BAB IV HASIL PENELITIAN
B. Temuan Khusus
Kecamatan Koto Baru tepatnya di Nagari sialang Gaung merupakan wilayah yang memilki potensi objek wisata alam yang masih alami. Keadaan alam yang indah dan juga dilengkapi dengan pemandangan yang sangat indah namun kenyataannya masyarakat disana kurang menyadari hal itu.
Pariwisata hendaknya dikembangkan dengan baik agar memberikan dampak yang baik dalam segala bidang. Objek wisata telaga baranang siang/danau cinta kurang dikunjungi oleh pengunjung karena disebabkan oleh sarana dan prasarana yang kurang memadai.
1. Kondisi sarana dan prasarana Objek Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta
Pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah. Hal ini disebabkan pariwisata mempunyai peranan penting dalam pengembangan khususnya pengasil devisa negara.
Sarana dan prasarana merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan pengembangan objek wisata, karena dengan lengkapnya sarana dan prasarana
akan menambah minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah tujuan wisata( DTW).
Sarana adalah fasilitas yang secara langsung dibutuhkan oleh wisatawan di daerah tujuan wisata (DTW), baik berupa jalan, trasnportasi, warung, toilet dan lain-lain. Sedangkan sarana dan prasarana menurut Yoeti dalam Faliana (2009:27) adalah semua fasilitas yang memungkinkan proses perekonomian berjalan lancar sehingga dapat memudahkan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.
Disini penulis akan menguraikan bagaimana sarana dan prasarana yang ada di objek wisata telaga baranang siang/danau cinta.
1. Aksebilitas jalan
Secara umum jalan menuju objek wisata ini sangat buruk dan masih bebatuan, dan jalan menuju objek wisata ini masih berlobang-lobang yang dapat menghambat perjalanan.
Menurut Bapak LF ( 44 tahun) selaku kepala Dinas Pariwisata tanggal 24 mei 2016 mengatakan:
“Akses jalan di objek wisata telaga baranang siang/danau cinta
ini masih belum masksimal seperti yang kita harapkan memang telaga baranang siang ini pernah bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Dharmasraya tetapi untuk saat ini kepemilikannya
masih milik pribadi”.
Menurut Bapak SH (56 Tahun) sebagai Bapak Wali Nagari dari wawancara pada tanggal 25 Mei 2016 mengatakan:
“Untuk akses jalan e kurang elok, masih bughuk, paya untuk
mencapai tempek tu. Kalau aghi ujan jalan tu liak tu yang balubang-lubang tu pnoh taisi dek ayek dalam tu”.
Maksudnya:
Untuk akses jalan nya masih kurang baik, masih jelek, susah untuk mencapai tempat itu. Seandainya hari hujan jalan itu becek dan yang jalannya yang berlobang-lobang akan penuh terisi oleh di dalamnya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk akses jalan menuju objek wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta ini masih kurang baik dan berlobang-lobang. Dapat dilihat seperti gambar dibawah ini.
Gambar IV.1 Kondisi akses jalan menuju objek wisata Telaga Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta sewaktu hari hujan akan digenangi oleh air karena sudah rusak dan berlobang. (Sumber Dokumen pribadi Juni 2016).
Berdasarkan juga wawancara penulis dengan pengelola/pemilik objek wisata telaga baranang siang/danau cinta di kecamatan koto baru dengan bapak SR (56 tahun) pada tanggal 27 mei 2016 mengatakan:
“Memang akses jalan menuju kasitu kurang memadai itu saja
kelemahan nyo baru, belum ado pihak pemda yang ikut campur kalau untuk masalah jalan tu lai, sedangkan untuk tempat sampah belum ditata sedemikian rupa, karena perencanaan pemda dulu mambuka kerja sama dengan pihak pemilik, tapi karno bergulirnyo roda
pemerintah”.sedangkan untuk transportasi e masih pakai kendaraan
pribadi baru nyo. Maksudnya:
Memang akses jalan menuju ke sana kurang memadai itu saja kelemahannya sekarang, belum ada pihak pemda yang ikut campur kalau untuk masalah jalan, sedangkan untuk tempat sampah belum ditata sebagus mungkin, karena perencanaan pemda dulu ingin membuka kerja sama dengan pihak pemilik, tapi karena bertukarnya sistem pemerintah. Sedangkan untuk transportasi nya masih pakai kendaraan pribadi
Gambar IV.2 Kondisi akses jalan menuju objek wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta masih bebatuan. (Sumber Dokumen pribadi Juni 2016). Keterangan yang sama juga diberikan oleh Bapak JN (tanggal 26 Mei 2016) sebagai masyarakat mengatakan:
“kalau dari lintas Sumatra daghi Padang ka koto Baghu tula bagus,
tapi kalau masuk ka objek wisata tu masih liak, jalannyo masih
batu-batu”.
Maksudnya:
Kalau dari lintas Sumatera dari Padang ke Koto Baru sudah bagus, tapi kalau memasuki objek wisata masih becek dan jalannya masih bebatuan.
Hasil wawancara penulis dengan beberapa informan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk aksebilitas jalan menuju objek wisata telaga baranang siang ini masih bebatuan, dan banyak terdapat lobang-lobang seandainya hari hujan maka lobang tersebut akan terisi air maka dapat menghambat perjalanan menuju kesana dari pihak pemda belum ada ikut campur untuk masalah aksebilitas jalan.
2. Transportasi
Keterangan yang diberikan oleh ibu MS (54 tahun) sebagai masyarakat setempat mengatakan:
“Trasnfortasi e pakai oto soghang-soghang, honda soghang dakdo
trasnfortasi khusus ka situ d banyak yang pakai honda lah ke situ e”. Maksudnya:
Transportasi nya pakai mobil sendiri, motor sendiri belum ada transportasi khusus menuju ke tempat objek wisata yang lebih banyak pakai sepeda motor.
Keterangan yang sama yang juga diberikan oleh Ibu SP (50 tahun) dan Ibu SD (58 tahun) mengatakan bahwa:
“kalau untuk transportasi khusus menuju kesitu lun ado li d. Biasonyo
penunjung tu makai honda yang banyak datang kasitu, anak-anak
mudo yang baok pacar e kesitu”.
Maksudnya:
Kalau transportasi khusus menuju kesana belum ada. Biasanya pengunjung itu memakai honda yang banyak datang kesini, anak-anak muda yang membawa pacarnya.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan beberapa informan diatas dapat disimpulkan bahwa transportasi untuk mencapai objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta ini masih memakai kendaraan pribadi, kebanyakan masrayakat memakai motor dan belum ada transportasi khusus. 3. WC umum
Secara umum untuk kondisi WC / toilet di objek wisata telaga barang siang/ danau cinta ini telah disediakan oleh pihak pengelola tapi, karena kurangnya perawatan dan tidak terurus maka WC umum ini menjadi tidak layak lagi untuk digunakan apalagi untuk saat sekarang ini.
Keterangan diberikan oleh AG ( Tanggal 3 Juni 2016) sebagai masyarakat mengatakan :
Gambar IV. 3 : Kondisi WC umum yang ada di objek wisata Telaga Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta yang tidak layak untuk sekarang ini. (Sumber Dokumen pribadi Juni2016).
Keterangan yang sama juga diberikan oleh Bapak SR (56 Tahun) sebagai pemilik/ pengelola mengatakan:
“WC umum cukup memadai sebanyak 14 unit tetapi WC tu pencar-pencar, karena lokasinya wisata tidak satu tempat, nyo ado tigo tampek salah satunyo berado dikawasan tu termasuk kamar mandi. Langsung dengan WC tapi, kalau di colek kini dakdo memadai li d dan dakdo layak untuk digunon e d.
Maksudnya:
WC umum cukup memadai sebanyak 14 unit tetapi WC nya pisah-pisah, karena lokasi objek wisata tidak satu tempat ada tiga tempat salah satunya berada dikawasan itu termasuk kamar mandi. Langsung dengan WC tapi kalau di lihat sekarang memang tidak memadai lagi atau tidak layak untuk digunakan.
Keterangan yang juga diberikan oleh Bapak SH (56 tahun) selaku Wali Nagari mengatakan:
“Tapi kalau untuk sarana dan prasarana seperti Wc dan Tempek
Sampah lum menyokong li d, biaso e tong sampah sampah lai ado tapi jaghang”.
Maksudnya:
Tapi kalau untuk sarana dan prasarana seperti WC dan tempat sampah belum menyokong, biasanya tong sampah ada tapi jarang.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diatas bahwa untuk kondisi WC umum saat ini bisa dikatakan tidak layak lagi digunakan karena kurangnya perawatan dari pengelola begitu juga dengan kondisi prasana yang lainnya.
Keterangan yang sama juga diberikan oleh RD ( Tanggal 27 Mei 2016). Sebagai Masyarakat mengatakan:
“Biaso e tong sampah dkdo tasadio di situ d,jaghang la ado e,
pengunjung tu biaso e buang sampah tu di tepi-tepi danau tu la e.
Maksudnya :
Biasa nya tempat sampah belum tersedia di situ, jarang ada, pengunjung biasanya buang sampah di tepi-tepi danau saja.
Hasil wawancara penulis dengan beberapa informan diatas disimpulkan bahwa memang objek wisata telaga baranang siang/danau cinta ini sarana dan prasarananya masih kurang memadai dilihat saja dari kondisi WC umum . Karena masih terkendala oleh kurangnya dana khususnya dalam sarana dan prasanana. Pengembangan objek wisata membutuhkan dana yang besar dari pihak yang akan mengembangkan objek wisata. Tanpa adanya dana yang cukup objek wisata tidak akan dapat berkembang dengan sendirinya.
2. Kondisi Sumber Daya Manusia Objek Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta
Pembangunan pariwisata, sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu kunci yang menentukan laju perkembangan pembangunan disuatu kawasan atau daerah. Salah satu penyebab tidak berfungsinya objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta ini berdasarkan penelitian yang dilakukan karena kurangnya SDM dalam bidang pengelolaan dan keamanan serta masyarakat yang juga kurang mendukung keberadaan objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta.
Berdasarkan wawancara penulis dengan dengan Bapak AF (53 tahun) sebagai masyarakat setempat mengatakan:
“kalau untuk peraturan pemerintah tu yo lun ado setau apak d, tapi kalau dari pengelola tu ado.untuk keamanan kurang bagus, menurut carito dulu memang objek wisata ko untuk urghang yang bekaluarga dulu, ado bebek-bebek. Kalu seandai e di kelola dek ughang yang profesional di buek jalan ancak-ancak pasti la objek wisata ko
bakembang, tapi kan dana yang dibutukan tu dakdo ketek d”.
Maksudnya:
Kalau untuk peraturan pemerintah itu yang belum ada setahu Bapak, tapi kalau dari pengelola ada. Untuk keamanan kurang bagus, menurut cerita dulu memang objek wisata ini untuk orang yang sudah berkeluarga, ada bebek-bebek. Kalau seandainya di kelola oleh orang yang profesional di buat jalan bagus-bagus pasti objek wisata ini berkembang, tapi dana yang dibutuhkan tidak sedikit.
Gambar IV.4 : Kondisi salah satu wahana objek wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta yang tidak berfungsi lagi karena kurangnya pengelolaan. (Sumber Dokumen pribadi Juni 2016).
Pengembangan pemerintah ini juga tidak terlepas dari peran organisasi kepariwisataan pemerintah, seperti dinas pariwisata yang mempunyai tugas dan wewenang serta kewajiban untuk mengembangkan dan memanfaatkan aset negara yang berupa objek wisata.
Pengembangan sebuah objek wisata di dukung oleh pengunjung yang baik dan mematuhi peraturan dan adat-adat yang berlaku di daerah yang akan kita kunjungi agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan pengunjung yang datang ke objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta ini kurang mematuhi peraturan dan adat-adat yang sudah ditetapkan.
Keterangan yang sama diberikan oleh Bapak RK (34 tahun) 2 juni 2016 sebagai masyarakat setempat mengatakan:
“yo kalau utnuk keamanan di objek wisata ko kini bule la
dikatokan kurang aman untuk pengunjung karno banyak preman yang malak-malak mangko objek wisata ko kami tutuik
dengansecara baik-baik bair dakao kesan yang bughuk nampak di
wisata ko lai”.
Maksudnya:
Ya kalau untuk keamanan di objek ini belum bisa dikatakan aman untuk pengunjung banyak preman yang memeras pengunjung oleh sebab itu objek wisata ini kami tutup secara baik-baik supaya tidak ada kesan yang jelek di objek wisata ini.
Gambar IV.5 : Kondisi pos keamanan yang ada di objek wisata Telaga Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta. (Sumber Dokumen pribadi Juni 2016).
Hasil wawancara penulis dengan beberapa informan diatas disimpulkan bahwa memang objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta ini masih kurang memadai dalam sumber daya manusia . Karena masih terkendala oleh kurangnya pengeloaan dan keamanan yang mendukung sehingga pengunjung menyalahgunakan objek wisata ini karena kurangnya peraturan yang ketat. Sebaiknya pemerintah lebih memperhatikan pariwisata yang ada sehingga tidak hal-hal yang tidak diinginkan.
3. Kondisi Sumber Daya AlamObjek Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta.
Berdasarkan wawancara penulis dengan masyarakat setempat LL (26 tahun) tanggal 3 juni 2016 menyatakan bahwa:
“untuk sumber daya alam masih mendukung la, bisa dijadikan objek
wisata tapi pengelolaan nyo tu yang kughang, cubo kalau di ola dengan elok pasti banyak ughang yang bakunjung ka objek wisata
ko”.
Maksudnya:
untuk sumber daya alamnya masih mendukung la, bisa dijadikan objek wisata tapi pengeloaan nya yang kurang, seandainya kalau dikelola dengan baik pasti akan banyak orang yang berkunjung ke objek wisata ini.
Gambar IV. 7 : Kondisi sumber daya alam yang ada di objek wisata Telaga Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta yang masih memliki potensi untuk dijadikan objek wisata. (Sumber Dokumen pribadi Juni 2016).
Keterangan yang diberikan oleh Bapak SR (56 tahun) selaku pengelola/ pemilik menyatakan:
“secara potensi daerah untuk Kabupaten Dharmasraya sebenarnya tampek awak ko bapotensi untuk dikembangkan untuk alamnyo tu mendukung, tu tadi la kendala nyo kurang dana, kalau
dari pihak awak sajo yang mengelola dak lo bisa d”.
Maksudnya :
Secara potensi untuk Kabupaten Dharmasraya sebenarnya tepat saya ini berpotensi untuk dikembangkan untuk alamnya mendukung, itu tadi kendalanya kurang dana, kalau dari pihak saya saja yang mengelola tidak mungkin bisa.
Berdasarkan hasil wawancara dan hasil pengamatan penulis untuk sumber daya alam objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta ini masih alami dan berpotensi untuk dikembangkan tapi karena kurangnya perhatian dari pemerintah dan pengelolaan yang kurang bagus menyebabkan objek wisata ini tidak berfungsi lagi.
4. Kondisi Pengunjung di Objek Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta
Pengujung yaitu setiap orang yang datang kesuatu Negara atau tempat tinggal lain biasanya dengan maksud apapun kecuali untuk melakukan pekerjaan yang mereka upah. Pengunjung yang baik akan memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan pariwisata didukung oleh pengunjung yang tertib dan mematuhi peraturan dan adat istiadat saat mereka berkunjung.
Objek wisata telaga baranang siang ini kurang mendapatkan dukungan dari masyarakat karena pengunjung yang datang kesana tidak mematuhi peraturan yang dibuat oleh pengelola dan sering melanggar adat-adat di daerah tersebut.
Berdasarkan wawancara penulis dengan masyarakat setempat yang disampaikan oleh Ibu UC (43 tahun) mengatakan:
“biasanya pengunjung tu anak sekolah, kalau lah rusak anak
sakolah tu apo yang tajadi untuk seterus e, kebanyakan k situ anak remaja-remaja la yang babuek yang idak-idak”.
Maksudnya:
Biasanya pengunjung itu anak sekolah, kalau seandainya anak sekolah yang rusak apa yang akan terjadi seterusnya, kebanyakan yang datang kesana anak-anak remaja yang berbuat yang tidak diinginkan.
Keterangan yang sama juga berikan oleh Bapak JS (42 tahun) sebagai masyarakat setempat mengatakan:
“banyak akibatnyo itu yang dirisaukan e dek ughang-ughang
kampung ko, dek tokoh-tokoh masyarakat, katib-katib masojik, tu anak-anak sakolah yang mudo-mudo tu babuek yang idak-idak ado yang tatangkok gai disitu dulu. Ado ughang yang bakebun dkek objek wisata tu inyo dak punyo malu. Baetong mamak-mamak tutuik li akhir e.
Maksudnya:
Banyak akibatnya itu yang diresahkan sama orang-orang kampung ini, sama tokoh-tokoh masyarakat, katib-katib mesjid, anak-anak sekolah yang muda-muda berbuat yang tidak diinginkan ada yang tertanggap disana. Ada orang yang memiliki perkebunan dekat
objek wisata dia tidak punya malu. Akhirnya musyawarah mamak-mamak, akhirnya objek wisata itu tutup.
Berdasarkan wawancara penulis dengan beberapa informan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pengunjung yang datang ke objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta ini kebanyakan anak remaja yang kurang mematuhi peraturan yang ada disana sehingga masyarakat menjadi khawatir dan akhirnya objek wisata ini ditutup.