• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PAPARAN DAN HASIL TEMUAN

B. Temuan Penelitian

Berdasarkan jumlah informan yang diteliti, masing-masing subyek terdiri dari Ayah, Ibu dan anak. Penjelasan mengenai profil masing-masing Ayah, Ibu dan anak yang dijadikan informan peneliti, yaitu sebagai berikut: a. Bapak B

Bapak B berumur 46 tahun dan merupakan suami dari AH serta bapak dari MF. Bapak B mempunyai kepribadian yang baik dan displin dalam mendidik anak-anaknya agar menjadikan anak yang berpendidikan tinggi. Bapak B merupakan salah seorang yang berprofesi sebagai sopir angkot kurang lebih 20 tahun.

b. Bapak P

Bapak P berumur 37 tahun dan merupakan suami dari SMa serta memiliki dua anak, yaitu FN 10 yang berumur tahun dan RDP yang berumur 2,5 tahun. Bapak P sebelumnya berprofesi sebagai kuli bangunan, kemudian beralih profresi sebagai sopir angkot baru 3 bulan. Bapak P Tetap selalu bertekad memberikan yang terbaik untuk keluarga meskipun pulang malam.

c. Bapak D

Bapak D berumur 33 tahun dan merupakan suami dari SM serta Bapak dari seorang anak berinisial AF yang berumur 7 tahun. Bapak D ditinggal oleh istri yang menjadi TKW. Bapak D mengurus anaknya bersama kakek AF. Meskipun demikian, Bapak D berusaha menjadi

bapak yang baik untuk anaknya. Bapak D berprofesi menjadi sopir angkot sudah 1 tahun.

d. Bapak H

Bapak H berumur 38 tahaun dan merupakan suami dari VW serta Bapak dari AA. Bapak H merupakan salah seorang yang berprofesi sebagai sopir angkot selama 17 tahun. Bapak H merupakan bapak yang baik. Meskipun hanya dapat memberikan dukungan material, namun bapak H tidak lupa menasihati anaknya sesekali.

e. Ibu AH

Ibu AH berumur 41 tahun merupakan istri dari Bapak B serta Ibu dari MF. Ibu AH pekerjaannya setiap hari yaitu menjadi ibu rumah tangga. Selain itu, Ibu AH terrkadang menjaga anak dari saudaranya karena tidak ada tanggungan serta anaknya sudah besar.

f. Ibu VW

Ibu VW berumur 30 tahun merupakan istri dari bapak H dan ibu dari AA. Setiap hari Ibu VW bekerja menjadi Ibu rumah tangga dan mengurus anaknya yang masih kecil. Ibu VW displin dalam hal pendidikan. Meskipun anaknya sedikit sulit untuk dinasihati, Ibu VW tetap memotivasi terus menerus.

g. Ibu SMa

Ibu SMa berumur 32 tahun merupakan istri dari Bapak P serta ibu dari FN dan RDP. Keseharian Ibu SMa menjadi ibu rumah tangga dan

merawat anaknya yang kedua. Ibu SMa tidak patah semangat dalam menasihati anaknya.

h. MF

MF berumur 18 tahun dan duduk di kelas 12 SMK. MF merupakan anak dari Bapak B dan Ibu AH. MF jarang pergi main bersama teman sebayanya. MF merupakan anak yang rajin, displin dan senang menghabiskan waktunya dirumah.

i. AA

AA berumur 9 tahun dan duduk di kelas 3 SD. AA merupakan anak dari Bapak H dan Ibu VW. AA merupakan anak yang rajin dalam melaksanakan kewajibannya. Meskipun awalnya dari paksaan, akan tetapi melaksanakan perintah yang diberikan. AA merupakan anak yang aktif dan bisa menjaga adiknya.

j. AF

AF berumur 7 tahun dan duduk kelas 1 MI. AF merupakan anak dari Bapak D dan Ibu SMu. AF merupakan anak yang cukup mandiri dari yang lain. Karena sudah ditinggal oleh sosok Ibu yang bekerja menjadi TKW sedari kecil, sehingga karakter kemandirian pada sosok AF lebih cepat terbentuk.

k. FN

FN berumur 10 tahun dan duduk kelas 5 MI. FN merupakan anak dari Bapak P dan Ibu SMa. FN merupakan anak yang sudah mandiri dan dikelilingi teman yang kebanyakan laki-laki. FN suka membantu

bibinya menyiapkan barang dagangan sepulang sekolah yang berada disamping rumahnya.

2. Pemahaman orang tua yang berprofesi sebagai sopir angkot trayek Bringin-Salatiga tentang pendidikan agama Islam

Pendidikan agama Islam pada anak sopir angkot tidak lepas dari pemahaman orang tua pendidikan agama Islam itu sendiri. Ketika ditanya mengenai pengertian pendidikan agama Islam, kebanyakan memahami pendidikan agama Islam sebagai pedoman kehidupan anak dengan cara mengarahkannya pada nilai-nilai agama Islam. selain itu, pendidikan agama Islam bertujuan untuk bekal di akhirat dan mendekatkan diri pada Allah agar selalu dalam lindungan-Nya, sesuai yang dikemukan D berikut:

“Pendidikan agama Islam penting untuk kami sebagai pedoman dasar kehidupan dalam menjaga moral dan bekal di akhirat. Dalam keseharianpun jika sedang di rumah saya selalu mengingatkan, bahkan mengajak anak berjamaah dan mengajarinya mengaji selepas sholat maghrib. Dalam seminggu libur jumat, ya kadang minggu juga tapi jumat pasti libur. Rasanya pendek hari jumat itu, tenang ketika jumatan dan di rumah ketemu anak juga. Ketika libur yang jelas ya istirahat, menyiapkan semua kebutuhan untuk anak sekolah seperti pakaian dan sarapan. Alhamdulillah anak sudah mandiri saya hanya menyiapkan saja dan mengantar sekolah. Sisa waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil menunggu waktunya salat jumat. Paling sore ya di rumah sama anak. Selain itu, ketika ada pengajian dan ada waktu longgar, saya mengikutinya” (13 Maret 2017).

Alasan tersebut juga serupa dengan B dalam mengartikan pendidikan agama Islam. Seperti pernyataan dalam hasil wawancara, sebagai berikut:

“Pendidikan agama Islam untuk mendekatkan anak kepada Allah Swt, sehingga anak selalu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketika libur ya buat istirahat kalau

ndak ya ke sawah mbak, punya sawah meskipun ndak luas. Dalam seminggu saya mengambil libur pada hari jumat mbak, sebab harinya mepet, dan untuk melaksanakan salat jumat. Ketika sedang di rumah, saya juga sering mengingatkan serta mengajak anak sholat berjamaah dan mengajarinya mengaji” (13 Maret 2017) Pernyataan tersebut sejalan dengan pernyataan Ibu AH Istri B dalam hasil wawancara berikut:

“pendidikan agama Islam itu penting bagi kami. Keseharian saya sebagai ibu rumah tangga saja, sehari-hari ya bersih-bersih rumah, masak kadang ke sawah. Sholat lima waktu itu pasti saya kerjakan, jika ada pengajian ibu-ibu setiap malam jumat saya mengikuti pengajian tersebut” (11 April 2017)”

Hal ini sejalan dengan pernyataan VW dalam mengartikan pendidikan agama Islam seperti pernyataan dalam hasil wawancara, sebagai berikut:

“Pendidikan agama Islam merupakan pondasi dalam hidup, apabila tidak ada agama maka tidak akan baik dalam kehidupannya di masa depan. Saya juga sangat memperhatikan sholat lima waktu, terutama saya sendiri. Karena agama mengajarkan anak tentang adanya aturan yang tidak mengekang. Dalam kesehariannya saya yang banyak mengurus anak, mengajarinya ngaji, bacaan dan gerakan sholat, bahkan pengetahuan umum, sebab keseharian anak banyakmenhabiskan waktu dengan saya” ( 11 April 2017 )

Sedikit berbeda dengan pernyataan Bapak P dalam wawancara berikut:

“Pendidikan agama Islam itu penting untuk bekal hidup kelak. Namun, yang tahu rutinitas ibadah dan semua hal tentang anak ya ibunya, saya ya sebisanya menjalankan. Yang mengurus anak semuanya ibunya, pasrah semua tanggung jawab anak sama ibunya. Saya tidak paham, manut sama ibunya kalau perkara mengurus anak, saya pulang malam dan tidak sempat mengurus anak. Sebab sehari-hari sibuk narik angkot. Kalau pengen libur ya libur, tidak tentu, biasanya ya minggu. Ketika libur ya istirahat di rumah, kalau ada yang carter ya carter” (13 Maret 2017)

Berbeda dengan orang tua, beberapa anak sopir angkot justru menjawab pengertian dengan menyebutkan rukun islam dan ada pula yang mengartikan pendidikan agama Islam untuk mendidik moral menuju jalan yang benar. Pernyataan itu terbukti dalam hasil wawancara dari MF anak dari B sebagai berikut:

“Pendidikan agama Islam mendidik tentang moral dalam menuju jalan yang benar” ( 11 April 2017).

Sedangkan AF mengemukakan pendapat tentang pendidikan agama Islam sebagai berikut:

“Pendidikan agama Islam mengajarkan tentang Alquran, fiqih, aqidah akhlak” ( 12 April 2017)

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha dalam mendidik akhlak anak sesuai ajaran Islam dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, melaksanakan segala peintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun latar belakang pendidikan agama islam orang tua yang berprofesi sebagai sopir angkot terbilang cukup baik. Meskipun hanya berprofesi sebagai sopir angkot, namun hal tersebut tidak membatasi untuk memperhatikan pendidikan agama Islam baik pada dirinya maupun keluarga. Para orang tua sangat memperhatikan ibadah sholat lima waktu, bahkan mengikuti kajian-kajian keislaman.

3. Upaya orang tua dalam pendidikan agama Islam anak dengan latar belakang pendidikan agama Islam orang tua berprofesi sebagai sopir angkot trayek Bringin-Salatiga

Pendidikan anak merupakan upaya dalam memberikan pengetahuan terhadap anak agar anak tahu. Sedangkan pendidikan agama Islam adalah upaya dalam memberikan pengetahuan, pemahaman tentang agama Islam sesuai kaidah-kaidah yang sudah berlaku sehingga anak mempunyai pondasi keyakinan yang kuat.

Dalam pendidikan agama Islam diperlukan upaya atau kemauan dari orang tua sopir angkot dalam mendidik anaknya. Sebagaian orang tua melakukan upaya dalam pendidikan agama Islam dengan cara menerapkan kebiasaan-kebiasaan kecil terlebih dahulu, seperti bangun pagi sampai terbiasa melaksanakanya. Apabila upayanya tidak menumbuhkan hasil, maka upaya yang lain dengan cara dinasihati, dimarahi bahkan diberikan sanksi atau hukuman, seperti tidak mendapat uang saku meskipun sehabis sekolah uang saku tetap diberikan. Pernyataan tersebut dibuktikan dengan hasil wawancara kepada VW istri bapak H sebagai berikut:

“Upaya yang kami lakukan dalam pendidikan agama Islam anak, senantiasa membiasakan anak dengan hal-hal baik sejak dini dan terkadang menasihati sampai memarahi anak bahkan hukuman semua itu dilakukan agar anak displin serta mau menjalankan ibadah salat dan mengaji. Cara mendidik anak pertama ya menasihati, tapi karena kadang anak susah dinasihati aja ibarat masuk telingan kanan keluar telinga kiri ya pernah saya hukum tidak saya kasih uang jajan meskipun pulang sekolah nannti diberikan cuman sekali sih mbak, ya kadang dicubit begitu kalau dinasihati justru meremehkan. Kalau jadinya ngambeg, ya harus ngrayu anak agar tidak ngambek. Kalau anak sedang mau untuk belajar, kadang saya mengajari bacaan salat, gerakan, kadang mata pelajaran umum. Siapa lagi kalau bukan saya. Alhamdulillah pernah juara lomba berhitung waktu TK” (11 April 2017)

“Upaya kami dalam pendidikan agama Islam yaitu menasihati anak berkali-kali tanpa bosan, membiasakan bangun pagi untuk menyiapkan keperluannya, dan memotivasi anak bahwasanya semua itu dilakukan untuk kebaikan anaknya” (12 April 2017). Bapak B pun mempunyai cara dalam menerapkan pendidikan agama Islam pada anaknya. Seperti dalam hasil wawancara berikut:

“Lingkungan di sini alhamdulillah bagus, dekat masjid dan ada TPA juga. Kalau pendidikan terutama agama, kami mendidik anak bersama. Saya mengajari sebisanya dan ibunya memberikan pengetahuan tambahan. Selain itu, anak juga mengaji dengan pak kyai dekat sini seperti ngaji kitab aklhak fiqih dan banyak lagi setelah maghrib. Ketika mendidik anak, kalau anak salah diingatkan tidak harus sampai dihukum yang berat ataupun dipukul. Alhamdullah anaknya tidak aneh-aneh, tidak pernah main jauh, senang di rumah jadi ya mudah untuk mengawasinya“ (13 Maret 2017)

Pernyataan tersebut sejalan dengan pernyataan Ibu AH Istri B dalam hsil wawancara berikut:

“Dalam mendidik anak ya bersama, saya dan suami saling menasehati anak. Kalau anak salah ya dingatkan, dinasehati. Mendidik anak ya dengan menasihati, tidak sampai hati kalau memukul. Kalau mengajari ngaji suami, salat ya belajar dari sekolah juga kan ada pelajarannya. Sekarang sudah besar jadi sudah bisa tahu kewajibannya walaupun kadang masih perlu untuk diingatkan” (11 April 2017)

Kesibukan berprofesi sebagai sopir angkot cukup menjadi alasan bagi Bapak H, sehingga sulit dalam memperhatikan pendidikan agama Islam pada anak. Seperti dalam hasil wawancara berikut:

“Saya gak mesti mbak, kalau pengen narik ya narik kadang seminggu libur tiga hari mbak. Meskipun begitu, saya jarang sekali mengurus anak. Yang mengurus semua keperluan anak itu ibunya. Ketika di rumah, saya mengurus pekerjaan lain, kadang ya di bengkel teman”(11 April 2017)

Di sisi lain, kesibukan berprofesi sebagai sopir angkot tidak menjadi halangan bagi bapak P dalam memperhatikan pendidikan agama Islam pada anak. Seperti dalam hasil wawancara berikut:

“Meskipun ibu yang banyak berperan dalam mengurus dan memperhatikan anak, saya ya kadang-kadang menasehati anak kalau nakal. Itu sebagai bentuk kepedulian saya terhadap anak” (13 Maret 2017)

Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Ibu SM Istri P dalam hasil wawancara berikut:

“Cara mendidik anak, biasanya saya menasihatinya. Bapaknya juga sering menasehatinya. Kalau tidak nurut ya kadang saya marahi kadang ya tidak didengarkan dan itu membuat saya befikir kalau sifat kakaknya ini seperti laki-laki. Ya mungkin karena temannya itu kebanyakan laki-laki, tapi sekarang ya lumayan sedikit mendengarkan. Mungkin karena sudah besar juga sudah kelas 5. Saya juga waspada jangan sampai ini anak seperti laki-laki, saya perhatikan sekali. Kadang saya kasih saran untuk seperti temannya yang cewek, pakai bedak, minyak dan lotion. Selain itu, membiasakannya bangun pagi. Jadi kebiasaan kadang tanpa saya bangunkan sudah bangun untuk salat kalau sedang mau. Kadang ya mandi saja lalu menyiapkan jadwal sekolahnya. Ketika malam kan kadang tidur di rumah mbahnya jadi belum sempat menata sendiri” “Sudah pernah TPA tapi lama-lam malas jauh trus temannya kan juga laki-laki mbak, ya perempuan jarang itu pun agak jauh jadi ya mending di rumah main begitu mbak tapi masih mau mengaji ya alhamdulillah mbak di dekat mbahnya, nanti pas malam saya mengecek kesana kalau mau tidur rumah seumpama” (11 April 2017)

Berbeda dengan D dalam upaya pendidikan agama Islam, D lebih menekankan kesadaran anak bahwa apa yang dilakukan anak sekarang akan bermanfaat bagi anak nantinya. Hal tersebut terbukti dengan hasil wawancara sebagai berikut:

Kalau mendidik anak ya hanya saya nasehati, nanti kalau dikeras dan nangis susah untuk menenangkannya. Cukup mengawasi, menasihati dan motivasi dengan baik. Terkadang saya mengajarinya bacaan salat dan gerakannya kalau sudah bisa ya saya perintahkan untuk melakukannya sesuai ajaran agama Islam, kalau mengaji sudah ada sendiri tapi kadang ya saya mengujinya biar tahu kemampuan anak sampai mana begitu mbak. Zaman sekarang anak harus dibekali agama sejak kecil mbak, bahaya nanti kalau tidak dibentengi” (13 Maret 2017).

Dari berbagai macam pernyataan orang tua dalam upaya pendidikan agama Islam pada anak dapat dibuktikan pada wawancara dengan anaknya. Salah satunya yaitu hasil wawancara AA anak dari bapak H dan ibu VW sebagai beikut:

“Iya ketika saya malas dan bosan tidak mau mengaji atau mengerjakan salat, tapi ibu selalu menasehati dan memarahi saya. Dan pada akhirnya saya melaksanakan perintah ibu” (11 Appril 2017)

Hal serupa dikemukakan FN anak dari bapak P dan ibu SMa dengan hasil wawancara sebagai berikut:

“Terkadang saya lupa mengerjakan salat, sehingga ibu menasihati terus menerus dan memarahi saya. Terkadang saya laksanakan terkadang tidak” (12 April 2017)

Dari beberapa jawaban tersebut hampir serupa. Sedikit berbeda dengan pernyataan AF anak dari D dalam hasil wawancara sebagai berikut:

“saya sering melaksanakan salat kalau salat magrib saja, kalau lima waktu ketika bapak berada di rumah atau libur hari jumat dan minggu” (12 April 2017)

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa upaya dalam pendidikan agama Islam oleh orang tua yang berprofesi sebagai sopir angkot berbeda antara satu dengan lainnya. Dalam kesehariannya para orang tua yang berprofesi sebagai sopir angkot selalu berusaha meluangkan

waktu untuk memperhatikan pendidikan sang anak. Dalam pendidikan umum, seperti pada umumnya bahwa para orang tua tetap memberikan bimbingan dalam memahami maupun menyelesaikan hal-hal yang diperoleh di sekolah. Sedangkan dalam hal pendidikan agama Islam, para orang tua memberikan pengertian, pengetahuan tentang agama Islam seperti sholat, baca tulis Al-Qur’an, bahkan mengajaknya mengikuti kajian- kajian keislaman di lingkungan sekitarnya.

Meskipun demikian, terdapat persamaan antara orang tua berprofesi sebagai sopir angkot satu dengan lainnya dalam menerapkan pendidikan, baik pendidikan umum dan terutama pendidikan agama Islam. persamaan tersebut yaitu dengan cara menerapkan kebiasaan-kebiasaan baik, menasihati, memotivasi hingga memberikan hukuman sampai anak mengikuti perintah yang diberikan tanpa merasa terpaksa.

4. Kendala Orang Tua yang Berprofesi Sopir Angkot dalam memberikan Pendidikan Agama Islam pada Anak

Pastinya dalam setiap hal terdapat kendala yang dihadapi. Dalam pendidikan agama Islam pun terdapat kendala didalamnya. Meskipun kendala yang dialami tidak terlalu besar, akan tetapi apabila dibiarkan akan menjadi tidak baik. Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil wawancara dengan bapak B sebagai berikut:

“Anak ketika sudah pulang sekolah kegiatannya hanya dirumah sambil menghadap laptop, maka dunia terasa menjadi miliknya sendiri. Anak asyik dengan laptopnya entah main game dan sebagainya sehingga terkadang lupa waktu dan perlu diingatkan ketika masuk waktu salat”(13 Maret 2017)

Kurangnya kesadaran anak tentang waktu untuk beribadah menjadi salah satu kendala yang dialami oleh orang tua. Hal serupa juga dikemukakan P pada hasil wawancara sebagai berikut:

“Meskipun saya jarang dirumah tapi saya tahu anak saya kalau sudah main terkadang lupa makan dan asyik main sepedaan sehingga lupa mengerjakan salat” (13 Maret 2017).

Pernyataan tersebut sejalan dengan pernyataan ibu SM Istri P dalam hasil wawancara berikut:

“Keseharian saya sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan anak main sepeda pas musim sepeda, kadang ikut bantu budhenya bungkus- bungkus merica, pulang samping rumah semaunya dia mbak, kalau malam mengaji di tempat yang dekat rumahnya mbah beda dusun mbak tapi kalau disuruh TPA sama sekali tidak mau” (11 April 2017)

Selain kurangnya kesadaran anak tentang waktu beribadah, banyaknya waktu orang tua yang tersita untuk bekerja sehingga sulit memperhatikan anak menjadi kendala dalam memberikan pendidikan agama Islam pada anak. Seperti peryataan bapak D berikut:

“Keseharian anak pulang sekolah ya main sama teman-teman sekitarnya kadang ya dirumah nonton TV, kalau malam belajar semaunya dia. Selain hari jumat kadang bolong-bolong salatnya. Anaknya tidak mau ikut TPA karena jauh dan tidak ada yang mengantar, sebab saya bekerja pulang sore, ibunya kerja di luar negeri, mbahnya juga nggak mampu. Alternatifnya ya privat ngaji mbak trus sekolahnya sudah di MI ya lumayan tahu agama setidaknya” (12 April 2017)

Selain itu, Ibu VW Istri H juga mengutarakan kendala yang dihadapinya dalam hasil wawancara berikut:

“Anak itu malas orangnya, kalau ngambeg menenangkannnya susah sekali. Yang penting sudah mau mengaji alquran pas malam begitu saja sudah bagus”(11 April 2017)

Pernyataan di atas dapat dibuktikan dengan hasil wawancara anaknya. MF anak dari B menjawab dengan hasil wawancara sebagai berikut:

“Iya, saya dirumah saja sambil menghadap laptop ketika waktunya salat nanti semua mengingatkan saya” (11 April 2017)

Hal ini serupa yang dikemukakan FN dengan hasil wawancara sebagai berikut:

“iya, terkadang seperti itu” (12 April 2017)

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kendala orang tua sopir angkot dalam pendidikan agama Islam ada dua, yaitu internal dan eksternal. Kendala dari dalam diri sendiri (internal) orang tua maupun anak yaitu belum penuhnya kesadaran dan kemauan dalam medalami pendidikan agama Islam. Sedangkan, kendala dari luar (eksternal) yaitu lingkungan anak yang lebih menawarkan keasyikan bermain dengan teman-temannya maupun bermain dengan gadgetnya. Selain itu, minimnya waktu orang tua untuk memperhatikan anak karena harus bekerja.

BAB IV

Dokumen terkait