BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Temuan Penelitian
Tabel 4 .7 Data kader yang sudah mendapatkan pelatian P4K
No Jenis Kegiatan Kelurahan
Ketami Tempurejo Ngletih Bawang
1. Desa Siaga 10 10 10 10
2. P4K 25 30 20 40
Sumber : Laporan bulanan P4K di masing- masing kelurahan bulan Oktober tahun 2010.
B. Temuan Penelitian
1. Penerapan Program Perencanaan persalinan dan Pencegahan
Komplikasi (P4K).
a. Pengertian
Setelah peneliti melakukan wawancara pada tanggal 10 Oktober 2010 pukul 08.30 WIB dengan bidan T, didapatkan hasil bahwa makna Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan komplikasi (P4K) adalah suatu kegiatan dimasyarakat dengan melibatkan peran aktif suami atau keluarga dan masyarakat yang dilaksanakan oleh kader dengan bimbingan bidan wilayah untuk melaksanakan pendataan pada semua ibu hamil, setelah ada
commit to user
kesepakatan dilakukan pemasangan stiker agar persalinannya dapat direncanakan sehingga bisa mencegah terjadinya komplikasi baik ibu hamil, ibu bersalin maupun ibu nifas dan setiap bulan hasilnya dilaporkan kebidan wilayah.
Menurut bidan D, pengertian program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi adalah suatu kegiatan atau program pemerintah yang sangat baik untuk mencegah terjadinya komplikasi baik pada waktu hamil, persalinan dan nifas.
Menurut tokoh masyarakat bapak M, pengertian P4K adalah program pemerintah yang sangat bagus untuk menurunkan angka kematian ibu.
Menurut kader Ny N, bahwa program P4K sangat bagus, itu merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat tapi sekaligus menggugah atau menumbuhkan rasa kepedulian masyarakat terhadap sesama khususnya kaum perempuan yang hamper semuanya mengalami proses persalinan. (Sumber: wawancara pada bidan, kader, tokoh masyarakat di lapangan).
b. Tujuan
1) Tujuan Umum
Hasil wawancara dari bidan T, D dan kader Ny E, diperoleh pendapat yang sama bahwah tujuan umum penerapan P4K adalah meningkatkan cakupan ibu hamil dengan K1 dan K4 sampai dengan persalinan, dengan melibatkan peran aktif suami dan keluarga untuk dapat merencanakan
commit to user
persiapan persalinan yang aman sehingga ibu dan bayi lahir sehat dan selamat.
(Sumber : wawancara dengan bidan dan kader wilayah Puskesmas Ngletih).
2). Tujuan Khusus
Hasil wawancara yang dilakukan peneliti pada bidan T, bahwa tujuan khusus penerapan P4K adalah sebagai berikut :
a) Terdatanya ibu hamil dan terpasang stiker di depan rumah ibu hamil masing
-masing yang isinya : nama ibu, taksiran persalinan, penolong persalinan, tempat persalinan, pendamping persalinan, transportasi dan calon pendonor darah.
b) Adanya perencanaan persalinan termasuk pemakaian alat kontrasepsi 42
hari pasca bersalin sesuai dengan kesepakatan antara ibu hamil, suami dan bidan yang dituangkan dalam surat pernyataan.
c) Terlaksananya pengambilan keputusan yang cepat bila terjadi komplikasi
kebidanan.
d) Meningkatnya kepedulian tokoh masyarakat, kader, suami atau keluarga
dalam perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi
Sedangkan menurut kader Ny N, tujuan penerapan P4K adalah terdatanya semua ibu hamil dan dipasang stiker agar persalinan aman dan selamat, apabila ada resiko tinggi dan komplikasi secepatnya diketahui dan di rujuk ke bu bidan atau Rumah Sakit. (Sumber : wawancara dari bidan, kader dan tokoh masyarakat wilayah kerja puskesmas Ngletih ).
commit to user
c. Manfaat Penerapan P4K adalah :
Peneliti melakukan wawancara 10 Oktober 2010 pukul 9.30 WIB kepada bidan T, kader Ny E dan tokoh masyarakat bapak M, dan dilakukan observasi dilapangan pukul 11.00 WIB, bahwa manfaat penerapan P4K diperoleh jawaban hampir sama yaitu meningkatnya cakupan ibu hamil dengan K1 dan K4, meningkatnya cakupan ibu bersalin di tenaga kesehatan, tertanganinya kejadian komplikasi secara dini, meningkatkan peserta KB pasca persalinan, terpantaunya kejadian kesakitan dan kematian ibu, menurunnkan kejadian kesakitan dan kematian ibu, meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap masalah kesehatan yang ada dilingkungannya dibuktikan banyaknya pencatatan dan pelaporan yang dilaksanakan oleh kader P4K.
(Sumber: Dokumen P4K, wawancara kader P4K dan observasi dilapangan).
d. Sasaran Penerapan P4K adalah :
1) Kepala Puskesmas. 2) Bidan wilayah. 3) Kader P4K
4) Forum peduli KIA ( Forum P4K atau posyandu dan lain sebagainya) (Sumber : wawancara pada kader P4K).
commit to user
e. Kegiatan Penerapan P4K meliputi :
1) Pendataan ibu hamil dengan Stiker
Setelah melihat dokumen dari pencatatan pelaporan kegiatan P4K peneliti melakukan wawancara dengan kader Ny N dan Ny E pada tanggal 16 Oktober 2010 pukul 08.30 WIB, kemudian observasi dilapangan pukul 9.30 WIB, bahwa semua ibu hamil didata oleh kader P4K dengan cara : Dalam kegiatan di kelurahan Ketami, kelurahan Tempurejo, kelurahan Ngletih, kelurahan Bawang di masing – masing kelompok RW terdapat 5 kader P4K, dari 5 kader ini salah satunya sebagai ketua atau koordinator tetapi dilapangan mempunyai tugas yang sama yaitu mendata dan memantau kesehatan ibu hamil di wilayah kelompok RW masing – masng.
Pertama-tama kader P4K mempunyai kesepakatan dengan pembagian tugas, yaitu semua kader mendata ibu hamil dengan kunjungan rumah kerumah kemudian setelah ibu hamil terdata dan dengan motivasi maksud dan tujuan dari pendataan dilakukan kesepakatan pemasangan stiker didepan rumahnya dan ditempelkan didepan cendela atau didepan pintu. Setelah tercatat dan telah dilakukan pemasangan stiker menyambut persalinan aman sebagai bukti adalah pernyataan rencana persalinan.
Selain itu ditandai juga dengan bendera sesuai dengan faktor resiko. Bendera warna merah untuk ibu hamil beresiko tinggi dan bendera warna hijau untuk ibu hamil beresiko rendah, kemudian dipetakan menurut lokasi ibu hamil sehingga jika terjadi komplikasi kebidanan, petugas bisa langsung
commit to user
mendeteksi dan memantau perkembangan kesehatan ibu hamil sampai dengan 42 hari pasca persalinan.
Salah satu contoh, yaitu ada buku pendataan ibu hamil yang isinya nama ibu, nama suami, umur, pekerjaan, hamil anak ke berapa, riwayat kehamilan pernah abortus atau lahir premature, menstruasi terakhir, perkiraan persalinan, golongan darah, rencana persalinan dimana, periksa di bidan atau dokter, dapat buku KIA atau tidak, sudah dipasang stiker, donor darah siapa, transportasi, melahirkan dimana, tanggal berapa, ditolong bidan atau dokter, lahir secara nolmal atau tindakan, rencana KB apa, keterangan bisa diisi ibu atau bayi meninggal dan lain – lain.
(Sumber : Pencatatan dan Pelaporan P4K, wawancara pada kader P4K dan observasi dilapangan).
2) Tabulin (Tabungan Ibu bersalin) dan Dasolin (Dana Sosial Ibu Bersalin).
Setelah peneliti melihat dokumen P4K di masing – masing kelurahan pada kegiatan penggalangan Tabulin dan Dasolin pada tanggal 16 Oktober 2010 pukul 9.00 WIB sudah tercatat, bisa dilihat hampir semua ibu hamil menabung. Cara dan jumlah tabungan sangat variatif, atas saran dan motivasi dari kader untuk mencegah jangan sampai terjadi gangguan psikologis pada waktu proses persalinan maka biaya dan lain – lain untuk kebutuhan pada waktu persalinan harus sudah dipersiapkan.
Tabungan ibu bersalin (Tabulin) dilakukan oleh ibu hamil sendiri, dikelurahan Ketami ada yang setiap bulan menabung Rp 5000,00; ada yang
commit to user
Rp 10.000,00; ada yang Rp 25.000,00; dikelurahan Tempurejo setiap bulan ada yang menabung Rp 5000,00; ada yang Rp 10.000,00; ada yang Rp 15.000,00 dan ada yang Rp 50.000,00; dikelurahan Ngletih setiap bulan ada yang menabung Rp 5000,00; ada yang Rp 10.000,00; ada yang Rp 20.000,00 dan dikelurahan Bawang ada yang Rp 5000,00; ada yang Rp 15.000,00; ada yang 13.000,00 dan ada Rp 20.000,00.
Disamping itu, ada juga yang menabung dirumah baik berupa barang maupun uang yang penting disiapkan sesuai biaya persalinan normal kurang lebih Rp 700.000,00 tetapi bagi ibu hamil yang mampu tidak masalah karena dana sudah tersedia dan ditabung di bank. Bagi ibu hamil yang kurang mampu untuk menabung disesuaikan dengan kemampuan baik dirumah maupun di kader P4K dan apabila sudah melahirkan, uang tabungan tersebut diberikan semua pada ibu penabung tanpa dikurangi. Untuk memenuhi kebutuhan operasional P4K juga untuk membantu ibu bersalin yang kurang mampu kader P4K di setiap kelurahan juga mencari dana lagi yaitu dari uang jimpitan yang dipeoleh pada waktu ada kegiatan posyandu dan pada waktu ada pertemuan PKK dan pertemuan kader kesehatan.
Selain itu, kader juga mencari dana donator dari masyarakat setempat yang dianggap mampu dan mau menyumbangkan uang atau barang dengan sukarela dan ikhlas guna membantu biaya persalinan bagi ibu hamil yang
kurang mampu dengan sebutan dana sosial ibu bersalin (Dasolin), tetapi
commit to user
Dengan terkumpulnya dana dasolin dari jimpitan masyarakat sampai sekarang, bagi keluarga ibu hamil yang kurang mampu bila bersalin berhak mendapatkan bantuan dari dana dasolin sesuai dengan plafon yang sudah disepakati dari kelompok kader P4K di masing – masing kelurahan. Untuk kelurahan Ketami terkumpul dana dasolin sampai dengan bulan Oktober 2010 sebesar Rp 510.000,00 dan besaran plafon perorang Rp 20.000,00; kelurahan Tempurejo sampai bulan Oktober terkumpul Rp 425.000,00 dan plafon perorang Rp 25.000,00; kelurahan Bawang sampai bulan Oktober 2010 terkumpul Rp 321.000,00 dan plafon perorang sebesar Rp 10.000,00; kelurahan Ngletih sampai bulan Oktober 2010 terkumpul Rp 483.000,00 dan plafon perorang sebesar Rp 15.000,00. Untuk biaya persalinan bagi yang mampu tidak ada kendala tetapi bagi ibu bersalin yang tidak mampu juga dapat bantuan dari pemerintah melalui Jamkesmas atau Jamkesda. (Sumber: Data pencatatan pelaporan P4K kelurahan, wawancara kader dan
observasi dilapangan). 3) Calon Donor Darah
Selain melihat data dari pencatatan dan pelaporan, peneliti juga melakukan wawancara dengan kader P4K dan tokoh masyarakat yang menjadi calon donor darah pada tanggal 16 Oktober 2010, pukul 9.30 WIB. Setiap ibu hamil direncanakan mendapat dua calon donor darah, golongan darah harus sama dengan golongan darah ibu hamil, kenyataan setelah dilakukan observasi dilapangan jam 10.15 WIB, yang menjadi calon donor darah adalah dari keluarga ibu hamil itu sendiri. Di masing – masing
commit to user
kelurahan, kader P4K melakukan pendataan, setelah didata siapa saja yang mau menjadi calon donor darah kemudian dilakukan pemeriksaan golongan darah dari tim kesehatan puskesmas biaya gratis dan sebagai penanggungjawab adalah bidan wilayah masing – masing kelurahan dan setiap calon donor darah menandatangani surat pernyataan bahwa sanggup menjadi pendonor darah apabila sewaktu waktu dibutuhkan.
Dari pemeriksaan itulah bisa diketahui bahwa sebagai calon donor darah kebanyakan dari keluarga ibu hamil sendiri. Selain keluarga juga ada pendonor tetap yaitu setiap 3 bulan sekali ke PMI dari kelurahan Ketami 11 orang, kelurahan tempurejo 12 orang, kelurahan Ngletih 7 orang, kelurahan Bawang 18 orang. Selama tahun 2010 sampai dengan bulan oktober diwilayah kerja puskesmas Ngletih terdapat 33 kasus komplikasi kebidanan salah satunya adalah kasus perdarahan dari kelurahan Bawang, karena keadaan tersebut membutuhkan waktu cepat dan adekuat dalam penanganan sehingga kebutuhan darah selama ini dipenuhi dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Kediri. Jadi, untuk calon donor di wilayah puskesmas Ngletih belum berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh program P4K, oleh karena itu untuk ibu hamil yang mampu bisa langsung membeli tetapi bagi ibu hamil yang tidak mampu gratis karena diganti oleh pemerintah melalui kartu Jamkesmas atau Jamkesda untuk pemenuan kebutuhan darah bagi ibu hamil yang membutuhkan tranfusi darah. Dan hasil wawancara dengan kepala Puskesmas tanggal 11 Nopember kelihatannya di Rumah Sakitpun di Kota Kediri baru bulan Nopember 2010
commit to user
ada Mou dengan Palang Merah Indonesia tentang Bank darah di setiap Rumah Sakit.
(Sumber: Data pencatatan pelaporan P4K kelurahan, wawancara kader, kepala Puskesmas dan observasi dilapangan).
4) Ambulan Desa atau Transportasi
Sementara melihat dari data atau dokumen P4K, peneliti juga melakukan wawancara dengan kader P4K pada tanggal 16 oktober 2010 pukul 9.30 WIB, dan dilakukan obsevasi dilapangan pukul 16.00 WIB, dengan ibu hamil Ny F dan calon transportasi bapak H, setiap ibu hamil diwilayah kerja puskesmas Ngletih dipersiapkan dua calon transportasi, yang pertama adalah suami yang kedua adalah saudara atau keluarga. Selain itu di masing – masing kelurahan juga ada Ambulan desa yang mana semua warga yang punya mobil didata kemudian dengan kesepakatan menandatangani surat pernyataan untuk bersedia mengantar sewaktu waktu ibu mau melahirkan atau terjadi kegawadaruratan.
Jumlah ambulan desa mobil di kelurahan Ketami 3 buah, kelurahan Tempurejo 2 buah, kelurahan Bawang 4 buah dan kelurahan Ngletih 5 buah. Sampai bulan Oktober 2010 dengan jumlah ibu melahirkan untuk kelurahan Ketami 50 orang, kelurahan Tempurejo 59 orang, kelurahan Ngletih 25 orang dan kelurahan Bawang 78 orang. Dalam proses transportasi untuk mengantar ibu mau melahirkan ketempat pelayanan kesehatan selain diantar oleh suami atau keluarga juga dapat menggunakan fasilitas ambulan
commit to user
desa yang sudah dipersiapkan, semua itu dapat teratasi dengan lancar tidak ada kendala.
Sebagai contoh di kelurahan Bawang pada bulan Juni 2010 setelah
dilakukan crosscheck dilapangan atas nama Ny E, umur 34 tahun ibu hamil
anak ketiga dengan usia kehamilan 9 bulan mengalami komplikasi kebidanan karena kasus perdarahan dan tidak mungkin diantar suami memakai sepeda motor maka segera menghubungi ambulan desa untuk mengantar agar secepatnya mendapat pertolongan di Rumah Sakit Gambiran Kediri. Di Kelurahan Ketami, Tempurejo, dan Ngletih Ambulan desa belum pernah dipakai, karena selain dekat puskesmas juga bukan merupakan kasus kegawadaruratan obstetri yang membutuhkan pertolongan
cepat misalnya ketuban pecah dini, pre eklamsi, serotinus, cepalo pelvic
disproportion (CPD), kehamilan premature, abortus, post seksio. (Sumber: Dokumen P4K, wawancara dan observasi dilapangan ).
2. Keberhasilan yang dicapai dan Faktor-faktor yang mempengaruhi
Penerapan P4K.
a. Keberhasilan Penerapan P4K
1) Pendataan, Penandaan dan Pemetaan ibu hamil
Dilihat dari data laporan P4K dan peneliti juga melakukan wawancara dan sekaligus observasi kelapangan pada tanggal 10 Oktober pukul 10.00 WIB, bahwa semua ibu hamil sudah tercatat dan dipasang stiker P4K didepan rumahnya, terbukti dengan jumlah kesenjangan antara target
commit to user
dengan cakupan yang rendah. Untuk tenaga kader P4K dilapangan telah memenuhi kebutuhan, yaitu satu kelompok RW 5 kader P4K dan salah satunya menjadi ketua atau koordinator. Setiap bulan melaksanakan pendataan, penandaan dan pemetaan dan dilaporkan ke bidan wilayah.
Pencatatan dan pelaporan yang ada begitu lengkap dan terinci dengan hasil cakupan yaitu di Kelurahan Ketami sampai dengan Oktober 2010 tercapai 86,21% (50 ibu hamil dari 58 target ibu hamil), kelurahan tempurejo melampaui target sebesar 11,86% (66 ibu hamil dari 59 target ibu hamil), Kelurahan Ngletih pencapaian ibu hamil sebesar 83,33% (25 ibu hamil dari 30 target ibu hamil) dan untuk Kelurangan Bawang pencapaian ibu hamil melebihi target sebesar 4% (78 ibu hamil dari 75 target ibu hamil).
Ditinjau dari sumber daya yang ada, baik tenaga kesehatan (Bidan) maupun tenaga kader P4K yang ada di lapangan cukup terpenuhi. Secara ideal satu kelurahan satu bidan, namun pada kelurahan wilayah kerja Puskesmas Ngletih rata-rata 3 orang Bidan. Untuk tenaga kader P4K
dilapangan telah memenuhi kebutuhan.(Sumber : Dokumen P4K kelurahan
dan wawancara).
2). Tabulin (Tabungan ibu bersalin) dan Dasolin (Dana Sosial ibu bersalin). Keberhasilan dari kegiatan tabulin dan dasolin peneliti melihat dokumen P4k dari empat kelurahan pada tanggal 16 Oktober 2010 pukul 10.00 WIB dan melakukan observasi dilapangan pukul 11.00 WIB bahwa
commit to user
kegiatan berjalan baik dan lancar. Hal ini ditunjukkan dengan terpenuhinya pembiayaan persalinan, baik secara pribadi maupun dengan memakai fasilitas bantuan Pemerintah berupa Jamkesmas atau Jamkesda. Tabungan ibu bersalin (Tabulin) dilakukan oleh ibu hamil sendiri, dikelurahan Ketami ada ibu hamil yang setiap bulan menabung Rp 5000,00 ada yang Rp 10.000,00 ada yang Rp 25.000,00; dikelurahan Tempurejo setiap bulan ada yang menabung Rp 5000,00 ada yang Rp 10.000,00 ada yang Rp 15.000,00 dan ada yang Rp 50.000,00; di kelurahan Ngletih setiap bulan ada yang menabung Rp 5000,00 ada yang Rp 10.000,00 ada yang Rp 20.000,00 dan dikelurahan Bawang ada yang Rp 5000,00 ada yang Rp 15.000,00 ada yang 13.000,00 dan ada yang Rp 20.000,00.
Bahkan bagi keluarga ibu bersalin yang kurang mampu juga mendapat
bantuan atau santunan dari dana Dasolin sesuai dengan kemampuan yaitu
kelurahan Ketami terkumpul dana Dasolin sampai dengan bulan Oktober
2010 sebesar Rp 510.000,00 dan besaran plafon perorang Rp 20.000,00; kelurahan Tempurejo sampai bulan Oktober terkumpul Rp 425.000,00 dan plafon perorang Rp 25.000,00; kelurahan Bawang sampai bulan Oktober 2010 terkumpul Rp 321.000,00 dan plafon perorang sebesar Rp 10.000,00; kelurahan Ngletih sampai bulan Oktober 2010 terkumpul Rp 483.000,00 dan plafon perorang sebesar Rp 15.000,00. Dana dasolin sudah dipergunakan untuk memberikan santunan pada ibu bersalin yang kurang mampu di kelurahan Ketami sebanyak 8 orang, kelurahan Tempurejo
commit to user
sebanyak 7 orang, kelurahan Ngletih sebanyak 11 orang, kelurahan Bawang sebanyak 16 orang. (Sumber : Dokumen P4K kelurahan dan wawancara ).
3) Calon Donor Darah.
Dari hasil penelitihan dilihat dari dokumen P4K dan wawancara pada kader P4K tanggal 16 Oktober 2010 pukul 10.00 WIB, empat kelurahan untuk kegiatan penggalangan calon donor darah sampai dengan Oktober 2010 belum berjalan sesuai dengan harapan dari kegiatan P4K meskipun telah tercatat sesuai kebutuhan, yaitu satu orang ibu hamil dengan dua orang calon donor darah, tetapi belum ada ibu bersalin yang membutuhkan tranfusi darah diambil dari calon donor darah yang sudah dipersiapkan semua dipenuhi oleh palang merah Indonesia (PMI) dan sampai dengan bulan Oktober 2010 semua kasus komplikasi dapat tertangani dan tidak terjadi kematian.
Setelah dilakukan observasi dilapangan tanggal 16 Oktober 2010 pukul 10.30 WIB, bahwa sebagai calon donor darah kebanyakan dari keluarga ibu hamil sendiri. Selain keluarga juga ada pendonor tetap yaitu setiap 3 bulan sekali ke PMI dari kelurahan Ketami 11 orang, kelurahan tempurejo 12 orang, kelurahan Ngletih 7 orang, kelurahan Bawang 18 orang. Selama tahun 2010 sampai dengan bulan Oktober diwilayah kerja puskesmas Ngletih terdapat 33 kasus komplikasi kebidanan salah satunya adalah ada seorang ibu hamil dengan kasus perdarahan dengan diagnose
plasenta previa dari kelurahan Bawang yang terjadi pada bulan Juni 2010, karena keadaan tersebut membutuhkan waktu cepat dan adekuat dalam
commit to user
penanganan sehingga kebutuhan darah selama ini dipenuhi dari Palang Merah Indonesia (PMI). Dan hasil wawancara dengan kepala Puskesmas tanggal 11 Nopember kelihatannya di Rumah Sakitpun di Kota Kediri baru bulan Nopember 2010 ada Mou dengan Palang Merah Indonesia tentang Bank darah di setiap Rumah Sakit. Alhamdulillah dengan keadaan ibu dan anak dibisa tertangani dan sehat sampai sekarang.
(Sumber : Dokumen P4K kelurahan dan wawancara dengan kader dan Kepala Puskesmas).
4) Ambulan Desa atau Transportasi.
Sedangkan untuk penggalangan transportasi atau ambulan desa setelah peneliti melihat dokumen P4K pada tanggal 16 Oktober 2010 pukul 10.00 WIB sudah berjalan dengan baik. Terbukti dari jumlah transportasi atau ambulan desa di kelurahan Ketami 103 buah, kelurahan Tempurejo 134 buah, kelurahan Bawang 55 buah dan kelurahan Ngletih 159 buah. Sampai bulan oktober 2010 dengan jumlah ibu melahirkan untuk kelurahan Ketami 50 orang, kelurahan Tempurejo 59 orang, kelurahan Ngletih 25 orang dan kelurahan Bawang 78 orang. Kemudian dilakukan observasi dilapangan pukul 16.30 WIB, diwilayah kerja Puskesmas Ngletih kebanyakan kebutuhan transportasi ibu bersalin terpenuhi oleh suami atau keluarga. Sedangkan ambulan desa digunakan untuk kebutuhan transportasi mendadak yang membutuhkan posisi tidur dan penanganan cepat seperti kasus yang terjadi di kelurahan Bawang.
commit to user
Seorang ibu hamil mengalami perdarahan dan harus mendapatkan penanganan serius di Rumah Sakit terdekat, dengan adanya ambulan desa yang tersedia, maka transportasi ambulan desa tersebut dapat mengantar ibu hamil untuk secepatnya mendapatkan pertolongan pada tempat pelayanan kesehatan yang cepat dan adekuat. Semua itu dilakukan oleh pemilik ambulan desa dengan ikhlas tanpa pengganti uang transportasi.
Dengan uraian diatas dan data yang ada terlihat bahwa dengan adanya program P4K dapat mencegah keterlambatan dalam rujukan sekaligus dapat mengurangi resiko kematian pada ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas. Dan di wilayah Puskesmas Ngletih, sampai dengan Oktober 2010 tidak ada kematian ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas (0).
(Sumber: Dokumen P4K kelurahan dan wawancara)
b. Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan P4K adalah :
1) Faktor Internal
a) Dari hasil wawancara dan observasi di lapangan terlaksana pertemuan kader P4K yang dilaksanakan setiap bulan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, tempat di balai kelurahan masing – masing bersama bidan wilayah yang selalu memberikan pembinaan baik administrasi P4K maupun memberikan materi – materi yang di anggap penting diketahui oleh kader khususnya dalam kegiatan P4K yaitu cara menyekor faktor resiko pada ibu hamil dan lain – lain yang mengacu pada buku KIA. Contoh cara menyekor memakai kartu skor Poedji Rochjati adalah : ibu hamil datang anak kedua
commit to user
yang hamil pertama abortus pada usia kehamilan 3 bulan, hamil ini usia kehamilan 6 bulan keadaan ibu dan bayi sehat. Dengan keadaan ibu hamil seperi ini kader hanya boleh atau bisa menilai faktor resiko dengan memakai kartu skor Poedji Rochjati sebagai berikut :
Rencana Persalinan pada Kehamilan Sekarang
( Berdasarkan SKOR POEDJI ROCHJATI )
I II III IV
KEL. F.R. NO.
Masalah / Faktor Resiko SKOR Tribulan
I II III.
1 III.
2
Skor Awal Ibu Hamil 2
I 1 Telalu muda, hamil < 16 th 4
2 Terlalu tua, hamil > 35 th 4 4 4 4 4
Terlalu lambat hamil I, kawin > 4tahun 4
3 Terlalu lama hamil lagi (>10 th ) 4
4 Terlalu cepat hamil lagi ( < 2 th ) 4
5 Terlalu banyak anak, 4/ lebih 4
6 Terlalu tua, umur > 35 th 4
7 Terlalu pendek <145 cm 4
8 Pernah gagal kehamilan 4 4 4 4 4
9 Pernah melahirkan dengan :
a. Tarikan / vacuum 4
b. Uri dirogah 4
c. Diberi infus / Tranfusi 4
10 Pernah operasi sesar 8
II 11 Penyakit pada ibu hamil :
a. Kurang darah b. Malaria 4
c. TBC Paru d. Payah Jantung 4
e. Kencing manis ( Diabetes ) 4
f. Penyakit Menular Seksual 4
12 Bengkak pada muka / tungkai 4
dan tekanan darah tinggi
13 Hamil kembar 2 atau lebih 4
14 Hamil kembar air ( hydramnion ) 4
15 Kehamilan lebih bulan 4
16 Bayi mati dalam kandungan 4
17 Letak sungsang 8
18 Letak Lintang 8
III 19 Perdarahan dalam kehamilan ini 8
20 Preeklamsi berat / kejang-2 8
JUMLAH SKOR 10 10 10 10
commit to user
Hanya itu yang bisa di deteksi atau dicatat oleh kader yang selanjutnya dianjurkan segera periksa ke puskesmas atau bidan terdekat dan dilanjutkan oleh bidan sesuai hasil pemeriksaan.
(Sumber: wawancara dan observasi dilapangan)
b) Jumlah kader P4K dari masing – masing kelompok RW berjumlah 5 orang dan salah satunya menjadi ketua atau koordinator tetapi di lapangan mempunyai tugas yang sama yaitu mendata dan memantau kesehatan ibu hamil di wilayah masing – masing kelompok RW. Bisa dilihat dibuku absen dan wawancara pada kader P4K.