• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

TEMUAN PENELITIAN

A. Temuan Hasil Analisis Kritis Deskriptif

1. Urgensi public speaking terhadap kinerja guru dalam perencanaan

dan pelaksanaan pembelajaran

Era reformasi pendidikan menyebabkan orang bebas melakukan kritik, titik lemah pendidikan akan menjadi bahan dan sasaran empuk bagi para kritikus, adakalanya kritik yang diberikan menjadi obat pelajaran untuk memperbaiki kinerja guru. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinan pula akan membuat merah telinga guru sebagai akibat dari kritik yang diberikan, hal ini dapat memberikan dampak terhadap kinerja guru yang bersangkutan. Apa pun kritik yang diberikan, apakah bernilai positif atau negative kiranya akan menjadi masukan yang sangat berarti sebagai kinerja guru.

“Guru yang baik tidak akan putus asa, dan menjadikan kritikan sebagai pemicu baginya di dalam melakukan perbaikan dan pembenahan diri di masa yang akan datang. Kritik terhadap kinerja guru perlu dilakukan, tanpa itu bagaimana guru mengetahui kinerja yang sudah dilakukannya selama ini, dengan demikian akan menjadi bahan renungan bagi guru untuk perbaikan”.1

Guru yang efektif mengatur kelas dengan prosedur yang telah disiapkan. Di hari pertama masuk kelas, mereka telah memikirkan apa yang mereka ingin siswa lakukan dan bagaimana hal itu harus dilakukan. Jika guru memberi tahu

1

Pupuh Fathurrahman dan Aa Suryana, Guru Profesional, (Jakarta: Refika Aditama, 2012) h.30-31

39

40

siswa sejak awal bagaimana guru mengharapkan mereka bersikap dan belajar dikelas, guru menegaskan otoritasnya, maka mereka akan serius dalam belajar.

Di dalam perspektif siswa sebagai pusat pembelajaran, terdapat beberapa model yang dapat digunakan, misalnya: model diskusi, model proyek, model permainan, model ice breaker. Model diskusi mensyaratkan keaktifan siswa dalam berbicara atau menulis, serta mengkomunikasikan buah pikiran secara interaktif dengan sesama siswa dan guru. Diskusi ini bisa berupa obrolan pagi,diskusi berpasangan, diskusi tentang pemahaman teks, studi kasus, diskusi dengan film, serta debat.

Walaupun tampaknya beberapa model yang dianjurkan dalam pembelajaran yang berpusat kepada siswa mengurangi dominasi guru di kelas, namun tetap kegiatan belajar tidak akan lepas dari kemampuan seorang guru untuk berbicara di depan audiensnya, yakni para siswa. Justru, di dalam konteks pembelajaran berpusat pada siswa ini, kemampuan guru untuk menjadi speaker yang menginspirasi sangat penting untuk dipraktikkan sehingga menumbuhkan prakarsa, kreativitas, dan kemandirian siswa.

Penilaian tentang kinerja sering dilakukan atas kesetiaan, kejujuran, prestasi kerja, loyalitas, dedikasi dan partisipasi. Kesetiaan dapat diartikan sebagai kesediaan guru untuk mempertahankan nama baik, asas dan lambang negara, sesuai dengan janji dan sumpah yang telah diucapkan. Konsekuensi dari penerapan ini adalah kinerja guru dituntut untuk selalu taat, jujur, mampu berkerja sama dengan tim, memiliki prakarsa dan bersifat kepemimpinan yang mengayomi seluruh warga madrasah. Dengan demikian kinerja guru secara langsung mengacu kepada perwujudan keadaan tingkat perilaku guru dengan sejumlah persyaratan. Kinerja seseorang, kelompok atau organisasi tidak sama, satu dengan yang lain tergantung dengan tugas dan tanggung jawab secara profesional. Dengan demikian guru madrasah berhubungan dengan peran sebagai pelatih yang akan mengfasilitasi seluruh aktivitas organisasi.

“Kinerja guru dapat ditunjukkan dari seberapa besar kompetensi-kompetensi yang dipesryaratkan dipenuhi. kompetensi-kompetensi tersebut meliputi

kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.”2

Kinerja guru dapat terlihat jelas dalam pembelajaran yang diperlihatkannya dari prestasi belajar peserta didik. Kinerja guru yang baik akan menghasilkan prestasi belajar peseta didik yang baik. Selanjutnya, “kinerja yang baik terlihat dari hasil yang diperoleh dari penilaian prestasi peserta didik.” Terdapat beberapa indikator kinerja guru yaitu: “akan tampak dalam hal kepuasan peserta didik dan orang tua peserta didik, prestasi belajar peserta didik, perilaku sosial dan kehadiran guru.” Maka jelaslah bahwa menilai dan memahami kinerja guru tidak lepas dari peserta didik sebagai subjek didik, dan tingkat prestasi belajar yang dicapai peserta didik merupakan gambaran kinerja guru sebagai perencana dan pengelola pembelajaran administrasi kelas.

“Ukuran keberhasilan guru secara sederhana, adalah apabila peserta didik bertambah gairah dalam belajar, bila hasil belajar peserta didik meningkat, bila disiplin disekolah membaik, bila hubungan antara guru, orang tua, dan masyarakat menjadi mesra. Ringkasnya bila kompetensi guru menjadi lebih dan wajar”.3

Dalam pandangan penulis seorang guru harus memberikan perhatian lebih kepada peserta didik untuk meningkatkan kemampuan belajar peserta didik, pengajar haruslah menyampaikan bahan ajar yang tepat demi kepentingan pembelajaran. Melibatkan dialog antar keduanya yaitu antara guru dan siswa dan siswa dengan siswa yang lainnya, agar dalam proses belajar mengajar siswa tidak pasif, siswa memiliki minat lebih dalam belajar dan suasana kelas tidak membosankan.

Kinerja guru dapat terlihat jelas dalam pembelajaran yang diperlihatkannya dari prestasi belajar peserta didik. Kinerja guru yang baik akan menghasilkan prestasi belajar peseta didik yang baik. selanjutnya, kinerja yang baik terlihat dari hasil yang diperoleh dari penilaian prestasi peserta didik.

Banyak cara yang dapat dilakukan dalam pemberian insentif kepada peserta didik. Cara-cara memberikan insentif ialah dengan menyediakan laporan

2

Supardi, Kinerja Guru, (Jakarta:Raja Grafindo Persada,2013), Cet. 1 h.54-55

3

Wawasan Tugas Guru dan Tenaga Kependidikan, (Jakarta: Departemen Agama Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005), h. 12

42

kemajuan hasil belajar peserta didik kepada orang tua/wali peserta didik pada setiap minggu, atau memberi ganjaran kepada sekelompok peserta didik yang menunjukan tingkah laku dan kemajuan yang baik. Dengan adannya insentif-insentif dengan ganjaran akan mendorong peserta didik untuk belajar dan menyiapkan tugas-tugas rumah mereka.

Mengacu pada model input-proses-output oleh Slavin dikutip oleh Supardi bahwa kinerja guru dapat dilihat dari kualitas pembelajaran, kesesuaian tingkatan pembelajaran, aspek insentif, dan waktu dapat dijelaskan sebagai berikut:4

a. Aspek kualitas pembelajaran merupakan upaya-upaya guru untuk menyampaikan pembelajaran supaya mudah dipahami, mudah diingat dan menyenangkan. Guru perlu menyampaikan materi pembelajaran secara tersusun dan sistematik, menggunakan bahasa yang jelas dan mudah, memberi informasi yang jelas serta memberi contoh-contoh yang saling berkaitan, memberi penekanan kepada materi esensial dan mengaitkan pelajaran itu dengan pengetahuan dan pengalaman peserta didik yang telah dimiliki peserta didik dan menggunakan alat bantu pembelajaran bagi membantu menjelaskan sesuatu konsep.

b. Aspek insentif adalah usaha guru untuk memberi motivasi kepada peserta didik agar terus belajar serta menyelesaikan tugas-tugas yang diperoleh oleh guru. “Terdapat dua cara dimana guru dapat memberi motivasi kepada peserta didik untuk terus belajar”. Pertama guru perlu melaksanakan pembelajaran yang dapat menarik minat dan menyenangkan peserta didik yaitu dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran seperti menggunakan metode demonstrasi, bermain peran, drama, diskusi, dialog, metode inquiri, dan sebagainnya. Dengan ini peserta didik tidak akan merasa jenuh dan bosan untuk belajar sepanjang hari. Cara kedua melibatkan pemberian insentif kepada peserta didik melalui ganjaran atau pujian atas penguasaan materi pelajaran yang disampaikan atau memberi teguran kepada peserta didik yang tidak menguasai meteri pmbelajaran.

c. Perlu dialokasikan waktu yang cukup bagi peserta didik mempelajari suatu keterampilan. Pembelajaran dipengaruhi oleh dua faktor waktu yaitu waktu yang

4

Supardi, Kinerja Guru, (Jakarta:RajaGrafindo Persada, 2013), h.57

diperuntukkan yaitu waktu yang disediakan oleh pihak madrasah kepada guru-guru untuk melaukan pembelajaran suatu mata pelajaran.Waktu ini agak sukar untuk diubah karena telah ditetapkan oleh pihak madrasah. Waktu kedua dipanggil engaged time atau time-on-task yang dimaksud adalah waktu yang digunakan oleh guru-guru pembelajaran dan waktu yang digunakan peserta didik untuk belajar bagi mendapatkan ilmu pengetahuan atau keterampilan.

Dalam pandangan penulis seorang guru harus memberikan perhatian lebih kepada peserta didik untuk meningkatkan kemampuan belajar peserta didik, pengajar haruslah menyampaikan bahan ajar yang tepat demi kepentingan pembelajaran. Melibatkan dialog antar keduanya yaitu antara guru dan siswa dan siswa dengan siswa yang lainnya, agar dalam proses belajar mengajar siswa tidak pasif, siswa memiliki minat lebih dalam belajar dan suasana kelas tidak membosankan.

B. Temuan Hasil Analisis Kritis Komparatif

1. Kinerja guru dalam perencanaan pembelajaran yang berkaitan

dengan kemampuan public speaking

Seorang guru perlu menyusun perencanaan dalam bentuk struktur yang sistematis tentang apa yang akan ia sampaikan pada siswanya. Dalam mempraktikkan public speaking, seorang guru harus menciptakan sebuah kerangka yang mengorganisasikan konten yang akan ia sampaikan. Ia harus merencanakan konten serta urut-urutan apa yang akan ia sampaikan di dalam kelas. Ia juga harus mempersiapkan bagaimana membuka presentasinya, bagaimana menyampaikan inti materinya dan bagaimana serta apa yang akan disampaikan untuk menyimpulkan keseluruhan konten yang telah ia sampaikan.

Perencanaan pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian ini secara implisit dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan ini didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran.

44

Dalam hal ini perencanaan pembelajaran dikatakan sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya dalam belajar, siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang mungkin dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Oleh karena itu, pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana membelajarkan siswa, dan bukan apa yang dipelajari siswa.5

Perencanan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi pedagogis yang harus dimiliki guru, yang akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran sedikitnya mencakup tiga kegiatan yaitu identifikasi kebutuhan, perumusan kompetensi dasar, dan penyusunan program pembelajaran.

a. Identifikasi kebutuhan

Identitas kebutuhan bertujuan antara lain untuk melibatkan dan memotivasi peserta didik agar kegiatan belajar mengajar dirasakan sebagai bagian dari kehidupan dan mereka merasa memilikinya.

Hal ini dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:

1) Peserta didik didorong untuk menyatakan kebutuhan belajar berupa kompetensi tertentu yang ingin mereka miliki dan diperoleh melalui kegiatan pembelajaran.

2) Peserta didik didorong untuk mengenali dan mendayagunanakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan belajar. 3) Peserta didik dibantu untuk mengenali dan menyatakan kemungkinan

adanya hambatan dalam upaya memenuhi kebutuhan belajar, baik yang datang dari dalam (internal) maupun yang datang dari luar (eksternal). 6

Ketiga hal tersebut dapat dilakukan baik secara perorangan maupun kelompok. Secara perorangan peserta didik mengekspresikan pendapat masing-masing secara langsung, dan guru membantu mereka dalam menyusun kebutuhan belajar beserta hambatan-hambatannya.Secara kelompok peserta didik mendiskusikan kebutuhan belajar sehingga menjadi kesepakatan kelompok. Berdasarkan identifikasi terhadap kebutuhan belajar bagi pembentukan kompetensi peserta didik, baik secara kelompok maupun perorangan, kemudian diidentifikasi sejumlah kompetensi untuk dujadikan bahan pembelajaran.

5

Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Cet.3 h. 83-84

6

E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: PT Rosdakarya, 2009) Cet. Ke-4h.100-101

Menurut hemat penulis sebagai pengajar identifikasi kebutuhan belajar bertujuan untuk melibatkan dan memotivasi peserta didik agar kegiatan belajar dirasakan sebagai bagian dari kehidupan mereka. Seorang guru melibatkan siswa agar berperan aktif dalam proses belajar mengajar. Keaktifan siswa didorong oleh peran seorang guru. Seorang guru dengan motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berprilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas. Peranan guru untuk mengelola motivasi belajar siswa sangat penting dapat dilakukan melalui aktivitas belajar yang didasarkan pada pengenalan guru kepada siswa secara individual.

Guru mengetahui apa yang akan diajarkannya pada siswa. Guru menyiapkan metode dan media pembelajaran setiap akan mengajar. Perencanaan pembelajaran menimbulkan dampak positif berikut ini. Pertama, siswa akan selalu mendapat pengetahuan baru dari guru tidak akan terjadi pengulangan materi yang tidak perlu yang dapat mengakibatkan kebosanan siswa dalam belajar. Pengulanagan materi perlu sebatas untuk penguatan. Kedua, menumbuhkan kepercayaan siswa pada guru, sehingga mereka akan senang dan giat dalam belajar. Guru yang baik akan memotivasi siswa untuk meneladani kebaikan dan kedisiplinannya, meskipun siswa itu tidak mengatakannya pada guru. Ketiga, belajar akan menjadi aktivitas yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh dan bagi siswa, karena mereka merasa tidak akan sia-sia datang dan belajar ke kelas. Berbeda perasaan siswa saat berhadapan dengan guru yang mengajar salalu tanpa persiapan atau kadang siap kadang tidak siap (mengajar).7

Dalam kegiatan belajar motivasi sangatlah diperlukan, karena dalam kegiatan belajar motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak di dalam diri siswa yang memberikan arah kegiatan belajar, sehingga tujuan yang diharapkan akan tercapai. Guru mempunyai motivasi karena terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya dilingkungan sekolah. Disinilah public speaking memiliki keterkaitan dengan identifikasi kebutuhan belajar karena dalam memotivasi peserta didik seorang guru harus memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan peserta didik penyampaian yang jelas (public speaking) dan mudah dipahami oleh peserta didikdan agar motivasi yang disampaiakan bisa diterima dan diserap oleh peserta didik dengan baik.

7

Jejen Musfah, Peningkatan Kompetensi Guru, (Jakarta: Prenada Media Group, 2011) h.37

46

b. Perumusan kompetensi dasar.

Kompetensi merupakan suatu yang ingin dimiliki oleh peserta didik, dan merupakan komponen utama yang harus dirumuskan dalam pembelajaran. Kompetensi yang jelas akan memberi petunjuk yang jelas pula terhadap materi yang harus dipelajari, penetapan metode dan media pembelajaran, serta pemberi petunjuk terhadap penilaian. Oleh karena itu, setiap kompetensi harus merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.8

Dalam pandangan penulis peran guru dalam hal ini sebagai penyampai materi pelajaran, penetapan metode dan media pembelajaran agar kompetensi bisa tersampaikan dengan baik kepada peserta didik. Kompetensi yang merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Guru lah yang harus mampu membawa kompetensi tersebut agar bisa dipelajari dan dimiliki oleh peserta didik. Dengan memadukan tingkat kemapuan public speaking pemahaman yang mendalam terhadap materi, akan memberikan siswa impresi lebih dalam mengajar.

c. Penyusunan program pembelajaran

Penyusunan program pembelajaran akan bermuara pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), sebagai produk program pembelajaran jangka pendek, yang mencakup komponen kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program. Komponen program mencakup kompetensi dasar, materi standar, metode dan teknik, media dan sumber belajar, waktu belajar dan daya dukung lainnya. Dengan demikian rencana pelaksanaan pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu sistem, yang terdiri atas komponen-komponen yang saling berhubungan serta berinteraksi satu sama lain, dan memuat langkah-langkah pelaksanaannya, untuk mencapai tujuan atau membentuk kompetensi.9

Perencanaan pembelajaran erat kaitannya dengan kemampuan public speaking karena didalam proses belajar mengajar seorang guru akan berusaha sedapat mungkin agar apa yang disampaikan didengar dan proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan matang sehingga akan mendapatkan hasil pembelajaran yang memuaskan seperti yang telah diharapkan. Faktor yang bisa

8

Op. cit., Cet. Ke-4 h. 101-102

9

Op. cit., Cet. Ke-4 h. 102

membawa keberhasilannya tersebut adalah dari perencanaan sebelumnya. Guru mempersiapkan segala sesuatunya agar saat melaksanakan proses belajar mengajar memiliki kepercayaan diri dihadapan peserta didik.

Tidak hanya meteri saja yang perlu disiapkan, kecakapan guru dalam menyampaikan materi dan motivasi kepada siswa harus disiapkan secara matang. Karena pendidik sebagai pemberi materi ajar juga harus menyiapkan cara menyampaikan isi materi yang baik, memperhatikan kata demi kata yang disampaikan, mimik, dan gaya berbicara agar apa yang disampaikan bisa diserap dan pendidik faham dengan apa yang disampaikan.

2. Kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan

dialogis yang berkaitan dengan kemampuan public speaking

Setelah perancanaan selanjutnya adalah pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Setelah pelaksanaan pembelajaran tersebut dilakukan maka guru sebagai pembicara perlu mempertahankan konsistensi dalam berkomunikasi di mana tujuan penyampaian pesan menempati posisi utama terutama dalam proses penyampaian pesan. Pada saat seorang guru sedang berbicara untuk mempertahankan suatu argumen, ia harus konsisten dalam alur argumentasinya meskipun ia menemukan tanda-tanda keberatan dari audiens. Tentu saja penting baginya untuk bersikap terbuka pada pertanyaan maupun komentar dari audiens. Tetapi penting bagi guru, sebagai seorang pembicara publik, untuk menjawab pertanyaan dan komentar siswa dengan menjelaskan alasan dan tujuan mengapa materi tersebut disampaikan dengan cara yang dapat dimengerti oleh siswa.

“Kegagalan pelaksanaan pembelajaran sebagian besar disebabkan oleh penerapan metode pendidikan konvensional, anti dialog, pewarisan pengetahuan, dan tidak bersumber pada realitas masyarakat.”10

Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam hal interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik

10

Op. cit.,Cet. Ke-4 h. 103

48

faktor internal yang datang dalam diri individu, maupun faktor eksternal yang datang dai lingkungan.

Pengetahuan public speaking dan penerapannya didalam kelas merupakan nilai lebih bagi seorang pendidik. Sebaliknya jika seorang guru melewatkan atau tidak menggunakan public speaking didalam kelasnya akan pembelajaran dan nilai kinerja guru tersebut belum dikatakan sempurna. Terutama dalam management kelas dan hal inilah yang terkadang menjadi batu permasalahan didalam kelas.Berbagai permasalahan didalam kelas ternyata lebih berakar pada kemampuan seorang guru dalam mengfasilitasi kelas.Dan salah satunya adalah kemampuan public speaking guru yang rendah. Tidak heran jika para siswa merasa tidak semangat, bosan dan tidak memiliki ketertarikan terhadap proses pembelajaran.

“Seorang pengajar tidak hanya butuh pengetahuan dari bahan ajarnya. Sebagai seorang guru, haruslah menyampaikan bahan ajar dengan presisi yang tepat demi kepentingan pembelajaran.terlibatnya dialog antara guru dan siswa merupakan titik awal dari seni itu sendiri. Dengan dialog guru jelas berbeda dengan buku”. 11

Pada diri siswa, inisiatif belajar harus muncul dari para guru, karena mereka pada umumnya belum memahami pentingnya belajar. Maka, guru harus mampu menyiapkan pembelajaran yang bisa menarik rasa ingin tahu siswa, yaitu pembelajaran yang menarik, menantang, dan tidak monoton, baik dari sisi penyampaian atau isinya.

“Secara pedagogis, kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran perlu mendapat perhatian, karena pendidikan Indonesia dinyatakan kurang berhasil, dinilai kurang dari aspek pedagogis, dan sekolah tampak lebih mekanis sehingga peserta didik cenderung kerdil karena tidak mempunyai duniannya sendiri”.12

Berdasarkan pada penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa pembelajaran pada dasarnya adalah pertemuan antara aktivitas murid belajar dan guru sedang

11

Ahmad Faidi, Tutorial Mengajar untuk Melejitkan Otak Kanan dan Kiri Anak, (Jogjakarta: Diva Press, 2013), h. 15

12

Jejen Musfah, Peningkatan Kompetensi Guru, (Jakarta: Prenada Media Group, 2011) h.37

mengajar, yaitu untuk meningkatkan kemapuan baik di ranah kognitif, efektif, dan ranah keterampilan melalui aktivitas interaksi antar elemen-pembelajaran yaitu guru, siswa dan sumber belajar. Apabila terjadi interaksi yang sempurna antara ketiganya, maka itulah yang disebut dengan pelaksanaan pembelajaran yang aktif. Guru bukanlah media yang pasif, guru dalah sang motivator yang memotivasi siswa demi tujuan pembelajaran.

Kegiatan interaksi belajar-mengajar dilihat dari aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar siswa dituntut untuk aktif baik secara fisik maupun mental. Di sini guru berperan sebagai pembimbing agar semua siswa bisa aktif dalam kegiatan belajar mengajar, menggunakan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan kebutuhan siswa agar dalam prosesnya tidak terjadi kegagalan untuk mencapai tujuan pelaksanaan pembelajaran yang diinginkan.

Untuk mencapai interaksi belajar mengajar, maka perlu adanya komunikasi yang baik antara guru dengan siswa, sehingga kegiatan belajar mengajar yang dilalukan oleh guru dan siswa dapat mencapai tujuan pelaksanaan pembelajaran. Di sini seorang guru perlu mengembangkan pola komunikasi yang efektif dalam proses kegiatan belajar mengajar, karena lemahnya sistem komunikasi dapat mengakibatkan kegagalan dalam tujuan pembelajaran. Interaksi dapat dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran yang optimal agar bisa mendapatkan pola komunikasi yang efektif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa.

Kegiatan belajar mengajar yang efektif karena setiap orang didalam kelas diberikan kesempatan untuk ikut serta sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dan menimbulkan situasi sosial dan emosional yang menyenangkan bagi setiap orang, baik bagi guru, dan siswa didalam menjalakan tugas dan tanggung jawab.

Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar lingkungan agar menunjang terjadinyaperubahan perilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik. Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga hal:

50

a. Pre Tes (tes awal)

“Fungsi tes ini adalah untuk menilai sampai mana para siswa mengetahui kemampuan-kemampuan yang tercantum dalam instruksional sebelum mengikuti program pengajaran yang telah disiapkan.”13

Pelaksanaan pembelajaran biasannya dimulai dengan pre tes, untuk menjajangi proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu, pre tes memegang peranan yang cukup penting dalam proses pembelajaran, yang berfungsi antara lain:

1) Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar, karena dengan pre tes maka pikiran mereka akan berfokus pada soal-soal yang harus

Dokumen terkait