• Tidak ada hasil yang ditemukan

SAWIT DI INDONESIA. Gary D. Paoli Piers Gillespie Philip L. Wells Lex Hovani Aisyah Sileuw Neil Franklin James Schweithelm

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SAWIT DI INDONESIA. Gary D. Paoli Piers Gillespie Philip L. Wells Lex Hovani Aisyah Sileuw Neil Franklin James Schweithelm"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

SAWIT DI INDONESIA

TATA KElOlA, PENgAmbIlAN KEPuTuSAN DAN

ImPlIKASI bAgI

PembAngunAn berkelAnjuTAn

RANgKumAN uNTuK

PengAmbIl kePuTuSAn & PelAku

gary D. Paoli | Piers gillespie | Philip l. Wells | lex Hovani

Aisyah Sileuw | Neil Franklin | James Schweithelm

(2)
(3)

SAWIT DI INDONESIA

TATA KElOlA, PENgAmbIlAN KEPuTuSAN

DAN ImPlIKASI bAgI PEmbANguNAN

bERKElANJuTAN

Oleh Gary D. Paoli, Piers Gillespie, Philip L. Wells, Lex Hovani,

Aisyah E. Sileuw, Neil Franklin dan James Schweithelm

Diterbitkan oleh: The Nature Conservancy Indonesia Program, Jakarta

Riset dan analisis ini dilaksanakan oleh Daemeter Consulting bersama The Nature Conservancy (TNC) dengan dana dari rakyat Amerika Serikat melalui U.S. Agency for International Development (USAID) dan Responsible Asia Forestry and Trade (RAFT).

Para penulis bertanggung jawab atas isi laporan ini dan isi tidak serta merta mencerminkan pandangan TNC atau donor pendukung lainnya.

Semua bahan yang ada dalam dokumen ini boleh disalin dan didistribusikan asalkan salinan-salinan tersebut dikutip dengan sepenuhnya dan tanpa memodifikasi, serta sumber aslinya disebutkan dengan cara yang benar.

Penyebutan asal kutipan yang direkomendasikan adalah: Paoli G.D., P. Gillespie, P.L. Wells, L. Hovani, A.E. Sileuw, N. Franklin dan J. Schweithelm (2013) Sawit di Indonesia: Tata kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan Berkelanjutan. The Nature Conservancy, Jakarta, Indonesia.

Foto halaman muka karya: Gary D. Paoli, Piers Gillespie, R. Harjanthi.

Ucapan Terima Kasih

Para penulis sangat menghargai The Nature Conservancy (TNC) yang memiliki pandangan jauh ke depan yang mendorong dilaksanakannya penelitian ini. Para penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada rakyat Amerika Serikat melalui U.S. Agency for International Development (USAID) dan RAFT yang memberikan pendanaan yang memungkinkan adanya penelitian ini. Para penulis pun menghargai kontribusi dari Andiko, Rahayu Harjanthi, Rendi Dharma, Ciska, Dr Yohannes Samosir, Elinor Benami, Elizabeth Yaap dan Erik Meijaard. Para penulis juga berterima kasih kepada para peserta seminar sehari yang diselenggarakan di Jakarta di bulan Juli 2011, namun sama sekali tidak mengklaim bahwa para partisipan tersebut telah mengabsahkan isi laporan ini.

Rangkuman Untuk Pengambil Keputusan & Pelaku

(4)

DAFTAR

ISI

RINgKASAN EKSEKUTIF

6

1 KONTEKS

12

2 PENDEKATAN PENELITIAN

18

3 RANgKumAN TEmUAN

23

Konteks dan Latar Belakang Pemikiran Penelitian Ini 6

Pendekatan Analitis 6

Rekomendasi-rekomendasi Utama 7

Sawit: Peluang Pembangunan Strategis bagi Indonesia 12

Tata Kelola Sawit di Indonesia 13

Tujuan dan Latar Belakang

Pemikiran 17

Mengidentifikasi Titik-Titik

Keputusan Utama dan Pelaku- Pelaku yang Terlibat 18

Menggambarkan Hasil-Hasil Keputusan yang diharapkan 19

Mengembangkan Rekomendasi-Rekomendasi untuk Mendukung Tujuan-Tujuan Pertumbuhan Ekonomi Hijau 20

Ikhtisar Laporan Sepenuhnya 20

Keputusan-Keputusan yang Menentukan di Mana Izin Sawit Diterbitkan 23

Keputusan-Keputusan yang Mempengaruhi Dampak Lingkungan Perkebunan dan Pabrik Sawit 29

Keputusan-Keputusan yang Mempengaruhi Hubungan Perusahaan dengan Masyarakat 32

Temuan-Temuan yang Beririsan 35

1.1 2.1 3.1 1.2 2.2 3.2 1.3 2.3 2.4 3.3 3.4

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

4

DAFTAR ISI

4 REKOmENDASI-REKOmENDASI UTAmA

37

Mendukung Proses Multi-Pihak untuk Memperkuat dan Mendukung Ispo Sebagai Bagian Strategi Pembangunan Ekonomi Hijau Indonesia yang Berharga dan Diakui di Tingkat Internasional 38

Memperkuat dan Meningkatkan Sistem-Sistem Pemerintah Daerah untuk Pengelolaan Sektor Minyak

Sawit 39

Memperbaharui dan Membuat Kriteria Kelayakan yang Sepenuhnya Dapat Dioperasikan yang Konsisten dengan Tujuan-Tujuan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia Guna Memastikan Bahwa Lahan yang Tidak Sesuai Tidak Digarap 40

Meningkatkan Ketersediaan Lahan yang Sesuai dan Berdampak Rendah untuk Pengembangan Sawit 42

Mendorong Investasi untuk Meningkatkan Hasil Lahan dan Memberikan Ganjaran Atas Kinerja yang Baik Guna Mengoptimalkan Produksi Pada Perkebunan yang Sudah Ada Maupun di Masa Datang 43

Mengembangkan Alat-Alat Hukum dan Membangun Kapasitas Implementasi Guna Memperkuat Pengelolaan Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi di Lahan- Lahan yang Termasuk Dalam Zona untuk Pertanian 43

Memastikan Bahwa Masyarakat Memiliki Informasi yang Memadai dan Mampu Berpartisipasi Secara Efektif Dalam Negosiasi dengan Perusahaan Sawit Sejak Tahap Pengembangan yang Paling Awal, Termasuk Konsultasi-Konsultasi Sebelum Penerbitan Izin 45

Mengembangkan Langkah-Langkah untuk Memastikan Tingkat Manfaat bagi Masyarakat Selama Penerapan Perjanjian Kemitraan dengan Petani Kecil Sesuai Dengan Syarat dan Ketentuan yang Telah Dinegosiasikan 48 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8

(5)

Di Mana Izin Diterbitkan untuk

Pengembangan Sawit 64

Hubungan Kuasa Negara, Perusahaan dan Individu-

Individu 64

Batas-Batas dan Pengelolaan Kawasan Hutan 64

Kewenangan dan Prosedur-Prosedur untuk Penerbitan Izin Lokasi 64

Prosedur-Prosedur yang Disyaratkan Menyusul Penerbitan Suatu Izin

Lokasi 65

Pendekatan-Pendekatan untuk Mengawasi Pengambilan Keputusan Mengenai di Mana Izin Sawit Diterbitkan 66 Dampak-Dampak Lingkungan Hidup Perkebunan dan Pabrik 66

Pengambilan Keputusan Mengenai Pengembangan Perkebunan 66

Pengambilan Keputusan Soal

Pengelolaan Perkebunan 67

Pengambilan Keputusan Atas Operasi Pabrik 67 Hubungan Masyarakat-Perusahaan 67

Mendefinisikan Peran-Peran

Masyarakat dan Perusahaan 67

Konsultasi Masyarakat Sebelum Menerbitkan Izin Lokasi 67

Konsultasi Masyarakat untuk Meningkatkan Kesadaran (‘Sosialisasi’) Setelah Izin Lokasi Diterbitkan 67

Istilah-Istilah Utama Perjanjian

Kemitraan 68

Negosiasi Kesepakatan-

Kesepakatan Kemitraan 68

Operasi-Operasi Perkebunan dan Manfaat-Manfaat Petani Kecil 68 Penguasaan Tanah Oleh Negara 51

Otonomi Daerah dan Pembagian Kewenangan Antara Pemerintah

Pusat dan Daerah 52

Undang Undang Mengenai Perkebunan - UU No. 18/2004 52 Perencanaan Tata Ruang 53

Rencana Tata Ruang Nasional

(RTRWN) 54

Perencanaan Tata Ruang Provinsi, Kabupaten dan Kementerian Kehutanan 54

Perizinan Sawit 56

Pengelolaan Dampak-Dampak

Lingkungan 58

Kinerja Perkebunan dan Kepatuhan

Kepada Hukum 61

Peraturan untuk Mengevaluasi Perusahaan Perkebunan (Permentan No. 7/2009) 61

Minyak Sawit Berkelanjutan Indonesia (Permentan No. 19/2011) 62

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

DAFTAR ISI 5

LAmPIRAN 1 - KERANgKA HuKum uNTuK

PENgEmbANgAN mINyAK SAWIT

51 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 4.1 7.1 4.2 7.2 Mengembangkan Langkah-Langkah Kebijakan dan Alat-Alat Fiskal yang Inovatif dan Memberikan Ganjaran untuk Investasi Dalam Teknologi ‘Zero Waste’ untuk Memaksimalkan Dampak- Dampak Positif Keseluruhan Operasi

Pabrik 48

Meningkatkan Kemungkinan Bahwa Lahan Dialokasikan Kepada Perusahaan yang Bertanggung Jawab 50

4.9 4.10 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 2.1 2.2 2.3 3.1 3.2 3.3 3.5 3.6 3.4

LAmPIRAN 2 - RANgKumAN KEPuTuSAN-KEPuTuSAN

yANg DIEvAluASI DI lAPORAN lENgKAP

64

1.

2.

(6)

RINgKASAN

EKSEKUTIF

Konteks dan Latar

Belakang Pemikiran

Penelitian Ini

Pendekatan

Analitis

Sawit merupakan bagian yang sangat penting dalam strategi pembangunan Indonesia dan menjadi sumber banyak manfaat pembangunan setempat. Namun, dampak-dampak sosial dan lingkungan hidup di masa lalu telah menimbulkan kritik dari dalam maupun luar negeri. Manfaat dan biaya ekonomi, sosial dan lingkungan hidup sawit ditentukan oleh berbagai rangkaian keputusan yang dibuat oleh banyak pelaku di sepanjang mata rantai pasokannya. Analisis ini dimaksudkan untuk menggambarkan proses-proses pengambilan keputusan mengenai sawit di Indonesia dengan cara yang dapat dipahami oleh berbagai pihak, termasuk pejabat pemerintah, sektor swasta, LSM, konsumen internasional, dan donor. Laporan ini bertujuan untuk (a) memberikan perspektif yang berimbang guna membantu menjembatani para pendukung dan pengecam sawit, dan (b) menggarisbawahi peluang-peluang untuk menyelaraskan pengambilan keputusan agar lebih dekat dengan tujuan-tujuan Pembangunan Ekonomi Hijau Indonesia.

Penelitian ini memaparkan sebagian keputusan-keputusan utama yang diambil berbagai pelaku terkait pengembangan sawit, menjelaskan bagaimana keputusan tersebut mempengaruhi hasil pembangunan, dan merekomendasikan cara-cara untuk mendukung perbaikan kinerja. Informasi yang disajikan ini membentuk suatu dasar untuk melakukan dialog kebijakan dengan lebih memiliki informasi, dan meminta perhatian ditujukan kepada cara-cara konkrit memperbaiki keputusan-keputusan, dan dengan demikian memberi kepada para pelaku satu pemahaman mengenai peran mereka yang lebih mendalam dan bagaimana mereka dapat bekerja sama dengan lebih efektif untuk mencapai hasil-hasil tertentu.

Penelitian ini mengidentifikasi titik-titik keputusan dan pelaku-pelaku utama yang terlibat dalam proses-proses utama pembuatan keputusan di bidang sawit, dan

mengelompokkan titik-titik tersebut berdasarkan keputusan yang menentukan: (a) di mana izin sawit dikeluarkan; (b) bagaimana praktik-praktik perkebunan dan pengelolaan pabrik menentukan dampak operasinya terhadap lingkungan hidup; dan (c) bagaimana kerja sama antara perusahaan dan masyarakat setempat, termasuk kesepakatan dengan petani kecil, dibentuk dan beroperasi seiring waktu. Penelitian ini secara kualitatif

menggambarkan hasil dari keputusan, dengan memusatkan perhatian kepada

lima jenis hasil pembangunan dari sawit yang pada umumnya digarisbawahi dalam dokumen-dokumen perencanaan pemerintah dan di tempat-tempat lain: manfaat ekonomi setempat (Kabupaten), manfaat bagi masyarakat, tata kelola sawit yang lebih baik di tingkat kabupaten, dampak-dampak pada lingkungan alam, dan emisi karbon dari pengembangan sawit. Penelitian ini memberikan rekomendasi-rekomendasi untuk mendukung hasil-hasil Pertumbuhan Ekonomi Hijau yang terkait dengan kelima

dimensi tersebut. Karena keadaan sangat bervariasi di berbagai daerah di Indonesia dan antara perkebunan, banyak di antara rekomendasi kami sebaiknya dilihat sebagai hipotesa-hipotesa sementara yang perlu diselidiki lebih lanjut melalui penelitian, dialog kebijakan, atau program-program uji coba.

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

6

(7)

Laporan ini menghasilkan beberapa rekomendasi utama untuk memperkuat tata kelola, praktik-praktik dan hasil-hasil pembangunan sawit, termasuk:

Rangkuman rekomendasi-rekomendasi utama untuk memperkuat tata kelola sawit dan mengoptimalkan hasil-hasil pembangunannya. Rekomendasi-rekomendasi dikelompokkan di bawah judul-judul yang terkait dengan yang digunakan

di bawah ini untuk mengelompokkan temuan-temuan utama di bagian 3. Rekomendasi-rekomendasi dipaparkan lebih lanjut di bagian 4. (Catatan: KemenTan = Kementerian Pertanian, KemenHut = Kementerian Kehutanan, KemenlH = Kementerian lingkungan Hidup, KemenKeu = Kementerian Keuangan).

REKOmENDASI UTAmA

bekerja sama untuk menjadikan ISPO bagian strategi pembangunan hijau di Indonesia yang berharga dan diakui di tingkat internasional.

memperkuat dan meningkatkan sistem-sistem pemerintah daerah untuk

pengelolaan sektor sawit.

memperkuat dan meningkatkan sistem-sistem pemerintah daerah untuk

pengelolaan sektor sawit.

Dukungan yang luas dari para pemangku kepentingan untuk ISPO bisa sangat membantu memastikan bahwa standar tersebut diterapkan dengan efektivitas maksimal.

KemenTan, ISPO, program-program multilateral

Jangka pendek dan

berdampak sedang

meningkatkan kepemimpinan dari Kamar Dagang Indonesia (KADIN) dan Indonesian business Council for Sustainable Development (IbCSD) dan gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (gAPKI) untuk mendukung dan memperkuat ISPO.

badan-badan di pemerintah pusat dapat memperkuat arahan, pelatihan, dan program-program pendukung terkait untuk pemerintah kabupaten guna

mengembangkan kapasitas yang lebih seragam untuk mengatur pengembangan sawit.

KemenTan Jangka menengah

menyediakan pelatihan, data spasial yang lebih baik, serta alat-alat pendukung keputusan untuk perencanaan tata ruang dan pengembangan sawit di kabupaten.

KemenTan, bAPlAN

Jangka menengah

mendukung dan mendorong pemerintah daerah untuk mempertimbangkan manfaat dan biaya yang lebih lengkap ketika menerbitkan izin-izin sawit untuk memaksimalkan manfaat sekunder yang positif.

mengembangkan, menguji coba, dan

mengimplementasikan sepenuhnya suatu sistem pendaftaran perizinan online yang transaparan.

KemenTan, pemerintah setingkat Dinas Jangka menengah-panjang meninjau ulang dan memperbaharui Keputusan

bersama antara KemenTan dan badan Pertanahan Nasional (1999) mengenai penerbitan Izin lokasi.

KemenTan, badan Pertanahan Nasional Jangka menengah dan berdampak besar bupati, pemerintah setingkat Dinas Jangka menengah KADIN, IbCSD, gAPKI Jangka pendek REKOmENDASI DI

BAWAHNYA TARGET UTAmA JANGKA WAKTU & POTENSI DAmPAK

Rekomendasi-rekomendasi utama

mASALAH -mASALAH YANG BERIRISAN

KEPUTUSAN-KEPUTUSAN YANG mENENTUKAN DI mANA IzIN SAWIT DIBERIKAN

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

(8)

REKOmENDASI UTAmA REKOmENDASI DI

BAWAHNYA TARGET UTAmA JANGKA WAKTU & POTENSI DAmPAK

memperbaharui dan membuat kriteria kelayakan yang sepenuhnya dapat dioperasikan yang konsisten dengan tujuan-tujuan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia guna memastikan bahwa lahan yang tidak sesuai tidak digarap.

meningkatkan ketersediaan lahan yang sesuai dan berdampak rendah untuk pengembangan sawit.

mengembangkan alat-alat hukum dan membangun kapasitas implementasi guna memperkuat pengelolaan kawasan-kawasan bernilai konservasi tinggi di lahan-lahan yang termasuk dalam zona untuk pertanian.

mengembangkan alat-alat hukum dan membangun kapasitas implementasi guna memperkuat pengelolaan lahan bernilai konservasi tinggi di lahan-lahan yang termasuk dalam zona untuk pertanian.

mengembangkan kriteria kelayakan lahan bagi pengembangan sawit yang jelas di tingkat nasional yang mencakup pertimbangan sosial, fisik, keanekaragaman hayati dan emisi gas rumah kaca sebagai panduan bagi keputusan perizinan pemerintah daerah atas lahan yang termasuk dalam zona untuk pertanian.

meningkatkan kualitas, kredibilitas, dan pengaruh proses penilaian dampak lingkungan hidup.

meningkatkan kualitas, kredibilitas, dan pengaruh proses penilaian dampak lingkungan hidup.

menyederhanakan dan mempercepat mekanisme-mekanisme yang membuat wilayah gundul dan berkarbon rendah dalam Kawasan Hutan dapat dijadikan lahan pertanian.

mengeksplorasi peluang-peluang untuk pabrik yang lebih kecil yang membutuhkan basis pasokan perkebunan yang lebih kecil.

memperkuat hak sesuai hukum bagi perusahaan perkebunan untuk mempertahankan dan mengelola kawasan-kawasan konservasi yang tidak ditanami di dalam wilayah Hgu perkebunan.

menciptakan insentif-insentif keuangan bagi perusahaan-perusahaan untuk mempertahankan kawasan-kawasan yang tidak dikembangkan dalam perkebunan.

KemenTan, KemenHut, KemenlH KemenHut, KemenTan KemenTan, CEO, kabupaten, CSO KemenTan, KemenHut, kabupaten, ISPO KemenTan, KemenKeu, RSPO, ISPO, KADIN, CEO KemenlH KemenlH Jangka menengah dan berdampak besar Jangka menengah-panjang Jangka menengah-panjang Jangka menengah-panjang Jangka menengah – panjang dan berdampak besar

Jangka pendek dan

berdampak besar

mendorong pemerintah daerah untuk memberlakukan persyaratan tambahan untuk izin perkebunan sawit guna menjamin terlindunginya nilai-nilai lingkungan hidup atau nilai-nilai sosial setempat.

Pemerintah daerah, bupati, DISbuN

Jangka menengah

mendukung upaya-upaya yang dipimpin swasta guna membuat sasaran-sasaran yang eksplisit dan progresif untuk pengelolaan kawasan-kawasan konservasi di dalam perkebunan sawit.

CEO, RSPO, KemenTan, kabupaten

Jangka menengah

membuat perusahaan perkebunan lebih bertanggung jawab atas kontraktor-kontraktor yang disewa untuk membuka lahan dan memperbaiki sistem untuk mengelola kontraktor.

CEO Jangka menengah

Berdampak besar

KEPUTUSAN-KEPUTUSAN YANG mEmPENGARUHI DAmPAK LINGKUNGAN HIDUP PERKEBUNAN DAN PABRIK

guna mengurangi tekanan penyerobotan lahan dari masyarakat setempat di wilayah-wilayah konservasi, perusahaan hendaknya mempertimbangkan untuk memberlakukan batas-batas sukarela mengenai seberapa luas lahan masyarakat yang mereka siap kembangkan sebagai perkebunan sawit.

CEO, ISPO Jangka menengah Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

8

(9)

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

RINgKASAN EKSEKuTIF 9

REKOmENDASI

UTAmA REKOmENDASI DI BAWAHNYA TARGET UTAmA JANGKA WAKTU & POTENSI DAmPAK

mengembangkan langkah-langkah kebijakan dan alat-alat fiskal yang inovatif dan memberikan ganjaran untuk investasi dalam teknologi ‘Zero Waste’ untuk memaksimalkan dampak-dampak positif keseluruhan operasi pabrik. meningkatkan kemungkinan bahwa lahan dialokasikan kepada perusahaan yang bertanggung jawab.

mendorong investasi untuk meningkatkan hasil lahan dan memberikan ganjaran atas kinerja yang baik guna

mengoptimalkan produksi pada perkebunan yang sudah ada maupun di masa datang.

memastikan bahwa masyarakat memiliki informasi yang memadai dan mampu berpartisipasi secara efektif dalam negosiasi dengan perusahaan sawit sejak tahap pengembangan yang paling awal, termasuk konsultasi-konsultasi sebelum penerbitan izin.

meningkatkan penggunaan praktik-praktik dan teknologi pengolahan dan pemanfaatan limbah terkini di industri sawit, mensyaratkan bahwa pelaku-pelaku berikut ini menjalankan sebagian atau semua keputusan berikut. menciptakan insentif fiskal dan finansial guna mempromosikan (a) penangkapan metana, (b) peningkatan penggunaan teknik-teknik Aplikasi lahan untuk POmE di mana sesuai, dan (c) teknologi-teknologi pembuatan kompos guna memanfaatkan produk sampingan berupa sampah padat secara produktif, menghasilkan listrik dan mengurangi penggunaan pupuk kimia.

mengaitkan akses lahan untuk pengembangan sawit tambahan dengan kinerja perusahaan yang baik sebelumnya.

mendorong peningkatan hasil CPO di seluruh industri dengan mendorong pelaku-pelaku tertentu untuk menjalankan sebagian atau semua keputusan berikut.

membuat pemerintah bertanggung jawab atas kewajiban menyediakan informasi yang akurat dan mudah dipahami bagi petani kecil dan anggota masyarakat.

mengembangkan panduan untuk menetapkan suatu pendekatan yang lebih terstruktur bagi pemerintah daerah untuk mendukung sosialisasi perusahaan dan kemudian negosiasi.

mengembangkan serangkaian panduan standar untuk berhubungan dengan masyarakat .

meninjau dan mengklarifikasi syarat minimum pembagian lahan antara Perusahaan dan masyarakat sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan KemenTan No. 26 (2007). melalui program uji coba, mengembangkan mekanisme bagi pemerintah kabupaten untuk memberikan dukungan negosiasi bagi setiap pihak selama penyusunan kesepakatan-kesepakatan pembagian manfaat, khususnya perjanjian kerja sama dengan petani kecil. menjajaki mekanisme untuk menghapus keterlibatan calo-calo izin, perusahaan atau individu yang mengkhususkan pekerjaannya untuk memperoleh izin, membuka lahan dan kemudian menjual izinnya ke pihak lain. KemenTan, KemenlH, ISPO, CEO KemenTan, KemenKeu, ISPO, RSPO KemenTan, ISPO KemenTan, CEO KemenTan, kabupaten, bupati KemenTan, kabupaten, bupati, CSO KemenTan, ISPO, CSO KemenTan KemenTan, kabupaten, bupati, CSO KemenTan, kabupaten, bupati Jangka menengah Jangka menengah Jangka pendek dan kemungkinan berdampak besar

Jangka pendek dan

berdampak besar

Jangka menengah –panjang dan

berdampak besar

Jangka menengah

Jangka menengah dan

berdampak besar

Jangka pendek

Jangka menengah dan

berdampak besar

Jangka menengah

(10)

REKOmENDASI UTAmA REKOmENDASI DI

BAWAHNYA TARGET UTAmA JANGKA WAKTU & POTENSI DAmPAK

mengembangkan langkah-langkah untuk memastikan tingkat manfaat bagi masyarakat selama penerapan perjanjian kemitraan dengan petani kecil sesuai dengan syarat dan ketentuan yang telah dinegosiasikan.

mengembangkan perjanjian yang jelas dan mengikat antara perusahaan dengan masyarakat mengenai di mana dan kapan lahan-lahan petani kecil akan dikembangkan.

mengembangkan dan mensyaratkan digunakannya model perjanjian pembebasan lahan dan perjanjian kemitraan dengan petani kecil.

memperjelas dan memperkuat pengawasan kewajiban-kewajiban perusahaan perkebunan untuk mendukung hasil petani kecil dan menciptakan insentif-insentif yang mendukung kepatuhan pada aturan-aturan yang ada. mendukung pelatihan petani kecil yang efektif oleh pemerintah kabupaten, pelatihan petugas penyuluhan lapangan, perusahaan perkebunan, yang didukung pendanaannya oleh pengguna dan pembeli produk-produk sawit.

Penciptaan lapangan kerja atau bentuk dukungan pendapatan masyarakat lainnya selama masa sawit tumbuh dewasa hendaknya disepakati antara perusahaan dengan masyarakat selama sosialisasi untuk pembebasan lahan

mempertimbangkan pengembangan dan penggunaan suatu sistem penentuan harga tandan buah segar (fresh fruit bunch) yang lebih fleksibel, transparan, dan mudah dipahami petani kecil serta menciptakan peluang untuk bayaran berbasis prestasi yang memberi ganjaran untuk buah berkualitas baik.

Kabupaten, CEO, CSO, ISPO

Kabupaten, CEO, CSO, ISPO KemenTan, ISPO, CEO Kabupaten, CEO, ISPO, RSPO, CSO KemenTan, CEO, ISPO KemenTan, provinsi, gAPKI Jangka pendek Jangka menengah Jangka menengah dan berdampak besar Jangka menengah Jangka menengah Jangka menengah Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

10

(11)

IKHTISAR SAWIT DI INDONESIA

Industri sawit merupakan bagian yang vital sekaligus kontroversial dalam lintasan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini. Pembahasan mengenai manfaat ekonomi dibandingkan dengan biaya sosial dan lingkungan hidup semakin terpolarisasi, dan situasi diperburuk oleh para pengkritik dan pendukung vokal yang bersikukuh pada posisi-posisi ekstrim untuk mengejar agenda-agenda yang sangat berbeda. Yang tersembunyi dalam perdebatan dewasa ini adalah banyaknya kesamaan antara sudut pandang yang bertentangan itu, di mana dapat dilakukan perbaikan yang signifikan dalam tata kelola sawit di Indonesia, yang akan memberikan manfaat langsung kepada lingkungan hidup, masyarakat lokal, serta kinerja dan reputasi industri ini secara keseluruhan. Penelitian ini merupakan suatu upaya untuk merebut kembali tempat di mana ada kesamaan ini dengan

memberikan pemahaman yang lebih baik kepada pemangku kepentingan terkait mengenai bagaimana pelaku-pelaku utama membuat keputusan dalam kerangka hukum yang kompleks serta

norma-norma pengambilan keputusan yang muncul darinya. Kami menggarisbawahi area-area utama untuk memperbaiki dan memperkuat proses-proses pengambilan keputusan yang mendukung komitmen Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia dan merekomendasikan cara-cara untuk mendukung tercapainya hal ini. Dokumen ini merupakan ringkasan dari laporan yang lebih besar yang sedang disiapkan berdasarkan penelitian suatu tim multi disiplin yang terdiri dari peneliti nasional dan internasional serta praktisi yang bekerja untuk mendukung kelapa sawit yang berkelanjutan di Indonesia.

(12)

1.1 Sawit: peluang pembangunan strategis bagi Indonesia

KONTEKS

1

Sawit merupakan komponen vital strategi pembangunan Indonesia sekarang dan di masa depan.

Indonesia adalah produsen dan eksportir minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia dan CPO menjadi komponen penting bagi ketahanan pangan Indonesia dan negeri-negeri konsumennya. Permintaan dunia akan minyak sawit, yang hasil per hektarnya sepuluh kali lebih banyak daripada tanaman minyak lainnya, tumbuh dengan pesat. Kawasan perkebunan sawit di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir berlipat ganda dan kini menutupi lima persen dari total daratan negeri ini, dan pengembangan lebih lanjut sedang dilangsungkan guna memenuhi target Pemerintah untuk meningkatkan produksi CPO sebesar dua kali lipat menjadi 40 juta metrik ton per tahun pada 2020. Indonesia sangat mungkin mencapai target ini dengan adanya iklim yang mendukung, berlimpahnya lahan yang cocok, keahlian sektor swasta, dan besarnya tenaga kerja pedesaan.

Kebun pembibitan sawit di Kalimantan Timur. Foto oleh Felicia Lasmana.

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

12

(13)

Ekspor sawit merupakan bagian yang sangat penting dari strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia, menghasilkan milyaran dolar valuta asing setiap tahunnya dan menyediakan basis yang stabil bagi

perekonomian setempat, akses ke pasar-pasar komoditi, dan lapangan pekerjaan yang sangat dibutuhkan di daerah-daerah yang kurang terjamah pembangunan di nusantara. Setidaknya tiga juta petani kecil independen membudidayakan sawit, mencakup sekitar 40% dari total wilayah yang ditanami dan sering menghasilkan pemasukan yang jauh lebih tinggi daripada petani kecil atau produsen tanaman panen lainnya. Penanaman modal swasta di sawit pada umumnya membawa peningkatan infrastruktur publik, jaringan pasar, serta layanan-layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan, di samping menciptakan peluang-peluang kerja dan merangsang kegiatan ekonomi lokal.

Dampak sosial dan lingkungan hidup sawit bisa besar. Meskipun menghasilkan manfaat-manfaat

ekonomi, industri sawit Indonesia banyak mendapatkan kritik dari dalam dan luar negeri. Para pengkritik berargumen bahwa manfaat sawit dihasilkan dengan mengorbankan hutan dan masyarakat pedesaan yang bergantung pada hutan, menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang besar dari perubahan lahan dan merusak habitat yang kaya keanekaragaman hayati. Dalam beberapa kasus, masyarakat pedesaan dirugikan oleh pembangunan, kehilangan akses lahan dan sumber penghidupan tanpa memperoleh kompensasi atau bantuan hukum yang secukupnya. Kelompok-kelompok etnis asli bisa lebih rentan lagi sebab mereka lebih banyak bergantung pada ekosistem-ekosistem alami dan tidak berpengalaman dalam transaksi-transaksi bisnis yang rumit atau berkebun sawit. Para pengkritik juga mencatat bahwa dalam banyak kasus, masyarakat setempat tidak dimintai konsultasinya dengan mencukupi sebelum izin sawit terbit, yang melemahkan posisi mereka ketika menegosiasikan kompensasi lahan dan perjanjian-perjanjian usaha dengan perusahaan.

Sektor sawit merupakan bagian tak terpisahkan dari komitmen-komitmen pembangunan hijau Indonesia. Sejak tahun 1999, lebih dari 8% hutan Indonesia, termasuk hutan tropis yang kaya

keanekaragaman hayati dan rawa gambut yang padat karbon, telah dimasukkan dalam zona yang akan dikonversi menjadi lahan pertanian. Sekitar 80% emisi GRK Indonesia berasal dari pemanfaatan lahan dan perubahan tutupan lahan, yang sebagian didorong oleh perluasan sawit. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menjanjikan target ganda yaitu untuk mengurangi emisi GRK nasional sebesar 26% pada tahun 2020 dengan mempertahankan pertumbuhan PDB tahunan sebesar 7% (Visi 7-26). Untuk merealisasikan visi ini, konversi hutan dan lahan gambut menjadi perkebunan dan pemanfaatan lainnya harus dikurangi.

1.2 Tata kelola sawit di Indonesia

Pengambilan keputusan di sektor sawit bersifat kompleks. Pertumbuhan dan pengelolaan perkebunan

sawit di Indonesia dipandu oleh suatu sistem tata kelola yang berlapis dengan banyak pelaku (Gambar 1). Ada kerangka hukum yang rumit yang didefinisikan oleh Undang Undang, peraturan dan keputusan menteri yang beroperasi pada berbagai skala ruang dan diterbitkan oleh berbagai tingkat pemerintahan dan kementerian. Pemerintah, dunia usaha dan pelaku di masyarakat sering memiliki kebebasan yang cukup besar dalam mendesain dan mengelola proses pengambilan keputusan dan mengambil keputusan dalam kerangka ini. Suatu sistem perencanaan pembangunan yang didesentralisasi dan tidak terkoordinasi yang mencerminkan berbagai visi dan target ekspansi sektoral semakin memperumit upaya-upaya untuk memandu proses pembangunan tersebut dalam batas-batas kerangka tata kelola ini.

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan KONTEKS 13

(14)

Sebagai bagian dari tata kelola Indonesia yang didesentralisasi, kewenangan besar diberikan kepada badan dan pejabat pemerintah daerah. Tata kelola sawit diimplementasikan dalam konteks

sistem pemerintahan demokratis Indonesia yang didesentralisasi, yang melimpahkan banyak kewenangan pembuatan keputusan dan pengaturan kepada pemerintah-pemerintah kabupaten dan pimpinan daerah yang dipilih rakyat. Pejabat-pejabat ini memiliki pengetahuan luas mengenai kondisi-kondisi setempat, sehingga muncul peluang-peluang untuk menyeuaikan pembangunan dengan kondisi tersebut, namun proses-proses pengambilan keputusan mereka sering terhambat oleh kapasitas teknis dan sumber daya keuangan yang tidak memadai serta juga ketidakjelasan hukum dan mandat-mandat yang saling bertentangan untuk membangun dan melindungi kawasan mereka.

Kerangka hukum yang ada bersifat komprehensif tetapi tidak selalu konsisten (untuk ikhtisar lihat Lampiran 1). Elemen-elemen kerangka hukum yang penting yang mempengaruhi hasil pengembangan sawit

mencakup:

Ketetapan Undang-Undang Dasar yang memberikan penguasaan atas tanah dan sumber daya alam

kepada negara;

Undang-undang desentralisasi yang melimpahkan wewenang atas berbagai fungsi layanan kepada

berbagai tingkat pemerintah dan memberikan wewenang kepemimpinan terbesar atas pemberian izin perkebunan dan pabrik, pengawasan, evaluasi kinerja serta penegakan hukum kepada kabupaten; • Undang-undang perencanaan tata ruang yang menetapkan persyaratan dan prosedur untuk

mengalokasikan (pembuatan zona) lahan untuk berbagai pemanfaatan pada tingkat nasional, provinsi dan kabupaten;

Undang-undang terkait tanah yang menetapkan ketentuan-ketentuan di mana individu, masyarakat,

dan perusahaan diberi kepemilikan atau hak guna usaha lahan;1

Undang-undang Kehutanan serta aturan-aturan pelaksanaannya yang memberikan wewenang

dan panduan untuk delineasi Kawasan Hutan Nasional, menetapkan kategori penggunaan hutan dan wewenang pengelolaan, dan prosedur untuk pelepasan lahan di Kawasan Hutan menjadi pemanfaatan non-hutan;

Undang-undang Perkebunan serta aturan-aturan pelaksanaannya yang menjabarkan persyaratan

khusus untuk perizinan, pengelolaan dan kinerja perkebunan sawit, termasuk pembangunan masyarakat dan pengelolaan lingkungan hidup; dan

Undang-undang dan aturan-aturan pengelolaan lingkungan hidup yang menetapkan persyaratan

untuk penilaian lingkungan hidup untuk perkebunan dan pabrik, termasuk perancangan, implementasi, pengawasan dan pelaporan langkah-langkah mitigasi dampak buruk.

KEPUTUSAN, KEPUTUSAN

Dalam kajian ini, kata ‘keputusan’ digunakan dalam arti luas, termasuk keputusan atas: • Ketentuan kebijakan tingkat tinggi yang ditetapkan dalam UU dan Peraturan Nasional; • Tindakan-tindakan yang diambil di tingkat kabupaten guna menegakkan aturan dan undang-undang melalui proses-proses dan prosedur-prosedur di bawah wewenang mereka; • Keputusan-keputusan yang dibuat perusahaan sawit terkait dengan kebijakan perusahaan atau pengembangan masing-masing perkebunan; • Keputusan-keputusan yang diambil masyarakat yang dihadapkan pada pilihan untuk menerima atau menolak pengembangan sawit dan, bila menerima, dengan syarat dan ketentuan yang seperti apa. Sebagian keputusan dibuat bersama-sama melalui kesepakatan antara pemerintah daerah dan perusahaan atau antara masyarakat dan perusahaan. Dalam beberapa kasus, pelaku berwenang untuk membuat keputusan tertentu memilih untuk tidak membuatnya, memberikan wewenang kepada pihak di bawah mereka, atau membiarkan yang terjadi mengalir secara ad hoc saja.

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

14

(15)

Banyak pelaku berpartisipasi dalam pengambilan keputusan soal sawit pada tingkat lokal, provinsi maupun nasional. Para pelaku ini dapat digolongkan menjadi yang berfungsi sebagai Pelaku Primer dan

Sekunder mencakup:

Pejabat pemerintah pusat dan anggota DPR yang menetapkan kebijakan nasional, mengembangkan

undang-undang dan peraturan, memformulasikan rencana-rencana pembangunan, mengawasi proses-proses pembuatan perundangan, menetapkan kerangka fiskal, dan menyetujui rencana-rencana tata ruang;

Pejabat-pejabat kabupaten dan provinsi yang memformulasikan rencana-rencana tata ruang dan

strategi-strategi pembangunan serta mengimplementasikan perizinan dan pengawasan perkebunan, baik dari sisi kepatuhan hukum maupun kinerja;

Anggota DPRD tingkat kabupaten dan provinsi yang memformulasikan peraturan-peraturan lokal

untuk melengkapi undang-undang dan peraturan nasional di tingkat daerah;

Perusahaan-perusahaan swasta2 yang mempengaruhi lokasi, skala dan ketentuan-ketentuan investasi sawit dan, sejak tahun 2004, memimpin negosiasi dengan masyarakat mengenai pembebasan lahan untuk dikembangkan, ketentuan-ketentuan perjanjian kemitraan dengan petani kecil dan skala investasi pembangunan masyarakat; dan

Masyarakat-masyarakat setempat yang menurut undang-undang dapat menerima atau menolak

pengembangan sawit di lahan yang mereka klaim dan menegosiasikan ketentuan-ketentuan kemitraan dengan perusahaan.

Berbagai Pelaku Sekunder berinteraksi dengan Pelaku Primer untuk mempengaruhi keputusan yang

mereka ambil. Pelaku sekunder ini di antaranya mencakup bank, kelompok-kelompok penelitian, organisasi-organisasi standar, media, konsumen internasional, dan LSM, dan masyarakat sipil.

Hutan hujan dataran rendah di Kalimantan. Foto oleh Gary Paoli. Satu keputusan penting Mahkamah Konstitusi mengenai hak-hak adat atas hutan (MK 35/2013) belum lama ini memodifikasi ketetapan Konstitusional mengenai penguasaan tanah oleh Negara dengan memberi pengakuan hukum kepada hak-hak tanah masyarakat setempat yang dapat membuktikan hak-hak adat atas wilayah hutan yang konsisten dengan definisi hukum untuk “hutan adat”. Istilah perkebunan dan perusahaan digunakan bergantian dengan makna yang sama dalam laporan ini. 1 2

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan KONTEKS 15

(16)

Visi dan target pengembangan sawit sangat bervariasi dan sering tidak konsisten. Para pelaku

memiliki berbagai perspektif mengenai ekspansi sektoral, mencerminkan tanggung jawab kelembagaan dan aspirasi pemerintah, dunia usaha, dan kelompok-kelompok masyarakat sipil yang mereka wakili. Sebagai contoh, pelaku pemerintah umumnya mendukung visi memperluas sektor sawit sesuai dengan niat melipatgandakan produksi di tahun 2020, namun mereka menyatakan target-target pertumbuhan yang berbeda-beda, baik sebagai perluasan perkebunan atau hasil produksi serta dalam penekanan pada pengamanan sosial dan lingkungan hidup. Target-target produksi yang terlalu ambisius dan ketidakselarasan antara provinsi dengan kabupaten-kabupaten di bawahnya dalam memperluas sektor ini semakin

mengganggu upaya-upaya untuk mengoptimalkan hasil melalui perencanaan yang cermat.

GAmBAR 1. Gambaran skematis kerangka hukum yang mengatur pengembangan sawit di Indonesia. Peran pelaku-pelaku Pemerintah Pusat dan Pemda untuk memberlakukan dan menegakkan UU dan peraturan Nasional dan Daerah diperlihatkan dengan tujuh fitur utama seperti digambarkan di atas. Ukuran lingkaran terkait derajat pentingnya setiap pelaku di setiap tahap secara relatif; warna oranye mengindikasikan serangkaian UU atau peraturan terkait topik yang dicatat; kotak hijau tua mewakili agregat keseluruhan kerangka kerja tersebut.

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

16

(17)

1.3 Tujuan dan latar belakang pemikiran

Tujuan analisis yang dirangkum dalam laporan ini adalah untuk menggambarkan proses-proses pengambilan keputusan di sektor sawit dalam bahasa yang dapat dipahami berbagai pihak, mencakup pejabat pemerin-tah, sektor swasta, masyarakat sipil, konsumen internasional, peneliti, donor dan lembaga-lembaga pemban-gunan. Satu tantangan yang diakui ada dalam upaya untuk memperbaiki pengambilan keputusan di sektor ini adalah kompleksitasnya proses-proses keputusan serta interaksi di antaranya yang, pada akhirnya, menentu-kan hasil-hasil pengembangan sawit. Laporan ini bertujuan untuk:

Membuat proses-proses pengambilan keputusan di sektor sawit lebih mudah dipahami berbagai pihak, dengan menata kompleksitas tersebut, dan dengan demikian menyediakan satu basis

yang lebih lengkap untuk melakukan dialog kebijakan berdasarkan informasi dan mengikuti wacana di tingkat nasional dan internasional.

• Menyediakan perspektif yang berimbang untuk membantu menjembatani pendukung dan penentang sawit dengan menawarkan diagnosa akan penyebab-penyebab utama hasil-hasil yang

dianggap tidak masuk akal oleh sebagian pengamat, berusaha menghindari komentar-komentar yang terlalu bersifat umum dan subyektif, dan menunjukkan wilayah-wilayah kolaborasi yang dapat memperoleh dukungan dari pihak pendukung maupun penentang sawit.

• Menggarisbawahi peluang untuk memperbaiki kerangka hukum dan proses-proses

pengambilan keputusan serta menunjukkan bagaimana hal ini dapat mempercepat perbaikan

praktik-praktik industri sawit di seluruh rantai pasokan.

Dalam mengejar tujuan-tujuan ini, kajian ini menata banyak keputusan yang dibuat berbagai pelaku di proses-proses pengembangan sawit, menjelaskan bagaimana keputusan mempengaruhi hasil, dan

memberi rekomendasi cara-cara untuk meningkatkan hasil dari masing-masing keputusan atau keseluruhan proses pengambilan keputusan. Informasi ini dapat membantu dialog kebijakan yang tengah berlangsung dengan mengarahkan perhatian kepada cara-cara konkret untuk meningkatkan keputusan, dan memberi pemahaman yang lebih baik kepada para pelaku mengenai peran mereka dan bagaimana mereka dapat bekerja sama dengan lebih efektif dengan pelaku-pelaku lain guna mencapai suatu hasil tertentu.

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan KONTEKS 17

(18)

PENDEKATAN

PENELITIAN

2

2.1 mengidentifikasi titik-titik keputusan utama dan

pelaku-pelaku yang terlibat

Laporan ini berfokus pada proses-proses pengambilan keputusan utama yang mempengaruhi

hasil-hasil sosial dan lingkungan hidup dari pengembangan sawit. Kami menggambarkan proses, peran pengambil keputusan dan pelaku lain, kerangka hukum dan pengaturan di mana mereka beroperasi dan faktor-faktor yang berdampak pada bagaimana keputusan itu dibuat. Laporan ini mengisolasikan titik-titik keputusan

dalam suatu matriks proses yang saling terkait dan pelaku yang menentukan: (a) di mana izin untuk sawit diterbitkan; (b) bagaimana praktik-praktik pengelolaan pabrik perkebunan menentukan dampak lingkungan dari operasinya; dan (c) bagaimana kemitraan antara perusahaan dan masyarakat terbentuk dan berjalan. Pendekatan ini mengisolasikan titik-titik keputusan tertentu tetapi mendorong pembaca untuk mengingat bahwa untuk memahami bagaimana suatu keputusan diambil dan hasil-hasil yang muncul membutuhkan pertimbangan yang lebih terperinci menyangkut jaringan pelaku selengkapnya, keputusan-keputusan yang terkait dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Juga diakui bahwa di beberapa daerah di Indonesia, pengambilan keputusan secara optimal di sektor sawit dirongrong oleh perilaku mencari rente dalam keputusan-keputusan tata ruang dan perizinan. Laporan ini tidak menanggapi hambatan-hambatan ini secara langsung, namun berfokus pada upaya memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai proses-proses pengambilan keputusan sebagai langkah awal untuk Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

18

PENDEKATAN PENElITIAN

(19)

2.2 menggambarkan hasil-hasil keputusan yang diharapkan

Penelitian ini memperlihatkan bagaimana keputusan berpotensi untuk berkontribusi atau merusak lima jenis hasil pembangunan dari sawit yang pada umumnya digarisbawahi di dokumen-dokumen perencanaan pemerintah dan bahan-bahan industri lainnya:

Manfaat Ekonomi Setempat (Kabupaten) – Manfaat positif pembangunan setempat mencakup

penciptaan lapangan kerja dan kemakmuran, penguatan pasar-pasar lokal, perbaikan infrastruktur dan penyediaan layanan-layanan kemanusiaan mendasar.

• Manfaat-manfaat bagi Masyarakat – Manfaat bagi masyarakat dari sawit mencapai titik tertinggi ketika

petani sawit dan anggota masyarakat mendapatkan bagian manfaat finansial yang adil melalui konsultasi yang efektif, perjanjian yang terstruktur baik, penguatan lembaga-lembaga lokal serta pembangunan kapasitas yang sesungguhnya untuk koperasi dan usaha-usaha masyarakat setempat.

• Tata Kelola Sawit Kabupaten – Beberapa keputusan pembuatan peraturan dan penegakkannya tidak

hanya berkontribusi pada membaiknya tata kelola di sektor ini namun juga menjadi katalis perubahan positif lainnya, seperti peningkatan kualitas dan transparansi layanan pemerintah dan pengelolaan sumber daya alam yang lebih luas.

• Dampak-dampak pada Lingkungan Hidup – Pengurangan dampak sawit pada keanekaragaman

hayati dan layanan-layanan lingkungan hidup dapat dicapai melalui perbaikan perencanaan tata ruang, keputusan-keputusan perizinan yang berdasarkan informasi yang memadai, dan desain perkebunan yang berorientasi konservasi. Pengurangan dampak pada mutu air dan udara dapat dicapai lewat perbaikan desain dan operasi pabrik serta infrastruktur pendukungnya.

• Emisi Karbon dari Pengembangan Sawit – Emisi dari hutan dan lahan gambut selama daur hidup

produksi sawit dapat dikurangi dengan cara memberi perhatian secara eksplisit kepada potensi emisi dalam perencanaan tata ruang, keputusan perizinan, analisis mengenai dampak lingkungan hidup serta desain dan pengelolaan perkebunan dan pabrik. Hasil-hasil ini difasilitasi oleh peningkatan informasi tata ruang, kapasitas analitis, transparansi pengambilan keputusan, desain dan operasi perkebunan dan pabrik yang dilakukan dengan hati-hati serta langkah-langkah inovatif (termasuk alat-alat hukum) untuk merawat hutan-hutan dalam kawasan-kawasan yang termasuk zona untuk pertanian, di mana dapat dilakukan.

Evaluasi hasil-hasil yang muncul dari keputusan-keputusan dalam penelitian ini bersifat kualitatif. Dalam studi di masa depan, pendekatan kuantitatif untuk menggambarkan dan membandingkan hasil-hasil dapat dilakukan dengan cukup mudah untuk beberapa parameter (misalnya emisi GRK yang berasal dari pengembangan gambut dangkal yang dalamnya kurang dari 3 meter, atau dihindari oleh perkebunan yang menerapkan praktik-praktik pengelolaan tanpa limbah). Parameter-parameter lain belum dapat dengan mudah diteliti secara kuantitatif saat ini karena kelemahan data atau sangat beragamnya keadaan di seluruh negeri dan di antara perkebunan.

mengidentifikasi di mana keputusan-keputusan yang rasional di masa depan dihalangi oleh perilaku mencari rente dan bagaimana mengatasinya. Ada banyak upaya yang sedang dilakukan untuk menghadapi masalah-masalah ini di tingkat nasional melalui berbagai inisiatif-insiatif pemerintah dan non-pemerintah, dan temuan-temuan kajian ini dimaksudkan untuk mendukung upaya-upaya tersebut.

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan PENDEKATAN PENElITIAN 19

(20)

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

20

2.3 mengembangkan rekomendasi-rekomendasi untuk

mendukung tujuan-tujuan Pertumbuhan Ekonomi Hijau

Berdasarkan tinjauan atas keputusan-keputusan dan hasil-hasil yang dipengaruhinya, laporan ini memberikan rekomendasi-rekomendasi untuk memperkuat manfaat pembangunan sawit. Kami menekankan bahwa, di dunia nyata, sangatlah sulit menilai hasil-hasil dan timbal-balik di antaranya. Meski demikian, pengalaman sampai saat ini memperlihatkan bahwa hasil-hasil yang lebih mendukung komitmen Indonesia akan Pertumbuhan Ekonomi Hijau dan pembangunan pedesaan dapat segera dicapai dengan meningkatkan proses-proses pengambilan keputusan melalui (a) memperkuat prosedur-prosedur yang diimplementasikan dengan tegas, (b) partisipasi yang lebih inklusif, (c) meningkatkan pengawasan lokal dan nasional, dan (d) akses informasi dan analisis yang lebih baik untuk menjadi landasan informasi keputusan-keputusan.

Peningkatan signifikan dapat dicapai dalam kerangka hukum yang ada saat ini untuk membuat perbaikan bertahap di jangka pendek. Penyesuaian-penyesuaian yang lebih mendasar dalam kebijakan, khususnya rencana tata ruang dan batas-batas Kawasan Hutan, akan sangat

memperbaiki hasil-hasil di masa depan, namun menuntut adanya upaya-upaya yang terfokus dan terkoordinasi selama jangka waktu yang lebih panjang.

Karena keadaan di seluruh Indonesia dan di antara perkebunan sangat beragam, banyak rekomendasi kami yang seyogyanya dilihat sebagai hipotesa sementara yang perlu diselidiki lebih jauh melalui dialog kebijakan, atau penelitian dan program-program uji coba yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Sebagian dari rekomendasi kami cukup spesifik mengenai masalah-masalah utama yang hendaknya ditangani, namun bahkan di sini, laporan ini mengakui bahwa pemahaman dapat selalu ditingkatkan melalui evaluasi kritis dan masukan dari pihak-pihak lain. Harapan kami adalah bahwa laporan ini akan menstimulasi penelitian dan pengujian rekomendasi-rekomendasi kami selama beberapa tahun ke depan oleh para pemangku kepentingan yang tertarik dengan sektor ini.

Sasaran laporan sepenuhnya adalah pihak-pihak yang mencari pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai masalah-masalah yang disajikan di rangkuman ini. Laporan tersebut menggambarkan pengambilan

keputusan dan hasil-hasilnya terkait (a) di mana sawit ditanam, (b) bagaimana perkebunan dan pabrik

dikembangkan dan dikelola, dan (c) bagaimana perusahaan dan masyarakat membentuk

persetujuan-persetujuan kemitraan yang menentukan dampak sosial dan pembangunan akibat perkebunan (Gambar 2). Di mana sawit ditanam merupakan hasil dari dua proses pengambilan keputusan yang berbeda: yang pertama menentukan di mana izin diterbitkan dan yang kedua di mana perkebunan dikembangkan di lapangan dalam kawasan-kawasan yang sudah memiliki izin untuk pemanfaatan (Gambar 3, di bawah). Laporan sepenuhnya menjawab pertanyaan ini dalam dua bab, yang pertama berjudul “Di Mana Izin Sawit Diterbitkan” dan yang kedua “Bagaimana Perkebunan dan Pabrik Dikembangkan dan Dikelola”, yang juga menggambarkan hasil-hasil yang timbul akibat keputusan-keputusan mengenai bagaimana perkebunan

dan pabrik dikelola setelah mulai beroperasi. Dalam bab selanjutnya, penelitian ini menggambarkan dan menganalisis proses-proses keputusan yang mendasari bagaimana perusahaan dan masyarakat membentuk

2.4 Ikhtisar laporan Sepenuhnya

(21)

GAmBAR 2. Wilayah tematik dan pertanyaan yang dijajaki di laporan sepenuhnya. Proses-proses pengambilan keputusan yang menentukan di mana izin perkebunan diberikan dan bagaimana perkebunan dan pabrik dikembangkan dan dikelola menentukan manfaat dan dampak pada lingkungan hidup. Pengambilan keputusan tentang di mana perkebunan dikembangkan dan bagaimana masyarakat setempat diajak berkonsultasi oleh perusahaan dalam prosesnya untuk membentuk dan mengimplementasikan kesepakatan kemitraan menentukan manfaat pembangunan setempat dan dampak sosial pada masyarakat.

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan PENDEKATAN PENElITIAN 21

dan mengimplementasikan persetujuan-persetujuan kemitraan yang mencakup perkebunan-perkebunan petani kecil dan program-program pembangunan masyarakat yang lebih luas yang dilakukan perusahaan. Bab penutup dalam laporan sepenuhnya memberikan rekomendasi-rekomendasi terstruktur mengenai bagaimana memperbaiki hasil-hasil pembangunan melalui perubahan-perubahan bertahap dalam kerangka pengambilan keputusan yang ada, atau melalui penyesuaian-penyesuaian yang lebih signifikan dengan membangun di atas rekomendasi-rekomendasi dalam rangkuman ini.

(22)

RANgKumAN

TEmUAN

3

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

22

RANgKumAN TEmuAN

Tiga bagian berikut menggambarkan titik-titik keputusan penting dan proses-proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi hasil-hasil pembangunan sawit:

• Keputusan-keputusan yang menentukan di mana izin sawit diterbitkan.

• Keputusan-keputusan yang mempengaruhi dampak lingkungan perkebunan dan pabrik.

• Keputusan-keputusan yang menentukan hubungan antara perusahaan dengan masyarakat terkait dengan

sawit.

Di dalam setiap bagian ini kami mengidentifikasi titik-titik keputusan, pelaku-pelaku yang terlibat, alternatif keputusan yang mereka hadapi, faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana keputusan diambil, dan hasil-hasil yang muncul. Bagian selanjutnya menggambarkan beberapa masalah yang beririsan yang mempengaruhi pengembangan dan implementasi kerangka yang berdampak pada keputusan-keputusan di sektor sawit.

(23)

3.1 Keputusan-keputusan yang menentukan di mana izin sawit

diterbitkan

Bagian ini mengeksplorasi proses-proses keputusan yang menentukan di mana izin sawit diterbitkan, mencakup: bagaimana keputusan tersebut dipengaruhi kerangka hukum dan peraturan saat ini; hasil-hasil dari keputusan perizinan; dan observsi-observasi mengenai bagaimana mendukung, memperkuat dan, di mana perlu, memodifikasi kerangka tersebut untuk mendukung hasil-hasil yang lebih konsisten dengan tujuan-tujuan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia di sektor ini (perinciannya ada di laporan sepenuhnya).3 Terkait dengan di mana izin diberikan, ada banyak peluang untuk bekerja dalam kerangka-kerangka hukum dan peraturan yang ada untuk memperbaiki perencanaan dan pengambilan keputusan, tetapi untuk beberapa masalah, mungkin akan dibutuhkan revisi kerangka kebijakan untuk sepenuhnya mencapai visi Indonesia untuk sawit sebagai suatu sektor ekonomi yang memiliki manfaat tinggi dan dampak rendah. Keputusan-keputusan yang mempengaruhi di mana sawit diberi izin dan pada akhirnya ditanam diambil di tiga skala ruang (Gambar 3):

Skala makro – Keputusan-keputusan Rencana Tata Ruang menentukan batas-batas Kawasan Hutan

nasional dan tanah yang tersedia untuk pertanian di dalamnya (Hutan Produksi Konversi, atau HPK ) serta di luarnya (Kawasan Budidaya Non-Kehutanan, atau KBNK). Pemerintah dapat menerbitkan izin sawit pada lahan-lahan yang termasuk zona KBNK atau HPK, sementara pengembangannya bergantung pada hasil-hasil penilaian dampak yang dilakukan di skala yang lebih lokal.

Skala Meso – Keputusan-keputusan Perizinan Sawit menentukan kawasan-kawasan dalam zona-zona

KBNK dan HPK di mana pengembangan perkebunan skala besar akan diberi izin dan pengembangannya disetujui. Penerbitan izin dan kemudian keputusan penyaringan yang dibuat pada “skala meso” ini mengikuti suatu proses penilaian yang dimandatkan hukum untuk mengidentifikasi (a) kawasan-kawasan lingkungan hidup yang peka berdasarkan kondisi bio-fisiknya (misalnya gambut dengan tebal lebih dari 3 meter) atau (b) faktor-faktor sosial yang menghambat pembangunan (misalnya, lahan adat yang dikelola masyarakat yang menentang pengembangan sawit). Langkah-langkah pada skala meso untuk mendasari keputusan-keputusan perizinan dapat mencakup keputusan-keputusan pemerintah daerah mengenai daerah-daerah yang diprioritaskan untuk produksi dan daerah yang dilindungi (misalnya mendukung pengembangan lahan hutan gundul non-gambut), atau keputusan perusahaan untuk membantu memenuhi persyaratan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) atau sistem sertifikasi sukarela seperti RSPO.

Skala Mikro – Keputusan-keputusan Perencanaan Perkebunan yang dibuat perusahaan, sering dengan

berkoordinasi dengan masyarakat setempat, menentukan batas-batas di dalam izin perkebunan mereka yang tidak boleh dikembangkan karena larangan hukum (misalnya, daerah penyangga tepi suungai, gambut yang dalamnya lebih dari 3 meter atau lereng yang terjal), keinginan anggota masyarakat setempat (misalnya lahan yang oleh masyarakat setempat direncanakan untuk kegunaan non-sawit) atau standar-standar sertifikasi sukarela (misalnya, daerah-daerah yang dalam RSPO digolongkan sebagai daerah Bernilai Konservasi Tinggi).

Laporan ini meneliti bagaimana penetapan letak untuk perkebunan skala besar milik swasta atau negara, dan tidak mempertimbangkan keputusan-keputusan yang menentukan di mana dikembangkan kebun-kebun independen milik petani kecil. Kebun petani kecil perlu diinvestigasi dalam penelitian yang terpisah, termasuk variasi geografis dalam norma-norma pengambilan keputusan petani kecil.

3

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan RANgKumAN TEmuAN 23

(24)

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

24

RANgKumAN TEmuAN

Proses perencanaan tata ruang di tingkat nasional menentukan batas-batas lahan yang termasuk sebagai hutan permanen (Kawasan Hutan) versus lahan untuk pemanfaatan pertanian, termasuk sawit (Gambar 4; Tabel 1) Perencanaan tata ruang diikuti oleh pengambilan keputusan oleh pemerintah daerah dan perusahaan di dalam kawasan yang termasuk dalam zona untuk pertanian untuk (a) menawarkan atau meminta

pengajuan izin, (b) mengevaluasi kelayakannya berdasarkan ekosistem yang peka (misalnya gambut dalam, dataran aliran sungai yang luas) atau faktor-faktor lain yang tidak dapat dikembangkan menurut peraturan nasional maupun daerah (misalnya Kawasan Moratorium4 atau wilayah yang pengembangannya ditentang masyarakat), dan (c) menyetujui izin-izin pengembangan (Gambar 4). Analisis yang menjadi dasar keputusan-keputusan persetujuan pada skala ini biasanya dipimpin oleh pemerintah kabupaten dengan berpusat pada penilaian-penilaian dampak lingkungan yang dimandatkan oleh pemerintah serta prosedur-prosedur perizinan terkait (Gambar 5). Pengambilan keputusan sebelum perizinan semacam ini mensyaratkan agar pemerintah daerah berkonsultasi dengan masyarakat setempat bahkan sebelum Izin Lokasi (Gambar 5) diterbitkan, namun kepatuhan pada persyaratan ini bervariasi. Kualitas konsultasi sebelum pemberian izin tersebut menjadi pondasi bagi hubungan perusahaan-masyarakat di masa depan (yang dibahas lebih lanjut di Bagian 3.3), khususnya kesiapan masyarakat dan sikap terhadap sawit ketika perusahaan mengusahakan persetujuan pembebasan lahan dari mereka. Inisiatif-inisiatif keberlanjutan nasional seperti ISPO berpotensi untuk memperkuat pengambilan keputusan pada skala meso dengan cara mempengaruhi keputusan-keputusan perusahaan mengenai apakah akan mencari izin-izin berisiko tinggi sejak awal menimbang kesulitan-kesulitan di masa depan yang akan muncul untuk memenuhi persyaratan hukum yang dirumuskan di bawah ISPO. Pada bulan Mei 2011 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan moratorium sementara atas penerbitan izin penebangan hutan dan perkebunan baru yang mencakup wilayah seluas 65 juta ha, yang memberikan perlindungan sementara kepada hutan-hutan primer dan lahan-lahan gambut. Keputusan Presiden yang pertama berakhir di awal tahun 2013 namun diperbarui untuk dua tahun lagi sebagai bagian dari upaya luas untuk mendukung reformasi tata kelola di sektor kehutanan dan pertanian. 4 Perkebunan sawit dewasa di Kalimantan. Foto oleh Bas van Balen.

(25)

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan RANgKumAN TEmuAN 25

GAmBAR 3. Gambar skema proses keputusan pada 3 tingkat skala keruangan yang menentukan di mana sawit ditanam. Seperti dilukiskan lebih lengkap di Bagian 3.2, pengambilan keputusan skala-meso disusul dengan keputusan skala lebih halus (mikro) di dalam wilayah-wilayah yang diberi izin sawit, guna menghindari daerah yang tidak sesuai untuk penanaman berdasarkan berbagai kriteria.

(26)

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

26

RANgKumAN TEmuAN

GAmBAR 4. Gambar skematis keputusan-keputusan terkait (a) Proses perencanaan tata ruang Indonesia (b) Perizinan, dan (c) Pengembangan perkebunan sehubungan dengan keputusan-keputusan skala makro, meso, dan mikro di Gambar 3. Proses perencanaan tata ruang menentukan lahan yang secara hukum diizinkan untuk pertanian versus lahan yang harus dipertahankan sebagai Kawasan Hutan untuk dilindungi atau untuk kepentingan produksi seperti penebangan kayu. Nomor mengindikasikan langkah-langkah sesuai dengan UU dan peraturan pendukung di Tabel 1.

(27)

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan RANgKumAN TEmuAN 27

(28)

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

28

RANgKumAN TEmuAN

GAmBAR 5. Diagram aliran proses memperoleh izin-izin dan persetujuan utama untuk pengembangan sawit di Indonesia. Tertera di sini UU dan peraturan mendasar terkait setiap izin.

(29)

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan RANgKumAN TEmuAN 29 Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

RANgKumAN TEmuAN 29

3.2 Keputusan-keputusan yang mempengaruhi dampak

lingkungan perkebunan dan pabrik sawit

Keputusan mengenai di mana perkebunan sawit diberikan izin menentukan besarnya potensi dampak negatif yang ditimbulkan dengan menentukan apakah hutan alam, kawasan berbukit atau lahan gambut berisiko untuk dikonversi. Namun setelah satu izin diterbitkan, berbagai keputusan lokal dibuat tentang bagaimana dan di mana perkebunan dikembangkan dan bagaimana pabrik akan dioperasikan. Keputusan-keputusan tersebut dapat mengurangi atau menambah dampak keputusan izin yang dibuat oleh pemerintah. Dengan demikian, perizinan menentukan lokasi tapak sawit, sedangkan keputusan-keputusan pengembangan menentukan ukuran dan bentuk tapak tersebut.

Perusahaan sawit adalah pelaku yang membuat keputusan-keputusan yang paling penting di tahap-tahap pengembangan pasca perizinan dengan menentukan di mana perkebunan dan pabrik akan dibangun serta bagaimana pengelolaannya. Perusahaan harus menimbang berbagai tujuan dalam merancang perkebunan di atas kawasan heterogen yang luas (antara 3.000-20.000 ha), sering dengan bekal data dan waktu yang tidak mencukupi untuk membuat keputusan berbasis informasi kuat. Sejauh mana persyaratan hukum memandu keputusan-keputusan perusahaan bergantung sama banyaknya pada kebijakan perusahaan terhadap kepatuhan seperti pada penegakan hukum oleh pemerintah dan persepsi risiko hukuman untuk pelanggaran. Mengurangi dampak lingkungan hidup perkebunan dan pabrik sawit perlahan tapi pasti menjadi arus utama komitmen kebijakan perusahaan sawit, mendorong investasi dalam langkah-langkah mitigasi dampak serta perlindungan hutan yang pro-aktif dan program-program konservasi. Perusahaan yang berkomitmen terhadap sertifikasi sukarela di bawah RPSO bisa jadi sangat progresif dalam hal ini, namun industri telah menunjukkan bahwa komitmen-komitmen semacam ini bukan merupakan prasyarat untuk melakukan aksi positif.

Selain perusahaan-perusahaan, berbagai pelaku pemerintah dan non-pemerintah juga memainkan peran penting dalam keputusan-keputusan pasca perizinan. Aktor-aktor Pemerintah Pusat menentukan (a) prosedur untuk menilai dan menghindari dampak lingkungan hidup (AMDAL), (b) persyaratan untuk menghindari daerah berlingkungan hidup peka seperti lereng curam dan gambut dalam, (c) standar-standar pengontrol polusi, dan (d) sistem-sistem pengawasan kinerja yang diwajibkan (misalnya ISPO). Pelaku-pelaku pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk (i) menyetujui laporan AMDAL; (ii) menegakkan persyaratan pengelolaan lingkungan hidup, pengawasan dan pelaporan; dan (iii) menetapkan hukuman, langkah koreksi yang harus dilakukan, atau bahkan memulai prosedur untuk mencabut izin ketika ada ketidakpatuhan yang berat. Meskipun pada prinsipnya pejabat setempat memiliki kewenangan luas untuk mengatur kinerja perusahaan, dalam praktiknya, lembaga-lembaga daerah harus melunakkan posisinya dalam hal peraturan untuk

mempertahankan suasana yang ramah bagi dunia usaha karena kabupaten-kabupaten bersaing dengan satu sama lain untuk mendapatkan investasi sawit. Masyarakat setempat juga berperan penting dalam keputusan-keputusan pasca perizinan, dan dapat mengurangi atau menambah dampak-dampak pemberian izin melalui keputusan-keputusan mengenai lahan mana yang akan ditawarkan kepada perusahaan untuk ditanami dan apakah akan dan bagaimana menekan perusahaan untuk meningkatkan praktik-praktik yang berdampak pada penghidupan mereka (misalnya perlindungan erosi dan kualitas air).

Pengembangan Perkebunan: Perusahaan membuat banyak keputusan saat pengembangan perkebunan

yang mempengaruhi hasil-hasil dari sisi lingkungan hidup (Gambar 6). Contoh-contoh yang menonjol termasuk: (1) bagaimana dan di mana membuat pembibitan, bangunan, jalan, jembatan dan infrastruktur lainnya; (ii) wilayah mana yang akan ditanami dan mana yang akan dipertahankan tutupan lahannya; (iii) bagaimana melakukan pembukaan lahan dan pembuangan sampahnya; dan (iv) apakah memanfaatkan

(30)

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

30

RANgKumAN TEmuAN

jasa kontraktor untuk membuka lahan dan bagaimana mengontrol pekerjaan mereka. Seperti disebutkan sebelumnya, perusahaan perkebunan wajib mengidentifikasi dan menghindari daerah-daerah lindung setempat yang peka lingkungan hidupnya (misalnya hutan penyangga tepi sungai dan lereng terjal dsb.) tapi dapat lebih jauh lagi mengurangi dampak negatif kumulatif di seluruh perkebunan melalui keputusan mengenai apakah akan ada wilayah untuk konservasi yang disisihkan dan dikelola secara proaktif di dalam perkebunan tersebut. Jika ada daerah yang ditentukan batasnya untuk konservasi, perusahaan harus memilih apakah akan mempertahankan wilayah tersebut dalam izin Hak Guna Usaha atau mengeluarkannya dari konsesi. Bila perusahaan mempertahankan kawasan tersebut, mereka bertanggung jawab untuk mengelola dan mempertahankan hutan di atasnya, selain harus membayar pajak tanah – langkah yang sering tidak didukung dan tidak populer dengan pemerintah daerah yang memprioritaskan pengembangan lahan yang termasuk zona pemanfaatan untuk pertanian. Jika wilayah itu dikeluarkan dari konsesi, maka perusahaan bisa melobi agar kawasan tersebut dilindungi melalui rencana tata ruang tingkat Kabupaten (RTRWK) sebagai Kawasan Lindung atau bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk menjadikannya Hutan Desa. Pada akhirnya, ini tetap berarti pemerintah daerah berhak untuk menerbitkan izin lokasi lain atas lahan itu untuk perusahaan lain.

Manfaat-manfaat bagi perusahaan dari pembuatan keputusan yang cermat mengenai pengembangan perkebunan dapat mencakup berkurangnya konflik dengan masyarakat setempat yang mungkin mengalami dampak dari praktik-praktik buruk, berkurangnya risiko hukuman dari pemerintah terkait ketidakpatuhan serta akses pasar yang lebih baik melalui sertifikasi ISPO atau RSPO. Namun demikian, keberhasilan tidak otomatis terjamin. Kebanyakan perusahaan memanfaatkan kontraktor untuk menyiapkan lahan untuk ditanami, dan pengalaman, profesionalisme serta pemahaman kontraktor akan persyaratan hukum sangat bervariasi. Ketentuan kontrak terkadang, tanpa disengaja, memberikan insentif kepada kontraktor untuk membuka lahan seluas mungkin, termasuk wilayah yang secara lingkungan peka. Hal semacam ini hendaknya dihindari. Wilayah yang disisihkan untuk konservasi juga berisiko mengalami tekanan-tekanan penyerobotan lahan atau kegiatan perburuan. Karena itu, agar berhasil, perusahaan harus menjadikan pengelolaan lingkungan hidup bagian utama dari perencanaan dan sistem operasional, dan ini akan menimbulkan biaya dan kerepotan yang cukup besar.

Pengelolaan Perkebunan: Ketika perkebunan sudah berdiri, perusahaan membuat keputusan-keputusan

pengelolaan yang tidak hanya mempengaruhi hasil-hasil agronomisnya namun juga dampak lingkungan kegiatan operasional. Keputusan-keputusan ini mencakup: (a) bagaimana hutan penyangga tepi sungai dikelola; (b) apakah tanaman penutup ditanam untuk mengurangi erosi tanah; (c) apakah digunakan pupuk organik untuk mengurangi masukan kimia; (d) bagaimana ketinggian air di lahan gambut dikelola untuk memperlambat penyusutan dan di rawa dan daerah aliran sungai dikelola untuk mengurangi terbawanya zat-zat kimia perkebunan tersebut dalam aliran air; dan apakah digunakan Praktik-Praktik Pengelolaan Terbaik (BMP) untuk meningkatkan hasil. Perlu dicatat bahwa dalam hubungannya dengan emisi GRK, undang-undang Indonesia mensyaratkan perkebunan di atas lahan gambut untuk mengurangi dampak hidrologis dan emisi GRK dengan mempertahankan ketinggian air pada 40-60 cm di bawah permukaan. Mempertahankan air di ketinggian seperti ini mahal biayanya bagi pekerja kebun, membutuhkan investasi untuk membangun sistem kanal yang kuat, dan, dalam beberapa kasus, juga akan berdampak di berkurangnya Tandan Buah Segar (FFB) akibat stres akar.

Hasil rata-rata minyak sawit mentah (CPO) di Indonesia telah stagnan sejak tahun 1970an di sekitar 3,8 ton per ha meskipun semakin banyak digunakan bahan-bahan penanaman yang lebih baik. Pada lokasi-lokasi yang baik, hasil CPO dapat ditingkatkan menjadi sedikitnya 5 ton/ha, atau meningkat sebesar 30-35% seperti didemonstrasikan di perkebunan komersil yang menggunakan Praktik Pengelolaan Terbaik (BMP) yang ada. BMP memberikan hasil pengembalian secara finansial yang besar dengan investasi yang relatif kecil. Jika semua kebun sawit yang ada dapat meningkatkan hasil CPOnya menjadi 5 ton/ha, Indonesia dapat

(31)

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan RANgKumAN TEmuAN 31 Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

RANgKumAN TEmuAN 31

GAmBAR 6. Pilihan lima keputusan utama yang dibuat perusahaan terkait perlakuan untuk Kawasan Lingkungan Hidup Peka dalam wilayah yang diberi izin untuk pengembangan perkebunan.

(32)

Sawit di Indonesia: Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan berkelanjutan

32

RANgKumAN TEmuAN

menghindari menanami sawit baru di lahan seluas 1,6 juta ha sampai tahun 2050 sambil tetap memenuhi pertumbuhan permintaan global yang diproyeksikan.

Pemrosesan tandan buah segar (FFB) sawit menghasilkan banyak hasil sampingan padat dan cair, termasuk tandan buah kosong (EFB), residu bahan buah, cangkang buah dan rembesan cair dari pabrik minyak sawit (POME). Di masa lalu, hasil sampingan ini dianggap sebagai limbah yang perlu dibuang dan membawa risiko polusi yang cukup besar. Akhir-akhir ini perusahaan perkebunan mulai menggunakan hasil sampingan untuk memroduksi pupuk-pupuk organik padat dan cair, yang ternyata dapat memperbaiki kondisi tanah, mengurangi penggunaan pupuk kimia, menciptakan lapangan kerja dan menghemat uang. Teknologi maju untuk pemrosesan buah tandan kosong (EFB) dan rembesan cair pabrik sawit (POME) bersama-sama (dibahas di bawah) menghasilkan pupuk-pupuk organik yang kaya nutrisi, menangkap biogas sebagai hasil sampingan, dan menghilangkan emisi GRK dari pengolahan limbah konvensional. Teknologi-teknologi semacam ini membutuhkan investasi modal yang signifikan namun juga membawa manfaat yang signifikan di perkebunan untuk mendorong hasil yang lebih tinggi dan memperbaiki tanah.

Operasi pabrik mencakup banyak keputusan perusahaan yang dibuat sepanjang masa hidup sebuah pabrik

minyak sawit (POM) untuk mengelola produksi CPO sambil mengurangi dampak lingkungan yang negatif. Keputusan-keputusan utama termasuk: (a) apakah ada upaya untuk mengurangi volume POME dengan meningkatkan efisiensi penggunaan air; (b) apakah dipasang pembersih CO2 guna mengurangi emisi GRK di titik sumber dari mesin boiler pabrik; (c) apakah teknologi penangkapan metana atau teknik pengomposan bersama digunakan untuk mengurangi emisi GRK dari pengolahan POME; dan (d) apakah teknologi maju yang digambarkan di atas dipasang untuk menghancurkan hasil sampingan padat dan cair secara biologis. Keputusan-keputusan mengenai operasi pabrik bisa sangat berdampak pada kesejahteraan dan kesehatan masyarakat setempat, khususnya kualitas udara dan air, serta pada persepsi pemangku kepentingan internasional yang prihatin dengan emisi GRK. Teknologi-teknologi penangkap metana, khususnya bio-digester, dapat mengurangi emisi dari pabrik minyak sawit dan menciptakan sumber energi terbarukan yang handal; perluasan penggunaan teknologi-teknologi menjadi prioritas pemerintah. Pabrik juga bisa mengurangi tapak air mereka, yang semakin menjadi sumber kekhawatiran, dengan signifikan melalui langkah-langkah efisiensi air dan dengan demikian mengurangi kompetisi dengan pengguna air setempat dan mengurangi tekanan pada ekosistem-ekosistem air.

3.3 Keputusan-keputusan yang mempengaruhi hubungan

perusahaan dengan masyarakat

Keputusan-keputusan terkait pendekatan komunikasi, bagaimana hubungan dibentuk, dan persetujuan antara perusahaan dengan masyarakat disusun, berdampak pada jumlah dan distribusi manfaat yang diperoleh masyarakat setempat (Gambar 7). Hal-hal tersebut juga menentukan nada berbagai interaksi antara perusahaan dengan masyarakat. Contoh-contoh keputusan utama yang dibuat pada saat-saat awal pembentukan hubungan perusahaan-masyarakat yang mempengaruhi hasil pembangunan mencakup: (a) ketentuan-ketentuan pembebasan lahan oleh masyarakat untuk pengembangan perkebunan, termasuk pembayaran kompensasi, rasio pembagian lahan dan kesepakatan-kesepakatan kemitraan; (b) keputusan mengenai bagaimana dan apa yang dikomunikasikan dengan masyarakat pada saat sosialisasi (peningkatan kesadaran masyarakat mengenai tujuan-tujuan pengembangan suatu perkebunan), negosiasi pembebasan lahan, serta implementasi kemitraan petani kecil; dan (c) keputusan-keputusan yang mempengaruhi bagaimana keputusan disusun dan ekspektasi dibentuk mengenai ukuran dan jadwal munculnya manfaat-manfaat dari keberadaan.

Gambar

GAmBAR 1.  Gambaran skematis kerangka hukum yang mengatur pengembangan sawit di Indonesia
GAmBAR 2.  Wilayah tematik dan pertanyaan yang dijajaki di laporan sepenuhnya. Proses-proses pengambilan  keputusan yang menentukan di mana izin perkebunan diberikan dan bagaimana perkebunan dan pabrik  dikembangkan dan dikelola menentukan manfaat dan damp
Tabel 1) Perencanaan tata ruang diikuti oleh pengambilan keputusan oleh pemerintah daerah dan perusahaan  di dalam kawasan yang termasuk dalam zona untuk pertanian untuk (a) menawarkan atau meminta
GAmBAR 3.  Gambar skema proses keputusan pada 3 tingkat skala keruangan yang menentukan di mana  sawit ditanam
+5

Referensi

Dokumen terkait

Untuk membantu penanganan longsor yang ada, kami merekomendasikan alternatif penanganan berdasarkan nilai keamanan dari program komputer (PLAXIS Version 8.2) yaitu dengan

Model BP-ANN lebih akurat dalam meramalkan yield dan harga obligasi dibandingkan dengan model ARIMA, Hal tersebut berdasarkan nilai MAPE dan RMSE yang dimiliki BP-ANN yang lebih

Penyelenggara Pelelangan Ikan adalah Pemerintah Daerah atau Pihak Ketiga yang melaksanakan penyelenggaraan pelelangan ikan di Tempat Pelelangan Ikan sesuai dengan

Kita ada acara week end @kmc, kita bikin data base pelanggan kita, data base yang kita punya kita undang untuk datang, lalu setelah itu kita melakukan. follow-up memalui

Konstanta (a) sebesar 0,1077 menunjukkan besarnya pengaruh hubungan antara Komitmen Konsumen (X1), Kepercayaan Konsumen (X2) terhadap Loyalitas konsumen pengguna merek Pond’s

Dengan tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan volume perdagangan saham terhadap harga saham Sektor Perbankan yang

Didepannya dinamakan ATRIUM, sebagai ruang jantung kedua dengan dinding lebih tebal dari sinus venosus dan mempunyai katup pada bagian depannya untuk menjaga agar

Penelitian mengenai frekuensi klaim dan besarnya klaim sebagai dasar untuk menentukan besarnya premi asuransi kendaraan bermotor serta penggunaan distribusi tweedie dengan