BAB III KERANGKA PEMIKIRAN
3.2 Teori Adopsi Varietas
Berkaitan denganadopsi suatu varietas unggul pada usahatani, Herdt dan Capule (1983) memberikan penjelasan bahwa kerangka teoritis sangat bermanfaat karena menyediakan suatu alat untuk mengelompokkan beberapa faktor yang berpotensial penting dalam proses adopsi. Sebelum varietas tertentu dikatakan
memiliki keunggulan daripada varietas yang ada sebelumnya, berbagai prosedur pengujian telah dilaksanakan. Jika proses pengujian membuktikan bahwa varietas tersebut mempunyai kelebihan maka varietas tersebut berhak menyandang predikat sebagai varietas unggul.
Varietas unggul disebut sebagai suatu inovasi jika varietas tersebut dianggap oleh petani sebagai sesuatu yang baru dan sebelumnya belum pernah dikenali. Ketika dihadapkan kepada varietas yang baru, petani sebagai pembuat keputusan mempunyai dua alternatif yaitu tetap bertahan pada varietas yang lama atau beralih kepada varietas baru.
Misalkan petani padi dalam memproduksi gabah menggunakan input tetap berupa lahan sawah (L) dan input variabel yang berupa pupuk (F). Input variabel lain seperti tenaga kerja tidak dimasukkan secara eksplisit ke dalam model dengan mengasumsikan bahwa besarannya berbanding lurus dengan luas lahan. Dengan teknologi lama, output berupa gabah (Q) yang dihasilkan dirumuskan dengan:
Q = f0 (F, L)
Sementara output dengan teknologi baru mempunyai fungsi: Q = f1(F, L)
Varietas unggul merupakan salah satu bentuk teknologi pada bidang pertanian. Karena varietas unggul merupakan bentuk teknologi, maka penerapan inovasi tersebut oleh petani dapat menggeser fungsi produksi lama yang dimiliki petani. Ada beberapa kemungkinan perubahan dari fungsi produksi yang lama menjadi fungsi produksi yang baru akibat adopsi teknologi berupa varietas unggul. Hal itu dapat terlihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Beberapa Pola Alternatif Fungsi Produksi Teknologi Lama dan Teknologi Baru
Sumber: Herdt dan Capule (1983), diolah
Gambar 1a menunjukkan bahwa teknologi yang baru memberikan keunggulan dalam hal kuantitas hasil pada semua tingkat pupuk dibandingkan teknologi yang lama. Inovasi teknologi yang mempunyai karakter seperti inilah yang sangat diinginkan dan terus dicari. Pada Gambar 1b, kedua teknologi memberikan hasil yang sama pada tingkat pupuk nol. Selanjutnya begitu pupuk ditambahkan, teknologi baru selalu memberikan hasil yang lebih tinggi dari alternatifnya. Gambar 1c merupakan kondisi yang banyak bersesuaian dengan
0 Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 F1 Yield (c) f0 f1 Fertilizer F2 F3 Y1 Y2 Y3 Y4 0 (a) Yield Fertilizer f0 f1 F2 F1 0 Y1 Y2 Y3 Y4 f1 (b) Yield Fertilizer f0 F1 F2
kenyataan di lapang yaitu jika varietas baru diberikan pupuk dengan kuantitas rendah (lebih kecil dari F3) maka hasil dari varietas baru lebih rendah daripada varietas lama. Sementara jika pupuk yang diberikan adalah lebih tinggi daripada
level tertentu (F3) maka teknologi baru akan memberikan output yang lebih tinggi. Sebagaimana varietas berdaya hasil tinggi (High Yielding Varieties/ HYV) lainnya, varietas padi hibrida menuntut perlakuan yang baik termasuk dalam hal pemupukan agar mampu menghasilkan output yang tinggi. Jika pupuk yang diberikan sedikit maka produksi gabah yang dihasilkan lebih rendah daripada varietas unggul inbrida. Agar varietas padi hibrida dapat menghasilkan output yang lebih tinggi maka pupuk yang diberikan juga harus dalam kuantitas yang lebih tinggi. Oleh karena itu, inovasi varietas padi hibrida termasuk bentuk teknologi baru yang diilustrasikan pada Gambar 1c.
Dengan menggunakan Pq untuk mewakili harga output, Pf untuk harga pupuk, dan K0 untuk biaya input tetap (lahan), laba dengan menggunakan teknologi lama adalah:
R0 = Pq.Q0 – Pf.F0 = Pq.f0(F, L) – Pf.F0 – K0
Apabila penerapan teknologi baru memerlukan pengetahuan yang lebih besar atau biaya input tetap yang lain (K) maka laba dengan teknologi baru adalah:
R1 = Pq.Q1 – Pf.F1 – K0 – K
Maksimisasi laba menunjukkan tingkat optimal pupuk untuk diaplikasikan pada teknologi tertentu. Kondisi tersebut dicapai pada saat Nilai Produk Marginal (NPM) pupuk sama dengan biaya pupuk. Gambar 2 menunjukkan total penerimaan (fo*P0 dan f1*P1) dan kurva biaya total (TC0 dan TC1) dari dua
teknologi untuk 1a. Tingkat pupuk yang memaksimalkan laba dari dua teknologi adalah F0 dan F1 dengan total laba AB dan DE.
Jika teknologi baru tidak memerlukan biaya tetap tambahan maka laba dengan f1 adalah CE dan adopsi diharapkan terjadi. Tambahan biaya tetap yang besar berkaitan dengan teknologi baru (K, yang sama dengan OG pada Gambar 2) menyebabakan teknologi baru kurang menarik.
Gambar 2 dapat menggambarkan situasi dimana tidak ada tambahan biaya tetap pada teknologi baru tetapi biaya efektif pupuk berbeda untuk kelompok petani yang berbeda. Misal TC0 adalah biaya untuk kelompok yang satu dan TC0׀ biaya untuk kelompok yang kedua. Kelompok kedua akan menemukan penggunaan pupuk tidak mempunyai manfaat ekonomi dengan teknologi f0 karena laba dapat dimaksimalkan tanpa penggunaan pupuk dengan laba OH. Petani yang membayar TC0 akan menemukan penggunan pupuk menguntungkan pada tingkat Fo, bahkan dengan teknologi yang lama. Dengan teknologi baru (f1*P1) petani yang membayar TC0׀ akan menemukan penggunaan pupuk optimalnya pada F1׀ untuk mendapatkan laba maksimum E׀C׀. Sementara petani yang yang membayar TC0 akan optimal untuk menggunakan pupuk sebanyak F1 untuk mendapatkan maksimum laba EC. Hal ini menggambarkan hasil yang dikenal umum bahwa semakin tinggi biaya per unit input variabel, semakin kecil tingkat penggunaan optimal
Jika Gambar 1b menunjukkan respon hasil gabah terhadap pupuk, maka pada beberapa harga padi, tingkat pupuk optimal untuk teknologi lama lebih rendah daripada baru, tapi teknologi baru disukai karena menghasilkan laba yang lebih besar. Pada beberapa harga tinggi, tanpa pemupukan akan optimal, dan
petani mungkin tidak mempedulikan teknologi lama atau baru. Sebagai tambahan, suatu keharusan untuk menambah biaya tetap berkaitan dengan teknologi baru dapat menyebabkan teknologi lama lebih menarik bagi petani.
Gambar 2. Hubungan antara Kurva Penerimaan dan Kurva Biaya Terkait Perubahan Teknologi
Sumber: Herdt dan Capule (1983)
Jika Gambar 1c menunjukkan hubungan hasil antara teknologi lama dan baru, maka bahkan jika tak ada tambahan biaya tetap yang terkait dengan varietas baru dan tak ada perbedaan pada harga pupuk antara kelompok petani, seorang pembuat keputusan yang rasional mungkin memilih f0 jika jumlah pupuk yang tersedia terbatas. Keterbatasan mungkin disebabkan kekurangan modal atau kredit
TC dan TR Fertilizer f1*P1 TC1 TC0 ׀ TC0 F0 F1 F1 ׀ C׀ E׀ 0 G J H E D C B A f0׀*P0
dalam unit usahatani atau karena pupuk tidak tersedia dimana usahatani berlokasi
(Herdt dan Capule, 1983). Perlu diketahui bahwa petani sebagaimana semua orang, bertindak sesuai
dengan yang ia percayai yang mungkin berbeda dengan kenyataan. Jika mereka percaya fungsi respon hasil dan biaya dari suatu teknologi baru akan menghasilkan manfaat yang lebih rendah maka mereka tidak akan mengadopsi teknologi baru terlepas dari kenyataan yang objektif.