• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Arkitaipal ( archetype)

Dalam dokumen Tradisi Andung Pada Masyarakat Batak Toba (Halaman 41-49)

2.2. Landasan Teor

2.2.1 Teori Arkitaipal ( archetype)

. Pendekatan antropologi lebih menekankan segi kebudayaannya dan akan melihat kebiasaan-kebiasaan masa lampau yang berulang-ulang yang masih dilakukan oleh masyarakat setempat. Peneliti memperhatikan bagaimana proses pewarisan tradisi tersebut dari dan melihat simbol-simbol mitologi dan pola pikir masyarakat tersebut.

Arketaipal atau archetype berasal dari Bahasa Greek yang makna asalnya ialah bentuk asli atau original pattern, yang maknanya dekat dengan prototaip. Dapat

22

baca Endaswara.. Metode Penelitian Sastra. (Yogyakarta, 2008), p109 23

juga dikatakan sebagai An archetype as a basic model from which copies are made

(Peck, John & Coyle, Martin dalam Sikana (2009: 136)). Dalam keterangan yang lain disebutkan ... the most basic archetypes, a story of death and rebirth...the story of man’s journey through life and the story that deal with a search for a father.

Wilber Scott dalam (Sikana, 2009: 137) menjelaskan artikaipal menjurus kepada pencarian makna simbol, ritual, dan unsur-unsur tradisi. Arketaipal lebih tertumpu kepada analisis yang bersifat mengkaji manusia, dengan tindakan- tanduknya daripada mengkaji unsur estetik dan intrinsik karya. Manusia dalam setiap zaman dan masa tidak akan terlepas dengan amalan-amalan yang berbentuk budaya dan kesenian, di mana keseluruhannya itu memberi arti bagi masyarakat dan bangsa itu.

Pendekatan arketaipal, yaitu kajian karya sastra dalam tradisi lisan yang menekankan pada warisan budaya masa lalu dan pendekatan ini mempunyai hubungan erat dengan ilmu psikologi dan antropologi sastra. Hal tersebut berhubungan dengan unsur-unsur mitos, legenda, dongeng, fantasi, dan sejarah. Secara historis, ciri-ciri arketipe. Pertama, melalui psikologi analitik Jung, kedua melalui antropologi kultural. Tradisi pertama, menelusuri jejak-jejak psikologis, tipologi pengalaman yang tampil secara berulang, sebagai ketaksadaran rasial, seperti mitos, mimpi, fantasi, dan agama. Tradisi yang kedua menelusuri pola-pola elemental mitos dan ritual yang pada umumnya terkandung dalam legenda dan seremoni. Dalam menganalisis tradisi andung dengan pendekatan antropologi sastra terlebih dahulu

melihat apakah tradisi tersebut telah mengakar di hati pemiliknya. Satu lagi yang menjadi inti pendekatan arketaipal ini ialah penelitian terhadap konsep kesadaran kolektif dan primordial images (rangsangan bawah sadar) yang terungkap dalam karya sastra dalam hal ini teks andung. Dalam pengaplikasiannya seseorang dituntut menguasai sistem dan budaya masyarakat.

Jung (1875-1961) kelahiran Swiss adalah pelopor teori arketaipal. Jung juga merupakan psikiater. Teori ini merupakan lanjutan falsafah psikologis Jung. Lebih lanjut, Jung (Sikana, 2009:138) mengemukakan bahwa dalam diri manusia, memiliki suatu indera dan intuisi. Tanpa sadar, penceritaan terhadap sesuatu akan dilakukan secara turun-temurun. Jung juga menyebutkan bahwa manusia mempunyai persamaan pengalaman dan asas serta tidak berubah-ubah. Di samping itu, terdapat juga penyimpangan gaya hidup terhadap norma-norma yang berlaku dalam masyarakatnya.

Pendekatan Arketaipal mengidentifikasi pola-pola dasar yang dimaksud dan menjelaskan bagaimana hal-hal tersebut difungsikan dalam tradisi lisan atau pun karya sastra. Dalam hal ini, psikoanalisis Jung membahas tentang proses ketidaksadaran kolektif (yang disebut juga sebagai kritik tipikal). Ketidaksadaran kolektif adalah simbolisasi persepsi yang dipicu oleh sejumlah pikiran bawaan, perasaan, naluri, dan kenangan yang berada dalam ketidaksadaran semua manusia, yakni serangkaian pengalaman yang datang dengan sendirinya seperti takdir. Data elemen arketaipal, secara relatif, dimanfaatkan sebagai sarana untuk memahami

konsep pemikiran, watak, aspirasi, harapan masyarakat, serta nilai-nilai yang diharapkan.

Objek kajian dalam penelitian ini adalah tradisi lisan andung maka aspek pertama kajian yang harus dilakukan adalah membicarakan eksitensi andung dalam MBT masih mudah ditemukan atau tidak. Dengan demikian dapat diketahui apakah

andung itu memiliki unsur-unsur arketaipal atau tidak.

Aspek kedua, mengkaji unsur perulangan daripada sudut kejiwaan arketaipal, yaitu unsur perulangan itu mempunyai kesan dan pesan yang tersembunyi. Biasanya sejarah, tradisi dan warisan akan hidup ulang berulang dalam kehidupan masyarakat tersebut.

Aspek ketiga, arketaipal menganalisis aspek lambang atau simbol/makna dalam tradisi andung pada upacara kematian MBT. Berikutnya, aspek keempat dalam kajian arketaipal ialah mengkaji dan menganalisis konsep magis tradisi lisan

andung. Pendekatan arketaipal dapat diterapkan pada karya yang kaya unsur-unsur mitos (termasuk tradisi lisan andung). Hal ini sejalan dengan pendapat Frye yang menegaskan bahwa karya yang paling banyak dapat dihubungkan dengan mitologis dan arkeisme ini ialah yang bercorak keagamaan, yaitu segala bentuk kepercayaan tradisi: seperti animisme, totemisme, berhala dan agama kristiani sendiri24

Dengan demikian, pendekatan arketaipal menekankan kajian terhadap warisan budaya masa lalu yang mempunyai hubungan antara bidang psikologi dan

.

antropologi (sastra). Warisan budaya tersebut dapat juga dilihat dalam tradisi lisan

andung MBT. Dalam penelitian ini, kajian andung dalam teori arketaipal untuk

melihat bagaimana unsur-unsur tradisi andung pada upacara kematian MBT, kemudian mendeskripsikan simbol-simbol ritual serta melihat kearifan apa yang terdapat dalam tradsisi andung tersebut.

2.2.2 Semiotika

Semiotika berasal dari bahasa Yunani yaitu kata seme atau semeion, yang berarti penafsiran tanda. Dalam pengertian yang lebih luas, sebagai teori semiotika, berarti studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda, bagaimana cara kerjanya, apa manfaatnya terhadap kehidupan manusia. Kehidupan manusia dipenuhi oleh tanda dengan perantaraan tanda-tanda manusia dapat berkomunikasi dengan sesamanya sekaligus mengadakan pemahaman yang lebih baik terhadap dunia. Dengan demikian, manusia adalah homo semioticus.

Semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda. Tanda-tanda itu mempunyai arti dan makna, yang ditentukan oleh konvensinya, karya sastra merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna. Karya sastra menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Bahasa sebagai medium karya sastra merupakan sistem semiotika ketandaan. Sebagai ilmu, semiotika berfungsi untuk mengungkapkan secara ilmiah keseluruhan tanda dalam kehidupan manusia, baik tanda verbal maupun nonverbal.

Semiotik (semiotika) adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda dalam kehidupan manusia (Hoed, 2007:3). Ilmu ini menganggap bahwa fenomena

sosial/masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotik itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Dalam lapangan kritik sastra, penelitian semiotik meliputi analisis sastra sebagai sebuah penggunaan bahasa yang bergantung pada (ditentukan) konvensi-konvensi tambahan dan meneliti ciri-ciri (sifat-sifat) yang menyebabkan bermacam-macam cara (modus) wacana mempunyai makna (Pradopo, 2003:119).

Tokoh yang dianggap sebagai pendiri semiotik adalah dua orang yang hidup sezaman, yang bekerja secara terpisah dan dalam lapangan yang tidak sama (tidak saling memengaruhi), yang seorang ahli linguistik, yaitu Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan seorang ahli filsafat yaitu, Charles Sander Peirce (1839-1914). Saussure menyebut ilmu itu dengan nama semiologi, sedang Peirce menyebutnya semiotik (semiotics). Kemudian nama itu sering dipergunakan berganti-ganti dengan pengertian yang sama. Di Perancis dipergunakan nama semiologi untuk ilmu itu, sedang di Amerika lebih banyak dipakai nama semiotik.

Tanda mempunyai dua aspek, yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda adalah bentuk formalnya yang menandai sesuatu yang disebut petanda, sedangkan petanda adalah sesuatu yang ditandai oleh penanda itu, yaitu artinya. Contohnya, kata ‘ibu’ merupakan tanda berupa satuan bunyi yang menandai arti: ‘orang yang melahirkan kita’.Tanda itu tidak hanya satu macam saja, tetapi ada beberapa berdasarkan hubungan antara penanda dan petandanya. Jenis-jenis tanda yang utama ialah ikon, indeks, dan simbol.

Ikon adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan yang bersifat alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan itu adalah hubungan persamaan, misalnya gambar kuda sebagai penanda yang menandai kuda (petanda) sebagai artinya. Potret menandai orang yang dipotret, gambar pohon menandai pohon.

Indeks adalah tanda yang menunjukkan hubungan kausal (sebab-akibat) antara penanda dan petandanya, misalnya asap menandai api, alat penanda angin menunjukkan arah angin, dan sebagainya.

Simbol adalah tanda yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya, hubungannya bersifat arbitrer (manasuka). Arti tanda itu ditentukan oleh konvensi. ‘Ibu’ adalah simbol, artinya ditentukan oleh konvensi masyarakat bahasa (Indonesia). Orang Inggris menyebutnya mother, Perancis menyebutnya la mere, dsb. Adanya bermacam-macam tanda untuk satu arti itu menunjukkan “kesemena-menaan” tersebut. Dalam bahasa, tanda yang paling banyak digunakan adalah simbol.

Pada penelitian sastra, tanda berupa indekslah yang paling banyak dicari (diburu) dalam pendekatan semiotik, yaitu berupa tanda-tanda yang menunjukkan hubungan sebab-akibat (dalam pengertian luasnya).

Dikaitkan dengan pelopornya, maka dalam semiotika terdapat dua aliran utama, yaitu Saussurean dan Peircean. Menurut Zoest (Ratna, 2006:103), dihubungkan dengan bidang-bidang yang dikaji, pada umumnya semiotika dapat dibedakan paling sedikit menjadi tiga aliran, sebagai berikut.

(1) Aliran semiotika komunikasi, dengan intensitas kualitas tanda dalam kaitannya dengan pengirim dan penerima, tanda yang disertai dengan maksud, yang digunakan secara sadar, sebagai signal, seperti rambu-rambu lalu lintas, dipelopori oleh Buyssens, Prieto, dan Mounin.

(2) Aliran semiotika konotatif, atas dasar ciri-ciri denotasi kemudian diperoleh makna konotasinya, arti pada bahasa sebagai sistem model kedua, tanda- tanda tanpa maksud langsung, sebagai symtom, di samping sastra juga diterapkan dalam berbagai bidang kemasyarakatan, dipelopori oleh Roland Barthes.

(3) Aliran semiotika ekspansif, diperluas dengan bidang psikologi (Freud) dan sosiologi (Marxis), termasuk filsafat, dipelopori oleh Julia Kristeva.

Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. Abrams (dalam Ratna, 2004:105), dilakukan dengan menggabungkan empat aspek, yaitu: a) pengarang (ekspresif), b) semestaan (mimetik), c) pembaca (pragmatik), dan objektif (karya sastra itu sendiri). Dengan adanya tanda-tanda sebagai ciri khas yang meliputi seluruh kehidupan manusia, dari komunikasi yang paling alamiah hingga sistem budaya yang paling kompleks, maka bidang penerapan semiotika pada dasarnya tidak terbatas. Penerapan semiotika dalam ilmu sastra jelas merupakan masalah tersendiri, dengan pertimbangan bahwa bahasa dianggap sebagai salah satu sistem tanda yang sangat kompleks.

Dalam menganalisis teks andung ini akan digunakan semiotika yang dikemukakan oleh Roland Barthes. Roland Barthes adalah penerus pemikiran

Saussure. Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya.

Barthes mengembangkan semiotik menjadi 2 tingkatan pertandaan, yaitu tingkat denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung dan pasti. Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjalaskan hubungan penanda dan petanda di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti (Barthes, 2007:82). Roland Barthes menegaskan bahwa komponen-komponen tanda , penanda dan petanda terdapat juga pada tanda-tanda bukan bahasa antara lain terdapat pada mite yakni keseluruhan sistem sastra dan kepercayaan yang dibentuk masyarakat untuk mempertahankan dan menonjolkan idnetitas.

Menurut Barthes (1985:89) sebuah ekspresi (expression) atau tanda, bisa memiliki beberapa isi (content) atau penanda melalui sebuah relasi (relation) tertentu. Dengan demikian, untuk menganalisis makna teks andung ini akan digunakan semiotika yang dikemukakan oleh Roland Barthes.

Dalam dokumen Tradisi Andung Pada Masyarakat Batak Toba (Halaman 41-49)

Dokumen terkait