BAB V TEORI BELAJAR SIBERNATIK (LANDA PASK DAN SCOTT)
C. Teori Belajar Behavioristik
Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman Gage, Berliner (1984) Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon Slavin (2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting
adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon
dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka responpun akan
semakin kuat.
Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik
pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon Slavin (2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1)
Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary
Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency
Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The
Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner.
D. Rangkuman
1. Teori Belajar Sibernetik
Menurut teori sibernetik, belajar adalah mengolah informasi (pesan pembelajaran). Proses belajar di anggap penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah sistem informasi yang akan di proses dan akan di pelajari oleh peserta didik. Oleh karena itu, proses pembelajaran akan sangat ditentukan oleh sistem informasi Warsita (2008:76).
2. Karakteristik Teori
1. Menurut teori ini yang terpenting adalah “Sistem informasi dari
apa yang akan dipelajari peserta didik.
2. Sedangkan bagaimana proses belajar yang akan berlangsung,
akan sangat ditentukan oleh sistem informasi ini.
3. Teori ini berasumsi, bahwa tidak ada satu pun jenis cara
belajar.
3. Langkah-langkah dalam Pembelajaran
1. Menentukan tujuan pemebelajaran.
2. Menentukan materi pelajaran mengkaji sistem informasi yang
terkandung dalam materi tersebut.
3. Menentukan pendekatan belajar yang sesuai dengan sistem
informasi antara algoritmik (menurut peserta didik untuk berfikir secara sistematis, tahap demi tahap, liner, lurus menuju suatu terget tertentu) ataukah heuritik (menurut peserta didik berfikir secara divergen, menyebar ke beberapa target sekligus)
4. Menyusun materi pembelajaran dalam urutan yang sesuai
dengan sistem informasi.
5. Menyajikan materi dan bimbingan peserta didik belaljar dengan
pola yang sesuai denan urutan materi pelajaran.
6. Mengevaluasi proses dan hasil belajar perserta didik.
Teori sibernetik adalah bahwa tidak ada satu pun proses belajar yang ideal untuk situasi, dan yang cocok untuk semua peserta didik. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi, sebuah informasi
mungkin akan dipelajari oleh seseorang peserta didik dengan macam proses belajar, dan informasi yang sama mungkin akan dipelajari peserta didik lain melalui proses belajar yang berbeda-beda Uno (2006:18).
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berdasarkan teori belajar sibernetik adalah usaha guru untuk membantu pesrta didik mencapai tujuan belajarnya secara efektif dengan cara memfungsikan unsur-unsur kognitif peserta didik, terutama unsur pikiran untuk memahami stimulus dari luar melalui proses pengolahan informasi.
4. Teori-Teori Belajar yang Berkaitan dengan Teori Belajar Sibernetik.
Adapun teori-teori belajar yang termasuk dalam teori belajar sibernetik, yaitu sebagai berikut:
1. Teori pemrosesan Informasi
Pada teori ini, komponen pemrosesan informasi dibagi menjadi tiga berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya. Ketiga komponen itu adalah sebagai berikut:
a. Sensory Receptor (SR) yang merupakan sel tempat pertama kali
informasi diterima dari luar.
b. Working Memory (WM) yang diasumsikan mampu menangkap
informasi yang diberi perhatian oleh individu.
Dalam proses belajar, perhatian merupakan langkah pertama yang harus dilakukan. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk memfokuskan perhatian peserta didik terhadap materi yang diajarkan antara lain:
a. Menggunakan tanda-tanda yang menunjukan sesuatu yang penting
seperti sesorang guru yang merendahkan atau menginginkan volume seuara untuk menunjukan sebuah informasi yang penting.
b. Menggunakan kata-kata yang mengandung unsur emosional.
c. Perhatian juga dapat diperoleh dengan menghadirkan sesuatu yang
tak biasa, kerjutan dan lain sebagainya.
d. Perhatian juga dapat diperoleh dengan menginformasikan kepada
peserta didik, bahwa apa yang akan dipelajri adalah sesuatu yang sangat penting.
2. Long Term Memory (LTM) LTM diasumsikan :
a. Berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu
b. Mempunyai kapasitas tidak terbatas
c. Sekali informasi di simpan di dalam LTM ia tidak akan pernah
terhapus atau hilang. Persoalan “ lupa “ hanya disebabkan oleh
kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali informasi yang di perlukan.
3. Teori belajar Landa
Dalam teori ini landa membedakan ada dua macam proses berfikir, yaitu :
a. Porses berfikir algoritmik, yaitu proses berfikri yang sistematis,
tahap demi tahap, liner, konvergen, lurus, menuju ke suatu terget tujuan tertentu.
b. Proses berfikir heuristik, yaitu cara berfikir divergen yang menuju
kebeberapa target tujuan sekaligus Buniningsih (2005:87).
4. Teori belajar Pask dan Scott.
Menurut Pask dan Scott Buniningsih (2005) ada dua macam cara
berfikir, yaitu :
a. Cara berfikir serialis, yaitu berfikir menggunakan cara terhadap
demi setahap atau linier yang hamper sama dengan cara berfikir algoritmatik.
b. Cara berfikir menyeluruh atau wholist, yaitu cara berfikir yang
cenderung melompat kedepan, langsung ke gambaran lengkap sebuah sistem informasi atau mempelajari sesuatu dari yan paling umum menuju ke hal yang lebih khusus.
5. Langkah-Langkah Penerapan Teori Belajar Sibernetik dalam Proses Pembelajaran.
Menurut Suciati dan Irwan (2001:46) aplikasi teori belajar sebernetik dalam proses pembelajaran baik diterapkan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
2. Menentukan materi pelajaran.
3. Mengkaji sistem informasi yang terkandung dalam materi pelajaran.
4. Menentukan pendekatan belajar yang sesuai dengan sistem
informasi tersebut.
5. Menyusun materi pelajaran dalam urutan yang sesuai dengan
sistem informasinya.
6. Menyajikan materi dan bimbingan peserta didik belajar dengan pola
yang sesuai dengan urutan pelajaran.
6. Kelebihan dan kelemahan teori belajar sibernetik
1. Kelebihan teori belajar Sibernetik
Adapun kelebihan dari teori belajar sibernetik adalah:
a. Cara berfikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol.
b. Menyajikan pengetahuan memenuhi aspek ekonomis.
c. Kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap.
d. Adanya keterarahan seluruh kegiatan belajr kepada tujuan ingin
dicapai.
e. Adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang
sesungguhnya.
f. Kontrol belajar memungkinkan belajar sesuai dengan irama
masing-masing.
g. Memberikan informasi rambu-rambu yang jelas tentang tingkat
unjuk kerja yang telah dicapai dibandingkan dengan unjuk kerja yang diharapkan.
2. Kelemahan Belajar Teori Sibernetik
Adapun kelemahan dari teori sibernetik yaitu sebagai berikut :
a. Menekankan pada sistem informasi yang di pelajari
b. Kurang memperhatikan bagaimana proses pembelajaran.
7. Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik
pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Gage, Berliner, 1984) Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah
faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive
reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon
dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka responpun akan
semakin kuat.
Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1)
Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary
Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency
Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The
Elimination of Responses Gage, Berliner, (1984).
Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner.
Tes Formatif
1.Jelaskan pengetian pembelajaran berdasarkan teori sibernetik?
2.Apa karakteristik teori belajar sibernetik?
3.Bagaimana langkah-langkah penerapan teori sibernetik dalam proses
pembelajaran?
4.Jelaskan pengertian belajar menurut teori behavioristik?