• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

B. Temuan Penelitian

Pada saat penggalian data, penulis melakukan wawancara dengan pengasuh sekaligus wali kalayan di panti asuhan Darul Hadlanah NU dan memperoleh data sebagai berikut:

1. Peranan wali kalayan dalam menumbuhkan perkembangan kepribadian

anak di panti asuhan Darul Hadlanah NU

Berkaitan dengan masalah di atas, penulis ajukan beberapa pertanyaan kepada pengasuh sekaligus wali asuh di panti asuhan yaitu Ibu Muizzatul Azizah (MA):

Untuk mengetahui adanya perkembangan atau tidak, penulis perlu mengetahui keadaan saat pertama masuk panti dan hal itu langsung penulis tanyakan kepada pengasuh.

“pertama anak datang di antar wali bisa saudara, pakde,

nenek, bisa tetangga atau Rt/Rw setempat. Kalau yang masih ada orang tuanya ya sama orang tuanya. Minta keterangan tidak mampu, KK, KTP. Setelah itu, survey ke alamatnya, apakah anak benar-benar membutuhkan,

khawatirnya salah sasaran”

“rata-rata anak yang masuk karena dari keluarga broken home; kalau ngak bapak ibunya cerai atau meninggal, secara anak normal bukan dari keluarga yang normal. Secara kepribadian beda dari keluarga yang utuh, beda sekali. Mereka datang di samping butuh bantuan biaya dia juga butuh orang tua, butuh keluarga kasih sayang seutuhnya. Secara kepribadian berbeda dari anak-anak dari keluarga yang normal maksudnya utuh, kadang ada yang nakal, ada yang ngelamun dan ada yang sak karepe dewe”.

b. Perkembangan anak setelah masuk panti asuhan

Setelah mengetahui keadaan sebelum masuk di panti asuhan, penulis langsung tanyakan bagaimana perkembangan setelah masuk panti asuhan,

“ banyak, Alhamdulillah banyak, kalau anak itu kan mudah, apalagi anak SD kan masih mudah. Ketika berada di lingkungan yang baik meski ia akan terpengaruhnya cepat. Akhir-akhir kelihatan aslinya. Karena anak baru masih takut, ya ngikuti alur, sholat ya salat, ngaji ya ngaji, belajar ya belajar, makan ya makan. Biasanya kenakalan-kenakalan muncul kalau dah lama, terasa sudah seperti keluarga, jadi sudah berani nglanggar, susah di bangunin, waktu jamaah masih bobok. Biasanya kenakalan muncul setelah nyaman, sudah kenal, kalau awal-awal justru rajin, karena

pekewuh dan belum kenal kan.

c. Metode yang digunakan untuk menumbuhkan perkembangan

Dalam upaya menumbuhkembangkan kepribadian yang tepat sasaran di panti asuhan, seorang wali asuh harus menggunakan sebuah metode, seperti paparan di bawah ini:

“Ajak bicara ke anaknya, kalau di rumah ngapain, biasanya

apa, jam segini ngapain, kalau sekolah sarapan ngak ya gitulah yang ringan-ringan. Biasanya saya tanyakan bapak ibu mu kemana, kalau yang masih ada orang tuanya, kalau yang sudah tidak ada ya ngak saya tanyakan. Yang paling sering saya tanyakan yang ringan-ringan, seperti saya tanyakan kepada anak pada umumnya. Terutama aktivitas kebiasaan di rumah apa, setelah saya dengar saya sosialisasikan programnya. Kalau disini sarapan jam sekian, kegiatan ya ini-ini, anak bisa adaptasi, harus ngaji sholat, harus manut. Main ya ada waktunya, kalau di rumah main kan jor-jorankalau disini ada waktunya”.

d. Perkembangan anak di panti asuhan dari hari demi hari

Ternyata anak-anak asuh di panti asuhan Darul Hadlanah NU mengalami perkembangan, apa saja perkembangannya, berikut paparan dari MA:

“Perkembangan secara umum meningkat, awalnya tidak bisa ngaji

bisa ngaji, tidak salat jamaah jadi salat jamaah, mandi jadi teratur, sarapan teratur, ini dari segi kebiasaan sehari-hari. Kalau dari segi pendidikan, ya jelas jauhlah, terutama dari segi agama, karena ini adalah panti asuhan plus kan, plus pesantren anak sebisa mungkin harus tahu konsekuen, tahu kewajiban, seperti sholat lima waktu, sholat sunnah, yang biasanya ngak pernah puasa bahkan romadhan tidak puasa disini saya ajarkan puasa sunnah. Ya itu perkembangan, sedikit-sedikit, anak-anak belajar dari lingkungan. Ngak harus ngomong karena sudah ada program, anak sudah

terbiasa”.

e. Kesulitan wali asuh dalam menumbuhkan perkembangan

kepribadian anak di panti asuhan Darul Hadlanah NU

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam proses mengembangkan kepribadian anak banyak sekali kesulitan yang dialami wali

kalayan, tapi wali kalayan juga punya cara untuk mengendalikannya, seperti paparan MA, berikut ini:

“Banyak. Anak usia SD lebih cenderung bisa dikendalikan.

Kalau untuk anak SMP yang lagi ego besar banget. Nasehat ngak henti-hentinya. Bila melanggar di sidang. Kalau tiga kali nglanggar. Kalau sudah tidak wajar lagi. Saya keluarkan, saya harus tegas. Kalau tidak dikeluarkan merusak yang lain. Dikeluarkan juga kasihan, takutnya di luar tambah rusak. Kalau masih punya saudara atau orang tua saya kembalikan. Yang ngak punya orang tua di pertahankan dengan syarat, takutnya kalau dikeluarkan jadi anak jalanan. Anak SMA sudah saya ajari dewasa, berlatih tanggung jawab. Membantu saya mengoprak-oprak adik-

adiknya. Dimintai bantuan untuk keperluan dapur”.

2. Perkembangan kepribadian anak di panti asuhan

Untuk mengetahui perkembangan anak di panti asuhan, maka penulis melakukan wawancara ke beberapa anak asuh di panti asuhan,

a. Kepribadian sebelum masuk panti asuhan

Beberapa anak panti asuhan yang putri:

1). Adik Alfa, mengatakan: “Kurang baik, sering bermain, kalau dirumah jarang melakukan pekerjaan rumah, suka nonton

televisi, bangunnya kurang pagi”.

2). Adik Sunariyah mengatakan: “ masih malas-malasan, masih kurang rajin ngaji dan salat, suka bermain

3). Adik Nur hikmah mengatakan: “ masih kurang baik, banyak bermain HP, banyak bermain, kurang bisa mengatur waktu lah, salat jarang-jarang”.

4). Adik Sema mengatakan: “masih kurang baik, suka bermain, begadang tidur malam-malam, jarang salat subuh

5). Adik Dewi mengatakan: “gak pernah salat, jarang ngaji, sering

main HP, ngak pernah belajar”.

6). Adik Uswah mengatakan: “suka males, jarang salat, ngaji rajin,

suka nonton televisi, jarang bantu orang tua”.

1). Dani mengatakan: “Ngekel, nakal, sering main, gak mau salat,

gak tau waktu belajar”.

2).Diky mengatakan: “ sering gak sholat, bangun siang, gak pernah

belajar”.

b. Perubahan atau perkembangan setelah masuk panti asuhan

1). Dani mengatakan: “Ada perubahan, banyak, salat rutin, bisa

ngaji, tahu ilmu agama, alhamdullilah dapat prestasi, disini dapat pengalaman banyak dari pengasuh, guru ngaji teman, bisa membagi waktu salat,ngaji dan belajar, dibilangin ngeyel harus

dijewer, sekarang gak usah disuruh langsung dilaksanakan. Selain itu, nyuci baju sendiri, bisa ngajari adik-adiknya belajar, lebih tanggung jawab, dulu bisanya minta uang jajan, sekarang

makan seadanya, sekarang bisa hemat dan mandiri”.

2). Nazil mengatakan: “Sopan santun mending, dulu ngeyel, gak pernah nurut, pake bahasa ngoko sama orang tua, sekarang pake bahasa kromo”.

3). Diky mengatakan: “Iya, cuci baju sendiri, menata sepatu

sendiri, belajar sendiri”.

c. Pentingnya peran wali kalayan dipanti asuhan dalam menumbuhkan kepribadian anak

Untuk mengetahui seberapa pentingnya peran wali kalayan dalam menumbuhkan perkembangan kepribadian anak dipanti asuhan, penulis mencoba mengajukan pertanyaan kepada beberapa anak asuh, berikut jawabannya:

Jawaban anak putri:

“Penting, mendidiknya lebih tegas”.

Karena kadang-kadang orang tua lebih memanjakan anaknya, sehingga kepribadian anak tidak tumbuh dengan optimal, kurang dewasa, tidak mandiri, dan kekanak-kanakan.

Di panti asuhan dengan adanya wali kalayan yang mendidik dan membimbingnya dengan tegas anak akan menjadi mandiri, dewasa, dan bertanggung jawab.

Jawaban anak putra:

“Penting,, karena perilaku seorang anak akan meniru perilaku orang tua,, wali asuh sudah dianggap orang tuanya sendiri”.

Wali kalayan harus selalu memberikan contoh yang baik karena semua yang dilakukan wali kalayan, anak akan menirunya.

Selain melakukan wawancara dengan wali kalayan dan anak asuh, penulis juga melakukan wawancara dengan beberapa orang tua anak.

1. Ibu Baroroh. M ( nenek dari M. Haqiqi Nazil)

a. Pertanyaan: Kepribadian anak sebelum masuk panti:

“ ibunya sudah meninggal, bapake mboten ngurusi, terus kaleh mbake, lha mbake kayae yo rak ngurusi, kepribadian ingkang kulo delok radi manja, rodo keset, ngeyel”.

b. Pertanyaan: tujuan orang tua memasukkan anak ke panti:

“Kersane kerumat, kersane mendapat perhatian ilmu,

karena orang tuanya tidak bertanggung jawab”.

2. Ibu Aminatun (nenek dari Adela Bintarawan Ixsana dan Dindiawan Ayang Iyanda)

a. Pertanyaan: Kepribadian anak sebelum masuk panti:

Nggeh sae”.

Kersane pinter sekolah, pinterngaji”.

Amargi bapake sampun dangu mboten enten, Ibue teng toko syifa mangkat ipun jam 7 pulang wangsul ipun jam 10.

BAB IV

Dokumen terkait