Pabrik Klambir Jaya (Studi Etnografi Dalam Menjalankan Aktifitas)

142  36  Download (0)

Teks penuh

(1)

PABRIK KLAMBIR JAYA

(

Studi Etnografi Dalam Menjalankan Aktifitas)

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana

Sosial Dalam Bidang Antropologi

Oleh :

Irfan Maulana

090905009

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI INI TELAH DISETUJUI

Nama : Irfan Maulana

Nim : 090905009

Departemen :Antropologi Sosial

Judul : PABRIK KLAMBIR JAYA (Studi Etnografi Dalam Menjalankan Aktifitas)

Pembimbing Skripsi Ketua Departemen

Prof. Dr. Ny. Chalida Fachruddin Dr. Fikarwin Zuska, MA

NIP. 13014221800 NIP. 19621220 198903 1 005

Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan oleh :

Nama : Irfan Maulana

NIM : 090905009

Departemen : Antropologi Sosial

Judul : PABRIK KLAMBIR JAYA (Studi Etnografi Dalam

Menjalankan Aktifitas)

Pada ujian komprehensif yang dilaksanakan :

Hari :

Tanggal :

Pukul :

Tempat :

Tim Penguji

1. Ketua Penguji ( )

NIP

2. Anggota I ( )

NIP

3. Anggota II ( )

NIP

(4)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PERNYATAAN ORIGINALITAS

PABRIK KLAMBIR JAYA

(Studi Etnografi Dalam Menjalankan Aktifitas)

SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari terbukti lain atau tidak seperti yang saya nyatakan di sini, saya bersedia diproses secara hukum dan siap menaggalkan gelar kesarjanaan saya..

Medan, Januari 2015 Penulis

(5)

ABSTRAK

Irfan Maulana, 2014 Judul Skripsi : PABRIK KLAMBIR JAYA (Studi Etnografi Dalam Menjalankan Aktifitas) Terdiri Dari 5 Bab, 120 Halaman, 5 Tabel , 10 Foto Dan 29 Foto Penelitian, Daftar Pustaka, Daftar Informan Dan Interview Guide.

Penelitian ini mengkaji tentang fenomena Pabrik Klambir Jaya (Studi Etnografi Dalam Menjalankan Aktifitas) .Pabrik Klambir Jaya pada dasarnya merupakan sebuah pabrik pembuat Kertas dan lilin pekong untuk beribadah etnis Tionghoa. Aktifitas yang dilakukan Pabrik Klambir Jaya juga menyangkut berbagai sistem didalamnya. Seperti pembagian kerja yang menciptakan suatu komitmen. Namun, sejak berdirinya Pabrik Klambir Jaya, pabrik ini mampu membuat perubahan di dalam hidup bagi masyarakat sekitar pabrik. Karena pabrik Klambir Jaya mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang bermayoritaskan bekerja sebagai petani.Ssebelumnya masyarakat sulit untuk mencari pekerjaan untuk mencari nafkah karena daerah lapangan pekerjaan disekitar pabrik Klambir Jaya sangat terbatas. Selain itu, mayoritas pengangguran pun dapat diminimalisir. Maka dari itu, masyarakat sangat bersyukur akan berdirinya pabrik Klambir Jaya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan pemaknaan tentang nilai sosial dan bentuk yang dirasakan (psikologi) oleh para karyawan yang bekerja yang ingin mengambil hak-haknya seperti pendidikan, kesehatan,dll. Hak-hak tersebut seharusnya sudah menjadi hak mereka terutama pada karyawan yang sudah mengabdi cukup lama untuk bekerja dalam menjalankan aktifitasnya sebagai karyawan di Pabrik Klambir Jaya. Metode penelitian ini adalah penelitian yang bersifat etnografi. Peneliti menggambarkan tentang suatu komitmen seorang karyawan terhadap perusahaannya.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah Pabrik Klambir Jaya dalam menjalankan aktifitas yang terjalin antar pihak pimpinan dan karyawan hanya sebatas pekerjaan. Karyawan dituntut untuk bekerja secara profesional yang berarti bekerja dengan baik dengan tidak mengkaitkan masalah pribadi dengan pekerjaannya karena bisa berdampak buruk bagi pabrik. Aktifitas-aktifitas yang dijalankan pabrik Klambir Jaya sangat berpengaruh bagi masyarakat sekitar pabrik baik dampak positif maupun negatif. Dampak positif yang diterima oleh masyarakat adalah pabrik Klambir Jaya mampu membuka lapangan pekerjaan, sedangkan dampak negatifnya adalah masalah pencemaran lingkungan, kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan karena bentuk ketidakpedulian pihak pimpinan dan pemilik pabrik terhadap masyarakat luar.

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

Pertama-tama saya mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, karena berkat karunia dan kasih sayang-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Sebagai manusia biasa tentunya tidak terlepas dari banyak kekurangan dan kelemahan, sehingga penulisan skripsi ini masih belum bisa dikatakan sempurna, baik dalam penuturan kata ilmiah yang lazim maupun dalam penyajian data. Penulisan skripsi ini adalah sebagai tugas akhir dari seorang mahasiswa Departemn Antropologi dalam mencapai gelar sarjana. Penelitian ini berjudul “PABRIK KLAMBIR JAYA (Studi Etnografi Dalam Menjalankan Aktifitas)” ini dengan baik.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis meyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si., selaku Dekan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, tempat penulis menempah diri menuju pribadi yang semakin mapan. Bapak Dr. Fikarwin Zuska, MA., selaku Ketua Departemen Antropologi Sosial. Ibu Prof. Dr. Ny. Chalida Fachruddin., selaku Dosen Pembimbing yang bersedia memberi waktu dan pengetahuan kepada penulis selama perkuliahan dan proses bimbingan. Bapak Drs. Agustrisno, M.SP., selaku Dosen wali yang bersedia memberikan nasihat kepada penulis sepanjang masa perkuliahan.

Kak Nur dan Kak Sofie yang telah membantu penulis dalam kelengkapan administrasi selama perkuliahan. Seluruh informan yang telah membantu penulis memberikan informasi yang penulis butuhkan untuk menyelesaikan skripsi ini.

Penghargaan sebesar-besarnya penulis berikan kepada orang tua (Midkroadi dan Fahriza) terimakasih banyak atas sayang, ketulusan, dukungan dan materi sejak lahir hingga saat ini. Maaf anakmu belum bisa membalas semua pengobanan dan kerja keras kalian. Palek(Legito dan Siswanto), Bulek (Ina, Ovi, Nadra, dan Nana), Pakde (Ngadiman dan Bono) terimakasih untuk tawa, doa, motivasi dan setiap keikhlasan. Saya bangga telah memiliki orang tua dan keluarga besar seperti kalian.

(7)

10 dan teman teman KODIM lainnya terimakasih. Buat komunitas Laboratorium Antropologi, Bang Edi Suhartono, Bang Saruhum Rambe, dan semua tamu yang pernah datang untuk mengisi materi pada diskusi di laboratorium Antropologi, terimakasih.

Terimakasih yang spesial penulis berikan kepada sahabat yang sudah saya anggap seperti keluarga saya sendiri yang hingga sampai sekarang belum saya jumpai lagi di Depatemen Antropologi, Bang Abdul Rahman Matondang. Seorang yang mampu membawa perubahan besar dalam diri penulis tentang memahami ilmu antropologi, mencintai ilmu ini. Bahkan, beliau tidak segan-segan memberikan berbagai literatur kepada penulis dalam penyelesaian skripsi maupun kajian-kajian terbaru di bidang Antropologi, serta membantu penulis dalam memberikan berbagai pengalaman yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, sehingga ilmu dan pengalaman saya dapat bertambah khususnya di bidang ilmu Antropologi.

Terimakasih pula penulis sampaikan kepada abang abang senior yang secara tidak langsung juga banyak memberikan masukan yang baik untuk penulis selama menjalani proses perkuliahan serta pengalaman berharga yang diberikan. Bang Fazri, Bang Ijal, Bang Tino, Bang Tata, Kak Zizah, Kak Anis, Bang Agif, Bang Ozi, Bang Fauzi, Kak Marta sekali lagi terima kasih. Teman-teman dari Program Reunian (SMA Negeri 1 Labuhan Deli), Pak Amrullah, Bu Hafizah, Pak Jumadi, Pak Yusman, Pak Dimson, Mecka, Rendi, Fery, Novi, Dinda dan seluruh kerabat, kami ucapkan terima kasih untuk setiap keceriaan, setiap semangat yang kalian tumbuhkan pada diri penulis.

Dalam penulisan skripsi ini penulis sadar tidak luput dari kekurangan, namun segala hal masukan dan saran-saran dari segenap pihak yang dapat membantu akan penulis perhatikan. Demikian yang bisa penulis sampaikan dan semoga skripsi ini kelak bisa berguna untuk berbagai pihak terimakasih.

Medan, Januari 2015

(8)

Riwayat Hidup

Irfan Maulana lahir di Medan pada tanggal 12 Oktober 1991. Anak satu-satunya (Tunggal) dari pasangan Midkroadi dan Fahriza. Pendidikan formal Taman kanak-kanak (TK). TK Mawar Indah di Jl. Pasundan Gg. Dewi No. 29 D, tamat tahun 1997. Sekolah Dasar (SD) di SD Swasta Amir Hamzah di jl. Meranti no 1, tamat pada

tahun 2003. Sekolah Menengah

(9)

KATA PENGANTAR

Pertama-tama saya mengucapkan puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas Berkat, Kuasa, Anugerah dan Kehendak-Nya, saya bisa menyelesaikan skripsi ini yang berjudul Pabrik Klambir Jaya (Studi Etnografi Dalam Menjalankan Aktifitas). Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar sarjana dalam bidang ilmu Antropologi Sosial, Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini membahas secara menyeluruh mengenai Pabrik Klambir Jaya. Pembahasan tersebut diuraikan dari bab 1 sampai dengan bab 5. Penguraian yang saya lakukan pada skripsi ini adalah sebagai berikut.

Bab pertama menguraikan garis besar penulisan skripsi secara menyeluruh, antara lain dikemukakan latar belakang penelitian, perumusan masalah penelitian sehingga dapat diketahui apa yang dikemukakan didalam penulisan skripsi ini. Selanjutnya, akan diuraikan juga tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan pengalaman lapangan. Penguraian dalam bab ini, dimaksudkan agar dapat memberikan gambaran secara keseluruhan mengenai materi penulisan yang di maksud dalam penelitian skripsi.

Bab dua menggambarkan secara umum mengenai Pabrik Klambir Jaya; lokasi; deskripsi Desa Tanjung Gusta; letak geografi; kependudukan; sarana dan prasarana; mata pencaharian. Tidak hanya itu pada bab kedua ini juga dibahas tentang deskripsi Pabrik Klambir Jaya; sejarah pabrik; letak geografi; karyawan pabrik; jaringan pabrik untuk melihat perkembangan dan perubahan di Pabrik Klambir Jaya selama ini.

Bab tiga menjelaskan secara khusus tentang bentuk-bentuk ataupun aplikasi Pabrik Klambir Jaya pada dan karyawan. Seperti yang terlihat dalam aktifitas pabrik; pemilik pabrik; pembagian kerja di pabrik; sistem gajian karyawan pabrik. Selain itu juga bab ini membahas sebuah temuan lapangan yang menggambarkan tentang karyawan fenomena dibalik Pabrik Klambir Jaya seperti jaminan kesehatan karyawan pabrik; aksi dan solidaritas sesama karyawan pabrik.

(10)

Bab lima merupakan suatu kesimpulan dari penjelasan bab-bab sebelumnya. Bab ini menyimpulkan tentang Pabrik Klambir Jaya (Studi Etnografi Dalam Menjalankan Aktifitas).

Sebagai penutup dari penulisan skripsi ini, dilampirkan pula daftar kepustakaan sebagai penunjang dalam penulisan. Saya telah mencurahkan segala kemampuan, tenaga, pikiran, dan juga waktu dalam penulisan skripsi ini. Namun saya menyadari skripsi ini belum bisa dikatakan telah sempurna. Dengan rendah hati, saya mengharapkan saran dan masukan yang bersifat membangun dari para pembaca. Harapan saya skripsi ini dapat berguna bagi seluruh pembacanya.

Medan, Januari 2015

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN ORGINALITAS ... iii

ABSTRAK ... iv

BAB II. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN II.1 Deskripsi Desa Tanjung Gusta ... 21

BAB III. AKTIFITAS PABRIK KLAMBIR JAYA III.1 Aktifitas Di Pabrik ... 38

III.2 Pemilik Pabrik ... 42

III.3 Pembagian Kerja Di Pabrik ... 42

III.3.1 Pihak-pihak pimpinan ... 42

III.3.2 Letak geografi pabrik ... 48

III.3.3 Karyawan buruh sebagai pembuatan lilin pekong ... 52

III.3.4 Memacking dan pemberian etiket... 56

III.3.5 Satpam... 59

III.3.6 Cleaning service... 61

(12)

III.4.1 Pihak pimpinan ... 64

III.4.2 Karyawan buruh ... 65

III.4.3 Karyawan buruh ... 67

III.4.4 Perbedaan gaji antara karyawan laki-laki dengan perempuan ... 67

III.5 Jaminan Kesehatan Karyawan Pabrik ... 67

III.5.1 Jaminan kesehatan karyawan ... 67

III.5.2 Pendapatan tambahan lain yang diterma karyawan ... 68

III.6 Aksi Dan Solidaritas Sesama Karyawan Pabrik ... 68

III.6.1 Aktifitas lain karyawan diluar pabrik ... 68

III.6.2 Kelompok yang dibentuk karyawan dalam suatu hubungan ... 70

BAB IV. POLA HUBUNGAN PABRIK KLAMBIR JAYA TERHADAP MASYARAKAT IV.1 Izin Pembangunan Pabrik ... 72

IV.2 Interaksi Masyarakat Dengan Pabrik ... 75

IV.3 Anggapan Masyarakat Terhadap Pabrik ... 85

IV.3.1 Dampak positif bagi masyarakat ... 85

IV.3.2 Dampak negatif bagi masyarakat... 88

BAB V. KESIMPULAN ……… ... 109

DAFTAR PUSTAKA ………. ... 112 LAMPIRAN

1. Daftar Informan

(13)

DAFTAR TABEL

TABEL 1: Daftar Dusun Dan Jumlah Penduduk

Di Desa Tanjung Gusta Kecamatan Sunggal ... 22 TABEL 2: Pembagian Penduduk Desa Penen Berdasarkan Etnis ... 23 TABEL 3: Pembagian Penduduk Berdasarkan Agama ... 24 TABEL 4: Jumlah Seluruh Karyawan Berdasarkan Pekerjaan ... 38 TABEL 5: Jumlah Karyawan Menurut Kelompok Umur Dan

(14)

DAFTAR FOTO

FOTO 1: Gambar Pabrik Klambir Jaya ... 32

FOTO 2: Peta Pabrik Klambir Jaya Bila Dilihat Dari Pusat Kota Medan ... 34

FOTO 3: Bahan Dasar Pembuatan Kertas Dan Lilin Pekong ... 41

FOTO 4: Karyawan Yang Bekerja Dibagian Pembuatan Kertas Pekong ... 49

FOTO 5: Etiket Pada Kertas Pekong ... 50

FOTO 6: Kertas Pekong Yang Sudah Jadi ... 51

FOTO 7: Lilin Pekong Yang Sudah Jadi ... 55

FOTO 8: Etiket Lilin Pekong ... 55

FOTO 9: Aktifitas Memacking Di Pabrik Klambir Jaya ... 57

(15)

LAMPIRAN

(16)

ABSTRAK

Irfan Maulana, 2014 Judul Skripsi : PABRIK KLAMBIR JAYA (Studi Etnografi Dalam Menjalankan Aktifitas) Terdiri Dari 5 Bab, 120 Halaman, 5 Tabel , 10 Foto Dan 29 Foto Penelitian, Daftar Pustaka, Daftar Informan Dan Interview Guide.

Penelitian ini mengkaji tentang fenomena Pabrik Klambir Jaya (Studi Etnografi Dalam Menjalankan Aktifitas) .Pabrik Klambir Jaya pada dasarnya merupakan sebuah pabrik pembuat Kertas dan lilin pekong untuk beribadah etnis Tionghoa. Aktifitas yang dilakukan Pabrik Klambir Jaya juga menyangkut berbagai sistem didalamnya. Seperti pembagian kerja yang menciptakan suatu komitmen. Namun, sejak berdirinya Pabrik Klambir Jaya, pabrik ini mampu membuat perubahan di dalam hidup bagi masyarakat sekitar pabrik. Karena pabrik Klambir Jaya mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang bermayoritaskan bekerja sebagai petani.Ssebelumnya masyarakat sulit untuk mencari pekerjaan untuk mencari nafkah karena daerah lapangan pekerjaan disekitar pabrik Klambir Jaya sangat terbatas. Selain itu, mayoritas pengangguran pun dapat diminimalisir. Maka dari itu, masyarakat sangat bersyukur akan berdirinya pabrik Klambir Jaya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan pemaknaan tentang nilai sosial dan bentuk yang dirasakan (psikologi) oleh para karyawan yang bekerja yang ingin mengambil hak-haknya seperti pendidikan, kesehatan,dll. Hak-hak tersebut seharusnya sudah menjadi hak mereka terutama pada karyawan yang sudah mengabdi cukup lama untuk bekerja dalam menjalankan aktifitasnya sebagai karyawan di Pabrik Klambir Jaya. Metode penelitian ini adalah penelitian yang bersifat etnografi. Peneliti menggambarkan tentang suatu komitmen seorang karyawan terhadap perusahaannya.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah Pabrik Klambir Jaya dalam menjalankan aktifitas yang terjalin antar pihak pimpinan dan karyawan hanya sebatas pekerjaan. Karyawan dituntut untuk bekerja secara profesional yang berarti bekerja dengan baik dengan tidak mengkaitkan masalah pribadi dengan pekerjaannya karena bisa berdampak buruk bagi pabrik. Aktifitas-aktifitas yang dijalankan pabrik Klambir Jaya sangat berpengaruh bagi masyarakat sekitar pabrik baik dampak positif maupun negatif. Dampak positif yang diterima oleh masyarakat adalah pabrik Klambir Jaya mampu membuka lapangan pekerjaan, sedangkan dampak negatifnya adalah masalah pencemaran lingkungan, kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan karena bentuk ketidakpedulian pihak pimpinan dan pemilik pabrik terhadap masyarakat luar.

(17)

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan zaman, banyak perubahan yang terjadi dalam dunia kerja, baik dari sisi individu pekerja maupun dari pihak perusahaan sendiri. Hal mendasar yang menyebabkan terjadinya perubahan ini adalah globalisasi dalam bidang ekonomi serta perkembangan dunia teknologi yang sangat cepat.

Kondisi yang diwarnai pesatnya perubahan tersebut menyebabkan tingkat persaingan yang meningkat, baik dalam bidang penjualan produk maupun jasa. Dengan demikian, organisasi pun dituntut untuk lebih memperlihatkan sikap fleksibel, memperlihatkan efisiensi, serta mampu beradaptasi terhadap kondisi yang senantiasa berubah, agar dapat mempertahankan keberadaannya di dunia bisnis.

Melihat situasi seperti ini, kebanyakan perusahaan berusaha untuk melakukan sejumlah penyesuaian. Penyesuaian tersebut diantaranya adalah berubahnya defenisi kerja dari pekerjaan (uraian pekerjaan, dengan tugas yang harus dilakukan dan target yang harus dicapai) menjadi peran, penekanan akan pentingnya kerjasama dan pembentukan tim kerja pada karyawan, berorientasi pada kepuasan pelanggan serta meningkatnya penghargaan terhadap kreatifitas individu.

Perusahaan membutuhkan karyawan yang dapat mengikuti irama perubahan, yaitu individu dengan fleksibilitas yang tinggi, dan mampu menyesuaikan diri dengan cepat merespon perubahan yang terjadi. Namun yang terpenting, individu tersebut juga harus memiliki komitmen untuk mewujudkan tujuan dan sasaran organisasi.

(18)

Klambir V kabupaten Deli Serdang. Fokus penelitian ini adalah mengenai bentuk aktifitas di pabrik Klambir Jaya. Sistem kerja tersebut menyangkut distribusi pembagian kerja dan menciptakan komitmen karyawan terhadap setiap pekerjaan yang dilakukan di dalam pabrik. Pabrik Klambir Jaya berdiri pada tahun 1991. Pabrik ini berdiri atas izin dinas dan masyarakat setempat. Awalnya kesepakatan yang sudah disetujui antara pihak dinas, pabrik, dan masyarakat, bahwasanya pabrik Klambir Jaya adalah pabrik pembuatan sumpit. Satu tahun pabrik Klambir Jaya berdiri, tanpa alasan yang jelas pabrik ini tutup, namun beroperasi kembali pada tahun 1993.

Pabrik Klambir Jaya kini bukan lagi sebagai pabrik yang memproduksi sumpit tetapi kertas pekong dan lilin pekong etnis Tionghoa. Dengan adanya perubahan yang mendadak yang dilakukan oleh pabrik Klambir Jaya, masyarakat langsung menanyakan hal tersebut ke pihak dinas. Ternyata, sebelumnya pihak dinas sendiri pun sudah mengetahui hal tersebut dan tidak mempermasalahkannya dan tidak mempermasalahkan soal pemberian izin.

Kertas pekong yang dimaksud adalah kertas yang dipakai untuk beribadah dan kertas kematian pada etnis Tionghoa yang khusus beragama Budha. Dan lilin pekong yang dimaksud adalah lilin yang dipakai etnis Tionghoa untuk pemujaan. Pabrik Klambir Jaya membuat lilin pekong baik yang berukuran kecil maupun besar. Dari kantor Toba Permai, kertas di bawa lagi ke pabrik Klambir Jaya untuk dilakukan Packing1

1

Packing merupakan proses pembungkusan kertas yang siap untuk di produksi.

(19)

Konflik pernah terjadi dengan masyarakat yang selalu merasa tersinggung dengan pembangunan pabrik yang membuat kertas dan lilin untuk beribadah etnis Tionghoa pada karyawan yang berpendudukkan etnis Jawa dan Melayu serta beragama Islam. Tetapi dapat diatasi dengan cara memperkerjakan masyarakat setempat untuk menjadi karyawan di pabrik Klambir Jaya. Kini karyawan yang bekerja di Klambir Jaya berjumlah sekitar 300 orang yang berdiri dari etnis Jawa, Melayu, dan Batak. Melihat hal itu, peneliti tertarik membahas aktifitas yang terjadi di pabrik.

I.2. Tinjauan Pustaka

Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Untuk itu kebudayaan adalah sesuatu yang mempengaruhi tingkat pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, dalam kehidupan sehari-hari2.

Perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya : pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Menurut Koentjaraningrat, terdapat tiga wujud kebudayaan, yaitu: ide, wujud sosial, dan materi/fisik) berjalan seiring dan berkaitan serta dalam penjelasan suatu fenomena kebudayaan ketiga wujud kebudayaan tersebut tidak dapat dipisahkan, namun dapat dijelaskan secara terpisah2

Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi I ( Jakarta: UI-Press, 1980) hal 183.

(20)

manusia dan menciptakan manusia yang selalu berhadapan dengan berbagai kemungkinan perubahan yang terjadi karena kemajuan teknologi. Walaupun setiap masyarakat dan kebudayaan berbeda dalam cara mempersiapkan seseorang atau anggotanya, untuk menghadapinya, namun ketegasan adalah memberikan kematangan, kemandirian, pengetahuan, ketegasan untuk mengadakan pemilihan terhadap hal-hal yang dihadapi.

Menurut Spredley4

Kedewasaan manusia juga ditentukan oleh watak masyarakat tempat ia tinggal. Singer (dalam Dananjaya

, Kebudayaan merupakan pengetahuan yang diperoleh dan digunakan manusia untuk menginterpretasikan pengalaman dalam menghadapi dunianya yang memiliki bentuk-bentuk yang tidak selalu berakhir postif. Dalam perkembangan manusia, manusia sudah mempunyai bakat dan telah terkandung dalam gen-nya untuk mengembangkan berbagai macam perasaan, hasrat, nafsu, serta emosi dalam kepribadian individunya. Kesemuanya itu sangat dipengaruhi oleh stimuli yang berada dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial maupun budayanya.

5

Penelitian ini mengambil konsep watak bangsa yang dipandang sebagai watak masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk melihat watak yang dominan dalam masyarakat sebagai representasi mereka di masyarakat. Seperti watak etnis Jawa yang menjadi karyawan di pabrik Klambir Jaya yang berwatakkan sikap nrimo

) menjelaskan tentang watak bangsa dalam tiga golongan. (1) watak bangsa yang dipandang sebagai watak kebudayaan, (2) watak bangsa yang dipandang sebagai watak masyarakat, (3) watak bangsa yang dipandang sebagai kepribadian rata-rata.

6

4

Spredley, James, Metode Etnografi (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997).

5

Dananjaya, James, Antropologi Psikologi. Teori, Metode, dan Sejarah Perkembangannya (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada).

6

Nrimo berasal dari bahasa suku Jawa yang berarti bersinyalir memberikan sikap patuh dan taat.

(21)

masyarakat yang memungkinkan terjadinya kerjasama diantara mereka. Modal sosial ini akan membentuk sebuah hubungan timbal balik yang memungkinkan terbentuknya jaringan sosial

Jaringan sosial merupakan bentuk dari modal sosial. Jaringan sosial yakni sekelompok orang yang dihubungkan oleh perasaan simpati dan kewajiban serta oleh norma pertukaran dan civic engagement7

Ciri penting modal sosial terdapat pada sebuah capital

. Jaringan ini bisa dibentuk karena berasal dari daerah yang sama, kesamaan kepercayaan politik, agama, hubungan genealogis, dan lain-lain. Jaringan sosial tersebut diorganisasikan menjadi sebuah institusi yang memberikan perlakuan khusus terhadap mereka yang dibentuk oleh jaringan untuk mendapatkan modal sosial dari jaringan tersebut.

Level mekanisme modal sosial dapat mengambil bentuk kerjasama. Kerjasama sendiri merupakan upaya penyesuaian dan koordinasi tingkah laku yang diperlukan untuk mengatasi konflik ketika tingkah laku seseorang atau kelompok dianggap menjadi hambatan oleh seseorang atau kelompok lain. Akhirnya, tingkah laku mereka menjadi cocok satu sama lain.

8

Menurut Parsudi Suparlan (dalam Saragih

yang dibandingkan dengan bentuk capital lainnya, seperti asal-usulnya yang bersifat sosial. Relasi sosial bisa berdampak positif maupun negatif terhadap pembentukan modal sosial, tergantung apakah relasi sosial itu dianggap sinergi atau kompetisi dimana kemenangan seseorang dicapai diatas kekalahan orang lain.

9

7

Aksi individual maupun bersama yang mencirikan suatu tempat atau sebuah kelompok (sumber:http://en.wikipedia.org/wiki/Civic_engangement).

8

Capital merupakan suatu modal.

9Saragih, Julianty, Solidaritas Kekerabatan Masyarakat Simalungun (Medan: Skripsi Departemen

(22)

dikatakan oleh Suparlan tadi dapat digunakan sebagai motivasi untuk melihat perilaku-perilaku tiap individu ketika melakukan interaksi yang efektif. Semua itu ditujukan untuk mewujudkan sikap, pikiran dan perasaan sehingga dapat tergambar perilaku yang khas pada masyarakat tertentu.

Solidaritas dipertahankan sejauh kesadaran individu sama kuat yang memiliki komitmen yang sama. Hal ini dengan sendirinya akan memelihara unsur-unsur pengintegrasian yang ada pada masyarakat tersebut. Menurut Lysen (dalam Saragih9), kesadaran masyarakat adalah unsur tertentu dalam kesatuan sosial yang menetapkan dan mempengaruhi kelakuan manusia yang menjadi kesatuan. Unsur-unsur yang dimaksud adalah situasi-situasi yang memuat individu-individu dalam masyarakat langsung serta berbuat sesuai dengan keinginan situasi10

Solidaritas mekanik didasarkan pada suatu kesadaran kolektif (collective consciousness) yang dipraktikkan masyarakat dalam bentuk kepercayaan dan sentimen total diantara para warga masyarakat. Individu dalam masyarakat seperti ini cenderung homogen

.

Solidaritas didasarkan pada persamaan. Dalam suatu masyarakat yang ditandai oleh solidaritas ini semua anggotanya mempunyai kesadaran kolektif yang sama. Kesadaran kolektif adalah keseluruhan keyakinan dan perasaan yang membentuk sistem tertentu yang mempunyai kehidupan sendiri dan dimiliki bersama oleh masyarakat tersebut. Kesadaran kolektif memiliki sifat keagamaan, karena mengharuskan rasa hormat dan ketaatan10.

Potret solidaritas sosial dalam konteks masyarakat dapat muncul dalam berbagai kategori atas dasar karakteristik sifat atau unsur yang membentuk solidaritas itu sendiri. Memahami bentuk solidaritas sosial dapat dilihat dalam dua tipe; pertama, solidaritas mekanis dan kedua, solidaritas organik.

(23)

dalam banyak hal. Keseragaman tersebut berlangsung terjadi dalam seluruh aspek kehidupan, baik sosial, politik bahkan kepercayaan atau agama.

Solidaritas organik terjadi dalam masyarakat yang relatif kompleks kehidupan sosialnya. Namun, terdapat kepentingan bersama atas dasar tertentu. Dalam kelompok sosial terdapat pola antar-relasi yang parsial dan fungsional, terdapat pembagian kerja yang spesifik, yang pada gilirannya memunculkan perbedaan kepentingan, status, pemikiran dan sebagainya. Perbedaan pola relasi-relasi, dapat membentuk ikatan sosial dan persatuan melalui pemikiran perlunya kebutuhan kebersamaan yang diikat dengan kaidah moral, norma, undang-undang, atau seperangkat nilai yang bersifat universal. Oleh karena itu ikatan solider tidak lagi menyeluruh, melainkan terbatas pada kepentingan bersama yang bersifat parsial.

Solidaritas organik muncul karena pembagian kerja bertambah besar. Solidaritas ini didasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi. Ketergantungan ini diakibatkan karena spesialisasi yang tinggi diantara keahlian individu. Spesialisasi ini juga sekaligus merombak kesadaran kolektif yang ada dalam masyarakat mekanis. Akibatnya, kesadaran dan homogenitas dalam kehiduan sosial tergeser.

Dalam menganalisa proses-proses interaksi antara individu dalam masyarakat dapat dibedakan dua hal yaitu : (1) kontak, dan (2) komunikasi. Kontak antara individu juga tidak hanya mungkin pada jarak dekat, misalnya berhadapan muka. Namun, juga bisa menggunakan alat kebudayaan seperti : Tulisan, buku , surat kabar ataupun telepon. Sedangkan komunikasi muncul setelah kontak terjadi10.

Hanafi11

(24)

Saluran komunikasi adalah alat dengan pesan-pesan dari suatu sumber yang sampai pada penerima.

Berbicara hubungan karyawan dengan pengusaha, terdapat model yang menjadikan keduanya seperti sebuah struktur. Struktur yang menggambarkan kondisi yang ada diatas dan yang ada di bawah. Struktur itu tergambar dalam hubungan klien. Hubungan patron-klien adalah hubungan yang bersifat tatap muka, artinya bahwa patron mengenal secara pribadi klien karena mereka bertemu tatap muka, saling mengenal pribadinya, dan saling mempercayai. Lande ( dalam Scott 1972) menyebut model patron-klien sebagai solidaritas vertikal. Ciri-ciri hubungan patron-klien, menurut Scott12

Berbicara solidaritas karyawan erat hubungannya dengan komitmen. Dalam hal ini komitmen karyawan terhadap organisasi merupakan peristiwa dimana individu sangat tertarik dan mempunyai keikatan pada tujuan-tujuan, nilai-nilai, dan sasaran-sasaran organisasi. Menurut Steers (dalam Sunarto

adalah (1) terdapat suatu ketimpangan (inequality) dalam pertukaran; (2) bersifat tatap muka; dan (3) bersifat luwes dan meluas. Adanya unsur ketimpangan dalam pertukaran dikatakan sebagai Seorang klien, dalam pengertian ini, adalah seseorang yang telah memasuki hubungan pertukaran ketidaksetaraan di mana ia tidak dapat membalas sepenuhnya. Sebuah kewajiban utang mengikat dirinya.

13

Greenberg dan Baron (dalam Sunarto13) mengemukakan komitmen karyawan

terhadap organisasi merupakan sikap yang merefleksikan derajat seorang individu diidentikkan dan terlibat dengan organisasi serta tidak berkeinginan untuk meninggalkan organisasi tersebut. Identifikasi pada organisasi diartikan sebagai kondisi saling membagi ), komitmen meliputi sikap yang sangat menyenangkan organisasi dan kesediaan untuk mengusahakan tingkat upaya yang tinggi bagi kepentingan organisasi demi memperlancar pencapaian tujuan organisasi.

(25)

tujuan dari anggota-anggota organisasi, merasa memiliki organisasi, dan adanya loyalitas pada organisasi.

Menurut Sunarto13, komitmen adalah kecintaan dan kesetiaan, yang terdiri dari:

• Penyatuan dengan tujuan dan nilai-nilai perusahaan

• Keinginan untuk tetap berada dalam organisasi

• Kesediaan untuk bekerja keras atas nama organisasi.

Selain itu, komitmen karyawan terhadap organisasi merupakan suatu hubungan antara individu karyawan dengan organisasi kerja, dimana karyawan mempunyai keyakinan dan kepercayaan terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi kerja. Adanya kerelaan untuk menggunakan usahanya secara sungguh-sungguh demi kepentingan organisasi kerja serta mempunyai keinginan yang kuat untuk tetap menjadi bagian dari organisasi kerja. Dalam hal ini, individu mengidentifikasikan dirinya pada suatu organisasi tertentu tempat individu bekerja dan berharap untuk menjadi anggota organisasi kerja guna turut merealisasikan tujuan-tujuan organisasi kerja.

Sunarto13 menyatakan komitmen karyawan terhadap organisasi memiliki tiga aspek utama, yaitu:

1. Indentifikasi

(26)

2. Keterlibatan

Keterlibatan atau partipasi karyawan dalam aktifitas-aktifitas kerja penting untuk diperhatikan karena adanya keterlibatan karyawan menyebabkan mereka akan mau dan senang bekerja sama baik dengan pimpinan ataupun dengan sesama teman kerja. Salah satu cara yang dapat dipakai untuk memancing keterlibatan karyawan adalah dengan memancing partisipasi mereka dalam berbagai kesempatan pembuatan keputusan, yang dapat menumbuhkan keyakinan karyawan, bahwa yang telah diputuskan merupakan keputusan bersama.

3. Loyalitas

Loyalitas karyawan terhadap organisasi memiliki makna kesediaan seseorang untuk menyelaraskan hubungannya dengan organisasi, bahkan mengorbankan kepentingan pribadinya tanpa mengharapkan apapun. Kesediaan karyawan untuk mempertahankan diri dalam pekerjaan didalam organisasi adalah hal yang penting dalam menunjang komitmen karyawan terhadap organisasi tempat mereka bekerja13.

Keseimbangan antara pengusaha dan pekerja merupakan tujuan ideal yang hendak dicapai agar terjadi hubungan yang harmonis antara karyawan dengan pihak pabrik Klambir Jaya karena tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan antara karyawan dengan pemilik pabrik adalah hubungan yang saling membutuhkan dan saling mengisi satu dengan yang lainnya. Pemilik pabrik tidak akan dapat menghasilkan produk barang atau jasa, jika tidak didukung oleh pekerja, demikian pula sebaliknya14

Hubungan antara karyawan dan pemilik pabrik adalah hubungan industrial. Hubungan Industrial (Industrial Relations) adalah kegiatan yang mendukung terciptanya hubungan yang harmonis antara pelaku bisnis yaitu pemilik pabrik dan karyawan, sehingga tercapai ketenangan bekerja dan kelangsungan berusaha (Industrial Peace). Yang paling mendasar

.

14

(27)

dalam konsep hubungan industrial adalah Kemitrasejajaran antara karyawan dan pihak-pihak

pabrik yang keduanya mempunyai kepentingan yang sama, yaitu samasama ingin

meningkatkan taraf hidup dan mengembangkan perusahaan.

Tujuan hubungan industrial adalah mewujudkan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, kondusif dan berkeadilan di perusahaan. Ada tiga unsur yang mendukung tercapainya tujuan hubungan industrial, yaitu :

1. Hak dan kewajiban terjamin dan dilaksanakan

2. Apabila timbul perselisihan dapat diselesaikan secara internal atau bipartit

3. Mogok kerja yang dilakukan pekerja, serta penutupan perusahaan (lock out) oleh pengusaha, tidak perlu digunakan untuk memaksakan kehendak masing‐masing karena perselisihan yang terjadi telah terselesaikan.

Dengan demikian, sikap mental dan sosial para pengusaha dan pekerja juga sangat berpengaruh dalam mencapai tujuan hubungan industrial yang diharapkan. Sikap mental dan sosial yang mendukung tercapainya tujuan hubungan industrial tersebut adalah :

1. Memperlakukan karyawan sebagai mitra, dan memperlakukan pengusaha sebagai orang yang menanam modal (investor).

2. Bersedia saling menerima dan meningkatkan hubungan kemitraan antara pemilik pabrik dan karyawan secara terbuka

3. Selalu tanggap terhadap kondisi sosial, upah, produktifitas, dan kesejahteraan karyawan.

(28)

I.3. Rumusan Masalah

Perumusan masalah memerlukan adanya pembatasan masalah, agar penelitian ini tidak menjadi rancu ataupun menjadi meluas kepada hal-hal yang tidak terkait dengan masalah yang sedang diteliti. Adanya pembatasan masalah, diharapkan agar dalam penelitian ini akan menjadi lebih fokus. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah

1. Bagaimana pola hubungan antara pemilik pabrik terhadap karyawan pabrik Klambir Jaya?

2. Bagaimana pabrik Klambir Jaya dalam menjalankan sistem kerja yang mencangkup pembagian upah, komitmen, dan nilai-nilai yang mendasari ikatan kerja?

3. Bagaimana hubungan karyawan pabrik Klambir Jaya dengan masyarakat?

I.4. Tujuan Dan Manfaat Penelitian I.4.1. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian yang dilakukan harus memiliki tujuan yang hendak dicapai dan manfaat dari penelitian tersebut, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai sosial dan bentuk yang dirasakan (psikologi) oleh para karyawan yang bekerja dalam jangka waktu yang lama di pabrik Klambir Jaya. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tentang komitmen seorang karyawan terhadap perusahaannya.

I.4.2. Manfaat Penelitian

(29)

menjadi bahan kajian ataupun tolak ukur ketika membahas tentang aktifitas yang ada di sebuah pabrik.

I.5. Metode Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode kualitatif. Deskriptif dalam arti mencoba menempatkan realitas sosial yang diteliti ke dalam konsep-konsep yang telah diajarkan dalam bidang antropologi serta menggambarkannya. Hal ini tidak lain dilakukan dengan cara mempelajari dan menguraikan sifat-sifat khas yang digabungkan secara bersama-sama (kolektifitas) dengan cara sedalam mungkin.

Dalam hal ini, penulis menggunakan dua bentuk metode ntuk mendapatkan data yang akurat. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi dalam pengumpulan data yang dilakukan adalah mengetahui tentang kehidupan karyawan pabrik Klambir Jaya. Dalam hal ini penulis menggunakan wawancara mendalam.

I.5.1. Observasi (Non-Partisipasi)

Metode observasi dilakukan guna mengetahui situasi dalam konteks ruang dan waktu pada daerah penelitian. Menurut penulis, data yang diperoleh dari hasil wawancara saja tidaklah cukup untuk menjelaskan fenomena yang terjadi, oleh karena itu diperlukan suatu aktivitas dengan langsung mendatangi tempat penelitian dan melakukan pengamatan. Pengamatan akan dilakukan pada setiap kegiatan atau peristiwa yang dianggap perlu atau berhubungan dengan tujuan penelitian.

(30)

pengamatan saja. Karena peneliti tidak dapat diizinkan oleh pihak pabrik untuk berpartisipasi atau ikut serta dengan karyawan dalam membantu pekerjaan mereka. Dengan demikian, metode yang di pakai adalah metode obserpasi non-partisipasi dan bukan memakai metode observasi partisipasi.

I.5.2. Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya-jawab sambil bertatap muka antara peneliti dan informan, yaitu peneliti dan informan terlibat percakapan yang cukup lama. Pelaksanaan wawancara tidak hanya dilakukan sekali ataupun dua kali saja, melainkan berulang kali dengan intensitas yang tinggi.

Untuk mendukung proses wawancara dalam penelitian ini, peneliti menggolongkan informan dalam beberapa kelompok. Kelompok informan tersebut peneliti membagi dalam dua kategori yakni, informan kunci dan informan biasa. Informan kunci adalah informan yang memiliki pengetahuan, pengalaman tentang pabrik Klambir Jaya. Sedangkan informan biasa adalah informan yang mengetahui tentang pabrik Klambir Jaya dari sisi luar.

Informan kunci yang peneliti maksud adalah karyawan dan pihak pabrik termasuk pemilik pabrik Klambir Jaya. Karyawan-karyawan ini adalah karyawan yang mengetahui seluk-beluk tentang pekerjaan, tata aturan dan memiliki pengalaman yang panjang bekerja di pabrik tersebut. Hal ini berguna untuk mengupas secara mendalam tentang realitas-realitas yang terjadi di pabrik Klambir Jaya.

(31)

Untuk melakukan proses wawancara dengan informan, peneliti dibantu dengan interview guide. Interview guide berguna untuk menstrkuturkan tema-tema yang akan ditanyakan ketika interview. Dalam penyusunan interview guide peneliti akan membedakan interview guide ke dalam dua tipe bergasarkan dua kategori informan. Dimana interview guide untuk informan kunci sedikit lebih dalam karena akan menyentuh persoalan sejarah, tata aturan dan kebiasaaan yang terjadi di pabrik Klambir Jaya.

I.6. Pengalaman Lapangan

Penelitian saya dimulai pada tanggal 24 November 2013 tepatnya pada pukul 20.00 WIB. Hal yang pertama saya lakukan adalah menemui bapak Wadi (45 tahun) sebagai salah satu karyawan yang bekerja di pabrik Klambir Jaya, sekaligus tetangga dekat saya. Saat itu saya menjelaskan maksud dan tujuan saya, bahwa saya ingin melakukan penelitian di pabrik Klambir Jaya, terkait dalam menjalankan aktivitas di pabrik. Bapak Wadi pun menyambut maksud dan tujuan saya dengan baik. Dengan disediakan segelas teh dan makanan ringan berupa kue bugis, ia pun memberikan petunjuk kepada saya siapa saja karyawan dan karyawati yang bisa saya wawancarai nantinya dan memberikan beberapa nomor telepon agar saya bisa menghubungi mereka.

(32)

saya. Pada tanggal 8 Desember, dengan tertunduk malu, saya mencoba membiasakan diri untuk dapat menjalin keakraban dengan ibu Erly. Ibu Erly terlihat lebih santai dan senang dalam menerima saya untuk berada dirumahnya untuk melakukan wawancara daripada saya. Karena informan saya ini merasa lebih nyaman bila melakukan wawancaranya langsung dirumahnya saja daripada harus diluar yang dari awal sudah saya sarankan kepadanya, sehingga informan saya pun terlihat lebih semangat untuk di wawancarai. Pukul 10.00 WIB, saya tiba di lokasi tepatnya dirumah informan saya. Ketika sampai dirumahnya, sambutan yang sangat baik diberikan kepada saya oleh informan bersama keluarganya. Dengan membawa sebungkus kue yang langsung saya berikan kepadanya, ia pun terlihat sangat bahagia. Ibu Erly sudah berusia 43 tahun. Ibu ini menanyakan siapa nama saya dan apa-apa saja yang ingin saya tanyakan mengenai pabrik Klambir Jaya kepadanya. Setelah berkenalan dan menerangkan maksud serta tujuan saya, wawancara pun berlangsung. Ibu Erly sangat tenang dan sabar dalam menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan. Saat-saat berjalannya wawancara, segelas teh dan hidangan kue yang saya bawakan pun disediakan oleh anak perempuannya yang bernama Putri (17 tahun ). Dengan begitu pun proses wawancara kami pun terasa semakin santai. Tidak ada sesuatu yang menjadi hambatan dalam pertemuan kami kala itu karena semua yang saya lewati dan rasakan bersama ibu Erly sudah terlihat sempurna.

(33)

yang bernama bapak Ahsan. Pukul 09.00 WIB, saya pun tiba dirumah ibu Erly. Dengan sikap yang ramah, ibu Erly pun langsung menyediakan secangkir teh dan roti untuk saya. Ketika sampai dirumahnya, saya melihat seorang pria yang sepertinya saya kenal. Ternyata beliau adalah suami ibu Erly. Beliau bernama Bapak Adi yang merupakan tukang kebun tetangga saya. Dengan terkejut, kami saling menyapa nama dan tertawa bersama-sama. Karena sebelumnya kami tidak bertemu di rumah ibu Erly karena bapak Adi sedang bekerja. Dengan saya yang lebih cepat datang kerumah ibu Erly dari pertemuan sebelumnya, akhirnya saya pun berjumpa dengan bapak Adi. Sambil berbincang dan bersenda gurau bersama ibu Erly dan keluarganya, beberapa jam kemudian bapak Ahsan pun tiba dirumah ibu Erly setelah sebelumnya saya hubungi beliau dengan telepon saya. Setelah saling sapa dilakukan, wawancara dengan bapak Ahsan beserta ibu Erly pun dimulai. Meskipun ibu Erly sebelumnya sudah saya wawancarai tapi dengan adanya bapak Ahsan, proses wawancara terasa berbeda. Karena dari pertanyaan tersebut akan muncul informasi-informasi yang terus mengalir berdasarkan argumentasi antar mereka. Namun, jika hanya berwawancara dengan 1 orang, maka tidak jarang proses wawancara terasa kaku.

(34)

untuk mengantarkannya kembali ke pabrik Klambir Jaya. Dan saya pun membantunya dengan senang hati.

Kejadian yang pernah saya alami adalah ketika saya hendak mewawancarai ibu Ira (42 tahun ) yang merupakan salah satu karyawati yang bekerja di pabrik Klambir Jaya. Beliau saya kenal sendiri ketika saat saya mengambil foto pada waktu ke lapangan. Saat itu ibu Ira yang sedang menikmati jam istirahatnya, beliau bertemu saya dan melihat saya terus menerus yang akhirnya ibu Ira pun saya jumpai. Ketika berkenalan, ternyata ibu Ira bersedia untuk menjadi informan saya berikutnya. Setelah beliau setuju untuk menjadi informan saya, akhirnya kami sepakat untuk melakukan pertemuan. Saat itu juga saya meminta nomor telepon beserta alamat rumah ibu Ira karena beliau juga sama seperti informan saya yang lainnya, lebih nyaman bila melakukan wawancara dirumahnya langsung. Pada tanggal 19 Januari 2014, dengan menggunakan pakaian kemeja putih, saya pun datang kerumah ibu Ira. Begitu sampai dirumahnya, saya pun diterima dengan sangat baik. Setelah saya dipersilahkan duduk, sambil menunggu ibu Ira bersiap-siap untuk masak, saya sejenak membaca hasil-hasil data yang sudah saya dapat sementara dari hasil wawancara saya selama ini. Setelah ibu Ira keluar, beliau meminta tolong kepada saya untuk menemaninya ke acara undangan pesta pernikahan anak temannya. Beliau meminta tolong dengan saya karena beliau tidak memiliki kendaraan pribadi. Di saat itu saya, ibu Ira, suami, beserta kedua anaknya pun tertawa terbahak-bahak. Tapi semua itu kami jadikan sebagai sebuah kelucuan tersendiri sehingga keakraban pun terjalin. Pada pukul 13.30-15.00 WIB setelah selesai menghadiri undangan pernikahan anak temannya ibu Ira, begitu sampai dirumah ibu Ira proses wawancara pun dimulai. Sempat saya mewawancarainya sekitar 2 jam.

(35)

orang-orang diluar sana yang baik dan peduli salam membantu antar sesama. Kesombongan itu tidak ada gunanya tapi justru bentuk kepedulian yang dapat membuat kita bisa lebih di perhatikan dan dihargai oleh orang lain. Selain itu, sikap yang mampu menerima orang lain dengan baik, akan menghasilkan suatu keluarga baru. Semua usaha yang kita lakukan, apapun hasilnya pasti tidak akan ada yang sia-sia karena dengan niat saja itu sudah merupakan suatu hikmah tersendiri buat kita. Kita harus tetap berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dan dijalankan dengan sabar dan ikhlas bagaimana pun sulitnya untuk mendapatkannya. Begitu juga dalam hal ini saya merasa seperti memiliki keluarga baru karena meskipun saya baru mengenal informan saya tapi mereka sudah menganggap saya tidak asing lagi, bahkan sudah dianggap seperti anak sendiri, seperti yang dilakukan salah satu informan saya yang bernama ibu Erly terhadap saya.

Saya merasa para karyawan pabrik Klambir Jaya sudah hampir paruh baya yang usianya berkisar sekitar 40-55 tahun. Namun, mereka masih terlihat semangat dalam bekerja. Selain itu, mereka juga masih peduli akan nasib buruh yang dianggap hanya sebagai budak oleh para pimpinan pabrik. Mereka membuat suatu komunitas para buruh yang bertujuan untuk lebih peduli akan nasib buruh. Selain itu, komunitas ini juga sekaligus dapat mempererat tali persaudaraan antar sesama buruh, seperti melakukan reunian antar buruh.

(36)
(37)

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

II.1. Deskripsi Desa Tanjung Gusta

II.1.1. Letak Geografi

Desa Tanjung Gusta kecamatan Sunggal merupakan salah satu kecamatan yang berada dibawah wilayah kabupaten Deli Serdang. Kecamatan ini memiliki luas wilayah 89,69 Km2 atau sekitar 8.969 Ha. Ditinjau dari topologi daerah Desa Tanjung Gusta kecamatan Sunggal merupakan areal perladangan. Hal ini terlihat dari banyak tanaman ladang yang menghiasi hampir sebagian besar luas wilayah.

Jumlah keseluruhan penduduk di desa Tanjung Gusta kecamatan Sunggal 33.601 jiwa. Jumlah tersebut terdiri dari komposisi laki-laki berjumlah 9.902 jiwa dan perempuan berjumlah 10.881 jiwa. Dari jumlah tersebut terlihat dominasi penduduk di desa Tanjung Gusta adalah perempuan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kaum lelaki yang bekerja merantau ke luar daerah.

Komposisi penduduk di desa Tanjung Gusta kecamatan Sunggal berdasarkan kelompok penduduk yang sudah menikah dan yang belum menikah. Jumlah penduduk yang sudah menikah berjumlah 85%, sedangkan jumlah penduduk yang belum menikah berjumlah 15%.

(38)

Desa Tanjung Gusta kecamatan Sunggal memiliki 6 dusun. Dusun-dusun tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 1

Daftar Dusun Dan Jumlah Penduduk di Desa Tanjung Gusta Kecamatan Sunggal

No Daftar dusun Jumlah Penduduk

1 Dusun I 1.612 jiwa

2 Dusun II 1.152 jiwa

3 Dusun II 2.741 jiwa

4 Dusun III 1.472 jiwa

5 Dusun IV A 2.832 jiwa

6 Dusun IV B 1.699 jiwa

7 Dusun IV C 2.219 jiwa

8 Dusun IV D 3.467 jiwa

9 Dusun V 2.128 jiwa

10 Dusun VI 1.467 jiwa

jumlah 20.789 jiwa

(39)

II.1.2. Kependudukan

Dusun Klambir V memiliki tingkat penurunan etnis secara turun-temurun (homogenitas etnis) yang mendiami daerahnya. Dimana sebagian besar yang mendiami dusun ini adalah etnis Jawa yang secara turun-temurun mendiami desa ini.

Tabel 2

Pembagian Penduduk Desa Penen Berdasarkan Etnis

No Nama Etnis Jumlah

1 Jawa 1.036 jiwa

2 Melayu 1.032 jiwa

3 Tionghoa 43 jiwa

4 Batak 17 jiwa

Total 2.128 jiwa

Sumber : database Kecamatan Biru-biru

(40)

Peran-peran ini dapat terkait dalam berbagai hal, seperti dalam pengaturan perekonomian. Dimana masyarakat beretnis Jawa akan menguasai perekonomian dengan menduduki beberapa posisi yang strategis seperti : Tuan tanah, pemilik modal, dan memiliki lahan pertanian. Selain itu, keberadaan etnis Karo yang menjadi faktor penting (superioritas) dalam jumlah yang membuat perubahan pertumbuhan seseorang (sensitifitas primordial) yang cukup terasa di desa ini, seperti penggunaan bahasa.

Masyarakat etnis Jawa menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dalam kehidupannya sehari-hari. Jadi, dapat dikatakan bahwa masyarakat etnis Jawa adalah penutur asli bahasa Jawa. Mereka selalu menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi antar sesama etnis Jawa. Kesetiaan mereka untuk menggunakan bahasa Jawa memang sangat tinggi.

Tabel 3

Pembagian Penduduk Berdasarkan Agama

No Agama Jumlah

1 Islam 2.068 jiwa

2 Protestan 8 jiwa

3 Khatolik 9 jiwa

4 Budha 43 jiwa

Jumlah 2128 jiwa

(41)

Pembagian penduduk desa dari pemeluk agama menunjukkan bahwa peduduk dusun Klambir V adalah pemeluk agama Islam yang bermayoritaskan sekitar 2.068 dari total 2.128 penduduk. Hal ini menunjukkan bagaimana penduduk dusun Klambir V yang lembut dan benar-benar mewarisi nilai-nilai agama Islam yang ada.

Walaupun terdapat ketimpangan jumlah pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya, tidak membuat isu-isu yang terkait dalam hal jumlah etnis ataupun agama yang berbeda sampai pada taraf konflik. Namun, perbedaan ini menjadi sebuah kekuatan agar pemeluk agama bisa hidup saling berdampingan.

II.1.3. Sarana Dan Prasarana

Sarana dan prasarana menjadi hal yang mampu membantu setiap aktifitas yang dimiliki manusia. Terlepas dari apapun aktifitas tersebut, sarana menjadi hal yang penting untuk melakukan sebuah kegiatan. Bagaikan sebuah instrument yang menentukan, sarana menjadi sesuatu hal yang vital. Masyarakat Klambir V sangat tahu akan hal ini, dan pentingnya sarana ini dianggap mampu meningkatkan roda perekonomian maupun investasi.

Untuk itu masyarakat Klambir V mengusahakan membangun sarana mereka untuk tetap bertahan. Seperti membangun pemukiman, membangun sarana pendidikan, hingga tempat-tempat mereka berbagi suka dan duka serta informasi untuk memecahkan segala beban masalah (polemic) di kehidupan mereka. Berikut adalah sarana dan prasarana yang menjadi bagian dari masyarakat desa Tanjung Gusta khususnya dusun Klambir V.

• Pemukiman

(42)

Klambir V termasuk masyarakat yang memanfaatkan setiap lahan yang mereka punya untuk hal-hal yang bermanfaat. Bagi mereka, meskipun lahan tersebut beukuran 4x5 meter, tapi lahan tersebut masih dapat menghasilkan.

Rumah-rumah yang terlihat sederhana, serta masih terbuat dari papan mendominasi pemukiman masyarakat dusun klambir V. Rumah-rumah tersebut berdiri dan tersebar sepanjang lingkugan yang ada. Masyarakat dusun Klambir V bukan orang-orang yang terlalu memperhatikan kondisi rumah mereka. Justru kesederhanaan dan rasa bahagia di masa lalu masih tertanam oleh mereka yang dari kondisi rumah mereka karena biar pun mereka sederhana tapi banyak kenangan yang indah didalamnya. Masyarakat dusun Klambir V memiliki investasi besar dengan adanya anak-anak mereka yang sukses dan investasi barang-barang yang mereka miliki. Jadi kesederhanaan mereka tidak selalu menggambarkan kemiskinan mereka.

Pemukiman masyarakat dusun Klambir V diisi oleh rumah-rumah yang mulai menggunakan beton dan model rumah-rumah yang menggunakan khas baru (modern). Rumah-rumah ini dihuni oleh anak-anak mereka yang tinggal dan membangun rumah baru disana. Anak-anak tersebut mulai membuka usaha seperti : panglong, ternak ayam, pengumpulan barang-barang bekas, dan lain-lain.

• Pendidikan

Sarana pendidikan sangat dipercaya sebagai investasi masa depan bagi masyarakat dusun Klambir V. Dimana untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan ilmu yang baik, diharapkan pada masa mendatang dapat meningkatkan taraf hidup mereka.

(43)

sedikitnya para kaum muda yang terlihat mencangkul ataupun bekerja di pabrik. Sebuah kebanggaan tersebut mengakibatkan para orang tua untuk mencoba berbagai cara bagaimana anaknya dapat bersekolah ataupun merantau di kota mencari sesuatu yang lebih baik.

Untuk itu, masyarakat Klambir V banyak yang menyuruh anak-anak mereka untuk sekolah di luar dusun Klambir V karena mereka menganggap sekolah-sekolah di luar dusun jauh lebih baik dan berpotensi seperti alat-alat yang digunakan sudah lebih canggih dan lebih baik daripada sekolah-sekolah yang ada di dusun Klambir V yang masih belum ada alat-alat yang lebih baru lagi seperti komputer, papan tulis, kursi dan meja sekolah,dan lain-lain karena di dusun Klambir V masih terbilang memakai cara lama (kuno). Selain itu, masyarakat dapat melihat bahwa sang anak dapat merasakan kehidupan di dunia yang lebih luas dan berusaha untuk menjadikan anak-anak mereka untuk menjadi orang yang sukses. Meskipun begitu, ada juga masyarakat yang menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah di dusun Klambir V.

• Rumah Ibadah

Kegiatan beribadah menjadi hal yang juga sama pentingnya bagi masyarakat dusun Klambir V. Dimana hubungan dengan tuhan dapat menjaga mereka untuk tetap pada lindungan dan keuntungan. Mereka yang banyak beragama Islam membangun rumah ibadah mereka di lingkungan mereka sendiri.

Masyarakat dusun Klambir V memiliki keterikatan dengan dunia kosmos. Mereka yang sebagian besar etnis Jawa sangat percaya dengan adanya kehidupan lain selain manusia, kekuatan-kekuatan lain yang membawa keberkahan, kelancaran rezeki dan lain sebagainya. Untuk itu, rumah-rumah ibadah sangat penting bagi mereka.

(44)

ibadah tersebut terletak di setiap lorong. Menurut ibu Ani seorang warga dusun Klambir V, kedekatan rumah ibadah tersebut untuk memudahkan proses ibadah.

• Transportasi

Dusun Klambir V adalah kelurahan yang berada di jalan lintas menuju belawan, yakni jalan besar Klambir V. Jalan ini merupakan salah satu jalan alternatif yang menghubungkan antara marelan dengan belawan, selain jalan yang biasa digunakan seperti jalan Yos Sudarso dan jalan Veteran Helvetia.

Selain angkutan umum, kendaraan pribadi juga banyak menghiasi jalan-jalan di sepanjang dusun Klambir V. Hal ini mengindikasikan bahwa dusun tersebut sebuah dusun berkembang dengan tingkat pendapatan menengah ke bawah. Hal ini ditambah dengan berkembangnya usaha-usaha kecil di daerah tersebut.

Masyarakat dusun Klambir V juga memakai jasa transportasi dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menggunakan, becak, angkutan umum, sepeda motor dan beberapa yang memiliki mobil pribadi dalam beraktifitas setiap harinya. Dengan keadaan seperti itu, masyarakat dusun Klambir V dapat mengakses apa-apa saja yang ingin mereka peroleh, seperti: informasi.

• Komunikasi

(45)

Klambir V memiliki ruang komunikasi yang mereka ciptakan sendiri. Ditengah komunitas mereka, ruang itu dapat dibuat dimana saja, seperti: jalan ataupun warung.

Kebiasaan masyarakat Klambir V dalam berkomunikasi adalah masyarakat yang ramah dan peduli dengan seksama. Jadi, biar pun mereka bertemu di jalanan, mereka akan saling sapa dan tegur. Maka dari itu, setiap orang yang bertemu, pasti sudah sama-sama dikenal karena adanya tradisi saling sapa tersebut. Dengan demikian, apabila terdapat orang asing yang baru masuk di dusun Klambir V dan baru dikenal oleh masyarakat, maka komunikasi antara masyarakat dengan orang yang baru dikenal akan terjalin.

Maka dari itu, tradisi saling sapa ini akan memudahkan antara satu sama lain untuk saling mengenal dan menjalin hubungan yang baik. Tradisi ini juga dilakukan oleh pihak karyawan pabrik dalam menjalankan aktifitas, baik didalam maupun diluar pekerjaan. Dengan demikian, dengan segala bentuk komunikasi atau obrolan yang mereka jalankan, akan dapat mengetahui informasi-informasi yang ada di dalam pabrik.

Selain itu, terdapatnya warung sebagai salah satu forum lainnya dalam melakukan komunikasi yang sudah biasa dilakukan oleh masyarakat Klambir V. Seperti warung kopi, para pekerja dari kalangan apapun biasa berkumpul disana. Sambil bersantai, main kartu, dan minum kopi susu, bentuk komunikasi pun sangat jelas berjalan. Di tempat ini, para pekerja dapat menghilangkan keletihan dan masalah-masalah pribadi yang sedang dihadapi. Di warung, masyarakat bisa saling berkomunikasi dalam hal apapun seperti: bertukar pikiran tentang pekerjaan, rumah tangga, bahkan dalam hal perjodohan anak-anak mereka.

(46)

yang dibuat oleh pimpinan kerja mereka. Misalnya karyawan buruh pabrik Klambir Jaya yang di larang keras untuk tidak mengobrol pada saat bekerja karena pihak pabrik menganggap bahwa itu semua membuang waktu. Meskipun begitu, para buruh tetap berkomunikasi meskipun hanya sekedar sapaan. Di balik itu, masyarakat pabrik yang hampir semuanya beranggotakan masyarakat Klambir V menganggap bahwa tindakan pabrik berlebihan karena pihak pabrik termasuk pemiliknya tidak memiliki tradisi saling sapa dan itu terjadi karena pihak pabrik berasal dari luar dusun Klambir V.

II.1.4. Mata Pencaharian

Dalam mencari mata pencaharian, masyarakat di desa Tanjung Gusta bermayoritaskan bekerja sebagai petani dan buruh. Mereka bekerja pada pabrik-pabrik yang ada disekitar Klambir V , Tanjung Gusta, Belawan maupun di daerah pusat kota Medan. Mereka pergi bekerja pada pagi hari dan kembali petang hari.

Mata pencaharian di desa Tanjung Gusta bervariasi. Tidak hanya buruh yang menjadi mayoritas, namun juga ada beberapa pekerjaan lain seperti: supir angkot, PNS, pedagang dan sebagainya. Keragaman ini muncul karena letak desa ini yang juga berada dipinggiran kota Medan, yang secara hubungan social, perkotaan juga membentuk ketergantungan penduduk yang berada dipinggiran kota tersebut untuk beraktifitas disana.

(47)

menanam palawija. Sedangkan etnis lain, seperti etnis Tionghoa lebih dominan bekerja sebagai pedagang dan etnis Batak lebih dominan bekerja sebagai buruh.

Hubungan sosial masyarakat di dusun Klambir V termasuk di sekitar pabrik Klambir Jaya berjalan sangat baik. Hubungan sosial-budaya masyarakat masih sangat erat terjaga karena masyarakat masih sangat menjaga nilai-nilai budaya penduduk yang beretnis Jawa dan Melayu. Apalagi kehidupan masyarakat yang hidup di desa masih memakai prinsip dan budaya lama dengan menjalin nilai-nilai kekeluargaan dan rasa saling tolong-menolong.

Sikap kekeluargaan inilah yang membangun bentuk sosial budaya di daerah Klambir V ini menjadi lebih baik. Selain itu, masyarakat mudah bersosialisasi tanpa memandang status sosial dan pribadi. Sikap saling menghargai dan rasa peduli antar sesama membuat masyarakat menjadi seperti suatu keluarga.

II.2. Deskripsi Pabrik Klambir Jaya

(48)

Foto 1. Gambar pabrik Kelambir Jaya

II.2.1. Sejarah Pabrik

Sejarah terbentuknya pabrik Klambir Jaya tidak terlepas dari bapak Johari Chandra dan bapak Mansyur. Mereka merupakan pemilik dan asisten dari pemilik pabrik Klambir Jaya. Mereka merupakan salah satu tokoh yang semasa hidupnya hingga saat ini dalam lapangan pekerjaan mengenai pembuatan kertas dan lilin pekong etnis Tionghoa yang ada di Indonesia. Usaha yang mereka jalankan menghasikan suatu hasil yang positif dalam bisnis yang mereka jalankan ini. Bisnis yang mereka jalankan ini bukan saja berdampak positif dalam tingkat pendapatan secara pribadi pada mereka, namun juga bagi negara Indonesia karena bisnis pembuatan kertas dan lilin pekong mereka ini juga dapat meningkatkan nilai devisa negara.

(49)

untuk mencoba bisnis baru sebagai pembuat pabrik sumpit yang lebih dominan berdampak pada etnis Tionghoa. Sejak saat itupun pabrik Klambir Jaya di sahkan dan disetujui oleh pihak kepala desa. Selain itu, tujuan lain adalah ketika ingin berbisnis barang lain selain sumpit, pihak pabrik Klambir Jaya sudah tidak ragu lagi untuk membentuk bisnis lain karena pabrik Klambir Jaya sudah disetujui sepenuhnya oleh pihak kepala desa.

Pada bulan Maret 1993, diadakan unjuk rasa dari pihak masyarakat kepada pihak pabrik Klambir Jaya karena pada saat itu, pabrik Klambir Jaya ternyata bukan sebagai pabrik pembuat sumpit lagi tetapi sebagai pabrik pembuatan kertas dan lilin pekong. Pihak masyarakat setempat merasa telah dikhianati karena telah melanggar janji yang di buat oleh pihak pabrik yang berujung pada sebuah konflik. Namun, konflik yang terjadi antara masyarakat terhadap pabrik tidak berlangsung lama. Sebab, laporan yang diajukan oleh masyarakat kepada kepala desa tidak ditanggapi secara serius.

keputusan yang berubah dari pabrik atas pembuatan sumpit menjadi pabrik pembuat kertas dan lilin pekong etnis Tionghoa tidak berlangsung lama. Selang beberapa bulan setelah konflik terjadi, masyarakat setempat sudah melaporkan peristiwa ini kepada bapak kepala desa tapi apa yang di laporkan oleh masyarakat tidak di tanggapi secara serius oleh kepala desa.

(50)

pembangunan pabrik Klambir Jaya sudah hilang dengan sendirinya. Sebab, masyarakat tidak dapat berbuat apa-apa karena itu sudah menjadi keputusan dari kepala desa. Masyarakat sudah kembali seperti biasanya, tanpa harus menanggapi apa yang diproduksi oleh pabrik Klambir Jaya.

II.2.2. Letak Geografi Pabrik

Pabrik Klambir Jaya terletak di dusun Klambir V. Pabrik tersebut berada sekitar 1 km dari kantor desa Tanjung Gusta. Keberadaan pabrik yang dekat dengan kantor desa ini memungkinkan pengelola untuk menyelesaikan perizinan dan sebagainya.

Akses menuju pabrik Klambir Jaya dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum yang beroperasi di sepanjang jalan besar Klambir V menuju pusat kota Medan. Akses lain menuju pabrik ini dapat dilakukan dengan memakai kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor. Untuk menuju pabrik kurang lebih memakan waktu satu jam perjalanan.

(51)

Luas kawasan pabrik Klambir Jaya kurang lebih 1 hektar. Dalam 1 hektar tersebut terdapat beberapa gudang, tempat mencetak lilin dan satu bagian perkantoran. Semua bagian dalam pabrik ini bersinergi untuk mencapai hasil yang diinginkan yang dibuat oleh perusahaan.

Pabrik Klambir Jaya memiliki batas sebagai berikut. Disebalah Barat berbatasan dengan anak Sungai Ular. Disebalah Timur berbatasan jalan besar Klambir V. Sedangkan batas Utara dan Selatan berbatasan dengan pemukiman penduduk. Batas-batas ini menunjukkan bahwa pabrik Klambir Jaya berada pada akses yang baik secara transportasi karena dekat dengan jalan besar. Hal ini tentu memudahkan bagi pabrik tersebut untuk mendistribusikan hasil porduksi. Selain itu, keuntungan lainnya adalah kedekatan pabrik dengan aliran anak Sungai Ular memungkinkan pabrik lebih mudah untuk membuang sisa hasil produksi berupa limbah ke sungai tersebut.

II.2.3. Karyawan Pabrik

Setiap perusahaan tentu mempunyai karyawan sebagai pendukung usaha yang harus dijalankan sesuai dengan tujuan perusahaan. Butuh waktu untuk mencapai itu semua, begitu juga pada pabrik Klambir Jaya, perusahaan ini terus berupaya agar tujuan yang telah digariskan dapat terwujud. Tidak mudah dalam mewujudkan keberhasilan karena membutuhkan kerja keras yang tinggi, disiplin, dan loyalitas dalam bekerja.

(52)

Jumlah keseluruhan karyawan pabrik Klambir Jaya adalah 300 orang. Jumlah tersebut tersebar diberbagai bagian pekerjaan. Pembagian tersebut seperti :

1. Bagian pimpinan pegawai - Pemilik Perusahaan. - Direktur.

- Manajer.

- Mandor.

2. Karyawan

- Buruh.

- Satpam.

- Cleaning Service15

II.2.4. Jaringan Pabrik

Pabrik Klambir Jaya memiliki jaringan dengan pabrik lainnya yang bergerak di bidang yang sama, Misalnya: Toba Permai yang ada di kota Medan. Pabrik sebagai penyalur etiket yang sudah dicetak sebagai kemasan kertas sembahyang dan lilin pekong. Jaringan ini berupa jaringan kerjasama antara kedua belah pihak. Kerjasama ini sudah terjalin sejak pabrik ini mulai memproduksi kertas sembahyang dan lilin pekong.

Selain dengan pabrik Toba Permai, jaringan juga dibangun kepada birokrasi pemerintahan. Terdapat jaringan-jaringan yang coba dibangun dalam bentuk pemberian izin beroperasi dan standar-standar yang harus dipenuhi oleh pabrik Klambir Jaya. Birokrasi pemerintahan tersebut, seperti :

15

(53)

- Dinas Perizinan.

- Dinas Kesehatan Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Deli Serdang. - Dinas Tata Ruang.

(54)

BAB III

AKTIFITAS PABRIK KLAMBIR JAYA

III.1. Aktifitas Di Pabrik

Jumlah seluruh karyawan yang bekerja di pabrik Klambir Jaya seluruhnya berjumlah 300 karyawan. Namun, jumlah karyawan akan bertambah bila adanya karyawan borongan yang biasanya akan di cari ketika hari-hari besar seperti Imlek (hari besar agama Budha). Karyawan borongan yang dimaksud adalah karyawan buruh. Tapi, karyawan buruh tetap (kontrak) merupakan karyawan yang sudah bekerja tetap di pabrik. Karyawan yang berjumlah 300 karyawan sudah termasuk:

Tabel 4

Jumlah Seluruh Karyawan Berdasarkan Pekerjaan

No Karyawan Jumlah

1 Direktur 1 orang

2 Manajer 2 orang

3 Mandor 5 orang

4 Buruh 280 orang

5 Satpam 4 orang

6 Cleaning Service 8 orang

Jumlah 300 karyawan

Sumber : database Pabrik Klambir Jaya

(55)

borongan. Karyawan yang bekerja sebagai borongan merupakan karyawan yang bekerja sebagai buruh pabrik. Karyawan yang bekerja sebagai pekerja borongan dan harian disebut pekerja pembantu. Berbeda dengan karyawan buruh tetap (kontrak), mereka merupakan karyawan umum di pabrik tapi cara pembagian gaji mereka berbeda dengan karyawan umum lainnya.

Jumlah karyawan laki-laki yang bekerja di pabrik Klambir jaya terlihat sangat jauh perbandingannya dengan karyawati yang bekerja di pabrik Klambir Jaya. Jumlah karyawan laki-laki mencapai 75%, sedangkan karyawati berjumlah 25%. Ini jelas terlihat, bahwa pekerja laki-laki lebih dominan dibutuhkan dibandingkan dengan karyawan perempuan.

Tabel 5

Jumlah Karyawan Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Dari Pabrik Klambir Jaya Tahun 2013

Golongan Umur Laki-laki Perempuan Jumlah

20-30 39 orang 11 orang 50 orang

30-40 58 orang 22 orang 80 orang

40-50 76 orang 24 orang 100 orang

50-55 52 orang 18 orang 70 orang

Jumlah 225 orang 75 orang 300 orang

Sumber : BPS Pabrik Klambir Jaya

Usia karyawan pabrik Klambir Jaya sudah memasuki paruh baya. Usia karyawan pabrik, baik laki-laki ataupun perempuan berkisar sekitar 20-55 tahun. Faktor usia tidak menjadi halangan bagi mereka untuk bekerja meskipun hanya sebagai buruh, cleaning

(56)

Sebab, sekitar 80% karyawan yang bekerja di pabrik Klambir Jaya sudah berkeluarga, sedangkan 20% belum berkeluarga.

Aktifitas yang dijalankan di pabrik Klambir Jaya mulai dari menyediakan bahan dasar sebagai bahan awal untuk pembuatan, kemudian dicampurkan dengan bahan-bahan lain seperti: soda dan gamai. Selanjutnya di endapkan selama 2x3 hari dan setelah lunak, diangkat dan digiling lagi dan dilakukan selama 3x proses yang memakai barang yang disebut belender model sekam. Setelah itu barulah bahan tersebut bisa dimasukkan ketempat peleburan untuk dileburkan atau di haluskan. Setelah bahan-bahan tersebut hancur dan sudah halus, maka bahan tersebut sudah dapat untuk dimasukkan ke mesin cetak. Kemudian barang yang sudah di cetak sudah dapat dimasukkan ke gudang pemotongan untuk dilakukan sistem potong. Bahan yang tidak jadi dapat di daur ulang dan dimasukkan langsung kemesin penghancuran atau pengleburan. Sehabis dipotong, kertas yang sudah jadi dapat langsung di packing atau tempat pembungkusan. Setelah dilakukan pemackingan16

Foto.3 Bahan dasar pembuatan kertas dan lilin pekong

, barang siap untuk di angkut keluar atau di pasarkan. Pengangkutan biasa dilakukan 2 sampai 3 konteiner.

Harga untuk lilin peckong 1 cm berharga Rp 10.000, Sedangkan harga khusus dari bambu campuran seharga Rp.50.000. Harga bambu per ikatnya sebesar Rp.250.000. Tempat

16

(57)

pusat produksi ada di daerah Toba Permai. Sistem produksi dilakukan dengan cara datang sendiri dan ada juga yang dikirim. Namun, sistem yang diantar akan lebih mahal karena biaya transportasi. Negara-negara tetangga maupun di Asia sendiri sudah menjadi langganan, seperti : Malaysia, Singapura, Thailand, China taipe, dan lain-lain.

Selain itu ada juga aktifitas lain seperti satpam yang bekerja sebagai penjaga untuk mengamankan kondisi yang terjadi didalam pabrik. Kemudian ada juga terdapat karyawan cleaning service yang setiap harinya bekerja untuk membersihkan semua yang ada di dalam pabrik yang dapat membuat karyawan lain dan pemilik pabrik menjadi lebih nyaman untuk bekerja. Ada juga mandor yang bertugas untuk melakukan pengecekan dan pemasukan barang, serta melihat kondisi pabrik dan buruh. Serta ada juga dari pihak pimpinan pabrik seperti : Manajer, Direktur, dan Pemilik pabrik yang bekerja untuk memeriksa kondisi ekonomi yang didapat oleh pabrik setiap hari, minggu, bulan, bahkan tahunnya.

Shift17

1. Karyawan yang mendapatkan shift pada pkl.08.00 WIB, akan bekerja sampai pkl.16.00 WIB.

Karyawan:

2. Karyawan yang mendapatkan shift pada pkl.16.00 WIB, akan bekerja sampai pkl.24.00 WIB.

3. Karyawan yang mendapatkan shift pada pkl.24.00 WIB, akan bekerja sampai pkl.08.00 WIB.

17

Figur

Tabel 1

Tabel 1

p.38
Tabel 2

Tabel 2

p.39
Tabel 3

Tabel 3

p.40
Tabel 4

Tabel 4

p.54
Gambar 13. Air Limbah Pabrik Klambir Jaya

Gambar 13.

Air Limbah Pabrik Klambir Jaya p.129
Gambar 11. PT. Klambir Jaya

Gambar 11.

PT. Klambir Jaya p.129
Gambar 12. Kondisi luar pabrik Klambir Jaya

Gambar 12.

Kondisi luar pabrik Klambir Jaya p.129
Gambar 17. Bahan jadi yang sudah siap Pecking

Gambar 17.

Bahan jadi yang sudah siap Pecking p.130
Gambar 14. Bahan belum jadi di Gudang A

Gambar 14.

Bahan belum jadi di Gudang A p.130
Gambar 16. Bak bubur

Gambar 16.

Bak bubur p.130
Gambar 21. Kolam perendaman bahan awal

Gambar 21.

Kolam perendaman bahan awal p.131
Gambar 22. Membubur bahan baku

Gambar 22.

Membubur bahan baku p.131
Gambar 19. Karyawati yang bekerja di bagian mesin pon di Gudang A

Gambar 19.

Karyawati yang bekerja di bagian mesin pon di Gudang A p.131
Gambar 20. Buk Mandor Santi

Gambar 20.

Buk Mandor Santi p.131
Gambar 26. Kain Kasa

Gambar 26.

Kain Kasa p.132
Gambar 23. Mesin tali air untuk pengairan bahan baku

Gambar 23.

Mesin tali air untuk pengairan bahan baku p.132
Gambar 24. Gudang Boiler

Gambar 24.

Gudang Boiler p.132
Gambar 25. Pembuangan kertas

Gambar 25.

Pembuangan kertas p.132
Gambar 27. Penyaringan yang sudah dilapisi kain kasa

Gambar 27.

Penyaringan yang sudah dilapisi kain kasa p.133
Gambar 29. Pembuatan warna

Gambar 29.

Pembuatan warna p.133
Gambar 30. Mesin Hongkang(pembuat kertas)

Gambar 30.

Mesin Hongkang(pembuat kertas) p.133
Gambar 28. Tempat pembuatan warna

Gambar 28.

Tempat pembuatan warna p.133
Gambar 33. Penggulungan kertas yang sudah jadi

Gambar 33.

Penggulungan kertas yang sudah jadi p.134
Gambar 34. Rol produksi yang sudah jadi

Gambar 34.

Rol produksi yang sudah jadi p.134
Gambar 32. Mesin Potong

Gambar 32.

Mesin Potong p.134
Gambar 31. Mesin Katrol(untuk menurunkan kertas)

Gambar 31.

Mesin Katrol(untuk menurunkan kertas) p.134
Gambar 36. Proses pembungkusan di Gudang A

Gambar 36.

Proses pembungkusan di Gudang A p.135
Gambar 35. Mesin pembungkus di Gudang A

Gambar 35.

Mesin pembungkus di Gudang A p.135
Gambar 37. Gudang Pecking

Gambar 37.

Gudang Pecking p.135
Gambar 38. Gudang produksi

Gambar 38.

Gudang produksi p.136

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di