Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh:
Muhamad Hafiz Zuldi 1110054100008
PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
i Muhamad Hafiz Zuldi
Evaluasi Hasil Terapi Okupasi Bagi Anak Tunagrahita di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok
Dalam perkembangannya, anak tunagrahita memiliki keterbatasan dalam berbagai aspek misalnya perkembangan personal, sosial kognitif, keterampilan berbahasa, motorik dan sensorik yang dapat diamati melalui ketidakmatangan perilaku sosialnya. Untuk membantu anak tunagrahita dalam melatih keterampilan motorik, personal dan perilaku sosial salah satunya melalui sebuah terapi yaitu terapi okupasi. Terapi okupasi yang dilakukan oleh Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok untuk membantu dalam meningkatkan keterampilan motorik anak terutama anak tunagrahita dalam bentuk kegiatan sehari-hari dan pemanfaatan waktu luang. Dengan adanya terapi okupasi ini anak tunagrahita diharapkan dapat mengalami perubahan pada perkembangannya.
Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi hasil dari terapi okupasi bagi anak tunagrahita di YPLB Nusantara Depok. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan kualitatif jenis deskriptif. Teknik pengumpulan data penelitian ini merupakan kumpulan data dari wawancara dan observasi yang diperoleh dari informan; satu orang ketua yayasan, dua orang pengasuh, satu terapis, dua orang siswa tunagrahita berasrama dan satu orang siswa tunagrahita non-asrama serta tiga orangtua dari siswa tunagrahita. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori evaluasi hasil dari Isbandi Rukminto yang digunakan untuk menganalisa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuan dari terapi okupasi yang diberikan kepada anak tunagrahita di YPLB Nusantara Depok lebih terlihat hasilnya pada siswa yang berasrama yaitu dengan adanya perubahan pada aspek bina diri dimana siswa yang berasrama sudah dapat mandiri dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari dan dalam pemanfaatan waktu luang siswa yang berasrama dapat mengembangkan minat dan bakatnya melalui kegiatan ekstrakurikuler. Perubahan tersebut dapat dilihat dalam kurun waktu 2 tahun. Sedangkan pada siswa non-asrama masih belum banyak menunjukkan perubahan dikarenakan kurang konsistennya orang tua dalam menerapkan bina diri dan pemanfaatan waktu luang anak ketika di rumah.
ii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang
berjudul “Evaluasi Hasil Terapi Okupasi Bagi Anak Tunagrahita di Yayasan
Pendidikan Luar Biasa Nusantara, Depok”. Shalawat serta salam senantiasa selalu
tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan
sahabat-sahabatnya, dan semoga kita termasuk dalam golongan yang istiqomah
menjalankan sunnahnya hingga hari kiamat.
Skripsi ini merupakan tugas akhir yang harus diselesaikan sebagai syarat
guna meraih gelar Sarjana Sosial Jurusan Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu
Dakwah dan Ilmu Komunikasi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta. Penulis menyadari banyak pihak yang telah membantu dalam proses
penyelesaian skripsi ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis
ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu hingga selesainya penyusunan skripsi ini baik secara langsung maupun
tidak langsung kepada:
1. Bapak Dr. Arief Subhan, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan
Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,
Bapak Suparto, M.Ed, Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Akademik, Ibu
Dr. Roudhonah, MA selaku Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum,
Bapak Dr. Suhaimi, M.Si selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan.
2. Ibu Lisma Dyawati Fuaida, M.Si selaku Ketua Program Studi
Kesejahteraan Sosial, Ibu Nunung Khairiyah, MA selaku Sekretaris
Program Studi Kesejahteraan Sosial. Terima kasih atas nasehat dan
bimbingannya.
3. Bapak Ismet Firdaus, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah
membantu mengarahkan, memberikan masukan dan selalu bersedia
iii
Jakarta yang telah banyak memberikan ilmu dan pengalamannya kepada
penulis.
5. Kedua orang tua yang sangat penulis cintai, H. Abdul Madjid, S.Sos.I dan
Hj. Mulyati yang tidak pernah berhenti mendoakan dan memberikan
dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi. Dan untuk
keluarga besar Lambarasa yang sangat penulis sayangi, Kak Erna, Kak
Laila, Kak Fitri, Kak Nita, Bang Irpan, Bang Mpun, Bang Abi dan Mas
Fajar yang turut memberikan motivasi kepada penulis dan dukungan demi
kelancaran skripsi ini.
6. Untuk Mayangsari yang penulis banggakan yang tidak pernah berhenti
memberikan dukungan kepada penulis hingga terciptanya skripsi ini.
7. Sahabat yang penulis banggakan Reizky, Ihsan, Tari, Vina dan Dinda yang
memberikan banyak masukan dalam penulisan skripsi ini.
8. Rekan-rekan Praktikum 1 dan Praktikum 2 dan seluruh teman-teman
Kesejahteraan Sosial angkatan 2010 yang tidak bisa penulis sebutkan
namanya satu-persatu.
Jakarta, Maret 2017
iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 8
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8
D. Metodologi Penelitian ... 9
E. Sistematika Penulisan ... 18
BAB II TINJAUAN TEORI... 20
A. Evaluasi ... 20
B. Terapi Okupasi ... 25
C. Anak Tunagrahita ... 32
BAB III GAMBARAN UMUM YAYASAN PENDIDIKAN LUAR BIASA NUSANTARA DEPOK ... 40
A. Sejarah Berdirinya Lembaga ... 40
B. Profil Yayasan ... 41
v
Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara ... 43
E. Prosedur Penerimaan Anak Didik di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara ... 43
F. Program Kegiatan Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara ... 44
G. Keadaan Guru dan Siswa di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara ... 49
H. Profil Informan ... 50
BAB IV TEMUAN LAPANGAN DAN ANALISA ... 52
A. Temuan Lapangan ... 52
B. Analisis Evaluasi Hasil Terapi Okupasi Di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok ... 71
BAB V PENUTUP... 78
A. Kesimpulan ... 78
B. Saran ... 79
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Data Anak Penyandang Mental Cacat di Kota Depok Tahun 2014 ... 5
Tabel 2 Rancangan Penelitian dalam Pemilihan Informan ... 12
vii Lampiran 1 Surat Izin Penelitian
Lampiran 2 Surat Bimbingan Skripsi
Lampiran 3 Pedoman Wawancara
Lampiran 4 Pedoman Observasi
Lampiran 5 Transkrip Wawancara
Lampiran 6 Hasil Observasi
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak adalah kebanggaan dan sumber kebahagiaan bagi keluarga.
Kelahiran seorang anak sangat dinantikan oleh seluruh anggota keluarga.
Anak merupakan harapan keluarga karena mempunyai banyak arti dan fungsi.
Oleh karena itu memiliki anak merupakan suatu hal yang sangat didambakan
oleh pasangan suami istri. Itulah mengapa anak diberikan limpahan perhatian
dan kasih sayang oleh keluarga. Anak dianggap sebagai pembawa rejeki oleh
keluarga sehingga ada pepatah yang menyebutkan “Banyak Anak Banyak
Rejeki”. Kehadiran seorang anak dalam keluarga dapat dilihat sebagai faktor
yang menguntungkan bagi orang tua baik dari segi psikologis, ekonomis dan
sosial.
Dalam setiap kebudayaan, anak merupakan pemberian dari Tuhan Yang
Maha Esa yang harus dijaga, dirawat dan diasuh sehingga sejak lahir ke dunia
orang tua akan menjaga dan merawat anak tersebut dengan kasih sayang.
Anak memiliki nilai yang amat penting dalam kehidupan seseorang atau
keluarga sehingga kadang melebihi harta dan kekayaan. Nilai anak itu bagi
orang tua dalam kehidupan sehari-hari dapat diketahui antara lain sebagai
tempat bagi orang tua untuk mencurahkan kasih sayang, sumber kebahagiaan
keluarga, anak sebagai tempat menggantungkan berbagai harapan serta
sebagai hiasan hidup bagi keluarga. Sebagaimana Allah telah berfirman dalam
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa
yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (surga).”
Berdasarkan ayat al-Qur’an telah dijelaskan bahwa anak merupakan satu dari kesenangan dunia. Anak sebagai hiasan yang menghiasi hidup orangtua
nya menjadi berwarna indah, anak ibarat pelangi dengan warna yang
berbeda-beda mereka membuat suasana rumah menjadi begitu indah.
Pada diri tiap anak ada kemampuan atau potensi yang unik bagi dirinya.
Dan hak-hak anak (child right) yang menyatakan bahwa semua anak memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk hidup dan berkembang secara
penuh sesuai dengan potensi yang dimilikinya termasuk pada anak dengan
berkebutuhan khusus. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang
mengalami hambatan dalam perkembangan perilakunya. Perilaku anak-anak
ini antara lain terdiri dari wicara dan okupasi, tidak berkembang seperti pada
anak yang normal. Pada umumnya anak berkebutuhan khusus ini biasa
3
Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam
perkembangan mental dan intelektual sehingga berdampak pada
perkembangan kognitif dan perilaku adaptifnya seperti tidak mampu
memusatkan pikiran, emosi tidak stabil, suka menyendiri dan lain-lain. Anak
tunagrahita adalah individu yang secara signifikan memiliki intelegensi
dibawah normal. Menurut American Asociation on Mental Deficiency
mendefinisikan tunagrahita sebagai suatu kelainan yang fungsi intelektual
umumnya di bawah rata-rata, yaitu IQ 84 ke bawah. Biasanya anak-anak
tunagrahita akan mengalami kesulitan dalam “Adaptive Behavior” atau
penyesuaian perilaku. Hal ini berarti anak tunagrahita tidak dapat mencapai
kemandirian yang sesuai dengan ukuran standar kemandirian dan tanggung
jawab sosial anak normal yang lainnya dan juga akan mengalami masalah
dalam keterampilan akademik dan berkomunikasi dengan kelompok usia
sebaya sehingga anak tunagrahita membutuhkan bantuan atau bahkan
terkadang mereka harus bergantung dengan orang lain dalam melakukan
aktivitas sehari-hari.
Tunagrahita memiliki tiga klasifikasi dintaranya tunagrahita ringan,
tunagrahita sedang dan tunagrahita berat. Tunagrahita ringan adalah mereka
yang memiliki IQ antara 69-55 menurut skala Weschler. Mereka masih dapat
membaca, menulis, dan berhitung sederhana. Pada umumnya anak
tunagrahita ringan tidak mengalami gangguan fisik, mereka tampak seperti
anak normal lainnya. Hanya saja mereka tidak mampu melakukan
Tunagrahita sedang adalah mereka dengan IQ antara 54-40 menurut skala
Weschler. Mereka sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akademik
seperti belajar menulis, membaca dan berhitung walaupun mereka masih
dapat menulis seperti menulis namanya sendiri dan menulis alamat rumahnya.
Tetapi mereka masih bisa dididik untuk mengurus diri seperti mandi,
berpakaian, makan minum, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan
sebagainya. Namun dalam kehidupan sehari-hari mereka membutuhkan
pengawasan yang terus-menerus.
Terakhir adalah tunagrahita berat, mereka memiliki IQ antara 39-25
menurut skala Weschler. Anak tunagrahita berat sangat sulit bahkan tidak
bisa lepas dari bantuan orang lain untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari.
Mereka memerlukan bantuan perawatan total dalam hal merawat diri, makan
dan lainnya. Bahkan mereka memerlukan perlindungan dari bahaya sepanjang
hidupnya.1
Anak tunagrahita seperti ini tersebar di seluruh penjuru tanah air, salah
satunya di kota Depok. Berikut tabel jumlah anak penyandang cacat mental di
kecamatan yang berada di Kota Depok pada tahun 2014.2
1
Agustyawati dan Solicha, Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN, 2009), h. 139-141
2
Data Penduduk Kota Depok, Artikel diakses pada 11 Juli 2016,
5
Tabel 1. Data Anak Penyandang Cacat Mental di Kota Depok
No. Wilayah Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Kec. Sawangan 8 1 9
2 Kec. Bojongsari 6 2 8
3 Kec. Pancoranmas 8 2 10
4 Kec. Cipayung 9 3 12
5 Kec. Sukmajaya 16 4 20
6 Kec. Cilodong 11 3 14
7 Kec. Cimanggis 11 5 16
8 Kec.Tapos 13 1 14
9 Kec. Beji 29 19 48
10 Kec. Limo 7 2 9
11 Kec. Cinere 7 3 10
Kota Depok 125 45 170
Sumber : Data Bappeda Kota Depok Tahun 2014
Hingga saat ini penanganan anak tunagrahita tidak dipahami secara
mendalam oleh orang tua dan lembaga atau sekolah khusus anak tunagrahita.
Namun di Kota Depok terdapat Yayasan Pendidikan Luar Biasa (YPLB)
Nusantara Depok yang menerapkan dua sistem pengajaran. Sistem pengajaran
tersebut yaitu sekolah asrama (boarding school) dan sekolah non-asrama.
Pada sistem asrama dimana para siswa tinggal menetap di asrama YPLB
Nusantara Depok, sedangkan pada sekolah non-asrama, para siswa setiap pagi
rumah pada siang hari. Yayasan ini merupakan yayasan swasta yang didirkan
oleh Drs.Sujono, MM. Dengan menerapkan sistem sekolah asrama dan
sekolah non-asrama bagi anak tunagrahita, menjadikan yayasan ini berbeda
dengan sekolah luar biasa pada umumnya, sehingga atas pertimbangan
tersebut peneliti memilih siswa tunagrahita ringan baik yang asrama maupun
non-asrama untuk dijadikan subyek dalam penelitian ini agar dapat diketahui
perbedaan hasil dari terapi okupasi.
Tujuan didirikannya yayasan ini adalah untuk membantu, melayani dan
mendidik anak berkebutuhan khusus (ABK) usia dini sampai usia lanjut,
sehingga dari segi kognisi, afeksi dan psikomotornya diharapkan dapat
mandiri dan bermanfaat bagi masyarakat, agama, nusa dan bangsa. Untuk
dapat mewujudkan tujuan tersebut YPLB Nusantara Depok memiliki program
terapi okupasi bagi anak tunagrahita.
Terapi okupasi adalah terapi yang dilakukan melalui kegiatan atau
pekerjaan terhadap anak yang mengalami gangguan kondisi sensori motor.3
Terapi okupasi umumnya menekan pada kemampuan motorik halus, selain itu
terapi okupasi juga bertujuan untuk membantu seseorang agar dapat
melakukan kegiatan keseharian, aktivitas produktifitas dan pemanfaatan
waktu luang.
Terapi okupasi bertujuan untuk menimbulkan, meningkatkan atau
memperbaiki tingkat kemandirian seseorang yang mengalami gangguan fisik
maupun mental. Terapi okupasi terpusat untuk memperbaiki kemampuan
3
7
penyandang tunagrahita agar dapat merasakan sentuhan, rasa, bunyi dan
gerakan serta mengurangi ketergantungan terhadap orang lain. Terapi okupasi
juga meliputi pemanfaatan waktu luang diantaraanya dengan melakukan
permainan dan keterampilan sosial, melatih kekuatan tangan, genggaman,
kognitif dan mengikuti arah.4 Selain itu tujuan dari terapi okupasi adalah
untuk mengembalikan fungsi fisik, meningkatkan ruang gerak sendi, kegiatan
otot dan koordinasi gerakan, mengajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari,
seperti makan, berpakaian, belajar menggunakan fasilitas umum (telepon,
televisi, dan lain-lain baik dengan maupun tanpa alat bantu, mandi yang
bersih, dan sebagainya), membantu untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan
rutin di rumahnya, dan memberi saran penyederhanaan ruangan maupun letak
alat-alat kebutuhan sehari-hari.5
Namun pada program terapi okupasi yang telah berjalan di YPLB
Nusantara Depok, pihak sekolah tidak melakukan evaluasi terhadap terapi
okupasi yang telah dilakukan. Padahal evaluasi tersebut penting dilakukan
untuk mengetahui apakah terapi yang diberikan berjalan sesuai dengan tujuan
dari terapi okupasi dan memberikan dampak bagi anak tunagrahita serta faktor
pendukung dan penghambat keberhasilan terapi okupasi. Selain itu, penulis
juga ingin mengetahui hasil dari terapi okupasi bagi siswa yang asrama dan
siswa yang non-asrama.
Untuk dapat melihat apakah terapi okupasi bagi anak tunagrahita di
YPLB Nusantara Depok telah mencapai tujuan, maka perlu dilakukan
4
Geraldine Garner, Social and Rehabilitation Service, (United States: McGraw-Hill, 2008), h.111.
5
evaluasi dari hasil terapi okupasi untuk mengetahui keberhasilan terapi
okupasi. Untuk itu, penulis tertarik melakukan penelitian yang berjudul
Evaluasi Hasil Terapi Okupasi Bagi Anak Tunagrahita di Yayasan Pendidikan Luar Biasa (YPLB) Nusantara Depok.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas,
maka penulis membatasi penelitian ini pada persoalan mengenai evaluasi
hasil dari terapi okupasi yang dilakukan pada anak tunagrahita ringan yang
berada di asrama atau boarding school dan siswa yang non-asrama di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok.
2. Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dilakukan oleh peneliti pada penelitian
ini yaitu:
a. Bagaimana evaluasi hasil dari terapi okupasi bagi anak tunagrahita
di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan penelitian di atas, maka tujuan penelitian
ini yaitu:
a. Untuk menjelaskan evaluasi hasil dari terapi okupasi bagi anak
tunagrahita di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok.
2. Manfaat Penelitian
9
a. Secara akademik, penelitian ini diharapkan mampu memberikan
sumbangan pengetahuan dan wawasan baru bagi seluruh mahasiswa
yang berkaitan dengan pelayanan bagi penyandang tunagrahita.
b. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
masukan bagi lembaga untuk melakukan evaluasi hasil pada
pelaksanaan terapi okupasi.
D. Metodologi Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan secara
kualitatif. Menurut Sugiyono, penelitian kualitatif adalah suatu metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat post-positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah dimana peneliti adalah
sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan
secara purposive, teknik pengumpulan dengan triangulasi, analisis data
bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan
makna daripada generalisasi.6
Sedangkan menurut Bogdan Taylor, metodologi penelitian kualitatif
merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.7
Data yang dikumpulkan sesuai dengan tujuan penelitian yang
dideskripsikan yaitu berbentuk uraian-uraian atau kalimat, merupakan
informasi dari sumber data yang berhubugan dengan masalah yang diteliti.
Pendekatan secara kualitatif dipilih karena peneliti ingin
6
Prof. Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), (Bandung: Alfabeta, 2009), h.15.
7
mendeskripsikan, memperoleh gambaran nyata dan menggali informasi
yang jelas mengenai hasil dari terapi okupasi bagi anak tunagrahita di
Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok serta memberikan
penilaian terhadap terapi okupasi yang telah dilakukan untuk anak
tunagrahita.
2. Jenis Penelitian
Dilihat dari jenis penelitian, maka jenis penelitian yang peneliti
gunakan adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang dilakukan
untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih
(independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan
variabel yang lain.8
Pada jenis penelitian deskriptif, data yang dikumpulkan berupa
kata-kata, gambar dan bukan angka. Dengan demikian, laporan penelitian akan
berisi kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut.
Data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan dan
dokumen resmi lainnya.9
Jadi pada penelitian kualitatif yang dilakukan oleh peneliti berisi
kutipan wawancara dari kepala sekolah, terapis, pengasuh, orang tua anak
dan melakukan observasi pada anak tunagrahita yang terlibat pada terapi
okupasi tersebut serta dokumentasi yang terkait dengan penelitian
tersebut untuk menggambarkan kegiatan dari terapi okupasi bagi anak
tunagrahita di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok.
8
Prof. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 13.
9
11
3. Lokasi dan Waktu Penelitian a) Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang diambil oleh peneliti dalam mencari
informasi dan data-data terkait dengan objek penelitian adalah di
Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara yang beralamat di Jalan
Sempu I Rt. 006 Rw. 004 No. 7-8 Beji, Depok.
b) Waktu Penelitian
Sedangkan waktu penelitian atau kegiatannya terhitung mulai
bulan September 2015 sampai dengan September 2016.
4. Teknik Pemilihan Informan
Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif, tehnik pemilihan
informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling
yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan
tertentu.10
Dengan demikian, pertimbangan dalam pemilihan informan,
peneliti melakukan diskusi dengan ketua YPLB Nusantara Depok, yaitu
Drs. Sujono, MM. Hal tersebut dilakukan mengingat tidak semua anak
tunagrahita dapat diajak berkomunikasi, sehingga dalam memilih
informan anak, ketua yayasan merekomendasikan anak tunagrahita
ringan untuk menjadi informan karena mereka masih dapat
berkomunikasi. Selain itu ketua yayasan juga merekomendasikan orang
tua anak yang bersedia terlibat dalam penelitian ini karena peneliti akan
melakukan wawancara kepada orangtua anak tersebut untuk mengetahui
10
sejauh mana perkembangan anak sebelum dan sesudah mengikuti terapi
okupasi.
Pengambilan data dilakukan kepada orang yang terlibat langsung
dalam penelitian ini. Peneliti melakukan penelitian ini dengan mengambil
subjek penelitian sebanyak 10 orang. Berikut ini tabel informan yang
terpilih dalam pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian.
Tabel 2. Rancangan Penelitian dalam Pemilihan Informan
No. Informan
(Sumber Data)
Jumlah Informasi Yang Dicari
1) Ketua YPLB
Nusantara
1 orang Mengetahui tentang profil dari Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok melalui wawancara 2) Terapis (Ibu Novi) 1 orang Mengetahui pelaksanaan
dari terapi okupasi yang
3 orang Untuk mengetahui
aktivitas sehari-hari anak
2 orang Untuk mengetahui
perubahan yang terjadi
3 orang Untuk mengetahui
perubahan yang terjadi
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis
13
data.11 Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
a)Teknik Observasi
Observasi (pengamatan) merupakan sebuah teknik pengumpulan
data yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal
yang berkaitan dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, benda-benda,
waktu, peristiwa, tujuan dan perasaan.12 Inti dari observasi adalah
adanya perilaku yang tampak dan adanya tujuan yang ingin dicapai.
Perilaku yang tampak dapat berupa perilaku yang dapat dilihat
langsung oleh mata, dapat didengar, dapat dihitung, dan dapat
diukur.13
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik observasi
partisipasi pasif, dimana peneliti datang ke tempat kegiatan orang yang
akan diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.14
Peneliti akan melakukan observasi hanya kepada anak tunagrahita
ringan yaitu SA, AR dan DA.
b) Teknik Wawancara
Wawancara merupakan percakapan antara dua orang yang salah
satunya bertujuan untuk menggali dan mendapatkan informasi untuk
suatu tujuan tertentu.15 Bentuk wawancara yang digunakan adalah
11
Prof. Dr. Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2005), h.10. 12
M.Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metodelogi Penelitian Kualitatif , (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h. 165.
13
Haris Herdiansyah, Metodelogi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial, (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), h.131.
14
M.Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metodelogi Penelitian Kualitatif, h. 170. 15
wawancara tidak terstruktur karena peneliti akan melakukan
wawancara secara mendalam dan percakapan ini mirip dengan
percakapan informal.
Penggunaan metode wawancara dipilih karena peneliti dapat
menggali informasi secara mendalam dari para informan tentang
pelaksanaan dan hasil dari terapi okupasi bagi anak tunagrahita di
YPLB Nusantara Depok. Selain itu peneliti juga bisa menggali
informasi dari sumber-sumber yang sudah ditentukan seperti ketua
yayasan, kepala sekolah, terapis, pengasuh dan orang tua informan.
6. Sumber Data
Dilihat dari sumbernya, teknik pengumpulan data terbagi dua
bagian, yaitu :
a) Data primer, merupakan data penelitian yang diperoleh secara langung
dari sumber asli (tidak perantara) yang secara khusus dikumpulkan
oleh penulis untuk menjawab permasalahan dalam penelitian.16 Jadi
data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari narasumber,
sehingga penulis terlibat langsung. Dalam penelitian ini, data diperoleh
dari terapis, pengasuh, orang tua didik serta anak tunagrahita.
b) Data sekunder, adalah data yang sudah tersedia atau sudah
dikumpulkan dari bahan bacaan.17 Data ini merupakan data yang
diperoleh dari catatan-catatan atau dokumen yang berkaitan dengan
penelitian maupun instansi yang terkait lainnya. Dalam penelitian ini
16
Rosadi Ruslan, Metode Penelitian Pubic Relation dan Komunikasi, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2004), h.24
17
15
diantaranya data yang diperoleh dari studi kepustakaan.
7. Teknik Analisis Data
Setelah data lapangan terkumpul, hasil penelitian tersebut diolah dan
dianalisis dengan teknik deskriptif analisis secara komprehensif dan
mendalam sesuai dengan data dan informasi dari hasil wawancara
kemudian dipadukan dengan catatan lapangan yang dibuat oleh penulis
pada saat penelitian berlangsung, kemudian mengelompokkan data-data
yang ada, yaitu dengan menggunakan data yang bersifat deskriptif untuk
mendapatkan gambaran yang konkrit tentang evaluasi hasil terapi okupasi
pada anak penyandang tunagrahita. Metode yang digunakan dalam skripsi
ini adalah analisis deskriptif.
Ada berbagai cara untuk menganalisis data, tetapi secara garis
besarnya dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a) Reduksi data, yaitu dimana penulis mencoba memilih data yang
relevan dengan evaluasi hasil dari terapi okupasi bagi anak
tunagrahita.
b) Penyajian data, setelah reduksi data selanjutnya data tersebut disusun
dan disajikan dalam bentuk narasi, visual gambar, matrik, bagan, tabel
dan lain sebagainya.
c) Penyimpulan atas apa yang disajikan, pengambilan kesimpulan
dengan menghubungkan dari tema tersebut sehingga memudahkan
untuk menarik kesimpulan.
8. Keabsahan Data
dalam melakukan penelitian kualitatif seringkali menghadapi persoalan
dalam menguji keabsahan hasil penelitian, hal tersebut dikarenakan oleh
beberapa hal, yaitu karena; (1) subjektifitas penulis merupakan hal yang
dominan dalam penelitian kualitatif, (2) alat peneliti yang diandalkan
adalah wawancara dan observasi (apapun bentuknya) mendukung banyak
kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol
dalam observasi partisipasi, (3) sumber data kualitatif yang kurang
credible akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian.18
Teknik pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian kali ini
pendekatannya lebih kepada triangulasi. Adapun triangulasi adalah teknik
pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu diluar data itu
untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.19
Teknik keabsahan data yang digunakan oleh peneliti adalah triangulasi
sumber dan metode. Menurut Burhan Bungin, triangulasi yaitu
membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara,
sedangkan triangulasi sumber membandingkan apa yang dikatakan di
depan umum dengan apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian
dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.20
9. Pedoman Penulisan Skripsi
Dalam melakukan penulisan skripsi ini, penulis penulis berpedoman
pada buku “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah”, (skripsi, tesis, disertai).
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010) h.330
20
17
Diterbitkan oleh CeQDA (Center For Quality Development an Assurance) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Press tahun
2007.21
10.Tinjauan Pustaka
Dalam penulisan penelitian ini, penulis melakukan tinjauan pustaka
sebagai langkah dari penyusunan skripsi yang penulis teliti, agar terhindar
dari kesamaan judul dan lain-lain dari skripsi yang sudah ada
sebelum-sebelumnya. Setelah mengadakan tinjauan pustaka, maka peneliti
menggunakan skripsi sebagai tinjauan pustaka pada skripsi ini.
Peneliti menggunakan literatur berupa skripsi yang dianggap relevan
dengan penelitian ini. Skripsi pertama membahas tentang “Pola
pengasuhan lembaga untuk mengembangkan potensi dan fungsi sosial
anak tunagrahita di SLB-C Khrisna Murti Jakarta” oleh Imam Panji Saputro, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada
penelitian ini membahas memaparkan tentang bagaimana pola asuh
lembaga, hambatan serta solusi yang tepat untuk mengembangkan potensi
anak tunagrahita di SLB-C Khrisna Murti Jakarta.22
Skripsi kedua membahas tentang “Pengaruh terapi okupasi terhadap
kemandirian penderita stroke di instalasi rehabilitasi medik RSPAD Gatot
Soebroto Ditkesad tahun 2011” oleh Galih Puteri Ardhiyani, Universitas
Indonesia tahun 2013. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh terapi okupasi dalam pengembalian kemandirian penderita
21
Pedoman Penulisan skripsi, Tesis, dan Disertai UIN, (Jakarta, UIN Jakarta Press: 2007) 22
stroke. Sampel penelitian ini adalah penderita stroke yang mengikuti terapi
okupasi dan yang tidak mengikuti terapi okupasi di Instalasi Rehab Medik
RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad pada tahun 2011. Sampel diambil
menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini adalah terapi okupasi memiliki pengaruh yang besar dalam mengembalikan
kemandirian penderita stroke.23 Pada penelitian ini akan membahas
tentang evaluasi hasil dari terapi okupasi bagi anak tunagrahita di YPLB
Nusantara Depok. Terjadi kesamaan dalam objek antara penelitian
sebelumnya yaitu terapi okupasi.
E. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan penyajian dalam skripsi ini dijabarkan
atas 5 bab yang terdiri dari sub-sub bab yang saling berkaitan sebagai
berikut:
BAB I : Pendahuluan
Dalam bab ini peneliti membahas mengenai latar belakang
masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat
penelitian, metode penelitian, tinjauan pustaka dan sistematika
penulisan.
BAB II : Landasan Teori
Dalam bab ini peneliti membahas mengenai definisi evaluasi,
model evaluasi, kriteria evaluasi, tujuan dan manfaat evaluasi,
definisi terapi, fungsi dan tujuan terapi, definisi terapi okupasi,
indikasi terapi okupasi, fungsi terapi okupasi, jenis terapi
23
19
okupasi, definisi anak tunagrahita, klasifikasi tunagrahita,
hambatan tunagrahita, penyebab tunagrahita dan karakteristik
tunagrahita. BAB III : Profil Lembaga
Dalam bab ini penulis membahas mengenai gambaran umum
dari Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok yaitu
sejarah berdirinya YPLB Nusantara Depok, profil YPLB
Nusantara Depok, visi, misi, tujuan YPLB Nusantara Depok,
struktur kepengurusan YPLB Nusantara Depok, prosedur
penerimaan siswa YPLB Nusantara Depok, program kegiatan
YPLB Nusantara Depok serta keadaan guru dan murid YPLB
Nusantara Depok dan profil siswa.
BAB IV : Temuan dan Analisis
Pada bab ini memuat tentang temuan-temuan dan analisis yang
mendukung secara garis besar mengenai evaluasi hasil terapi
okupasi bagi anak tunagrahita di YPLB Nusantara Depok
berupa pelaksanaan terapi okupasi di YPLB Nusantara, tujuan
dari terapi okupasi yang telah dicapai oleh YPLB Nusantara
dan perubahan siswa YPLB Nusantara Depok dari hasil terapi
okupasi.
BAB V : Penutup
20 BAB II TINJAUAN TEORI
A. Evaluasi
1. Pengertian Evaluasi
Evaluasi secara etimologi adalah penaksiran, perkiraan keadaaan dan
penentuan nilai. Sedangkan berdasarkan pengertiannya evaluasi adalah
mengkritisi suatu program dengan melihat kekurangan, kelebihan, pada
konteks, input, proses, dan produk pada sebuah program. Ada beberapa
konsep tentang evaluasi dan bagaimana melakukannya, kita namakan
sebagai pendekatan evaluasi. Istilah pendekatan evaluasi ini diartikan
sebagai beberapa pendapat tentang apa tugas evaluasi dan bagaimana
dilakukan, dengan kata lain tujuan dari prosedur evaluasi.1
Tetapi pada dasarnya evaluasi dibutuhkan dalam setiap program untuk
mengetahui keberhasilan dan kemajuannya serta sasaran apakah sudah
tercapai atau belum dan hasilnya nanti diperbaiki menjadi lebih baik pada
program selanjutnya. Selain itu dapat dikatakan bahwa evaluasi
merupakan proses penting yang harus dilakukan secara seksama agar
tujuan yang hendak dicapai dapat terlaksana dengan baik.2
Evaluasi dapat mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi formatif, evaluasi
dipakai untuk perbaikan dan pengembangan kegiatan yang sedang berjalan
(program, orang, produk, dan sebagainya). Fungsi sumatif, evaluasi
1
Nurul Hidayati, Metodologi Penelitian Dakwah: Dengan Pendekatan Kualitatif,
(Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, Desember 2006), h.124.
2
dipakai untuk pertanggungjawaban, keterangan, seleksi atau lanjutan. Jadi
evaluasi hendaknya membantu pengembangan implementasi, kebutuhan
suatu program, perbaikan program, pertanggungjawaban, seleksi, motivasi,
menambah pengetahuan dan dukungan dari mereka yang terlibat.3
2. Model Evaluasi
Dalam kegiatan evaluasi, terdapat beberapa model-model evaluasi
yang dapat digunakan. Menurut Pietrzak, Ramler, Renner, Ford, dan
Gilbert, mengemukakan tiga tipe evaluasi, yaitu evaluasi input (inputs), evaluasi proses (process), dan evaluasi hasil (outcomes). Ketiga model evaluasi tersebut dijelaskan sebagai berikut:4
a) Evaluasi Input
Evaluasi ini memfokuskan pada berbagai unsur yang masuk dalam
pelaksanaan suatu program. Tiga unsur (variable) utama yang terkait dengan evaluasi input adalah klien, staf, dan program. Dari ketiga
unsur diatas penulis akan menguraikan sebagai berikut:
1) Peserta program (klien), meliputi: usia, jenjang pendidikan dan
latar belakang keluarga.
2) Pelaksanaan (staf), meliputi: aspek demografi, seperti latar
belakang pendidikan dan pengalaman profesi.
3) Program, meliputi: cara pelaksanaan program, lama waktu
layanan dan sumber-sumber rujukan yang tersedia.
3
Farida Yusuf Tayibnapis, Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi: Untuk Program Pendidikan dan Penelitian, (Jakarta, Rineka Cipta, 2008), h.4.
4
22
b) Evaluasi Proses
Evaluasi proses menurut Pietrzak, dkk adalah memfokuskan diri
pada aktifitas program yang melibatkan interaksi langsung antara klien
dengan staf yang merupakan pusat dari pencapaian tujuan. Dalam
evaluasi ini yang dinilai adalah pelaksanaan terapi okupasi yang
dilakukan lembaga dan kualitas layanan yang diberikan. Tipe evaluasi
ini diawali dengan analisis dari sistem pemberian layanan dari suatu
program. Dalam upaya mengkaji nilai komponen pemberian layanan,
hasil analisis harus dikaji berdasarkan kriteria yang relevan seperti;
kebijakan lembaga, tujuan proses (process goals) dan kepuasan klien.
c) Evaluasi Hasil
Evaluasi ini dilakukan untuk menilai seberapa jauh tujuan-tujuan
yang sudah direncanakan tercapai (overall impact) dari suatu pelayanan terhadap penerima layanan.5 Dengan demikian, evaluasi ini
diarahkan pada dampak keseluruhan dari suatu pelayanan terhadap
klien yang menjadi penerima layanan ketika layanan telah selesai.
Pertanyaan utama yang akan muncul dalam evaluasi ini adalah bila
suatu layanan telah berhasil mencapai tujuannya, apakah penerima
layanan mengalami perubahan setelah ia menerima layanan tersebut.
Berdasarkan pertanyaan diatas, maka seorang evaluator akan
mengkonstruksikan kriteria keberhasilan dari suatu layanan yang
diberikan. Kriteria keberhasilan ini akan dapat dikembangkan sesuai
5
dengan kemajuan suatu program (programme oriented) ataupun pada terjadinya perubahan klien (client oriented).6
Pertanyaan kunci yang ingin dijawab dalam evaluasi ini adalah :
1) Apakah tujuan pelayanan klien tercapai pada tingkat yang
sesuai dengan yang diharapkan?
2) Apakah pelayanan menghasilkan perubahan pada penerima
layanan?
3. Kriteria Evaluasi
Dalam hubungan dengan kriteria keberhasilan yang digunakan untuk
suatu proses evaluasi, Feurstein mengajukan beberapa indikator yang perlu
untuk dipertimbangkan. Indikator yang penulis gunakan menurut
Feurstein, yaitu:
a) Indikator Efisiensi
Dalam indikator ini menunjukkan apakah sumber daya dan aktifitas
yang dilaksanakan guna mencapai tujuan dimanfaatkan secara tepat
guna atau tidak memboroskan sumber daya yang ada.
b) Indikator Pemanfaatan
Indikator ini melihat seberapa banyak suatu layanan yang sudah
disediakan oleh pemberi layanan dipergunakan oleh kelompok
sasaran.7
6
Isbandi Rukminto Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas, (Jakarta: FEUI, 2001), h. 129.
7
24
4. Tujuan dan Manfaat Evaluasi
Suatu program yang diselenggarakan perlu dilakukan evaluasi, karena
biasanya evaluasi lebih difokuskan pada pengidentifikasian mengenai apa
yang sebenarnya terjadi pada pelaksanaan atau penerapan program. Maka
dari itu tujuan evaluasi antara lain:
a) Mengidentifikasi tingkat pencapaian tujuan.
b) Mengukur dampak langsung yang terjadi pada kelompok sasaran.
c) Mengetahui dan menganalisis konsekuensi-konsekuensi lain yang
mungkin terjadi diluar rencana (externalities).8
Sedangkan manfaat evaluasi menurut Isbandi Rukminto dengan
mengutip pendapat Feurstein menyatakan ada 10 alasan mengapa suatu
evaluasi perlu dilakukan, antara lain:
a) Melihat apa yang sudah dicapai.
b) Mengukur kemajuan, yang dikaitkan dengan tujuan program.
c) Meningkatkan pemantauan, agar tercapai manajemen yang lebih
baik.
d) Mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan untuk memperkuat
program itu sendiri.
e) Melihat apakah usaha sudah dilakukan secara efektif, guna melihat
perbedaan apa yang telah terjadi setelah diterapkan suatu program.
f) Melakukan analisa biaya dan manfaat (cost benefit), apakah biaya yang dikeluarkan cukup masuk akal (reasonable).
8
g) Mengumpulkan berbagai informasi yang bisa dimanfaatkan dalam
merencanakan dan mengelola kegiatan program secara lebih baik.
h) Berbagi pengalaman, sehingga pihak lain tidak terjebak dalam
kesalahan yang sama, atau mengajak pihak lain untuk ikut
melaksanakan metode yang serupa bila metode yang dijalankan telah
berhasil dengan baik.
i) Meningkatkan keefektifan, agar program tersebut memberikan
dampak yang lebih luas.
j) Memungkinkan terciptanya perencanaan yang lebih baik,
memberikan kesempatan untuk mendapatkan masukan dari
masyarakat, komunitas fungsional dan komunitas lokal.9
B. Terapi Okupasi 1. Pengertian Terapi
Terapi berasal dari bahasa Yunani yaitu Therapia yang berarti penyembuhan.10 Terapi adalah upaya pelengkap dalam memperbaiki
disfungsi pada tubuh.11 Sehingga terapi merupakan proses pengobatan atau
penyembuhan yang terdiri dari seorang terapis dan klien dengan tujuan
untuk memulihkan keadaan seseorang agar dapat kembali normal.
2. Fungsi dan Tujuan Terapi
Terapi sendiri mempunyai fungsi dan tujuan sebagai berikut :
a) Memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar
b) Mengurangi tekanan emosional
9
Isbandi Rukminto Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat, dan Intervensi Komunitas: Pengantar Pada Pemikiran dan Pendekatan Praktis, h. 127.
10
Richard Nelson Jones, Teori dan Praktik Konseling dan Terapi, (Jakarta: Pustaka Belajar, 2011), h.2.
11
26
c) Mengembangkan potensi klien
d) Mengubah kebiasaan
e) Memodifikasi struktur kognisi
f) Memperoleh pengetahuan tentang diri
g) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan hubungan
interpersonal
h) Meningkatkan kemampuan mengambil keputusan
i) Mengubah kondisi fisik
j) Mengubah kesadaran diri
k) Mengubah lingkungan sosial.12
3. Pengertian Terapi Okupasi
Terapi okupasi atau occupational theraphy berasal dari kata
occupational dan theraphy, occupational sendiri berarti aktivitas dan
theraphy adalah penyambuhan dan pemulihan. Eleonor Clark Slagle adalah salah satu pioneer dalam pengembangan ilmu OT atau terapi
okupasi, bersama dengan Adolf Meyer dan William Rush Dutton. Terapi
okupasi pada anak memfasilitasi sensori dan fungsi motorik yang sesuai
pada pertumbuhan dan perkembangan anak untuk menunjang
kemampuan anak dalam bermain, belajar dan berinteraksi di
lingkungannya. Terapi okupasi adalah terapi yang dilakukan melalui
12
Purwandari, Buku Pegangan Kuliah Psikoterapi, Universitas Negeri Yogyakarta, 2003, h. 39, diakses pada tanggal 12 Januari 2016 (artikel dapat didownload di
kegiatan atau pekerjaan terhadap anak yang mengalami gangguan
kondisi sensori motor.13
Terapi okupasi umumnya menekan pada kemampuan motorik
halus, selain itu terapi okupasi juga bertujuan untuk membantu
seseorang agar dapat melakukan kegiatan keseharian, aktivitas
produktifitas dan pemanfaatan waktu luang. Terapi okupasi adalah salah
satu jenis terapi kesehatan yang merupakan bagian dari rehabilitasi
medis. Pada terapi okupasi penyandang cacat akan dilatih untuk
melakukan kegiatan aktivitas sehari-hari sehingga nantinya dapat
mengurangi ketergantungan terhadap orang lain.
Prinsip-prinsip terapi okupasi antara lain untuk menimbulkan
gerakan dan melakukan aktivitas sehari-hari. Tujuan terapi okupasi
adalah untuk membantu individu mencapai kemandirian dalam semua
aspek kehidupan mereka.14 Pada dasarnya terapi okupasi terpusat pada
pendekatan sensori atau motorik atau kombinasinya untuk memperbaiki
kemampuan dengan merasakan sentuhan, rasa, bunyi, dan gerakan.
Selain itu, terapi okupasi juga meliputi permainan dan keterampilan
sosial, melatih kekuatan tangan, genggaman, kognitif, dan mengikuti
arah. Dalam terapi okupasi biasanya terapis berkonsultasi dengan dokter,
perawat, guru, dan pekerja sosial atau konselor.
13
E. Kosasih, Cara Bijak Memahami Anak Berkebutuhan Khusus, (Bandung: Yrama Widya, 2012), h. 13.
14
28
4. Tujuan Terapi Okupasi
Adapun tujuan dari terapi okupasi antara lain:
a) Mengembalikan fungsi fisik, meningkatkan ruang gerak sendi,
kegiatan otot dan koordinasi gerakan.
b) Mengajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari, seperti makan,
berpakaian, belajar menggunakan fasilitas umum (telepon, televisi,
dan lain-lain baik dengan maupun tanpa alat bantu, mandi yang
bersih, dan sebagainya).
c) Membantu untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan rutin di
rumahnya, dan memberi saran penyederhanaan ruangan maupun
letak alat-alat kebutuhan sehari-hari.15
5. Indikasi Terapi Okupasi
Indikasi dilakukannya terapi okupasi antara lain jika:
a) Seseorang yang kurang berfungsi dalam kehidupannya karena
kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam mengintegrasikan
perkembangan psikososialnya.
b) Terdapat kelainan tingkah laku yang terlibat dalam kesulitannya
berkomunikasi dengan orang lain.
c) Terdapat tingkah laku yang tidak wajar dalam mengekspresikan
perasaan atau kebutuhan yang primitif.
d) Terdapat ketidakmampuan menginterpretasikan rangsangan
sehingga reaksi terhadap rangsangan tersebut tidak wajar.
15
e) Terhentinya seseorang dalam fase pertumbuhan tertentu atau
seseorang yang mengalami kemunduran.
f) Seseorang yang lebih mudah mengekspresikan perasaannya
melalui aktivitas daripada percakapan.
g) Seseorang yang merasa lebih mudah mempelajari sesuatu dengan
cara mempraktekannya daripada membayangkannya.
h) Seseorang yang cacat tubuh yang mengalami gangguan dalam
kepribadiannya.16
6. Fungsi Terapi Okupasi
Adapun fungsi terapi okupasi antara lain:
a) Sebagai perlakuan psikiatri yang spesifik untuk membangun
kesempatan-kesempatan demi hubungan yang lebih memuaskan,
membantu pelepasan, atau sublimasi dorongan emosional, sebagai
suatu alat diagnostik.
b) Terapi khusus untuk mengembalikan fungsi fisik, meningkatkan
ruang gerak sendi, kekuatan otot dan koordinasi gerakan.
c) Mengajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti makan,
berpakaian, belajar menggunakan fasilitas umum, baik dengan
maupun tanpa alat bantu.
16
30
d) Membantu pasien untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan rutin
dirumahnya dan memberi saran penyederhanaan ruangan maupun
letak alat-alat kebutuhan sehari-hari.
e) Meningkatkan toleransi kerja, memelihara dan meningkatkan
kemampuan yang masih ada.
f) Eksplorasi prevokasional untuk memastikan kemampuan fisik dan
mental pasien, penyesuaian sosial, dan ketertarikan,
kebiasaan-kebiasaan kerja, keterampilan dan potensial untuk dikerjakan.
g) Mengarahkan minat dan hobi agar dapat digunakan.17
7. Jenis Terapi Okupasi
Adapun jenis terapi okupasi antara lain18:
a) Activity of daily living (aktivitas sehari-hari)
Aktivitas yang dituju untuk merawat diri yang juga disebut
basic activities of daily living atau personal activities of daily living terdiri dari kebutuhan dasar fisik (makan, cara makan, kemampuan berpindah, merawat benda pribadi, tidur, buang air
besar, mandi dan menjaga kebersihan pribadi) dan fungsi
kelangsungan hidup (memasak, berpakaian, berbelanja dan
menjaga lingkungan hidup seseorang agar tetap sehat).
17
Monique Prillagia Nurzhafarina, Perencanaan dan Perancangan Alat Bantu Terapis bagi Anak Penderita Autis, (Skripsi S1), Jurusan Tehnik Industri, Universitas Sebelas Maret, 2015, dari: https://eprints.uns.ac.id/18664/3/BAB_II.pdf, artikel diakses pada tanggal 6 Januari 2016.
18
Nurdayati Praptiningrum, Terapi Okupasi, dari
b) Pekerjaan
Kerja adalah kegiatan produktif, baik dibayar atau tidak
dibayar. Pekerjaan dimana seseorang menghabiskan sebagian
besar waktunya biasanya menjadi bagian penting dari identitas
pribadi dan peran sosial, memberinya posisi dalam masyarakat dan
rasa nilai sendiri sebagai anggota yang ikut berperan.
Pekerjaan yang berbeda diberi nilai-nilai sosial yang
berbeda pada masyarakat. Termasuk aktivitas yang diperlukan
untuk dilibatkan pada pekerjaan yang menguntungkan/
menghasilkan atau aktivitas sukarela seperti minat pekerjaan,
mencari pekerjaan dan kemahiran, tampilan pekerjaan, persiapan
pengunduran dan penyesuaian, partisipasi sukarela dan relawan
sukarela.
c) Leisure (pemanfaatan waktu luang)
Aktivitas mengisi waktu luang adalah aktivitas yang
dilakukan pada waktu luang yang bermotivasi dan memberikan
kegembiraan, hiburan, serta mengalihkan perhatian pasien.
Aktivitas yang tidak wajib yang pada hakekatnya kebebasan
beraktivitas. Adapun jenis-jenis aktivitas waktu luang seperti
menjelajah waktu luang (mengidentifikasi minat, keterampilan,
kesempatan, dan aktivitas waktu luang yang sesuai) dan partisipasi
waktu luang (merencanakan dan berpartisipasi dalam aktivitas
32
dengan kegiatan yang lainnya, dan memperoleh, memakai, dan
mengatur peralatan dan barang yang sesuai).
C. Anak Tunagrahita 1. Pengertian Anak
Anak merupakan anugrah terindah yang dititipkan Tuhan kepada para
pasangan suami isteri yang harus dijaga dengan baik. Anak membutuhkan
kasih sayang, perhatian, rasa aman dalam setiap tumbuh kembangnya.
Pengertian anak menurut pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, yang dimaksud anak menurut
undang undang tersebut adalah seseorang yang belum berumur 18
(delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan.19
Menurut John Locke, anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka
terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan.20
Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa anak merupakan
manusia yang berusia 0 hingga mencapai 18 tahun dan memiliki pribadi
yang bersih dan peka terhadap rangsangan dari lingkungan.
2. Pengertian Tunagrahita
Tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang
mempunyai kemampuan intelektual dibawah rata-rata. Dalam bahasa asing
istilah yang digunakan seperti mental retardation, mentally retarded, dan
mental deficiency.21
19
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, (Surabaya: Kesindo Utama, 2003), h. 4.
20
Hastuti, Psikologi Perkembangan Anak, (Jakarta: Tugu Publisher, 2012), cet.1, h. 11. 21
Seseorang dikategorikan berkelainan mental subnormal atau
tunagrahita jika ia memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal, sehingga
untuk meningkatkan kemampuannya memerlukan bantuan atau layanan
spesifik, termasuk dalam program pendidikannya.22
3. Klasifikasi Tunagrahita23 a) Tunagrahita Ringan
Tunagrahita ringan sering disebut juga moron atau debil. Kelompok ini memiliki IQ antara 69-55 menurut skala Weschler.
Mereka masih dapat membaca, menulis, dan berhitung sederhana.
Dengan bimbingan dan pendidikan yang baik, anak terbelakang mental
ringan pada saatnya dapat memperoleh penghasilan untuk dirinya
sendiri karena mereka dapat dididik menjadi tenaga kerja seperti
pekerjaan laundry, pertanian, peternakan dan pekerjaan rumah tangga.
Pada umumnya anak tunagrahita ringan tidak mengalami gangguan
fisik, mereka tampak seperti anak normal lainnya. Hanya saja mereka
tidak mampu melakukan penyesuaian sosial secara independen.
b) Tunagrahita Sedang
Anak tunagrahita sedang disebut juga imbisil. Kelompok ini memiliki IQ antara 54-40 menurut skala Weschler. Mereka sangat sulit
bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti belajar menulis,
membaca dan berhitung walaupun mereka masih dapat menulis, secara
sosial seperti menulis namanya sendiri dan menulis alamat rumahnya.
22 Bratanata, “Pendidikan Anak Terbelakang Mental” dalam Mohammad Effendi,
Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 88. 23
Sumaryana, Pembelajaran Keterampilan Membuat Conblok pada Anak Tunagrahita, artikel diakses pada 8 Maret 2017 dari
34
Tetapi mereka masih bisa dididik untuk mengurus diri seperti mandi,
berpakaian, makan minum, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan
sebagainya. Namun dalam kehidupan sehari-hari mereka
membutuhkan pengawasan yang terus-menerus.
c) Tunagrahita Berat
Anak tunagrahita berat sering disebut idiot. Kelompok ini memiliki IQ antara 39-25 menurut skala Weschler. Anak tunagrahita berat
sangat sulit bahkan tidak bisa lepas dari bantuan orang lain untuk
memenuhi kehidupannya sehari-hari. Mereka memerlukan bantuan
perawatan total dalam hal merawat diri, makan dan lainnya. Bahkan
mereka memerlukan perlindungan dari bahaya sepanjang hidupnya.24
4. Hambatan Tunagrahita
Pada dasarnya tunagrahita menunjukkan kecenderungan
kemampuan yang rendah pada fungsi umum kecerdasannya karena
keterbatasan fungsi kognitif. Fungsi kognitif sendiri merupakan
kemampuan seseorang untuk mengenal atau memperoleh pengetahuan.
Beberapa hambatan yang tampak pada anak tunagrahita dari segi
kognitif yang juga menjadi karakteristiknya yaitu:
a) Cenderung memiliki kemampuan berpikir konkret
b) Mengalami kesulitan dalam konsentrasi
c) Kemampuan sosialisasinya terbatas
d) Tidak mampu menyimpan instruksi yang sulit
e) Kurang mampu menganalisis dan menilai kejadian yang dihadapi
24
f) Pada tunagrahita mampu didik, prestasi tertinggi bidang baca, tulis
dan hitung tidak lebih dari anak normal setingkat kelas III-IV SD.25
Menurut Hallahan, terdapat empat bidang hambatan kognisi pada
anak yang tergolong kategori retardasi mental. Empat bidang tersebut
antara lain hambatan perhatian, ingatan, bahasa dan prestasi akademik.
a) Hambatan perhatian merupakan hambatan ketika mereka kesulitan
mencurahkan perhatiannya kepada aspek yang bermacam-macam.
b) Hambatan ingatan yaitu ketika mereka sulit mengingat suatu benda
atau proses yang telah dialaminya.
c) Hambatan bahasa yaitu mengalami kesulitan dalam mengingat apa
yang dilihat dan didengar sehingga menyebabkan kesulitan dalam
berbicara.
d) Prestasi akademik yaitu terlambat dalam perkembangan mental,
tunagrahita mengalami masalah dalam keterampilan akademik
dibanding kelompok usia sebaya.26
5. Penyebab Tunagrahita
Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang
menjadi tunagrahita. Para ahli dari berbagai ilmu telah berusaha
membagi faktor-faktor penyebab ini diantaranya sebagai berikut:27
25
Mohammad Effendi, Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 98
26
Agustyawati dan Solicha, Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN, 2009), h. 155
27
36
a) Faktor keturunan
Adanya kelainan kromosom baik autosom (mempunyai
kromosom 3 ekor pada kromosom nomor 21 sehingga anak
mengalami Langdon Down’s Syndrome dan pada trisomi
kromosom nomor 15 anak akan menderita Patau’s Syndrome
dengan ciri-ciri berkepala kecil, mata kecil, berkuping aneh,
sumbing dan kantung empedu yang besar. Adanya kegagalan
meiosis sehingga menimbulkan duplikasi dan translokasi) maupun
pada kelainan gonosom (gonosom yang seharusnya XY, karena
kegagalan menjadi XXY atau XXXY.
b) Gangguan metabolisme dan gizi.
Metabolisme dan gizi merupakan hal yang penting bagi
perkembangan individu terutama perkembangan sel-sel otak.
Beberapa kelainan yang disebabkan oleh kegagalan metabolisme
dan kekurangan gizi diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Phenylketonuria
Salah satu akibat gangguan metabolisme asam amino juga
kelainan gerakan enzym phenylalanine hydroxide. Gejala
umum yang nampak adalah tunagrahita, kekurangan pigmen,
microchepally, serta kelainan tingkah laku.
2) Cretinisme
Disebabkan oleh keadaan hypohyroidism kronik yang
terjadi selama masa janin atau segera setelah melahirkan. Berat
Gejala umum yang nampak adalah adanya ketidaknormalan
fisik yang khas dan ketunagrahitaan dan awal gejalanya dengan
kurangnya nafsu makan, anak menjadi sangat pendiam, jarang
tersenyum dan tidur yang berlebihan.
3) Infeksi dan keracunan
Adanya infeksi dan keracunan terjangkitnya penyakit-penyakit
selama janin masih berada dalam kandungan ibunya yang
menyebabkan anak lahir menjadi tunagrahita, antara lain:
a) Rubella
Penyakit ini menjangkiti ibu pada dua belas minggu
pertama kehamilan. Selain tunagrahita,
ketidaknormalan yang disebabkan penyakit ini adalah
kelainan pendengaran, penyakit jantung bawaan, berat
badan yang sangat rendah pada waktu lahir dan
lain-lain.
b) Syndrome Gravidity Beracun
Ketunagrahitaan yang timbul dari Syndrome Gravidity
Beracun terjadi pada sebagian bayi yang lahir prematur,
kerusakan janin yang disebabkan oleh zat beracun dan
berkurangnya aliran darah pada rahim dan plasenta.
4) Masalah pada kelahiran
Adanya kelahiran yang disertai hypoxia (kejang dan nafas
pendek) dipastikan bahwa bayi yang akan dilahirkan menderita
38
5) Faktor lingkungan
Latar belakang pendidikan orangtua sering juga
dihubungkan dengan masalah-masalah perkembangan.
Kurangnya kesadaran orangtua akan pentingnya pendidikan
dini serta kurangnya pengetahuan dalam memberikan segala
rangsangan yang bersifat postif dalam masa perkembangan
anak dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya gangguan
atau hambatan dalam perkembangan anak. Kurangnya kontak
pribadi dengan anak, misalnya dengan tidak mengajaknya
berbicara, tersenyum dan bermain yang mengakibatkan
timbulnya sikap tegang, dingin dan menutup diri. Kondisi yang
demikian akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan
anak baik fisik maupun mental intelektualnya.
6. Karakteristik Tunagrahita28
a) Karakteristik Anak Tunagrahita Ringan
Dalam berbicaranya banyak yang lancar, tetapi perbendaharan
katanya minim, mereka mengalami kesulitan dalam berpikir abstrak,
tetapi mereka masih mampu mengikuti pelajaran yang bersifat
akademik atau tool subject, baik di sekolah biasa maupun di sekolah luar biasa (SLB). Umur kecerdasannya apabila sudah dewasa sama
dengan anak normal yang berusia 12 tahun
.
28
Junal tentang mengenal anak luar biasa, artikel diakses pada 12 Januari 2016 dari
b) Karakteristik Anak Tunagrahita Sedang
Anak tunagrahita sedang tidak bisa mempelajari
pelajaran-pelajaran yang bersifat akademik, belajarnya secara membeo.
Perkembangan bahasanya sangat terbatas karena perbendaharaan
kata yang sangat kurang. Mereka memerlukan perlindungan orang
lain, meskipun begitu masih mampu membedakan bahaya dan bukan
bahaya. Umur kecerdasannya sama dengan anak normal umur tujuh
tahun.
c) Karakteristik Anak Tunagrahita Berat
Anak ini sepanjang hidupnya memerlukan pertolongan dan
bantuan orang lain, sehingga berpakaian, ke WC, dan sebagainya
harus dibantu. Mereka tidak tahu bahaya atau tidak bahaya.
Kata-kata dan ucapannya sangat sederhana. Kecerdasannya sampai
40 BAB III
GAMBARAN UMUM YAYASAN PENDIDIKAN LUAR BIASA NUSANTARADEPOK
A. Sejarah Berdirinya
Berawal dari rasa prihatin terhadap adik kelas sewaktu kuliah di
Pendidikan Luar Biasa, Bapak Sujono menampung dua belas adik kelasnya
tersebut di dua tempat yaitu di Depok dan Jakarta Selatan. Mereka mulai
mencari murid hingga muridnya terus bertambah banyak. Karena para guru
tinggal dan makan di sekolah, maka dibuatlah sekolah berasrama. Akhirnya
pada tahun 1989 beliau membeli tanah di daerah Beji, Depok dari uang
pribadi hasil penjualan rumah.Saat ini beliau telah membangun dua Sekolah
Luar Biasa di dua daerah yaitu di Beji, Depok dan Srengseng Sawah,
Jakarta Selatan. 1
Sekolah Luar Biasa Nusantara Ber-asrama tidak hanya menerima
siswa-siswi ABCD (Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita, Tunadaksa), tetapi
juga Hiperaktif, Down Syndrom, Autis dan Epilepsi, mulai dari usia dini
sampai usia lanjut. Motto sekolah adalah PAIKEM GEMBROT yang
artinya Pendidikan Aktif Inovatif Kreatif Efektif Menyenangkan Gembira
Berbobot.2
1
Hasil wawancara pribadi dengan Bapak Sujono, 5 Oktober 2015. 2
B. Profil Yayasan3
Nama Yayasan : Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara
Alamat Yayasan : Jalan Sempu Raya RT.06 RW.04 No. 7-8
Kelurahan Beji, Kecamatan Beji, Kota Depok
Tahun Berdiri : 1989
No. Akte Notaris / Tahun : 117/2001
Nama Ketua Yayasan : Drs. Sujono, S.Psi, MM
Nama Sekolah : SLB B-C-D Nusantara Ber-Asrama
Nomor Statistik Sekolah : 8020206605002
Status Sekolah : Swasta
Alamat Sekolah : Jalan Sempu Raya RT.06 RW.04 No. 7-8
Kelurahan Beji, Kecamatan Beji, Kota Depok
Ijin Operasional : No. 421.9/3/3124-disdik/2003
SK Kemenkumham : No.AHU-0010632.AH.01.04/2015
Status Akreditasi : C
Nama Kepala Sekolah : Neni Sulastri Pratiwi, M.Psi
SK Jabatan Kepsek : j.005/YPLB-n/I/15
C. Visi, Misi dan Tujuan Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok4
1. Visi Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok
Mewujudkan Sekolah Anak Cacat Nusantara Ber-Asrama (Boarding School) sebagai salah satu sekolah unggulan dan terbaik.
3
Dokumen Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok. 4
42
2. Misi Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok
Adapun misi dari YPLB Nusantara Depok sebagai berikut:
a) Meningkatkan kinerja aparatur sekolah ber-asrama yang efektif,
efisien dan profesional.
b) Meningkatkan segala potensi sumber daya sekolah ber-asrama.
c) Mengembangkan wawasan keunggulan kreatif dan inovatif di bidang
pendidikan.
d) Membangun komitmen kebersamaan dan keteladanan warga sekolah
ber-asrama yang harmonis, religius, yang dilandasi Iman dan Taqwa.
3. Tujuan Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok
Adapun maksud dan tujuan berdirinya YPLB Nusantara Depok
adalah membantu, melayani dan mendidik Anak Berkebutuhan Khusus
(ABK) usia dini sampai usia lanjut, sehingga dari segi kognisi, afeksi dan
psikomotornya diharapkan mereka dapat mandiri dan bermanfaat bagi
D. Struktur Kepengurusan Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok5
E. Prosedur Penerimaan Anak Didik di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok
Adapun tahapan penerimaan anak didik yang akan mengikuti kegiatan
pendidikan disini antara lain:6
a) Orangtua datang ke sekolah. Jika tidak ada orangtua maka dapat
diwakili oleh pihak keluarga calon anak didik.
5
Dokumen Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara Depok. 6