• Tidak ada hasil yang ditemukan

144 Karena Pandangan Keliru, Dhamma menjadi Keliru Dengan Pandangan Benar, Dhamma menjadi Benar

dilahirkan untuk mati? Lebih lanjut lagi beliau memiliki rasa takut akan kematian, kehilangan, dan perpisahan sehingga memacu beliau mulai mencari jalan untuk lolos dari dukkha. Beliau mengamati dukkha dan menemukan bahwa dukkha berasal dari tubuh dan batin. Ini mendorongnya untuk terus- menerus memikirkan jalan untuk mengakhiri dukkha.

Beliau mencari petunjuk dan metode-metode latihan dari buku-buku dhamma. Beliau memulai dengan meditasi duduk, mencoba latihan–latihan dhamma melalui panduan yang beliau dapatkan dari buku- buku dhamma, dan banyak hal lainnya. Dari waktu ke waktu, beliau menemukan kedamaian dan beliau merasakan kebahagian dan kedamaian yang makin besar dari sebelumnya. Dengan kemajuan yang beliau alami, beliau mengetahui bahwa beliau berada pada jalur yang benar. Beliau memahami bahwa semakin damai yang ia rasakan, semakin bahagialah dirinya. Semakin bahagia dirinya, semakin dekat ia pada tujuan. Beliau berusaha lebih keras lagi begitu beliau memahami ini. Beliau makan lebih sedikit, tidur lebih sedikit untuk membangun kekuatan dalam melawan rasa takut akan kematian.

Phra Ajahn Chanon Chayanuntho 145

latihan dhamma ini. Beliau berlatih sampai pada titik dimana seberapa keras pun dia berusaha, tingkat kedamaiannya tidak dapat meningkat lagi. Seakan- akan dia merasakan tubuhnya mengidamkan kedamaian batin pada saat bermeditasi. Disini ia mulai menyadari ada yang salah dan dia mulai mengubah metode latihannya. Beliau menemukan metode atau cara untuk memadamkan hasrat terhadap kedamaian batin. Di dalam meditasinya beliau menyadari bahwa beliau harus tetap netral.

Begitu batinnya netral, maka batinnya menjadi tenang. Beliau bahkan tidak dapat merasakan pernafasannya dan terpisah dari tubuhnya. Tidak ada apa-apa selain ketiadaan.

Di momen ini, beliau bertanya-tanya mengapa beliau tidak dapat merasakan keberadaan dirinya di dalam tubuh? Meski tampaknya beliau telah mencapai tujuan dari perjalanan dhamma-nya, semua itu kembali membawa penderitaan. Karena beliau tidak dapat memahami dengan baik semua yang telah beliau alami, kemajuan latihannya berhenti di tempat hingga hampir 30 tahun lamanya. Mengalami sensasi lenyapnya tubuh, batin yang sebelumnya

146 Karena Pandangan Keliru, Dhamma menjadi Keliru Dengan Pandangan Benar, Dhamma menjadi Benar

tanpa rasa takut kembali menjadi ketakutan.

Batinnya berpikir kalau ia tidak dapat merasakan tubuhnya, bisa saja batin murni pun tidak akan pernah dapat kembali ke tubuhnya lagi dan ia akan mati. Dengan pola pikir seperti ini, beliau mencoba untuk mencegah batinnya keluar dari tubuhnya. Pada saat bermeditasi dan merasakan bahwa perasaan akan tubuhnya mulai memudar, beliau mencoba menggerakkan lengan dan tungkainya agar tetap bisa merasakan keberadaan tubuh. Dia terus mengulangi ini dan latihannya tidak mengalami kemajuan apapun karena beliau tidak memiliki guru yang menasehatinya.

Selama beliau masih memiliki rasa takut terhadap meditasi yang mendalam, beliau berusaha sewajarnya untuk menjaga batinnya tetap netral.

Beliau berpikir bahwa segalanya akan terjadi secara spontan. Sepanjang masa-masa tersebut, beliau selalu menderita. Beliau menderita karena hasrat untuk terbebas dari dukkha. Beliau selalu berusaha untuk berlatih meditasi namun tidak pernah merenungkan kebenaran akan tubuh. Beliau percaya

Phra Ajahn Chanon Chayanuntho 147

damai. Setelah beberapa tahun, beliau tetap tidak mengalami kemajuan. Satu-satunya yang beliau dapatkan adalah penderitaan yang lebih banyak lagi karena hasratnya untuk terbebas dari dukkha.

Semakin beliau berlatih, semakin banyak penderitaan yang beliau derita. Beliau bukan hanya tidak dapat menemukan jalan keluar dari dukkha, namun juga tidak tahu harus berbuat apa. Beliau mencoba merenungkan bagaimana Sang Buddha mencapai pencerahan sempurna selama masa hidup-Nya.

Beliau membaca dan mencoba banyak metode namun tetap tidak mengalami kemajuan. Beliau merasa sangat lelah dan kecil hati, tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan untuk mengalami kemajuan dalam latihan dhamma ini. Beliau juga tidak tahu siapa yang dapat dijadikan tempat bertanya atau berdiskusi. Hal ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Beliau tidak dapat menemukan jalan keluarnya. Saat itu, beliau sangatlah menderita.

Beliau menderita dan air matanya berlinang setiap kali memikirkan perjuangan yang telah dan akan dilaluinya sedemikian menguras fisik dan mental.

Selama penderitaan ini berlangsung, beliau terus

148 Karena Pandangan Keliru, Dhamma menjadi Keliru Dengan Pandangan Benar, Dhamma menjadi Benar

atau yang pernah beliau dengar sendiri reputasinya, agar beliau dapat bertanya kepada guru tersebut bagaimana metode berlatih dhamma yang benar.

Beliau tidak menceritakan kepada guru manapun tentang pengalaman meditasi mendalam yang menyebabkan keberadaan tubuhnya lenyap. Beliau tetap menyimpannya untuk dirinya sendiri.

Beliau menggunakan metode coba-coba untuk mencari jalan yang benar untuk terbebas dari penderitaan. Semua usaha ini menghabiskan hampir 30 tahun lamanya. Oleh karena itu, beliau tidak ingin orang lain untuk menghabiskan waktu sebanyak ini.

Pada tahun 1980, Beliau menjadi seorang bhikkhu dan berlatih dhamma pada saat berusia 21 tahun.

Dan akhirnya beliau menembus kebenaran dan mencapai intisari kebenaran pada tanggal 27 Desember 2006, tepatnya antara pukul 13.20 – 14.00 pada saat usia 47 tahun. Di hari tersebut, beliau menyadari bahwa ketiga dunia telah terbuka.

Buddha, ajaran Buddha (dhamma), dan bhikkhu agung (sangha) telah menyatu. Pada saat itu, timbul momen keajaiban di dalam batin, yaitu saat batin menyadari

Phra Ajahn Chanon Chayanuntho 149

dunia ini yang layak untuk dilekati, bahwa batin mur-ni telah terpisah secara keseluruhan dari pañca khandha. Batin murni telah melampaui pañca khandha. Ini adalah kebebasan dan kekosongan.

Beliau menyadari bahwa tidak ada yang disebut pañca khandha, tidak ada yang disebut batin murni.

Dhamma hanyalah fenomena-fenomena yang merupakan hal yang biasa. Mereka semua bersifat tiada-diri dan tidak layak untuk dilekati. Demikianlah apa adanya. Itu semua hanyalah fenomena muncul dan lenyap. Itu semua adalah kebenaran dari fenomena (dhamma), dan kebenaran ini adalah tiada-diri (anattā).

Begitu pengetahuan intuitif terhadap dhamma telah terlihat jelas, perasaan lega dan kebahagiaan muncul di dalam batinnya. Air mata kebahagiaan mengalir tanpa terbendung.

Beliau menyadari keagungan Sang Buddha hingga beliau membungkuk dan memberi penghormatan dengan penuh penghargaan kepada Sang Buddha. Beliau merasa tubuh dan batinnya menunduk dan bersujud di hadapan Buddha dan

150 Karena Pandangan Keliru, Dhamma menjadi Keliru Dengan Pandangan Benar, Dhamma menjadi Benar

bertekad untuk mendedikasikan tubuh dan batinnya kepada Sang Buddha. Beliau menyadari bahwa ajaran Sang Buddha adalah kebenaran, kebersihan, dan kesucian. Tidak ada yang dapat menyamai dhamma.

Beliau sepenuh hati mengagumi Buddha atas dhamma yang telah dibabarkan. Beliau kagum,

“Bagaimana Sang Buddha dapat mengetahui kebenaran yang sedemikian agung (dhamma)?”

Pada saat itu, batin murni menyatu dengan Buddha, ajaran Buddha (Dhamma), dan Bhikkhu Agung (Sangha), berserta ketiga objek mental (Dhammadhātu). Segalanya menjadi satu. Itu melampaui pañca khandha. Itu bebas dan jelas.

Tanpa ragu, beliau telah menyadari bahwa beliau tidak lagi perlu berkelana di tiga alam (Lokadhātu).

Beliau akhirnya berhasil setelah mengalami kegagalan yang tidak terhitung hampir di sepanjang hidupnya.

Beliau takjub, “Saya telah menang. Sungguhkah?

Saya bisa menang !”. Meski itu adalah kemenangan yang pertama, dan memang yang satu-satunya, kemenangan itu adalah kemenangan yang sangat hebat. Selanjutnya, beliau berdiam dalam kondisi

Phra Ajahn Chanon Chayanuntho 151

Beliau membutuhkan waktu beberapa saat untuk membiasakan diri hidup dengan keadaan alami tersebut. Seakan-akan melupakan siang dan malam, batin murni telah tersadarkan dan beristirahat penuh serta hidup di dalam keadaan alami sejati.

Setelah beliau menyadari kebenaran tertinggi, beliau merenungkan bahwa metode coba-coba yang beliau jalankan di masa lalu adalah pemborosan waktu hingga bertahun-tahun. Hal tersebut akibat ketidaktahuan akan metode yang benar dan tidak adanya seorang guru yang telah tercerahkan, yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam melalui perjalanan ini, yang dapat menunjukkan kepadanya jalan yang benar. Karena itulah beliau mengalami kesulitan dalam memahami. Kondisi ini tentu berbeda dengan masa ketika Sang Buddha masih hidup. Sang Buddha memiliki pengetahuan tentang metode dan strategi yang benar untuk menunjukkan kebenaran sejati kepada batin setiap pendengar-Nya, dan melepaskan batin murni dari cengkeraman kemelekatan. Saat ini, Sang Buddha tidak dapat ditemui lagi untuk bertatap muka secara langsung.

Warisan ajaran Sang Buddha adalah satu-satunya

152 Karena Pandangan Keliru, Dhamma menjadi Keliru Dengan Pandangan Benar, Dhamma menjadi Benar

yang diwariskan oleh-Nya kepada semua makhluk.

Waktu telah berlalu. Mereka yang belum mampu memahami ajaran Sang Buddha secara mendalam mengajarkan kepada orang lain hanya berdasarkan pemahaman mereka, bukan kebenaran dari ajaran Sang Buddha. Akibatnya, praktisi-praktisi Buddhis tidak dapat mencapai tujuan tertinggi sehingga mereka harus melalui tahapan coba-coba dan tidak mengalami kemajuan saat berusaha meraih kebenaran dhamma. Oleh karena itu, Phra Ajahn Chanon Chayanuntho memiliki tekad untuk menga-jarkan dhamma dengan menitikberatkan pada pañca-khandha, yang merupakan metode yang benar sesuai dengan prinsip Empat Landasan Perhatian Penuh (Cattari Mahāsatipatthāna). Ini adalah jantung dari pemadaman dukkha dan pembebasan dari dukkha. Beliau mengajarkan praktisi-praktisi Buddhis untuk memahami jalan ini sehingga tidak ada yang perlu memboroskan waktu seperti yang telah ia lakukan di masa lampau.

Phra Ajahn Chanon Chayanuntho.

..

Dokumen terkait