• Tidak ada hasil yang ditemukan

perusahaan dengan masyarakat

3.4 Temuan-temuan yang beririsan

Selain temuan-temuan yang khusus terkait dengan keputusan-keputusan mengenai di mana izin sawit terbit, bagaimana pengelolaan dampak lingkungan perkebunan dan pabrik sawit, serta bagaimana hubungan perusahaan dengan masyarakat dibentuk, ada lima isu utama yang beririsan yang relevan untuk banyak wilayah-wilayah pengambilan keputusan yang digarisbawahi dalam penelitian ini. Menanggulangi tantangan-tantangan terkait isu-isu yang beririsan ini akan membantu secara langsung menyelaraskan perluasan sektoral di masa depan dengan tujuan-tujuan Pembangunan Ekonomi Hijau Indonesia. Laporan ini mengidentifikasi isu-isu yang beririsan berikut ini:

(a) Inisiatif Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sangat berpotensi untuk meningkatkan keberlanjutan minyak sawit di Indonesia karena merupakan suatu sistem sertifikasi wajib untuk keseluruhan industri dan dapat diperkuat untuk mencakup syarat-syarat baru dengan berjalannya waktu. Ketika dimulai, ISPO memperkenalkan serangkaian persyaratan progresif seperti perlunya perusahaan

menyediakan lebih banyak informasi mengenai bagaimana mereka berhubungan dan mendukung

masyarakat, mengawasi dan melaporkan emisi-emisi yang dihasilkan operasi perkebunan dan pabrik-pabrik, dan membuat rencana pengurangan emisi termasuk penangkapan metana untuk pengolahan POME. Penerapan ISPO di seluruh sektor perkebunan Indonesia yang luas dan terpencar di berbagai daerah dan pulau merupakan tantangan sangat besar, baik secara logistik maupun praktis, dan akan memetik manfaat dari dukungan dan kemitraan nasional dan internasional untuk memperkuat sistem dan pengakuan terhadap standar ini untuk membantu para produsen memelihara akses ke pasar-pasar bernilai tinggi. Standar

Sekali lagi perhatian perlu diarahkan pada keputusan Mahkamah Konstitusi mengenai pengakuan hak-hak hutan adat (MK 35/2013) yang menangani sebagian dari ketimpangan kekuasaan yang terkait dengan status hukum hak-hak masyarakat atas wilayah-wilayah hutan adat.

5

Pada umumnya hak-hak masyarakat atas tanah tidak diakui hukum, sehingga beban berada pada

masyarakat untuk membuktikan hak mereka untuk menggunakan lahan dalam negosiasi.5 Masyarakat dan perusahaan sering memiliki pandangan yang berbeda mengenai sifat dan jangka waktu hak kepemilikan yang sedang dinegosiasikan serta apa yang dianggap sebagai kompensasi yang ‘adil’ bagi masyarakat yang melepaskan lahannya. Pengalaman dan kecakapan bernegosiasi para pemimpin formal dan tradisional di masyarakat merupakan penentu penting hasil-hasil negosiasi dengan perusahaan dan berimplikasi penting pada hasil-hasil keuangan petani kecil, seperti: (a) rasio lahan untuk perusahaan versus kebun petani kecil; (b) di mana lokasi petak-petak petani kecil dan kecepatan penanamannya; (c) perawatan jalan yang menghubungkan petak-petak petani kecil dengan pabrik; (d) kualitas bahan-bahan penanaman yang didapatkan petani kecil serta kualitas bantuan teknis yang disediakan perusahaan.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi petani kecil adalah bagaimana mempertahankan nafkah selama pohon-pohon sawit muda belum berbuah (umumnya tiga tahun). Selama masa ini, sebagian petani mendapatkan uang dari bekerja sebagai buruh atau mereka berhutang untuk memenuhi kebutuhan pokok, terkadang dengan ditambah hasil menanam tanaman panen lainnya. Perusahaan sering membantu petani dengan memberikan lapangan kerja (kadang-kadang jumlah pekerjaan yang dijamin melebihi kebutuhan tenaga kerja sesungguhnya) atau dengan memastikan bahwa petani mempertahankan luas lahan yang cukup untuk meneruskan kegiatan pertanian untuk kebutuhan sendiri dan/atau dijual ke pasar tanpa memberikan tekanan pada lahan-lahan lain. Keputusan-keputusan yang berhubungan dengan hal ini banyak bergantung pada kebijakan perusahaan terkait pembangunan masyarakat dan dukungan penghidupan.

legalitas kayu yang belum lama ini diselesaikan di sektor kehutanan Indonesia (SVLK) adalah contoh baik mengenai bagaimana hubungan dan komunikasi yang dipertahankan dapat menghasilkan hasil-hasil positif. Wilayah-wilayah utama penjalinan hubungan mencakup: peningkatan standar-standar; pengelolaan proses dan pelibatan pemangku kepentingan yang baik; memberikan sinyal yang jelas mengenai permintaan pasar (sebagai ganjaran) dan ekspektasi jangka panjang; serta dukungan teknis yang terus dipertahankan di mana dukungan itu diterima baik.

(b) Sejumlah hambatan yang dihadapi proses berbagai keputusan menghasilkan pengambilan keputusan yang kurang optimal dalam perencanaan pengembangan sawit. Banyak keputusan

pengembangan sawit tidak sepenuhnya mempertimbangkan semua faktor yang relevan karena satu atau lebih alasan di antara hambatan-hambatan berikut ini: (a) jumlah informasi, pengetahuan dan kemampuan yang bervariasi di antara pelaku yang memiliki wewenang untuk membuat keputusan; (b) keterbatasan partisipasi sejumlah pemangku kepentingan dalam keputusan-keputusan utama; (c) kerangka hukum yang di beberapa wilayah tidak konsisten dan/atau tidak lengkap; dan (d) waktu yang terbatas untuk membuat keputusan utama akibat tekanan pemerintah untuk membuat pengembangan dengan cepat. Meskipun sangat menantang, pemahaman akan persoalan-persoalan yang lazim terjadi ini dapat membantu mengidentifikasi hambatan yang, jika diatasi, akan meningkatkan berbagai hasil pengembangan sawit.

(c) Peningkatan penggunaan mekanisme hukum dan peralatan peraturan yang sudah ada sangat berpotensi untuk memperbaiki hasil-hasil pembangunan sawit di jangka panjang. Satu contoh

penting adalah standar sertifikasi ISPO yang baru yang, meskipun menuai kritik, mampu memulai suatu perubahan paradigma bertahap di industri sawit jika diterapkan dengan tegas dan penegakan hukum dilakukan (dibahas di bawah). Proses penilaian lingkungan hidup AMDAL pun bisa menjadi mekanisme saringan yang jauh lebih kuat bila dilakukan beberapa perubahan kecil di sisi prosedur, dan demikian juga dengan proses Kementerian Kehutanan untuk melepaskan, secara ad hoc, wilayah Hutan Konversi dalam Kawasan Hutan yang diminta untuk dikonversi menjadi pertanian. Perubahan-perubahan kecil seperti ini tidak akan berbiaya mahal dari segi pembangunan ekonomi, jumlah investasi keuangan, ataupun modal politik, dan dalam beberapa kasus akan sangat meningkatkan hasil-hasil sosial dan lingkungan hidup pengembangan sawit.

(d) Beberapa rekomendasi bisa jadi akan membawa limpahan manfaat pada pengelolaan sumber daya alam pada umumnya. Ini mencakup: mengkoordinasikan perencanaan tata ruang dan pembangunan;

membuat perencanaan pemanfaatan hutan dan lahan lebih fleksibel dan responsif; memperbaiki proses pemberian hak-hak pengelolaan hutan masyarakat dan kepemilikan hutan adat; harmonisasi ketentuan-ketentuan berbagai undang-undang dan peraturan; mengklarifikasi dan mengkoordinasi peran berbagai pelaku pemerintah dalam pengambilan keputusan; menyediakan dukungan finansial dan motivasi yang dibutuhkan agar departemen-departemen yang paling relevan dalam pemerintah melaksanakan tugas mereka dengan profesional; dan memastikan bahwa keputusan perizinan dan persetujuan izin dibuat dalam urutan yang semestinya.

(e) Upaya untuk meningkatkan hasil-hasil pengembangan sawit hendaknya dilihat dalam konteks yang lebih luas yaitu konteks Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia. Banyak di antara rekomendasi

di bab berikut berkontribusi kepada pemanfaatan tanah, hutan dan cadangan karbon yang lebih efisien, dan, dalam beberapa kasus, paralel dengan upaya pemerintah pusat untuk menerapkan inisiatif-inisiatif REDD+ di Indonesia. Perlu juga dilihat konteks yang lebih luas mengingat adanya tantangan terus menerus untuk mengevaluasi timbal balik antara berbagai hasil-hasil pembangunan. Penetapan timbal balik antara target-target tersebut dengan cara yang terencana pragmatis dan berprinsip dengan terus bertujuan untuk mencapai hasil-hasil yang lebih baik hendaknya menjadi prinsip yang memandu pengambilan keputusan sawit di setiap tingkatan.

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

36

Spesies asli hutan dataran rendah di Kalimantan. Foto oleh Gary Paoli.

REKOmENDASI-REKOmENDASI

uTAmA

4

Temuan-temuan yang ditampilkan di laporan ini dimaksudkan untuk meningkatkan tata kelola dan praktik-praktik pengelolaan sawit melalui beragam pendekatan termasuk perbaikan prosedural, perubahan kerangka hukum, serta adopsi praktik dan teknologi pengelolaan yang lebih baik. Walaupun pemangku kepentingan yang terkait dapat mengembangkan agenda aksi mereka sendiri berdasarkan kapasitas dan kepentingan yang bersangkutan, langkah yang terkoordinasi sangat dianjurkan untuk memperoleh dampak maksimum. Pemerintah pusat di Indonesia memiliki kapasitas yang sangat berpotensi untuk meningkatkan hasil-hasil sawit melalui kewenangannya meninjau kembali undang-undang melalui DPR, menyediakan sumber daya, melakukan koordinasi antara tingkat dan antar sektor kementerian dan memastikan bahwa pemerintah daerah patuh dan akuntabel. Provinsi-provinsi, kabupaten-kabupaten dan perusahaan-perusahaan juga telah menunjukkan bahwa peraturan-peraturan daerah yang inovatif6 serta kebijakan-kebijakan perusahaan dapat meletakkan dasar bagi perbaikan hasil-hasil di tingkat daerah, termasuk upaya untuk melakukan praktik-praktik terbaik di industri sawit yang melampaui syarat-syarat hukum. Serombongan pelaku pendukung termasuk peneliti, donor dan organisasi masyarakat sipil, dapat berperan penting dengan menyediakan sumber daya teknis dan finansial untuk meningkatkan kapasitas pelaku-pelaku utama agar dapat membuat keputusan-keputusan yang kuat dan berlandaskan informasi yang cukup. Rekomendasi-rekomendasi yang ditampilkan secara garis besar di sini dimaksudkan untuk mendukung hal ini.

Di sini kami menyediakan beberapa rekomendasi utama untuk meningkatkan tata kelola, praktik-praktik dan hasil-hasil pembangunan minyak sawit. Rekomendasi-rekomendasi ini juga ditampilkan dalam bentuk tabel di Ringkasan Eksekutif, disusun di bawah sub-judul Keputusan yang digunakan di Bagian 3 untuk mengatur temuan-temuan utama.

Lihat, misalnya, peraturan daerah terkait sawit yang berkelanjutan terbitan pemerintah provinsi Kalimantan Tengah (Perda No. 5/ 2011).

6

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan 37

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

38

REKOmENDASI - REKOmENDASI uTAmA

Dokumen terkait