• Tidak ada hasil yang ditemukan

Temuan Penelitian

Dalam dokumen Konstruksi Kausatif Bahasa Batak Toba (Halaman 145-157)

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

5.4 Temuan Penelitian

Sebagai kajian ilmiah, penelitian ini memiliki temuan yang dapat digunakan untuk mengembangkan khazanah linguistik.

a) Temuan Teoretis

Temuan teoretis dalam penelitian ini merupakan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian.

1) Penentuan kausatif leksikal dengan mekanisme pemasifan dapat dilakukan untuk menentukan posisi tipe konstruksi kausatif leksikal dalam kontinum parameter formal. Artinya, apabila salah satu di antara pemarkah afiks (di, ni, -in-, tar-, ha--an, -on/ -an, -an) tidak terdapat dalam konstruksi tersebut, kausatif tersebut bukan kausatif morfologis melainkan leksikal. 2) Pelekatan afiks kausatif {pa--hon} dan {pa--i} dalam bBT dapat

dengan mengkombinasikan afiks {maN-} dan {-i} atau {-hon}. Hal ini merupakan temuan khas dalam bBT sebab dalam bahasa lain, khususnya bahasa Indonesia, pelekatan kombinasi afiks tersebut tidak dapat memunculkan konstruksi kausatif pada kategori kata yang sama apabila dibentuk oleh afiks yang berbeda.

3) Konstruksi kausatif analitik bBT membentuk tipe urutan S-V-V-O dengan pemarkah do sebagai pentopikalan. Selain itu, bBT juga membentuk pola S-V-O-V yang disebut sebagai variasi kanonik dari urutan kata S-V-V-O. Kedua pola itu disesuaikan oleh kategori kata yang membentuknya. Selain itu, penentuan struktur pembentuk kausatif analitik dapat diuji dengan pelekatan negasi dan modalitas pada PRED1 dan PRED 2.

4) Pemetaan tipe kausatif sejati dan permisif tidak didasarkan pada tipe kausatif berdasarkan parameter formal seperti temuan penelitian terdahulu, namun lebih didasarkan pada kebernyawaan [ bernyawa] penyebab. 5) Pemarkah do dalam bBT merupakan pemarkah aspek yang menyiratkan

waktu lampau. Posisi pemarkah tersebut berada pada Infleksional (I) dan didominasi oleh FI dalam struktur kausatif bBT.

b) Temuan Empiris

Temuan ini memuat hasil yang diperoleh dalam penelitian yang sifatnya praktis seperti berikut.

1) Verba yang mengindikasikan makna ‘membunuh’ cukup banyak ditemukan dalam bBT. Selain bunu (mamunu), verba lain yang sama dengan itu adalah (1) bija, (2) buje (mamuje), (3) todos (manodos), dan (4) pusa (mamusa). Keempat verba tersebut mengindikasikan makna (1)

membunuh dan (2) menikam, namun tidak ditemukan data (baik lisan, maupun tulisan) mengenai keempat bentuk verba tersebut. Artinya, verba tersebut tergolong kausatif leksikal sama seperti verba mamunu.

2) Pelekatan afiks bBT tidak memiliki makna yang sejajar dengan afiks yang sama dalam bahasa Indonesia, misalnya (1) mamparlobi bukan

*memperlebih melainkan melebihkan, (2) mamparsada bukan

*mempersatu melainkan mempersatukan (menyatukan), serta bentuk lain yang tampak dalam pemetaan afiks kausatif pada lampiran 5.

3) Verba *mamodomhon yang dilekati oleh afiks {-hon} bukanlah kausatif dalam bBT karena dalam konsep budaya bBT, *mamodomhon bermakna ‘mengerami telur (ayam, itik)’. Hal itu berbeda dengan verba papodomhon yang dilekati oleh afiks {pa--hon}. Temuan ini merupakan salah satu keunikan empiris bBT yang dihubungkan dengan konsep budaya.

4) Ada beberapa verba dalam bBT yang sulit mencari padanan makna dalam bahasa lain, misalnya mampardumaredehon. Verba tersebut mengandung berbagai unsur imbuhan yang melekat dan masing-masing memberi nuansa imbuhan. Pertama, awalan {mam-} berdiri sebagai imbuhan pembentuk aktif transitif. Kedua, awalan {par-} berdiri sebagai pembentuk aktif transitif. Ketiga, kata dasar kategori verba dede. Keempat, sisipan {-um-} yang melekat pada awalan {mam-} memunculkan makna aktif transitif pada kata dasar dede. Kelima, sisipan {-ar-} yang ekuivalen dengan sisipan {-al-} dalam bBT yang memunculkan makna ‘ramai, berulang’. Terakhir, akhiran {-hon} yang muncul dalam memberi nuansa pemberi makna aktif transitif.

Catatan: 1

Pemarkah pasif bBT (Sibarani, 1997: 158)

No. Afiks Proklitik Kata

1. di- hu- tu + N

2. ni- ta- hona + Vt & N

3. -in- hu- hami dapot/ jumpang

4. tar- 5. ha-an 6. -on/ -an 7. -an

2

Rumus kausatif leksikal yang digambarkan pada bagian sebelumnya merujuk pada struktur logis verba yang dikemukakan oleh Van Valin. Selain itu, perlu dipahami bahwa penggunaan huruf kapital pada kata ‘MENYEBABKAN’ dan ‘MENJADI’ bermakna bahwa ada banyak jenis kata dan kategori yang dapat mengisi kedua slot tersebut dalam membentuk konstruksi kausatif. Hal yang sama juga terdapat pada slot (X) dan (Y). Penjelasan lebih lanjut tampak pada tabel berikut.

Struktur Logis Verba (Van Valin, 2006: 10 dalam Mulyadi, 2012)

No. Verba Makna

1. Keadaan Predikat’ (x) atau (x,y)

2. Kegiatan Melakukan’ (x, [predikat’ (x) atau (x,y)]) 3. Ketercapaian Predikat’INGR (ESIF) (x) atau (x,y)], atau

Melakukan ‘INGR (x, [predikat’ (x) atau (x,y)] 4. Semelfaktif Predikat’ SEML (x) atau (x,y), atau

Melakukan SEML (x’, [predikat’ (x) atau (x,y)]) 5. Ketuntasan Predikat’ MENJADI (x) atau (x,y), atau

Melakukan’ MENJADI (x, [predikat’ (x) atau (x,y)]) 6. Ketuntasan

Aktif

Melakukan’ (x, [predikat1’ (x; (y))], dan predikat2’

MENJADI (z,x) atau (y)

7. Kausatif α MENYEBABKAN β dimana α, β adalah representasi dari tipe apapun.

3

Perilaku yang berbeda pada kedua verba tersebut ditunjukkan dalam struktur logis verba dalam tabel di atas.

4

Aplikatif adalah proses perubahan valensi verba dengan penambahan argumen nonagen. Itu sebabnya, aplikatif merupakan alat penambahan valensi verba (Payne, 2002: 186; Whaley, 1997: 191). Proses tersebut menyebabkan unsur periferal (bukan inti) berubah menjadi unsur inti dengan mengubahnya menjadi objek langsung. Dalam hal ini, Payne mengajukan tiga jenis aplikatif, yaitu aplikatif instrumental, aplikatif benefaktif, dan aplikatif lokatif (Payne, 2002: 187-188). Istilah aplikatif sering digunakan untuk merujuk ke proses derivasional yang meliputi penaikan valensi dalam bahasa-bahasa Bantu (lihat Artawa, 1998). Bahasa Chichewa mempunyai jenis proses sintaksis tersebut. Konstruksi aplikatif dalam bahasa itu mempunyai dua fitur penting, yaitu: (a)

peran tematis yang baru dimasukkan ke dalam struktur argumen; (b) verba mengalami modifikasi morfologis, yaitu sufiksasi dengan morfem aplikatif. Trask (1993) dalam Jufrizal (2002, 2007) menyebutkan konstruksi aplikatif sebagai konstruksi penciptaan objek, OTL dasar atau objek oblik dimunculkan sebagai objek nyata (objek lahir).

5

Istilah resultatif dimaknai sebagai suatu keadaan yang di dalamnya tersirat peristiwa yang dinyatakan oleh verba resultatif ‘telah terjadi’ dan dari peristiwa yang dinyatakan itu menghasilkan suatu hasil. Sekilas konstruksi ini sama dengan konstruksi statif. Namun, terdapat perbedaan antara konstruksi resultatif dan konstruksi statif, yakni (1) konstruksi statif mengungkapkan suatu keadaan tanpa implikasi apa pun terkait dengan asal-muasalnya, sedangkan konstruksi resultatif mengungkapkan, baik keadaan maupun tindakan yang mendahuluinya (Nedjalkov dan Jaxontov, 1998:6 dalam Budiarta, 2013).

6

Eksistensi pemarkah do pada data di atas membuat urutan kata pada konstruksi tersebut cenderung bertipe S-V-O. Tujuan pelekatan pemarkah tersebut hanya untuk mempermudah penganalisisan terhadap konstruksi.

BAB VI PENUTUP

Berdasarkan temuan dan pembahasan hasil penelitian yang dikemukakan sebelumnya, berikut ini disajikan simpulan dan saran sebagai penutup dari rangkaian kajian ini.

6.1 Simpulan

Simpulan berikut searah dengan rumusan masalah yang dikemukakan dalam kajian ini. Pertama, simpulan mengenai tipe kausatif bBT. Tipe kausatif berdasarkan parameter formal terbagi atas tiga, yakni kausatif leksikal, kausatif morfologis, dan kausatif analitik, sedangkan berdasarkan parameter semantis terbagi atas dua, yakni kausatif sejati dan permisif dan kausatif langsung dan tak langsung.

Kausatif leksikal dalam bBT dipetakan pada dua subtipe, yakni (1) berdasarkan keistimewaan verba, dan (2) berdasarkan kemurnian leksikon (suppletive pairs). Temuan dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa bBT memiliki verba khas dalam membentuk konstruksi kausatif leksikal tanpa bantuan afiks kausatif (kausatif morfologis) dan verba kausatif (kausatif analitik). Temuan tersebut diuji dengan mekanisme pemasifan dan pelekatan verba manubo untuk menguji kealamiahan verba tersebut.

Kausatif morfologis dalam bBT dilekati oleh lima afiks kausatif, yakni afiks {-hon}, {-i,} {pa- / par-}, {pa- - hon}, dan {pa- - i}. Penggunaan afiks tersebut berbeda satu sama lain. Di antara kelimanya, afiks {pa--hon} adalah afiks yang paling berpotensi dalam melekat pada banyak kategori dan bersubsitusi

dengan afiks lain. Temuan dalam kausatif morfologis menyimpulkan bahwa pelekatan afiks {-hon} dan {-i} tidak hanya memunculkan konstruksi kausatif, tetapi juga memunculkan konstruksi aplikatif. Dalam hal valensi, aplikatif merupakan peningkatan jumlah valensi, sedangkan konstruksi resultatif merupakan penurunan jumlah valensi.

Kausatif analitik dalam bBT dimarkahi oleh verba kausatif mambahen, manuru, dan mangido. Kausatif tersebut cenderung memiliki urutan kata bertipe S-V-V-O dengan pemarkah do sebagai bagian dari pentopikalan. Dengan kata lain, PRED1 dan PRED2 menempati posisi berdampingan di antara dua argumen yang menjadi subjek dan objek langsung pada konstruksi tersebut. Itu sebabnya, pergeseran relasi gramatikal pada konstruksi ini tampak dengan jelas melalui fungsi gramatikal PRED yang dirangkap. Selain itu, konstruksi kausatif analitik bBT juga menampilkan pola S-V-O-V yang merupakan variasi kanonik dari S-V- V-O. Hal itu sesuai dengan kategori kata yang dilekati oleh ketiga verba tersebut.

Kausatif sejati dan kausatif permisif dibedakan atas kendali atau kemampuan yang dimiliki penyebab dalam menimbulkan atau mencegah akibat. Perbedaan keduanya dipetakan berdasarkan fitur-fitur semantis, yakni (1) fitur [ kesengajaan] penyebab, (2) fitur keterlibatan penyebab [ kontak], (3) fitur kebernyawaan penyebab [ bernyawa], dan (4) fitur [ manusia] penyebab. Semua fitur tersebut ditemui dalam bBT namun tidak dapat dipetakan sesuai dengan tipe kausatif karena pengaruh yang paling besar terdapat pada potensi penyebab.

Kausatif langsung dan tak langsung dibedakan berdasarkan hubungan antara penyebab dan pesebab (fitur rentang durasi). Namun, rentang durasi antara penyebab dan pesebab pada suatu konstruksi kausatif tidak dapat ditentukan

secara mutlak. Dalam bBT, kausatif morfologis dan kausatif leksikal tergolong kausatif langsung, sedangkan kausatif analitik tergolong kausatif tak langsung. Meski tergolong kausatif langsung, kausatif morfologis dan kausatif leksikal memiliki rentang durasi yang berbeda. Itu sebabnya, perbedaan kausatif leksikal dengan kausatif lainnya terletak pada makna yang dibentuk langsung oleh verba transitif berpasangan dengan verba transitif yang terlibat menunjukkan suatu kejadian yang langsung terjadi.

Sama dengan tipologi bahasa lain, pembentukan konstruksi kausatif dalam bBT, baik dengan pelekatan afiks kausatif - maupun pelekatan verba kausatif dapat memengaruhi jumlah valensi dalam konstruksi tersebut. Perubahan jumlah valensi tersebut disebabkan oleh munculnya argumen baru yang berperan sebagai subjek baru. Hal itu mempengaruhi fungsi-fungsi sintaksis dan peran semantis argumen-argumen dalam suatu proposisi. Kaitannya dengan hal itu, fungsi-fungsi sintaksis yang mendapat pengaruh dari perubahan jumlah valensi tampak pada perubahan relasi gramatikal.

Kedua, struktur yang membangun konstruksi kausatif dalam bBT. Kausatif leksikal dan kausatif morfologis dibentuk oleh struktur monoklausa, sedangkan kausatif analitik dibentuk oleh struktur biklausa. Pada struktur monoklausa, kehadiran FN0 subjek baru membuat FV pada klausa dasar berinkorporasi dengan

pemarkah kausatif (kausatif leksikal & morfologis) sehingga subjek pada klausa dasar bergeser ke kanan dan menempati posisi FN1. Struktur tersebut

menggambarkan bahwa posisi FV berada di bawah dominasi FI. Pada struktur biklausa, FN0 subjek serta FV berada di bawah dominasi FI. Adanya pelekatan

meninggalkan posisi sebelumnya. Konstruksi tersebut menunjukkan bahwa FV mengalami inkorporasi ke dalam predikat matriks dan meninggalkan argumen internalnya di bawah posisi [Spes FP]. Struktur ini tidak berbeda dengan struktur bahasa lain sebab urutan kata bBT yang berpola V-O-S tidak memengaruhi struktur kausatif yang tampak dalam diagram X-Bar.

6.2 Saran

Penelitian ini mengkaji dua ranah yang berbeda, yakni dari sudut pandang tipologi dan dari sudut pandang sintaksis. Adanya keterbatasan dalam mengumpulkan dan menganalisis data penelitian membuat kedua sudut pandang tersebut tidak dapat dibahas lebih terperinci. Hal itu tampak pada keterbatasan dalam menggunakan kajian morfologis, sintaksis, dan semantis dalam menentukan tipologi kelima konstruksi kausatif. Selain itu, penggunaan teori Penguasaan dan Pengikatan saat menentukan struktur konstruksi kausatif juga menjadi keterbatasan dalam kajian ini. Oleh karena itu, analisis yang cermat dari para pengkaji bahasa, khususnya tipologi bahasa sangat dibutuhkan dalam menambah pembahasan penelitian ini. Meski demikian, hasil penelitian ini tetap dapat digunakan sebagai referensi dalam memetakan bahasa-bahasa daerah lainnya berdasarkan tipologi bahasa. Secara khusus, penelitian ini juga dapat menjadi pengembangan bagi bBT, baik secara teoretis maupun praktis.

DAFTAR PUSTAKA

Ackerman, F. & G. Webelhuth. 1998. A Theory of Predicate. Stanford: CSLI. Alsina, A. 1996. The Role of Argument Structure in Grammar: Evidence from

Romance. Stanford, California: CSLI.

Alwi, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Arka, I Wayan. 1993. Morpholexical Aspects of the –kan Causative in Indonesia.

(Tesis). The University of Sydney.

Artawa, I Ketut. 1998. “Keergatifan Sintaksis dalam Bahasa: Bahasa Bali, Sasak, dan Indonesia”. Dalam PELLBA 10 (Penyunting: Purwo, B.K.) Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atmajaya.

Artawa, I Ketut. 2000. Balinese Language: Tipologycal Description. Denpasar: Bali Media Adhikarsa.

Blake, B.J. 1990. Relational Grammar. London: Rouledge.

Budiarta, I. W. 2013. Tipologi Sintaksis Bahasa Kemak. (Disertasi). Program Pascasarjana Linguistik Universitas Udayana.

Comrie, B. 1983. Language Universals and Linguistic Typology. Oxford: Basil Blackwell.

Croft, William. 1993. Typology and Universals. Cambridge: Cambridge University Press.

Culicover, P. W. 1997. Principles and Parameters; An Introduction to Syntactic Theory. Oxford: Oxford University Press.

Daly, J. L. and M. Rhodes. 1981. Course in Basic Gramatical Analysis. Ungtington Beach. California: SCL.

Depdiknas. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Dixon, R.W.M. 1994. Ergativy. Cambrige: Cambridge University Press.

Effendi, A. K. 2002. “Keterbatasan Teori Minimalis Chosmky”. Linguistik Indonesia, 10 (1): 200-204.

Goddard, C. 1998. Semantic Analysis: A Practical Introduction. Oxford: Oxford University Press.

Foley, W. A. dan R. Van Valin Jr. 1984. Functional Syntax and Universal Grammar. Cambridge: Cambridge University Press.

Hadi, Wisman. 2007. “Konstruksi Kausatif Bahasa Serawai”. Linguistika, 8 (68): 8 -18.

Haegeman, L. 1992. Introduction to Government and Binding Theory. Oxford: Blackwell.

Haspelmath, M. 2002. Understanding Morphology. London: Arnold.

Jufrizal. 2004. Struktur Argumen dan Aliansi Gramatikal Bahasa Minangkabau. (Disertasi). Program Pascasarjana Linguistik Universitas Udayana.

Jufrizal. 2007. Tipologi Gramatikal Bahasa Minangkabau: Tataran Morfosintaksis. Padang: UNP Press.

Katamba, F. 1993. Morphology. London: Macmillon Press.

Mallison, Graham dan Barry J. Blake. 1981. Language Typology. Amsterdam: North-Holland.

Manning, C. D. 1996. Ergativy: Argument Structure and Gramatical Relations. Stanford, California: CSLI Publications.

Maulia, D. 2011. “Pengkausatifan dalam Bahasa Jepang”, [Dikutip Oktober 2013] Tersedia dari: http://pasca.unand.ac.id/id/unduh/bahan-kuliah/artikel- program-master-s2-2/pengkausatifan-dalam-bahasa-jepang.

Mayani, L. A. 2005. “Konstruksi Kausatif Bahasa Madura”. Linguistik Indonesia, 23 (2): 237-249.

Moleong, L. J. 2002. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyadi. 1998. Struktur Semantis Verba Bahasa Indonesia. (Tesis). Program Pascasarjana Linguistik Universitas Udayana.

Mulyadi. 2004. “Konstruksi Kausatif Bahasa Indonesia”. Linguistika, 11 (21): 133-145.

Mulyadi. 2012. Verba Emosi Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu Asahan: Kajian Semantik Lintas Bahasa. (Disertasi). Program Pascasarjana Universitas Udayana.

Nida, E. A. 1970. Morphology: The Descriptive Analysis of Word. Ann Arbor: The University of Michigan.

Payne, T.E. 2002. Describing Morphosyntax: A Guide for Field Linguists. Cambridge: Cambridge University Press.

Pokja Sanitasi Kabupaten Toba Samosir. 2010. Buku Putih Sanitasi Kabupaten Toba Samosir. Balige: Pemerintah Kabupaten Toba Samosir.

Sag, Ivan A dan Thomas Wasow. 1999. Syntactic Theory: A Formal Introduction. Center for the Study of Language and Information.

Schachter, Paul (ed). 1984. Studies in The Structure of Toba Batak. Los Angels: UCLA Occasional Papers in Linguistics.

Shibatani, M. 1976. “The Grammar of Causative Constructions: A Conspectus”. Syntax and Semantics: The Grammar of Causative Constructions. Dalam Mayayoshi Shibatani (ed.). New York: Academic Press, hlm. 1-40.

Sibarani, Robert. 1997. Sintaksis Bahasa Batak Toba. Medan: USU Press. Sinaga, Anicetus B. 2002. Tata Bahasa Toba, Medan: Bina Media.

Song, Jae Jung. 2001. Linguistic Typology:Morphology and Syntax. Harlow, Essex: Pearson Education.

Subiyanto, A. 2013. Analytic Causative in Javanese: A Lexical-Functional Approach. Parole. 3 (2): 20-28.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Sukerti, G. N. A. 2013. Relasi Gramatikal Bahasa Kodi: Kajian Tipologi Sintaksis. (Tesis). Program Pascasarjana Universitas Udayana.

Tambunan, S. P. 2012. Mangongkal Holi: Kumpulan Cerita Pendek (Torsa-torsa Hata Batak). Jakarta: Selasar Pena Talenta.

Tumanggor, Ida B. 2012. Relasi dan Peran Gramatikal Bahasa Pakpak Dairi. (Disertasi). Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Van Valin, Jr., R.D. dan R.J. Lapolla. 1999. Syntax: Structures, Meaning, and Function. Cambridge: Cambridge University Press.

Whaley, Lindsay J. 1997. Introduction to Typology: The Unity and Diversity of Language. California: Sage Publications.

Winarti. 2009. Konstruksi Kausatif Morfologis dan Perifrastis dalam Bahasa Indonesia. (Tesis). Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

Dalam dokumen Konstruksi Kausatif Bahasa Batak Toba (Halaman 145-157)

Dokumen terkait