• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK NORA SATRIANI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ABSTRAK NORA SATRIANI"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

i

Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat, Padang, 2016.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, membahas dan menganalisis penyebab tidak berfungsinya objek wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, yang mana objek wisata ini tidak berfungsi lagi sebagai objek wisata disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan pariwisata terutama dalam menjaga keamanan dan pengelolaannya.

Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Informan dalam penelitian ini ditentukan dengan teknik Purposive sampling. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang mendalam. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Berdasarkan hasil penemuan dan pembahasan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta ini tidak difungsikan lagi sebagai objek wisata disebabkan sarana dan prasarana yang kurang memadai dan pemerintah kurang memperhatikan objek wisata ini. 2)Sumber daya manusia yang kurang memadai seperti pengelolaan yang kurang, keamanan sehingga pengunjung melanggar peraturan yang sudah ditetapkan. 3)Untuk sumber daya alam masih berpotensi untuk dijadikan objek wisata namun objek wisata ini masih terkendala dalam bidang dana untuk mengembangkannya sehingga alam yang mendukung tidak dimanfaatkan untuk dijadikan objek wisata. 4)Pengunjung di objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta ini tidak mematuhi aturan dan adat-adat yang ada di sana sehingga objek wisata ini ditutup karena pengunjung sering berbuat sesuatu yang tidak diinginkan. Jadi penyebab tidak berfungsinya objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta ini karena kurangnya perhatian dari pemerintah, masyarakat yang kurang mendukung serta keamanan dan pengelolaan yang masih kurang.

(5)

ii

Puji syukur penulis ucapkan kehadiran ALLAH S.W.T yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-NYA penulis telah dapat menyelesaikan penyusunan dan skripsi yang berjudul “ Penyebab Tidak Berfungsinya Objek Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya”. Skripsi ini diajukan sebagais salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana satu (SI) Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bantuan, bimbingan, dan petunjuk dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada yang terhormat:

1. Bapak Drs. Bakaruddin, MS. Sebagai pembimbing I yang telah bersedia membimbing penulisan skripsi.

2. Ibu Elsa M.Pd. sebagai pembimbing II yang telah membimbing menyelesaikan penulisan skripsi hingga selesai.

3. Bapak Slamet Rianto M.Pd, Ibu Nefilinda S.E, M.Si dan Ibu Erna Juita S.Pd, M.Si sebagai penguji yang telah memberikan kritik dan saran dalam penulisan skripsi ini.

4. Ibu Dr. Zusmelia, M.Si. sebagai Ketua STKIP PGRI Sumatera Barat.

ii

Puji syukur penulis ucapkan kehadiran ALLAH S.W.T yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-NYA penulis telah dapat menyelesaikan penyusunan dan skripsi yang berjudul “ Penyebab Tidak Berfungsinya Objek Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya”. Skripsi ini diajukan sebagais salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana satu (SI) Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bantuan, bimbingan, dan petunjuk dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada yang terhormat:

1. Bapak Drs. Bakaruddin, MS. Sebagai pembimbing I yang telah bersedia membimbing penulisan skripsi.

2. Ibu Elsa M.Pd. sebagai pembimbing II yang telah membimbing menyelesaikan penulisan skripsi hingga selesai.

3. Bapak Slamet Rianto M.Pd, Ibu Nefilinda S.E, M.Si dan Ibu Erna Juita S.Pd, M.Si sebagai penguji yang telah memberikan kritik dan saran dalam penulisan skripsi ini.

4. Ibu Dr. Zusmelia, M.Si. sebagai Ketua STKIP PGRI Sumatera Barat.

ii

Puji syukur penulis ucapkan kehadiran ALLAH S.W.T yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-NYA penulis telah dapat menyelesaikan penyusunan dan skripsi yang berjudul “ Penyebab Tidak Berfungsinya Objek Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya”. Skripsi ini diajukan sebagais salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana satu (SI) Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bantuan, bimbingan, dan petunjuk dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada yang terhormat:

1. Bapak Drs. Bakaruddin, MS. Sebagai pembimbing I yang telah bersedia membimbing penulisan skripsi.

2. Ibu Elsa M.Pd. sebagai pembimbing II yang telah membimbing menyelesaikan penulisan skripsi hingga selesai.

3. Bapak Slamet Rianto M.Pd, Ibu Nefilinda S.E, M.Si dan Ibu Erna Juita S.Pd, M.Si sebagai penguji yang telah memberikan kritik dan saran dalam penulisan skripsi ini.

(6)

iii

6. Kepada Ibunda Nila Kusmawati dan Ayahanda Zukri / Herli , Kakanda Dedek Ismanto dan adik Pegi Legito yang telah memberikan semangat dan motivasi.

7. Kepada rekan-rekan Geografi Sesi 2012 D dan rekan-rekan di STKIP PGRI Sumatera Barat seperjuangan.

8. Kepada kantor Kesatuan Bangsa dan Politik yang telah memberikan izin di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya.

9. Kepada Kantor Dinas Perhubungan Komunikasi Informatika, Pariwisata dan Budaya yang telah memberikan surat izin serta memberikan data yang diinginkan peneliti secara akurat.

10. Kepada kantor Camat kecamatan Koto Baru yang telah memberikan izin penelitian di Kenagarian Sialang Gaung.

11. Kepada Kantor Wali Nagari Sialang Gaung yang telah memberikan izin dan memberikan data yang akurat

12. Kepada Bapak Sarail pengelola/ pemilik Objek Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta yang memberikan data yang diinginkan peneliti secara akurat.

(7)

iv

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari kesempurnaa, untuk itu dengan hati yang tulus penulis menerima kritikan dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis mengucapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya. Amin ya Rabbal Alamin.

Padang, Juni 2016

(8)

v

KATA PENGANTAR. ...ii

DAFTAR ISI... v

DAFTAR TABEL. ...vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Masalah... 5

C. Pertanyaan Penelitian ... 5

D. Tujuan Penelitian... 6

E. Kegunaan Penelitian... 7

BAB IITINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori... 8

1. Pengertian Objek Wisata ... 8

2. Kurangnya Pengawasan dari Pemerintah Daerah ... 9

3. Pariwisata Dilihat Dari Sarana dan Prasarana... 12

4. Pariwisata dilihat dari Sumber Daya Manusia ... 15

(9)

vi BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ... 25

B. Lokasi Penelitian ... 26

C. Informan Penelitian ... 26

D. Teknik Pengumpulan Data ... 26

E. Jenis Data, Sumber Data, dan Alat Pengumpulan Data ... 28

F. Teknik Analisis... 29

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Temuan Umum... 31 B. Temuan Khusus... 36 C. Pembahasan... 50 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan. ... 54 B. Saran. ... 55 DAFTAR PUSTAKA 56 LAMPIRAN 57

(10)

vii

Tabel IV.2. Kemiringan Wilayah Nagari Sialang Gaung ... 33 Tabel IV.3.Luas Lahan Menurut Penggunaan Lahan

(11)

viii

Gambar IV.I Kondisi akses jalan menuju objek wisata

Telaga Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta... 38 Gambar IV.2. Kondisi akses jalan menuju objek wisata

Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta masih bebatuan ... 39 Gambar 1V.3. Kondisi WC umum umum yang tidak layak digunakan ... 42 Gambar IV.4. Kondisi salah satu wahana yang tidak berfungsi lagi

karena kurangnya pengelolaan ... 45 Gambar IV.5. Kondisi pos keamanan ... 46 Gambar IV.6. Kondisi sumber daya alam yang ada di objek wisata

(12)

ix

2. Data Informan ... 66 3. Tabel Reduksi Wawancara dengan Informan ... 67 4. Dokumentasi Penelitian ... 74 5. Surat Izin Penelitian

6. Peta Administrasi 7. Peta Lokasi

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia memiliki banyak potensi dan sumber daya alam yang belum dikembangkan secara maksimal, termasuk didalamnya di sektor pariwisata. Pembangunan bidang pariwisata diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, karena sektor pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan di bidang ekonomi. Kegiatan pariwisata merupakan salah satu sektor non migas yang diharapkan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian.

Usaha pengembangan dunia pariwisata Indonesia ini didukung dengan UU nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan yang menyebutkan keberadaan objek wisata pada suatu daerah akan menguntungkan, antara lain meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan memperluas kesempatan kerja mengingat semakin banyaknya pengangguran saat ini, meningkatkan rasa cinta lingkungan serta melestarikan alam dan budaya setempat. Oleh karena itu pengembangan dan pelaksanaan kepariwisataan harus diupayakan secara terencana. Bertahap dan berkesinambungan setelah melalui pengkajian secara cermat (Santri 2009:1)

Di Indonesia sendiri, pembangunan dalam bidang pariwisata sudah dimulai sejak Repelita I tahun 1969, hal ini dilakukan melalui pembinaan sadar wisata bagi bangsa Indonesia yang juga dikaitkan dengan pembangunan nasional. Tap MPR No.II/1993, juga menegaskan bahwa pembangunan

(14)

nasional berkaitan dengan sektor lainnya, yang berarti keberhasilan pariwisata turut mendukung keberhasilan pembangunan nasional. Perkembangan pariwisata nasional sejak awal berdirinya sampai saat ini memang mengalami banyak kemajuan. Akan tetapi, apabila dilihat secara menyeluruh, posisi Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN masih mengahadapi banyak kendala dalam dunia pariwisata, meskipun pemerintah sudah berusaha melakukan berbagai terobosan baru. Namun kepariwisataan Indonesia seperti juga di negara berkembang lainnya tidak lepas dari permasalahan dan kendala yang harus di benahi dengan serius terutama dari segi biaya (Ali Akbar 2006:2).

Baik atau tidaknya suatu daerah pariwisata kita harus mengetahui faktor-faktor yang sangat menentukan bagi perkembangan pariwisata yaitu adanya kebebasan bergerak dalam arti melakukan perjalanan kelengkapan sarana transportasi, dan komunikasi, adanya sarana akomodasi, dan catering, adanya daya tarik Daerah Tujuan Wisata (DTW), adanya dana bagi yang melakukan perjalanan Daerah Tujuan Wisata. Adanya faktor kemudahan yang lebih besar dari mengunjungi Daerah Tujuan Wisata. Tersedianya unsur-unsur pelayanan yang memadai termasuk bahan-bahan dan sarana informasi (Bakaruddin 2009: 49).

Meskipun suatu daerah mempunyai daya tarik yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung, kendala-kendala dan permasalahan pariwisata ada, kendala yang menghambat kelancaran arus pariwisata tersebut

(15)

menbutuhkan penanganan yang serius dari berbagai pihak baik pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Sama halnya dengan daerah-daerah di Indonesia, Sumatera Barat dari segi geografisnya sangat potensial untuk dijadikan dan dikembangkan menjadi daerah objek wisata alam maupun budaya. Hal ini tentu saja didukung oleh alamnya yang bervariasi serta dilalui jalur pegunungan bukit barisan dan patahan semangko. Salah satu daerah objek wisata yang berpotensi di sumatera barat yaitu kabupaten Dharmasraya.Secara geografis Dharmasraya berada diujung tenggara provinsi Sumatera Barat, dengan topografi bervariasi antara berbukit, bergelombang dan datar dengan variasi ketinggian dari seratus meter sampai seribu lima ratus dari permukaan laut cocok untuk perkembangan pariwisata salah satunya objek wisata telaga baranang siang/danau cinta yang berada di Kabupaten Dharmasraya.

Telaga baranang siang/danau cinta ini berdiri pada tanggal 4 Agustus 2006 merupakan objek wisata danau buatan yang terdapat di alam yang masih asri, objek wisata telaga baranang siang/danau cinta terdapat di Kecamatan Koto Baru, tepatnya di Jorong Simpang Tiga, sekitar 40 Km dari pusat Kabupaten. Keindahan alam yang disuguhkan oleh objek wisata Telaga Baranang Siang/danau cinta masih alami dan sangat berpotensi untuk dijadikan tempat wisata.Disini pengunjung dapat menikmati suasana santai dengan disediakan bebek untuk berwisata di danau buatan bersama keluarga ataupun orang-orang yang di cintai sambil menikmati sepeda air yang unik dan lucu, Objek wisata ini terketak di kecamatan Koto Baru letaknya cukup

(16)

strategis tidak jauh dari tepi jalan dengan mengendarai sepeda motor atau kendaraan pribadi lain seperti Mobil maka akan sampai di tempat tujuan.

Namun sangat disayangkan meski pemerintah telah berusaha mempromosikan Objek wisata telaga baranang siang/danau cinta tetapi masih ada juga kendala yang belum terselesaikan tidak sesuai dengan keinginan, walaupun objek wisata ini sangat berpotensi untuk dijadikan tempat wisata, telaga baranang siang/danau cinta ini terkendala dalam bidang sarana dan prasarana, keamanan, dan akses jalan menuju ke sana masih sangat memperhatinkan. Walaupun pemerintah sudah melakukan berbagai usaha dan terobosan baru dengan melahirkan berbagai ide dan kebijakan tetapi, semua itu tidak sesuai dengan yang inginkan, karena dukungan dari masyarakat sekitar kurang mendukung objek wisata ini tetapi, pemerintah juga sangat memerlukan dukungan masyarakat dan swasta untuk tercapainya keberhasilan, pembangunan perlu adanya dukungan keselarasan, dedikasi, serta loyaritas dari segenap masyarakat.

Objek wisata telaga baranang siang/danau cinta yang kurang mendapatkan pengembangan dan pemeliharaan baik dalam bidang sarana dan prasarana, keamanan sehingga objek wisata ini kurang diminati lagi oleh pengunjung. Bahkan objek wisata telaga baranang siang/danau cinta ini tidak difungsikan lagi sebagai tempat wisata mengingat banyaknya permasalahan yang belum terselesaikan, dan sudah di tutup pada pertengahan tahun 2015 (Dinas Pariwisata : 2016).

(17)

Berdasarkan observasi awal objek wisata baranang siang ini telah ditumbuhi oleh semak belukar bahkan sudah tidak berfungsi lagi sebagai objek wisata dan sudah ditanami pertanian kelapa sawit. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk mengambil penelitian ini dengan judul “Penyebab Tidak Berfungsinya Objek Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya”.

B. Fokus Masalah

Sesuai dengan latar belakang maka fokus masalah dalam penelitian ini tentang Penyebab Tidak Berfungsinya Objek Wisata Baranang Siang/ Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya.

C. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan fokus masalah diatas maka pertanyaan penelitian ini adalah: 1. Apakah kondisi sarana dan prasarana Penyebab tidak berfungsinya objek

wisata Telaga Baranang Siang/Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya?

2. Apakah kondisi sumber daya manusia penyebab tidak berfungsinya objek wisata Telaga Baranang Siang/Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupeten Dharmasraya?

(18)

3. Apakah kondisi sumber daya alam penyebab tidak berfungsinya objek wisata Telaga Baranang Siang/Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupeten Dharmasraya?

4. Apakah pengunjung penyebab tidak berfungsinya objek wisata Telaga Baranang Siang/Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui,membahas dan menganalisis mengenai:

1. Penyebab kondisi sarana dan prasarana tidak berfungsinya objek wisata Telaga Baranang Siang/Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupeten Dharmasraya.

2. Penyebab sumber daya manusia tidak berfungsinya objek wisata Telaga Baranang Siang/Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupeten Dharmasraya.

3. Penyebab sumber daya alam tidak berfungsinya objek wisata Telaga Baranang Siang/Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupeten Dharmasraya.

4. Penyebab pengunjung tidak berfungsinya objek wisata Telaga Baranang Siang/Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupeten Dharmasraya.

(19)

E. Kegunaan Penelitian

Berdasarkan pentingnya masalah dan tujuan penelitian ini, diharapkan dapat berguna untuk:

1. Sebagai salah satu syarat untuk mendapatakan gelar sarjana Strata Satu (S.I) di Program Studi Pendidikan Geografi. Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Pendidikan (STKIP) PGRI Padang Sumatera Barat.

2. Sebagai bahan informasi atau masukan bagi penulis tentang penyebab tidak berfungsinya objek wisata telaga baranang siang/danau cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya.

3. Menambah khasanah pengetahuan peneliti dibidang pariwisata serta permasalahannya.

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori

1. Objek Wisata

Objek wisata adalah ciri khas suatu daerah atau tempat yang ditunjang oleh keadaan alam suatu daerah, dalam literatur kepariwisataan luar negeri objek wisata dikenal dengan istilah “Touris attraction” yaitu segala sesuatu yang mempunyai daya tarik bagi orang untuk mengunjungi daerah pariwisata tersebut (Saputra 2010:9)

Menurut Bakaruddin (2008:82) menyatakan bahwa objek wisata merupakan segala sesuatu yang dapat dilihat, dinikmati dan menimbulkan kesan tersendiri seseorang apabila didukung oleh sarana dan prasarananya yang memadai. Menurut Bakaruddin, objek wisata itu berdasarkan sifat dapat digolongkan atas 3 bagian yaitu:

1. Objek wisata alam, yaitu objek wisata yang benar-benar belum dibentuk oleh keaktifan tangan manus nvia, misalnya pengembangan air terjun, danau, dan sungai.

2. Objek wisata budaya, yaitu objek wisata yang mengandung usaha budaya seperti: peninggalan-peninggalan sejarah dan tata cara budaya rakyat. 3. Alam budaya, yaitu objek wisata yang dimodifikasi seperti taman safari,

taman raya dan lain sebagainya.

Erdaningsih dalam Megi (2010:8) mengartikan objek wisata sebagaii sesuatu yang dapat menjadi daya tarik bagi seseorang atau calon wisatawan untuk berkumpul kesuatu daerah tujuan wisata. Undang-undang RI No.9

(21)

tahun 1970 kepariwisataan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan objek wisata atau daya tarik terdiri atas dua bagian yaitu:

1. Objek dan daya tarik ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang terwujud keadaan alam serta flora dan fauna.

2. Objek dan daya purbakala, seni budaya wisata, agrowisata, wisata pertualangan, taman rekreasi dan tempat hiburan lainnya.

Wisata budaya dimaksudkan agar perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan, untuk memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan atau peninjauan ke tempat lain atau luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat mereka, cara hidup mereka, budaya dan seni mereka.

2. Kurangnya Pengawasan dari Pemerintah Daerah

Menurut UN-WTO, peran pemerintah dalam menentukan kebijakan dan swasta sangat strategis dan bertanggung jawab terhadap beberapa hal sebagai berikut:

1. Membangun kerangka (framework) operasional di mana sektor publik swasta terlibat dalam penggerakkan denyut pariwisata.

2. Menyediakan dan mempasilitaskan kebutuhan legislasi, regulasi, dan kontrol yang ditetapkan dalam pariwisata, perlindungan lingkungan, dan pelestarian serta warisan budaya.

3. Menyediakan dan membangun infrastruktur transportasi darat, laut dan udara dengan kelengkapan prasarana komunikasi.

(22)

4. Membangun dan memfasilitasi peningkatan kualitas sumber daya alam manusia dengan menjamin pendidikan dan pelatihan yang profesional untuk menyuplai kebutuhan tenaga kerja di sektor pariwisata.

5. Menerjemah kebijakan pariwisata yang disusun kedalam rencana kongkret yang mungkin termasuk didalamnya: (a) evaluasi kekayaan aset pariwisata, alam dan budaya serta mekanisme perlindungan dan pelestariannya; (b) identifikasi dan kategori produk pariwisata yang mempunyai keunggulan komperatif dan komparatif; (c) menentukan persyaratan dan ketentuan penyediaan infrastruktur dan suprastruktur yang dibutuhkan yang akan berdampak pada keragaan (performance) pariwisata, dan; (d) mengaborasi program untuk pembiayaan dalam aktivitas pariwisata, baik untuk sektor publik maupun swasta.

Untuk mencapai kesuksesan dalam pembangunan pariwisata diperlukan pemahaman baik dari sisi pemerintah selaku regulatormaupun dari sisi pengusaha selaku bisnis. Pemerintah tentu harus memperhatikan dan memastikan bahwa pembangunan pariwisata itu akan mampu memberikan keuntungan sekaligus menekan biaya sosial ekonomi serta dampak lingkungan sekecil mungkin. Di sisi lain, pebisnis yang lebih terfokus dan berorientasi keuntungan tentu bisa seenakknya melakukan sesuatu demi mencapai keuntungan dengan kebijakan dan regulasi dari pemerintah. Misalnya melalui peraturan tata ruang, perjinan, lisensi, akreditasi, dan perundang-undangan (Gde dan Surya 2009:113).

(23)

Menurut Muljadi Aj. dalam Faliana (2009:15) peranan pemerintah terhadap pengembangan objek wisata yaitu:

a. Memberikan sumbangan terhadap penerimaan devisa yang sangat diperlukan untuk membiayai pembangunan nasional, meringankan beban utang negara dan memelihara nilai mata uang rupiah terhadap mata uang asing.

b. Menciptakan lapangan kerja tidak hanya terbatas di kota tetapi justru menyebar keperdesaan.

c. Memperluas kesempatan berusaha disektor formal dan informal usaha menengah, kecil dan koperasi.

d. Peningkatan pendapatan pemerintah pusat dan daerah melalui berbagai pihak pajak dan retribusi.

e. Meningkatkan pendapatan masyarakat.

f. Pemerataan pembanguna dan mengurangi ketimpangan pembangunan baik secara struktural, spasial dan sektor.

Jadi berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, upaya pemerintah dalam usaha pengembangan pariwisata di Indonesia yaitu: (1) Meningkatkan pelayanan pariwisata yang baik yaitu : aman, tertib, bersih dan indah. (2) Meningkatkan fasilitas pariwisata seperti: akomodasi, cendramata, restoran, travel, agen-agen. (3) Mengadakan kampanye nasional tentang sadar wisata.

(24)

3. Pariwisata Dilihat Dari Sarana dan Prasarana a. Sarana

sarana kepariwisataan (tourism infrastructure) adalah semua fasilitas yang memungkinkan agar prasaran kepariwisataan dapat hidup dan berkembang serta dapat memberikan pelayanan pada wisatawan untuk memenuhi kebutuhan mereka yang beraneka ragam .

Sarana wisata merupakan kelengkapan daerah tujuan wisata yang diperlukan untuk melayani kebutuhan wisatawan dalam menikmati perjalanan wisatanya)

Menurut A. Kreck dalam Yoeti (1983:184) di jelaskan pengertian “sarana” yang dimaksud yaitu perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung maupun tidak langsung dan hidup serta kehidupannya banyak tergantung pada kedatangan wisatawan. Sarana wisatawan ini dikelompokkan atas 3 bagian (1). Sarana pokok,(2). Sarana pelengkap, (3). Sarana penunjang

1. Sarana pokok adalah perusahaan yang hidup dan kehidupan tergantung pada arus kunjungan wisata misalnya travel agent, tour operator, perusahaan angkutan wisata, hotel, bar, dan restoran serta atraksi wisata. 2. Sarana pelengkap kepariwisataan adalah perusahaan-perusahaan yang

menyediakan fasilitas-fasilitas untuk rekreasi sehingga membuat agar wisata dapat lebih lama tinggal pada suatu daerah tujuan wisata.

(25)

3. Sarana penunjang kepariwisataan ialah perusahaan-perusahaan yang menunjang sarana pelengkap dan sarana pokok dan berfungsi tidak hanya membuat wisatawan lebih lama tinggal pada suatu daerah tujuan wisata.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sarana pelengkap dan penunjang seperti dijelaskan di atas akan dapat mendukung sarana pokok, artinya ke tiga sarana tersebut saling isi mengisi satu sama lain (Bakaruddin 2009:100).

b. Prasarana

Prasarana (infrastuctures) adalah semua fasilitas yang dapat memungkinkan prosesperekonomian berjalan dengan lancar sedemikian rupa, sehingga dapat memudahkan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhannya.Prasarana wisata adalah sumber daya alam dan sumber daya manusia yang mutlak dibutuhkan oleh wisatawan dalam perjalanannya di daerah tujuan wisata, seperti jalan, listrik, air, telekomunikasi, terminal, jembatan, danlain sebagainya.

Menurut A. kreck dalam Yoeti (1983:172) prasarana dibagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu:

a. Prasarana Perekonomian

1. Transportasi yaitu pengangkutan yang dapat membawa para wisatawan dari tempat tinggal menuju daerah wisata.

2. Komunikasi yaitu telepon, telegram, radio, TV, surat kabar, handpond, pos dan lainnya.

(26)

3. Utilities yaitu penerangan listrik, persediaan air minum, sistem irigasi dan sumber energi

b. Prasarana Sosial

Sistem pendidikan yaitu berupa lembaga-lembaga pendidikan yang mengkhususkan dalam bidang kepariwisataan meningkatkan pelayanan wisatawan (Bakaruddin 2009: 90)

1. Pelayanan kesehatan, terutama disekitar objek wisata dalam rangka mengantisifasi secara cepat bagi wisatawan yang merasa terganggu kesehatannya.

2. Keamanan penting artinya bagi wisatawan.

3. Government apparatur yaitu berupa petugas yang langsung melayani wisatawan.

Menurut A. Kreck dalam Yoeti (1983:184) sarana yaitu perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung maupun tidak langsung dan hidup serta kehidupannya banyak tergantung pada kedatangan wisatawan.

Oka Yoeti dalam Bakaruddin (2009:100) dijelaskan bahwa prasarana pariwisata ada 3 (tiga) bagian yaitu (a). Prasarana umum menyangkut kebutuhan orang banyak yang tujuannya adalah membantu kelancaran roda perekonomian,(b). Kebutuhan masyarakat banyak seperti rumah sakit, kantor pos, apotik, pompa bensin, perbankan, polisi dan sebagainya,(c). Prasarana kepariwisataan.

(27)

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa prasarana yang lengkap akan memberikan kenyamanan kepada wisatawan yang akan berkunjung ke daerah wisata tersebut.

4. Pariwisata dilihat dari Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia diakui sebagai salah satu komponen vital dalam pembangunan pariwisata. Hampir setiap tahap dan elemen pariwisata memerlukan sumber daya alam manusia untuk menggerakkannya. Singkatnya, faktor sumber daya manusia sangat menentukan eksistensi pariwisata. Sabagai salah satu industri jasa, sikap dan kemampuan staff akan berdampak krusial terhadap bagaimana pelayanan pariwisata diberikan kepada wisatawan yang secara langsung akan berdampak pada kenyamanan, kepuasan dan kesan atas kegiatan wisata yang dilakukannya Gde, (2009:68).

5. Pariwisata dilihat dari Sumber Daya Alam

Elemen dari sumber daya, misalnya air, pepohonan, udara, hamparan, pegunungan, pantai, bentang alam, dan sebagainya, tidak akan menjadi sumber daya yang berguna bagi pariwisata kecuali semua elemen tersebut dapat memuaskan dan memenuhi kebutuhan. Oleh karenanya, sumber daya memerlukan intervensi manusia untuk mengubahnya menjadi bermanfaat.

Menurut Damanik dan Weber dalam I Gde (2009:69), sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata alam adalah (1). Keajaiban dan keindahan alam, (2). Keragaman flora, (3). Keragaman fauna, (4). Kehidupan satwa liar, (5). Vegetasi alam, (6). Ekosistem yang belum terjajah manusia, (7). Rekreasi perairan, (8). Lintas alam, (9). Objek megalitik,

(28)

(10). Suhu dan kelembaban udara yang nyaman, (11). Curah hujan yang normal, dan lain sebagainya (Gde 2009:69)

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulakan bahwa sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi wisata alam mempunyai daerah yang masih alami serta flora dan fauna yang khas sehingga tercipta tempat wisata yang dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut.

6. Penyalahgunaan Objek Wisata oleh Pengunjung

Orang-orang yang datang berkunjung disuatu tempat atau Negara mereka disebut sebagai pengunjung yang terdiri dar beberapa orang dengan bermacam motivasi kunjungan termasuk didalamnya adalah wisatawan sehingga tidak semua pengunjung termasuk wisatawan. Pengujung yaitu setiiap orang yang datang kesuatu Negara atau tempat tinggal lain biasanya dengan maksud apapun kecuali untuk melakukan pekerjaan yang mereka upah.

Objek wisata adalah ciri khas suatu daerah atau tempat yang dikunjungi oleh keadaan alam suatu daerah. Dalam literature kepariwisataan luar negeri objek wisata di kenal dengan istilah “ TOURIS ATRAKHOR” yaitu segala sesuatu yang menjadikan daya tarik bagi orang yang mengunjungi suatu daerah tertentu. Jamaris dalam Susanti, mira (2007:8) menyatakan objek wisata merupakan segala sesuatu yang dapat dilihat, dinikmati dan menimbulkan kesan tersendiri pada diri seseorang apabila di dukung oleh sarana dan prasarana yang memadai.

(29)

Menurut Jamaris dalam Mira(2007:8) objek wisata berdasarkan sifatnya digolongkan tiga bagian . (1) Objek wisata alam yaitu objek wisata yang benar-benar belum di bentuk oleh kreatifan tangan manusia, misalnya pengembangan objek wisata air terjun, danau, sungai dan lain-lain. (2) Objek wisata budaya yaitu objek wisata yang mengandung usaha budaya, misalnya peninggalan sejarah, dan tata budaya rakyat. (3) Objek wisata alam budaya atau artisial yaitu objek wisata yang di modifikasi oleh kreatif tangan manusia agar lebih menarik seperti taman safari, taman raya dan sebagainya.

Berkembangnya sebuah objek wisata di dukung penuh oleh pengunjung yang tertib dengan mematuhi peraturan yang ada pada tempat objek wisata tersebut, sehingga tercipta sapta pesona yaitu unsur daya tarik wisatawan yang dapat mempengaruhi keinginan berkunjung yang membuatnya betah tinggal lebih lama di Daerah Tempat Wisata (DTW).

Salah satu tujuh dari sapta pesona tersebut yaitu aman, wisatawan akan senang berkunjung kesuatu tempat apabila merasa aman, tentram, terlindung dan bebas dari tindak kejahatan, kekerasan, ancaman seperti kecopetan, pemerasan penipuan dan sebagainya (Bakaruddin 2009:82).

Sebagimana yang telah disinggung diatas pada dasarnya ada 7 (tujuh) unsur daya tarik wisatawan yang dapat mempengaruhi keinginan berkunjung wisatawan yang membuatnya betah tinggal lebih lama di DTW. Dengan adanya sapta pesona sebagai tema sentral dalam kampanye sadar wisata bukanlah mengada-ngadakan dan bukan pula merupakan mustahil diwujudkan (Bakaruddin 2009:82).

(30)

a. Keamanan

Menurut Bakaruddin keamanan suatu kondisi yang memberikan suasana tentram bagi wisatawan, bebas dari rasa takut dan tidak khawatir akan keselamatan jiwa, raga dan harta milik, bebas dari ancaman, gangguan dan tindakan kekerasan.

Wisatawan akan senang berkunjung kesuatu tempat apabila merasa aman, tentram, tidak takut, terlindung dan bebas dari:

a. Tidak kejahatan, kekerasan, ancaman, seperti kecopetan, pemerasan, penodongan, penipuan dan lain sebagainya.

b. Terserang penyakit menular dan penyakit berbahaya lainnya.

c. Kecelakaan oleh alat perlengkapan dan fasilitas kurang baik, seperti kendaraan, peralatan untuk makan dan minum, lift, alat perlengkapan atau rekreasi atau olagraga.

d. Gangguan oleh masyarakat, antara lain berupa pemaksaan pedagang asongan tangan tahil, ucapan dan tindakan serta prilaku yang tidak bersahabat dan lain sebagainya.

Berdasarkan pendapat diatas dapat diambil kesimpulan keamanan merupakan suatu kondisi dan keadaan yang memebriakan suasana tentang tentaram bagi wisatawan. Kondisi keamanan merupakan faktor yang paling penting dan sangat diperlukan sebelum wisatawan menuju tujuan wisata yang hendak di kunjungi.

(31)

b. Tertib

Kondisi yang tertib merupakan suatu yang sangat didambakan oleh setiap orang termasuk wisatwan. Kondisi tersebut tercermin dari suasana yang teratur, rapi, dan lancar serta menunjukkan disiplin yang tinggi dalam semua segi kehidupan masyarakat, contoh disiplin misalnya:

a. Lalu lintas tertib, teratur, lancar, alat angkutan datang dan berangkat tepat waktu.

b. Tidak nampak orang berdasarkan atau perebutan mendapatkan atau membeli sesuatu yang diperlukan.

c. Bangunan, dan lingkungan ditata tertaur da rapi. d. Pelayanan dilakukan secara baik dan tepat

e. Informasi yang benar dan tidak membingungkan. c. Bersih

Bersih merupakan merupakan salah satu kondisi atau keadaan yang menampilkan sifat bersih dan sehat (higienis). Keadaan yang bersih harus selalu tercermin pada lingkungan dan sarana pariwisata yang bersih da rapi, penggunaan alat perlengkapan yang selalu terawat baik, bersih dan bebas dari bakteri atau hama penyakit, makanan dan minuman yang sehat serta penampilan petugas pelayanan yang bersih baik fisik maupun pakaiannya.

Bersih dari lingkungan dimana wisatawan akan menemukan lingkungan yang bersih dan bebas dari sampah, limbah, pencemaran mau kotorannya. Bersih dari segi bahan dimana wisatawan atau bahan lainnya dalam proses penyajian.

(32)

Bakaruddin (2009:84) bersih merupakan satu keadaan atau kondisi lingkungan yang menampilkan suasana bebas kotoran, sampah, limbah, penyakit dan pencemaran.

d. Kesejukan

Lingkungan yang serba hijau, segar, rapi memberikan suasana atau keadaan sejuk, nyaman, dan tentaram. Kesejukan yang dikehendaki tidak saja harus berada diluar ruangan, misalnya ruangan kerja/belajar, ruangan makan, ruangan tidur dan lain sebagainya.

e. Indah

Keadaan atau suasana yang menampilkan lingkunaganyang menarik dan seadap dipandang. Indah dapat dilihat dari segi, seperti segi tata warna, tata letak, tata ruang bentuk ataupun gaya dan gerak yang serasi dan selaras sehingga memberi kesan yang enak dan cantik untuk dilihat.

Indah yang selalu sejalan dengan bersih dan tertib dan tidak terpisahkan dari lingkungan hidup baik berupa ciptaan Tuhan yang maha Esa hasil karya manusia. Karena kita akan memelihara lingkungan hidup agar lestari dan dapat dinikmati oleh umat manusia.

f. Ramah Tamah

Ramah tamah merupakan suatu sikap dan priaku seseorang yang menunjukkan keakraban, sopan, suka membantu, suka tersenyum dan menarik hati. Ramah tamah merupakan watak dan budaya bangsa Indonesia pada umumnya, yang selalu menghormati tamunya dan dapat menjadi tuan rumah

(33)

yang baik, sikap ramah tamah merupakan satu daya tarik bagi wiastawan dan harus di pelihara secara baik.

g. Cendramata

Cendaramata (kenangan) adalah kesan yang melekat dengan kuat pada ingatan dan perasaan seseorang yang disebbkan dengan kuat ingatan dan perasaan seseorang yang disebakan oleh pengalaman yang diperoleh. Kenangan yang diwujudkan dalam ingatan dan perasaan wisatawan dari pengalaman berwisata di Indonesia, enggan sendirinya indah dan menyenangkan., kenangan yang indah ini dapat pula diciptakan antara lain: a. Akomodasi yang nyaman, bersih dan sehat, pelayanan yang cepat, tepat

dan ramah, suasana yang mencerminkan ciri khas daerah dalam bentuk dan gaya bangunan serta dekorasinya.

b. Atraksi seni budaya daerah yang khas dan mempesona baik berupa itu berupa seni tari, seni suara, berbagai macam upacara.

c. Makanan dan minuman khas daerah yang lezat, dengan penampilan dan penyajian yang menarik. Makanan dan minuman ini merupakan salah satu daya tarik yang kuat dan dapat dijadikan jati diri (identitas) bangsa.

d. Cendramata yang mungil yang mencerminkan ciri-ciri khas daerah, bermutu tinggi, mudah dibawa, dan dengan harga terjangkau, mempunyai arti tersendiri dan dijadikan bukti atau kenangan dari kunjugan seseorang kesuatu tempat/daerah/negara.

Sapta pesona dan tujuan pelaksanaannya begitu luas dan tidak untuk kepentingan pariwisata semata. Memasyarakatkan dan membudayakan sapta

(34)

pesona dalam kehidupan sehari-hari mempunyai tujuan yang lebih luas, yaitu untuk meningkatkan disiplin nasional dan jati diri bangsa yang juga akan meningkatkan citra bangsa dan negara.

Menurut A. Yoeti (1997:1) bahwa pertumbuhan kepariwisataan yang tidak terkendali sebagai akibat dari perencanaan yang tidak baik, pasti akan menimbulkan dampak yang tidak baik dan tentunya akan tidak menguntungkan semua pihak (Muljadi 2012 : 68).

Berdasarkan uraian diatas bahwa dalam pengembangan pariwisata diperlukan rencana, agar dapat mengurangi dapat mengurangi dampak ekonomi, sosial dan budaya dalam masyarakat, terutama di daerah tujuan wisata.

B. Penelitian Yang Relevan

Kajian penelitian relavan merupakan bagian menguraikan tentang pendapat atau hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan permasalahan yang di teliti, berikut ini dikemukakan hasil penelitian yang telah dilakukan dilapangan yang menghasilkan kesimpulan antara lain:

Setria (2011) STKIP Sumbar yang berjudul “ Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Wisata Kota Sawahlunto” hasil penelitiannya bahwa partisipasi masyarakat dalam menjaga dan memelihara keamanan dan kawasan objek wisata tambang masih kurang, hal ini terlihat dari masih banyaknya sampah yang berserakan di seluruh objek wisata, pemeliharaan sarana dan prasarana di lokasi ini baik oleh Dinas Pariwisata dan masyarakat

(35)

masih sangat minim, sehingga pengembangan objek wisata cenderung kurang tidak berjalan bahkan bisa jadi tidak berfungsi lagi sebagai objek wisata.

Faliana (2009) yang berjudul Faktor-Faktor Tidak Berkembangnya Objek Wisata Alam Air Manca Di Kecamatan Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan” hasil penelitiannya bahwa sarana dan prasarana belum lengkap sehingga pengunjung kurang kurang berminat berkunjung ke sana, partisipasi masyarakat kurang serta peranan pemerintah kurang mempromosikan potensi objek wisata ini ke media massa.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah memfokuskan, kurangnya pemeliharaan dari masyarakat dan pemerintah setempat dalam aspek sarana dan prasarana, keamanan untuk menjaga dan melestarikan objek wisata yang judulnya Penyebab Tidak Berfungsinya Objek Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasyara.

C. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa penyebab tidak berfungsinya objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta karena kurangnya, sarana dan prasarana, keamanan dan kurangnya dukungan dari pemerintah yang tidak memperhatikan objek wisata sehingga objek wisata ini tidak berkembang bahkan tidak berfungsi lagi sebagai tempat wisata.

Keamanan suatu kondisi akan memberikan suasana tentram bagi wisatawan, bebas dari rasa takut dan tidak khawatir akan keselamatan jiwa, raga dan harta milik, bebas dari ancaman, gangguan dan tindakan kekerasan.

(36)

Sarana dan prasarana yang lengkap sumber daya manusia dan sumber daya alam yang memungkinkan agar dapat memberikan pelayanan pada wisatawan untuk memenuhi kebutuhan mereka yang beraneka ragam serta dapat memberikan kepuasan tersendiri kepada pengunjung yang akan berkunjung ke tempat wisata tersebut.

Berdasarkan hal di atas, pengkajian mengenai penyebab tidak berfungsinya objek wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta di Kabupaten Dharmasraya, yang meliputi sarana dan prasarana, sumber daya manusia, sumber daya alam dan dari pengunjung objek wisata. Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran dapat dilihat pada skema berikut ini:

Gambar : I. Alur Pikir

Penyebab Tidak Berfungsinya Objek Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta di Kenagarian Sialang

Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya. Pengunjung Sumber Daya Manusia Sumber Daya Alam Sarana dan Prasarana

(37)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan ini bersifat kualitatif, yaitu penelitian yang berusaha mengungkapkan yang penyebab tidak berfungsinya objek wisata telaga baranang siang/danau cinta di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya. Untuk membahas atau menjawab masalah yang akan dirumuskan maka dapat digunakan data sekunder lalu data primer. Data sekunder yaitu data yang dapat menunjang penelitian yang diperoleh melalui sumber-sumber yang berkaitan dengan objek wisata. Sedangkan data primer yaitu data yang berhubungan langsung dengan permasalahan penelitian.

Menurut Maleong (2010:5), metode penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya prilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain. Secara holistic, dan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khususnya yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

Penulis buku penelitian kualitatif lainnya (Denzin dan Lincoln 1987) Dalam bukunya Maleong (2010:5) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Dari segi pengertian ini, para penulis masih tetap

(38)

mempersoalkan latar alamiah dengan maksud agar hasilnya dapat digunakan untuk menafsirkan fenomena dan dimanfaatkan untuk penelitian kualitatif adalah sebagai macam metode penelitian.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah di Kenagarian Sialang Gaung Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, penelitian ini dilakukan di objek wisata Telaga Baranang Siang/Danau Cinta pada tahun 2016.

C. Informan Penelitian

Informasi penelitian ini di ambil secara Purposive Sampling (Pertunjukan) yaitu penelitian sampel berdasarkan pada karakteristik tertentu, informan kunci penelitian ini adalah Dinas Pariwisata,Wali Nagari, dan Pemilik/ Pengelola sedangkan informan pendukung adalah Masyarakat yang berada disekitar objek wisata telaga baranang siang/danau cinta.

D. Teknik Pengumpulan Data

Agar data dibutuhkan dapat dikumpulkan dengan baik maka teknik pengumpulan data dalam penelitian adalah:

1. Observasi

Observasi adalah alat pengumpulan data yang dilakukannya mengamati dan mencatat secara sistematis gejala-gejala yang diselidiki (Chalid 2009:70). Menurut pengertian psikologik, observasi atau disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh panca indra. Jadi,

(39)

mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap ( Arikunto, 2010 : 199).

Taktik yang digunakan untuk melihat lokasi dan mengamati objek wisata serta penyalahgunaan oleh pengunjung dan pandangan masyarakat terhadap objek wisata tersebut.

2. Wawancara

Wawancara kepada informan dimaksudkan untuk mengetahui pandangan, tanggapan, sikap dan pemahaman masyarakat tentang penyebab tidak berfungsinya objek wisata baranang telaga baranang siang/danau cinta.

Teknik ini dilakukan 2 metode: a. Wawancara bebas

Wawancara bebas yaitu bertujuan untuk memperoleh ketenagaan yang sifatnya informal atau tidak resmi yang biasanya terwujud dalam pembicaraan-pembicaraan ringan namun demikian keterangan-keterangan yang diberikan diarahkan pada yang diinginkan.

b. Wawancara terstruktur

Wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan yang akan diajukan.

3. Pencatatan dilapangan

Pencatatan sumber utama adalah melalui pengamatan dan wawancara merupakan hasil usaha gabungan dan kegiatan melihat, mendengar, dan bertanya faliana (2009:20).

(40)

Permasalahan dilapangan menurut Bugdon biklen (1982:32) dalam Faliana (2009) adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, diamati dan pikiran dalam pengumpulan data terhadap data dalam penelitian kualitatif.

4. Pemotretan

Pemotretan dilakukan memperkuat dan mendukung data yang diperoleh, hasil penelitian berupa foto-foto yang dilampirkan sesuai dengan data dan persoalan penelitian.

E. Jenis Data, Sumber Data, dan Alat Pengumpulan Data. 1. Jenis data

Sesuai dengan tujuan penelitian yang hendak dicapai, maka data yang dikumpulkan adalah:

a) Data primer

Data primer merupakan data yang dikumpulkan secara langsung oleh peneliti dan biasa dikumpulkan menggunakan metode survei, observasi, ekperimen ataupun dokumentari.

b) Data sekunder

Data sekunder merupakan data yang tidak dikumpulkan peneliti secara langsung melainkan diambil dari berbagai dokumen cetak ataupun elektronik (Durri Andriani, dkk 2014).

2. Sumber data

Menurut Lofland dalam Moleong (2010:157) sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data

(41)

tambahan seperti dokumen dan lain-lain, serta informan informan kunci penelitian ini adalah Dinas Pariwisata,Wali Nagari, dan pengelola sedangkan informan pendukung adalah Masyarakat yang berada disekitar objek wisata telaga baranang siang/danau cinta.

3. Alat pengumpulan data

Data adalah catatan mengenai fakta dari fenomena atau keadaan yang diamati. Dalam sebuah penelitian, upaya untuk mendapatkan data yang bermutu merupakan suatu keharusan karena kualitas data akan menjadi penentu kualitas penelitian.

Penelitian memperoleh data primer melalui observasi secara langsung dan observasi secara tidak langsung (pemotretan dan dokumentasi). Untuk melakukan wawancara peneliti menggunakan buku bacaan dan mengabdiikannya memakai kamera. Sedangkan data sekunder diperoleh dari lembaga-lembaga vertical seperti kantor camat Koto Baru.

F. Teknik Analisa Data

Dalam teknik analisa data dapat diperoleh dengan menggunakan teknik sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Reduksi data merupakan merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dam mencarinya bila diperlukan. (Sugiyono 2014 : 253).

(42)

2. Penyajian Data

Penyajian data akan mempermudah untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami. 3. Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan merupakan bagian dari suatu kegiatan konfigurasi utuh, kesimpulan dilakukan selama penelitian, kesimpulan awal bersifat longgar dan akhirnya semakin rinci. Apabila terjadi kesalahan data yang mengakibatkan kesimpulan tidak sesuai, maka dilakukan proses ulang dengan melalui tahap yang sama.

(43)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Temuan Umum 1. Kondisi Fisik

a. Batas letak dan luas batas

Kenagarian Sialang Gaung merupakan salah satu Kenagarian yang berada di wilayah pemerintahan Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya. Kenagarian Sialang Gaung ini memiliki luas wilayah 12,86 Km2. Secara Astronomis Nagari Sialang Gaung terletak pada 10 5’ 54,603’’LS dan 101043’ 43,941” BT Dengan suhu rata-rata 260 C dan tinggi dari permukaan laut adalah 10,41. Ditinjau dari segi geografis Kenagarian Sialang Gaung berbatasan dengan :

a. Sebelah Utara : Kenagarian BatuRijal.

b. Sebelah Selatan : Kenagarian Ampang Kuranji. c. Sebelah Timur : Kenagarian Tiumang.

d. Sebelah Barat : Kenagarian Koto Padang.

Kenagarian Sialang Gaung berdasarkan administrasi pemerintahannya memiliki 11 Jorong. (Sumber Kantor Wali NagariSialang Gaung).

b. Iklim dan Hidrologi

Keadaan iklim pada Kenagarian Sialang Gaung beriklim tropis yang mempunyai suhu 26 0 - 32 0C. Ditinjau dari segi hidrologinya secara umum sistem air pada Kenagarian Sialang Gaung biasanya masyarakat menggunakan air.

(44)

1. Air Irigasi Batang Hari

Air Irigsai ini mengalir dalam Kenagarian Sialang Gaung. Air ini dijadikan sebagai sumber pengairan sawah masyarakat yang ada dalam lingkungan Kenagarian Sialang Gaung dan juga digunakan untuk perikanan.

2. Air Tanah

Air bersih merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang berfungsi sebagai penunjang segala aktifitas manusia. Sumber Air bersih dikawasan nagari Sialang Gaung sebagian besar berasal dari sumur. Mengenai air tanah ini, biasanya berkaitan dengan proses penggunaannya apakah itu berupa pemanfaatan air tanah melalui proses galian maupun melalui proses pengeboran. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel dibawah ini:

Tabel IV. I Sumber Air Bersih Sialang Gaung Tahun 2010 No Jenis Sumber Air

Bersih

Jumlah ( Unit ) Pemanfaat ( KK ) Kondisi

1. Sumur Gali 250 250 Baik

2. Sumur pompa/Sanyo 1.350 1.350 Baik

3. Depot isi ulang 1 117 Baik

Sumber : Profil Nagari Sialang Gaung. c. Topografi

Bentuk permukaan Kenagarian Sialang Gaung merupakan dataran rendah yang bervariasi tingkat kemiringannya.Secara umum kemiringan wilayah Kenagarian Sialang Gaung dibagi atas kemiringan Bervariasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel di bawah ini:

(45)

Tabel IV.2. Kemiringan Wilayah Nagari Sialang Gaung No Kemiringan Luas ( Km2) % 1 2 Landai Agak Curam 82,712 4,688 98 2 Total 87,4 100

Sumber: Kantor Wali Nagari Sialang Gaung.

Dari tabel dapat kita lihat jenis lereng Nagari Sialang Gaung ada 2 yaituLandai,Agak curam.

d. Penggunaan Lahan

Bentuk morfologi Kenagarian terdiri dari areal dataran yang mempunyai karakteristik tersendiri.Penggunaan lahan di Kenagarian Sialang Gaung berupa pemukiman, sawah, pekarangan, perkebunan,Irigasi dan Lain-lain sebagainya . Untuk guna lahan yang terbesar adalah Perkebunan yaitu 40,66 %, sedangkan guna lahan yang terkecil adalah guna lahan perkarangan 7,09 %.Untuk Status kepemilikan tanah di Nagari Sialang Gaung pada umumnya merupakan tanah hak milik perorangan.

Tabel IV.3. Luas Lahan Menurut Penggunaan Lahan Nagari Sialang Gaung Tahun 2010

No Jenisdan penggunaan Luas (Km2) Persentase (%)

1. Pemukiman 13,45 15,4

2. Sawah 13,37 15,3

3. Sawah tadah hujan 3,91 4,47

4. Perkebunan Perorangan 43,7 50

5. Prasarana Umumlainnya 9,18 10,50

6. Irigasi teknis 3,78 4,33

Jumlah 87,4 100

(46)

7. Kondisi Sosial

a. Aspek kependudukan

Untuk aspek kependudukan pada tahun 2010, Nagari Sialang Gaung memiliki jumlah total penduduk sebanyak 6.399 jiwa yaitu 1.717 KK. Dengan masing-masing jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin yaitu penduduk laki-laki sebanyak 3.249 jiwa dan penduduk perempuannya yaitu sebanyak 3.150 jiwa. Dengan kepadatan penduduk 73 jiwa/km2.

Nagari Sialang Gaung yang memiliki jorong sebanyak 11 jorong, dengan jumlah penduduk yang berbeda-beda pada setiap jorong. Adapun jumlah penduduk yang terbanyak pada tahun 2010 terdapat pada Jorong Sialang Gaung dan jumlah penduduk terkecil terletak pada Jorong Padang Bintungan IV Sedangkan untuk penduduk dari tahun 2008-2010 terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.( Sumber Profil Nagari Sialang Gaung).

b. Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu hal yang mempengaruhi suatu potensi sumber daya manusia yang ada pada suatu wilayah tersebut. Adanya sarana pendidikan yang baik dan memenuhi standar dapat memunculkan sumber daya manusia yang berpotensi, yang sangat berguna sebagai generasi penerus dalam pembangunan suatu wilayah. Oleh karena itu dalam suatu perencanaan harus memperimbangkan kebutuhan sarana pendidikan. Untuk Nagari Sialang Gaung sarana pendidikan yang ada antara lain 5 unit TK

(47)

(Taman Kanak-Kanak), 5 unit sekolah dasar, 1 unit SLTP serta 3 Unit Paud.( Sumber Profil Nagari Sialang Gaung).

c. Sarana Kesehatan

Hubungannya dengan kesehatan, maka ketersediaan sarana kesehatan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyrakat. Oleh karena itu kebutuhan akan sarana kesehatan sangat penting dalam suatu perencanaan. Adapun sarana kesehatan yang ada di Nagari Sialang Gaung adalah 2 unit pustu, 2 polindes/poskesri. Keberadaan sarana tersebut masih berfungsi dengan baik dan letaknya sudah tersebar di setiap jorong. .( Sumber Profil Nagari Sialang Gaung).

d. Aksebilitas Jalan

Untuk jaringan jalan yang ada pada Nagari Sialang Gaung, mayoritas terdiri dari jalan dengan pengerasan (aspal) dan jalan koral. Untuk jaringan jalan yang ada pada Nagari Sialang Gaung ini mayoritas jalan masih dengan kondisi pengerasan jalan tanah (Koral ). Untuk jalan aspal hanya terdapat pada jalan utama Nagari dan utama jorong (Jalan Kabupaten ) Untuk jaringan jalan berdasarkan wilayah atau kepemilikan jalannya, maka Nagari Siang Gaung terdapat 7 klasifikasi jalan yaitu jalan nagari, jalan kabupaten dan jalan negara,jalan Propinsi,Jalan aspal,jalan tanah dan jalan kerikil.Dengan jalan terpanjang adalah jalan nagari yaitu 12 km dengan kondisi sedang. ( Sumber Profil Nagari Sialang Gaung).

(48)

e. Ekonomi

Penduduk Nagari Sialang Gaung pada umumnya adalah petani dan peternak disamping ada beberapa orang yang berprofesi sebagai pedagang, tukang, TNI/POLRI, Pegawai Negeri, Guru dll.Saat ini peningkatan perekonomian terjadi pada bidang pertanian,perkebunan peternak ayam pedaging, yang mana di setiap jorong ada peternak yang dibiayai sendiri atau dengan sistem kerja sama dengan pihak lain.( Sumber Profil Nagari Sialang Gaung).

B. Temuan Khusus

Kecamatan Koto Baru tepatnya di Nagari sialang Gaung merupakan wilayah yang memilki potensi objek wisata alam yang masih alami. Keadaan alam yang indah dan juga dilengkapi dengan pemandangan yang sangat indah namun kenyataannya masyarakat disana kurang menyadari hal itu.

Pariwisata hendaknya dikembangkan dengan baik agar memberikan dampak yang baik dalam segala bidang. Objek wisata telaga baranang siang/danau cinta kurang dikunjungi oleh pengunjung karena disebabkan oleh sarana dan prasarana yang kurang memadai.

1. Kondisi sarana dan prasarana Objek Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta

Pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah. Hal ini disebabkan pariwisata mempunyai peranan penting dalam pengembangan khususnya pengasil devisa negara.

Sarana dan prasarana merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan pengembangan objek wisata, karena dengan lengkapnya sarana dan prasarana

(49)

akan menambah minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah tujuan wisata( DTW).

Sarana adalah fasilitas yang secara langsung dibutuhkan oleh wisatawan di daerah tujuan wisata (DTW), baik berupa jalan, trasnportasi, warung, toilet dan lain-lain. Sedangkan sarana dan prasarana menurut Yoeti dalam Faliana (2009:27) adalah semua fasilitas yang memungkinkan proses perekonomian berjalan lancar sehingga dapat memudahkan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.

Disini penulis akan menguraikan bagaimana sarana dan prasarana yang ada di objek wisata telaga baranang siang/danau cinta.

1. Aksebilitas jalan

Secara umum jalan menuju objek wisata ini sangat buruk dan masih bebatuan, dan jalan menuju objek wisata ini masih berlobang-lobang yang dapat menghambat perjalanan.

Menurut Bapak LF ( 44 tahun) selaku kepala Dinas Pariwisata tanggal 24 mei 2016 mengatakan:

“Akses jalan di objek wisata telaga baranang siang/danau cinta

ini masih belum masksimal seperti yang kita harapkan memang telaga baranang siang ini pernah bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Dharmasraya tetapi untuk saat ini kepemilikannya

masih milik pribadi”.

Menurut Bapak SH (56 Tahun) sebagai Bapak Wali Nagari dari wawancara pada tanggal 25 Mei 2016 mengatakan:

“Untuk akses jalan e kurang elok, masih bughuk, paya untuk

mencapai tempek tu. Kalau aghi ujan jalan tu liak tu yang balubang-lubang tu pnoh taisi dek ayek dalam tu”.

(50)

Maksudnya:

Untuk akses jalan nya masih kurang baik, masih jelek, susah untuk mencapai tempat itu. Seandainya hari hujan jalan itu becek dan yang jalannya yang berlobang-lobang akan penuh terisi oleh di dalamnya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk akses jalan menuju objek wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta ini masih kurang baik dan berlobang-lobang. Dapat dilihat seperti gambar dibawah ini.

Gambar IV.1 Kondisi akses jalan menuju objek wisata Telaga Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta sewaktu hari hujan akan digenangi oleh air karena sudah rusak dan berlobang. (Sumber Dokumen pribadi Juni 2016).

Berdasarkan juga wawancara penulis dengan pengelola/pemilik objek wisata telaga baranang siang/danau cinta di kecamatan koto baru dengan bapak SR (56 tahun) pada tanggal 27 mei 2016 mengatakan:

(51)

“Memang akses jalan menuju kasitu kurang memadai itu saja

kelemahan nyo baru, belum ado pihak pemda yang ikut campur kalau untuk masalah jalan tu lai, sedangkan untuk tempat sampah belum ditata sedemikian rupa, karena perencanaan pemda dulu mambuka kerja sama dengan pihak pemilik, tapi karno bergulirnyo roda

pemerintah”.sedangkan untuk transportasi e masih pakai kendaraan

pribadi baru nyo. Maksudnya:

Memang akses jalan menuju ke sana kurang memadai itu saja kelemahannya sekarang, belum ada pihak pemda yang ikut campur kalau untuk masalah jalan, sedangkan untuk tempat sampah belum ditata sebagus mungkin, karena perencanaan pemda dulu ingin membuka kerja sama dengan pihak pemilik, tapi karena bertukarnya sistem pemerintah. Sedangkan untuk transportasi nya masih pakai kendaraan pribadi

Gambar IV.2 Kondisi akses jalan menuju objek wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta masih bebatuan. (Sumber Dokumen pribadi Juni 2016). Keterangan yang sama juga diberikan oleh Bapak JN (tanggal 26 Mei 2016) sebagai masyarakat mengatakan:

(52)

“kalau dari lintas Sumatra daghi Padang ka koto Baghu tula bagus,

tapi kalau masuk ka objek wisata tu masih liak, jalannyo masih

batu-batu”.

Maksudnya:

Kalau dari lintas Sumatera dari Padang ke Koto Baru sudah bagus, tapi kalau memasuki objek wisata masih becek dan jalannya masih bebatuan.

Hasil wawancara penulis dengan beberapa informan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk aksebilitas jalan menuju objek wisata telaga baranang siang ini masih bebatuan, dan banyak terdapat lobang-lobang seandainya hari hujan maka lobang tersebut akan terisi air maka dapat menghambat perjalanan menuju kesana dari pihak pemda belum ada ikut campur untuk masalah aksebilitas jalan.

2. Transportasi

Keterangan yang diberikan oleh ibu MS (54 tahun) sebagai masyarakat setempat mengatakan:

“Trasnfortasi e pakai oto soghang-soghang, honda soghang dakdo

trasnfortasi khusus ka situ d banyak yang pakai honda lah ke situ e”. Maksudnya:

Transportasi nya pakai mobil sendiri, motor sendiri belum ada transportasi khusus menuju ke tempat objek wisata yang lebih banyak pakai sepeda motor.

Keterangan yang sama yang juga diberikan oleh Ibu SP (50 tahun) dan Ibu SD (58 tahun) mengatakan bahwa:

(53)

“kalau untuk transportasi khusus menuju kesitu lun ado li d. Biasonyo

penunjung tu makai honda yang banyak datang kasitu, anak-anak

mudo yang baok pacar e kesitu”.

Maksudnya:

Kalau transportasi khusus menuju kesana belum ada. Biasanya pengunjung itu memakai honda yang banyak datang kesini, anak-anak muda yang membawa pacarnya.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan beberapa informan diatas dapat disimpulkan bahwa transportasi untuk mencapai objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta ini masih memakai kendaraan pribadi, kebanyakan masrayakat memakai motor dan belum ada transportasi khusus. 3. WC umum

Secara umum untuk kondisi WC / toilet di objek wisata telaga barang siang/ danau cinta ini telah disediakan oleh pihak pengelola tapi, karena kurangnya perawatan dan tidak terurus maka WC umum ini menjadi tidak layak lagi untuk digunakan apalagi untuk saat sekarang ini.

Keterangan diberikan oleh AG ( Tanggal 3 Juni 2016) sebagai masyarakat mengatakan :

(54)

Gambar IV. 3 : Kondisi WC umum yang ada di objek wisata Telaga Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta yang tidak layak untuk sekarang ini. (Sumber Dokumen pribadi Juni2016).

Keterangan yang sama juga diberikan oleh Bapak SR (56 Tahun) sebagai pemilik/ pengelola mengatakan:

“WC umum cukup memadai sebanyak 14 unit tetapi WC tu pencar-pencar, karena lokasinya wisata tidak satu tempat, nyo ado tigo tampek salah satunyo berado dikawasan tu termasuk kamar mandi. Langsung dengan WC tapi, kalau di colek kini dakdo memadai li d dan dakdo layak untuk digunon e d.

Maksudnya:

WC umum cukup memadai sebanyak 14 unit tetapi WC nya pisah-pisah, karena lokasi objek wisata tidak satu tempat ada tiga tempat salah satunya berada dikawasan itu termasuk kamar mandi. Langsung dengan WC tapi kalau di lihat sekarang memang tidak memadai lagi atau tidak layak untuk digunakan.

Keterangan yang juga diberikan oleh Bapak SH (56 tahun) selaku Wali Nagari mengatakan:

“Tapi kalau untuk sarana dan prasarana seperti Wc dan Tempek

Sampah lum menyokong li d, biaso e tong sampah sampah lai ado tapi jaghang”.

(55)

Maksudnya:

Tapi kalau untuk sarana dan prasarana seperti WC dan tempat sampah belum menyokong, biasanya tong sampah ada tapi jarang.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diatas bahwa untuk kondisi WC umum saat ini bisa dikatakan tidak layak lagi digunakan karena kurangnya perawatan dari pengelola begitu juga dengan kondisi prasana yang lainnya.

Keterangan yang sama juga diberikan oleh RD ( Tanggal 27 Mei 2016). Sebagai Masyarakat mengatakan:

“Biaso e tong sampah dkdo tasadio di situ d,jaghang la ado e,

pengunjung tu biaso e buang sampah tu di tepi-tepi danau tu la e.

Maksudnya :

Biasa nya tempat sampah belum tersedia di situ, jarang ada, pengunjung biasanya buang sampah di tepi-tepi danau saja.

Hasil wawancara penulis dengan beberapa informan diatas disimpulkan bahwa memang objek wisata telaga baranang siang/danau cinta ini sarana dan prasarananya masih kurang memadai dilihat saja dari kondisi WC umum . Karena masih terkendala oleh kurangnya dana khususnya dalam sarana dan prasanana. Pengembangan objek wisata membutuhkan dana yang besar dari pihak yang akan mengembangkan objek wisata. Tanpa adanya dana yang cukup objek wisata tidak akan dapat berkembang dengan sendirinya.

(56)

2. Kondisi Sumber Daya Manusia Objek Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta

Pembangunan pariwisata, sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu kunci yang menentukan laju perkembangan pembangunan disuatu kawasan atau daerah. Salah satu penyebab tidak berfungsinya objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta ini berdasarkan penelitian yang dilakukan karena kurangnya SDM dalam bidang pengelolaan dan keamanan serta masyarakat yang juga kurang mendukung keberadaan objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta.

Berdasarkan wawancara penulis dengan dengan Bapak AF (53 tahun) sebagai masyarakat setempat mengatakan:

“kalau untuk peraturan pemerintah tu yo lun ado setau apak d, tapi kalau dari pengelola tu ado.untuk keamanan kurang bagus, menurut carito dulu memang objek wisata ko untuk urghang yang bekaluarga dulu, ado bebek-bebek. Kalu seandai e di kelola dek ughang yang profesional di buek jalan ancak-ancak pasti la objek wisata ko

bakembang, tapi kan dana yang dibutukan tu dakdo ketek d”.

Maksudnya:

Kalau untuk peraturan pemerintah itu yang belum ada setahu Bapak, tapi kalau dari pengelola ada. Untuk keamanan kurang bagus, menurut cerita dulu memang objek wisata ini untuk orang yang sudah berkeluarga, ada bebek-bebek. Kalau seandainya di kelola oleh orang yang profesional di buat jalan bagus-bagus pasti objek wisata ini berkembang, tapi dana yang dibutuhkan tidak sedikit.

(57)

Gambar IV.4 : Kondisi salah satu wahana objek wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta yang tidak berfungsi lagi karena kurangnya pengelolaan. (Sumber Dokumen pribadi Juni 2016).

Pengembangan pemerintah ini juga tidak terlepas dari peran organisasi kepariwisataan pemerintah, seperti dinas pariwisata yang mempunyai tugas dan wewenang serta kewajiban untuk mengembangkan dan memanfaatkan aset negara yang berupa objek wisata.

Pengembangan sebuah objek wisata di dukung oleh pengunjung yang baik dan mematuhi peraturan dan adat-adat yang berlaku di daerah yang akan kita kunjungi agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan pengunjung yang datang ke objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta ini kurang mematuhi peraturan dan adat-adat yang sudah ditetapkan.

Keterangan yang sama diberikan oleh Bapak RK (34 tahun) 2 juni 2016 sebagai masyarakat setempat mengatakan:

“yo kalau utnuk keamanan di objek wisata ko kini bule la

dikatokan kurang aman untuk pengunjung karno banyak preman yang malak-malak mangko objek wisata ko kami tutuik

(58)

dengansecara baik-baik bair dakao kesan yang bughuk nampak di

wisata ko lai”.

Maksudnya:

Ya kalau untuk keamanan di objek ini belum bisa dikatakan aman untuk pengunjung banyak preman yang memeras pengunjung oleh sebab itu objek wisata ini kami tutup secara baik-baik supaya tidak ada kesan yang jelek di objek wisata ini.

Gambar IV.5 : Kondisi pos keamanan yang ada di objek wisata Telaga Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta. (Sumber Dokumen pribadi Juni 2016).

Hasil wawancara penulis dengan beberapa informan diatas disimpulkan bahwa memang objek wisata telaga baranang siang/ danau cinta ini masih kurang memadai dalam sumber daya manusia . Karena masih terkendala oleh kurangnya pengeloaan dan keamanan yang mendukung sehingga pengunjung menyalahgunakan objek wisata ini karena kurangnya peraturan yang ketat. Sebaiknya pemerintah lebih memperhatikan pariwisata yang ada sehingga tidak hal-hal yang tidak diinginkan.

(59)

3. Kondisi Sumber Daya AlamObjek Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta.

Berdasarkan wawancara penulis dengan masyarakat setempat LL (26 tahun) tanggal 3 juni 2016 menyatakan bahwa:

“untuk sumber daya alam masih mendukung la, bisa dijadikan objek

wisata tapi pengelolaan nyo tu yang kughang, cubo kalau di ola dengan elok pasti banyak ughang yang bakunjung ka objek wisata

ko”.

Maksudnya:

untuk sumber daya alamnya masih mendukung la, bisa dijadikan objek wisata tapi pengeloaan nya yang kurang, seandainya kalau dikelola dengan baik pasti akan banyak orang yang berkunjung ke objek wisata ini.

Gambar IV. 7 : Kondisi sumber daya alam yang ada di objek wisata Telaga Wisata Telaga Baranang Siang/ Danau Cinta yang masih memliki potensi untuk dijadikan objek wisata. (Sumber Dokumen pribadi Juni 2016).

Gambar

Gambar : I. Alur Pikir
Tabel IV. I Sumber Air Bersih Sialang Gaung Tahun 2010 No Jenis Sumber Air
Tabel IV.3. Luas Lahan Menurut Penggunaan Lahan Nagari Sialang Gaung Tahun 2010
Gambar  IV.1  Kondisi  akses  jalan  menuju  objek  wisata      Telaga  Wisata  Telaga Baranang  Siang/  Danau  Cinta  sewaktu  hari  hujan  akan  digenangi oleh  air  karena  sudah  rusak  dan  berlobang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Na podlagi tega so spodaj podana nekatera priporočila glede zagotavljanja kakovosti podatkov v podatkovnih skladiščih: • kvaliteta podatkov ni projekt, je proces, ki traja, •

Selain itu guru di TK atau SD yang diharapkan dapat memperkenalkan lagu anak-anak terdahulu juga agaknya tidak dapat bernyanyi dan kurang menguasai seni musik

Penulis mencoba menganaiisa terhadap hadits tentang puasa as Syura pada kitab Sunan Abu Daw ud no indek 2446 dan Musnad Ahmad bin Hanbal no indeks 2140, dimana

Kawasan pesisir dari teluk Sengiap di batas daerah telitian bagian utara hingga pesisir desa Cemaga batas daerah telitian bagian selatan tersebar sangat luas pantai berpasir

Dari analisis kinerja layanan SKPD maka tingkat kinerja pelayanan Kecamatan Tugumulyo Musi Rawas tergolong memuaskan, Kecamatan Tugumulyo sebagai koordinator perencanaan

Untuk menjamin akurasi dan mutu pengukuran, sistem pencacah radiasi yang digunakan harus selalu diuji kestabilannya secara berkala. Dengan pengujian ini diharapkan kinerja dari

Bila merujuk pada pasal 209 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang UUK-PKPU yang bunyinya sebagai berikut “Putusan pernyataan pailit berakibat demi hukum dipisahkannya

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Patria (2013) yang menyebutkan bahwa ada hubungan antara paritas ibu dengan kegagalan induksi persalinan, dimana