BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan penduduk yang telah masuk dalam usia kerja. Menurut BPS, penduduk yang termasuk tenaga kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun keatas. Menurut Undang-Undang No. 13 tahun 2003 Bab 1 pasal 1 ayat 2 mendefinisikan tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
Terdapat dua pengertian mengenai tenaga kerja. Pertama, tenaga kerja berarti usaha kerja atau jasa yang dapat diberikan dalam suatu proses produksi, sehingga dapat melihat kualitas usaha yang diberikan seseorang dalam kurun waktu tertentu untuk menghasilka barang atau jasa. Dan pengertian yang kedua, tenaga kerja merupakan seseorang yang mampu bekerja untuk menghasilkan barang atau jasa, mampu melakukan kegiatan yang memiliki nilai ekonomi yang bernilai dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya (Simanjuntak, 1990). Adapun tenaga kerja dibedakan menjadu dua kelompok yaitu :
13
1. Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja yang bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan.
Adapun angkatan kerja terbagi menjadi dua kelompok yaitu :
a) Bekerja adalah angkatan kerja yang melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan dan lamanya bekerja paling sedikit satu jam secara terus menerus dalam seminggu yang lalu (termasuk pekerja keluarga tanpa upah yang membantu dalam suatu usaha atau kegiatan ekonomi).
b) Pengangguran adalah mereka yang termasuk angkatan kerja tetapi tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan menurut referensi waktu tertentu.
2. Bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja yang kegiatannya tidak bekerja maupun mencari pekerjaan atau penduduk usia kerja dengan kegiatan sekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya. Bukan angkatan kerja terbagi menjadi tiga kelompok yaitu :
a) Sekolah adalah seseorang untuk bersekolah disekolah formal mulai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi selama seminggu yang lalu sebelum pencacahan, tidak termasuk yang sedang libur sekolah
b) Mengurus rumah tangga adalah kegiatan seseorang yang mengurus rumah tangga tanpa mendapakan upah, misalnya: ibu-ibu rumah tangga dan anaknya yang membantu rumah tangga
14
c) Kegiatan lainnya adalah seseorang selain sekolah dan mengurus rumah tangga, yaitu mereka yang sudah pensiun, orang yang cacat jasmani yang tidak melakukan sesuatu pekerjaan seminggu yang lalu (Nur Feriyanto, 2014)
Adapun gambar mengenai tenaga kerja sebagai berikut :
Sumber : Nur Feriyanto, 2014
Gambar 2. 1 Komposisi Penduduk dan Tenaga Kerja
15 2. Penyerapan Tenaga Kerja
Penyerapan tenaga kerja adalah jumlah dari tenaga kerja yang digunakan dalam suatu unit usaha. Tenaga kerja merupakan mereka yang telah bekerja dan terserap dalam sektor perekonomian dimana hal tersebut akan berdampak dalam menghasilkan barang dan jasa dalam jumlah besar.
Penyerapan tenaga kerja dapat diartikan adanya keseimbangan antara permintaan dan penawaran tenega kerja secara bersamaan sehingga dapat menentukan upah keseimbangan dan suatu keseimbangan tenaga kerja.
Penyerapan tenaga kerja merupakan banyaknya lapangan pekerjaan yang sudah terisi yang tercermin dari banyaknya jumlah penduduk bekerja yang terserap dan tersebar di berbagai sektor perekonomian. Terserapnya penduduk bekerja disebabkan adanya permintaan tenaga kerja. Oleh karena itu, penyerapan tenaga kerja dapat dikatakan sebagai permintaan tenaga kerja.
(Kuncoro, 2002).
3. Permintaan Tenaga Kerja
Permintaan dalam konteks ekonomi didefinisikan sebagai jumlah maksimum suatu barang atau jasa yang dikehendaki seseorang pembeli untuk dibelinya pada setiap kemungkinan harga dalam jangka waktu tertentu (Sudarsono, 1990). Dalam hubungannya dengan tenaga kerja, permintaan tenaga kerja adalah hubungan antara tingkat upah dan jumlah pekerja yang di kehendaki oleh pengusaha untuk dikerjakan. sehingga permintaan tenaga
16
kerja didefinisikan sebagai jumlah tenaga kerja yang diperkerjakan seorang pengusaha pada setiap kemungkinan tingkat upah dalam jangka waktu tertentu.
Menurut Miller & Meiners (1993), Permintaan tenaga kerja sendiri dipengaruhi oleh nilai marginal produk (Value Marginal Product, VMP), yang merupakan hasil perkalian antara produk fisik marginal (Marginal Physical Product, MPP) dengan harga pokok yang bersangkutan. Permintaan tenaga kerja dapat dilakukan dengan cara jangka panjang dan jangka pendek.
Permintaan jangka pendek menganggap bahwa tenaga kerja bersifat variabel sedangkan input lainnya dianggap tetap. Sedangkan permintaan jangka panjang menganggap bahwa semua tenaga kerja dan semua input bersifat variabel. Penentuan jumlah tenaga kerja yang diminta oleh individu perusahaan dalam jangka pendek ditentukan oleh persamaan marginal revenue product dengan marginal cost. Sementara itu keseimbangan permintaan tenaga kerja individu perusahaan dalam jangka panjang terjadi pada saat nilai marginal rate of substitution tenaga kerja dengan capital sama dengan rasio
17
Sumber : McConnell et al., 2003: 134 Gambar 2.2 Kurva Permintaan Tenaga Kerja
Gambar 2.2, kurva permintaan tersebut menjelaskan hubungan antara besarnya tingkat upah dengan jumlah tenaga kerja. Kurva permintaan tenaga kerja memiliki kemiringan (slope) yang negatif, yang artinya semakin tinggi upah yang diminta, maka semakin sedikit jumlah tenaga kerja yang diminta, dan begitupun sebaliknya. Semakin rendah tingkat upah yang diminta, maka semakin banyak jumlah tenaga kerja yang diminta (Simanjuntak 1998: 128)
4. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan nilai bersih barang dan jasa-jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai kegiatan ekonomi di suatu daerah dalam periode (Hadi Sasana, 2006). PDRB dapat menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumber daya alam yang dimilikinya. Penyusunan PDRB dapat dilakukan melalui 3 (tiga)
18
pendekatan yaitu pendekatan produksi, pengeluaran dan pendapatan yang disajikan atas dasar harga berlaku dan harga konstan (riil).
Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) baik itu atas harga berlaku maupun atas dasar harga konstan merupakan indikator penting yang digunakan untuk mengetahui kondisi perekonomian suatu daerah dalam suatu periode. PDRB merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha pada suatu daerah tertentu dan dapat juga dikatakan sebagai jumlah dari nilai barang dan jasa akhir (neto) yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi (BPS, 2013).
Produk domestik daerah merupakan semua barang dan jasa yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan ekonomi yang berlangsung di wilayah domestik, tanpa memperdulikan asal dan kepemilikan faktor produksi dari penduduk daerah tersebut ataupun tidak. Penghitungan produk domestik lebih dikenal dengan istilah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), disebut domestik karena menyangkut batas wilayah dan dinamakan bruto karena telah memasukkan komponen penyusutan dalam perhitungannya. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga berlaku pada setiap tahun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga barang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar (Noviyani, 2007). PDRB atas dasar harga berlaku digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi sedangkan PDRB atas harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ketahun.
19
Cara perhitungan PDRB dapat diperoleh melalui tiga pendekatan yaitu pendekatan produksi, pendekatan pendapatan, pendekatan pendapatan dan pendekatan pengeluaran yang selanjutnya dijelaskan sebagai berikut:
a. Pendekatan Produksi
Produk domestik regional bruto (PDRB) merupakan jumlah nilai barang maupun jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di suatu wilayah dalan jangka waktu tertentu, biasanya dalam 1 tahun.
Dalam penyajiannya unit-unit produksi dikelompokkan menjadi 17 sektor atau lapangan usaha yang meliputi: Pertanian; Pertambangan dan Penggalian; Industri Pengolahan; Pengadaan Listrik dan Gas; Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang; Konstruksi;
Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor;
Transportasi dan Pergudangan; Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; Informasi dan Komunikasi; Jasa Keuangan dan Asuransi; Real Estate; Jasa Perusahaan; Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib; Jasa Pendidikan; Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial; dan Jasa Lainnya.
b. Menurut Pendekatan Pengeluaran
Produk domestik regional bruto adalah penjumlahan dari semua komponen pernintaan akhir, yaitu:
1) Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak mencari untung
20 2) Konsumsi pemerintah
3) Pembentukan mmodal tetap domestik regional bruto 4) Perubahan stok
5) Ekspor netto
c. Menurut Pendekatan Pendapatan
Disebutkan bahwa PDRB jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi dalam suatu wilayah dan dalam jangka waktu tertentu (1 tahun). Balasa jasa faktor produksi yang dimaksud adalah berupa upah atau gaji, sewa rumah, bunga modal dan keuntungan. Semua hitungan tersebut sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak lainnya.
5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ialah suatu proses untuk memperbesar pilihan yang ada bagi manusia. Terdapat tiga indikator pada indeks pembangunan manusia yaitu lama hidup yang diukur dengan angka harapan hidup ketika lahir, pendidikan yang diukur dengan rata-rata lama sekolah, dan juga angka melek huruf. Menurut United Nations Development Program (UNDP) merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat keberhasilan manusia. Konsep pembangunan manusia yang dikembangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, menetapkan peringkat kinerja
21
pembangunan manusia pada skala 0,0 – 100,0 dengan kategori sebagai berikut :
- Sangat tinggi : IPM 80
- Tinggi : IPM antara 70 IPM < 80 - Sedang : IPM antara 60 IPM < 70 - Rendah : IPM < 60
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur sebuah pencapaian manusia yang berdasarkan sejumlah komponen dasar kualitas hidup. IPM dihitung berdasarkan data yang menggambarkan keempat komponen yakni angka harapan hidup yang mewakili bidang kesehatan; angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah mengukur capaian pembangunan di bidang pendidikan; dan kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup layak (BPS,2015).
a. Angka Harapan Hidup (AHH)
Angka Harapan Hidup dijadikan indikator dalam mengukur kesehatan suatu individu di suatu daerah. Angka Harapan Hidup (AHH) adalah rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh seseorang selama hidup. Angka ini diartikan sebagai umur yang mungkin dicapai seseorang yang lahir pada tahun tertentu. Ada dua jenis data yang digunakan dalam perhitungan Angka Harapan Hidup yaitu Anak Lahir
22
Hidup (ALH) dan Anak Masih Hidup (AMH). Sementara untuk menghitung indeks harapan hidup digunakan nilai maksimum harapan hidup sesuai standar UNDP, dimana angka tertinggi sebagai batas untuk perhitungan indeks dipakai 85 tahun dan terendah 25 tahun. Usia harapan hidup dapat panjang jika kesehatan, gizi, dan lingkungan yang baik.
b. Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan
Indikator pengeluaran perkapita digunakan untuk mengukur standar hidup manusia. Rata-rata pengeluaran yang diperoleh dari SUSENAS, dihitung dari level provinsi hingga level kab/kota. Rata-rata pengeluaran beli pada metode baru menggunakan 96 komoditas dimana 66 komoditas merupakan makanan dan sisanya komoditas non makanan.
Metode penghitungan paritas daya beli menggunakan Metode Rao.
c. Rata-rata Lama Sekolah
Rata-rata lama sekolah mengindikasikan makin tingginya pendidikan yang dicapai oleh masyarakat di suatu daerah. Semakin tinggi rata-rata lama sekolah maka semakin tinggi pula jenjang pendidikan yang dijalani. Asumsi yang berlaku secara umum bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula kualitas seseorang, baik pola pikir maupun pola tindakannya. Rata-rata lama sekolah didefinisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal.
23 d. Angka Harapan Lama Sekolah (HLS)
Indikator yang dapat dijadikan sebagai ukuran kesejahteraan sosial yang merata adalah Angka Harapan Lama Sekolah. HLS mendefinisikan lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan dapat dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Diasumsikan bahwa peluang anak tersebut akan tetap bersekolah pada umur-umur berikutnya sama dengan peluang penduduk yang bersekolah per jumlah penduduk untuk umur yang sama saat ini. Angka Harapan Lama Sekolah dihitung untuk penduduk berusia 17 tahun ke atas. HLS dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang ditunjukkan dalam bentuk lamanya pendidikan (tahun) yang diharapkan dapat tercapai oleh anak.
6. Upah Minimum
Upah Minimum Regional adalah standar terendah yang digunakan oleh para pelaku industri untuk memberikan upah/gaji terhadap para pegawai atau karyawan dalam perusahaannya. Pemerintah mengatur hal ini melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/Men/1989 tanggal 29 Mei 1989 tentang Upah Minimum. Saat ini UMR juga sering disebut dengan istilah Upah Minimum Provinsi (UMP) karena ruang lingkupnya mencakup provinsi. Selain dikenal dengan sebutan UMP, dikenal juga sebagai Upah Minimun Kabupaten/Kota (UMK).
24
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan menyebutkan bahwa upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarga atas suatu pekerjaan dan/jasa yang telah atau akan dilakukan. Sadono Sukirno (2002:353) mendefinisikan upah yaitu pembayaran yang diperoleh berbagai bentuk jasa yang disediakan dan diberikan oleh pengusaha kepada tenaga kerja. Upah ditentukan dengan melibatkan evaluasi dari kontribusi karyawan sebagai bentuk penghargaan baik langsung maupun tidak langsung sesuai dengan kemampuan dari organisasi dan peraturan hukum yang berlaku (Fopuhunda, et al, 2011).
Menurut Sumarsono (2003: 106) perubahan tingkat upah akan mempengaruhi tinggi rendahnya biaya produksi perusahaan. Gindling dan Terrell (2006) dalam penelitian yang dilakukannya mengatakan bahwa tingkat upah memiliki pengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja, dimana setiap 10 persen kenaikan upah minimum terjadi penurunan pekerja di masing masing sektor sebesar 1,09 persen. Menurut Kuncoro (2002), kenaikan upah akan mengakibatkan penurunan kuantitas tenaga kerja yang diminta. Apabila tingkat upah naik sedangkan harga input lain tetap, berarti harga tenaga kerja relatif mahal dari input lain. Situasi ini dilakukan pengusaha untuk mempertahankan keuntungan yang maksimum.
25 B. Penelitian Terdahulu
Tabel 2. 1 Peneliitian Terdahulu
No Judul Penulis
(Tahun) Hasil Persamaan Perbedaan 1 Analisis
26 No Judul Penulis
(Tahun) Hasil Persamaan Perbedaan 3. Pengaruh
27 No Judul Penulis
(Tahun)
Hasil Persamaan Perbedaan Jawa Timur Industri di Provinsi Jawa Timur.
28
No Judul Penulis
(Tahun)
Hasil Persamaan Perbedaan terhadap
29 No Judul Penulis
(Tahun) Hasil Persamaan Perbedaan 9. Analysis of
30 C. Kerangka Pemikiran
Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran
D. Keterkaitan Variabel dengan Penyerapan Tenaga Kerja
1. Hubungan PDRB dengan Penyerapan Tenaga Kerja
Menurut Mankiw (2000), Produk regional domestik bruto (PDRB) dapat dilihat sebagai perekonomian total. Pertumbuhan ekonomi memberikan kesempatan kerja baru dan memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk meningkatkan penggunaan tenaga kerja guna untuk meningkatkan faktor produksi perusahaan tersebut. Dengan demikian akan dapat mengurangi jumlah angka pengangguran jika terjadi peningkatan tenaga kerja. Hal itu didukung oleh Lincolin (1997), ketika produk domestik regional bruto meningkat maka permintaan jumlah tenaga kerja juga akan meningkat, dimana peningkatan produk domestik regional bruto berbanding dengan naiknya pertumbuhan ekonomi sehingga kemakmuran masyarakat juga bertambah. Ketika kemakmuran masyarakat bertambah akan menyebabkan Produk Domestik Regional Bruto (𝑋1)
Indeks Pembangunan Manusia (𝑋2) Upah Minimum Provinsi (𝑋3)
Penyerapan Tenaga Kerja(Y)
31
banyaknya atau tersedianya lowongan pekerjaan yang berdampak akan mengurangi angka pengangguran.
Namun hasil penelitian yang dilakukan oleh Nofandillah Arumsyah Putridan Aris Soelistyo (2018) menyatakan bahwa PDRB memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Kawasan Gerbangkertasusila tahun 2013-2016. Selain itu sejalan dengan penelitian dari Kairupan (2013) bahwa PDRB memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap kesempatan kerja di Provinsi Sulawesi Utara.
2. Hubungan IPM dengan Penyerapan Tenaga Kerja
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah alat ukur capaian pembangunan manusia. Didalam IPM terdapat beberapa komponen yaitu capaian umur panjang serta sehat dimana capaian itu mewakili di bidang kesehatan, partisipasi sekolah dan lamanya bersekolah, angka melek huruf, mewakili dalam bidang pendidikan. Dan daya konsumsi masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat sesuai pengeluaran perkapita. Dengan adanya investasi pendidikan akan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia seperti munculnya keahlian masyarakat dalam berkreasi dan berinovasi. Semakin tinggi tingkatan pendidikan masyarakat maka pengetahuan dan keahlian seseorang juga meningkat dan akan mendorong peningkatan produktifitas kerjanya. Dimana ketika produktifitas kerja bagus maka akan memperoleh tenaga kerja yang baik dan akan memperoleh hasil
32
yang lebih banyak. Dengan demikian mereka akan mendapatkan gaji yang besar ketika bisa memperoleh hasil yang banyak (Mulyadi, 2003).
3. Hubungan UMP dengan Penyerapan Tenaga Kerja
Kenaikan upah akan menyebabkan meningkatnya biaya produksi perusahaan, yang mana akan meningkatkan harga barang per unitnya.
Biasanya akan cepat memberikan respon apabila terjadi kenaikan harga pada suatu barang sehingga tingkat konsumsi akan menurun. Sehingga banyak produk yang tidak habis terjual karena berkurangnya konsumsi masyarkat dan perusahaan memaksa untuk mengurangi jumlah produksinya. Dengan adanya pengurangan jumlah produksi suatu barang maka akan membuat kebutuhan akan tenaga kerja berkurang, dari hal tersebut maka akan adanya penurunan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan akibat penurunan skala produksi.
Apabila upah naik terdapat pengusaha yang lebih memilih untuk menggunakan teknologi untuk proses produksinya dan menggantikan kebutuhan akan tenaga kerja dengan kebutuhan akan barang modal seperti mesin (Sumarsono, 2009).
Rini (2013) di dalam penelitiannya, kenaikan upah minimum akan mengakibatkan berkurangnya lapangan kerja yang juga akan berimbas pada berkurangnya jumlah penyerapan tenaga kerja. Namun menurut Kuncoro (2002), menyatakan bahwa upah memiliki hubungan yang positif terhadap penyerapan tenaga kerja karena ketika upah meningkat maka akan meningkatkan daya beli masyarakat dan akan diikuti oleh banyaknya
33
perusahaan yang masuk dalam pasar sehingga akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
E. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan teori dan hubungan antara tujuan penelitian, kerangka pemikiran terhadap rumusan masalah teoritis dan berdasarkan studi empiris yang pernah dilakukan berkaitan dengan penelitian dibidang ini, dapat disimpulkan beberapa hipotesis antara lain :
1) Terdapat pengaruh positif PDRB terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Indonesia Tahun 2015-2019
2) Terdapat pengaruh positif IPM terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di di Indonesia Tahun 2015-2019
3) Terdapat pengaruh negatif UMP terhadap terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Indonesia Tahun 2015-2019
4) Terdapat pengaruh PDRB, IPM, dan UMP secara bersama-sama terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Indonesia Tahun 2015-2019
34 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Data dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang merupakan data tahunan yang diperoleh dari tahun 2015 – 2019 yang bersumber dari Badan Pusat Statistik. Adapun definisi operasional variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) PDRB di Provinsi Studi Kasus tahun 2015 – 2019.
2) Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Studi Kasus tahun 2015 – 2019.
3) Upah Minimum Provinsi di Provinsi Studi Kasus tahun 2015 – 2019.
4) Penduduk bekerja di 10 Provinsi Studi Kasus tahun 2015 – 2019.
B. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah dengan mencari bahan materi serta teori pendukung, dan mengumpulkan data sekunder yang berasal dari instansi terkait yaitu BPS (Badan Pusat Statistik) setiap provinsi studi kasus. Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini ialah :
1) Studi pustaka
Pengumpulan data dengan studi pustaka ialah dengan mengumpulkan data yang bersumber dari buku, artikel, jurnal ilmiah, serta skripsi yang berkaitan dengan penelitian ini.
35 2) Studi Dokumentasi
Pengumpulan data dengan teknik studi dokumentasi ialah dengan mengutip sumber terkait yang berasal dari berita resmi statistik dan literature lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini.
C. Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini menggunakan data panel atau regresi model panel.
Data panel merupakan gabungan dari data silang (cross section) dan data waktu (time series). Ada beberapa keuntungan yang diperoleh jika menggunakan dara panel, yaitu model ini mampu menyediakan data yang lebih banyak sehingga akan menghasilkan degree of freedom yang lebih besar. Maka dari itu dengan data panel akan memberikan jumlah data yang semakin banyak sehingga memenuhi prasyaratan dan sifat-sifat statistik (Sriyana, 2014). Kemudian menggabungkan informasi dari data time series dan cross section dapat mengatasi masalah yang timbul jika terdapat masalah penghilangan variabel. Model regresinya dalam bentuk linear adalah sebagai berikut :
Yit = 1 it 2IPMit + 3UMPit + it
Ket :
: Konstanta
1 2 3 : Koefisien intersep
Y : Penyerapan Tenaga Kerja
X1it : PDRB
X2it : IPM
36
X3it : Upah Minimum Provinsi
i : Banyaknya individu/unit observasi t : Banyaknya waktu
D. Penentuan Estimasi Data Panel 1. Model Common Effects
Model common effect merupakan model yang paling sederhana untuk mengestimasi data panel yaitu hanya dengan mengkombinasikan data time series dan cross section. Model common effects hanya menggabungkan kedua data tanpa melihat perbedaan antar waktu dan individu sehingga dikatakan sama dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Model yang memiliki asumsi intersep dan slope selalu tetap baik antar waktu maupun antar individu. Hal ini karena dasar yang digunakan dalam regresi data panel ini yang mengabaikan pengaruh individu dan waktu pada model yang dibentuknya.
2. Model Fixed Effects
Pada model common effects mengasumsikan bahwa intersep dan juga slope sama baik antar waktu maupun individu. Namun asumsi ini memungkinkan membuat hasil regresi yang jauh berbeda dan hasil estimasi menjadi tidak valid. Adanya berbagai faktor yang tidak semuanya masuk ke dalam persamaan dan perbedaan unit observasi memungkinkan intersep yang berbeda begitu juga dengan koefisien
37
regresi atau slopenya. Maka dari itu selanjutnya terjadi pembentukan model fixed effects. Efek tetap dimaksudkan bahwa satu objek observasi
regresi atau slopenya. Maka dari itu selanjutnya terjadi pembentukan model fixed effects. Efek tetap dimaksudkan bahwa satu objek observasi