• Tidak ada hasil yang ditemukan

TENTANG HUKUM

Dalam dokumen Perkara Nomor 03KPPU M2014 (Halaman 25-36)

Setelah mempertimbangkan Laporan Keterlambatan Pemberitahuan, Tanggapan masing-masing Terlapor terhadap Laporan Keterlambatan Pemberitahuan, keterangan para Saksi, keterangan para Ahli, keterangan para Terlapor, surat-surat dan atau dokumen, Kesimpulan Hasil Persidangan yang disampaikan baik oleh Investigator maupun masing-masing Terlapor, selanjutnya disebut fakta persidangan, Majelis Komisi menilai, menganalisa, menyimpulkan dan memutuskan perkara berdasarkan alat bukti yang cukup tentang telah terjadi atau tidak terjadinya pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 yang diduga dilakukan oleh para Terlapor dalam Perkara Nomor 03/KPPU-M/2014. Dalam melakukan penilaian dan analisis, Majelis Komisi menguraikan dalam beberapa bagian, yaitu: --- 1. Tentang Objek Perkara dan Dugaan Pelanggaran; ---

halaman 26 dari 36

2. Tentang Identitas Terlapor; ---

3. Tentang Pengambilalihan Saham PT Sukses Abadi Karya Inti oleh PT Dunia Pangan; 4. Tentang Nilai Aset dan/atau Nilai Penjualan setelah pengambilalihan saham ; ---

5. Tentang Keterlambatan Melakukan Pemberitahuan kepada Komisi; ---

6. Tentang Pemenuhan Unsur Pasal 29 Undang-Undang 5 Tahun 1999; ---

7. Tentang Pengecualian; ---

8. Tentang Kesimpulan Majelis Komisi; ---

9. Tentang Pertimbangan Majelis Komisi sebelum memutus; ---

10. Tentang Diktum Putusan dan Penutup; ---

Berikut uraian masing-masing bagian sebagaimana tersebut di atas; ---

1. Tentang Objek Perkara dan Dugaan Pelanggaran; ---

1.1 Bahwa Objek perkara ini adalah Keterlambatan Pemberitahuan Pengambilalihan Saham PT Sukses Abadi Karya Inti oleh PT Dunia Pangan; ---

1.2 Bahwa Terlapor diduga melanggar Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 juncto Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010; ---

2. Tentang Identitas Terlapor; ---

Bahwa Majelis Komisi menilai Identitas Terlapor adalah sebagai berikut: ---

Terlapor, PT Dunia Pangan, beralamat di Plaza Mutiara Suite 1101 Lantai 11 Jalan Dr. Ide Anak Agung Gede Kav. E.1.2 Nomor 1 & 2 Jakarta. ---

Merupakan suatu perseroan terbatas yang didirikan menurut dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia berdasarkan Akta Notaris Drajad Uripto, S.H., Nomor: 33 tanggal 31 Juli 2006. Akta pendirian tersebut telah memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan HAM RI dalam Surat Keputusan Nomor: W9-00097HT.01.01 Tahun 2006 tanggal 10 Oktober 2006. Maksud dan tujuan PT Dunia Pangan adalah bergerak di bidang perdagangan dan industri. PT Dunia Pangan dimiliki oleh PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk. dengan kepemilikan saham sebesar 70% (tujuh puluh persen) dan Tn. Stefanus Joko Mogoginta sebesar 30% (tiga puluh persen) (vide C6). ---

3. Tentang Pengambilalihan Saham PT Sukses Abadi Karya Inti oleh PT Dunia Pangan 3.1 Bahwa berdasarkan Laporan Keterlambatan Pemberitahuan dan Kesimpulan Persidangan yang diserahkan Investigator, diperoleh fakta PT Dunia Pangan telah membeli 99,96% (sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh enam persen) saham PT Sukses Abadi Karya Inti dengan nilai transaksi Rp. 249.900.000,- (Dua Ratus Empat Puluh Sembilan Juta Sembilan Ratus Ribu Rupiah), dengan perincian transaksi sebagaimana diuraikan pada tentang Duduk Perkara butir 12 diatas; ---

3.2 Bahwa Skema pengambilalihan saham PT Sukses Abadi Karya Inti oleh PT Dunia Pangan tersebut menjadi sebagai berikut: ---

halaman 27 dari 36

PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk

PT Tiga Pilar Sejahtera PT Asianiaga Prakarsatama PT Naga Mas Sakti Perkasa PT Poly Meditra Indonesia PT Bumiraya

Investindo PT Dunia Pangan

PT Patra Power Nusantara PT Balaraja Bisco Paloma PT Charindo Palma Oetama PT Muarabungo Plantation PT Airlangga Sawit Jaya PT Mitra Jaya Agro Plan PT Tugu Palma Sumatera PT Jatisari Srirejeki PT Indo Beras Unggul PT Putra Taro Paloma 99,90% 99,96% 99,95% 99,90% 64,95% 70% 99,90% 99,90% 99,96% 99,99% 99,99% 99,99% 99,99% 99,99% 99,99% 99,96%

PT Tiga Pilar Corpora

27,8% PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk

PT Tiga Pilar Sejahtera PT Asianiaga Prakarsatama PT Naga Mas Sakti Perkasa PT Poly Meditra Indonesia PT Bumiraya

Investindo PT Dunia Pangan

PT Patra Power Nusantara PT Balaraja Bisco Paloma PT Charindo Palma Oetama PT Muarabungo Plantation PT Airlangga Sawit Jaya PT Mitra Jaya Agro Plan PT Tugu Palma Sumatera PT Jatisari Srirejeki PT Indo Beras Unggul PT Putra Taro Paloma 99,90% 99,96% 99,95% 99,90% 64,95% 70% 99,90% 99,90% 99,96% 99,99% 99,99% 99,99% 99,99% 99,99% 99,99% 99,96% PT Sukses Abadi Karya Inti 99,96%

Stefanus Joko Mogoginta Budhi Istanto Suwito

30% 70%

3.3 Bahwa nilai aset gabungan hasil Pengambilalihan Saham dihitung hingga Badan Usaha Induk Tertinggi (BUIT) adalah sebesar Rp 4.371.896.796.172,00 (Empat Triliun Tiga Ratus Tujuh Puluh Satu Miliar Delapan Ratus Sembilan Puluh Enam Juta Tujuh Ratus Sembilan Puluh Enam Ribu Seratus Tujuh Puluh Dua Rupiah); --- 3.4 Bahwa nilai penjualan gabungan hasil Pengambilalihan Saham dihitung hingga BUIT

adalah sebesar Rp 1.917.618.445.275 (Satu Triliun Sembilan Ratus Tujuh Belas Miliar Enam Ratus Delapan Belas Juta Empat Ratus Empat Puluh Lima Ribu Dua Ratus Tujuh Puluh Lima Ribu Rupiah; --- 3.5 Bahwa pada tanggal 22 Maret 2013, KPPU menerima pemberitahuan dari PT Dunia

Pangan yang melakukan pengambilalihan saham (akuisisi PT Sukses Abadi Karya Inti); --- 3.6 Bahwa Majelis Komisi mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: --- 3.10.1. Bahwa Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang

Penggabungan atau peleburan badan usaha, atau pengambilalihan saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 yang berakibat nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu, wajib diberitahukan kepada Komisi, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal penggabungan, peleburan atau pengambilalihan tersebut; --- 3.10.2. Bahwa dalam Pasal 1 Ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun

halaman 28 dari 36

Pengambilalihan Saham Perusahaan Yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

(selanjutnya disebut “PP Nomor 57 Tahun 2010”), yang dimaksud pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh Pelaku Usaha untuk mengambilalih saham Badan Usaha yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas Badan Usaha tersebut; --- 3.10.3. Bahwa dalam Pasal 5 Ayat (1) PP Nomor 57 Tahun 2010 Pasal 5 Ayat 1

Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan lain yang berakibat nilai aset dan/atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu wajib diberitahukan secara tertulis kepada Komisi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal telah berlaku efektif secara yuridis Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan; --- 3.7 Bahwa berdasarkan ketentuan Kementerian Hukum dan HAM, tanggal telah berlaku

efektif secara yuridis dihitung sejak dikeluarkannya surat penerimaan pemberitahuan perubahan data perseroan dari Kementerian Hukum dan HAM Nomor AHU-AH.01.10-01248 yakni pada tanggal 21 Januari 2013 (vide penyelidikan B3 dan C2); --- 3.8 Bahwa Majelis Komisi berdasarkan fakta persidangan berpendapat, menilai bahwa

Terlapor telah melakukan pengambilalihan saham PT Sukses Abadi Karya Inti yang berlaku efektif secara hukum sejak dikeluarkannya surat penerimaan pemberitahuan perubahan data perseroan dari Kementerian Hukum dan HAM pada tanggal 21 Januari 2013. --- 4. Tentang Nilai Aset dan/atau Nilai Penjualan setelah pengambilalihan saham; --- 4.1 Bahwa berdasarkan Laporan Keterlambatan Pemberitahuanq Investigator, diperoleh

fakta-fakta bahwa nilai aset dan/atau penjualan gabungan hasil Pengambilalihan Saham dihitung hingga BUIT dengan rincian sebagai berikut: (vide C6, C7, C12, C13); ---

a. Nilai Aset --- - Bahwa nilai aset gabungan hasil Pengambilalihan Saham dihitung hingga BUIT adalah sebesar Rp 4.371.896.796.172 (Empat Triliun Tiga Ratus Tujuh Puluh Satu Miliar Delapan Ratus Sembilan Puluh Enam Juta Tujuh Ratus Sembilan Puluh Enam Ribu Seratus Tujuh Puluh Dua Rupiah);--- b. Nilai penjualan ---

Bahwa nilai penjualan gabungan hasil Pengambilalihan Saham dihitung hingga BUIT adalah sebesar Rp 1.917.618.445.275 (Satu Triliun Sembilan Ratus Tujuh

halaman 29 dari 36

Belas Miliar Enam Ratus Delapan Belas Juta Empat Ratus Empat Puluh Lima Ribu Dua Ratus Tujuh Puluh Lima Ribu Rupiah); ---

Perusahaan Aset (Rp)

Omset (Rp) PT Tiga Pilar Corpora 757.676.796.172 164.816.445.275 PT Tiga Pilar Sejahtera

Food Tbk

3.590.309.000.000 1.752.802.000.000

PT Sukses Abadi Karya Inti

23.911.000.000 --

Total 4.371.896.796.172 1.917.618.445.275

4.2 Bahwa Majelis Komisi mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: --- 4.2.1. Bahwa menurut ketentuan Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun

1999, Pelaku Usaha wajib untuk melakukan pemberitahuan pengambilalihan saham kepada Komisi jika berakibat nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu; --- 4.2.2. Bahwa menurut ketentuan Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun

1999, ketentuan tentang penetapan nilai aset dan atau nilai penjualan serta tata cara pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur dalam PP Nomor 57 Tahun 2010; --- 4.2.3. Bahwa batasan nilai menurut ketentuan Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor

57 Tahun 2010, diatur Batasan Nilai untuk melakukan pemberitahuan Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan kepada Komisi sebagai berikut; --- 1) Nilai aset badan usaha hasil penggabungan atau peleburan atau pengambilalihan melebihi Rp 2.500.000.000.000,00 (dua triliun lima ratus miliar rupiah); atau --- 2) nilai penjualan (omzet) badan usaha hasil penggabungan atau peleburan

atau pengambilalihan melebihi Rp 5.000.000.000.000,00 (lima triliun rupiah); --- 3) Sedangkan jika dua atau lebih pihak yang melakukan Penggabungan,

Peleburan dan Pengambilalihan bergerak di bidang perbankan, pelaku usaha wajib melakukan pemberitahuan kepada Komisi apabila nilai aset badan usaha hasil penggabungan atau peleburan atau pengambilalihan melebihi Rp 20.000.000.000.000,00 (dua puluh triliun rupiah). --- 4) Nilai penjualan dan/atau aset hasil penggabungan atau peleburan atau

pengambilalihan adalah jumlah nilai penjualan dan/atau aset yang dihitung berdasarkan penjumlahan nilai penjualan dan/atau aset tahun terakhir yang telah diaudit dari masing-masing pihak yang melakukan

halaman 30 dari 36

Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan ditambah dengan nilai penjualan dan/atau aset dari seluruh badan usaha yang secara langsung maupun tidak langsung mengendalikan atau dikendalikan oleh Badan Usaha yang melakukan Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan - 5) Nilai aset dan/atau nilai penjualan tidak hanya meliputi nilai aset dan/atau

nilai penjualan dari perusahaan yang melakukan Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan, tetapi juga nilai aset dan/atau nilai penjualan dari perusahaan yang terkait secara langsung dengan perusahaan yang bersangkutan secara vertikal, yaitu induk perusahaan sampai dengan Badan Usaha Induk Tertinggi dan anak perusahaan sampai dengan anak perusahaan yang paling bawah. Nilai aset dan/atau nilai penjualan Badan Usaha Induk Tertinggi yang dihitung adalah nilai aset dan/atau nilai penjualan seluruh anak perusahaan. Hal ini dikarenakan secara ekonomi, nilai aset anak perusahaan merupakan nilai aset dari induk perusahaan; --- 6) Badan Usaha Induk Tertinggi adalah pengendali tertinggi dari badan

usaha yang akan melakukan Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan, sedangkan anak perusahaan yang paling bawah adalah badan usaha yang dikendalikan secara tidak langsung oleh perusahaan yang akan melakukan Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan; --- 7) Nilai aset yang dihitung adalah nilai aset yang berlokasi di wilayah

Indonesia. Sama halnya dengan nilai penjualan, yang dihitung adalah nilai penjualan di wilayah Indonesia (tidak termasuk ekspor), baik yang berasal dari dalam maupun penjualan yang bersumber dari luar wilayah Indonesia. Dalam hal ini, nilai aset atau nilai penjualan yang dihitung adalah nilai aset atau nilai penjualan seluruh anak perusahaan secara langsung atau tidak langsung dari Badan Usaha Induk Tertinggi; --- 4.3 Bahwa dalam fakta persidangan diperoleh fakta bahwa nilai aset gabungan hasil

Pengambilalihan Saham dihitung hingga BUIT adalah sebesar Rp 4.371.896.796.172 (Empat Triliun Tiga Ratus Tujuh Puluh Satu Miliar Delapan Ratus Sembilan Puluh Enam Juta Tujuh Ratus Sembilan Puluh Enam Ribu Seratus Tujuh Puluh Dua Rupiah); --- 4.4 Bahwa berdasarkan fakta tersebut, Majelis Komisi menilai nilai aset telah melebihi

Nilai aset badan usaha hasil penggabungan atau peleburan atau pengambilalihan melebihi Rp 2.500.000.000.000,00 (dua triliun lima ratus miliar rupiah); --- 4.5 Bahwa Majelis Komisi menilai bahwa berdasarkan nilai aset setelah Terlapor

halaman 31 dari 36

melakukan pemberitahuan kepada Komisi sesuai dengan ketentuan Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999; --- 5. Tentang Keterlambatan Melakukan Pemberitahuan kepada Komisi; --- 5.1 Bahwa berdasarkan alat bukti Investigator, yaitu Surat Kementerian Hukum dan Hak

Asasi Manusia Nomor AHU-AH.01.10-01248 tanggal 21 Januari 2013 tentang Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan PT Sukses Abadi Karya Inti diketahui bahwa Pengambilalihan PT Sukses Abadi Karya Inti oleh Terlapor berlaku efektif secara hukum pada tanggal 21 Januari 2013; (vide penyelidikan B3 dan C2);--- 5.2 Bahwa berdasarkan keterangan Saksi PT Sukses Abadi Karya Inti, bahwa proses

akuisisi PT Sukses Abadi Karya Inti oleh Terlapor dilakukan pada tanggal 22 November 2012, dan berlaku efektif secara hukum melalui Surat Dirjen AHU Kemenkumham pada tanggal 21 Januari 2013. Selanjutnya Terlapor melakukan laporan terkait pengambilalihan saham PT Sukses Abadi Karya Inti ke KPPU pada tanggal 22 Maret 2013; --- 5.3 Bahwa berdasarkan ketentuan Kementerian Hukum dan HAM tersebut di atas dan

wajib melaporkan paling lama paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal telah berlaku efektif secara yuridis; --- 5.4 Bahwa Majelis Komisi mempertimbangkan hal sebagai berikut: --- 5.4.1 Bahwa dalam Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang

Penggabungan atau peleburan badan usaha, atau pengambilalihan saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 yang berakibat nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu, wajib diberitahukan kepada Komisi, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal penggabungan, peleburan atau pengambilalihan tersebut; --- 5.4.2 Bahwa dalam Pasal 1 Ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010

tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan Yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli

dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (selanjutnya disebut “PP Nomor 57 Tahun

2010”), yang dimaksud pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang

dilakukan oleh Pelaku Usaha untuk mengambilalih saham Badan Usaha yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas Badan Usaha tersebut; --- 5.4.3 Bahwa dalam Pasal 5 Ayat (1) PP Nomor 57 Tahun 2010 Pasal 5 Ayat 1

Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan lain yang berakibat nilai aset dan/atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu wajib diberitahukan secara tertulis kepada Komisi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal telah berlaku efektif secara

halaman 32 dari 36

yuridis Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan; --- 5.5. Bahwa berdasarkan fakta persidangan, proses akuisisi PT Sukses Abadi Karya Inti

oleh Terlapor dilakukan pada tanggal 22 November 2012, dan berlaku efektif secara hukum melalui Surat Dirjen AHU Kemenkumham pada tanggal 21 Januari 2013. Namun pada kenyatannya, Terlapor melakukan laporan terkait pengambilalihan saham PT Sukses Abadi Karya Inti ke KPPU pada tanggal 22 Maret 2013; --- 5.6. Bahwa berdasarkan ketentuan tersebut PT Dunia Pangan harus sudah melaporkan

kepada KPPU pengambilalihan PT Sukses Abadi Karya Inti selambat-lambatnya pada tanggal 4 Maret 2013; --- 5.7. Bahwa Majelis Komisi menilai Terlapor telah melakukan keterlambatan dalam

pelakukan pemberitahuan pengambilalihan saham kepada KPPU selama 13 (tiga belas) hari; --- 6. Tentang Pemenuhan Unsur Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999; --- 6.1. Menimbang bahwa Pasal 29 Undang Undang Nomor 5 Tahun 1999 berbunyi

sebagai berikut: ---

“(1) Penggabungan atau Peleburan badan usaha atau pengambilalihan saham

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 yang berakibat nilai asset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu, wajib memberitahukan kepada Komisi selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal penggabungan,

peleburan, atau pengambilalihan tersebut” ---

“(2) Ketentuan tentang penetapan nilai aset dan atau nilai penjualan serta tata

cara pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam

Peraturan Pemerintah” ---

6.2. Menimbang bahwa untuk membuktikan terjadi atau tidak terjadinya pelanggaran Pasal 29 Undang Undang Nomor 5 Tahun 1999, maka Majelis Komisi mempertimbangkan unsur-unsur sebagai berikut: --- 6.3. Unsur pengambilalihan saham (sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 Undang

Undang Nomor 5 Tahun 1999); --- 6.3.1 Bahwa Pasal 28 ayat (2) menyatakan ”Pelaku usaha dilarang melakukan

pengambilalihan saham perusahaan lain apabila tindakan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; --- 6.3.2 Bahwa Pasal 28 ayat (3) menyatakan “ Ketentuan lebih lanjut mengenai

penggabungan atau peleburan badan usaha yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dan ketentuan mengenai pengambilalihan saham

halaman 33 dari 36

perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), diatur dalam Peraturan Pemerintah; --- 6.3.3 Bahwa Peraturan Pemerintah yang mengatur lebih lanjut hal-hal yang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (3) adalah Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010; --- 6.3.4 Bahwa yang dimaksud dengan pengambilalihan berdasarkan pasal 1 ayat (3)

Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010 adalah “Perbuatan hukum yang dilakukan oleh pelaku usaha untuk mengambilalih saham badan usaha yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas badan usaha tersebut; --- 6.3.5 Bahwa berdasarkan uraian pada Tentang Hukum Putusan Butir 3 ini, telah

terjadi pengambilalihan saham PT Sukses Abadi Karya Inti oleh Terlapor yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas PT Sukses Abadi Karya Inti; --- 6.3.6 Bahwa dengan demikian unsur pengambilalihan saham terpenuhi; --- 6.4. Unsur nilai aset dan atau nilai penjualan yang melebihi jumlah tertentu; ---

6.4.1 Bahwa berdasarkan Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, ketentuan tentang penetapan nilai asset dan atau nilai penjualan serta tata cara pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah; --- 6.4.2 Bahwa Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang penetapan nilai asset

dan atau nilai penjualan serta tatacara pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada butir 6.4.1 diatas adalah PP Nomor 57 Tahun 2010; --- 6.4.3 Bahwa Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010 mengatur nilai asset badan usaha hasil penggabungan atau peleburan atau pengambilalihan melebihi Rp. 2.500.000.000.000,00 (dua triliun lima ratus miliar rupiah); atau nilai penjualan (omset) badan usaha hasil penggabungan atau peleburan atau pengambilalihan melebihi Rp 5.000.000.000.000,00 (lima triliun rupiah); --- 6.4.4 Bahwa berdasarkan uraian pada Butir 4 Tentang Hukum Putusan ini,

pengambilalihan saham PT Sukses Abadi Karya Inti, oleh Terlapor berakibat nilai aset melebihi jumlah tertentu sebagaimana dimaksud pada butir 4.4 diatas; --- 6.4.5 Bahwa dengan demikian unsur nilai asset dan atau nilai penjualan yang

melebihi jumlah tertentu terpenuhi; --- 6.5. Unsur keterlambatan melakukan pemberitahuan kepada Komisi; --- 6.5.1 Bahwa berdasarkan Pasal 29 ayat (1) Undang Undang Nomor 5 tahun 1999,

halaman 34 dari 36

berakibat nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu, wajib memberitahukan kepada Komisi selambat-lambatnya 30 (tiga puluh hari) sejak tanggal pengambilalihan tersebut; --- 6.5.2 Bahwa pengambilalihan PT Sukses Abadi Karya Inti oleh Terlapor berlaku

efektif secara hukum pada tanggal 31 Januari 2012, Namun pada kenyataannya Terlapor melakukan pemberitahuan kepada KPPU pada tanggal 22 Maret 2012; --- 6.5.3 Bahwa berdasarkan uraian sebagaimana dimaksud pada Butir 5 Tentang Hukum Putusan ini, Terlapor telah melakukan keterlambatan dalam melakukan pemberitahuan pengambilalihan selama 13 (tiga belas) hari; --- 6.5.4 Bahwa dengan demikian unsur keterlambatan melakukan pemberitahuan

kepada Komisi terpenuhi; --- 7. Tentang Pengecualian --- 7.1. Bahwa untuk menjelaskan mengenai pengecualian, Majelis Komisi perlu terlebih

dahulu untuk menguraikan apakah ketentuan kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ini berlaku atau tidak bagi Terlapor; --- 7.2. Bahwa PT Dunia Pangan dimiliki oleh PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (vide,

B2, B3, C2 dan C1); --- 7.3. Bahwa PT Sukses Abadi Karya Inti dimiliki oleh Hary Tjahjono dan Rudy Wong

Hing Gwan. (vide, B2, B3, C2 dan C1); --- 7.4. Bahwa Majelis Komisi mempertimbangkan hal sebagai berikut: --- 7.4.1. Berdasarkan ketentuan Pasal 7 PP Nomor 57 Tahun 2010 diatur bahwa

kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara tertulis tidak berlaku bagi Pelaku Usaha yang melakukan Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham antarperusahaan yang terafiliasi; --- 7.4.2. Bahwa berdasarkan penjelasan Pasal 7 PP Nomor 57 Tahun 2010, yang

dimaksud dengan “terafiliasi” adalah: --- (1) hubungan antara perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung,

mengendalikan atau dikendalikan oleh perusahaan tersebut; --- (2) hubungan antara 2 (dua) perusahaan yang dikendalikan, baik langsung

maupun tidak langsung, oleh pihak yang sama; atau --- (3) hubungan antara perusahaan dan pemegang saham utama; --- 7.5. Bahwa dalam fakta persidangan diperoleh fakta PT Tiga Pilar Sejahtera Food,Tbk

tidak terafiliasi dengan Hary Tjahjono dan Rudy Wong Hing Gwan sebagaimana dimaksud pada butir 7.2 dan 7.3 diatas; ---

halaman 35 dari 36

7.6. Bahwa berdasarkan kepemilikan tersebut diatas, PT Dunia Pangan tidak terafiliasi dengan PT Sukses Abadi Karya Inti.; --- 7.7. Bahwa dengan demikian maka kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara

tertulis kepada KPPU berlaku bagi Terlapor. --- 8. Tentang Kesimpulan Majelis Komisi; --- Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan dan uraian di atas, Majelis Komisi sampai pada kesimpulan sebagai berikut: --- 8.1. Bahwa benar telah terjadi pengambilalihan saham dan nilai aset gabungan yang nilai

assetnya melebihi jumlah tertentu sebagaimana diatur dalam PP Nomor 57 Tahun 2010; --- 8.2. Bahwa benar adanya keterlambatan melakukan pemberitahuan kepada Komisi

setelah efektif yuridis pengambilalihan saham; --- 9. Tentang Pertimbangan Majelis Komisi Sebelum Memutus; --- Menimbang bahwa sebelum memutuskan, Majelis Komisi mempertimbangkan hal-hal yang meringankan bagi Terlapor sebagai berikut; ---

9.1. Bahwa Terlapor telah bersikap kooperatif selama mengikuti persidangan;--- 9.2. Bahwa Akuisisi PT Sukses Abadi Karya Inti oleh Terlapor belum menambah

pendapatan Terlapor; --- 9.3. Bahwa Akuisisi PT Sukses Abadi Karya Inti oleh Terlapor akan membantu

perekonomian setempat dan juga nasional karena: --- a) PT Sukses Abadi Karya Inti akan merekrut tenaga kerja lokal khususnya di

sekitar pabrik; --- b) PT Sukses Abadi Karya Inti akan menjadi pembeli dari hasil padi masyarakat

sekitar dengan harga yang adil karena pabrik PT Sukses Abadi Karya Inti menggunakan fasilitas laboratorium untuk menguji gabah petani yang hasilnya dapat dicek langsung dan menjadi dasar harga beli yang adil; dan; --- c) PT Sukses Abadi Karya Inti akan menggunakan bahan baku pendukung seperti

karung dan kemasan yang dibeli dari supplier lokal termasuk UKM. --- . 10. Tentang Diktum Putusan dan Penutup; --- Menimbang bahwa berdasarkan fakta-fakta, penilaian, analisis dan kesimpulan di atas, serta dengan mengingat Pasal 43 ayat (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, Majelis Komisi: ---

MEMUTUSKAN

1. Menyatakan bahwa Terlapor terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999; ---

halaman 36 dari 36

2. Menghukum Terlapor, membayar denda sebesar Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) yang harus disetor ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha); --- 3. Memerintahkan Terlapor bahwa setelah melakukan pembayaran denda, maka

salinan bukti pembayaran denda tersebut dilaporkan dan diserahkan ke KPPU. --

Demikian putusan ini ditetapkan melalui musyawarah dalam Sidang Majelis Komisi pada hari Senin tanggal 7 April 2014 dan dibacakan di muka persidangan yang dinyatakan terbuka untuk umum pada hari Selasa tanggal 8 April 2014 oleh Majelis Komisi yang terdiri dari Dr.

Dalam dokumen Perkara Nomor 03KPPU M2014 (Halaman 25-36)

Dokumen terkait