MASA DEMOKRASI PANCASILA [ORDE BARU] 1966 – 1998
TENTANG DASAR, TUJUAN, DAN ISI PENDIDIKAN SMA
Mengenai Pendidikan, Ketetapan Sidang Umum IV Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), Ketetapan Nomor XXVII/MPRS/1966 merumuskan sebagai berikut:
Dasar Pendidikan:
--- Falsafah Negara Panca Sila. Tujuan:
--- Membentuk manusia Panca Sila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki oleh Pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945. Isi Pendidikan:
(1) Mempertinggi mental-moral-budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama;
(2) Mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan; dan (3) Membina perkembangan physic yang kuat dan sehat.
Jelas bahwa perumusan Keputusan Sidang Umum IV MPRS Nomor XXVII/MPRS/1966 di atas mengenai Dasar, Tujuan dan Isi pendidikan di Indonesia harus mencakup sesuai dengan tingkatan dan bidangnya dalam pendidikan di SMA menjadi sumber pokok dalam menyusun dasar, tujuan dan isi pendidikan di SMA dan merupakan kelompok-kelompok mata pelajaran yang
mengisi pendidikan di SMA sesuai dengan perumusan Sidang Umum IV MPRS tersebut diatas; dan konsep rencana pelajaran hasil Semarang telah memenuhi syarat.
Hal-hal lain yang diambilkan dari perumusan tentang Isi pendidikan tersebut di atas ialah sebagai berikut: - mempertinggi kecerdasan dan keterampilan. Diktum ini harus tergambar dalam didaktik dan metodik dan dalam perincian kurikulum sebagai berikut:
I. Dalam didaktik/metodik harus dirumuskan adanya keseimbangan yang paling menguntungkan anak didik aantara teori dan praktek mata pelajaran, antara ilmu pengetahuan dan segi “appliednya”. Jadi harus “experience-centered” dengan menggunakan “problem solving method” untuk membangkitkan, minat, daya kreasi dan aktivitas anak didik. Takusah di jelaskan, bahwa hal ini menyangkut pertama-tama si pendidik sendiri, yang akan menjadi pelaksana utamanya.
II. Dalam perincian kurikulum harus ada wadah untuk membina “ketrampilan” itu; Wadahnya ialah: KARYA – PELAJARAN, juga dalam hal ini SEMARANG telah memenuhi syarat.
Maka perumusan mengenai pendidikan di SMA menjadi sebagai berikut: Dasar Pendidikan:
--- Falsafah Negara Pancasila.
Tujuan Pendidikan: (1) membentuk manusia Pancasila sejati berdasrkan ketentuan seperti dikehendaki oleh pembukaan dan isi UUD 1945; (2) mempersiapkan anak didik untuk memasuki perguruan tinggi dengan jalan mematangkan mental. Intelegensinya yang dilengkapi dengan dasar-dasar umum kecakapan, kejujuran dan pembinaan perkembangan pisik yang kuat dan sehat; dan (3) memberikan dasar-dasar keahlian umum kepada anak didik, sesuai dengan bakat dan minat masing-masing, dalam pelbagai lapangan, sehingga tamatannya dapat mengembang dirinya pada lembaga pendidikan lainnya dan lembaga-lembaga masyarakat, yang memerlukan SMA sebagai dasarnya.
Isi Pendidikan terdiri atas suatu kurikulum, yang dikelompokkan dan terdiri atas jenis kelompok sebagai berikut:
a. Kelompok mata pelajaran yang menitik beratan pada pembinaan-pembinaan mental-mental budi pekerti Pancasila dan memperkuat keyakinan beragama……. Kelompok pembinaan jiwa Pancasila.
b. Kelompok mata pelajaran yangmenitik beratkan pada penguasaan dasar-dasar ilmu pengetahuan beserta segi kegiatan mata pelajarannya masing-masing ……. Kelompok pembinaan pengetahuan dasar
c. Olahraga ……… dimasukkan keliompok jiwa Pancasila.
d. Pendidikan kesejahteraan keluarga da prakarya pilihan ……. Dimasukan kedalam kelompok pembinaan kecakapan khusus.
Metodik/Didaktik pendidikan: Penjelasan pendahuluan:
Untuk dapat menjalani tujuan pendidikan (membentuk manusia Pancasila sejati dan sebagainya) perlu keseimbangan pada anak didik antara segi mental moral, segi penguasaan ilmu pengetahuan dengan mental intelegensi, segi pemanfaatan apa yang diketahui itu dengan daya kreatif dan aktivitasnya dan kesehatan fisik serta daya penyesuaian sosialnya. Tanpa adanya keseimbangan dan keserasian antara kelima unsur itu, maka tujuan pendidikan belum dapat tercapai.Jalannya metodik/didktik disini bertujuan mencapai sasaran itu secara menyeluruh.
1. Unsur pembentukan mental moral Pancasila harus dimanfaatkan secara maksimal dala mengajarkan dalam setiap mata pelajaran.
2. Setiap mata pelajaran harus diberikan, yang akhirnya sampai pada pengertian melalui pembangkita minat secara maksimal, dalam ko-relasi dengan mata pelajaran.
3. Setiap mata pelajaran diberikan secara “experience-centered”, sehingga melalui pengalaman dibangkitkan minat untuk mempraktekkan apa yang dikuasai.
4. Metode (problem solving) harus dilaksanakan dalam memberikan setiap mata pelajaran.
5. Melalui olahraga yang sistematis harus ditingkatkan daya kemampuan fisik; serta cara menyeluruh perlu di perhatikan segi hygiene pendidikan.
6. Dalam menjadikan pelajaran perlu diperhatika hubungannya dengan tanah air, dunia dan masyarakat sekelilingnya, agar anak didik dapat meningkatkan mentalnya untuk menyesuaikan diri dengan keadaan alam sosialnya, tetapi juga tidak terasing dengan perkembangan dewasa ini.
Penjelasan tentang Karya Pelajaran:
Sepanjang masa umat manusia secara berkelompok atau secara perseorangan senantiasa berusaha untuk meningkatkan taraf hidupnya dengan menambah pengetahuannya, menyempurnakan cara-cara pembutan alat-alatnya dan dipakai sehari-hari, mamperbaiki keaadaan dan bentuk rumahnya, pakaiannya dan menyempurnakan gizi makanannya. Bentuk ini akhirnya tumbuh menjadi cabang-cabang dan ranting-ranting Ilmu Pengetahuan yang terpencil, terurai dan jelas bidang geraknya.
Jadi pada hakekatnya setiap ilmu pengetahuan ditujukan untuk memajukan taraf hidup manusia, untuk dimanfaatkan terhadap kemajuan dan kebahagian umat manusia secara spirituil dan materiil. SMA sebagai suatu lembaga pendidikan yang diantaranya, membina ilmu pengetahuan, wajib menyadari hal diatas sedalam-dalamnya.
Salah satu terhadap pendidikan di SMA dewasa ini ialah bahwa sifatnya masih terlalu intelektualistis dan teoritis. Menyadari akan kekurangan-kakurangan ini, dan menyadari pula hakekat tujuan setiap ilmu pengetahuan, maka salah satu jlan yang dapat di tempuh ialah secara konsekuen, wajar dan sejauh mungkin mengamalkan kerja bagi setiap mata pelajaran, yang diatur dalam kurikulum. Dengan sepenuhnya menyadari, bahwa fasilitas pendidikan di daerah-daerah dan di sekolah-sekolah itu tak sama dan pula mengahadapi berbagai kesulitan, namun
karya pelajaran harus dimulai secara sungguh-sungguh dengan tak melupakan kondisi-kondisi setempat.
Dengan demikian, kecuali menyadari hal diatas, pada anak didik akan timbul distansi antara penguasaan suatu jenis ilmu pengetahuan dan segi aplikasinya, segi pemanfaatannya, untuk penghidupan praktis.
Para pendidik harus benar-benar menyadari hal-hal ini, terlebih-lebih dewasa ini dimana yang diutamakan pendidikan tenaga kerja, jadi pendidikan kejuruan. Harus dicegah bersama suatu gejala sosial, di mana tamatan SMA akhirnya tak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi, hanya menambah pengangguran belaka. Penjelasan tentang ko-relasi pelajaran:
Dewasa ini makin di rasakan bahwa suatu ilmu pengetahuan tertentu dalam aplikasinya untuk abdikan kepada kebahagiaan umat manusia tak mungkin dapat berdiri sendiri jika ingin di capai sukses. Di perguruan tinggi setiap mata kuliah pokok di kuliahkan bersama dengan beberapa mata kuliah pembantunya jadi kalalu di nilai dari segi appliednya perlu di temukan suatu ko-relasi antara beberapa cabang ilmu pengetahuan, agar pemanfaatannya, lebih ditingkatkan. Ditingkat S.M.A pun mengajarkan ilmu hayat misalnya adakalanya menyinggung bagian-bagian dari kimia ataupun fisika, agar dapat diperoleh pengertian yang lebih dari bagian yang sedang diajarkan.
Agar dicapai sistematik yang baik dan manfaatnya terhadap pendidikan makin meningkat, maka dalam memerinci kurikulum menurut mata pelajaran di sediakan untuk ko-relasi mata pelajaran. Hal ini supaya mendapat perhatian sepenuhnya dari pengajar mata pelajaran pokok dan pula dari pengajar mata pelajaran yang ada sangkut pautnya, pada para pelajar dengan demikian dapat ditanamkan pengertian adanya secara nyata hubungan dengan mata pelajaran (ilmu pengetahuan) yang satu dengan yang lain.
Pentahapan pemberlakuan Rencana Pelajaran agar dapat dilaksanakan di tiap-tiap SMA diatur sebagai berikut:
a. Murid-murid SMA yang baru masuk tahun 1969 langsung menggunakan Rencana Pelajaran 1968.
b. Murid-murid Kelas II tahun 1969, yang sekarang duduk di Kelas I tahun 1968, akan mempergunakan Rencana Pelajaran yang disempurnakan. c. Murid-murid Kelas III tahun 1969, yang sekarang duduk di Kelas II tahun
1968, akan tetap mempergunakan Rencana Pelajaran yang lama.
d. Penggabubangan dari kelompok Sos – Bud menjadi satu, demikian juga dari kelompok Pas – Pal menjadi satu seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa daerah dalam tahun 1968 ini diizinkan, karena masih tetap mempergunakan Rencana Pelajaran lama.
e. Segala sesuatu yang mungkin timbul karena Instruksi ini akan ditampung dalam instruksi khusus.
Rencana Pelajaran SMA 1968 yang telah disetujui adalah sebagaimana yang diuraikan dalam tabel berikut ini.
RENCANA PELAJARAN SMA 1968
KELAS KELAS
KELAS SATU SASTRA-SOSIAL-BUDAYA II III ILMU PASTI-PENGETAHUAN ALAM II III
KELOMPOK PEMBINAAN JIWA PANCASILA
1. Pendidikan Agama 3 1. Pendidikan Agama 3 3 1. Pendidikan Agama 3 3
2. PKN 2 2. PKN 2 2 2. PKN 2 2
3. Bahasa Indonesia 3 3. Bahasa Indonesia 3 3 3. Bahasa Indonesia 3 3
4. Pendidikan Olah Raga 3 4. Pendidikan Olah Raga 3 3 4. Pendidikan Olah Raga 3 3
JUMLAH 11 JUMLAH 11 11 JUMLAH 11 11
KELOMPOK PEMBINAAN PENGETAHUAN DASAR
1. Sejarah 3 1. Bahsa & Kesenian Indonesia/Mengarang 4 4 1. Aljabar dan Analit 3 4
2. Geografi 2 2. Sejarah 3 3 2. Ilmu Ukur: Sudut 1 1
3. Ilmu Pasti 5 3. Geografi & Antropologi Budaya 3 3 3. Ilmu Ukur: Ruang 2 2
4. Fisika 4 4. Ekonomi & Koperasi 3 3 4. Fisika 4 4
5. Kimia 3 5. Menggambar 2 2 5. Mekanika 2 2
6. Biologi 2 6. Bahasa Inggeris 4 4 6. Kimia 4 4
7. Ekonomi & Koperasi 2 7. Ilmu Pengetahuan Alam 2 2 7. Biologi 3 3
8. Menggambar 2 Sastra-Budaya Sosial 8. Geografi 2 2
9. Bahasa Inggris 3 8. Bahasa Kawi Ilmu Pasti 2 3 9. Menggambar 2 2
9. Sejarah Kebudayaan Pengetahuan Dagang 1 2 10. Bahasa Inggeris 3 3
10. Ilmu Pasti Tata Buku 2 2
JUMLAH 26 JUMLAH 26 28 JUMLAH 26 28
KELOMPOK PEMBINAAN KECAKAPAN KHUSUS
1. PKK 2 1. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) 2 2 1. PKK 2 2
2. Prakarya Pilihan a. Bahasa b. Keterampilan 1 2 2. Prakarya Pilihan a. Bahasa b. Keterampilan 1 2 2. Prakarya Pilihan a. Bahasa b. Keterampilan 1 2
KURIKULUM 1975
PENGANTAR
Sejak tahun 1968 masyarakat dan dunia pendidikan telah mengalami perubahan-perubahan. Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan pendidikan. Kegiatan-kegiatan penilaian pendidikan secara nasional, usaha-usaha pencetakan buku-buku pelajaran, kegiatan-kegiatan pembaharuan pendidikan melalui Proyek-proyek Perintis Sekolah Pembangunan, dan berbagai usaha lainnya telah mempengaruhi arah pembinaan pendidikan secara nasional. Di samping perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat dari usaha-usaha pembaharuan pendidikan, masyarakatpun selalu berubah dalam tuntutannya terhadap dunia pindidikan. Arah dan tujuan pendidikan nasional yang digariskan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara, yang ditetapkan pada tahun 1973, mencerminkan betapa masyarakat dan negara Indonesia telah secara jelas menggariskan harapannya kepada dunia pendidikan.
Dunia dan masyarakat yang telah mengalami perubahan sejak tahun 1968 belum diperhitungkan pada saat kita menyusun kurikulum 1968. Oleh karena itu, Pemerintah, cq. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada buian Mei 1974, menyadari betapa kita harus meninjau dan mempengaruhi kurikulum yang sudah berjalan selama 6 tahun itu agar sesuai dengan perkembangan dan tuntutan baru masyarakat dan bangsa Indonesia
Kebijaksanaan tersebut telah melahirkan serangkaian kegiatan, untuk meneliti dan mengembangkan kurikulum baru yang lebih sesuai dengan tuntutan baru. Hasil kegiatan-kegiatan tersebut, yang secara bersama telah dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan – Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, telah diterima dan disetujui oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk dibakukan sebagai kurikulum SMP dan SMA tahun 1975.
Sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 008-D/U 11975 dan Nomor 008-E/U/1975 kurikulum tersebut secara bertahap akan mulai berlaku pada tahun pengajaran 1976.
Kiranya perlu disadari oleh semua pemimpin sekolah dan guru bahwa maksud utama dari pada disusunnya kurikulum ini adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.
KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR