• Tidak ada hasil yang ditemukan

Temuan Lapangan

Dalam dokumen MUHAMAD HAFIZ ZULDI FDK (Halaman 64-83)

BAB IV TEMUAN LAPANGAN DAN ANALISA

A. Temuan Lapangan

1. Terapi Okupasi Bagi Anak Tunagrahita di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok

Pada bagian ini, penulis akan memberikan informasi terkait dengan hasil temuan lapangan yang berkaitan dengan terapi okupasi yang ada di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok, meliputi; tujuan terapi okupasi, jenis terapi okupasi, tahapan pelaksanaan terapi okupasi, hasil pelaksanaan terapi okupasi dan faktor pendukung dan penghambat keberhasilan terapi okupasi.

a. Tujuan Terapi Okupasi di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok

Tujuan diadakannya terapi okupasi bagi anak tunagrahita di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok adalah untuk mengajarkan siswa dalam melakukan kegiatan bina diri meliputi kegiatan sehari-hari seperti mandi, makan, berpakaian dan lain

sebagainya. Hal tersebut dilakukan agar mereka dapat mandiri dan mengurangi rasa bergantung terhadap orang lain. Selain itu tujuan dari terapi okupasi juga untuk mengembangkan minat dan bakat melalui kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Berikut penuturan dari ketua Yayasan, Bapak Sujono:

“Tujuan dari terapi okupasi itu agar mereka bisa hidup mandiri, mengurangi ketergantungan dengan orang lain. Misalnya mereka dulu kalau makan harus disuapin sama Ibunya, nah kalau disini kita ajarkan bagaimana siswa itu bisa makan sendiri, caranya ya melalui program bina diri yang ada di sini. Selain itu juga untuk mengetahui minat dan bakat siswa. Contohnya anak ini sukanya musik, kita coba ikutsertakan di ekskul musik, dan sebagainya.”1

Hal senada juga disampaikan oleh Ibu Novi selaku terapis bagi siswa tunagrahita. Beliau mengatakan bahwa tujuan dari terapi okupasi adalah untuk mengajarkan aktivitas sehari-hari pada siswa tunagrahita:

“Tujuannya itu untuk melatih kemandirian, minimal mereka bisa melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri.”2

Berdasarkan pernyataan di atas, diperoleh informasi bahwa tujuan dari terapi okupasi di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok adalah untuk mengurangi rasa ketergantungan siswa terhadap orang lain dan melatih siswa untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Selain itu terapi okupasi juga digunakan untuk mengetahui minat dan bakat siswa yang nantinya akan diarahkan oleh pihak sekolah dalam bentuk kegiatan ektrakurikuler.

1

Hasil wawancara pribadi dengan Bapak Sujono, 5 Oktober 2015. 2

54

b. Jenis Terapi Okupasi di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok

Terdapat dua jenis terapi okupasi bagi anak tunagrahita yang dilaksanakan oleh Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok adalah bina diri dan pemanfaatan waktu luang. Bentuk kegiatan dari bina diri meliputi aktivitas merawat diri seperti makan, mandi, berpakaian dan menjaga kebersihan lingkungan agar tetap sehat serta pemanfaatan waktu luang dengan adanya kegiatan pengembangan bakat dan minat siswa melalui ekstrakurikuler. Berikut hasil wawancara penulis dengan Bapak Sujono:

“Kalau disini ada dua jenis untuk terapi okupasinya. Nah untuk terapinya lebih ke arah merawat diri atau kita kenal dengan bina diri misalnya mandi, makan, pakai baju, merapikan baju, menjaga kebersihan lingkungan dengan adanya piket dan ada pendidikan akhlak juga untuk siswa disini. Kalau untuk waktu luangnya mereka ikut dalam ekstrakurikuler sesuai minat mereka. Ada kegiatan marawis, sablon, komputer, musik, buku tangkis.”3

Ibu Novi selaku terapis juga mengatakan hal serupa, bahwa jenis terapi okupasi yang ada di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok adalah bina diri dan pemanfaatan waktu luang. Berikut hasil wawancara penulis dengan Ibu Novi:

“Untuk jenis terapi okupasi disini ada dua ya Mas, ada yang namanya bina diri sama pemanfaatan waktu luang. Kalau untuk bina diri, disini anak-anak kita arahkan untuk belajar yang namanya melakukan aktivitas sehari-hari seperti menggunakan baju. Nah untuk belajar menggunakan baju saja, siswa tunagrahita itu butuh waktu lama, bisa dua tahun hanya untuk belajar pakai baju. Pakai baju juga kita kasih tau dulu, misalnya ya ini namanya kemeja, ini namanya kancing, ini namanya bagian lengan kanan, dan seterusnya. Kuncinya untuk ngajarin

3

mereka itu harus continue, tidak bisa langsung dilepas. Kalau anak sudah bisa pakai baju sendiri itu adalah goals terapi okupasi. Untuk pemanfaatan waktu luang itu biasanya pihak sekolah mengarahkan anak-anak ke minat dan bakatnya, misalnya saja ada siswa yang tenaganya cukup kuat, kan kalau mereka lagi kesel, marah, itu biasanya keliatan powernya, nah itu biasanya kita arahin untuk ke kegiatan olahraga misalnya bulu tangkis.”4

Selain itu penulis juga melakukan wawancara dengan Ibu Irma selaku pengasuh. Beliau mengatakan bahwa jenis terapi di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok adalah bina diri dan pemanfaatan waktu luang. Kegiatan bina diri adalah bagaimana para pengasuh bisa mengarahkan para siswa untuk melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Pemanfaatan waktu luang adalah untuk mengarahkan waktu senggang anak-anak dengan kegiatan positif. Berikut kutipan wawancara dengan Ibu Irma:

“Disini itu ada bina diri Mas. Nah bina diri itu kaya kita ngajarin anak-anak untuk bisa ngerjainapa-apa sendiri, misalnya bangun pagi sendiri, mandi sendiri, makan sendiri, intinya mah membuat anak lebih mandiri aja. Kalau pemanfaatan waktu luang itu biasanya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya positif kayamain marawis, main bulu tangkis, sama keterampilan.”5

Berdasarkan hasil wawancara di atas diperoleh informasi bahwa terdapat dua jenis terapi okupasi di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok, diantaranya adalah bina diri dan pemanfaatan waktu luang. Kegiatan bina diri mencakup aktivitas merawat diri seperti mandi, makan, pendidikan akhlak dan sebagainya. Untuk semua jenis aktivitas bina diri dilakukan secara continue dan ketika siswa sudah bisa melakukan aktivitas secara mandiri, maka terapi okupasi dapat

4

Hasil wawancara pribadi dengan Ibu Novi, 22 Oktober 2015. 5

56

dikatakan berhasil. Kegiatan pemanfaatan waktu luang yaitu pihak sekolah mengarahkan siswa ke dalam kegiatan positif seperti mengikuti kegiatan keterampilan, olahraga bulu tangkis dan bermain alat musik.

c. Tahapan Pelaksanaan Terapi Okupasi di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok

Pada tahapan pelaksanaan tarapi okupasi di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok memiliki perbedaan antara siswa yang berasrama dan non asrama. Perbedaan tersebut terletak pada intensitas pelaksanaannya.

1) Assessment

Kegiatan assessment merupakan tahap awal dimana pihak Sekolah melakukan identifikasi terhadap siswa baru yang bersekolah di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok. Tujuan dari assessment ini adalah untuk mengetahui terapi yang akan diberikan kepada siswa, hal ini seperti yang dijelaskan oleh Ibu Novi:

“Pertama pihak sekolah melakukan assessment terhadap calon siswa yang akan mengikuti kegiatan di sekolah. Setelah calon siswa memenuhi persyaratan, kemudian siswa mengikuti proses observasi selama enam bulan di asrama. Dalam proses observasi ini, pihak sekolah dalam hal ini terapis dan pengasuh “membaca” perilaku siswa. Kemudian saya membuat rencana program terapi yang bersifat jangka pendek dan jangka panjang. Program terapi ini dibuat berdasarkan hasil asessment dan kesimpulan diagnosis yang terjadi pada anak. Setelah keluar hasil assessment tersebut baru deh kita tahu anak tersebut mengikuti terapi okupasi atau tidak.”6

6

Tahapan assessment ini digunakan bagi seluruh siswa yang ada di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok, baik bagi siswa yang asrama maupun yang non-asrama. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari Bapak Sujono:

“Jadi sebelum siswa-siswa itu mendapatkan terapi dan sebagainya, kita melakukan identifikasi atau assessment untuk siswa baru, untuk yang asrama dan yang non-asrama.Assessment itu salah satu bentuknya adalah observasi, kita melakukan observasi pada tingkah laku siswa selama enam bulan.jadi semua siswa yang ada disini itu sudah melalui tahapan assessment.”7

Berdasarkan pernyataan di atas, diketahui bahwa tahapan pertama dalam melakukan terapi okupasi adalah assessment atau identifikasi siswa. Tujuan dari tahapan assessment adalah untuk melakukan observasi tingkah laku terhadap siswa dan observasi tersebut dilakukan selama enam bulan oleh para terapis dan pengasuh. Tahap assessment ini berlaku untuk seluruh siswa yang ada di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok, baik siswa yang berasrama maupun yang non-asrama.

2) Pelaksanaan Terapi Okupasi

Pelaksanaan terapi okupasi dilakukan ketika siswa tunagrahita didiagnosa perlu mendapatkan terapi okupasi. Bagi siswa yang berasrama, mereka mendapatkan pelajaran bina diri serta praktik dengan pengawasan pengasuh. Praktik tersebut adalah melakukan aktivitas sehari-hari seperti praktik mandi, praktik makan dan praktik merawat diri lainnya. Dalam praktik pelaksanaan terapi okupasi

7

58

diperlukan kesabaran dan waktu yang cukup lama, karena anak tunagrahita sulit mengingat sesuatu, jadi semua dilakukan secara bertahap dan diulang.Sebagaimana penjelasan dari Bapak Hendra:

“Anak-anak disini selain dia dapet pelajaran di kelas, kita praktekin di asrama. Disini kan mereka lebih sering praktek, misalnya mandi sehari dua kali, makan sehari tiga kali, pake baju, beresin tempat tidur sama ada piket juga.Kita disini dituntut untuk selalu sabar untuk mengajarkan mereka, karena anak tunagrahita itukan sulit untuk mengingat sesuatu, sekarang diajarin caranya pegang gayung misalnya, besok, ya bisa lupa, Jadi semua harus bertahap dan diulang setiap hari. Dan untuk anak yang asrama, itu biasanya perkembangannya lebih cepat ya Mas, karena kita sebagai pengasuh itu selalu ngawasin mereka 24 jam jadi perkembangannya cepat terlihat.”8

Hal serupa juga dikatakan oleh Ibu Irma selaku pengasuh:

“Kalau yang asrama itu langsung praktek bina diri, jadi kita ajarin kegiatan sehari-hari siswa, sama untuk waktu luangnya kita ikutin ke ekskul. Semuanya masih tetep diawasin, kalo engga nanti mereka ngerjainnya asal-asalan. Prakteknya juga harus setiap hari biar mereka ga lupa.”9

Namun berbeda dengan siswa yang non-asrama, mereka hanya mendapatkan pelajaran bina diri dan tidak dapat diawasi oleh pengasuh, sehingga tingkat keberhasilannya tergantung dari lingkungan siswa tersebut, seperti pernyataan dari Ibu Novi:

“Bagi siswa yang pulang pergi, mereka hanya mendapatkan pendidikan bina diri di kelas. Selebihnya orang tua yang berperan dalam prakteknya di rumah. Orang tua siswa juga diberikan pengarahan agar selalu mengajarkan anaknya untuk bisa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain,.jadi tingkat keberhasilannya itu ya gimana lingkungan si anak aja di rumah, kalau orang dilingkungannya tidak intensif dalam mengulang materi yang sudah ada, ya perkembangan pada anak juga akan lebih lama.”10

8

Hasil wawancara pribadi dengan BapakHendra, 11 Mei 2016. 9

Hasil wawancara pribadi dengan Ibu Irma, 25 April 2016. 10

Pihak sekolah tidak melakukan evaluasi hasil khususnya pada kegiatan terapi okupasi, namun hasil tetap disampaikan kepada orang tua siswa ketika pembagian rapor menyangkut akademik dan bina diri siswa. Berikut hasil wawancara penulis dengan Bapak Sujono:

“Kalau evaluasi khusus terapi okupasinya ga ada. Hanya saja kami ada laporan hasil secara keseluruhan termasuk hasil kegiatan akademik dan bina diri.”11

Berdasarkan pernyataan di atas diperoleh informasi bahwa dalam pelaksanaan terapi okupasi pada siswa tunagrahita di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok dimulai dari pemberian materi bina diri di dalam kelas, baik pada siswa yang berasrama dan non asrama. Namun terdapat perbedaan dalam pelaksanaan praktiknya. Bagi siswa yang berasrama, mereka dapat langsung mempraktikan materi bina diri tersebut di asrama dengan pengawasan pengasuh. Kegiatan praktik bina diri juga lebih intensif karena para pengasuh selalu mendampingi siswa tersebut selama 24 jam sehingga hal tersebut berdampak pada perkembangan siswa yang dinyatakan lebih cepat dibandingkan dengan siswa yang non asrama. Pihak sekolah juga tidak melaksanakan evaluasi hasil secara khusus pada terapi okupasi.

Bagi siswa yang non asrama, praktik bina diri dikatakan kurang intensif karena tidak dalam pengawasan pengasuh, mereka hanya diawasi oleh orang-orang disekitar mereka, sehingga tingkat perkembangan siswa cenderung lebih lama terlebih jika orang

11

60

disekitar mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendidik anak. Selain itu, dalam pelaksanaan terapi okupasi sangat dituntut kesabaran dari para pengasuh karena anak dengan tunagrahita memiliki kesulitan untuk mengingat sehingga segala macam bentuk praktik bina diri harus dilakukan secara bertahap dan selalu diulang.

d. Hasil Pelaksanaan Terapi Okupasi di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok

Pada bagian ini akan dibahas hasil dari pelaksanaan terapi okupasi bagi anak tunagrahita, baik siswa yang asrama maupun yang non asrama.

1) Bina Diri Siswa Asrama (Boarding School) a) Siswa SA

Hasil pelaksanaan terapi okupasi pada SA dilakukan secara terus menerus selama SA berada di asrama hingga SA bisa melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.Selama berada di asrama, SA diajarkan kegiatan bina diri seperti makan, membersihkan tempat tidur dan merawat diri. Hasil dari terapi okupasi yang telah dilaksanakan menunjukkan hasil yang positif dan dalam kurun waktu 2 tahun perkembangan pada SA sudah bisa dilihat. Ibu Irma juga menyatakan bahwa ketika SA baru menjadi siswa, SA termasuk anak yang manja dan sangat bergantung pada Ibunya seperti dimandikan, disuapin dan sebagainya.Hal tersebut diperoleh dari hasil wawancara penulis dengan Ibu Irma:

“Sandi selama disini diajarin kegiatan bina diri seperti makan, mandi, pakai baju, bersihin tempat tidur. Awalnya saya ajarin

mandi sama saya kenalin alat-alat mandi ini fungsinya buat apa. Semua dilakukan terus menerus itu kurang lebih dua tahun udah bisa makan sama mandi sendiri, pake baju juga udah bisa bedain depan sama belakangnya. Dulu mah dia kayanya manja sama ibunya, makan ya harus disuapin, tapi sekarang Alhamdulillah sudah jauh perubahannya.”12

Selain itu orangtua dari SA, Ibu Orbariah juga menyatakan bahwa perkembangan SA selama berada di asrama sangat memuaskan. SA menjadi anak yang mandiri dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, berikut pernyataan dari Ibu Orbariah:

“Kalau ditanya perkembangannya Sandi mas, saya senang sekali. Sekarang dia jadi lebih mandiri, apa-apa sudah enggak bergantung sama Ibunya, kadang kalau habis pulang dari rumah

terus mau balik lagi ke panti tidak mau dianter, terus juga kalau dirumah habis bangun tidur langsung beresin kamar sendiri karena sudah kebiasaan di asrama.”13

Berdasarkan pernyataan di atas terlihat bahwa kegiatan bina diri, membuat SA sudah dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan mandiri seperti mandi, makan, berpakaian dan membersihkan tempat tidur, orangtua serta pengasuh dari SA juga menyatakan bahwa perkembangan SA sudah mulai terlihat. Kegiatan bina diri juga telah berjalan dengan efisien karena tidak membutuhkan banyak sumber daya.

b) Siswa AR

AR juga mendapatkan terapi okupasi selama berada di asrama yakni kegiatan merawat diri. AR sudah bisa melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri seperti mandi, makan dan membersihkan tempat tidur. Pada awalnya AR memilik banyak

12

Hasil wawancara pribadi dengan Ibu Irma, 25 April 2016. 13

62

jerawat di bagian tubuhnya dikarenakan AR malas menjaga kebersihan badan. AR memiliki kesulitan untuk mandi dengan benar. AR sulit menjangkau tubuhbagian belakang ketika ingin mengusapkan sabun. Dalam waktu 2 tahun, perkembangan AR sudah dapat terlihat hasilnya. Pak Hendra selaku pengasuh AR mengatakan bahwa sekarang AR sudah dapat mandi sendiri dan jerawat pada tubuhnya mulai hilang. Berikut hasil wawancara penulis dengan Bapak Hendra:

“Dia itu waktu dateng kesini kulitnya ada korengan gitu. Dia kan kalo luka itu suka digarukin jadi kan berbekas kalo belum kering. Terus dulu banyak jerawat di bagian punggung sekarang udah hampir tidak keliatan lagi. Jadi dia tuh kalo mandi depannya aja yang disabunin, terus saya ajarin supaya tangannya bisa ngejangkau sampe belakang. Sekarang udah bisa sendiri dia, tapi tetep harus diawasin terus.”14

Selain itu penulis juga melakukan observasi terhadap kondisi fisik AR.

“Kondisi kulit AR sudah terlihat bersih. Hanya terdapat sedikit sisa bintik-bintik jerawat pada bagian punggungnya.”15

Orang tua AR juga merasakan perubahan pada AR setelah mendapatkan kegiatan bina diri di asrama. Berikut pernyataan Ibu Nurlina:

“Arif sekarang kelihatan lebih segar lagi badannya. Alhamdulillah yang saya denger itu sekarang Arif udah rajin mandi sama jerawatnya udah mulai ilang.”16

Faktor yang mendukung keberhasilan merawat diri pada AR ialah karena AR sudah lama berada di asrama sehingga AR setiap

14

Hasil wawancara pribadi dengan Bapak Hendra, 11 Mei 2016 15

Hasil observasi pribadi AR. 16

hari selalu diajarkan untuk dapat mandi dengan benar serta mendapatkan pengawasan pengasuh. Berikut pernyataan Bapak Hendra:

“Faktor yang mendukung perubahan Arif itu ya karena dia udah lama tinggal di asrama, jadi setiap hari selalu kita ajarin untuk bisa mandiri. Disini kan semua yang dilakuin anak itu ada pengawasan dari pengasuh.”17

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dilihat bahwa setelah mengikuti terapi okupasi melalui kegiatan bina diri, fisik AR menjadi lebih bersih. AR sudah mulai bisa melakukan aktivitas merawat diri seperti mandi dengan benar. Dengan demikian menjadikan kulit AR bersih dan jerawat pada punggungnya mulai hilang.

2) Bina Diri Siswa Non Asrama a) Siswa DA

Pelaksanaan terapi okupasi pada DA hanya dilakukan ketika pelajaran bina diri. Hal tersebut dikarenakan DA merupakan siswa non-asrama, sehingga pelaksanaannya lebih sering dilakukan di rumah oleh orang tua DA. Namun sayangnya orang tua DA terkadang tidak membiasakan DA untuk mandiri. Hal tersebut diperoleh dari hasil wawancara dengan orang tua DA:

“Ga ikut terapi Mas di sini, jadi cuma sekolah biasa aja. Kalo di rumah suka dibilangin sama mbahnya suruh mandiri, tapi kalo mandi masih saya mandiin soalnya kalo mandi sendiri itu sabun bisa abis buat dimainin. Saya juga kan ga bisa ngajarin dia terus karena saya sibuk jualan. Perubahannya sih belum banyak karena masih sering saya yang ngerjain kalo saya lagi di rumah”18

17

Hasil wawancara pribadi dengan Bapak Hendra, 11 Mei 2016. 18

64

Orang tua DA juga mengatakan bahwa pihak sekolah hanya memberi pengarahan kepadanya ketika pengambilan rapor agar DA selalu diajarkan untuk mandiri ketika di rumah. Berikut pernyataan orang tua DA:

“Ga ada sih Mas. Paling kalo pas bagi rapot itu dibilangin ibu kalo di rumah biasain Dani mandiri ya. Kalo makan jangan disuapin terus, suruh makan sendiri.”19

Bapak Sujono juga menyatakan bahwa tidak ada pelatihan khusus yang diberikan kepada orang tua siswa untuk menerapkan terapi okupasi di rumah. Berikut pernyataan Bapak Sujono:

“Tidak ada. Hanya saja kami memberikan pengarahan kepada orang tua siswa untuk membiasakan anaknya melakukan aktivitas secara mandiri. Selalu ajarkan anak gimana cara mandi yang benar, makan yang benar, pakai baju dan lain-lain. Jadi perubahan pada anak itu tergantung gimana orang tua menerapkannya di rumah.”20

Berdasarkan pernyataan di atas, perkembangan siswa non-asrama sangat tergantung dengan bagaimana orang tua membiasakan kepada anak agar bisa mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Perkembangan pada DA agak lambat dikarenakan orang tua yang sibuk dan tidak bisa setiap hari mengajarkan bina diri kepada anaknya. Padahal orang tualah yang memegang peranan penting terhadap pendidikan anak ketika di rumah.

19

Hasil wawancara pribadi dengan Ibu Sri, 21 Maret 2017 20

3) Pemanfaatan Waktu Luang Siswa Asrama (Boarding School) a) Siswa SA

Pelaksanaan pemanfaatan waktu luang pada SA yaitu melalui kegiatan ekstrakurikuler olahraga bulu tangkis. Sejak awal SA memilih mengikuti ekstrakurikuler bulu tangkis. Hal itulah yang mendorong pihak sekolah untuk terus mengasah kemampuan SA dalam kegiatan tersebut. Berikut hasil wawancara dengan Ibu Irma: “Pemanfaatan waktu luangnya lewat ekskul bulu tangkis. Dari awal dia seneng bulu tangkis, jadi kita support dia supaya bisa berkembang di bulu tangkis.”21

Hal tersebut juga dinyatakan oleh orang tua SA yang mengatakan bahwa sekarang SA memiliki bakat pada olahraga bulu tangkis. Berikut hasil wawancara penulis dengan Ibu Orbariah:

“Selain Sandi bisa mandiri, sekarang dia juga punya bakat main bulu tangkis. Sering ditunjuk sama sekolah buat jadi wakil sekolah kalau ada perlombaan. Alhamdulillah udah sering dapet juara Mas”22

Penulis juga melakukan observasi ketika SA sedang bermain bulu tangkis di lapangan YPLB Nusantara Depok.

Dalam dokumen MUHAMAD HAFIZ ZULDI FDK (Halaman 64-83)

Dokumen terkait