• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP, berisi kesimpulan dan saran

TEMUAN LAPANGAN DAN ANALIS

Pendidikan Alternatif sebagai Model Pemberdayaan

Pendidikan alternatif yang diterapkan di sekolah perempuan Ciliwung (SPC) berangkat dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh peserta yang tergabung di dalamnya. Dengan kata lain, berbasis pengalaman yang dialami oleh ibu-ibu sehari-hari. Mulai dari awal penyusunan materi sekolah (in class dan out

class) hingga tekhnis pelaksanaan dibicarakan dan didiskusikan oleh fasilitator (dari

KAPAL Perempuan) bersama-sama dengan anggota SPC di setiap pertemuan. Awalnya, begitu sulit untuk membuat mereka (anggota SPC) untuk mau terbuka terlebih di depan semua anggota yang ada. Hal ini tidak terlepas dari kuatnya

61

Yanti Muchtar & Lily Pulu, Modul Pendidikan Adil Gender.

62

Musriah (Ketua Sekolah Perempuan Ciliwung), Wawancara Pribadi di Warung Jati, pada 17 Juni 2010

konstruk yang masih dipegang oleh mereka. Olehnya itu, dibutuhkan sebuah proses penyadaran terlebih dahulu sebelum melangkah ke perbincangan-perbincangan selanjutnya.

Hal di atas adalah sesuatu yang umum dimengerti. Karenanya, KAPAL Perempuan sebagai pihak fasilitator menggunakan strategi sekaligus metode dengan menerapkan Pendidikan Adil Gender (PAG) sebagai acuan. Dalam PAG ini ada tiga elemen penting yang sekaligus dijadikan pedoman dalam proses belajar mengajar ini.63 Pertama, dimulai dengan proses penyadaran kritis, yakni membongkar (dekonstruksi) nilai-nilai patriarkis yang telah mengakar di masyarakat serta menumbuhkan kesadaran baru yang lebih setara dan adil. Tanpa kesadaran bahwa perempuan memiliki otonomi, tidak mungkin ada perjuangan perempuan untuk membebaskan diri dan masyarakat dari ketertindasan. Kedua, pengorganisasian dan pengembangan kepemimpinan perempuan. Perjuangan untuk membebaskan diri dari ketertindasan tidak mungkin berhasil jika perempuan tidak mampu mengorganisir diri mereka dan mengembangkan kepemimpinan di kalangan perempuan sendiri. Dengan begitu, akan terbentuk organisasi yang solid dengan pemimpin-pemimpin yang kuat pula. Ketiga, peningkatan keahlian hidup. Sebagai akibat dari budaya patriarki, selama ini sebagian besar perempuan cenderung diam dengan kondisinya, yang pada gilirannya membuatnya menjadi miskin dan bodoh. Oleh karena itu, dibutuhkan proses yang dapat membantu perempuan untuk meningkatkan keahlian

63

Selengkapnya dapat dilihat di Modul Pendidikan Adil Gender (PAG) Untuk Perempuan Marginal, Tim penyusun dari KAPAL Perempuan ( Lily Pulu, Yanti Muchtar, Fitriani Sunarto, Salbiyah. Jakarta : KAPAL Perempuan & ACCES-AusAid, 2006.

hidupnya dengan mendorong perempuan agar mampu berjuang mensejahterahkan dirinya.

Pengalaman hidup sebagai perempuan digali dari setiap anggota dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan yang memudahkan mereka, dan juga membuatnya nyaman untuk melakukannya. Kita tahu bahwa berbicara masalah perempuan, terlebih menyangkut hal-hal yang sangat sensitif seperti masalah reproduksi perempuan dan permasalahan-permasalahan yang terjadi di dalam keluarganya adalah, sesuatu yang biasa dianggap aib sehingga tabu untuk dibicarakan di depan umum.

Metodologi yang digunakan di SPC ini adalah pendidikan feminis yang menggunakan pendekatan pendidikan partisipatif, yakni proses pembelajaran dilakukan dua arah, dialogis, terbuka, dan saling menguatkan.64 Hal ini sesuai dengan model pendidikan yang dipopulerkan oleh Paulo Freire. Pendekatannya lebih humanis karena berakar dari prinsip dasar kemanusiaan.

Beberapa metode dan pendekatan itu adalah : 1. Silsilah keluarga

Metode ini digunakan untuk membuka fikiran peserta SPC bahwa selama ini hampir semua nama keluarga yang masih melekat di fikirannya adalah keturunan dari garis Ayah. Sehingga ketika diminta untuk menuliskan silsilah keluarga dari garis Ibu, mereka mengalami kesulitan. Hal ini diakui oleh ibu Musriah (ketua SPC) :

64

“iya juga ya, biasanya selama ini kita cuma sering denger nama bapak.

Jadinya hampir lupa dengan keluarga dari Ibu”.

Tak heran bila di beberapa daerah seperti di Sulawesi, nama ayah dilekatkan di belakang nama anaknya. Di tempat lain, kita juga tentu sering mendengar nama suami dilekatkan di belakang kata istri, sehingga kadang-kadang orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Ibu Handoko, misalnya, yang notabene adalah nama suaminya.

Dalam konteks inilah, peserta mulai dibiasakan untuk mengingat kembali nama-nama keluarga yang berasal dari Ibu agar terjadi keseimbangan bahwa ada dua keluarga yang berhubungan dalam hidupnya.

2. Diorama

Dalam tekhnisnya, Para ibu-ibu diminta memerankan perbedaan antara pembagian upah antara laki-laki dan perempuan. melalui peran-peran seperti ini, mereka bisa belajar dan memahami bahwa ternyata di dalam pembagian upah pun perempuan dan laki-laki masih dipisahkan.

3. Menggambar

Dalam metode ini, ibu-ibu diminta perkenalan dengan menggambar tentang diri mereka masing-masing. Jadi mereka dibagikan kertas lalu diminta mengambar tentang kelemahan dan kekurangannya masing-masing.

Di metode ini, mereka dipertontonkan tentang film Beban Ganda yang dihadapi oleh perempuan. Setelah menonton, mereka kemudian berdiskusi. Dari situ, mereka bisa menyaksikan bahwa semua itu adalah hal yang mereka hadapi sehari-hari.

5. Analisis lagu

Ternyata lagu menjadi sarana yang cukup baik dalam proses penyadaran. Di SPC, ibu-ibu membuat lagu-lagu yang mengambarkan kehidupan perempuan. Dari situ, terlihatlah bagaimana masyarakat mempersepsi perempuan.

6. Metode Tutorial untuk Keaksaraan Fungsional

Metode ini digunakan khusus untuk peserta yang masih belajar membaca, menulis dan berhitung. Tekhnik yang digunakan adalah dengan mengajarkan suku kata misalnya A,B,C untuk membantu mereka mengenal huruf-huruf dasar. Untuk lebih memudahkan ibu-ibu, Huruf-huruf yang diperkenalkan adalah terutama huruf ynag bunyi (A, I, U, E,O). Dan, yang lebih memudahkan lagi, kata per kata yang diberikan adalah kata-kata yang biasa mereka alami sehari-hari. Misalnya, “saya memasak di dapur”.

Pendidikan seperti di sekolah pada umumnya yang berorientasi subjek (guru)-objek (murid) jelas tidak akan mampu membuat perempuan untuk mau bersuara terlebih di depan umum. Jangankan menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya, bahkan ruang untuk mendukung keterbukaan perempuan pun tidak tersedia. Karena paradigmanya adalah, pelajaran hanya berasal dari guru. Mereka lah yang paling tau segala hal.

Beberapa pendidikan yang diterapkan di SPC yaitu: 1. Pendidikan di dalam kelas

2. Pendampingan dalam proses ekonomi

3. Pendampingan dalam proses MUSREMBANG 4. Diskusi-diskusi di luar kelas (informal)

5. Dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan di beberapa jaringan LSM perempuan 6. Dilibatkan dalam penyusunan modul Pendidikan Adil Gender (PAG) yang

merupakan deskripsi sekaligus kesimpulan dari proses penerapan PAG di SPC selama rentan waktu 2003-2006.

Sejak akhir tahun 2009 ( lebih tepatnya pada musim hujan tiba)-awal bulan Juni 2010. proses belajar-mengajar di kelas vakum. Awalnya, hal ini disebabkan karena seringnya terjadi banjir sehingga mereka lebih berkonsentrasi pada penyelamatan diri dan keluarganya. Bahkan para pengurus dan beberapa anggota juga menjadi relawan dengan menyediakan dapur umum dan menjadi panitia pembagian sembako bagi penduduk maupun anggota yang terkena banjir dan membutuhkan pertolongan. Selain itu, otomatis tempat mereka belajar yakni di lorong-lorong rumah dan di pinggiran kali Ciliwung juga tidak memungkinkan untuk digunakan.

Selain itu, penulis melihat bahwa ada masalah yang lain yang membuat peserta SPC belum memulai kembali pendidikan in class, sebagian yang lain (khususnya beberapa pengurus) merasa sedikit bingung bagaimana memulainya kembali. Meski sebagian yang lain beralasan bahwa kesibukannya semakin

bertambah, tapi alasan itu tidak cukup mendukung karena selama ini mereka juga melakukan pendidikan in class dan tetap bekerja seperti biasa.

Berdasarkan hasil wawancara dari subjek penelitian yang penulis pilih, 12 orang peserta SPC mengatakan ingin sekolah kembali seperti dulu . Mereka masih terlihat semangat untuk terus belajar dan membangun relasi di SPC. .

Setelah sempat vakum beberapa bulan, Pada Hari Jumat (04/06), akhirnya semua pengurus dan 11 orang anggota akhirnya sepakat berkumpul di samping kali Ciliwung untuk membicarakan tentang bagaimana kelanjutan pendidikan in class ini. Meski dalam suasana gerimis, mereka terlihat tetap semangat untuk berunding, bahkan beberapa diantaranya membawa anaknya yang masih kecil. Supaya lebih demokratis, pengurus membagikan kertas metaplen dan spidol untuk menuliskan materi-materi apa yang mereka inginkan untuk dipelajari kembali. Selain peserta, pengurus juga ikut menuliskan pendapatnya.65

Setelah itu, ibu Ana membacakan hasilnya. Dan, kebanyakan ibu-ibu memilih untuk mengulang kembali materi kespro, jender, pengajian (tajwid) dan materi tambahan adalah keterampilan seperti, daur ulang sampah lalu dibikin tas. Karena ibu-ibu merasa bahwa selain mendapatkan ilmu (pengetahuan baru). kita juga dapat menghasilkan nilai ekonomi. Ada juga satu orang ibu yang mengusulkan didakannya pendidikan untuk anak-anak putus sekolah. Alasannya karena di sekitar SPC ini juga banyak anak-anak kecil yang putus sekolah. Usulan terakhir ini dapat

65

dikatakan sebagai indikator semakin disadarinya bahwa pendidikan adalah hal yang harus dipelajari.

Setelah materi dan waktunya sudah disepakati, yang menjadi perdebatan cukup panjang adalah masalah fasilitator. Sejak tahun 2007-an, KAPAL sudah memutuskan untuk men-training pengurus SPC agar mereka yang jadi fasilitator dalam pertemuan in class. Tapi, setelah vakum, beberapa pengrus merasa bingung untuk mulai dari mana. Salah satu pengurus (Ibu Retno) merasa masih belum percaya diri jika harus menjadi fasilitator, Padahal dia sudah beberapa kali jadi fasilitatsor. Menurutnya, para peserta kurang memperhatikan dan kurang semangat jika pengurus yang menjadi fasilitator. Ia juga masih merasa malu. Padahal Ibu Retno adalah salah satu pengurus yang punya potensi.

Selain itu, pengurus yang lain (Ibu Ana dan Ibu Mistinah) masih terlihat kurang percaya diri untuk tampil di depan. Padahal mereka juga sudah banyak tahu tentang materi-materi yang telah diajarkan di SPC. Hanya ibu Musriyah (ketua SPC) yang terlihat begitu percaya diri.66 Nah, artinya, dari pengurus sendiri masih perlu dibangun rasa kepercayaan diri atau penguatan kapasitas. Selain itu, mereka juga perlu memperkuat materi tentang strategi-strategi bagaimana membuat pendengar menjadi antusias dengan apa yang kita bicarakan.

66

Sementara itu, proses pendidikan yang lain tetap berjalan. Seperti diskusi-diskusi di beberapa pertemuan nasional dan LSM-LSM. Selain itu training-training tetap dilakukan khususnya untuk pengurus SPC setiap hari Rabu. Sejak bulan Januari hingga Maret, mereka membuat pemetaan di dampingi oleh fasilitator dari KAPAL Perempuan. Mereka menggunakan metode pemetaan partisipatif, wawancara, dan pengamatan langsung. Pihak-pihak yang ikut berdiskusi adalah peserta SPC, perwakilan dari warga di tiga RT dan fasilitator. Jadi mereka dibagi kelompok, ada yang bertugas mendata tentang perempuan buta aksara, perempuan yang mengalami KDRT, masalah KB dan sebagainya. Hasil dari pemetan itu kemudian menjadi usulan yang akan diikutkan pada musyawarah rencana pembangunan kelurahan (MUSREMBANGKEL) yang dilaksanakan pada bulan April. Dari empat usulan67 itu, hanya satu yang direspon oleh pihak Kelurahan, yaitu tentang program buta aksara untuk perempuan. Tiga usulan lainnya tidak digoal-kan karena menurut pihak kelurahan program-program itu sudah ada di program ibu-ibu PKK.

Kegiatan lainnya adalah, demontrasi merespon isu-isu perempuan khususnya pada hari-hari peringatan perempuan masih tetap mereka lakukan misalnya pada hari buruh 1 Mei dan baru-baru ini adalah ikut mendukung disahkannya RUU PRT di senayan.68 Dengan ikut berdemontrasi, semakin membangun sense mereka bahwa persoalan-persoalan perempuan perlu diperjuangkan secara kolektif. Mereka rela

67 keempat usulan itu dapat dilihat di lampiran

berada di bawah terik matahari dan meninggalkan sejenak pekerjaannya demi memperjuangkan keadilan bagi perempuan.

Pendidikan terakhir yang dikhususkan untuk pengurus adalah training selama empat kali pertemuan, satu kali setiap minggunya dengan bahasan untuk pelatihan berbicara di depan umum. Training ini dimaksudkan untuk memperkuat kapasitas khususnya para pengurus SPC karena mereka diberikan tugas yang lebih dibanding anggota lainnya. Dari pertemuan itu, terlihat bahwa dari ke enam pengurus empat orang diantaranya masih terlihat kurang percaya diri berbicara di depan umum. Tapi, yang patut diapresiasi dari mereka adalah semangat mereka untuk belajar begitu tinggi. Mereka bahkan meminta untuk dikritik. Suasananya juga sangat bersahabat , penuh canda. Sesekali mereka saling ”meledek” jika ada yang salah-salah kata, tapi itu juga diselingi dengan tawa lepas.

Di hari terakhir training, mereka dibagi dua kelompok, dibagikan tema dengan kemudian diminta presentasi dengan memposisikan diri seolah-olah ada di depan umum. Dari cara mereka presentasi, terlihat bahwa mereka sudah cukup baik menjelaskan tema-tema yang diberikan kepadanya. Mimik dan gesture yang mereka perlihatkan pun cukup baik. Cuma memang masih terlihat sedikit grogi. Tapi itu adalah hal biasa dihadapi bahkan oleh seorang public figure yang terkenal sekalipun.

Dari proses pendidikan yang digambarkan di atas, penulis menyimpulkan bahwa model pemberdayaan yang digunakan di SPC adalah model pengembangan masyarakat lokal yang dikembangkan oleh Rothman dan Tropman (1987).

Beberapa indikator itu dapat dilihat dari pendekatakan-pendekatan yang diterapkan di SPC. Kategori tujuan tindakan terhadap peserta ibu-ibu SPC dilakukan dengan tujuan memandirikan, mengembangkan kapasitas dan mengintegrasikan mereka dalam sebuah komunitas. Orientasinya adalah proses karena betul-betul dimulai dari awal, dari mereka tidak tahu dan tidak sadar sama sekali dengan keadaannya yang selama ini berada dalam posisi yang disudutkan, dinomorduakan, didiskriminasi dan seterusnya, sampai kemudian mereka mulai sadar dan bergerak untuk memperjuangkan hak-haknya.

Menyadarkan seseorang tentang suatu keadaan tentu bukanlah hal yang mudah. Butuh proses yang panjang, dan proses inilah yang dilalui oleh ibu-ibu di SPC sejak tahun 2003 hingga sekarang (2010). Pendidikan ini dimulai dengan mendekonstruksi pemahaman peserta SPC sebelumnya tentang kondisi di lingkungan sekitarnya. Sebagaimana Paulo Freire menegaskan bahwa pendidkkan harus juga didasarkan pada sebab-musabab, fakta-fakta ekonomi, sosial politik, ideology, dan sejarah yang menerangkan besar kecil dan tinggi rendahnya halangan atau larangan tubuh sadar kita, dimana kita menemukan diri kita berada.69 Sebagai konsekuensinya, pendidikan ini terus berlanjut karena prinsipnya adalah proses pendidikan tidak akan pernah berakhir. Berikut pengakuan beberapa anggota SPC :

69

“Tujuan awalnya terus terang nggak tau. Tapi setelah berjalan, baru kelihatan tujuannya supaya perempuan tidak terpinggirkan. Banyak perempuan yang sudah mulai berubah supaya tidak tertindas lagi, dan setara dengan laki-laki. Jadi betul-betul diproses karena kita dari tidak tahu menjadi tahu sekarang.”70

“…yah..supaya kita bisa memperjuangkan hak-hak perempuan. Kita sama saja dengan laki-laki. Kita juga semakin mandiri sekarang.”71

“Untuk memajukan kaum perempuan agar tambah wawasannya. Selain itu, silaturahmi juga. Jadi kita nggak berada di bawah banget gitu…, paling tidak taulah…, dengan berkelompok kita bisa saling kerjasama, saling menghargai, dan menghormati.

Untuk memulai itu, dibutuhkan langkah-langkah untuk membentuk manusia melalui pendididikan. Salah satunya, dengan metode learning to know. langkah ini akan membantu peserta didik memiliki kemampuan kritis dan sistematis guna memahami realitas diri, sesama, dan dunia.72

Selain bentuk pendidikan, dibutuhkan juga kerja-kerja kolektif yang diintegrasikan dalam sebuah komunitas untuk memudahkan langkah awal pendidikan tersebut. Asumsi yang melandasi tentang struktur komunitas dan kondisi permasalahan yang dihadapi selama ini adalah bahwa, ibu-ibu peserta SPC berada dalam kesenjangan relasi yang timpang dengan masyarakat di sekitarnya. Karenanya, semua itu harus dipecahkan secara kolektif dengan membentuk sebuah komunitas. Kelebihan dibentuknya sebuah komunitas adalah mereka bisa mendiskusikan secara bersama-sama permasalahan-permasalahan yang hadapi di rumah tangganya, lalu merumuskan langkah-langkah apa yang harus dilakukan sebagai solusinya.

70

Musriah, Wawancara Pribadi, di Warung Jati.

71 Nurjannah, Wawancara Pribadi, di Warung Jati.

72

Pengalaman-pengalaman diperlakukan secara tidak adil itu diceritakan oleh ibu-ibu SPC seperti di bawah ini:

“Sebelumnya iya. Saya tidak lulus SD (sekolah dasar) karena waktu mau ujian tiba-tiba sakit. Saya merasa karena saya tidak lulus SD, saya jadi tidak ada pengalaman. Hanya ikut arisan dan pengajian. Pernah waktu itu, di tempat arisan, kalau kita ngomong tidak didengarkan sama yang lain. Bahkan ada ibu-ibu yang bilangin saya “orang nggak lulus SD aja pengen pintar”. Kata-kata itu saya garis bawahi, saya catat baik-baik. Dalam hati bilang, saya akan buktikan kalau saya juga bisa.

Sejak ada SPC, kita semua belajar keras, mengorbankan materi dan pekerjaan. Tapi ada hasilnya. Di sini, kita bisa diskusi, ilmunya kita terapkan di komunitas. Nah, ini sudah merupakan kebanggaan, bahkan sudah lebih dari seorang mahasiswa. Saya sudah bisa bicara di depan umum. Saya sudah percaya diri.”73

“Sebelumnya, saya nggak berani mengeluarkan pendapat, saya minder. Tapi sekarang udah agak enakan dengan kelompok karena kita bisa berbagi pengalaman. Kalau sendiri nggak enak, enakan kelompok.”74

“…iya sih, dulu sempat merasa minder dengan masyarakat. Dulu, juga rada malu, tapi sekarang udah nggak.”75

Dalam proses pendidikan in class, sekolah perempuan Ciliwung menerapkan metode learning to live together.76 Peserta SPC diajak menceritakan dan mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang terjadi di keluarganya, lalu ditanggapi oleh peserta SPC lainnya. Dari hasil sharing itu, terungkaplah bahwa masih ada beberapa masalah yang sama dihadapi oleh peserta SPC lainnya, misalnya, KDRT dan beban ganda. Dengan begitu, sense dari mereka lebih cepat terbangun karena mencoba memposisikan diri sebagai orang yang mengalami kasus yang sama.

73 Musriah, Wawancara Pribadi, di Warung Jati.

74

Nurjannah, Wawancara Pribadi, di Warung Jati.

75 Anerah, Wawancara Pribadi, di Warung Jati.

76

Strategi perubahan dasarnya adalah tentu saja dengan melibatkan seluruh Anggota SPC dalam menyelesaikan permasalahannya sendiri. Peserta didik memang harus diajarkan untuk mampu menerapkan apa yang diketahui dan dipahami ke dalam praksis untuk menyelesaikan permasalahannya sehari-hari. Dengan begitu, pendidikan juga telah menjadi problem solving.77 Jadi, pendekatan partisipastif sangat dijunjung dalam proses pendidikan ini. Lihat saja misalnya, dalam penyusunan materi yang perumusannya berangkat dari permasalahan yang dihadapi oleh mereka sendiri. Dengan begitu, terjadi juga proses pemberdayaan bagi peserta didik SPC. Substansi dari pemberdayaan sebagaimana yang dikatakan Hulme dan Turner bahwa pemberdayaan sifatnya individual sekaligus kolektif. Pemberdayaan juga merupakan proses perubahan pribadi karena masing-masing individu mengambil tindakan atas nama diri mereka sendiri.78

Di dalam proses diskusi, baik in class maupun out class, mereka sendiri yang pada akhirnya memecahkan dan memutuskan langkah apa yang sebaiknya dilakukan dalam menghadapi masalah tertentu. Para peserta SPC memang dilatih untuk membuka diri dan menceritakan semua permasalahan-permasalahan di keluarganya. Dengan begitu, bagi yang punya masalah, akan merasa lebih ringan dan tidak putus asa karena adanya dukungan dari peserta lainnya. Tak jarang, beberapa ibu-ibu mengalami pengalaman yang sama, seperti yang diceritakan oleh mereka di bawah ini:

77

ibid

78

“Iya Mbak, sebenarnya malu ya untuk cerita tentang keluarga kita. Tapi, lama-lama saya cerita juga dan ternyata ibu-ibu yang lain mau mendengar dan ngasih usulan-usulan apa yang harus dilakukan. Saya kan punya masalah di keluarga dan sekarang lagi diurus. Nah, pihak KAPAL Perempuan dan ibu-ibu SPC itu ikut ngebantuin. Jadi senenglah bergabung di sekolah ini.”79

“…iya biasanya kalau ada peserta SPC yang sedang masalah keluarganya itu diceritakan waktu ngumpul. Terus, ditanggapin sama ibu-ibu lain. Terus, kita diskusikan bagaimana penyelesaiannya”.80

“Iya semua harus terlibat dalam pelajaran. Misalnya, kalau ada yang ngobrol, maka kita fasilitasi harus cari cara yang lain. Kalau ada masalah biasanya diceritakan di forum, Lalu didiskusikan bersama.”81

“Semua dapat bagian diskusi. Termasuk masalah pribadi dibicarakan (curhat), yang ada di hati dikeluarin jadi lebih plong. Jadi kita kan sama-sama saudara. Ibaratnya bisa saling mendukung. Kalau sakit misalnya, kita kolektif ngejengukin.”82

Tekhnik yang dilakukan untuk mewujudkan perubahan cara berfikir dan bersikap bagi ibu-ibu adalah dengan memperbanyak diskusi antar anggota SPC yang didampingi fasilitator. Mereka juga membangun jaringan dengan sekolah perempuan yang lain, yakni sekolah perempuan yang ada di Klender (yang merupakan binaan KAPAL Perempuan juga). Selain itu, mereka juga membangun jaringan dengan LSM-LSM Perempuan yang lain, seperti Kalyanamitra, AMAN Indonesia, dan Migran Care. Berikut petikan wawancara terkait hal ini:

“Kita banyak kerjasama dengan LSM-LSM perempuan. Migran Care misalnya, biasanya mereka ngajak kita ikut demo atau diskusi. Waktu itu

79

Anerah (Anggota SPC), Wawancara Pribadi, Senin, 3 Mei 2010 , pukul 14.10-14.30 di Warung jati.

80 Nurjannah, Wawancara Pribadi, Di Warung Jati.

81 Musriah, Wawancara Pribadi, di Warung Jati.

diskusi di kementerian, kalau nggak salah di kementerian transmigrasi. Kita diskusi tentang bagaimana nasib perempuan jika menjadi TKW, apa saja

Dokumen terkait