Menimbang, bahwa adapun maksud dan tujuan gugatan Penggugat adalah sebagaimana dijelaskan dalam duduk sengketa di atas;
Menimbang, bahwa adapun obyek sengketa in casu yang dimohonkan untuk dibatalkan atau dinyatakan tidak sah adalah : “ Keputusan Tata Usaha Negara berupa Keputusan Bupati Kutai Kartanegara Nomor : 590/525.29/26/A.Ptn tertanggal 28 November 2013 Tentang Izin Lokasi Untuk Perkebunan Kelapa Sawit PT. Agro Bumi Kaltim Di Desa Teluk Bingkai, Lamin Pulut Dan Lamin Telihan Kecamatan Kenohan seluas ± 11.600 Hektar”; (vide bukti P-1 = T-1);
Menimbang, bahwa sebelum Majelis Hakim mempertimbangkan mengenai eksepsi Tergugat dan pokok persengketaan para pihak, maka terlebih dahulu akan dipertimbangkan mengenai hal-hal formal terkait suatu gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara yaitu : 1. Apakah Keputusan obyek sengketa dalam perkara ini telah memenuhi ketentuan Pasal
1 angka 9 Undang-Undang Nomor : 51 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara; 2. Apakah Penggugat telah memenuhi unsur kepentingan seperti dikehendaki dalam
Halaman 63 dari 72. Putusan No. 07/G/2016/PTUN-SMD Perubahan Atas Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara;
3. Apakah Pengajuan Gugatan Penggugat masih dalam tenggang waktu 90 (sembilan puluh) hari seperti dimaksudkan dalam ketentuan Pasal 55 Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara;
Menimbang, bahwa terhadap hal pada angka 1 tersebut di atas, Majelis Hakim akan mempertimbangkan sebagai berikut:
Menimbang, bahwa ketentuan dalam Pasal 47 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara menyebutkan bahwa “Pengadilan bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara”;
Menimbang, bahwa ketentuan dalam Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang mengatur, bahwa yang dimaksud dengan:
“sengketa tata usaha negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara antara orang atau badan hukum perdata dengan badan atau pejabat tata usaha negara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”
Menimbang, bahwa dari rumusan Pasal 1 angka 10 dan Pasal 47 tersebut di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan hukum bahwa peradilan tata usaha negara hanya berwenang memeriksa dan memutus sengketa tata usaha negara yang objek sengketanya adalah keputusan tata usaha negara;
Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan keputusan tata usaha negara adalah sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang menyatakan:
“Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang berisi tindakan hukum tata usaha negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang
Halaman 64 dari 72. Putusan No. 07/G/2016/PTUN-SMD bersifat konkrit, individual dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.”
Menimbang, bahwa setelah mencermati objek sengketa a quo, Majelis Hakim berpendapat bahwa objek sengketa yang digugat oleh Penggugat tersebut, telah memenuhi ketentuan Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009;
Menimbang, bahwa selanjutnya setelah mencermati dalil-dalil serta bukti-bukti yang dihadirkan para pihak di persidangan, Majelis Hakim tidak menemukan adanya fakta bahwa objek sengketa a quo termasuk kategori keputusan tata usaha negara yang dikecualikan dapat diuji di Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana diatur dalam Pasal 2 huruf a sampai dengan huruf g Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004, dan Pasal 49 huruf a dan b Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, serta tidak pula termasuk sengketa yang harus diselesaikan melalui upaya administrasi terlebih dahulu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan hukum di atas, mengenai kewenangan memeriksa dan memutus sengketa in litis, Majelis Hakim berpendapat bahwa objek sengketa dapat diuji dan menjadi kewenangan peradilan tata usaha negara untuk memeriksa dan memutusnya, dan berdasarkan ketentuan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, Pengadilan Tata Usaha Negara Samarinda berwenang untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa a quo;
Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim mempertimbangkan aspek formal pada angka 2 tentang kepentingan Penggugat untuk mengajukan gugatan a quo, sebagai berikut:
Menimbang, bahwa Apakah Penggugat telah memenuhi unsur kepentingan seperti dikehendaki ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor : 9 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha
Halaman 65 dari 72. Putusan No. 07/G/2016/PTUN-SMD Negara tidak menganut asas actio popularis, hak gugat diberikan hanya kepada orang atau badan hukum perdata yang mempunyai kepentingan (waar geen belang geen actie);
Menimbang, bahwa ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor : 9 Tahun 2004 menyatakan : “Orang atau badan hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusann Tata Usaha Negara dapat mengajukan gugatan tertulis kepada Pengadilan yang berwenang yang berisi tuntutan agar keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu dinyatakan batal atau tidak sah dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan atau rehabilitasi”;
Menimbang, bahwa dalam hukum administrasi negara suatu kepentingan atau nilai yang harus dilindungi oleh hukum adalah harus dilihat adanya hubungan antara orang yang bersangkutan di satu pihak, dengan Keputusan Tata Usaha Negara di lain pihak, dan hubungan ini harus bersifat langsung ;
Menimbang, bahwa menurut pendapat Indroharto, SH dalam bukunya “Usaha Memahami Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara”, Penerbit Pustaka Sinar Harapan Jakarta Tahun 1993 edisi revisi buku II cetakan ke empat halaman 37 sampai dengan halaman 40 pada pokoknya menyebutkan pengertian kepentingan dalam kaitannya dengan hukum acara Tata Usaha Negara mengandung 2 (dua) arti yaitu :
1. Menunjuk kepada nilai yang harus dilindungi oleh hukum, dan;
2. Kepentingan proses, artinya apa yang hendak dicapai dengan melakukan suatu proses gugatan yang bersangkutan;
Ad. 1. Kepentingan dalam arti suatu nilai yang harus dilindungi oleh hukum;
- Kepentingan dalam arti suatu nilai yang harus dilindungi oleh hukum adalah hal ikwal yang ditimbulkan atau menurut nalar dapat diharapkan akan timbul dengan keluarnya Keputusan Tata Usaha Negara;
Halaman 66 dari 72. Putusan No. 07/G/2016/PTUN-SMD - Kepentingan dalam arti suatu nilai yang harus dilindungi oleh hukum adalah dapat dilihat adanya hubungan antara orang yang bersangkutan disatu pihak dengan keputusan Tata Usaha Negara yang bersangkutan di lain pihak;
- Dalam konkretnya adanya suatu kepentingan ditentukan oleh faktor-faktor yang ada kaitannya dengan orangnya dan di lain pihak oleh faktor-faktor yang ada kaitannya dengan keputusan Tata Usaha Negara yang bersangkutan. Kepentingan dalam kaitannya dengan orangnya (yang berhak menggugat) ada terdapat apabila kepentingan itu ada hubungannya dengan Penggugat sendiri, kepentingan itu bersifat pribadi, kepentingan itu harus bersifat langsung dan kepentingan itu secara obyektif dapat ditentukan baik mengenai luas maupun intensitasnya, sedangkan kepentingan dalam hubungannya dengan keputusan Tata Usaha Negara yang bersangkutan ada tersedianya, apabila Penggugat dapat menunjukkan bahwa Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat merugikan Penggugat secara langsung;
Ad. 2. Kepentingan proses, artinya apa yang hendak dicapai dengan melakukan suatu proses gugatan yang bersangkutan ;
- Kepentingan dalam arti apa yang hendak dicapai dengan melakukan suatu proses gugatan yang bersangkutan, ada terdapat apabila Penggugat dapat menunjukkan tujuan Penggugat menggugat. Adagium hukum acara Peradilan Tata Usaha Negara tertulis menyebutkan “Point d’interest-Point d’action, yang artinya bila ada kepentingan, maka disitu baru boleh berproses;
- Menimbang, bahwa lebih lanjut Prof. Dr. Philipus M. Hajon, S.H., dkk dalam bukunya “Pengantar Hukum Administrasi Indonesia” Penerbit Gajah Mada University Press Yogyakarta Cetakan Ke empat Tahun 1995 halaman 324 menyebutkan Penggugat (seseorang atau badan hukum perdata) mempunyai kepentingan menggugat (hak gugat), apabila ada hubungan kausal langsung antara keputusan Tata Usaha Negara yang digugat dengan kerugiannya atau kepentingannya ;
Halaman 67 dari 72. Putusan No. 07/G/2016/PTUN-SMD Menimbang, bahwa berpedoman pada ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor : 9 Tahun 2004, dan doktrin hukum acara Peradilan Tata Usaha Negara tentang kepentingan sebagaimana telah dipaparkan di atas (vide supra), Majelis Hakim berpendapat dalam mempertimbangkan dan menilai apakah Penggugat telah memenuhi unsur kepentingan seperti dikehendaki ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor : 9 Tahun 2004 ataukah tidak, berpatokan pada permasalahan hukum apakah benar ada terdapat hubungan kausal langsung antara Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat (Keputusan obyek sengketa) dengan kerugian/kepentingan Penggugat, sehingga Penggugat dinilai telah memenuhi unsur kepentingan, ataukah sebaliknya tidak ada terdapat hubungan kausal langsung antara Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat (Keputusan obyek sengketa) dengan kerugian / kepentingan Penggugat, sehingga Penggugat dinilai tidak memenuhi unsur kepentingan seperti dikehendaki ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor : 9 Tahun 2004, sebagaimana pertimbangan hukum berikut ini :
- Bahwa Penggugat pada tanggal 2 Desember 2010 telah mengajukan permohonan kepada Tergugat berdasarkan Surat Permohonan Ijin Lokasi Untuk Perkebunan Kelapa Sawit PT. Madu Indah Sejahtera Nomor : 07/MIS-TGR/LM/XII/2010 tanggal 02 Desember 2010 (vide bukti P-6);
- Bahwa Penggugat telah memenuhi syarat -syarat terkait permohonan ijin yang diminta Tergugat sebagaimana ketentuan yang berlaku dan mengeluarkan biaya - biaya terkait proses untuk memenuhi syarat yang diminta Tergugat seperti biaya peninjauan lokasi, biaya pengukuran, advis tekhnis dan lain - lain yang apabila diperhitungan-kan telah cukup besar yang telah dikeluarkan Penggugat; - Bahwa Penggugat mengirimkan surat kembali yang ditujukan Kepada
Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara cq. Bagian Administrasi Pertanahan No. 58/MIS-TGR/VII/2013 tanggal 16 September 2013;
- Bahwa Tergugat sudah membalas Permohonan Penggugat surat No. 58/MIS-TGR/VII/2013 tanggal 16 September 2013 dengan Balasan Tergugat Surat No.
Halaman 68 dari 72. Putusan No. 07/G/2016/PTUN-SMD 958.1/590/PPT/XI/2013 tanggal 11 Nopember 2013 Perihal ‘KLARIFIKASI STATUS LAHAN IJIN LOKASI KEBUN” (vide bukti T-39);
- Keterangan Saksi Tergugat bapak Setianto Nugroho Aji, SH., yang memberikan keterangan di bawah sumpah menyatakan bahwa Penggugat telah mengajukan surat permohonan kepada Tergugat pada tanggal 02 Desember 2010 dan 16 September 2013 dan telah Tergugat balas surat permohonan tersebut pada tanggal 11 Nopember 2013, yang dibuat oleh saksi sendiri sebagai a/n. Assisten Pemerintahan Umum dan Hukum Kepala Bagian Administrasi Pertanahan.
Menimbang, bahwa berdasarkan fakta hukum diatas Tergugat yang telah membalas Permohonan Penggugat surat No. 58/MIS-TGR/VII/2013 tanggal 16 September 2013 dengan Balasan Tergugat Surat No. 958.1/590/PPT/XI/2013 tanggal 11 Nopember 2013 Perihal “Klarifikasi Status Lahan Ijin Lokasi Kebun” (vide bukti T-39) dan diperkuat dengan Keterangan Saksi Tergugat bapak Setianto Nugroho Aji, SH., yang menyatakan bahwa Penggugat telah mengajukan surat permohonan kepada Tergugat pada tanggal 02 Desember 2010 dan 16 September 2013 dan telah Tergugat balas surat permohonan tersebut pada tanggal 11 Nopember 2013, yang dibuat oleh saksi sendiri sebagai a/n. Assisten Pemerintahan Umum dan Hukum Kepala Bagian Administrasi Pertanahan, maka terungkap fakta Penggugat tidak memiliki hubungan hukum lagi di lokasi obyek sengketa a quo;
Menimbang, bahwa terhadap keterangan 3 saksi ( Surianto, Apitson dan Walmansyah ) yang diajukan oleh pihak Penggugat yang pada pokoknya menyatakan:
- PT. Madu Indah Sejahtera yang sudah melakukan sosialisasi/pertemuan dengan warga dan mendapatkan rekomendasi;
- telah terjadi kesepakatan pembagian plasma dengan PT. Madu Indah Sejahtera; - sudah terjalin kerjasama pengobatan dengan masyarakat;
- Terjadi penolakan oleh warga terhadap kegiatan PT. Agro Bumi Kaltim.
Hal ini secara mutatis muntadis sudah terbantahkan dengan adanya surat Tergugat No. 958.1/590/PPT/XI/2013 tanggal 11 Nopember 2013 Perihal “Klarifikasi Status Lahan Ijin
Halaman 69 dari 72. Putusan No. 07/G/2016/PTUN-SMD Lokasi Kebun” (vide bukti T-39), sehingga Majelis Hakim berkesimpulan Penggugat sudah tidak mempunyai lagi kepentingan di lokasi obyek sengketa a quo;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, Majelis Hakim menilai tidak ada terdapat hubungan kausal langsung antara Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat (obyek sengketa) dengan kerugian / kepentingan Penggugat, sehingga Penggugat dinilai tidak memenuhi unsur kepentingan seperti dikehendaki ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor : 9 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan oleh karenanya gugatan Penggugat dinyatakan tidak diterima;
Dalam Eksepsi :
Menimbang, bahwa oleh karena gugatan Penggugat dinyatakan tidak diterima karena tidak memiliki kepentingan sebagaimana ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, maka terhadap eksepsi dari Tergugat tidak perlu dipertimbangkan lagi dan gugatan Penggugat dinyatakan tidak diterima;
Dalam Pokok Perkara :
Menimbang, bahwa oleh karena gugatan Penggugat dinyatakan tidak diterima karena tidak memiliki kepentingan sebagaimana ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, maka terhadap pokok perkaranya tidak perlu dipertimbangkan lagi;
Menimbang, bahwa oleh karena tidak diterimanya gugatan Penggugat tersebut, maka sesuai dengan ketentuan Pasal 110 dan Pasal 112 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Jo. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 Jo. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara dibebankan untuk membayar biaya yang timbul dalam sengketa ini, yang besarnya akan ditetapkan dalam amar putusan di bawah ini;
Halaman 70 dari 72. Putusan No. 07/G/2016/PTUN-SMD Menimbang, bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 107 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dengan demikian segala alat bukti surat dan keterangan Saksi telah seluruhnya dipertimbangkan, akan tetapi hanya bukti surat dan keterangan Saksi yang relevan dan cukup yang dijadikan dasar pertimbangan Pengadilan untuk mengambil putusan, namun demikian bukti surat dan keterangan Saksi yang tidak relevan dan tidak dijadikan dasar bagi Pengadilan dalam memutus tetap terlampir dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam berkas perkara ini;
Mengingat, ketentuan pasal-pasal dalam Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan Undang Nomor : 9 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor : 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang-Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik, beserta peraturan lain yang berkaitan dengan sengketa ini;
M E N G A D I L I
1. Menyatakan Gugatan Penggugat tidak diterima;
2. Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp.411.000,- ( Empat Ratus Sebelas Ribu Rupiah ).
Demikianlah diputus dalam Rapat Musyawarah Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Samarinda pada hari Kamis, tanggal 18 Agustus 2016, oleh kami KUKUH SANTIADI, S.H.,M.H., sebagai Hakim Ketua Majelis, YULIANT PRAJAGHUPTA, S.H., dan AGUSTIN ANDRIANI, S.H., masing-masing sebagai Hakim Anggota, Putusan diucapkan pada persidangan yang terbuka untuk umum pada hari Kamis, tanggal 25 Agustus 2016, oleh Majelis Hakim tersebut, dengan dibantu oleh RIDUANSYAH, S.H., sebagai Panitera Pengganti pada Pengadilan Tata Usaha Negara Samarinda, dengan dihadiri oleh Kuasa Hukum Penggugat dan Kuasa Hukum Tergugat ;