• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH ATAS DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH ATAS DI INDONESIA"

Copied!
254
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN

KURIKULUM

SEKOLAH

MENENGAH

ATAS

DI

INDONESIA

[SUATU PERSPEKTIF HISTORIS DARI MASA KE MASA]

EDISI 1

Penulis:

DR. HERMANA SOMANTRIE, MA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PUSAT KURIKULUM

(2)

PERKEMBANGAN KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH ATAS: SUATU PERSPEKTIF HISTORIS DARI MASA KE MASA

Oleh: Dr. Hermana Somantrie, MA

© Hak Cipta (Copyright) Penulis dilindungi undang-undang. Edisi 1 Tahun 2010.

(3)

PENGANTAR PENULIS

Dr. Hermana Somantrie, MA

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Penulis telah menyelesaikan naskah buku PERKEMBANGAN KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH ATAS DI INDONESIA [Suatu Perspektif Historis Dari Masa Ke Masa]. Penulisan buku ini bertujuan untuk memberikan gambaran perkembangan kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA) dari masa ke masa sejak masa kolonial sampai dengan masa kemerdekaan.

Penulisan buku ini bertujuan untuk mengungkap kembali “the lost generation of curriculum”, yaitu generasi-generasi Kurikulum SMA yang hampir hilang dari ingatan masyarakat Indonesia masa kini. Padahal kurikulum tersebut pernah memberikan kontribusi dalam penyiapan sumber daya manusia Indonesia sesuai dengan kebutuhannya pada setiap masa yang berbeda.

Pentingnya penelusuran terhadap kurikulum yang pernah berlaku yaitu, pada dasarnya, setiap generasi kurikulum pasti memuat berbagai gagasan atau pemikiran yang brilian pada zamannya dalam rangka membentuk peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan di zaman tersebut. Pemikiran tersebut perlu dipahami oleh masyarakat secara mendalam untuk menjawab pertanyaan, mengapa kurikulum selalu berubah-ubah?

Menelusuri kembali dokumen kurikulum terutama pada masa kolonial dan masa awal kemerdekaan merupakan suatu upaya yang harus disertai dengan kesabaran, karena pada kenyataannya dokumen tersebut sudah sangat sulit ditemukan. Meskipun ada yang tersisa, namun dokumen tersebut sudah tidak lengkap lagi isinya, sehingga sulit untuk dianalisis dan ditafsirkan.

Kepada semua pihak yang memberi akses dan dukungan dalam rangka pencarian berbagai dokumen, Penulis mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga, karena atas bantuanya tersebut buku ini dapat diwujudkan. Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada Bapak Drs. Mohammad Sholeh yang telah memberikan banyak masukkan konstruktif bagi penyempurnaan draf buku ini sebelum diterbitkan secara luas.

(4)

SAMBUTAN KEPALA PUSAT KURIKULUM

Dra. Diah Harianti, M.Si.

Penulisan naskah buku sejarah perkembangan kurikulum yang dilakukan secara serial oleh beberapa penulis merupakan salah satu program kegiatan Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010. Para Penulis buku adalah para person yang memiliki kualifikasi dan pengalaman yang sangat memadai untuk menghasilkan suatu produk buku serial kurikulum ini.

Khusus mengenai naskah buku “Dinamika Perubahan Kurikulum Sekolah Menengah Atas Di Indonesia: Suatu Perspektif Historis Dari Masa Ke Masa” ini merupakan karya tulis dari Saudara Dr. Hermana Somantrie, MA., yang pada saat ini adalah sebagai Peneliti Kebijakan Pendidikan pada Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Nasional.

Buku ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumbangan untuk mengisi perbendaharaan kepustakaan pendidikan nasional khususnya di bidang kurikulum, sehingga masyarakat yang berkepentingan dapat mempelajari dan memperdalamnya bagi peningkatan mutu pendidikan. Dengan segala kelebihan dan keterbatasan jangkauan konseptual yang dimiliki oleh Penulis, buku ini merupakan karya yang sangat bernilai dan bermanfaat bagi kepentingan pemajuan dan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

Kami mengucapkan terima kasih kepada para Penulis yang telah dengan ikhlas dan tulus menyumbangkan tenaga, pikiran, waktu untuk mewujudkan produk-produk buku serial perkembangan kurikulum yang terdiri atas:

1. Sejarah Perkembangan Pusat Kurikulum: Prof. Dr. Soediyarto, MA 2. Sejarah Perkembangan Kurikulum PAUD: Dr. Herlina

3. Sejarah Perkembangan Kurikulum SD: Dr. S. Bellen

4. Sejarah Perkembangan Kurikulum SMP: Prof. Dr. S. Hamid Hasan, MA 5. Sejarah Perkembangan Kurikulum SMA: Dr. Hermana Somantrie, MA 6. Sejarah Perkembangan Kurikulum SMK: Ir. Bagiono / Karyana

7. Sejarah Perkembangan Kurikulum PLB: Prof. Dr. Sunardi

Penulisan seluruh seri buku tersebut dikoordinasikan oleh Pusat Kurikulum yang sekaligus sebagai penyandang dana dengan berdasarkan pada mata anggaran kegiatan tahun 2010.

(5)

DAFTAR ISI

PENGANTAR iii SAMBUTAN iv DAFTAR ISI v 1. PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Permasalahan 4

Metodologi Pengumpulan Informasi 6

Konteks Sejarah Nasional Indonesia Sebagai Prolog Pengungkapan Sejarah Kurikulum

7 Pergantian Nomenklatur SMA Dari Masa Ke Masa 9

Nomenklatur SMA Yang Pernah Berlaku 9

SMAN 3 Yogyakarta 9

SMAN 3 Bandung 10

Harapan 10

2. PEMIKIRAN KI-HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN 14

Prolog 14

Ki-hajar Dewantara: Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran 15

Hal Pendidikan 15

Dasar-dasar Pendidikan 21

Syarat-syarat dan Alat-alat Pendidikan 26

Ki-hajar Dewantara: Differensiasi Sekolah Menengah Umum Atas 29

Internalisasi Pemikiran Ki-hajar Dewantara 32

3. THE EMPIRE STATE OF CURRICULUM 34

Kerangka Berpikir 34

Hakikat Kurikulum 35

Hakikat Pembelajaran 38

Hakikat Penilaian 40

Ketidak-harmonisan Inter-relasi dalam Praktik 43 4. GAMBARAN SEKOLAH MENENGAH ATAS PADA ABAD KE-21 48

Karakteristik SMA sebagai Pendidikan Umum 48

Tujuan dan Fungsi 49

Fungsi 49

Tujuan 49

Karakteristik Remaja sebagai Peserta Didik SMA 50

Tuntutan Pengembangan Potensi Diri Remaja 51

(6)

5. KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH ATAS PADA ZAMAN KOLONIAL

58

Masa Penjajahan Belanda 58

Prolog 58

Kurikulum 60

Masa Penjajahan Jepang 62

Prolog 62

Dokrin Pendidikan 63

Kurikulum 64

6. KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH ATAS PADA ZAMAN KEMERDEKAAN

65

Masa Perang Kemerdekaan 1945 – 1950 65

Prolog 65

Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran Tahun 1950 68

Kurikulum 69

Masa Demokrasi Liberal 1950 – 1959 69

Prolog 69

Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran Tahun 1954 70

Kurikulum 72

Masa Demokrasi Terpimpin [Orde Lama] 1959 – 1965 72

Prolog 72

Konsepsi Pendidikan Sapta Usaha Tama dan Pancawardhana 73

Kurikulum 1964 75

Masa Demokrasi Pancasila [Orde Baru] 1966 – 1998 82

Prolog 82

Kurikulum 1968 83

Kurikulum 1975 94

Kurikulum 1984 103

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 1989 130

Kurikulum 1994 131

Masa Demokrasi Partisipatori [Reformasi] 1999 – sekarang 155

Prolog 155

Kurikulum 1994 Yang Disempurnakan/Disesuaikan Tahun 1999 156

Kurikulum Berbasis Kompetensi 158

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 186

Kurikulum 2006 187

7. PENUTUP 200

Profil Kurikulum Yang Pernah Berlaku 200

Epilog 202

(7)

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Dinamika Kurikulum. Perlukah kurikulum selalu berubah? Pada kenyataannya,

kurikulum di Indonesia selalu berubah-ubah ---dalam arti “disempurnakan”--- secara terus menerus (continuous improvement) untuk mengakomodasi berbagai perkembangan dan tuntutan yang dianggap penting dan baru pada zamannya. Hal itu sesuai dengan salah satu prinsip kurikulum bahwa suatu kurikulum harus selalu bersifat dinamis dan fleksibel, sehingga siap untuk disempurnakan kapan saja sesuai dengan kebutuhannya. Agar kurikulum memenuhi aspirasi seluruh komponen masyarakat, maka setiap perubahan kurikulum harus selalu dilakukan secara terencana, sistemik, dan sistematik.

Perubahan kurikulum bukan hanya terjadi di Indonesia, di negara-negara lain pun kurikulum selalu berubah sesuai dengan kebutuhannya. Meskipun demikian, perubahan kurikulum di berbagai negara dipandang sebagai sesuatu hal yang biasa dan wajar terjadi. Namun berbeda dengan yang terjadi di negara lain, perubahan kurikulum di Indonesia masih dipandang oleh masyarakat sebagai sesuatu yang aneh dan negatif, sehingga muncul pemeo “ganti pejabat, ganti kurikulum”. Seharusnya pandangan semacam ini juga harus melihat pada sisi lainnya bahwa perubahan kurikulum tidak akan pernah bisa berhenti atau akan selalu terjadi sesuai dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya.

Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan kurikulum di Indonesia sudah sering kali terjadi dalam setiap periode tertentu, sejak zaman kolonial sampai dengan zaman proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Dari hasil analisis terhadap fakta perubahan kurikulum selama ini juga menunjukan bahwa perubahan kurikulum merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari konstelasi politik, sosial, dan budaya bangsa Indonesia yang selalu berkembang dari satu masa ke masa berikutnya.

(8)

Kurikulum Sebagai Komponen Pendidikan. Kurikulum memiliki arti yang

sangat penting dan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan. Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa kurikulum merupakan salah satu komponen utama pendidikan, yang memiliki hubungan sangat erat dan saling mempengaruhi secara signifikan dalam rangkaian antara teoritis dan empiris atau praksis.

Hubungan kedua hal tersebut, secara teoritis dan empiris, misalnya tampak apabila terjadi suatu reformasi pendidikan (education reform) yang biasanya dimulai: pertama, bisa dari perubahan sistem pendidikan terlebih dahlu yang kemudian menstimulir terjadinya perubahan kurikulum (curriculum reform); dan kedua, juga bisa dari perubahan kurikulum terlebih dahulu yang kemudian menstimulir terjadinya perubahan sistem pendidikan.

Secara praksis, dalam setiap penyelenggaraan pendidikan akan selalu diperlukan komponen kurikulum yang memuat tentang rencana mengenai tujuan pengajaran, apa yang akan diajarkan, cara mengorganisasikan pengalaman belajar, dan cara mengukur keberhasilan dan/atau pencapaiannya.

Hakikat Kurikulum. Kurikulum sebagaimana yang dijelaskan dalam teori klasik

kurikulum Ralph W. Tyler (1949) yaitu bahwa kurikulum harus memuat 4 pertanyaan fundamental yang perlu dijawab oleh para pengembang program pendidikan sebagai berikut:

1. What educational purposes should the school seek to attain? ---tujuan pendidikan apa yang harus dicapai oleh sekolah?

2. What educational experiences can be provided that are likely to attain these purposes? ---pengalaman belajar apa yang dapat disediakan untuk mencapai tujuan pendidikan?

3. How can these educational experiences be effectively organized? ---bagaimana pengalaman belajar dapat diorganisasikan secara efektif?

4. How can we determine whether these purposes are being attained? ---bagaimana kita dapat menentukan apakah tujuan pendidikan sedang dan/atau sudah dicapai?

(9)

Jawaban terhadap semua pertanyaan fundamental tersebut dituangkan ke dalam suatu bentuk program pendidikan operasional yang dinamakan dengan “kurikulum”, yang memuat tujuan pendidikan yang seharusnya dicapai oleh sekolah, pengalaman belajar apa untuk melengkapi pencapaian tujuan pendidikan, dan bagaimana pengalaman belajar tersebut diorganisasikan, dan bagaimana menentukan pencapaian tujuan pendidikan.

Hubungan Kurikulum dan Pembelajaran. Rencana yang dimuat dalam

kurikulum hanya dapat tercapai apabila dioperasionalkan melalui kegiatan sebagaimana adanya (curriculum as it is), yaitu proses pembelajaran. Artinya bahwa kurikulum dan pembelajaran mempunyai hubungan yang sangat erat. Dalam hal ini, hubungan antara kurikulum dan pembelajaran apabila dianalogikan dengan bulatan dan permukaan dua sisi uang koin akan selalu sama seperti divisualkan dalam ilustrasi berikut ini.

Secara implementatif, kurikulum dan pembelajaran harus selalu sinkron dan harmonis serta saling mengisi kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Kurikulum harus dapat memberikan arahan yang jelas bagi pelaksanaan pembelajaran, dan sebaliknya pembelajaran harus menjabarkan secara operasional seluruh tuntutan yang dimuat dalam kurikulum.

(10)

Kurikulum dan Teori Pareto. Dalam teori 80-20 atau disebut dengan Pareto's

Principle or the 80–20 Rule ---Teori Pareto atau Hukum 80–20, yang dikembangkan oleh Pareto (1971), dinyatakan bahwa keberhasilan Y (= 80%) ditentukan oleh dan/atau datang dari faktor X (=20%). Selanjutnya, Pareto dalam rangka menjelaskan teori 80%-20% membuat analogi bahwa 80% of your behavior comes from 20% of your mind ---80% perilaku anda berasal dari 20% pikiran anda; Analogi lainnya dari Pareto yaitu bahwa in 1906 that 80% of the land in Italy was owned by 20% of the population ---dalam tahun 1906 bahwa sebagian besar tanah di Italia dimiliki oleh 20% penduduk. Dari analogi Pareto tersebut mengandung makna bahwa meskipun 20% hanya merupakan porsi yang sangat sedikit, tetapi ternyata mampu menggerakkan atau menguasai porsi 80% yang sangat banyak.

Apabila Pareto's Principle or the 80–20 Rule dihubungkan dengan kurikulum, secara prinsip dapat dijelaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan suatu kurikulum di lapangan (80%) akan ditentukan oleh dan/atau berasal dari (20%) kebijakan kurikulum. Dalam arti bahwa meskipun kebijakan kurikulum hanya memiliki porsi 20%, namun kebijakan tersebut harus mampu untuk menggerakkan dan memberikan pengaruh yang kuat terhadap pelaksanaan kurikulum yang memiliki porsi 80%.

Tujuan Penulisan Buku. Sampai saat sekarang ini setelah 65 tahun proklamasi

kemerdekaan, di Indonesia belum pernah ditemukan adanya referensi yang memuat kronologi sejarah Kurikulum SMA secara khusus dan lengkap. Sudah barang tentu, dengan adanya buku sejarah Kurikulum SMA ini akan menjadi referensi sangat penting yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi penelaahan akademik dan empirik dalam khasanah pendidikan di Indonesia.

Dengan berdasarkan pada fakta itu dan kepentingan yang lebih luas bagi generasi Indonesia yang akan datang, Pusat Kurikulum memandang perlu untuk melakukan penelusuran sejarah (historical tracking) mengenai kurikulum yang pernah berlaku di SMA sejak awal pendirian satuan pendidikan tersebut pada zaman penjajahan Belanda sampai dengan masa kini. Hasil penelusuran ini diwujudkan

(11)

menjadi sebuah buku yang berjudul “Dinamika Perubahan Kurikulum Sekolah

Menengah Atas Di Indonesia: Suatu Analisis Historis Dari Masa Ke Masa”.

PERMASALAHAN

Keterbatasan Referensi. Dalam penulisan buku yang bersifat perspektif historis

selalu dihadapkan pada permasalahan kelangkaan dokumen atau arsip utama sebagai primary sources. Begitu pula dalam penulisan buku sejarah kurikulum ini, arsip kurikulum sebagai sumber utama yang pernah berlaku pada masa-masa tertentu sudah sangat sulit ditemukan keberadaannya. Mungkin terlalu ekstrim apabila dikatakan tidak ada arsip kurikulum sama sekali, padahal kurikulum di Indonesia telah mengalami perjalanan sejarah yang sangat panjang. Demikian pula, dalam berbagai referensi sejarah pendidikan di Indonesia hanya sedikit yang mendeskripsikan perihal kurikulum terutama yang digunakan pada masa penjajahan Belanda, Jepang, dan masa perang kemerdekaan.

Penyebab Hilangnya Sumber Acuan Utama. Mengapa sulit menemukan

dokumen kurikulum masa lalu yang akan dijadikan sebagai acuan utama dalam penulisan sejarah kurikulum di Indonesia? Sehubungan dengan itu menurut Kurasawa (2001) bahwa so far, education has been one of the least clear fields of historical study on Japanese occupation in Java, since no detailed information has been available. This is mainly because Japanese military authorities deliberately burned most of the important documents at the time of their surrender (August 1945), and as a result, few records survived ---sejauh ini, pendidikan telah menjadi salah satu bidang yang kurang jelas dari studi historis selama pendudukan Jepang di Jawa, karena tiada informasi rinci yang tersedia. Hal itu utamanya pada waktu pemerintahan Militer Jepang menyerah kepada Tentara Sekutu (Agustus 1945) telah membakar dengan sengaja hampir sebagian besar dokumen, dan sebagai hasilnya, hanya sedikit dokumen yang tersisa.

Jenis Sumber Acuan Utama Yang Hilang. Berkaitan dengan dokumen

pendidikan yang masih misteri, Kurasawa (2001) mengatakan bahwa even the basic information on the educational administrative structure, reorganization of

(12)

schools, the curriculum, the language adopted as the medium of instruction, the extent Japanese language was taught and the number of Japanese teachers sent to Java, remained a mystery ---bahkan informasi dasar mengenai struktur administrasi pendidikan, reorganisasi sekolah, kurikulum, bahasa yang diadopsi sebagai pengantar pembelajaran, tingkat penggunaan bahasa jepang yang diajarkan, dan jumlah guru Jepang yang dikirim ke Jawa, semuanya masih misteri.

Upaya Memenuhi Kelangkaan Sumber Acuan Utama. Apa yang dapat

dilakukan agar penulisan sejarah kurikulum pada masa tertentu dapat tetap berlangsung? Menurut Kurasawa selanjutnya yaitu all we could consult, so far, were contemporary newspaper, journals, almanacs which were published under strict sensorship and such materials as the remaining textbooks, credit certificates, and diplomas which were privately owned by the former pupils and teachers ---semua hal yang dapat diacu, sejauh ini, adalah surat kabar kontemporer, jurnal, almanak yang diterbitkan di bawah sensor yang ketat dan bahan-bahan tersisa seperti buka pelajaran, sertifikat penghargaan, ijazah yang dimiliki secara pribadi oleh bekas murid dan guru.

Namun diduga bahwa dokumen penting termasuk mengenai pendidikan yang dibakar oleh Jepang bukan hanya dokumen yang dikeluarkan oleh Pemerintah Jepang, tetapi juga banyak dokumen yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda. Hal itu didukung dengan ketiadaan dan/atau tidak ditemukannya sama sekali dokumen kurikulum yang pernah berlaku di beberapa SMA yang pernah mengalami pergantian beberapa zaman.

Akibat Dari Kelangkaan Sumber Acuan Utama. Kelangkaan sumber acuan

utama dalam penulisan sebuah buku historis kurikulum akan mengalami fragmen atau penggalan historis (historical fragmentation) dalam penuangan informasi kesejarahan kurikulum pada zaman tertentu. Fragmentasi dalam penulisan buku yang bersifat kesejarahan sering kali terjadi sebagaimana yang dinyatakan oleh Kurasawa (1991) bahwa historical study had to be made on the basis of those fragmental sources ---studi historis harus dibuat dengan dasar sumber-sumber yang terpenggal atau terputus.

(13)

Sangat disadari bahwa dalam penulisan buku ini pun akan terjadi celah-celah ketidak-sinambungan informasi kesejarahan kurikulum sebagai akibat dari kelangkaan sumber acuan utama yang memuat informasi kurikulum yang pernah berlaku pada masa-masa tertentu.

METODOLOGI PENGUMPULAN INFORMASI

Metode Triangulasi. Penulisan sebuah buku yang bersifat kesejarahan perlu

menggunakan metodologi triangulasi informasi untuk meminimalisir segi kekurangan atau kesalahan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber informasi tersebut. Dengan penggunaan metode triangulasi informasi tersebut, naskah buku ini telah melalui prosedur dan proses kajian yang didasarkan pada logika dan argumentasi baik secara teoritik-akademik maupun secara praktik-empirik. Dalam rangka penulisan buku ini, triangulasi mencakup: (1) telaah pustaka dan dokumen, (2) visitasi, dan (3) validasi dan konsultasi. Lebih jelasnya, ketiga hal tersebut diuraikan masing-masing di bawah ini.

Telaah Pustaka dan Dokumen. Kajian ini mencakup kegiatan untuk membaca

dan menginterpretasi termasuk merekonstruksi informasi yang diperoleh dari berbagai sumber utama atau primary sources seperti kepustakaan, peraturan perundang-undangan, dan dokumen lainnya yang dikeluarkan oleh pemerintah dan pihak-pihak lainnya sesuai dengan masanya. Kajian ini dimaksudkan untuk menggali data/informasi yang selengkap-lengkapnya berkaitan dengan sistem pendidikan dan kurikulum yang berlaku pada zaman tertentu dan pemikiran pendidikan nasional sebagai awal sejarah pembangunan sistem pendidikan nasional Indonesia.

Visitasi. Visitasi ini mencakup kegiatan untuk mendapatkan data/informasi dari

beberapa pihak terkait yang memiliki informasi mengenai kurikulum dan sekolah yang mengalami dinamika perubahan kurikulum sepanjang masa, baik pada zaman pra kemerdekaan maupun pada zaman pasca kemerdekaan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia merupakan salah satu pihak yang divisitasi, karena

(14)

diduga banyak menyimpan berbagai dokumen yang diperlukan terkait dengan informasi kurikulum.

Validasi dan Konsultasi. Untuk mendapatkan masukan mengenai substansi dan

redaksional buku ini dilakukan validasi dan konsultasi kepada para ahli dan praktisi yang terkait dalam bidang pendidikan, kurikulum, dan kebahasaan yang dilengkapi dengan diskusi fokus. Kegiatan ini dilakukan lebih dari satu kali untuk menjaga konsistensi informasi yang akan dimuat dalam buku ini.

KONTEKS SEJARAH NASIONAL INDONESIA SEBAGAI

PROLOG PENGUNGKAPAN SEJARAH KURIKULUM

Pentingnya Konteks Historis. Penulisan sejarah kurikulum di suatu negara

termasuk Indonesia tidak akan terlepas dari konteks sejarah nasionalnya. Pemberlakuan suatu kurikulum di suatu zaman tertentu sudah pasti akan selalu terkait dengan kebijakan, situasi, dan kondisi nasional Indonesia pada zaman tersebut. Berkaitan dengan pentingnya sejarah nasional Indonesia menjadi konteks latar belakang historis kurikulum, Jasin (1987) menyatakan bahwa pembaharuan kurikulum hanya dapat dipahami lebih baik apabila konteks historis dari pembaharuan itu diketahui.

Hubungan Konteks Historis Dan Kurikulum. Menghubungkan keterkaitan

konteks antara sejarah kurikulum dan sejarah nasional Indonesia merupakan sesuatu hal yang sangat signifikan, masuk akal, dan perlu. Hal itu juga didasarkan pada pertimbangan bahwa kelahiran suatu kurikulum pada masa tertentu tidak terlepas dari konstelasi negara, politik, sosial, dan budaya pada masa tersebut. Rangkuman secara singkat Sejarah Nasional Indonesia disajikan dalam tabel di bawah ini.

SEJARAH NASIONAL INDONESIA

MASA KEJAYAAN NUSANTARA [Pra

1509]

MASA KOLONIAL

[1509-1945] INDONESIA [Pasca MASA REPUBLIK 1945]

(15)

ƒ Pra-sejarah ƒ Kerajaan Hindu-Buddha ƒ Kerajaan Islam ƒ Era Portugis (1509-1602) ƒ Era VOC (1602-1800) ƒ Era Belanda (1800-1810) ƒ Era Inggris (1811-1816) ƒ Era Belanda (1817-1942) ƒ Era Jepang (1942-1945) ƒ Proklamasi (17 Agustus 1945) ƒ Masa Perang Kemerdekaan (1945-1949) ƒ Masa Liberal (1950-1959) ƒ Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966)

ƒ Masa Orde Baru (1966-1998) ƒ Masa Reformasi

(1998-sekarang) Sumber: Kartodirdjo, dkk. (1975-a).

Berdasarkan fakta historis yang dimuat dalam buku Sejarah Nasional Indonesia (Kartodirdjo, dkk., 1975-a) diungkapkan bahwa pendidikan formal setingkat SMA baru mulai diselenggarakan oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada awal abad ke-20 atau awal tahun 1900-an, khusus hanya bagi anak-anak yang berkebangsaan Eropa, Cina, dan kaum bangsawan pribumi.

Dengan demikian, sesuai dengan yang diungkapkan oleh Kartodirdjo dkk., penulisan sejarah Kurikulum SMA hanya mencakup dua zaman, yaitu: (1) zaman kolonial Belanda dan Jepang; dan (2) Zaman Republik Indonesia sampai kini.

PERGANTIAN NOMENKLATUR SMA DARI MASA KE

MASA

NOMENKLATUR SMA YANG PERNAH

BERLAKU

Nomenklatur Persekolahan. Sistem persekolahan (schooling system) di

Indonesia selalu berganti sesuai dengan kebijakan pendidikan yang berlaku pada zamannya dan tuntutan perkembangan masyarakat pada saat itu. Khusus, untuk SMA telah berganti nomeklatur sebagaimana disajikan dalam tabel di bawah ini.

(16)

ZAMAN NOMENKLATUR

Kolonial Belanda Algemene Middlebare School (AMS) Kolonial Jepang Sekolah Menengah Tinggi

Sekolah Menengah Umum Atas (SMUA) Sekolah Menengah Atas (SMA)

Sekolah Menengah Umum (SMU) Republik Indonesia

Sekolah Menengah Atas (SMA)

Di berbagai kota di Indonesia terdapat beberapa SMA yang mengalami sejarah yang panjang terkait dengan pergantian nomenklatur dari masa ke masa. Pergantian tersebut terjadi, baik zaman kolonial maupun zaman pasca kemerdekaan, yang sudah berlangsung hampir selama satu abad lamanya. Meskipun jumlah SMA yang mengalami hal tersebut jumlahnya tidak banyak, namun sejarah telah membuktikan bahwa banyak lulusan SMA pada zaman kolonial telah menjadi tokoh perjuangan bangsa dan perintis kemerdekaan (Kartodirdjo, dkk., 1975-b).

SMA Yang Pernah Mengalami Pergantian Nomenklatur. Dengan tidak

bermaksud mengenyampingkan peran dari sekian banyak SMA yang tersebar di berbagai daerah lainnya dan juga sama-sama memiliki sejarah panjang, SMA yang dijadikan sebagai kasus dalam penulisan buku ini dilakukan dengan teknik random purposif (purposive random technique). Bahwa hasil dari pemilihan tersebut terdapat ada kesamaan dalam hal tertentu, semua itu terjadi hanya secara kebetulan saja (by chance).

Hasil pemilihan dari sekian banyak SMA telah terpilih dua sekolah, yakni SMA 3 Yogyakarta yang berlokasi di Kota Yogyakarta Provinsi DI Yogyakarta dan SMA 3 Bandung yang berlokasi di Kota Bandung Provinsi jawa Barat, sebagai sekolah kasus yang telah mengalami pergantian nomenklatur dari masa ke masa.

SMA 3 YOGYAKARTA

SMA 3 Yogyakarta yang oleh para alumninya disebut dengan nama “SMA PADMANABA” secara historis mengalami suatu perjalanan panjang sejak

(17)

didirikan pertama kali oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1918. Dalam buku “55 TAHUN (1942–1997) SMA 3 YOGYAKARTA” diuraikan bahwa nama PADMANABA (Bahasa Sanskerta), yang juga sekaligus merupakan logo SMA 3 Yogyakarta, memiliki arti sebagai “teratai merah”.

Selain itu, penggunaan nama PADMANABA mengandung kisah perjuangan para pelajar sekolah ini yang gugur menyemburkan darah merah dan mewarnai persada bumi pertiwi dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Yogyakarta. Ini menjadi bukti keikhlasan mereka yang mengabdikan dirinya bagi martabat bangsa. Atas dasar itu, Pemerintah Yogyakarta mengabadikan nama-nama para pejuang pelajar tersebut menjadi nama-nama jalan di kawasan Kotabaru - Kota Yogyakarta yang menjadi lokasi dari SMA 3 Yogyakarta.

Pergantian nomenklatur yang dialami oleh SMA 3 Yogyakarta sebagaimana yang dimuat dalam dokumen sekolah yang bersangkutan disajikan dalam ilustrasi berikut ini.

TAHUN NOMENKLATUR

1918 Algemene Middlebare School (AMS) Afdeling B 1942 Sekolah Menengah Tinggi Bagian B

1948 SMUA Bagian B 1956 SMA III B

1964 SMA Negeri 3 Yogyakarta 1994 SMU Negeri 3 Yogyakarta 2004 SMA Negeri 3 Yogyakarta

Menurut keterangan Kepala SMA 3 Yogyakarta, gedung sekolah sempat dijadikan sebagai Markas Tentara Pelajar ketika melakukan perlawanan terhadap Jepang dan pada masa perang kemerdekaan [Wawancara, Oktober 2010].

Total usia SMA 3 Yogyakarta sejak didirikan pada tahun 1918 sampai dengan sekarang tahun 2010 yaitu 92 tahun dengan bangunan fisik gedung yang tampak kokoh. Beberapa buku referensi yang disimpan dengan baik sejak berdirinya sekolah tersebut sampai dengan sekarang ini merupakan bukti nyata lainnya bahwa sekolah ini telah berusia panjang. Beberapa buku referensi yang dimaksud adalah sebagai berikut:

(18)

• Dr. C. Remigus Presening. (1898). Anleitung zur Quantitativen Chemischen Analyse.

• Dr. Carl Schnabel. (1901). Handbuch der Metallhuttenkunde.

• Prof. Dr. C.C. Berg. (1938). Greschiedenis van Nederlandsch Indie. Deel II. • Dr. F.W. Staffel. (1939). Greschiedenis van Nederlandsch Indie. Deel III. • Charles Kendall Adams. (1896). Johnson’s Universal Cyclopedia.

• Prof. P.J. Veth. (1912). Java: Geographisch, Ethnologisch, Historisch. • E.S. De Klerck. (1908). De Java-Oorlog 1825-1830.

• Henry Thomas Buckle. (1913). History of Civilization in England.

• Capt. Frank Hurley. (1924). Pearls and Savages: Adventures in the Air, on Land, and Sea in New Guinea.

Sampai sekarang ini, SMA 3 Yogyakarta merupakan sekolah favorit dan memiliki kharisma pendidikan yang sangat baik dan tinggi terutama bagi masyarakat Kota Yogyakarta.

SMA 3 BANDUNG

Dalam buku “Dokumentasi Bangunan Kolonial Kota Bandung” yang dikeluarkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat tahun 2001, bangunan atau gedung SMA 3 Bandung yang didirikan oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1916 telah dicatat sebagai gedung bersejarah Kota Bandung yang tidak boleh dirubah bentuknya dan/atau dijaga keasliannya.

Secara historis, gedung SMA 3 Bandung yang berlokasi di Jl. Belitung – Kota Bandung telah mengalami berbagai perubahan bukan saja nomenklatur tetapi juga fungsi bangunan terutama pada zaman Jepang, yaitu dijadikan sebagai Markas Bala Tentara Jepang. Pergantian nomenklatur dan fungsi yang dialami oleh SMA 3 Bandung sebagaimana yang dimuat dalam buku Dokumentasi Bangunan

(19)

Kolonial Kota Bandung dan dokumen sekolah yang bersangkutan disajikan dalam ilustrasi berikut ini.

TAHUN NOMENKLATUR

1916 – 1942 Hoogere Burgerschool (HBS) & Algemene Middlebare School (AMS) Afdeling B 1942 – 1945 Sekolah Menengah Tinggi Bagian B

SMUA Bagian A, B, C terdiri atas: • SMUA 1 Bagian A [pagi hari]

• SMUA 2 & 3 Bagian B [pagi & siang hari] 1945 – 1961

• SMUA 4 Bagian C [siang hari] 1961 SMA 4 Bandung pindah ke Jl. Gardujati 1966 SMA 1 Bandung pindah ke Jl. Juanda 1966 SMA 2 Bandung pindah ke Jl. Cihampelas

Gedung Sekolah di Jl. Belitung dibagi menjadi dua fungsi, yaitu:

• SMA 3 Bandung 1966 – sampai

sekarang

• SMA 5 Bandung

Menurut keterangan Kepala SMA 3 Bandung, gedung sekolah sempat dijadikan sebagai Markas Bala Tentara Jepang pada tahun pertama kedatangannya [Wawancara, Oktober 2010].

Total usia SMA 3 Bandung sejak didirikan pada tahun 1916 sampai dengan sekarang tahun 2010 yaitu 94 tahun dengan bangunan fisik gedung yang tampak masih cukup kokoh. Sama halnya dengan SMA 3 Yogyakarta, popularitas dan kharisma pendidikan di SMA 3 yang berlokasi di Jalan Belitung Kota Bandung menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kota Bandung sampai sekarang ini.

HARAPAN

Menjadi Perbendaharaan Informasi Kurikulum. Meskipun dihadapkan pada

keterbatasan primary sources, namun buku ini diharapkan dapat menjadi sumbangan yang tiada ternilai dengan menyediakan perbendaharaan informasi tentang Kurikulum SMA yang pernah berlaku di setiap masa sekaligus dengan dinamika perubahannya. Pengungkapan dinamika perubahan Kurikulum SMA yang disajikan dengan menggunakan pola historical sequence atau rangkaian

(20)

historis diharapkan dapat membantu para pembaca dari berbagai kalangan untuk memperoleh berbagai informasi dengan cara yang mudah dan sesuai dengan kebutuhannya.

Menjadi Sumber Inspiratif Bagi Pihak Lain. Selain itu, dengan terbitnya buku

ini diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi pengungkapan masalah kurikulum dengan skala yang lebih luas lagi ditinjau dari kajian aspek filosofis, psikologis, sosiologis, dan ekonomis yang ditujukan bagi kepentingan peningkatan mutu pendidikan Indonesia di masa yang akan datang. Kajian tersebut sangat penting untuk dilakukan, karena hal itu akan menunjukkan bahwa mutu pendidikan sebagai produk dari sebuah kurikulum di masa yang lalu dan masa kini akan saling terkait dan merupakan siklus yang akan berulang dan terhubung lagi dengan mutu pendidikan Indonesia di masa yang akan datang.

(21)

PEMIKIRAN KI-HAJAR DEWANTARA TENTANG

PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

PROLOG

Riwayat Dan Penggantian Nama. Ki-hajar Dewantara (2 Mei1889 – 26 April

1959) yang awalnya bernama Soewardi Suryaningrat merupakan “Bapak Pendidikan Nasional” dan Perintis Kemerdekaan Indonesia. Selama hidupnya, Ki-hajar Dewantara telah melahirkan berbagai pemikiran dasar mengenai konstruk pendidikan dan pengajaran di Indonesia, baik sebelum maupun sesudah proklamasi kemerdekaan, yang ditujukan dalam rangka membangun sistem pendidikan nasional Indonesia. Sebagai salah seorang Perintis Kemerdekaan, Ki-hajar Dewantara pernah dibuang ke negeri Belanda karena aktivitasnya memperjuangkan nasib pribumi yang dijajah.

Penggantian nama dari semula Soewardi Suryaningrat menjadi Ki-hajar Dewantara dilakukan sendiri pada tahun 1928 yang tertera dalam sebuah dokumen atau testamen otentik tulisan tangan dalam Bahasa Belanda (Hasil Studi Dokumentasi di Taman Siswa Yogyakarta, 2010) sebagai berikut:

Ik heb de eer U hierbij mede te debeen, ik op heden, den 2 den POEASA v/h Djimachir 1858 (Çaka) bij gelegenheid van de aanvaarding van mijn 40ste levensjaar, naast mijn onden naam, de naam:

Ki-hadjar DEWANTARA

heb aangenomen. Uw zegen zij mijn deel! In Taman Siswa, 23/11 – 28.

SOEWARDI SURYANINGRAT. Sumber: Kumpulan Dokumen Pribadi Ki-hajar Dewantara di Majelis Luhur Taman Siswa, Daerah Istimewa Yogyakarta [Hasil Telaah Dokumen, 2010].

(22)

Ki-hajar Dewantara nerupakan sosok yang mengalami tiga masa pemerintahan, yaitu: (1) dua pemerintahan kolonial ---Belanda dan Jepang, dan (2) pemerintahan Republik Indonesia.

Pemikiran Konstruktif Pendidikan Nasional. Banyak pemikiran orisinal dan

brilian Ki-hajar Dewantara yang tidak hanya berlaku dalam konteks zamannya, tetapi juga masih bisa berlaku sampai ke masa kini dan masa yang akan datang. Beberapa orisinalitas pemikirannya mengenai pendidikan yang menjadi dasar konstruk pendidikan nasional antara lain adalah sebagaimana yang diuraikan berikut ini.

KI-HAJAR DEWANTARA TENTANG DASAR-DASAR

PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

Pandangan orisinalitas Ki-hajar Dewantara mengenai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran adalah sebagaimana yang diuraikan berikut ini.

HAL PENDIDIKAN

I. Pendidikan. Umumnya berarti daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budipekerti (kekuatan – batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak; dalam pengertian Taman Siswa tidak boleh dipisah-pisahkan dengan bagian– bagian itu, agar supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya. Karena itulah falsal-falsal dibawah ini kita utamakan:

1. Segala alat, usaha dan cara pendidikan harus sesuai dengan kodratnya keadaan (natuurlijkheid, realiteit).

2. Kodratnya keadaan itu tersimpan dalam adat-istiadat setiap rakyat, yang oleh karenanya bergolong-golong merupakan kesatuan dengan sifat perikehidupan sendiri-sendiri, sifat-sifat mana terjadi dari bercampurnya semua usaha dan daya-upaya untuk mencapai hidup tertib-damai.

(23)

3. Adat-istiadat, sebagai sifat peri kehidupan atau sifat percampuran usaha dan daya-upaya akan hidup tertib-damai itu tiada terluput dari pengaruh jaman dan tempat; oleh karena itu tidak tetap, senantiasa berubah.

4. Akan mengetahui garis hidup yang tetap dari sesuatu bangsa perlulah kita mempelajari jaman yang telah lalu, mengetahui tentang menjelmanya jaman itu kedalam jaman sekarang dan menyelami jaman yang berlaku ini: barulah kita dapat membayangkan jaman yang akan datang.

5. Pengaruh baru diperoleh karena bercampulgaulnya bangsa yang satu dengan yang lain, percampuran mana sekarang ini mudah sekali terjadi, disebabkan oleh adanya hubungan modern. Haruslah kita waspada dalam memilih mana yang baik untuk menambah kemuliaan hidup kita dan mana yang merugikan, dengan selalu mengingat, bahwa semua kemajuan dalam lapangan ilmu pengetahuan serta segala perikehidupan itulah kemurahan Tuhan untuk segenap manusia diseluruh dunia, sekalipun masing-masing hidup menurut garisnya sendiri-sendiri yang tetap.

II. Pendidikan nasional menurut paham Taman Siswa ialah pendidikan yang beralaskan garis-hidup dari bangsanya (cultureel – national) dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan (maatschappelijk) yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia diseluruh dunia.

1. Pendidikan budipekerti harus mempergunakan syarat-syarat yang selaras dengan jiwa kebangsaan menuju kepada kesucian, ketertiban dan kedamaian lahir batin, tidak saja syarat-syarat yang sudah ada dan ternyata baik, melainkan juga syarat-syarat jaman baru yang berfaedah dan sesuai dengan maksud dan tujuan kita.

2. Teristimewa haruslah kita memperhatikan pangkal kehidupan kita yang terus hidup dalam kesenian, peradaban, syarat-syarat agama, atau terdapat dalam kitab-kitab ceritera (dongeng, mythen en legenden, babad dan lain-lain); semua itu adalah “arsip nasional”, dalam mana tersimpan beberapa kekayaan batin dari bangsa kita (geestelijke warden). Dengan mengetahui

(24)

segala hal itu niscayalah langkah kita untuk menuju pada jaman baru akan berhasil tetap dan kekal, karena jaman baru kita jodohkan sebagai “mempelai” dengan jaman yang lalu (Jawa: ngudi–tuwuh).

3. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas perlulah anak-anak Taman Siswa kita dekatkan hidupnya kepada perikehidupan rakyat agar supaya mereka tidak hanya memiliki “pengetahuan” saja tentang hidup rakyatnya, akan tetapi juga dapat “mengalaminya” sendiri, dan kemudian tidak hidup berpisahan dengan rakyatnya.

4. Maka dari itu seyogyanyalah kita mengutamakan cara “pondok system” sebagai alat untuk mempersatukan pengajaran-pengetahuan dengan pengajaran-budipekerti, sistim mana dalam tambo peradaban bangsa kita bukan barang asing (dulu bernama “asrama”, sekarang menjelma menjadi “pondok pesantren”).

5. Pengajaran–pengetahuan yang bertujuan mendidik fikiran adalah sebagian dari pendidikan yang terutama dijalankan untuk memperoleh alat-alat penghidupan. Seyogyanyalah pendidikan fikiran ini dibangun setinggi-tingginya, sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, agar anak-anak kelak dapat mewujudkan perikehidupannya dengan sebaik-baiknya.

6. Pendidikan jasmani (lichamelijke opvoeding) yang pada jaman dulu kala juga sudah dikenal orang harus dipentingkan untuk mendatangkan keturunan yang bertubuh kuat.

III. Sifat–sifatnya pendidikan. Sifat–sifat ini banyak yang sama dengan sifat-sifat yang datang dari negeri asing tetapi banyak pula yang berlainan berhubung dengan perikeadaban kita; ada juga yang terambil dari adapt-istiadat dari bangsa kita tetapi ada pula corak baru. Dibawah inilah sifat-sifat yang pokok saja dan yang selayaknya menjadi pangkal tuntunan bagi kalangan kita: 1. Rumah sekolah haruslah rumahnya pemimpin, dimana juga tinggal

guru-guru lain dan murid-murid yang tidak mungkin mendapat tuntunan sendiri dari orangtuanya.

(25)

2. Dalam pondok-pondok itu haruslah anak-anak belajar menolong diri sendiri dan hidup bersahaja: juga hendaknya dibiasakan mereka itu tolong menolong, mengambil inisiatif dan berdasarkan kesucian menuju kearah tertib damainya keadaan, semua itu dengan mengingat adat-istiadat dalam kalangan rakyatnya.

3. Akan mengadakan syarat-syarat pendidikan haruslah diingat batas-batas umurnya anak, yaitu:

a. hingga umur 10 – 12 tahun sama sekali tiada perbedaanya antara anak laki-laki dan perempuan;

b. dari umur 10 – 12 tahun sampai 14 – 16 tahun mulai berbedalah perangai dan tabiat laki-laki dan perempuan; haruslah kita selalu ingat akan perbedaan itu untuk dapat mengembangkan kenginginan, kebiasaan dan usaha diri dari mereka itu.

c. dari umur 14 – 16 sampai umur 18 – 20 tahun itulah waktunya birahi (puberteits periode), dalam waktu mana anak-anak perempuan dan laki-laki masing-masing sadar akan rasa-keperempuannya dan kelelakiannya. Kita harus berhati-hati berhubung dengan perbedaan tabiat antara yang satu dengan yang lain, dan harus ingat, bahwa “periode” (waktu) itu adalah “ periode” yang luar biasa. Sifat perangai yang baik pada waktu itu adalah nafsu akan membuktikan kekuatan diri (offerzin, uitingsdrang, dadendrang dll). Sebaliknya “periode” itulah juga seringkali terlihat adanya kelemahan diri (zwakheid uitputting). Adapun yang sangat mengkhawatirkan yaitu berkembangnya kekuatan nafsu dan datangnya kelemahan budi itu dikuasai oleh nafsu-birahi (sexuale hartstocht). Kalau anak-anak sampai “lupa” dan yang mendidik kurang awas, disitulah bahaya datang. Maka dari itu dalam waktu birahi haruslah si pendidik memegang teguh segala peraturan mengenai perhubungan anak-anak laki-laki dan perempuan.

d. Dari umur 18 – 20 tahun keatas datanglah waktu kesabaran dalam tabiat anak-anak muda dan kita harus mengubah sikap kita terhadap mereka: memberi kepercayaan yang luas, memberi kelonggaran bertenaga,

(26)

menuntun kearah tertib-damai, akan tetapi masih terus mempergunakan pengaruh pendidikan terhadap mereka.

e. Mulai umur 24 – 26 tahun bolehlah anak–anak muda kami lepaskan dari pengawasan kita.

4. Pengajaran. Tentang pengajaran pengetahuan haruslah ditujukan kearah kecerdikan murid, selalu bertambahnya ilmu yang berfaedah, mambiasakannya mencari pengetahuannya untuk keperluan umum, dengan mementingkan falsat-falsat dibawah ini:

a. Pengetahuan tidak ada batasnya dan daripada batas tujuannya, yakni agar supaya murid kelak dapat hidup dengan tertib – damai, semata-mata dapat turut menambah kemuliaan negara dan bangsanya.

b. Pengajaran harus berdasarkan kodratnya keadaan (lihatlah diatas falsat 3). Umpamanya di Taman Anak (Kindertuin), Taman Muda (Lagere School), Taman-Antara (Schakelschool), Taman Dewasa (MULO), hendaknya dipakai cara-cara yang selaras.Taman Anak misalnya seharusnya mementingkan bahasa ibunya (moedertaal), sedangkan yang mengajar sedapat-dapatnya guru perempuan: pada kelas yang lebih tinggi dipakai bahasa Indonesia, sesuai dengan cita-cita paedagogik nasional.

c. Berhubung dengan a. dan b., seharusnyalah cita-cita itu dijelmakan dalam rencana-pelajaran Taman Siswa, yang sedikit-dikitnya sama tingginya dengan rencana-pelajaran sekolah negeri tentang pelajaran umum, tetapi seboleh-bolehnya bersifat praktis, ditambah pula dengan pelajaran “special” berhubung dengan kehidupan nasional: pengetahuan tentang perikehidupan bangsanya (burgerkunde), tambo nasional, bahasa, seni dsb.

d. Pelajaran bahasa asing (Belanda, Inggris dll) harus juga dianggap perlu untuk menjadi alat mencari pengetahuan atau memudahkan perhubungan internasional, tetapi jangan menarik murid kedunia kebelandaan; oleh karena itu perlulah kita mengusahakan kitab-kitab bacaan dalam bahasa-bahasa asing yang tidak merusakkan perangai

(27)

kenasionalan dan hendaknya ditahan nafsu anak-anak membaca roman Barat yang umumnya merusakkan kesucian serta menjauhkan mereka daripada jiwa kebangsaanya.

5. Pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani yang perlu juga diadakan bertujuan mempergunakan segala gerak badan yang pantas untuk mendatangkan kesehatan, menghaluskan tingkah-laku, memperoleh ketangkasan, keteguhan hati, ketelitian, ketajaman, awas penglihatan, ketertiban dsb.

Gerak badan yang pantas berarti jangan sampai merusakkan rasa kesucian atau menyalahi kodrat, teristimewa mengenai gerak badan bagi perempuan. Berhubung dengan keterangan tentang maksud pendidikan tubuh secara nasional itu seyogyanyalah tari, jogged, pencak dimasukkan dalam rencana-pelajaran dan kalau perlu dalam bentuk baru. Gerak badan modern di Eropa juga mulai mencari jalan baru, yang bagi kita sesungguhnya bukan sesuatu hal yang baru, yaitu mempersatukan gerak badan dengan wirama dan kesenian; jadi paduan musik dan drama.

IV. Leerplan. Dibawah ini Majelis – Luhur mempermaklumkan rencana-pelajaran yang dibuat oleh Ki Sukemi dari Taman Siswa Bandung mengenai falsat-falsat yang umum bagian Taman–Anak dan Muda serta Taman–Antara, dan diserahkan atas nama cabang Bandung kepada kongres.

V. Hari Libur.

1. Hari libur itu diberikan:

a. untuk memberi istirahat kepada anak-anak, agar terpelihara kesehatannya, berhubung dengan pekerjaannya yang berat karena mempergunakan otaknya;

b. untuk memperingati hari-hari yang pantas dikenangkan berhubung dengan pendidikan.

2. Guna tertibnya pengajaran, maka jumlah hari liburan dalam setahunnya kurang lebih 110 hari, sedangkan hari pelajaran kurang lebih 255 hari. 3. Peraturan liburan dalam Taman – Siswa:

(28)

a. hari mengaso disesuaikan dengan keadaan yang umum dalam pergaulan nasional; misalnya liburan besar jatuh dalam bulan Puasa, liburan kecil jatuh di tengah-tengah, ialah dalam bulan Maulud; hari Ahad, tahun baru 1 januari, kedua-duanya dianggap sebagai liburan umum; liburan penutup tahun mula–mula 7 hari, tetapi sesudah tidak memakai hari raya Nasrani, lalu ditambah sehingga menjadi 10 hari.

b. hari peringatan ada dua macam. Pertama yang berhubungan dengan hidup kebatinan seperti Rebo Wage atau Selasa Kliwon, yang oleh sebagian rakayat di Jawa dianggap sebagai hari suci: Rebo wekasan buat penduduk Yogyakarta idem; Grebeg Besar, mikrad Nabi Muhammad, Asyura. Kedua: hari peringatan nasional untuk menghidupkan rasa-kebangsaan, seperti peringatan tahun baru Indonesia pada hari 1 syura dan hari wafatnya Pangeran Diponegoro (8 Januari) yang dianggap hari berdukacita.

4. Hari raya Kristen kalau akan dipakai boleh juga; teristimewa harus diingat, bahwa anggota-anggota dan murid-murid kita yang beragama Kristen harus diberi kelonggaran sepenuhnya untuk menghormati hari sucinya. 5. Hari raya nasional Belanda tidak kita pakai, karena menghormati orang

yang masih hidup atau menghormati hari-politik dengan menutup sekolah itu buat kita tidaklah selayaknya.

6. Tiap cabang Taman siswa boleh mengadakan hari liburan lain yang berdasarkan rasa kebatinan (religie) dari golongan rakyat atau berhubung dengan keperluan luar biasa, asal mengingati falsat 2 di atas.

7. Kalau terpaksa oleh keadaan penting, boleh cabang Taman Siswa mengubah peraturan liburan di atas.

[“Wasita” Jilid II No. 1 – 2 – Juli – Agustus 1930]

DASAR – DASAR PENDIDIKAN

(29)

Perkataan “pendidikan” dan “pengajaran” itu seringkali dipakai bersama-sama. Sebenarnya gabungan kedua perkataan itu dapat mengeruhkan pengertiannya yang asli. Ketahuilah, pembaca yang terhormat, bahwa sebenarnya yang dinamakan “pengajaran” (onderwijs) itu tak lain dan tak bukan ialah salah satu bagian dari pendidikan. Jelasnya, pengajaran itu tidak lain ialah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan, serta juga memberi kecakapan kepada anak-anak, yang keduanya dapat berfaedah buat hidup anak-anak, baik lahir maupun batin.

Sekarangakan saya terangkan apakah arti dan maksud pendidikan (opvoeding) pada umumnya. Dengan sengaja saya memakai keterangan “pada umumnya”,karena dalam arti khususnya banyak dan berjenis-jenislah maksud pendidikan itu. Boleh dibilang tiap-tiap aliran, baik aliran agama maupun aliran kemasyarakatan itu mempunyai maksud sendiri-sendiri. Tidak hanya maksud atau tujuannya berbeda-beda, pun caranya mendidik juga tidak sama. Tentang keadaan yang penting ini kemudian akan saya terangkan lebih luas.

Walaupun bermacam-macam maksud, tujuan, cara, bentuk, syarat-syarat dan alat-alat di dalam soal pendidikan itu, akan tetapi nyatalah, bahwa pendidikan yang berhubungan dengan aliran-aliran hidup yang berjenis-jenis itu, ada pula dasar-dasar atau garis-garis yang sama.

Menurut pengertian umum, berdasarkan apa yang dapat kita saksikan dalam semua macam pendidikan itu, maka teranglah bahwa yang dinamakan pendidikan yaitu tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun maksudnya pendidikan yaitu: menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. 2. Hanya tuntunan dalam hidup.

Pertama kali haruslah kita ingat, bahwa pendidikan itu hanya suatu “tuntunan” didalam hidup tumbuhnya anak-anak kita. Ini berarti, bahwa hidup tumbuhnya anak-anak itu terletak diluar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik.

(30)

Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Seperti yang termaktub didalam keterangan dimuka, maka apa yang dikatakan “kekuatan kodrati yang ada pada anak-anak itu” tiada lain ialah segala kekuatan didalam hidup batin dan hidup lahir dari anak – anak itu, yang ada karena kekuasaan kodrat. Kita kaum pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan-kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu.

Akan lebih teranglah uraian kita itu, jikalau kita ambil contoh atau perbandingan dengan hidupnya tumbuh-tumbuhan. Seorang tani (yang dalam hakekatnya sama kewajibannya dengan dengan seorang pendidik) yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi. Ia dapat memperbaiki tanahnya, memelihara tanamannya, begitu, memberi rabuk dan air, memusnakan ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggur hidup tanamannya, begitu sebagainya; tetapi meskipun ia dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman itu, mengganti kodrat-iradatnya padi, ia tak akan dapat. Misalnya ia tak akan dapat menjadikan padi yang ditanamnya itu tumbuh sebagai jagung atau harus berbuah didalam 3 bulan: pun tak dapat ia memeliharanya sebagai caranya memelihara tanaman kedele dan sebagainya. Mustahil! Pak tani harus takluk pada kodratnya padi itu mustahillah. Demikianlah pendidikan itu, walaupun hanya dapat “menuntun”, akan tetapi besarlah faedahnya bagi hidup tumbuhnya anak-anak.

3. Perlukah tuntunan pendidikan itu?

Meskipun pendidikan itu hanya “tuntunan” saja di dalam tumbuhnya anak-anak, tetapi perlu juga, berhubungan dengan kodrat dan keadaannya masing-masing anak. Jikalau anak tidak baik dasarnya, tentulah kita mengerti sendiri, bahwa ia harus mendapat tuntunan, agar bertambah baiklah budi pekertinya. Anak yang baik dasar jiwanya dan tidak mendapat tuntunan pendidikan, barang tentulah akan mudah menjadi orang jahat Walaupun anak sudah baik dasarnya, pun tuntunan masih amat perlu. Tidak saja dengan tuntunan itu ia akan

(31)

mendapat kecerdasan yang lebihitu lalu menjadi orang yang berwatak pemberani, hanya saja rasa takutnya (yang asli) itu tidak Nampak, oleh karena ia sudah mendapat kecerdasan fikiran, hingga pandai menimbang-nimbang dan memikir-mikir, kemudian dapat memperkuat kemauannya untuk tidak takut …….itulah semuanya yang dapat menutup rasa “tertutup” saja oleh fikirannya, maka anak tersebut ada kalanyadiserang rasa takut dengan sekonyong-konyong, yaitu jika fikirannya sedang tak bergerak. Kalau fikirannya tidak jalan sebentar saja ia seketika itu akan takut lagi menurut dasar biologisnya sendiri.

Demikian pula orang yang bertabiat pemalu, belas kasihan, bengis, murka, pemarah, dsb…. Selama ia sempat memikir-mikirkan segala keadaaannya, dapat juga ia menahan nafsunya yang asli, akan tetapi jika fikirannya tidak sempat bergerak (dalam keadaan yang sekonyong-konyong datangnya), tentulah tabiat-tabiatnya yang asli itu akan muncul dengan sendiri.

4. Perlunya menguasai diri dalam pendidikan budi pekerti.

Contoh-contoh tentang adanya watak-watak yang “biologis” dan tak dapat lenyap dari jiwa manusia itu ada banyak dan dapat kita lihat juga dalam hidupnya tiap manusia. Misalnya orang yang karena pendidikannnya, keadaannya dan pengaruh lain-lainnya, sebenarnya harus berbudi dermawan, kalau ia memang mempunyai dasar watak kikir, akan selalu kelihatanlah wataknya “kikir” itu sungguhpun ia tetap insyaf akan kewajibanya sebagai dermawan terhadap fakir miskin (ini pengaruhnya pendidikannya yang baik); biasanya semasa ia tidak sempat “berfikir”, tentulah tabiatnya “kikir” itu akan selalu kelihatan, setidak-tidaknya kedermawanan orang itu akan berbeda dengan orang yang memang berdasar watak dermawan.

Janganlah sekarang agaknya pendidik lalu “berputus asa”, karena menganggap bahwa tabiat-tabiat yang “biologis” itu (hidup perasaan) tidak dapat dilenyapkan sama sekali. Memang benar kecerdasan intelligible (hidup angan-angan) itu hanya dapat menutupi tabiat-tabiat perasaan yang tidak baik itu, akan tetapi ingatlah, bahwa dengan menguasai-diri (zelfbeheersching), asalkan

(32)

tetap dan kuat adanya, senantiasa ia akan melenyapkan atau mengalahkan tabiat-tabiat biologis yang tidak baik itu. Jadi kalau kecerdasan budi itu sungguh baik, yaitu dapat mewujudkan kepribadian (persoonlijkheid) dan “karakter” (jiwa yang berazas hukum kebatinan), itulah berarti orang akan senantiasa dapat mengalahkan nafsu dan tabiat-tabiatnya yang asli, yang biologis tadi.

Maka dari itulah “menguasai diri” atau “zelfbeheersching” itu disebut tujuannya pendidikan dan maksudnya keadaban. “Beschaving is Zelfbeheersching” (adab itu tak bukan dan tak lain berarti dapat menguasai diri)’ demikian menurut pengajaran adab atau ethika.

Sampailah kita sekarang pada soal “budi pekerti”, yang dimuka sudah kita sebut beberapa kali. Yang dinamakan “budi pekerti” atau “watak yaitu bulatnya jiwa manusia, yang dalam bahasa asing disebut “karakter” dan diatas sudah kita terangkan sebagi jiwa yang sudah “berazas hukum kebatinan”. Orang yang telah mempunyai kecerdasan budipekerti itu senantiasa memikir-mikirkan dan merasa-rasakan serta selalu memakai ukuran, timbangan dan dasar-dasar yang pasti dan tetap. Itulah sebabnya tiap-tiap orang itu dapat kita kenal wataknya dengan pasti; yaitu karena yaitu karena watak dan budi pekerti itu memang bersifat tetap dan pasti buat satu-satunya manusia, sehingga dapat dibedakan orang yang satu daripada yang lain.

Budipekerti, watak atau karakter, itulah bersatunya gerak fikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan, yang lalu menimbulkan tenaga. Ketahuilah bahwa “budi” itu berarti “fikiran-perasaan-kemauan”, dan “pekerti” itu artinya “tenaga”. Jadi “budi pekerti” itu tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang dapat memerintah atau yang beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya.

Jadi teranglah disini bahwa pendidikan itu berkuasa untuk mengalahkan dasar-dasar dari jiwa manusia, baik dalam arti melenyapkan dasar-dasar-dasar-dasar yang jahat dan memang dapat dilenyapkan, maupun dalam arti “neutraliseeren”

(33)

(menutupi, mengurangi) tabiat-tabiat jahat yang “biologis” atau yang tak dapat lenyap sama sekali, karena sudah bersatu dengan jiwa.

5. Jenis-jenisnya budi pekerti.

Setelah kita mengetahui, bahwa budi-pekerti seseorang itu dapat mewujudkan sifat kebatinan seseorang dengan pasti dan tetap, haruslah kita mengetahui pula, bahwa tidak adalah dua budi-pekerti orang yang sama. Jadi samalah keadaannya denga roman muka manusia, tiadalah dua yang sama. Meskipun begitu, orang dapat juga membagi-bagi budi-pekerti manusia menjadi beberapa macam atau jenis atau “typen”, dengan maksud agar orang dapat mempunyai ikhtisar tentang garis’garis atau sifat-sifat watak orang yang umum.

Pembagian budi-pekerti menjadi beberapa typen itu ada yang disandarkan pada sifatnya angan-angan, sifatnya perasaan dan sifatnya kemauan (analytis); lalu tiga sifat itu digabungkan menjadi satu (synthetis); kemudian lalu mewujudkan suatu macam atau type budi-pekerti yang pasti. Yang amat tersohor adalah pembagian dari almarhum Prof. Dr. Heymans guru besar di Universitas Groningen, yang sudah mengadakan penyelidikan disertai pecobaan-percobaan tentang soal itu dan kemudian menetapkan adanya 8 typen budi-pekerti orang. Ada pula yang membagi-bagi budi-pekerti menjadi beberapa typen atau jenis dengan bersandar atas hasrat seseorang; jadi ini (ethis = menurut rasa adab). Yang kenamaan dalam hal ini ialah Prof. Sprangeryang membagi-bagi budi-pekerti orang menjadi 6 jenis, bersandar atas hasrat orang akan: 1. kekuasaan (machts mensch); 2. Agama (religieus mench); 3. keindahan (kunst mensch); 4. kegunaan atau faedah (nutsmensch atau economisch mensch); 5. pengetahuan atau kenyataan (wetenchaps atau waarheids mensch) dan 6. menolong mendermakan atau mengabdi (sociale mensch).

Lain dari pada pembagian itu, masih ada pula theori-theori tentang jenis-jenisnya budi-pekerti; misalnya yang menghubung-hubungkan sifat-jamaninya seseorang dengan wataknya (Prof. Kretschner), jadi seperti ilmu firasat dari Imam Syafii. Ada pula yang mengukur budi-pekerti orang dengan melihat

(34)

caranya seorang memandang dirinya sendiri sebagai pusatnya pemandangan, atau sebaliknya, sebagai sebagian saja dari alam yang besar ini (Adler, Kunkel). Ada pula yang mengadakan pembagian “introversen dan extroversen” (Jung), yaitu orang yang selalu memandang kedalam batinnya sendiri, atau yang memandang kearah luar demikianlah seterusnya.

Dalam soal watak atau budipekerti manusia janganlah kiranya dilupakan, bahwa tiap-tiap manusia itu mendapat pengarah dari yang menurunkan (erfelijkheidsleer); jadi sama pula dengan turun temurunnya sifat-sifat jasmani dari tiap-tiap orang (sifat roman mukanya, rambutnya, warna kulitnya, pendek-tingginya badan dll.) Juga janganlah dilupakan, bahwa seperti yang sudah diuraikan dimuka, pendidikan dan segala pengalaman serta keadaan itu semuanya berpengaruh besar pada tumbuhnya budipekerti.

SYARAT-SYARAT DAN ALAT-ALAT PENDIDIKAN

1. Naluri Pendidikan.

Setelah ikhtisar tentang arti, maksud dan tujuan pendidikan termuat di dalam uraian kita dimuka, baiklah sekarang kita menerangkan bagian-bagian yang khusus, buat permulaan tentang syarat-syarat dan alat-alat didalam pendidikan yang teratur. Yang “teratur”, kata saya, sebab pendidikan itu sebenarnya berlaku didalam tiap-tiap keluarga dengan cara yang tidak teratur. Berlakunya pendidikan dari tiap-tiap manusia untuk mendidik anak-anaknya, agar selamat dan bahagia. Naluri atau instinct ini disebabkan pula oleh adanya naluri yang pokok (oerintinct), yang bermaksud akan kekalnya keturunan (ngudhi-tuwuh, behoud van de sort).

Pendidikan yang dilakukan tiap-tiap orang terhadap anak-anaknya itulah umumnya hanya bersandar atas cara-kebiasaan (traditie, sleur) dan seringkali amat dipengaruhi oleh perasaan yang berganti-ganti dari si pendidik; jadi tidak dengan “keinsyafan” dan tidak tetap. Kalau kadang-kadang ada keinsyafan, maka keinsyafan itu hanya berdasar atas “perkiraan” atau “rabaan” belaka,

(35)

yakni tidak berdasarkan pengetahuan. Atau kalau ada dasar pengetahuan yang Cuma berasal dari “pengalaman”: ini berarti kurang luas (eenzijdig).

2. Syarat-syarat pengetahuan.

Pendidikan yang teratur yaitu pendidikan yang bersandar atas pengetahuan, yang dinamakan “ilmu pendidikan”. Ilmu ini tidak berdi sendiri, akan tetapi masih memakai ilmu-ilmu lainnya, yang dinamakan ilmu syarat-syarat pendidikan atau “hulpwetenschappen”, yang terbagi menjadi 5 jenis, yaitu: a. ilmu hidup batin manusia (ilmu jiwa, psychologie);

b. ilmu hidup-jasmani manusia (fysiologie);

c. ilmu keadaan atau kesopanan (ethika atau moral); d. ilmu keindahan atau ketertiban-lahir (aesthetika); e. ilmu tambo pendidikan (ikhtisar cara-cara pendidikan);

Untuk mengerti perlunya mempunyai pengetahuan yang lima macam itu, perlulah kiranya kita mengadakan sedikit perbandingan antara keadaan seorang “juru didik” dengan seorang pengukir kayu. Seorang pengukir kayu barang tentu wajib mempunyai pengetahuan yang dalam dan luas tentang hakekatnya atau keadaannya kayu; jadi harus tahu akan ilmu kayu (lihat no. 1 dan 2 diatas). Ia wajib mengetahui kayu-kayu yang keras dan yang tidak keras, yang boleh dipergunakan untuk ukiran-ukiran yang halus atau yang kasar, begitu seterusnya. Karena pendidik itu “mengukir” manusia, sedang manusia mempunyai hidup lahir dan batin, maka ilmu-kemanusiaan itu ada dua macamnya, ialah “psychologie” dan “fysiologie”, seperti tersebut diatas no. 1 dan 2.

Seorang pengukir kayu yang hendak mewujudkan pekerjaan (ukiran-ukiran) yang baik, haruslah mengerti tentang keindahan-keindahan ukiran. Bagi seorang pendidik sama halnya harus mengerti tntang keindahan-keindahan batin dan lahir (ethika dan aesthetika), karena manusia itu bersifat batin dan lahir (lihat no. 3 dan 4).

(36)

Akhirnya seorang pengukir kayu dapat mewujudkan ukiran-ukiran yang bagus, kalau ia mempunyai pengetahuan tentang macam-macam ukiran, yang telah diadakan pengukir-pengukir lainnya, pada jaman sekarang dan jaman dahulu, dinegerinya sendiri atau dinegeri asing. Itulah ilmu “tambo-pendidikan” buat kaum pendidik.

Dengan mengadakan perbandingan itu, tidak usahlah kita memberi keterangan sendiri yang luas, karena tiap pembaca lalu dapat membuat keterangan sendiri yang panjang, lebar dan terang.

3. Peralatan Pendidikan.

Yang kita maksudkan dengan perkataan “peralatan” itu sebenarnya alat-alat yang pokok, cara-caranya mendidik. Ketahuilah bahwa cara-cara itu amat banyaknya, akan tetapi dalam pokoknya bolehlah semua cara itu kita bagi seperti berikut:

a. memberi contoh (voorbeeld);

b. pembiasaan (pakulinan, gewoontevorming); c. pengajaran (leering, wulang wuruk);

d. perintah, paksaan dan hukuman (regeering en tucht); e. laku (zelfbeheersching, zelfdiscipline);

f. pengalaman lahir dan batin (nglakoni, ngrasa, beleving).

Alat-alat itu tidak perlu dilakukan semuanya, bahkan ada kaum pendidik yang tidak mufakat adanya salah satubagian dari pada yang termaktub itu. Misalnya pendidik-pendidik dari fitnah “vrije opvoeding” (pendidikan bebas) tidak suka memakai alat yang nomor 4. (perintah, paksaan dan hukuman). Seringkali seorang pendidik mementingkan sesuatu bagian dan pada umumnya memilihnya cara-cara itu dihubungkan dengan macam-macam keadaan teristimewa dihubungkan dengan umurnya anak-anak didik.

(37)

Untuk keperluan pendidikan, maka umur anak-anak didik itu dibagi menjadi 3 masa, masing-masing dari 7 atau 8 tahun (1 windu): a. waktu pertama (1 – 7 tahun) dinamakan masa kanak-kanak (kinderperiode); b. waktu ke-2 (7 – 14 tahun), yakni masa pertumbuhan jiwa fikiran (intellectueele periode) dan c. masa ke-3 (14 – 21 tahun) dinamakan masa terbentuknya budi pekerti atau sociale periode.

Berhubung dengan alat-alat atau cara-cara pendidikan, yang dihubungkan dengan umur kanak-kanak, maka dibawah inilah kita sajikan pemakaian cara-cara, sesuai dengan umur itu: (a) masa kanak-kanak: cara no. 1 dan 2; (b) masa ke 2: cara nomor 3 dan 4; dan (c) masa ke 3; cara nomor 5 dan 6.

Ketiga-tiganya itu berlaku pada umumnya dan sebagi dasar. Sekian dahulu. [“Keluarga” Th. I No. 1, 2, 3, 4. Nop., Des. 1936, Jan. Pebr. 1937]

KI-HAJAR DEWANTARA TENTANG DIFFERENSIASI

SEKOLAH MENENGAH UMUM ATAS (SMUA)

Pandangan orisinalitas Ki-hajar Dewantara mengenai SMA adalah sebagaimana yang disampaikan pada acara pertemuan tentang “Differensiasi Pengajaran di S.M.U.A dan Reorganisasi S.M.U.A I dan II di Yogyakarta” pada tahun 1947 berikut ini.

1. Diferensiasi pengajaran pada tingkatan S.M.U.A. mengandung maksud, menyesuaikan dasar kejiwaan murid dengan aliran pengajaran masing-masing, agar memudahkan kemajuan serta berkembangnya akal-budinya menurut kodratnya masing-masing. Dengan demikian maka dapatlah dikurangi jumlah mereka yang keputusan jalan-hidupnya (mislukkelingen) karena salahnya atau kurang tepatnya pemilihan aliran-pengajaran.

2. Hingga kini differensiasi itu telah dilakukan untuk aliran A (Kesusasteraan), B (Ilmu Alam dan Pasti) dan C (untuk pekerjaan administrasi dll). Dengan begitu maka mereka yang mempunyai bakat yang khusus itu dapat memilih aliran-alirannya sendiri. Dalam pada itu memang betul ijazah dari pada

(38)

bagian B itu dianggap lebih tinggi daripada ijazah A (dan C), karena dengan ijazah B dapatlah abiturienten S.M.U.A. memasuki perguruan tinggi, sedangkan mereka yang berijazah A hanya dapat diterima untuk perguruan tinggi Kesusasteraan, Kehakiman dll. Yang tidak memerlukan pengetahuan Ilmu Alam dan Pasti, misalnya Fakulteit Ketabiban, Teknik, dan sebagainya. 3. Penghargaan lebih rendah atau lebih tinggi itu sebenarnya tidak terkadung

dalam maksud differensiasi, karena semata-mata didalam hal itu hanya dihubungkan dengan jenisnya ilmu-ilmu yang harus dipelajari. Akan tetapi tradisi kini membuktikan adanya perbedaan penghargaan tersebut dan ini menurut pandangan saya disebabkan karena kurang baik organisasinya differensiasi itu.

4. Yang pertama kali, harus diingati, bahwa pemilihan aliran pengajaran (studiekeuze) itu seringkali dilakukan oleh para abiturienten S.M. Pertama sendiri, dengan tidak sesuai dengan bakatnya sendiri yang sebenarnya; seringkali malah orangtuanya murid turut-turut memilih dengan memberatkan keinginannya sendiri (subyektif). Kebanyakan mereka itu memilih aliran Alam-Pasti, agar kelak dapat meneruskan pelajarannya di semua perguruan tinggi. Kadang-kadang bila anak-anak di bagian B itu putus jalannya (mislukt) dan pindah ke bagian A, terbukti mereka itu kelak dapat lulus dalam ujian-penghabisan. Semua keadaan ini memberi suggestie (saran), bahwa aliran “kesusasteraan” itu lebih gampang, lebih rendah dari pada aliran “Pasti-Alam”.

5. Kedua kalinya harus diingati, bahwa mereka yang memilih aliran A itu, tidak hanya mereka yang tidak mempunyai bakat untuk ilmu Pasti-Alam, namun ada juga yang memilih aliran A itu, semata-mata karena tertarik oleh ilmu Kesusasteraan; jadi mereka yang juga mempunyai bakat Ilmu Pasti, memilih aliran Kesusasteraan. Seandainya mereka itu (yang salah atau kurang tepat pilihannya tadi) hendak berganti aliran (misalnya lalu tertarik oleh pengajaran di perguruan tinggi Tabib atau Ingenieur), sudah terlanjur hanya berijzah A (Kesusasteraan), jadi tak dapat diterima. Pemilihan aliran pengajaran itu bagi

(39)

pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi memang sukar sekali dapat berlaku dengan obyektif; seringkali “keinginan”-nya bertentangan dengan bakatnya; sebab-sebabnya banyak!

6. Berhubung dengan apa yang tersebut diatas semua itu, maka alangkah baiknya jika differensiasi itu dilakukan sebagai berikut:

a. Pada tingkatan kelas-1 belum diadakan perpisahan aliran; baru pada penghabisan tahun-pengajaran (akan naik ke kelas 2), menurut isinya: rapport”, dewan guru menetapkan: siapa yang tidak naik kelas, siapa yang naik ke kelas 2 bagian A, siapa yang naik ke bagian B, siapa yang boleh memilih naik ke bagian A dan B dengan timbangan umum. Adapun mereka yang tidak mempunyai bakat untuk A dan B, tetapi tidak “bodoh”, dinaikan ke bagian C (administrasi, kepandaian tangan dan sebagainya). b. Pada penghabisan pengajaran di kelas 2 (akan naik ke kelas 3), masih

diadakan saringan pula, sebab saringan yang pertama (akhir kelas 1) boleh jadi belum tepat, karena banyak “twijfelachtige gevallen” (keadaan-keadaan yang membimbangkan) dan banyak pula anak-anak sendiri yang tambah keinsyafannyaterhadap kesanggupan dan kemampuan diri sendiri. Dengan begitu maka penghargaan sama antara aliran A dan B prinsipiel dibuktikan pula dan ……….. “mislukkelingen” akan kurang.

c. Sesudah tamat kelas 3, maka hendaknyalah diadakan saringan pula tentang pemberian ijazah, dengan mengadakan ijazah 4 macam: 1. Ijazah A, 2. Ijazah B, 3. Ijazah C (administrasi), ke-4 ijazah D, yaitu dengan disebutkan: “Tamat belajar, tidak untuk meneruskan pelajaran ke perguruan tinggi”. Yang amat kurang angka-angkanya ialah mereka yang tidak lulus, tidak tamat. Dengan begitu akan kurang lagilah jumlah “mislukkelingen”. (Ingatilah: orang yang tidak berijazah itu mengandung perasaan-rendah atau “inferioteis complexen” dan karena banyak yang tenggelam didalam gelombang-gelombang masyarakat).

7. Untuk meneruskan pelajarannya ke arah perguruan-tinggi (universiteit), maka ijazah S.M.U.A. bagian A (Kesusasteraan) tidak memberi hak untuk

(40)

memasuki faculteit yang membutuhkan pengetahuan banyak dalam ilmu Pasti dan ilmu Alam (Faculteit Tabib, Ingenieur, guru-menengah – Akte M.O. Ilmu Pasti atau Alam, dan lain-lain sebagainya). Akan tetapi mereka itu, jika sungguh-sungguh ingin dan merasa sanggup menuntut pengajaran-pengajaran tsb.(karena misalnya timbul keinsyafan pula tentang diri sendiri ----sudah lebih masak untuk melakukan beroepskeuze), diberi kesempatan untuk menempuh “ujian tambahan” (aanvullend examen) dalam ilmu Pasti dan Alam dan lin-lain ilmu sungguh diperlukan.

8. Sebaliknya, mereka yang berijazah B (Alam dan Pasti), dan ingin memasuki faculteit-faculteit yang membutuhkan ilmu bahasa-bahasa, janganlah diberi hak begitu saja untuk memberi kesempatan untuk menempuh ujian-tambahan dalam ilmu-ilmu dan kepandaian yang diperlukan untuk faculteit-faculteit tersebut.

9. Untuk dapat memperbaiki atau menyempurnakan pelajaran dalam S.M.U.A. bagian Kesusasteraan, lagi pula untuk memberi penghargaan sama dengan bagian Pasti dan Alam, serta untuk memberi alasan menempuh “aanvullend examen” bagi para pemegang ijazah B yang hendak beralih kealiran kesusasteraan pada perguruan-tinggi khusus, maka pelu sekali S.M.U.A. bagian Kesusasteraan diberi pengajaran bahasa-bahasa lebih banyak dari pada di bagian Pasti-Alam. Bahasa-bahasa sendiri (bahsa Indonesia dan Daerah), Jawa-Kuno atau Sansekerta, Arab atau Tionghwa (facultative) hendaknya dipelajarkan di S.M.U.A. bagian kesusasteraan, disamping bahasa modern (Ingggeris dan Jerman atau Perancis – facultative memilih).

10. Segala apa yang termaktub dalam stellingen di atas itu ialah pemandangan saya tentang soal differensiasi S.M.U.A. pada umumnya, dan khususnya ialah bahan-bahan dan alas an-alasan untuk menasihatkan kepada jawatan Pengajaran “Wiyata-Praja”, hendaknya S.M.U.A. ke-1 dan ke-II dalam organisasinya dipersatukan, dan dalam differensiasinya dibagi menjadi bagian Kesusasteraan dan bagian Pasti dan Alam paling sedikitnya, jika mungkin

Gambar

TABEL JADWAL JAM PELAJARAN ALGEMEENE MIDDELBARE SCHOOL  (AMS) ATAU SEKOLAH MENENGAH TINGGI PADA ZAMAN JEPANG
TABEL ALOKASI WAKTU KURIKULUM 1975

Referensi

Dokumen terkait

Temuan tersebut memiliki implikasi dalam pemberian layanan konseling bagi generasi Y yang nota bene masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan bermakna antara dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat pada

Penelitian ini merupakan penelitian uji diagnostik yang dilakukan terhadap 62 kasus nodul tiroid yang terdiri dari 18 kasus karsinoma papiler,13 kasus nodul folikular jinak

Dari data di atas dapat di ketahui bahwa dengan meningkatnya ketebalan helm, tegangan maksimal yang terjadi pada sungkup akan mengalami penurunan, sehingga helm dengan

Rivai dan Mulyadi (2009, h.171) mengartikan perilaku organisasi sebagai studi mengenai tingkah laku manusia dalam organisasi. 3) mendefinisikan perilaku organisasi

Dengan jumlah penumpang berangkat kondisi eksisting saat peak hour , berapa kapasitas maksimum yang dapat dilayani oleh masing-masing ruang tunggu keberangkatan?.4. Dengan

Pemahaman kritis merupakan membaca yang bertujuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu teks bacaan dengan jalan melibatkan diri sebaik-baiknya ke dalam teks bacaan

Kewajiban imbalan pensiun tersebut merupakan nilai kini kewajiban imbalan pasti pada tanggal neraca dikurangi dengan nilai wajar aset program yang berasal dari