• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Tenaga Kerja Indonesia

Tenaga kerja Indonesia adalah setiap warga Negara Indoesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. (Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 tahun 2004).

Menurut Sedjun H Manullang (1995), Pemerintah dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja memberi izin pengiriman TKI ke luar negeri dengan pertimbangan :

a. Mengurangi jumlah pengangguran yang semakin besar dibandingkan dengan tersedianya lowongan pekerjaan di luar negeri;

b. Pengiriman TKI ke luar negeri ini pada dasarnya karena adanya permintaan dari luar negeri dan adanya pencari kerja yang berminat bekerja di luar negeri;

c. Hasil-hasil yang diperoleh dari pengiriman TKI ke luar negeri, yaitu:

- Mempererat hubungan antar negara (negara pengirim tenaga kerja dengan negara penerima;

- Mendorong terjadinya peningkatan pengalaman kerja dan alih teknologi;

- Meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya;

- Meningkatkan pendapatan di dalam neraca pembayaran Negara atau devisa.

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2004 penempatan dan perlindungan calon TKI/TKI bertujuan untuk (Edison Nainggolan, 2007) :

a. Memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi;

b. Menjamin dan melindungi calon TKI/TKI sejak di dalam negeri, di negara tujuan, sampai kembali ke tempat asal di Indonesia;

c. Meningkatkan kesejahteraan TKI dan keluarganya.

Syarat-syarat calon TKI adalah :

a. Berusia sekurang-kurangnya 18 (delapan belas) tahun kecuali bagi calon TKI yang akan dipekerjakan pada pengguna perseorangan sekurang-kurangnya berusia 21 (dua puluh satu) tahun;

b. Sehat jasmani dan rohani;

c. Tidak dalam keadaan hamil bagi calon TKI perempuan;

d. Mempunyai tingkat pendidikan dan keterampilan tertentu;

e. Terdaftar di Dinas Ketenagakerjaan di daerah tempat tinggalnya;

f. Memiliki dokumen yang dipersyaratkan.

Setiap calon TKI mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk (Edison Nainggolan, 2007):

a. Bekerja di luar negeri;

b. Memperoleh informasi yang benar mengenai pasar kerja luar negeri dan prosedur penempatan TKI di luar negeri;

c. Memperoleh pelayanan dan perlakuan yang sama dalam penempatan di luar negeri;

d. Memperoleh kebebasan menganut agama dan keyakinannya serta kesempatan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan yang dianutnya;

e. Memperoleh upah sesuai dengan standart upah yang berlaku di Negara tujuan;

f. Memperoleh hak, kesempatan, dan perlakuan yang sama dengan tenaga kerja asing lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan di negara tujuan;

g. Memperoleh jaminan perlindungan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan atas tindakan yang dapat merendahkan harkat dan martabatnya serta pelanggaran atas hak-hak yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan selama penempatan di luar negeri;

h. Memperoleh jaminan perlidungan keselamatan dan keamanan kepulangan TKI ke tempat asal;

i. Memperoleh naskah perjanjian kerja yang asli.

Setiap calon TKI mempunyai kewajiban untuk: (Edison Nainggolan, 2007)

a. Mentaati peraturan perundang-undangan baik di dalam negeri maupun di negara tujuan;

b. Mentaati dan melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan perjanjian kerja;

c. Membayar biaya pelayanan penempatan TKI di luar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

d. Memberitahukan atau melaporkan kedatangan, keberadaan dan kepulangan TKI kepada Perwakilan Republik Indonesia di negara tujuan.

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alur Pikir Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk dapat melihat hubungan antara wilayah TKI dengan faktor-faktor sosial ekonomi, dengan membandingkan peta wilayah TKI dengan peta variabel sosial ekonomi yang terdiri dari angka pengangguran terbuka, angka beban tanggungan, tingkat pendidikan, jumlah keluarga miskin, luas lahan pertanian, dan aksesibilitas.Selain itu penelitian ini juga mengkorelasikan antara variabel TKI dengan variabel sosial ekonomi. Alur pikir penelitian dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini (Gambar 3.1)

Gambar 3.1 Diagram Alur Pikir Penelitian

Tahapan penelitian ini adalah pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis data untuk mendapatkan kesimpulan hasil penelitian.

3.2 Pengumpulan data

Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder yang diperoleh dari berbagai instansi yaitu:

a. Peta Administrasi dan Jaringan jalan Kabupaten Cirebon dari Bakosurtanal

b. Peta Penggunaan Tanah Kabupaten Cirebon dari Badan Pertahanan Nasional (BPN)

c. Data Jumlah TKI Kabupaten Cirebon pada tahun 2009 yang diperoleh dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Cirebon

d. Data Jumlah keluarga miskin, jumlah penduduk menurut pendidikan, jumlah penduduk menurut kelompok umur, dan Angka pengangguran terbuka pada tahun 2009 dari Biro Pusat Statistik (BPS).

e. Data primer yaitu dengan melakukan wawancara dengan Sekertaris desa yang memiliki jumlah TKI tertinggi yaitu Desa Wanakaya, dan foto kondisi lingkungan.

3.3 Pengolahan Data 3.3.1 Peta Wilayah TKI

Dilakukan dengan melakukan input data jumlah Tenaga kerja Indonesia ke dalam data atribut .shp Kabupaten Cirebon, dan membuat klasifikasi menjadi 3 kelas berdasarkan jumlah yaitu:

Rendah : < 70 orang Sedang : 70-140 orang Tinggi : > 140 orang

3.3.2 Peta Tingkat Pendidikan Rata-rata

Dilakukan dengan menghitung indeks pendidikan berdasarkan data jumlah penduduk berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan dengan bantuan Microsoft Excel 2007, menggunakan rumus :

Dimana I: nilai indeks tingkat pendidikan Tp1: jumlah yang tidak tamat SD Tp2: jumlah yang tamat SD-SLTP Tp3: jumlah yang tamat SLTA

Tp4: jumlah yang tamat perguruan tinggi ke atas P= Tp1+Tp2+Tp3+Tp4

Setelah diperoleh nilai indeks pendidikan dari tiap kecamatan, data tersebut dimasukkan ke dalam data atribut .shp kabupaten Cirebon, dan dibuat klasifikasi menjadi 3 kelas berdasarkan nilai indeks pendidikan yang ada, yaitu:

Rendah : < 1.90 Sedang : 1.90-2 Tinggi : > 2

3.3.3 Peta Angka Beban Tanggungan

Dilakukan dengan menghitung angka beban tanggungan dengan bantuan Microsoft Excel 2007 menggunakan rumus:

Setelah diperoleh nilai angka beban tanggunggan di tiap kecamatan, data tersebut dimasukkan ke dalam data atribut .shp kabupaten Cirebon, dan dibuat klasifikasi menjadi 3 kelas berdasarkan jumlah yaitu:

Rendah : < 50 orang

3.3.4 Peta Angka Pengangguran Terbuka

Dilakukan dengan melakukan input data angka pengangguran terbuka ke dalam data atribut .shp Kabupaten Cirebon, dan membuat klasifikasi menjadi 3 kelas berdasarkan jumlah yaitu:

Rendah : < 9 % Sedang : 9-15 % Tinggi : > 15 %

3.3.5 Peta Jumlah Keluarga Miskin

Dilakukan dengan melakukan input data jumlah keluarga miskin ke dalam data atribut .shp Kabupaten Cirebon, dan membuat klasifikasi menjadi 3 kelas berdasarkan jumlah yaitu:

Rendah : < 3000 Sedang : 3000-6000 Tinggi : > 6000

3.3.6 Peta Luas Lahan Pertanian

Dilakukan dengan menghitung luas lahan pertanian yang terdiri dari sawah tadah hujan, sawah irigasi dan tegalan/ladang dari Peta penggunaan tanah Kabupaten Cirebon dengan ekstensi Geoprocessing (untuk membagi lahan pertanian berdasarkan kecamatan), Projection Utility Wizard (untuk merubah proyeksi Decimal Degree menjadi UTM), dan Xtools (untuk menghitung luas lahan pertanian pada proyeksi UTM) pada software Arcview GIS 3.3. Setelah diperoleh luas lahan pertanian dari tiap kecamatan, dihitung Proporsi lahan pertanian dengan bantuan Microsoft Excel 2007 menggunakan rumus :

Setelah diperoleh nilai proporsi lahan pertanian, dibuat klasifikasi menjadi 3 kelas berdasarkan luasan lahan pertanian yaitu:

Luas Lahan Pertanian (ha)

Proporsi Luas Lahan Pertanian = 100%

Luas Wilayah (ha) X

Rendah : < 45%

Sedang : 45-60 % Tinggi :> 60 %

3.3.7 Peta Kerapatan Jaringan Jalan

Dilakukan dengan menghitung panjang jaringan jalan Kabupaten Cirebon dengan ekstensi Geoprocessing (untuk membagi jaringan jalan berdasarkan kecamatan), Projection Utility Wizard (untuk merubah proyeksi Decimal Degree menjadi UTM) dan Xtools (untuk menghitung panjang jaringan jalan). Setelah diperoleh panjang jaringan jalan dari tiap kecamatan, dihitung Indeks Kerapatan Jaringan jalan dengan bantuan Microsoft Excel 2007 menggunakan rumus :

Setelah diperolah nilai indeks kerapatan jalan, dibuat klasifikasi menjadi 3 kelas berdasarkan nilai indeks yaitu:

Rendah : < 25 m/ha Sedang : 25-40 m/ha Tinggi : > 40 m/ha

3.4 Analisis Data

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis spasial untuk melihat Wilayah TKI di seluruh kecamatan di Kabupaten Cirebon, dan perbedaan dan persamaan kondisi sosial ekonomi secara keruangan. Analisis ini dilakukan dengan cara membandingkan peta wilayah TKI Kabupaten Cirebon dengan peta angka pengangguran terbuka Kabupaten Cirebon, peta angka beban tanggungan Kabupaten Cirebon, peta tingkat pendidikan Kabupaten Cirebon, peta jumlah keluarga miskin Kabupaten Cirebon, peta luas lahan pertanian Kabupaten Cirebon, dan peta kerapatan jaringan jalan Kabupaten Cirebon.

Untuk memperkuat analisis spasial, dilakukan juga analisis statistik untuk melihat hubungan antara variable Y (jumlah TKI) dengan

masing-Total panjang jalan(m) Indeks Kerapatan Jalan=

Luas Wilayah(ha)

masing variabel X (angka beban tanggungan, angka pengangguran terbuka, tingkat pendidikan, jumlah keluarga miskin, luas lahan pertanian dan kerapatan jaringan jalan).

Uji statistik yang digunakan adalah Pearson Product Moment yang menyatakan derajat hubungan antara dua variabel, dengan demikian maka dapat terlihat hubungan antara jumlah TKI dengan Tingkat pendidikan rata-rata, Angka Beban Tanggungan, jumlah pengangguran terbuka, jumlah keluarga miskin, luas lahan pertanian dan kerapatan jalan. Uji hipotesis dalam bentuk kalimat yaitu:

Ho : Tidak terdapat hubungan antara variabel Y dan variabel X.

Ha : Terdapat hubungan antara variabel Y dan variabel X.

Nilai r dari hasil perhitungan dengan program SPSS kemudian dibandingkan dengan nilai r tabel Pearson Product Moment sesuai jumlah sampel dan taraf signifikansi. Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah sebanyak 37, dan taraf signifikansinya 0.05 (5 %). Nilai r tabel untuk jumlah sampel sebanyak 37 dan signifikansi 5 % adalah 0.329. Jika –r tabel < r hitung <+ r tabel, maka Ho diterima, jika tidak maka Ho ditolak.

BAB 4

GAMBARAN UMUM KABUPATEN CIREBON

4.1 Administrasi Kabupaten Cirebon

Kabupaten Cirebon merupakan bagian dari wilayah Propinsi Jawa Barat yang terletak dibagian timur dan merupakan batas, sekaligus sebagai pintu gerbang Propinsi Jawa Tengah. Kabupaten ini berada pada posisi 108o40’ - 108 o 48’ Bujur Timur dan 6 o30’ – 7o 00’ Lintang Selatan, yang dibatasi oleh:

- Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Indramayu - Sebelah barat Laut berbatasan dengan wilayah Kabupaten Majalengka - Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kuningan - Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kota Cirebon dan

Kabupaten Brebes

Letak daratan Kabupaten Cirebon memanjang dari Barat Laut ke Tenggara. Dilihat dari permukaan tanah/daratannya dapat dibedakan menjadi dua bagian, pertama daerah dataran rendah umumnya (0 – 10 m dari permukaan laut) terletak di sepanjang pantai utara Kabupaten Cirebon, yaitu Kecamatan Gegesik, Kaliwedi, Kapetakan, Arjawinangun, Panguragan, Klangenan, Gunungjati, Tengahtani, Weru, Astanajapura, Pangenan, Karangsembung, Waled, Ciledug, Losari, Babakan, Gebang, Palimanan, Plumbon, Depok dan Kecamatan Pabedilan.

Sedangkan sebagian lagi termasuk pada daerah dataran tinggi (11 – 130 m dpl).

Luas wilayah Kabupaten Cirebon sebesar 990,36 km2 dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengalami pengembangan wilayah kecamatan yang cukup berarti, yaitu dari 31 kecamatan di tahun 2003 kemudian menjadi 37 kecamatan pada tahun 2005 akhirnya pada tahun 2007 Kabupaten Cirebon terbagi atas 40 wilayah kecamatan dengan jumlah desa/kelurahan yang tidak mengalami pengembangan yaitu tetap sebanyak 424 desa (diantaranya terdapat 12 kelurahan).

Berikut adalah luas wilayah untuk tiap kecamatan:

Tabel 4.1 Luas Wilayah berdasarkan kecamatan No Kecamatan Luas (ha) No Kecamatan Luas (ha) 1 Arjawinangun 2.300,971 21 Lemahabang 1.858,976 2 Astanajapura 2.082,778 22 Losari 4.635,757

3 Babakan 2.046,555 23 Mundu 3.342,727

4 Beber 2.115,225 24 Pabedilan 1.857,243 5 Ciledug 3.201,489 25 Pabuaran 906.767 6 Ciwaringin 2.529,743 26 Palimanan 3.837,233 7 Depok 1.773,394 27 Pangenan 3.583,060 8 Dukupuntang 1.935,736 28 Panguragan 1.846,934 9 Gebang 3.107,529 29 Pasaleman 4.288,458 10 Gegesik 5.952,908 30 Plered 1.328,654 11 Gempol 3.236,914 31 Plumbon 1.963,376 12 Greged 2.453,595 32 Sedong 3.529,561 13 Gunung jati 2.614,949 33 Sumber 2.034,025 14 Jamblang 1.781,882 34 Suranenggala 2.955,608 15 Kaliwedi 3.880,218 35 Susukan 6.089,258 16 Kapetakan 8.746,974 36 Susukanlebak 1.659,855 17 Karangsembung 2.756,100 37 Talun 1.849,688 18 Karangwareng 2.636,967 38 Tengahtani 1.019,397 19 Kedawung 1.337,882 39 Waled 3.971,863 20 Klangenan 2.579,438 40 Weru 1.452,333

Sumber: Pengolahan data

Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa dari 40 kecamatan yang ada, kecamatan dengan luas wilayah terbesar adalah kecamatan Kapetakan yaitu 8.746,974 ha, sedangkan yang memiliki luas wilayah terkecil adalah Kecamatan Pabuaran yaitu 906.767 ha.

4.2 Penggunaan Tanah

Dari data peta penggunaan tanah Kabupaten Cirebon dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) diketahui bahwa penggunaan tanah yang paling dominan adalah pertanian yang terdiri dari sawah irigasi, sawah tadah hujan, dan tegalan/ladang (56,7 %), diikuti kebun (18 %), pemukiman (13,96 %),badan air (5,33 %), belukar (3,16 %), lahan terbuka (1,36 %), penggaraman (0.81 %), pasir

pantai (0,38 %), hutan (0,22 %), gedung (0,04 %) dan yang paling sedikit adalah hutan rawa (0,01 %).

Penggunaan tanah yang paling dominan yaitu pertanian tersebar cukup merata dan terbanyak terdapat di bagian utara dan tenggara. Penggunaan tanah berupa perkebunan banyak terdapat di bagian tengah sampai ke tenggara.

Pemukiman banyak terdapat di bagian tengah yaitu di kecamatan-kecamatan yang berdekatan dengan Kota Cirebon.

Tabel 4.2 Luas Penggunaan Tanah

Keterangan Luas (ha) %

Hutan Rawa 17,781 0,01

Gedung 53,688 0,04

Hutan 303,976 0,22

Pasir Pantai 531,372 0,38 Penggaraman 1.135,073 0,81 Lahan terbuka 1.916,886 1,36 Belukar/Semak 4.441,491 3,16

Perairan 7.493 5,33

Pemukiman 19.638,177 13,96

Kebun 2.5321,678 18,00

Pertanian 79.787,231 56,73 Jumlah 14.0640,177 100

Sumber: Peta Penggunaan Tanah Kabupaten Cirebon BPN, 2009

4.3 Penduduk

Kabupaten Cirebon adalah salah satu di antara kabupaten–kabupaten di Propinsi Jawa Barat yang mempunyai jumlah penduduk cukup besar. Penduduk Kabupaten Cirebon pada tahun 2007 adalah sebanyak 2.107.945 jiwa dan dengan luas wilayah administratif 990,36 km2 maka rata-rata kepadatan penduduk di wilayah Kabupaten Cirebon adalah sebesar 2.128 jiwa per km2. Dari total penduduk sebanyak 2.107.945 jiwa, 1.050.195 jiwa diantaranya adalah perempuan sehingga sex rasionya adalah 100,7.

Persebaran penduduk Kabupaten Cirebon per kecamatan hingga pada tahun 2007 masih menunjukkan kondisi kurang merata seperti pada tahun-tahun

sebelumnya. Penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Sumber yaitu sebanyak 84.710 jiwa dengan sebaran/distribusi penduduknya sebesar 4,02% dan yang terkecil adalah Kecamatan Pasaleman dengan jumlah penduduk hanya 26.678 jiwa (sebaran penduduk sebesar 1,27%). Dari total jumlah 572.059 keluarga (data BKKBN), 176.858 keluarga adalah termasuk Keluarga Pra Sejahtera.

Kepadatan penduduk di masing-masing Kecamatan juga menunjukkan ketidakmerataan. Hal ini disebabkan kondisi dan potensi masing-masing wilayah kecamatan yang tidak sama. Makin padatnya penduduk cenderung di pusat kota kecamatan dan daerah perkotaan, dimana banyak terdapat kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat di perbagai bidang usaha yang dapat memberikan lapangan pekerjaan seperti perdagangan, industri, pengangkutan, pertanian, pertambangan, pemerintahan, jasa-jasa dan lain-lain berikut adalah perincian penduduk berdasarkan kecamatan.

Komposisi Penduduk menurut kelompok umur didominasi oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun) yaitu sebanyak 1.464.212 jiwa, diikuti kelompok usia belia (0-14) sebanyak 66.8105 jiwa dan yang paling sedikit adalah kelompok usia tua yaitu sebanyak 94.075 jiwa. Penduduk berdasarkan lapangan kerja didominasi oleh bidang perdagangan yaitu sebanyak 282.590 jiwa, diikuti Pertanian sebanyak 183.238 jiwa, Industri sebnayak 129.032 jiwa, Transportasi sebanyak 103.648 jiwa, Jasa sebanyak 83.897 jiwa, pertambangan sebanyak 5.251 jiwa dan keuangan sebanyak 4.768 jiwa.

Berdasarkan pendidikan terakhir yang ditamatkan, didominasi oleh penduduk yang berpendidikan tamat Sekolah Dasar (SD) atau sederajat yaitu sebanyak 579.625 jiwa, diikuti yang tidak tamat SD sebanyak 448.956 jiwa, tamat SLTP atau sederajat sebanyak 267.028 jiwa, tamat SLTA atau sederajat sebanyak 221.751 jiwa, dan yang paling sedikit adalah tamat perguruan tinggi yaitu sebanyak 40.927 jiwa Distribusi jumlah penduduk dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Per kecamatan

No Kecamatan Penduduk No Kecamatan Penduduk 1 Arjawinangun 66.630 21 Lemahabang 51.936 18 Karangwareng 28.448 38 Tengahtani 37.878

19 Kedawung 55.268 39 Waled 53.482

20 Klangenan 51.850 40 Weru 58.411

Sumber : BAPPEDA Kab. Cirebon, 2008

4.4 Jaringan Jalan

Berdasarkan Peta Jaringan Jalan yang diperoleh dari Bakosurtanal, Jaringan jalan yang ada terdiri dari 4 kelas jalan yaitu arteri, kolektor, lokal dan tol. Kelas jalan yang paling mendominasi adalah kelas jalan lokal yang memiliki panjang 86.93 % dari total panjang jalan, diikuti jalan kolektor (5.77 %), jalan arteri (5.32 %), dan jalan tol (1.98 %). Berikut adalah rincian panjang jalan untuk tiap kelas.

Tabel 4.4 Panjang Jalan Berdasarkan Kelas Jalan No Kelas Jalan Panjang (m)

1 Jalan Arteri 14.9731,537 2 Jalan Kolektor 16.2507,083 3 Jalan Lokal 2.447.468,658 4 Jalan Tol 55.603,387 Total 2.815.310,665

Sumber: Peta Jaringan Jalan Kabupaten Cirebon 2009, Bakosurtanal

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1 Wilayah TKI

Dari hasil pengolahan yang diperoleh yang data diketahui bahwa dari 40 kecamatan hanya 37 kecamatan yang tercatat sebagai daerah asal TKI. Wilayah yang tidak mempunyai penduduk yang menjadi TKI terletak pada wilayah dalam (non pesisir), yaitu kecamatan-kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kuningan. Wilayah yang tidak terdapat TKI adalah sebesar 7

% dari 40 kecamatan yang ada atau sebanyak 3 kecamatan yaitu kecamatan Beber, Sedong, dan Karangwareng. Dari 37 kecamatan yang merupakan wilayah TKI, Jumlah TKI tertinggi adalah sebanyak 216 orang yaitu di Kecamatan Gunungjati, sedangkan Jumlah TKI terendah adalah sebanyak 2 orang yaitu di Kecamatan Greged dan Kecamatan Susukan Lebak.

Berdasarkan Peta Wilayah TKI (Peta 3) yang terbagi menjadi 3 kelas yaitu renda

h (< 70 orang), sedang (70-140 orang) dan tinggi (> 140 orang), sehingga diperoleh hasil sebagai berikut:

1. Keseluruhan wilayah TKI tinggi terdapat di wilayah pesisir yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Wilayah ini terdapat 16 % dari seluruh kecamatan. Kecamatan-kecamatan tersebut yaitu Kecamatan Gebang, Gunung Jati, Kapetakan, Losari, Pangenan dan Suranenggala.

2. Wilayah TKI rendah sebagian besar terletak di wilayah non pesisr yaitu di bagian tengah yang berdekatan dengan Kota Cirebon. Wilayah ini memiliki jumlah terbanyak yaitu 72 % dari seluruh kecamatan yang ada.

Kecamatan-kecamatan tersebut yaitu Arjawinangun, Astanajapura, Ciledug, Ciwaringin, Depok, Dukupuntang, Gegesik, Greged, Jamblang, Kaliwedi, Karangsembung, Kedawung, Klangenan, Lemahabang, Mundu,

Pabuaran, Palimanan, Panguragan, Pasaleman, Plered, Sumber, Susukanlebak, Talun, Tengahtani, Waled, dan Weru.

3. Keseluruhan Wilayah TKI sedang berada di wilayah non pesisir yang tersebar di sebelah barat yang berbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Indramayu (Kecamatan Susukan dan Gempol), di bagian tengah (Kecamatan Plumbon) dan di sebelah timur yang berbatasan dengan Propinsi Jawa tengah (Kecamatan Babakan dan Pabedilan). Wilayah tersebut adalah 13% dari seluruh kecamatan.

• Wilayah TKI di Kabupaten Cirebon memiliki kecenderungan semakin menjauhi wilayah pesisir, jumlah TKI semakin rendah. Hal tersebut terlihat dari wilayah TKI tinggi terdapat di pesisir sedangkan wilayah yang tidak terdapat TKI terletak jauh dari laut (merupakan wilayah non pesisir) yang berbatasan dengan Kabupaten Kuningan. Perbandingan jumlah kecamatan berdasarkan wilayah TKI dapat dilihat dari Grafik dibawah ini (Gambar 5.1)

Gambar 5.1 Perbandingan Jumlah Kecamatan berdasarkan Wilayah TKI Sumber: Data Disnaskertrans Kab.Cirebon, 2009

5.1.2 Faktor Sosial Ekonomi

5.1.2.1 Angka Pengangguran Terbuka di Kabupaten Cirebon

Berdasarkan data angka pengangguran terbuka diketahui bahwa angka pengangguran terbuka tertinggi terdapat di Kecamatan Ciledug yaitu 17.91 % sedangkan yang terendah terdapat di Kecamatan Babakan yaitu 2.52 %.

Berdasarkan Peta Wilayah Angka Pengangguran Terbuka (Peta 4) dengan klasifikasi sebanyak 3 kelas yaitu rendah (< 9 % ), sedang (9-15 %) dan tinggi (>

15%), sehingga diperoleh hasil sebagai berikut:

1. Wilayah angka pengangguran terbuka tinggi sebagian besar berada pada wilayah non pesisir dan tersebar di bagian barat (Kecamatan Klangenan, Panguragan, Jamblang, dan Gempol), dan di bagian timur yang berbatasan dengan Propinsi Jawa tengah (Kecamatan Ciledug dan Pabuaran), dan 1 wilayah yang terletak di pesisir timur (Kecamatan Pangenan). Wilayah angka pengangguran terbuka tinggi tersebut terdapat 19 % dari seluruh kecamatan yang ada.

2. Wilayah angka pengangguran terbuka rendah hanya sebagian kecil yang terdapat di wilayah pesisir (Kecamatan Gunungjati, Kedawung, Astanajapura, Kapetakan, Gebang), sedangkan sebagian besar terdapat di wilayah non pesisir yaitu di dekat Kota Cirebon (Kecamatan Greged, Suranenggala, Tengahtani, Plered, dan Talun) , sisanya tersebar di sebelah barat yang berbatasan dengan Kabupaten Majalengka (Kecamatan Arjawinangun dan Susukan), di sebelah timur (Kecamatan Susukanlebak, Babakan, Pabedilan,) dan di sebelah selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Kuningan (Kecamatan Waled, Depok, Dukupuntang) wilayah ini terdapat 49 % dari keseluruhan.

3. Wilayah Angka pengangguran terbuka sedang tersebar di hampir seluruh kabupaten. Wilayah ini hanya sedikit yang terdapat di wilayah pesisir (Kecamatan Mundu, dan Losari) sedangkan sebagian besar terdapat di wilayah non pesisir yaitu Kecamatan Ciwaringin, Gegesik, Kaliwedi, Karangsembung, Lemahabang, Palimanan, Pasaleman, Sumber, Weru, Plumbon. Wilayah ini terdapat 32 % dari seluruh kecamatan yang ada.

• Wilayah Angka Pengangguran Terbuka tidak memiliki kecenderungan yang sama dengan wilayah TKI. Perbandingan jumlah kecamatan berdasarkan.wilayah angka pengangguran terbuka dapat dilihat di grafik di bawah ini (Gambar 5.2)

Gambar 5.2 Perbandingan Jumlah Kecamatan berdasarkan Wilayah Angka Pengangguran Terbuka

Sumber: Data Sosial Bappeda 2008

5.1.2.2 Angka Beban Tanggungan di Kabupaten Cirebon

Dari hasil pengolahan data penduduk berdasarkan kelompok umur, diperoleh data angka beban tanggungan. Diketahui bahwa angka beban tanggungan tertinggi adalah 60 yang terdapat di Kecamatan Pabedilan, sedangkan angka beban tanggungan terendah adalah 49 yang terdapat di 4 Kecamatan yaitu Kecamatan Ciwaringin, Gegesik, Gempol dan Tengah tani.

Berdasarkan Peta Wilayah Angka Beban Tanggungan (Peta 5) dan diklasifikasi menjadi 3 kelas yaitu rendah (< 50 ), sedang (50-55) dan tinggi (>

55), sehingga diperoleh hasil sebagai berikut:

1. Wilayah angka beban tanggungan tinggi sebagian besar terdapat di wilayah non pesisir yaitu terletak di sebelah barat yang berbatasan dengan Kabupaten Indramayu dan Majalengka (Kecamatan Susukan, Panguragan), di bagian tengah (Kecamatan Greged) dan di sebelah timur yang berbatasan dengan Propinsi Jawa tengah (Kecamatan Pabedilan), sedangkan hanya sebagian kecil yang terdapat di wilayah pesisir

(Kecamatan Kapetakan). Wilayah ini terdapat 14 % dari keseluruhan kecamatan.

2. Keseluruhan wilayah angka beban tanggungan rendah terdapat pada wilayah non pesisir yang tersebar di bagian tengah (Kecamatan Kedawung, Plumbon, dan Tengahtani.), di sebelah utara yang berbatasan dengan Kabupaten Indramayu (Kecamatan Gegesik), dan di sebelah barat yang berbatasan dengan Kabupaten Majalengka (Kecamatan Ciwaringin dan Gempol). Wilayah ini terdapat 16 % dari keseluruhan kecamatan.

3. Wilayah angka beban tanggungan sedang terletak memanjang dari ke arah tenggara mengikuti bentuk kabupaten Cirebon, baik di wilayah pesisir maupun non pesisir. Wilayah tersebut yaitu Kecamatan Arjawinangun, Astanajapura, Babakan, Ciledug, Depok, Dukupuntang, Gebang, Gunung Jati, Jamblang, Kaliwedi, Karangsembung, Klangenan, Lemahabang, Losari, Mundu, Pabuaran, Palimanan, Pangenan, Pasaleman, Plered, Sumber, Suranenggala, Susukanlebak, Talun, Waled dan Weru. Wilayah ini mendominasi yaitu sebanyak 70 % dari keseluruhan kecamatan.

• Wilayah Angka Beban Tanggungan tidak memiliki kecenderungan yang sama dengan wilayah TKI. Perbandingan jumlah kecamatan berdasarkan wilayah angka pengangguran terbuka dapat dilihat di grafik di bawah ini (Gambar 5.3)

Gambar 5.3 Perbandingan Jumlah Kecamatan berdasarkan Wilayah Angka Beban Tanggungan

Sumber: Data Penduduk, BPS 2008

5.1.2.3 Tingkat Pendidikan di Kabupaten Cirebon

Berdasarkan perhitungan data pendidikan terakhir yang ditamatkan, diperoleh nilai indeks pendidikan unutk tiap kecamatan. Nilai indeks pendidikan tertinggi adalah 2.24 yang terdapat di kecamatan Talun, sedangkan nilai indeks pendidikan terendah adalah 1.80 yang terdapat di Kecamatan Pabedilan.

Berdasarkan Peta Tingkat Pendidikan (Peta 6) yang diklasifikasikan menjadi 3 kelas yaitu rendah (< 1.9), sedang (1.9-2) dan tinggi (> 2), diperoleh hasil sebagai berikut:

1. Wilayah indeks pendidikan tinggi sebagian besar terletak di wilayah non pesisir yaitu bagian tengah yang berdekatan dengan Kota Cirebon (Kecamatan Kedawung,Sumber, Talun dan Weru), sebelah timur yang berbatasan langsung dengan Propinsi Jateng (Kecamatan Ciledug) dan sisanya sebagian kecil yang terletak di wilayah pesisir (Kecamatan

1. Wilayah indeks pendidikan tinggi sebagian besar terletak di wilayah non pesisir yaitu bagian tengah yang berdekatan dengan Kota Cirebon (Kecamatan Kedawung,Sumber, Talun dan Weru), sebelah timur yang berbatasan langsung dengan Propinsi Jateng (Kecamatan Ciledug) dan sisanya sebagian kecil yang terletak di wilayah pesisir (Kecamatan

Dokumen terkait