA. Hari kiamat itu pasti terjadi, tapi hanya Allah yang tahu kapan terjadinya. Segala sesuatu itu sudah ditentukan Allah, kemarin pelajaran agama baru saja bahas materi itu” (Ananda I/kamis/11-08-2016).

b. Mengerjakan kegiatan-kegiatan ibadah yang disuruh dan diajarkan agama.

Ketika peneliti mengajukan pertanyaan tentang kegiatan ibadah, berikut ini pernyataan beberapa responden:

Shalat terus setelah shalat harus berdoa kata ibu. Setiap jum’at di sekolah harus infak. Puasa kemarin puasanya kuat setengah hari. Kata ibu ndak papa untuk latihan” (ananda ZB/Selasa/9-08-2016)

Sudah shalat, selesai shalat berdoa untuk kedua orang tua. Puasa kemarin bisa penuh puasanya, terus dikasih hadiah sama ibu” (ananda NA/Rabu/10-08-2016)

Alhamdulillah sudah shalat, selesai shalat berdoa untuk kedua orang tua. Puasa kemarin puasa. Pernah zakat di masjid” (ananda I/Kamis/11-08-2016).

“Shalatnya di mushola, selesai shalat berdoa untuk kedua orang tua. Puasa kemarin puasa sampai maghrib. Pas zakat kemarin ikut bapak ke masjid ngantar beras” (ananda MR/jum’at/12-08-2016)

Sudah shalat, selesai shalat berdoa untuk bapak ibu. Sudah puasa sampai maghrib dari kelas 2” (ananda LP/Minggu/14-08-2016)

Sudah shalat, selesai shalat berdoa. Puasa kemarin belum kuat sampai maghrib” (ananda C/Minggu/14-08-2016)

c. Memiliki perilaku yang sesuai dengan ajaran agama.

Selanjutnya, peneliti melanjutkan pertanyaan kepada anak tentang bagaimana perilaku sehari-hari, dan berikut adalah jawaban beberapa responden:

Suka membantu ibu bersih-bersih rumah. Tugas kelompok dikerjakan bareng teman. Biasanya sama teman-teman saling tukar makanan terus nak buang sampah ya di tempat sampah. Ikut TPA

sudah Al-Qur’an” (ananda NA/Rabu/10-08-2016)

Setiap hari membantu ibu beres-beres rumah. Nak ada tugas

kelompok dikerjakan bareng-bareng mbak. Berbagi dengan teman paling ya makanan. Buang sampah di tempat sampah” (ananda I/Kamis/ 11-08-2016)

Setiap hari membantu ibu. Tugas kelompok dikerjakan

bareng teman sekelompok. Berbagi dengan teman di sekolah. Buang

d. Mengetahui dan memahami hal-hal yang pokok mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi terhadap ajaran agama.

Setelah melakukan wawancara, peneliti memperoleh jawaban yang dari beberapa responden yaitu:

“Setiap habis maghrib ngaji di rumah ustadz mbak, sudah Al-Qur’an tapi belum memahami. Di dalam Al-Qur’an berisi pedoman hidup untuk manusia mbak” (ananda I/kamis/11-08-2016)

“Setiap hari ngaji di mushala sehabis maghrib sampai isya. Sudah Al-Qur’an tapi belum paham isinya” (ananda MR/jum’at/12-08-2016)

“Setiap habis maghrib ngaji di mushala mbak, sudah Al-Qur’an tapi belum memahami mbak” (ananda LP/minggu/14-08-2016)

Ikut TPA dan setiap habis maghrib ngaji di mushala, audah Al-Qur’an tapi belum tau isinya” (ananda C/minggu/14-08-2016)

e. Merasakan pengalaman unik dan spektakuler yang merupakan keajaiban yang datang dari Allah.

Berikut ini beberapa pengalaman yang dialami responden seperti yang diungkapkan IA:

“Pengalaman sebelum tidur tidak berdo’a terus mimpi buruk. Sekarang sebelum tidur pasti berdo’a” (ananda IA/senin/8-08-2016) Ananda LP juga mengungkapkan:

“Bapak saya sudah meninggal, selesai shalat tidak lupa berdo’a untuk kedua orang tua” (ananda LP/minggu/14-08-2016) Ananda I juga bercerita tentang pengalamannya:

“Melihat teman yang sudah tidak punya orang tua, membuat saya bersyukur masih punya bapak ibu lengkap” (ananda I/kamis/11-08-2016)

3. Membina religiusitas anak

Pada bagian ini diketahui hasil penelitian terkait peran wanita pekerja garmen dalam membina religiusitas anak yang meliputi pembinaan aqidah anak, ibadah anak dan akhlak anak.

a. Membina aqidah anak

Berikut adalah jawaban para responden:

Dalam hal aqidah, di rumah saya masih kurang menanamkan kepada anak saya mbak. Saya ajarkan yang saya ketahui saja. Maklummbak, tidak pintar dalam hal agama” (ibu PI/Senin/8-08-2016).

“Tentang rukun Iman dan Islam, anak saya dapat ilmu dari sekolah dan TPA mbak. Jadi di rumah saya tinggal membimbing” (Ibu SS/Minggu/14-08-2016)

b. Membina ibadah anak

Dari wawancara yang telah dilakukan kepada responden tentang pembinaan ibadah anak, diperoleh keterangan sebagai berikut:

Jika pas di rumah saya ajari anak saya shalat mbak” (Ibu J/Selasa/9-08-2016)

“Anak saya diajak shalat mau mbak. Nak puasa masih latihan mbak, belum kuat puasa sehari” (Ibu Sar/Sabtu/13-08-2016)

Dari kecil anak-anak saya didik setiap dengar adzan segera ke mushala shalat mbak, wong dekat mushala. Setiap bulan puasa

Alhamdulillah anak-anak puasa penuh mbak” (Ibu NY/Jum’at/

12-08-2016)

“Bila di rumah yang saya tekankan adalah masalah shalat mbak.

Namanya anak-anak terkadang disuruh shalat ada saja alasannya. Pas puasa terkadang setengah hari terkadang juga full sehari. Memang harus orang tuanya dulu mbak yang memberi contoh, sabar dan telaten dalam mendidik anak” (Ibu SS/Minggu/14-08-2016) c. Membina akhlak anak

Berikut ini jawaban dari responden:

“Saya bersyukur mbak, anak-anak nurut semua, ngerti keadaan orang tua, mereka sangat rukun dan saling menyayangi” (Ibu NH/kamis/11-08-2016)

“Sikapnya kepada orang tua sangat baik, kepada adiknya juga sayang mbak” (Ibu G/minggu/14-08-2016)

“Anak saya itu nurut mbak, gampang dikandani dan sayang sama

BAB IV PEMBAHASAN

A. Peran Wanita Pekerja dalam Keluarga

Wanita merupakan seorang perempuan yang sudah menginjak masa dewasa (Yahya, 2000:1268). Dimana seorang wanita ini mempunyai peran dalam kehidupan berumah tangga untuk mengatur segala urusan rumah tangga. Sebagai seorang wanita pekerja yang sekaligus sebagai ibu, wanita tetap dituntut berbagi tugas dalam mendidik dan memperhatikan anak-anaknya bersama suami sebagai kepala keluarga.

Wanita sebagai bagian dari keluarga mempunyai tugas-tugas antara lain sebagai istri, sebagai ibu rumah tangga, sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Menurut Hemas (dalam Pudjiwati,1997:35) memaparkan bahwa tugas yang disandang oleh seorang wanita yaitu:

1. Wanita sebagai istri

Wanita tidak hanya sebagai ibu rumah tangga tetapi juga sebagai pendamping suami, sehingga dalam rumah tangga tetap terjalin ketentraman yang dilandasi kasih sayang yang sejati. Wanita sebagai istri dituntut untuk setia pada suami agar dapat menjadi motivator kegiatan suami.

Ini dapat dilihat dari jawaban responden yaitu Ibu NY yang menjelaskan sebagai ibu yang bekerja, tanpa melepas tanggung jawab sebagai istri dan ibu, maka harus benar-benar bisa memanfaatkan dan

membagi waktu. Saat berada di rumah benar-benar mengurus suami dan anak. Hal yang sama juga dilakukan ibu PI, meskipun bekerja tetap menomor satukan keluarga, setiap pagi sebelum berangkat kerja memasak untuk suami dan anak.

2. Wanita sebagai ibu rumah tangga

Sebagai ibu rumah tangga yang bertanggung jawab secara terus-menerus memperhatikan kesehatan rumah dan tata laksana rumah tangga, mengatur segala sesuatu di dalam rumah tangga untuk meningkatkan mutu hidup. Keadaan rumah harus mencerminkan rasa nyaman, aman tentram, dan damai bagi seluruh anggota keluarga.

Selaras dengan hal tersebut ibu NY, ibu NH dan ibu IH menjelaskan bentuk tanggung jawab mereka dalam menciptakan rumah yang bersih dan nyaman yaitu sebelum bekerja mereka dengan dibantu anaknya membersihkan rumah. Ibu SS menambahkan, rumah yang bersih dan nyaman tidak akan tercipta jika satu orang bersih-bersih sementara yang lain tidak bisa menjaga kebersihan.

3. Wanita sebagai pendidik

Ibu adalah wanita pendidik pertama dan utama dalam keluarga bagi putra-putrinya. Di dalam Islam, ibu dikatakan ideal yaitu mampu mendidik anak dengan nilai ke-Islaman sejak masih dini, memiliki budi pekerti yang baik (akhlakul karimah), selalu menjaga perilakunya agar menjadi teladan bagi anaknya, memiliki sikap penyabar, sopan serta lembut dalam

berbicara agar kelak sang anak dapat memiliki kepribadian yang tangguh dan baik.

Begitu juga dengan yang dilakukan oleh responden ibu PI, dalam memberikan pendidikan agama kepada anak, beliau menanamkan sejak masih kecil dan dalam keseharian memberikan contoh langsung dalam mendidik anak. Hal yang sama juga dilakukan oleh ibu NY dan ibu SS, yang juga memberikan pendidikan agama kepada anak sejak kecil meskipun mereka mengaku tidak pintar dan ahli dalam hal agama. Pendapat lain dari ibu IH, yaitu beliau menyekolahkan anak di sekolah Islam, dengan tujuan supaya mendapatkan pendidikan agama yang lebih dari pada sekolah umum karena beliau tidak menginginkan anaknya seperti dirinya yang tidak mengerti masalah agama.

Sebenarnya memasrahkan pendidikan agama anak kepada orang yang dipercaya, lembaga pendidikan seperti sekolah dan Taman Pendidikan Al-Qur`an dan sebagainya, hal itu tidaklah cukup. Sebab, pada hakekatnya transformasi nilai pendidikan dan keagamaan pada akhirnya tetap akan berlangsung lebih lama bersama orang tuanya.

B. Religiusitas Anak

Individu yang memiliki religiusitas tinggi akan tercermin dalam perilakunya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Glock dan Stark dalam dimensi religiusitas, Ancok dan Suroso menjelaskan karakteristik individu yang memiliki religiusitas berdasarkan dimensi religiusitas yang

dikemukakan oleh Glock dan Stark yang memiliki kesesuaian dengan Islam, yaitu:

1. Memiliki keyakinan (aqidah) yang kuat. Aqidah ini mengungkap masalah keyakinan manusia terhadap rukun iman (iman kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab, Nabi, hari pembalasan dan qadha qadar).

Dapat dilihat dari hasil wawancara yang dilakukan kepada responden yaitu ananda I menjawab, tuhan yang disembah adalah Allah, Nabi yang menjadi panutan Muhammad, kitab sucinya Al-Qur’an,

malaikat yang wajib diketahui ada sepuluh, hafal nama-nama dan tugasnya, hari kiamat itu pasti terjadi, tapi hanya Allah yang tahu kapan terjadinya dan segala sesuatu itu sudah ditentukan Allah. Jawaban yang sama juga disampaikan oleh ananda NA, ananda MR dan ananda LP. 2. Mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual sebagaimana disuruh dan diajarkan

oleh agama, seperti shalat, banyak berdzikir, berdoa, rajin berpuasa dan zakat serta ibadah-ibadah lainnya.

Diketahui dari pengakuan beberapa responden yaitu ananda NA, ananda I, ananda MR dan ananda LP yang mengaku sudah melaksanakan

shalat secara rutin, berdo’a setelah selesai shalat, mengerjakan puasa

sampai maghrib selama ramadhan.

3. Perilaku-perilaku yang ditunjukkan disesuaikan dan dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya seperti suka menolong, bekerjasama, berderma, menegakkan keadilan dan kebenaran, jujur, memaafkan, menjaga lingkungan hidup, menjaga amanat dan sebagainya.

Ini dapat dilihat dari jawaban beberapa responden yaitu ananda NA, ananda I dan ananda LP yang mengatakan setiap hari membantu orang tua membersihkan rumah, mengerjakan tugas kelompok dengan teman, berbagi makanan dengan teman dan membuang bungkus makanan ke tempat sampah. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki perilaku yang sesuai dengan ajaran agama.

4. Mengetahui dan memahami hal-hal yang pokok mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi terhadap ajaran agamanya, seperti mengetahui tentang isi Al-Qur'an, pokok-pokok ajaran yang harus diimani dan dilaksanakan (rukun Iman dan rukun Islam).

Dalam hal ini diketahui jawaban responden yaitu ananda I, ananda MR, dan ananda LP mengaku mengikuti kegiatan keagaman di masyarakat seperti TPA dan mengaji setelah maghrib dan sudah bisa membaca

Al-Qur’an namun belum memahami makna kandungannya.

5. Merasakan pengalaman-pengalaman unik dan spektakuler yang merupakan keajaiban yang datang dari Allah, seperti merasakan bahwa doanya dikabulkan Allah, merasakan ketentraman karena menuhankan Allah, tersentuh atau bergetar ketika mendengar asma-asma Allah (seperti suara adzan dan alunan ayat-ayat suci Al-Qur'an) dan perasaan syukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah.

Seperti yang dialami ananda IA yang mengaku mempunyai

pengalaman mimpi buruk karena tidak berdo’a sebelum tidur. Sekarang

mempunyai pengalaman yaitu setiap selesai shalat dia mendo’akan

ayahnya yang sudah meninggal karena dia yakin Allah mendengar

do’anya. Dan ananda I yang bersyukur dengan nikmat yang diberikan

kepadanya yaitu masih memiliki kedua orang tua yang utuh, dibandingkan temannya yang sudah tidak punya orang tua.

Ketika aqidah sudah tertanam baik dalam diri, praktik ibadah dan akhlak sehari-hari sudah baik dalam kehidupan anak, maka akan muncul pengalaman berkesan yang dirasakan anak seperti yang dirasakan oleh ananda IA, LP dan I.

Apa yang diungkapkan oleh beberapa responden menunjukkan bahwa religiusitas yang mereka miliki sudah cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan-kebiasaan yang mereka terapkan, baik tercermin melalui aqidah, kegiatan-kegiatan ritual, aktivitas kemanusiaan yang bersumber dari ajaran agama, maupun pengalaman-pengalaman unik yang berkaitan dengan spiritualitas.

C. Membina Religiusitas Anak

Sebagai umat beragama, orang tua dan pendidik berkewajiban untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan yang meliputi nilai-nilai aqidah, ibadah dan akhlak. Penanaman nilai-nilai tersebut yang berlangsung sejak usia dini, mampu membentuk religiusitas anak mengakar secara kuat dan mempunyai pengaruh sepanjang hidup. Hal ini terjadi pada anak usia itu karena dalam diri anak tersebut belum mempunyai konsep yang dapat digunakan untuk menolak ataupun menyetujui yang masuk pada dirinya.

Sebagai seorang ibu yang mempunyai tanggung jawab dalam memberikan pendidikan agama kepada anak sejak dini dengan dasar-dasar pendidikan agama, bentuk-bentuk pelaksanaan adalah sebagai berikut:

1. Membina aqidah anak

Aqidah secara bahasa berarti ikatan, secara terminologi berarti landasan yang mengikat yaitu keimanan. Aqidah juga sebagai ketentuan dasar mengenai keimanan seorang muslim, landasan dari segala perilakunya, bahkan aqidah sebenarnya merupakan landasan bagi ketentuan syariah yang merupakan pedoman bagi seseorang berperilaku di muka bumi (Daradjat, 1992:317).

Aqidah memiliki enam aspek yaitu: keimanan pada Allah, kepada para Malaikat-Nya, iman kepada para Rasul utusan-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada hari akhir, dan iman kepada ketentuan yang telah dikehendaki-Nya, apakah takdir baik atau takdir buruk.

Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui beberapa keterangan responden yaitu menurut ibu PI dalam hal pembinaan aqidah, beliau masih kurang menanamkan aspek aqidah kepada anak. Pendapat lain yaitu dari ibu SS yang mengaku bahwa anaknya mendapatkan ilmu tentang rukun iman dan rukun islam dari TPA dan sekolah, sehingga di rumah beliau hanya membimbing.

2. Membina ibadah anak

Setelah anak-anak mengetahui dan memahami dengan pendidikan aqidah, maka anak-anak pun perlu merealisasikan dalam bentuk ibadah.

Karena aqidah tidak hanya diyakini saja, melainkan harus dikerjakan dalam ibadah.

Pembinaan dalam beribadah bagi anak ini terbagi dalam 4 dasar pembinaan yaitu pembinaan shalat, pembinaan puasa, pembinaan ibadah haji dan pembinaan zakat.

Dapat dilihat dari hasil wawancara responden yaitu, dalam pembinaan shalat ibu J mengajari anaknya shalat ketika sedang berada di rumah. Hal yang sama juga dilakukan ibu Sar. Pendapat lain dari ibu NY, beliau mendidik anaknya sejak kecil setiap mendengar adzan segera ke mushala untuk shalat. Dalam pembinaan puasa, ibu Sar dan ibu SS melatih anak mereka dengan puasa setengah hari karena belum kuat puasa sehari penuh.

Dalam melakukan pembinaan ibadah anak pastinya ada kendala, dan cara mengatasinya adalah dengan memberi contoh atau teladan langsung kepada anak. Karena sifat dasar dari anak itu sendiri adalah senang meniru (imitatif) dalam melakukan perilaku sehari-hari, tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dari hasil meniru (Jalaluddin, 1996:71).

Cara tersebut digunakan ibu SS dalam mengatasi kendala saat anaknya susah disuruh shalat yaitu memberi contoh langsung, sabar dan telaten dalam mendidik anak.

Walaupun tingkat pelaksanaannya masih sebatas meniru dan mencontoh tanpa pemahaman arti yang sesungguhnya, akan tetapi lambat

laun kebiasaan semacam ini akan menjadi kesadaran yang akan muncul akibat dorongan kebutuhan dari dalam dirinya sendiri.

3. Membina akhlak anak

Akhlak merupakan bentuk jamak dari khuluq yang berarti perangai

atau tabiat. Dalam Ihya’ Ulumudin, Ibnu Maskawih berpendapat bahwa

akhlak adalah suatu sifat yang tertanam di dalam jiwa, darinya timbul

Dokumen terkait