• Tidak ada hasil yang ditemukan

MUHAMAD HAFIZ ZULDI FDK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MUHAMAD HAFIZ ZULDI FDK"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:

Muhamad Hafiz Zuldi 1110054100008

PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

i Muhamad Hafiz Zuldi

Evaluasi Hasil Terapi Okupasi Bagi Anak Tunagrahita di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok

Dalam perkembangannya, anak tunagrahita memiliki keterbatasan dalam berbagai aspek misalnya perkembangan personal, sosial kognitif, keterampilan berbahasa, motorik dan sensorik yang dapat diamati melalui ketidakmatangan perilaku sosialnya. Untuk membantu anak tunagrahita dalam melatih keterampilan motorik, personal dan perilaku sosial salah satunya melalui sebuah terapi yaitu terapi okupasi. Terapi okupasi yang dilakukan oleh Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok untuk membantu dalam meningkatkan keterampilan motorik anak terutama anak tunagrahita dalam bentuk kegiatan sehari-hari dan pemanfaatan waktu luang. Dengan adanya terapi okupasi ini anak tunagrahita diharapkan dapat mengalami perubahan pada perkembangannya.

Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi hasil dari terapi okupasi bagi anak tunagrahita di YPLB Nusantara Depok. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan kualitatif jenis deskriptif. Teknik pengumpulan data penelitian ini merupakan kumpulan data dari wawancara dan observasi yang diperoleh dari informan; satu orang ketua yayasan, dua orang pengasuh, satu terapis, dua orang siswa tunagrahita berasrama dan satu orang siswa tunagrahita non-asrama serta tiga orangtua dari siswa tunagrahita. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori evaluasi hasil dari Isbandi Rukminto yang digunakan untuk menganalisa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuan dari terapi okupasi yang diberikan kepada anak tunagrahita di YPLB Nusantara Depok lebih terlihat hasilnya pada siswa yang berasrama yaitu dengan adanya perubahan pada aspek bina diri dimana siswa yang berasrama sudah dapat mandiri dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari dan dalam pemanfaatan waktu luang siswa yang berasrama dapat mengembangkan minat dan bakatnya melalui kegiatan ekstrakurikuler. Perubahan tersebut dapat dilihat dalam kurun waktu 2 tahun. Sedangkan pada siswa non-asrama masih belum banyak menunjukkan perubahan dikarenakan kurang konsistennya orang tua dalam menerapkan bina diri dan pemanfaatan waktu luang anak ketika di rumah.

(6)

ii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan

karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang

berjudul “Evaluasi Hasil Terapi Okupasi Bagi Anak Tunagrahita di Yayasan

Pendidikan Luar Biasa Nusantara, Depok”. Shalawat serta salam senantiasa selalu

tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan

sahabat-sahabatnya, dan semoga kita termasuk dalam golongan yang istiqomah

menjalankan sunnahnya hingga hari kiamat.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang harus diselesaikan sebagai syarat

guna meraih gelar Sarjana Sosial Jurusan Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu

Dakwah dan Ilmu Komunikasi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jakarta. Penulis menyadari banyak pihak yang telah membantu dalam proses

penyelesaian skripsi ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis

ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah

membantu hingga selesainya penyusunan skripsi ini baik secara langsung maupun

tidak langsung kepada:

1. Bapak Dr. Arief Subhan, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan

Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,

Bapak Suparto, M.Ed, Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Akademik, Ibu

Dr. Roudhonah, MA selaku Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum,

Bapak Dr. Suhaimi, M.Si selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan.

2. Ibu Lisma Dyawati Fuaida, M.Si selaku Ketua Program Studi

Kesejahteraan Sosial, Ibu Nunung Khairiyah, MA selaku Sekretaris

Program Studi Kesejahteraan Sosial. Terima kasih atas nasehat dan

bimbingannya.

3. Bapak Ismet Firdaus, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah

membantu mengarahkan, memberikan masukan dan selalu bersedia

(7)

iii

Jakarta yang telah banyak memberikan ilmu dan pengalamannya kepada

penulis.

5. Kedua orang tua yang sangat penulis cintai, H. Abdul Madjid, S.Sos.I dan

Hj. Mulyati yang tidak pernah berhenti mendoakan dan memberikan

dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi. Dan untuk

keluarga besar Lambarasa yang sangat penulis sayangi, Kak Erna, Kak

Laila, Kak Fitri, Kak Nita, Bang Irpan, Bang Mpun, Bang Abi dan Mas

Fajar yang turut memberikan motivasi kepada penulis dan dukungan demi

kelancaran skripsi ini.

6. Untuk Mayangsari yang penulis banggakan yang tidak pernah berhenti

memberikan dukungan kepada penulis hingga terciptanya skripsi ini.

7. Sahabat yang penulis banggakan Reizky, Ihsan, Tari, Vina dan Dinda yang

memberikan banyak masukan dalam penulisan skripsi ini.

8. Rekan-rekan Praktikum 1 dan Praktikum 2 dan seluruh teman-teman

Kesejahteraan Sosial angkatan 2010 yang tidak bisa penulis sebutkan

namanya satu-persatu.

Jakarta, Maret 2017

(8)

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 8

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

D. Metodologi Penelitian ... 9

E. Sistematika Penulisan ... 18

BAB II TINJAUAN TEORI... 20

A. Evaluasi ... 20

B. Terapi Okupasi ... 25

C. Anak Tunagrahita ... 32

BAB III GAMBARAN UMUM YAYASAN PENDIDIKAN LUAR BIASA NUSANTARA DEPOK ... 40

A. Sejarah Berdirinya Lembaga ... 40

B. Profil Yayasan ... 41

(9)

v

Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara ... 43

E. Prosedur Penerimaan Anak Didik di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara ... 43

F. Program Kegiatan Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara ... 44

G. Keadaan Guru dan Siswa di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara ... 49

H. Profil Informan ... 50

BAB IV TEMUAN LAPANGAN DAN ANALISA ... 52

A. Temuan Lapangan ... 52

B. Analisis Evaluasi Hasil Terapi Okupasi Di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok ... 71

BAB V PENUTUP... 78

A. Kesimpulan ... 78

B. Saran ... 79

(10)

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Data Anak Penyandang Mental Cacat di Kota Depok Tahun 2014 ... 5

Tabel 2 Rancangan Penelitian dalam Pemilihan Informan ... 12

(11)

vii Lampiran 1 Surat Izin Penelitian

Lampiran 2 Surat Bimbingan Skripsi

Lampiran 3 Pedoman Wawancara

Lampiran 4 Pedoman Observasi

Lampiran 5 Transkrip Wawancara

Lampiran 6 Hasil Observasi

(12)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Anak adalah kebanggaan dan sumber kebahagiaan bagi keluarga.

Kelahiran seorang anak sangat dinantikan oleh seluruh anggota keluarga.

Anak merupakan harapan keluarga karena mempunyai banyak arti dan fungsi.

Oleh karena itu memiliki anak merupakan suatu hal yang sangat didambakan

oleh pasangan suami istri. Itulah mengapa anak diberikan limpahan perhatian

dan kasih sayang oleh keluarga. Anak dianggap sebagai pembawa rejeki oleh

keluarga sehingga ada pepatah yang menyebutkan “Banyak Anak Banyak

Rejeki”. Kehadiran seorang anak dalam keluarga dapat dilihat sebagai faktor

yang menguntungkan bagi orang tua baik dari segi psikologis, ekonomis dan

sosial.

Dalam setiap kebudayaan, anak merupakan pemberian dari Tuhan Yang

Maha Esa yang harus dijaga, dirawat dan diasuh sehingga sejak lahir ke dunia

orang tua akan menjaga dan merawat anak tersebut dengan kasih sayang.

Anak memiliki nilai yang amat penting dalam kehidupan seseorang atau

keluarga sehingga kadang melebihi harta dan kekayaan. Nilai anak itu bagi

orang tua dalam kehidupan sehari-hari dapat diketahui antara lain sebagai

tempat bagi orang tua untuk mencurahkan kasih sayang, sumber kebahagiaan

keluarga, anak sebagai tempat menggantungkan berbagai harapan serta

sebagai hiasan hidup bagi keluarga. Sebagaimana Allah telah berfirman dalam

(13)

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa

yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (surga).”

Berdasarkan ayat al-Qur’an telah dijelaskan bahwa anak merupakan satu dari kesenangan dunia. Anak sebagai hiasan yang menghiasi hidup orangtua

nya menjadi berwarna indah, anak ibarat pelangi dengan warna yang

berbeda-beda mereka membuat suasana rumah menjadi begitu indah.

Pada diri tiap anak ada kemampuan atau potensi yang unik bagi dirinya.

Dan hak-hak anak (child right) yang menyatakan bahwa semua anak memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk hidup dan berkembang secara

penuh sesuai dengan potensi yang dimilikinya termasuk pada anak dengan

berkebutuhan khusus. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang

mengalami hambatan dalam perkembangan perilakunya. Perilaku anak-anak

ini antara lain terdiri dari wicara dan okupasi, tidak berkembang seperti pada

anak yang normal. Pada umumnya anak berkebutuhan khusus ini biasa

(14)

3

Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam

perkembangan mental dan intelektual sehingga berdampak pada

perkembangan kognitif dan perilaku adaptifnya seperti tidak mampu

memusatkan pikiran, emosi tidak stabil, suka menyendiri dan lain-lain. Anak

tunagrahita adalah individu yang secara signifikan memiliki intelegensi

dibawah normal. Menurut American Asociation on Mental Deficiency

mendefinisikan tunagrahita sebagai suatu kelainan yang fungsi intelektual

umumnya di bawah rata-rata, yaitu IQ 84 ke bawah. Biasanya anak-anak

tunagrahita akan mengalami kesulitan dalam “Adaptive Behavior” atau

penyesuaian perilaku. Hal ini berarti anak tunagrahita tidak dapat mencapai

kemandirian yang sesuai dengan ukuran standar kemandirian dan tanggung

jawab sosial anak normal yang lainnya dan juga akan mengalami masalah

dalam keterampilan akademik dan berkomunikasi dengan kelompok usia

sebaya sehingga anak tunagrahita membutuhkan bantuan atau bahkan

terkadang mereka harus bergantung dengan orang lain dalam melakukan

aktivitas sehari-hari.

Tunagrahita memiliki tiga klasifikasi dintaranya tunagrahita ringan,

tunagrahita sedang dan tunagrahita berat. Tunagrahita ringan adalah mereka

yang memiliki IQ antara 69-55 menurut skala Weschler. Mereka masih dapat

membaca, menulis, dan berhitung sederhana. Pada umumnya anak

tunagrahita ringan tidak mengalami gangguan fisik, mereka tampak seperti

anak normal lainnya. Hanya saja mereka tidak mampu melakukan

(15)

Tunagrahita sedang adalah mereka dengan IQ antara 54-40 menurut skala

Weschler. Mereka sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akademik

seperti belajar menulis, membaca dan berhitung walaupun mereka masih

dapat menulis seperti menulis namanya sendiri dan menulis alamat rumahnya.

Tetapi mereka masih bisa dididik untuk mengurus diri seperti mandi,

berpakaian, makan minum, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan

sebagainya. Namun dalam kehidupan sehari-hari mereka membutuhkan

pengawasan yang terus-menerus.

Terakhir adalah tunagrahita berat, mereka memiliki IQ antara 39-25

menurut skala Weschler. Anak tunagrahita berat sangat sulit bahkan tidak

bisa lepas dari bantuan orang lain untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari.

Mereka memerlukan bantuan perawatan total dalam hal merawat diri, makan

dan lainnya. Bahkan mereka memerlukan perlindungan dari bahaya sepanjang

hidupnya.1

Anak tunagrahita seperti ini tersebar di seluruh penjuru tanah air, salah

satunya di kota Depok. Berikut tabel jumlah anak penyandang cacat mental di

kecamatan yang berada di Kota Depok pada tahun 2014.2

1

Agustyawati dan Solicha, Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN, 2009), h. 139-141

2

Data Penduduk Kota Depok, Artikel diakses pada 11 Juli 2016,

(16)

5

Tabel 1. Data Anak Penyandang Cacat Mental di Kota Depok

No. Wilayah Laki-laki Perempuan Jumlah

1 Kec. Sawangan 8 1 9

2 Kec. Bojongsari 6 2 8

3 Kec. Pancoranmas 8 2 10

4 Kec. Cipayung 9 3 12

5 Kec. Sukmajaya 16 4 20

6 Kec. Cilodong 11 3 14

7 Kec. Cimanggis 11 5 16

8 Kec.Tapos 13 1 14

9 Kec. Beji 29 19 48

10 Kec. Limo 7 2 9

11 Kec. Cinere 7 3 10

Kota Depok 125 45 170

Sumber : Data Bappeda Kota Depok Tahun 2014

Hingga saat ini penanganan anak tunagrahita tidak dipahami secara

mendalam oleh orang tua dan lembaga atau sekolah khusus anak tunagrahita.

Namun di Kota Depok terdapat Yayasan Pendidikan Luar Biasa (YPLB)

Nusantara Depok yang menerapkan dua sistem pengajaran. Sistem pengajaran

tersebut yaitu sekolah asrama (boarding school) dan sekolah non-asrama.

Pada sistem asrama dimana para siswa tinggal menetap di asrama YPLB

Nusantara Depok, sedangkan pada sekolah non-asrama, para siswa setiap pagi

(17)

rumah pada siang hari. Yayasan ini merupakan yayasan swasta yang didirkan

oleh Drs.Sujono, MM. Dengan menerapkan sistem sekolah asrama dan

sekolah non-asrama bagi anak tunagrahita, menjadikan yayasan ini berbeda

dengan sekolah luar biasa pada umumnya, sehingga atas pertimbangan

tersebut peneliti memilih siswa tunagrahita ringan baik yang asrama maupun

non-asrama untuk dijadikan subyek dalam penelitian ini agar dapat diketahui

perbedaan hasil dari terapi okupasi.

Tujuan didirikannya yayasan ini adalah untuk membantu, melayani dan

mendidik anak berkebutuhan khusus (ABK) usia dini sampai usia lanjut,

sehingga dari segi kognisi, afeksi dan psikomotornya diharapkan dapat

mandiri dan bermanfaat bagi masyarakat, agama, nusa dan bangsa. Untuk

dapat mewujudkan tujuan tersebut YPLB Nusantara Depok memiliki program

terapi okupasi bagi anak tunagrahita.

Terapi okupasi adalah terapi yang dilakukan melalui kegiatan atau

pekerjaan terhadap anak yang mengalami gangguan kondisi sensori motor.3

Terapi okupasi umumnya menekan pada kemampuan motorik halus, selain itu

terapi okupasi juga bertujuan untuk membantu seseorang agar dapat

melakukan kegiatan keseharian, aktivitas produktifitas dan pemanfaatan

waktu luang.

Terapi okupasi bertujuan untuk menimbulkan, meningkatkan atau

memperbaiki tingkat kemandirian seseorang yang mengalami gangguan fisik

maupun mental. Terapi okupasi terpusat untuk memperbaiki kemampuan

3

(18)

7

penyandang tunagrahita agar dapat merasakan sentuhan, rasa, bunyi dan

gerakan serta mengurangi ketergantungan terhadap orang lain. Terapi okupasi

juga meliputi pemanfaatan waktu luang diantaraanya dengan melakukan

permainan dan keterampilan sosial, melatih kekuatan tangan, genggaman,

kognitif dan mengikuti arah.4 Selain itu tujuan dari terapi okupasi adalah

untuk mengembalikan fungsi fisik, meningkatkan ruang gerak sendi, kegiatan

otot dan koordinasi gerakan, mengajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari,

seperti makan, berpakaian, belajar menggunakan fasilitas umum (telepon,

televisi, dan lain-lain baik dengan maupun tanpa alat bantu, mandi yang

bersih, dan sebagainya), membantu untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan

rutin di rumahnya, dan memberi saran penyederhanaan ruangan maupun letak

alat-alat kebutuhan sehari-hari.5

Namun pada program terapi okupasi yang telah berjalan di YPLB

Nusantara Depok, pihak sekolah tidak melakukan evaluasi terhadap terapi

okupasi yang telah dilakukan. Padahal evaluasi tersebut penting dilakukan

untuk mengetahui apakah terapi yang diberikan berjalan sesuai dengan tujuan

dari terapi okupasi dan memberikan dampak bagi anak tunagrahita serta faktor

pendukung dan penghambat keberhasilan terapi okupasi. Selain itu, penulis

juga ingin mengetahui hasil dari terapi okupasi bagi siswa yang asrama dan

siswa yang non-asrama.

Untuk dapat melihat apakah terapi okupasi bagi anak tunagrahita di

YPLB Nusantara Depok telah mencapai tujuan, maka perlu dilakukan

4

Geraldine Garner, Social and Rehabilitation Service, (United States: McGraw-Hill, 2008), h.111.

5

(19)

evaluasi dari hasil terapi okupasi untuk mengetahui keberhasilan terapi

okupasi. Untuk itu, penulis tertarik melakukan penelitian yang berjudul

Evaluasi Hasil Terapi Okupasi Bagi Anak Tunagrahita di Yayasan Pendidikan Luar Biasa (YPLB) Nusantara Depok.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas,

maka penulis membatasi penelitian ini pada persoalan mengenai evaluasi

hasil dari terapi okupasi yang dilakukan pada anak tunagrahita ringan yang

berada di asrama atau boarding school dan siswa yang non-asrama di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok.

2. Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang dilakukan oleh peneliti pada penelitian

ini yaitu:

a. Bagaimana evaluasi hasil dari terapi okupasi bagi anak tunagrahita

di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan penelitian di atas, maka tujuan penelitian

ini yaitu:

a. Untuk menjelaskan evaluasi hasil dari terapi okupasi bagi anak

tunagrahita di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok.

2. Manfaat Penelitian

(20)

9

a. Secara akademik, penelitian ini diharapkan mampu memberikan

sumbangan pengetahuan dan wawasan baru bagi seluruh mahasiswa

yang berkaitan dengan pelayanan bagi penyandang tunagrahita.

b. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

masukan bagi lembaga untuk melakukan evaluasi hasil pada

pelaksanaan terapi okupasi.

D. Metodologi Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan secara

kualitatif. Menurut Sugiyono, penelitian kualitatif adalah suatu metode

penelitian yang berlandaskan pada filsafat post-positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah dimana peneliti adalah

sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan

secara purposive, teknik pengumpulan dengan triangulasi, analisis data

bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan

makna daripada generalisasi.6

Sedangkan menurut Bogdan Taylor, metodologi penelitian kualitatif

merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa

kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.7

Data yang dikumpulkan sesuai dengan tujuan penelitian yang

dideskripsikan yaitu berbentuk uraian-uraian atau kalimat, merupakan

informasi dari sumber data yang berhubugan dengan masalah yang diteliti.

Pendekatan secara kualitatif dipilih karena peneliti ingin

6

Prof. Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), (Bandung: Alfabeta, 2009), h.15.

7

(21)

mendeskripsikan, memperoleh gambaran nyata dan menggali informasi

yang jelas mengenai hasil dari terapi okupasi bagi anak tunagrahita di

Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok serta memberikan

penilaian terhadap terapi okupasi yang telah dilakukan untuk anak

tunagrahita.

2. Jenis Penelitian

Dilihat dari jenis penelitian, maka jenis penelitian yang peneliti

gunakan adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang dilakukan

untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih

(independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan

variabel yang lain.8

Pada jenis penelitian deskriptif, data yang dikumpulkan berupa

kata-kata, gambar dan bukan angka. Dengan demikian, laporan penelitian akan

berisi kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut.

Data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan dan

dokumen resmi lainnya.9

Jadi pada penelitian kualitatif yang dilakukan oleh peneliti berisi

kutipan wawancara dari kepala sekolah, terapis, pengasuh, orang tua anak

dan melakukan observasi pada anak tunagrahita yang terlibat pada terapi

okupasi tersebut serta dokumentasi yang terkait dengan penelitian

tersebut untuk menggambarkan kegiatan dari terapi okupasi bagi anak

tunagrahita di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok.

8

Prof. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 13.

9

(22)

11

3. Lokasi dan Waktu Penelitian a) Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang diambil oleh peneliti dalam mencari

informasi dan data-data terkait dengan objek penelitian adalah di

Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara yang beralamat di Jalan

Sempu I Rt. 006 Rw. 004 No. 7-8 Beji, Depok.

b) Waktu Penelitian

Sedangkan waktu penelitian atau kegiatannya terhitung mulai

bulan September 2015 sampai dengan September 2016.

4. Teknik Pemilihan Informan

Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif, tehnik pemilihan

informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling

yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan

tertentu.10

Dengan demikian, pertimbangan dalam pemilihan informan,

peneliti melakukan diskusi dengan ketua YPLB Nusantara Depok, yaitu

Drs. Sujono, MM. Hal tersebut dilakukan mengingat tidak semua anak

tunagrahita dapat diajak berkomunikasi, sehingga dalam memilih

informan anak, ketua yayasan merekomendasikan anak tunagrahita

ringan untuk menjadi informan karena mereka masih dapat

berkomunikasi. Selain itu ketua yayasan juga merekomendasikan orang

tua anak yang bersedia terlibat dalam penelitian ini karena peneliti akan

melakukan wawancara kepada orangtua anak tersebut untuk mengetahui

10

(23)

sejauh mana perkembangan anak sebelum dan sesudah mengikuti terapi

okupasi.

Pengambilan data dilakukan kepada orang yang terlibat langsung

dalam penelitian ini. Peneliti melakukan penelitian ini dengan mengambil

subjek penelitian sebanyak 10 orang. Berikut ini tabel informan yang

terpilih dalam pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian.

Tabel 2. Rancangan Penelitian dalam Pemilihan Informan

No. Informan

(Sumber Data)

Jumlah Informasi Yang Dicari

1) Ketua YPLB

Nusantara

1 orang Mengetahui tentang profil dari Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok melalui wawancara 2) Terapis (Ibu Novi) 1 orang Mengetahui pelaksanaan

dari terapi okupasi yang

3 orang Untuk mengetahui

aktivitas sehari-hari anak

2 orang Untuk mengetahui

perubahan yang terjadi

3 orang Untuk mengetahui

perubahan yang terjadi

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis

(24)

13

data.11 Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara sebagai

berikut:

a)Teknik Observasi

Observasi (pengamatan) merupakan sebuah teknik pengumpulan

data yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal

yang berkaitan dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, benda-benda,

waktu, peristiwa, tujuan dan perasaan.12 Inti dari observasi adalah

adanya perilaku yang tampak dan adanya tujuan yang ingin dicapai.

Perilaku yang tampak dapat berupa perilaku yang dapat dilihat

langsung oleh mata, dapat didengar, dapat dihitung, dan dapat

diukur.13

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik observasi

partisipasi pasif, dimana peneliti datang ke tempat kegiatan orang yang

akan diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.14

Peneliti akan melakukan observasi hanya kepada anak tunagrahita

ringan yaitu SA, AR dan DA.

b) Teknik Wawancara

Wawancara merupakan percakapan antara dua orang yang salah

satunya bertujuan untuk menggali dan mendapatkan informasi untuk

suatu tujuan tertentu.15 Bentuk wawancara yang digunakan adalah

11

Prof. Dr. Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2005), h.10. 12

M.Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metodelogi Penelitian Kualitatif , (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h. 165.

13

Haris Herdiansyah, Metodelogi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial, (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), h.131.

14

M.Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metodelogi Penelitian Kualitatif, h. 170. 15

(25)

wawancara tidak terstruktur karena peneliti akan melakukan

wawancara secara mendalam dan percakapan ini mirip dengan

percakapan informal.

Penggunaan metode wawancara dipilih karena peneliti dapat

menggali informasi secara mendalam dari para informan tentang

pelaksanaan dan hasil dari terapi okupasi bagi anak tunagrahita di

YPLB Nusantara Depok. Selain itu peneliti juga bisa menggali

informasi dari sumber-sumber yang sudah ditentukan seperti ketua

yayasan, kepala sekolah, terapis, pengasuh dan orang tua informan.

6. Sumber Data

Dilihat dari sumbernya, teknik pengumpulan data terbagi dua

bagian, yaitu :

a) Data primer, merupakan data penelitian yang diperoleh secara langung

dari sumber asli (tidak perantara) yang secara khusus dikumpulkan

oleh penulis untuk menjawab permasalahan dalam penelitian.16 Jadi

data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari narasumber,

sehingga penulis terlibat langsung. Dalam penelitian ini, data diperoleh

dari terapis, pengasuh, orang tua didik serta anak tunagrahita.

b) Data sekunder, adalah data yang sudah tersedia atau sudah

dikumpulkan dari bahan bacaan.17 Data ini merupakan data yang

diperoleh dari catatan-catatan atau dokumen yang berkaitan dengan

penelitian maupun instansi yang terkait lainnya. Dalam penelitian ini

16

Rosadi Ruslan, Metode Penelitian Pubic Relation dan Komunikasi, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2004), h.24

17

(26)

15

diantaranya data yang diperoleh dari studi kepustakaan.

7. Teknik Analisis Data

Setelah data lapangan terkumpul, hasil penelitian tersebut diolah dan

dianalisis dengan teknik deskriptif analisis secara komprehensif dan

mendalam sesuai dengan data dan informasi dari hasil wawancara

kemudian dipadukan dengan catatan lapangan yang dibuat oleh penulis

pada saat penelitian berlangsung, kemudian mengelompokkan data-data

yang ada, yaitu dengan menggunakan data yang bersifat deskriptif untuk

mendapatkan gambaran yang konkrit tentang evaluasi hasil terapi okupasi

pada anak penyandang tunagrahita. Metode yang digunakan dalam skripsi

ini adalah analisis deskriptif.

Ada berbagai cara untuk menganalisis data, tetapi secara garis

besarnya dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a) Reduksi data, yaitu dimana penulis mencoba memilih data yang

relevan dengan evaluasi hasil dari terapi okupasi bagi anak

tunagrahita.

b) Penyajian data, setelah reduksi data selanjutnya data tersebut disusun

dan disajikan dalam bentuk narasi, visual gambar, matrik, bagan, tabel

dan lain sebagainya.

c) Penyimpulan atas apa yang disajikan, pengambilan kesimpulan

dengan menghubungkan dari tema tersebut sehingga memudahkan

untuk menarik kesimpulan.

8. Keabsahan Data

(27)

dalam melakukan penelitian kualitatif seringkali menghadapi persoalan

dalam menguji keabsahan hasil penelitian, hal tersebut dikarenakan oleh

beberapa hal, yaitu karena; (1) subjektifitas penulis merupakan hal yang

dominan dalam penelitian kualitatif, (2) alat peneliti yang diandalkan

adalah wawancara dan observasi (apapun bentuknya) mendukung banyak

kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol

dalam observasi partisipasi, (3) sumber data kualitatif yang kurang

credible akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian.18

Teknik pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian kali ini

pendekatannya lebih kepada triangulasi. Adapun triangulasi adalah teknik

pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu diluar data itu

untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.19

Teknik keabsahan data yang digunakan oleh peneliti adalah triangulasi

sumber dan metode. Menurut Burhan Bungin, triangulasi yaitu

membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara,

sedangkan triangulasi sumber membandingkan apa yang dikatakan di

depan umum dengan apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian

dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.20

9. Pedoman Penulisan Skripsi

Dalam melakukan penulisan skripsi ini, penulis penulis berpedoman

pada buku “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah”, (skripsi, tesis, disertai).

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010) h.330

20

(28)

17

Diterbitkan oleh CeQDA (Center For Quality Development an Assurance) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Press tahun

2007.21

10.Tinjauan Pustaka

Dalam penulisan penelitian ini, penulis melakukan tinjauan pustaka

sebagai langkah dari penyusunan skripsi yang penulis teliti, agar terhindar

dari kesamaan judul dan lain-lain dari skripsi yang sudah ada

sebelum-sebelumnya. Setelah mengadakan tinjauan pustaka, maka peneliti

menggunakan skripsi sebagai tinjauan pustaka pada skripsi ini.

Peneliti menggunakan literatur berupa skripsi yang dianggap relevan

dengan penelitian ini. Skripsi pertama membahas tentang “Pola

pengasuhan lembaga untuk mengembangkan potensi dan fungsi sosial

anak tunagrahita di SLB-C Khrisna Murti Jakarta” oleh Imam Panji Saputro, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada

penelitian ini membahas memaparkan tentang bagaimana pola asuh

lembaga, hambatan serta solusi yang tepat untuk mengembangkan potensi

anak tunagrahita di SLB-C Khrisna Murti Jakarta.22

Skripsi kedua membahas tentang “Pengaruh terapi okupasi terhadap

kemandirian penderita stroke di instalasi rehabilitasi medik RSPAD Gatot

Soebroto Ditkesad tahun 2011” oleh Galih Puteri Ardhiyani, Universitas

Indonesia tahun 2013. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui

pengaruh terapi okupasi dalam pengembalian kemandirian penderita

21

Pedoman Penulisan skripsi, Tesis, dan Disertai UIN, (Jakarta, UIN Jakarta Press: 2007) 22

(29)

stroke. Sampel penelitian ini adalah penderita stroke yang mengikuti terapi

okupasi dan yang tidak mengikuti terapi okupasi di Instalasi Rehab Medik

RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad pada tahun 2011. Sampel diambil

menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini adalah terapi okupasi memiliki pengaruh yang besar dalam mengembalikan

kemandirian penderita stroke.23 Pada penelitian ini akan membahas

tentang evaluasi hasil dari terapi okupasi bagi anak tunagrahita di YPLB

Nusantara Depok. Terjadi kesamaan dalam objek antara penelitian

sebelumnya yaitu terapi okupasi.

E. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan penyajian dalam skripsi ini dijabarkan

atas 5 bab yang terdiri dari sub-sub bab yang saling berkaitan sebagai

berikut:

BAB I : Pendahuluan

Dalam bab ini peneliti membahas mengenai latar belakang

masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat

penelitian, metode penelitian, tinjauan pustaka dan sistematika

penulisan.

BAB II : Landasan Teori

Dalam bab ini peneliti membahas mengenai definisi evaluasi,

model evaluasi, kriteria evaluasi, tujuan dan manfaat evaluasi,

definisi terapi, fungsi dan tujuan terapi, definisi terapi okupasi,

indikasi terapi okupasi, fungsi terapi okupasi, jenis terapi

23

(30)

19

okupasi, definisi anak tunagrahita, klasifikasi tunagrahita,

hambatan tunagrahita, penyebab tunagrahita dan karakteristik

tunagrahita. BAB III : Profil Lembaga

Dalam bab ini penulis membahas mengenai gambaran umum

dari Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok yaitu

sejarah berdirinya YPLB Nusantara Depok, profil YPLB

Nusantara Depok, visi, misi, tujuan YPLB Nusantara Depok,

struktur kepengurusan YPLB Nusantara Depok, prosedur

penerimaan siswa YPLB Nusantara Depok, program kegiatan

YPLB Nusantara Depok serta keadaan guru dan murid YPLB

Nusantara Depok dan profil siswa.

BAB IV : Temuan dan Analisis

Pada bab ini memuat tentang temuan-temuan dan analisis yang

mendukung secara garis besar mengenai evaluasi hasil terapi

okupasi bagi anak tunagrahita di YPLB Nusantara Depok

berupa pelaksanaan terapi okupasi di YPLB Nusantara, tujuan

dari terapi okupasi yang telah dicapai oleh YPLB Nusantara

dan perubahan siswa YPLB Nusantara Depok dari hasil terapi

okupasi.

BAB V : Penutup

(31)
(32)

20 BAB II TINJAUAN TEORI

A. Evaluasi

1. Pengertian Evaluasi

Evaluasi secara etimologi adalah penaksiran, perkiraan keadaaan dan

penentuan nilai. Sedangkan berdasarkan pengertiannya evaluasi adalah

mengkritisi suatu program dengan melihat kekurangan, kelebihan, pada

konteks, input, proses, dan produk pada sebuah program. Ada beberapa

konsep tentang evaluasi dan bagaimana melakukannya, kita namakan

sebagai pendekatan evaluasi. Istilah pendekatan evaluasi ini diartikan

sebagai beberapa pendapat tentang apa tugas evaluasi dan bagaimana

dilakukan, dengan kata lain tujuan dari prosedur evaluasi.1

Tetapi pada dasarnya evaluasi dibutuhkan dalam setiap program untuk

mengetahui keberhasilan dan kemajuannya serta sasaran apakah sudah

tercapai atau belum dan hasilnya nanti diperbaiki menjadi lebih baik pada

program selanjutnya. Selain itu dapat dikatakan bahwa evaluasi

merupakan proses penting yang harus dilakukan secara seksama agar

tujuan yang hendak dicapai dapat terlaksana dengan baik.2

Evaluasi dapat mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi formatif, evaluasi

dipakai untuk perbaikan dan pengembangan kegiatan yang sedang berjalan

(program, orang, produk, dan sebagainya). Fungsi sumatif, evaluasi

1

Nurul Hidayati, Metodologi Penelitian Dakwah: Dengan Pendekatan Kualitatif,

(Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, Desember 2006), h.124.

2

(33)

dipakai untuk pertanggungjawaban, keterangan, seleksi atau lanjutan. Jadi

evaluasi hendaknya membantu pengembangan implementasi, kebutuhan

suatu program, perbaikan program, pertanggungjawaban, seleksi, motivasi,

menambah pengetahuan dan dukungan dari mereka yang terlibat.3

2. Model Evaluasi

Dalam kegiatan evaluasi, terdapat beberapa model-model evaluasi

yang dapat digunakan. Menurut Pietrzak, Ramler, Renner, Ford, dan

Gilbert, mengemukakan tiga tipe evaluasi, yaitu evaluasi input (inputs), evaluasi proses (process), dan evaluasi hasil (outcomes). Ketiga model evaluasi tersebut dijelaskan sebagai berikut:4

a) Evaluasi Input

Evaluasi ini memfokuskan pada berbagai unsur yang masuk dalam

pelaksanaan suatu program. Tiga unsur (variable) utama yang terkait dengan evaluasi input adalah klien, staf, dan program. Dari ketiga

unsur diatas penulis akan menguraikan sebagai berikut:

1) Peserta program (klien), meliputi: usia, jenjang pendidikan dan

latar belakang keluarga.

2) Pelaksanaan (staf), meliputi: aspek demografi, seperti latar

belakang pendidikan dan pengalaman profesi.

3) Program, meliputi: cara pelaksanaan program, lama waktu

layanan dan sumber-sumber rujukan yang tersedia.

3

Farida Yusuf Tayibnapis, Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi: Untuk Program Pendidikan dan Penelitian, (Jakarta, Rineka Cipta, 2008), h.4.

4

(34)

22

b) Evaluasi Proses

Evaluasi proses menurut Pietrzak, dkk adalah memfokuskan diri

pada aktifitas program yang melibatkan interaksi langsung antara klien

dengan staf yang merupakan pusat dari pencapaian tujuan. Dalam

evaluasi ini yang dinilai adalah pelaksanaan terapi okupasi yang

dilakukan lembaga dan kualitas layanan yang diberikan. Tipe evaluasi

ini diawali dengan analisis dari sistem pemberian layanan dari suatu

program. Dalam upaya mengkaji nilai komponen pemberian layanan,

hasil analisis harus dikaji berdasarkan kriteria yang relevan seperti;

kebijakan lembaga, tujuan proses (process goals) dan kepuasan klien.

c) Evaluasi Hasil

Evaluasi ini dilakukan untuk menilai seberapa jauh tujuan-tujuan

yang sudah direncanakan tercapai (overall impact) dari suatu pelayanan terhadap penerima layanan.5 Dengan demikian, evaluasi ini

diarahkan pada dampak keseluruhan dari suatu pelayanan terhadap

klien yang menjadi penerima layanan ketika layanan telah selesai.

Pertanyaan utama yang akan muncul dalam evaluasi ini adalah bila

suatu layanan telah berhasil mencapai tujuannya, apakah penerima

layanan mengalami perubahan setelah ia menerima layanan tersebut.

Berdasarkan pertanyaan diatas, maka seorang evaluator akan

mengkonstruksikan kriteria keberhasilan dari suatu layanan yang

diberikan. Kriteria keberhasilan ini akan dapat dikembangkan sesuai

5

(35)

dengan kemajuan suatu program (programme oriented) ataupun pada terjadinya perubahan klien (client oriented).6

Pertanyaan kunci yang ingin dijawab dalam evaluasi ini adalah :

1) Apakah tujuan pelayanan klien tercapai pada tingkat yang

sesuai dengan yang diharapkan?

2) Apakah pelayanan menghasilkan perubahan pada penerima

layanan?

3. Kriteria Evaluasi

Dalam hubungan dengan kriteria keberhasilan yang digunakan untuk

suatu proses evaluasi, Feurstein mengajukan beberapa indikator yang perlu

untuk dipertimbangkan. Indikator yang penulis gunakan menurut

Feurstein, yaitu:

a) Indikator Efisiensi

Dalam indikator ini menunjukkan apakah sumber daya dan aktifitas

yang dilaksanakan guna mencapai tujuan dimanfaatkan secara tepat

guna atau tidak memboroskan sumber daya yang ada.

b) Indikator Pemanfaatan

Indikator ini melihat seberapa banyak suatu layanan yang sudah

disediakan oleh pemberi layanan dipergunakan oleh kelompok

sasaran.7

6

Isbandi Rukminto Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas, (Jakarta: FEUI, 2001), h. 129.

7

(36)

24

4. Tujuan dan Manfaat Evaluasi

Suatu program yang diselenggarakan perlu dilakukan evaluasi, karena

biasanya evaluasi lebih difokuskan pada pengidentifikasian mengenai apa

yang sebenarnya terjadi pada pelaksanaan atau penerapan program. Maka

dari itu tujuan evaluasi antara lain:

a) Mengidentifikasi tingkat pencapaian tujuan.

b) Mengukur dampak langsung yang terjadi pada kelompok sasaran.

c) Mengetahui dan menganalisis konsekuensi-konsekuensi lain yang

mungkin terjadi diluar rencana (externalities).8

Sedangkan manfaat evaluasi menurut Isbandi Rukminto dengan

mengutip pendapat Feurstein menyatakan ada 10 alasan mengapa suatu

evaluasi perlu dilakukan, antara lain:

a) Melihat apa yang sudah dicapai.

b) Mengukur kemajuan, yang dikaitkan dengan tujuan program.

c) Meningkatkan pemantauan, agar tercapai manajemen yang lebih

baik.

d) Mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan untuk memperkuat

program itu sendiri.

e) Melihat apakah usaha sudah dilakukan secara efektif, guna melihat

perbedaan apa yang telah terjadi setelah diterapkan suatu program.

f) Melakukan analisa biaya dan manfaat (cost benefit), apakah biaya yang dikeluarkan cukup masuk akal (reasonable).

8

(37)

g) Mengumpulkan berbagai informasi yang bisa dimanfaatkan dalam

merencanakan dan mengelola kegiatan program secara lebih baik.

h) Berbagi pengalaman, sehingga pihak lain tidak terjebak dalam

kesalahan yang sama, atau mengajak pihak lain untuk ikut

melaksanakan metode yang serupa bila metode yang dijalankan telah

berhasil dengan baik.

i) Meningkatkan keefektifan, agar program tersebut memberikan

dampak yang lebih luas.

j) Memungkinkan terciptanya perencanaan yang lebih baik,

memberikan kesempatan untuk mendapatkan masukan dari

masyarakat, komunitas fungsional dan komunitas lokal.9

B. Terapi Okupasi 1. Pengertian Terapi

Terapi berasal dari bahasa Yunani yaitu Therapia yang berarti penyembuhan.10 Terapi adalah upaya pelengkap dalam memperbaiki

disfungsi pada tubuh.11 Sehingga terapi merupakan proses pengobatan atau

penyembuhan yang terdiri dari seorang terapis dan klien dengan tujuan

untuk memulihkan keadaan seseorang agar dapat kembali normal.

2. Fungsi dan Tujuan Terapi

Terapi sendiri mempunyai fungsi dan tujuan sebagai berikut :

a) Memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar

b) Mengurangi tekanan emosional

9

Isbandi Rukminto Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat, dan Intervensi Komunitas: Pengantar Pada Pemikiran dan Pendekatan Praktis, h. 127.

10

Richard Nelson Jones, Teori dan Praktik Konseling dan Terapi, (Jakarta: Pustaka Belajar, 2011), h.2.

11

(38)

26

c) Mengembangkan potensi klien

d) Mengubah kebiasaan

e) Memodifikasi struktur kognisi

f) Memperoleh pengetahuan tentang diri

g) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan hubungan

interpersonal

h) Meningkatkan kemampuan mengambil keputusan

i) Mengubah kondisi fisik

j) Mengubah kesadaran diri

k) Mengubah lingkungan sosial.12

3. Pengertian Terapi Okupasi

Terapi okupasi atau occupational theraphy berasal dari kata

occupational dan theraphy, occupational sendiri berarti aktivitas dan

theraphy adalah penyambuhan dan pemulihan. Eleonor Clark Slagle adalah salah satu pioneer dalam pengembangan ilmu OT atau terapi

okupasi, bersama dengan Adolf Meyer dan William Rush Dutton. Terapi

okupasi pada anak memfasilitasi sensori dan fungsi motorik yang sesuai

pada pertumbuhan dan perkembangan anak untuk menunjang

kemampuan anak dalam bermain, belajar dan berinteraksi di

lingkungannya. Terapi okupasi adalah terapi yang dilakukan melalui

12

Purwandari, Buku Pegangan Kuliah Psikoterapi, Universitas Negeri Yogyakarta, 2003, h. 39, diakses pada tanggal 12 Januari 2016 (artikel dapat didownload di

(39)

kegiatan atau pekerjaan terhadap anak yang mengalami gangguan

kondisi sensori motor.13

Terapi okupasi umumnya menekan pada kemampuan motorik

halus, selain itu terapi okupasi juga bertujuan untuk membantu

seseorang agar dapat melakukan kegiatan keseharian, aktivitas

produktifitas dan pemanfaatan waktu luang. Terapi okupasi adalah salah

satu jenis terapi kesehatan yang merupakan bagian dari rehabilitasi

medis. Pada terapi okupasi penyandang cacat akan dilatih untuk

melakukan kegiatan aktivitas sehari-hari sehingga nantinya dapat

mengurangi ketergantungan terhadap orang lain.

Prinsip-prinsip terapi okupasi antara lain untuk menimbulkan

gerakan dan melakukan aktivitas sehari-hari. Tujuan terapi okupasi

adalah untuk membantu individu mencapai kemandirian dalam semua

aspek kehidupan mereka.14 Pada dasarnya terapi okupasi terpusat pada

pendekatan sensori atau motorik atau kombinasinya untuk memperbaiki

kemampuan dengan merasakan sentuhan, rasa, bunyi, dan gerakan.

Selain itu, terapi okupasi juga meliputi permainan dan keterampilan

sosial, melatih kekuatan tangan, genggaman, kognitif, dan mengikuti

arah. Dalam terapi okupasi biasanya terapis berkonsultasi dengan dokter,

perawat, guru, dan pekerja sosial atau konselor.

13

E. Kosasih, Cara Bijak Memahami Anak Berkebutuhan Khusus, (Bandung: Yrama Widya, 2012), h. 13.

14

(40)

28

4. Tujuan Terapi Okupasi

Adapun tujuan dari terapi okupasi antara lain:

a) Mengembalikan fungsi fisik, meningkatkan ruang gerak sendi,

kegiatan otot dan koordinasi gerakan.

b) Mengajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari, seperti makan,

berpakaian, belajar menggunakan fasilitas umum (telepon, televisi,

dan lain-lain baik dengan maupun tanpa alat bantu, mandi yang

bersih, dan sebagainya).

c) Membantu untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan rutin di

rumahnya, dan memberi saran penyederhanaan ruangan maupun

letak alat-alat kebutuhan sehari-hari.15

5. Indikasi Terapi Okupasi

Indikasi dilakukannya terapi okupasi antara lain jika:

a) Seseorang yang kurang berfungsi dalam kehidupannya karena

kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam mengintegrasikan

perkembangan psikososialnya.

b) Terdapat kelainan tingkah laku yang terlibat dalam kesulitannya

berkomunikasi dengan orang lain.

c) Terdapat tingkah laku yang tidak wajar dalam mengekspresikan

perasaan atau kebutuhan yang primitif.

d) Terdapat ketidakmampuan menginterpretasikan rangsangan

sehingga reaksi terhadap rangsangan tersebut tidak wajar.

15

(41)

e) Terhentinya seseorang dalam fase pertumbuhan tertentu atau

seseorang yang mengalami kemunduran.

f) Seseorang yang lebih mudah mengekspresikan perasaannya

melalui aktivitas daripada percakapan.

g) Seseorang yang merasa lebih mudah mempelajari sesuatu dengan

cara mempraktekannya daripada membayangkannya.

h) Seseorang yang cacat tubuh yang mengalami gangguan dalam

kepribadiannya.16

6. Fungsi Terapi Okupasi

Adapun fungsi terapi okupasi antara lain:

a) Sebagai perlakuan psikiatri yang spesifik untuk membangun

kesempatan-kesempatan demi hubungan yang lebih memuaskan,

membantu pelepasan, atau sublimasi dorongan emosional, sebagai

suatu alat diagnostik.

b) Terapi khusus untuk mengembalikan fungsi fisik, meningkatkan

ruang gerak sendi, kekuatan otot dan koordinasi gerakan.

c) Mengajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti makan,

berpakaian, belajar menggunakan fasilitas umum, baik dengan

maupun tanpa alat bantu.

16

(42)

30

d) Membantu pasien untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan rutin

dirumahnya dan memberi saran penyederhanaan ruangan maupun

letak alat-alat kebutuhan sehari-hari.

e) Meningkatkan toleransi kerja, memelihara dan meningkatkan

kemampuan yang masih ada.

f) Eksplorasi prevokasional untuk memastikan kemampuan fisik dan

mental pasien, penyesuaian sosial, dan ketertarikan,

kebiasaan-kebiasaan kerja, keterampilan dan potensial untuk dikerjakan.

g) Mengarahkan minat dan hobi agar dapat digunakan.17

7. Jenis Terapi Okupasi

Adapun jenis terapi okupasi antara lain18:

a) Activity of daily living (aktivitas sehari-hari)

Aktivitas yang dituju untuk merawat diri yang juga disebut

basic activities of daily living atau personal activities of daily living terdiri dari kebutuhan dasar fisik (makan, cara makan, kemampuan berpindah, merawat benda pribadi, tidur, buang air

besar, mandi dan menjaga kebersihan pribadi) dan fungsi

kelangsungan hidup (memasak, berpakaian, berbelanja dan

menjaga lingkungan hidup seseorang agar tetap sehat).

17

Monique Prillagia Nurzhafarina, Perencanaan dan Perancangan Alat Bantu Terapis bagi Anak Penderita Autis, (Skripsi S1), Jurusan Tehnik Industri, Universitas Sebelas Maret, 2015, dari: https://eprints.uns.ac.id/18664/3/BAB_II.pdf, artikel diakses pada tanggal 6 Januari 2016.

18

Nurdayati Praptiningrum, Terapi Okupasi, dari

(43)

b) Pekerjaan

Kerja adalah kegiatan produktif, baik dibayar atau tidak

dibayar. Pekerjaan dimana seseorang menghabiskan sebagian

besar waktunya biasanya menjadi bagian penting dari identitas

pribadi dan peran sosial, memberinya posisi dalam masyarakat dan

rasa nilai sendiri sebagai anggota yang ikut berperan.

Pekerjaan yang berbeda diberi nilai-nilai sosial yang

berbeda pada masyarakat. Termasuk aktivitas yang diperlukan

untuk dilibatkan pada pekerjaan yang menguntungkan/

menghasilkan atau aktivitas sukarela seperti minat pekerjaan,

mencari pekerjaan dan kemahiran, tampilan pekerjaan, persiapan

pengunduran dan penyesuaian, partisipasi sukarela dan relawan

sukarela.

c) Leisure (pemanfaatan waktu luang)

Aktivitas mengisi waktu luang adalah aktivitas yang

dilakukan pada waktu luang yang bermotivasi dan memberikan

kegembiraan, hiburan, serta mengalihkan perhatian pasien.

Aktivitas yang tidak wajib yang pada hakekatnya kebebasan

beraktivitas. Adapun jenis-jenis aktivitas waktu luang seperti

menjelajah waktu luang (mengidentifikasi minat, keterampilan,

kesempatan, dan aktivitas waktu luang yang sesuai) dan partisipasi

waktu luang (merencanakan dan berpartisipasi dalam aktivitas

(44)

32

dengan kegiatan yang lainnya, dan memperoleh, memakai, dan

mengatur peralatan dan barang yang sesuai).

C. Anak Tunagrahita 1. Pengertian Anak

Anak merupakan anugrah terindah yang dititipkan Tuhan kepada para

pasangan suami isteri yang harus dijaga dengan baik. Anak membutuhkan

kasih sayang, perhatian, rasa aman dalam setiap tumbuh kembangnya.

Pengertian anak menurut pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23

Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, yang dimaksud anak menurut

undang undang tersebut adalah seseorang yang belum berumur 18

(delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan.19

Menurut John Locke, anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka

terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan.20

Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa anak merupakan

manusia yang berusia 0 hingga mencapai 18 tahun dan memiliki pribadi

yang bersih dan peka terhadap rangsangan dari lingkungan.

2. Pengertian Tunagrahita

Tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang

mempunyai kemampuan intelektual dibawah rata-rata. Dalam bahasa asing

istilah yang digunakan seperti mental retardation, mentally retarded, dan

mental deficiency.21

19

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, (Surabaya: Kesindo Utama, 2003), h. 4.

20

Hastuti, Psikologi Perkembangan Anak, (Jakarta: Tugu Publisher, 2012), cet.1, h. 11. 21

(45)

Seseorang dikategorikan berkelainan mental subnormal atau

tunagrahita jika ia memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal, sehingga

untuk meningkatkan kemampuannya memerlukan bantuan atau layanan

spesifik, termasuk dalam program pendidikannya.22

3. Klasifikasi Tunagrahita23 a) Tunagrahita Ringan

Tunagrahita ringan sering disebut juga moron atau debil. Kelompok ini memiliki IQ antara 69-55 menurut skala Weschler.

Mereka masih dapat membaca, menulis, dan berhitung sederhana.

Dengan bimbingan dan pendidikan yang baik, anak terbelakang mental

ringan pada saatnya dapat memperoleh penghasilan untuk dirinya

sendiri karena mereka dapat dididik menjadi tenaga kerja seperti

pekerjaan laundry, pertanian, peternakan dan pekerjaan rumah tangga.

Pada umumnya anak tunagrahita ringan tidak mengalami gangguan

fisik, mereka tampak seperti anak normal lainnya. Hanya saja mereka

tidak mampu melakukan penyesuaian sosial secara independen.

b) Tunagrahita Sedang

Anak tunagrahita sedang disebut juga imbisil. Kelompok ini memiliki IQ antara 54-40 menurut skala Weschler. Mereka sangat sulit

bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti belajar menulis,

membaca dan berhitung walaupun mereka masih dapat menulis, secara

sosial seperti menulis namanya sendiri dan menulis alamat rumahnya.

22 Bratanata, “Pendidikan Anak Terbelakang Mental” dalam Mohammad Effendi,

Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 88. 23

Sumaryana, Pembelajaran Keterampilan Membuat Conblok pada Anak Tunagrahita, artikel diakses pada 8 Maret 2017 dari

(46)

34

Tetapi mereka masih bisa dididik untuk mengurus diri seperti mandi,

berpakaian, makan minum, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan

sebagainya. Namun dalam kehidupan sehari-hari mereka

membutuhkan pengawasan yang terus-menerus.

c) Tunagrahita Berat

Anak tunagrahita berat sering disebut idiot. Kelompok ini memiliki IQ antara 39-25 menurut skala Weschler. Anak tunagrahita berat

sangat sulit bahkan tidak bisa lepas dari bantuan orang lain untuk

memenuhi kehidupannya sehari-hari. Mereka memerlukan bantuan

perawatan total dalam hal merawat diri, makan dan lainnya. Bahkan

mereka memerlukan perlindungan dari bahaya sepanjang hidupnya.24

4. Hambatan Tunagrahita

Pada dasarnya tunagrahita menunjukkan kecenderungan

kemampuan yang rendah pada fungsi umum kecerdasannya karena

keterbatasan fungsi kognitif. Fungsi kognitif sendiri merupakan

kemampuan seseorang untuk mengenal atau memperoleh pengetahuan.

Beberapa hambatan yang tampak pada anak tunagrahita dari segi

kognitif yang juga menjadi karakteristiknya yaitu:

a) Cenderung memiliki kemampuan berpikir konkret

b) Mengalami kesulitan dalam konsentrasi

c) Kemampuan sosialisasinya terbatas

d) Tidak mampu menyimpan instruksi yang sulit

e) Kurang mampu menganalisis dan menilai kejadian yang dihadapi

24

(47)

f) Pada tunagrahita mampu didik, prestasi tertinggi bidang baca, tulis

dan hitung tidak lebih dari anak normal setingkat kelas III-IV SD.25

Menurut Hallahan, terdapat empat bidang hambatan kognisi pada

anak yang tergolong kategori retardasi mental. Empat bidang tersebut

antara lain hambatan perhatian, ingatan, bahasa dan prestasi akademik.

a) Hambatan perhatian merupakan hambatan ketika mereka kesulitan

mencurahkan perhatiannya kepada aspek yang bermacam-macam.

b) Hambatan ingatan yaitu ketika mereka sulit mengingat suatu benda

atau proses yang telah dialaminya.

c) Hambatan bahasa yaitu mengalami kesulitan dalam mengingat apa

yang dilihat dan didengar sehingga menyebabkan kesulitan dalam

berbicara.

d) Prestasi akademik yaitu terlambat dalam perkembangan mental,

tunagrahita mengalami masalah dalam keterampilan akademik

dibanding kelompok usia sebaya.26

5. Penyebab Tunagrahita

Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang

menjadi tunagrahita. Para ahli dari berbagai ilmu telah berusaha

membagi faktor-faktor penyebab ini diantaranya sebagai berikut:27

25

Mohammad Effendi, Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 98

26

Agustyawati dan Solicha, Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN, 2009), h. 155

27

(48)

36

a) Faktor keturunan

Adanya kelainan kromosom baik autosom (mempunyai

kromosom 3 ekor pada kromosom nomor 21 sehingga anak

mengalami Langdon Down’s Syndrome dan pada trisomi

kromosom nomor 15 anak akan menderita Patau’s Syndrome

dengan ciri-ciri berkepala kecil, mata kecil, berkuping aneh,

sumbing dan kantung empedu yang besar. Adanya kegagalan

meiosis sehingga menimbulkan duplikasi dan translokasi) maupun

pada kelainan gonosom (gonosom yang seharusnya XY, karena

kegagalan menjadi XXY atau XXXY.

b) Gangguan metabolisme dan gizi.

Metabolisme dan gizi merupakan hal yang penting bagi

perkembangan individu terutama perkembangan sel-sel otak.

Beberapa kelainan yang disebabkan oleh kegagalan metabolisme

dan kekurangan gizi diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Phenylketonuria

Salah satu akibat gangguan metabolisme asam amino juga

kelainan gerakan enzym phenylalanine hydroxide. Gejala

umum yang nampak adalah tunagrahita, kekurangan pigmen,

microchepally, serta kelainan tingkah laku.

2) Cretinisme

Disebabkan oleh keadaan hypohyroidism kronik yang

terjadi selama masa janin atau segera setelah melahirkan. Berat

(49)

Gejala umum yang nampak adalah adanya ketidaknormalan

fisik yang khas dan ketunagrahitaan dan awal gejalanya dengan

kurangnya nafsu makan, anak menjadi sangat pendiam, jarang

tersenyum dan tidur yang berlebihan.

3) Infeksi dan keracunan

Adanya infeksi dan keracunan terjangkitnya penyakit-penyakit

selama janin masih berada dalam kandungan ibunya yang

menyebabkan anak lahir menjadi tunagrahita, antara lain:

a) Rubella

Penyakit ini menjangkiti ibu pada dua belas minggu

pertama kehamilan. Selain tunagrahita,

ketidaknormalan yang disebabkan penyakit ini adalah

kelainan pendengaran, penyakit jantung bawaan, berat

badan yang sangat rendah pada waktu lahir dan

lain-lain.

b) Syndrome Gravidity Beracun

Ketunagrahitaan yang timbul dari Syndrome Gravidity

Beracun terjadi pada sebagian bayi yang lahir prematur,

kerusakan janin yang disebabkan oleh zat beracun dan

berkurangnya aliran darah pada rahim dan plasenta.

4) Masalah pada kelahiran

Adanya kelahiran yang disertai hypoxia (kejang dan nafas

pendek) dipastikan bahwa bayi yang akan dilahirkan menderita

(50)

38

5) Faktor lingkungan

Latar belakang pendidikan orangtua sering juga

dihubungkan dengan masalah-masalah perkembangan.

Kurangnya kesadaran orangtua akan pentingnya pendidikan

dini serta kurangnya pengetahuan dalam memberikan segala

rangsangan yang bersifat postif dalam masa perkembangan

anak dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya gangguan

atau hambatan dalam perkembangan anak. Kurangnya kontak

pribadi dengan anak, misalnya dengan tidak mengajaknya

berbicara, tersenyum dan bermain yang mengakibatkan

timbulnya sikap tegang, dingin dan menutup diri. Kondisi yang

demikian akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan

anak baik fisik maupun mental intelektualnya.

6. Karakteristik Tunagrahita28

a) Karakteristik Anak Tunagrahita Ringan

Dalam berbicaranya banyak yang lancar, tetapi perbendaharan

katanya minim, mereka mengalami kesulitan dalam berpikir abstrak,

tetapi mereka masih mampu mengikuti pelajaran yang bersifat

akademik atau tool subject, baik di sekolah biasa maupun di sekolah luar biasa (SLB). Umur kecerdasannya apabila sudah dewasa sama

dengan anak normal yang berusia 12 tahun

.

28

Junal tentang mengenal anak luar biasa, artikel diakses pada 12 Januari 2016 dari

(51)

b) Karakteristik Anak Tunagrahita Sedang

Anak tunagrahita sedang tidak bisa mempelajari

pelajaran-pelajaran yang bersifat akademik, belajarnya secara membeo.

Perkembangan bahasanya sangat terbatas karena perbendaharaan

kata yang sangat kurang. Mereka memerlukan perlindungan orang

lain, meskipun begitu masih mampu membedakan bahaya dan bukan

bahaya. Umur kecerdasannya sama dengan anak normal umur tujuh

tahun.

c) Karakteristik Anak Tunagrahita Berat

Anak ini sepanjang hidupnya memerlukan pertolongan dan

bantuan orang lain, sehingga berpakaian, ke WC, dan sebagainya

harus dibantu. Mereka tidak tahu bahaya atau tidak bahaya.

Kata-kata dan ucapannya sangat sederhana. Kecerdasannya sampai

(52)

40 BAB III

GAMBARAN UMUM YAYASAN PENDIDIKAN LUAR BIASA NUSANTARADEPOK

A. Sejarah Berdirinya

Berawal dari rasa prihatin terhadap adik kelas sewaktu kuliah di

Pendidikan Luar Biasa, Bapak Sujono menampung dua belas adik kelasnya

tersebut di dua tempat yaitu di Depok dan Jakarta Selatan. Mereka mulai

mencari murid hingga muridnya terus bertambah banyak. Karena para guru

tinggal dan makan di sekolah, maka dibuatlah sekolah berasrama. Akhirnya

pada tahun 1989 beliau membeli tanah di daerah Beji, Depok dari uang

pribadi hasil penjualan rumah.Saat ini beliau telah membangun dua Sekolah

Luar Biasa di dua daerah yaitu di Beji, Depok dan Srengseng Sawah,

Jakarta Selatan. 1

Sekolah Luar Biasa Nusantara Ber-asrama tidak hanya menerima

siswa-siswi ABCD (Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita, Tunadaksa), tetapi

juga Hiperaktif, Down Syndrom, Autis dan Epilepsi, mulai dari usia dini

sampai usia lanjut. Motto sekolah adalah PAIKEM GEMBROT yang

artinya Pendidikan Aktif Inovatif Kreatif Efektif Menyenangkan Gembira

Berbobot.2

1

Hasil wawancara pribadi dengan Bapak Sujono, 5 Oktober 2015. 2

(53)

B. Profil Yayasan3

Nama Yayasan : Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara

Alamat Yayasan : Jalan Sempu Raya RT.06 RW.04 No. 7-8

Kelurahan Beji, Kecamatan Beji, Kota Depok

Tahun Berdiri : 1989

No. Akte Notaris / Tahun : 117/2001

Nama Ketua Yayasan : Drs. Sujono, S.Psi, MM

Nama Sekolah : SLB B-C-D Nusantara Ber-Asrama

Nomor Statistik Sekolah : 8020206605002

Status Sekolah : Swasta

Alamat Sekolah : Jalan Sempu Raya RT.06 RW.04 No. 7-8

Kelurahan Beji, Kecamatan Beji, Kota Depok

Ijin Operasional : No. 421.9/3/3124-disdik/2003

SK Kemenkumham : No.AHU-0010632.AH.01.04/2015

Status Akreditasi : C

Nama Kepala Sekolah : Neni Sulastri Pratiwi, M.Psi

SK Jabatan Kepsek : j.005/YPLB-n/I/15

C. Visi, Misi dan Tujuan Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok4

1. Visi Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok

Mewujudkan Sekolah Anak Cacat Nusantara Ber-Asrama (Boarding School) sebagai salah satu sekolah unggulan dan terbaik.

3

Dokumen Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok. 4

(54)

42

2. Misi Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok

Adapun misi dari YPLB Nusantara Depok sebagai berikut:

a) Meningkatkan kinerja aparatur sekolah ber-asrama yang efektif,

efisien dan profesional.

b) Meningkatkan segala potensi sumber daya sekolah ber-asrama.

c) Mengembangkan wawasan keunggulan kreatif dan inovatif di bidang

pendidikan.

d) Membangun komitmen kebersamaan dan keteladanan warga sekolah

ber-asrama yang harmonis, religius, yang dilandasi Iman dan Taqwa.

3. Tujuan Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok

Adapun maksud dan tujuan berdirinya YPLB Nusantara Depok

adalah membantu, melayani dan mendidik Anak Berkebutuhan Khusus

(ABK) usia dini sampai usia lanjut, sehingga dari segi kognisi, afeksi dan

psikomotornya diharapkan mereka dapat mandiri dan bermanfaat bagi

(55)

D. Struktur Kepengurusan Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok5

E. Prosedur Penerimaan Anak Didik di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok

Adapun tahapan penerimaan anak didik yang akan mengikuti kegiatan

pendidikan disini antara lain:6

a) Orangtua datang ke sekolah. Jika tidak ada orangtua maka dapat

diwakili oleh pihak keluarga calon anak didik.

5

Dokumen Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok. 6

Gambar

Tabel 3 Hasil Terapi Okupasi di YPLB Nusantara Depok ...............................    77
Tabel 1. Data Anak Penyandang Cacat Mental di Kota Depok
Tabel 2. Rancangan Penelitian dalam Pemilihan Informan
gambar juga, jadi dia yang desain sendiri gambarnya buat

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat empat temuan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa: 1) Kondisi obyektif pembelajaran berhitung bagi anak tunagrahita ringan di SLB -C yang meliputi: tujuan

Terdapat empat temuan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa: 1) Kondisi obyektif pembelajaran berhitung bagi anak tunagrahita ringan di SLB-C yang meliputi: tujuan

Hasil menunjukkan bahwa terdapat berbedaan yang signifikan antara kecemasan sebelum diberikan terapi bermain dan sesudah dilakukan terapi bermain pada anak usia

Hasil penelitian ini yang telah dilakukan tentang pengaruh terapi murottal terhadap perilaku adaptif pada anak tunagrahita yaitu menunjukkan tidak ada pengaruh

Hal ini dapat terlihat melalui survey awal yang telah peneliti lakukan kepada 48 responden dan hasilnya menunjukkan sebanyak 27 responden menyatakan bahwa tujuan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa keterampilan proses mengukur IPA pada anak tunagrahita ringan dengan diberikan metode outdoor

Posttest diberikan kepada anak Tunagrahita ringan dengan tujuan untuk mengetahui perubahan yang dialami oleh subyek penelitian dalam hal kemampuan motorik halus melalui

Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kemampuan bina diri anak tunagrahita sedang dengan diberikan kegiatan menggosok gigi dapat diterima dengan