1.6 Manfaat Penelitian .1 Manfaat Teoritis.1 Manfaat Teoritis
2.1.1 Teori Belajar
Menurut teori Gestalt yang terpenting dalam belajar adalah penyesuaian pertama, yaitu mendapatkan respon atau tanggapan yang tepat. Belajar yang terpenting bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh
insight. Dalam teori Gestalt prinsip-prinsip belajar, dirumuskan sebagai berikut: (1) belajar berdasarkan keseluruhan, (2) belajar adalah suatu proses perkembangan, (3) anak didik sebagai organisme keseluruhan, (4) terjaditransfer,
(5) belajar adalah reorganisasi pengalaman, (6) belajar harus dengan insight dan, (7) belajar berlangsung terus menerus. (Djamarah, 2008: 19)
Belajar menurut teori Gagne dalam Djamarah (2008: 22) memberikan dua definisi, yaitu: (1) belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan, dan tingkah laku dan, (2) belajar adalah pengetahuan atau ketrampilan yang diperoleh dari instruksi. Sedangkan dalam buku The Condition of Learning, menyatakan bahwa belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan ingatan mempengaruhi siswa sehingga perbuatannya (performancenya) berubah dari waktu sebelum mengalami situasi itu ke waktu sesudah mengalami situasi (Purwanto, 2006: 84).
Menurut teori Torndike (dalam Budianto 2010: 102) bahwa dasar dari belajar tidak lain adalah asosiasi antara kesan panca indra dengan impuls untuk bertindak Asosiasi ini dinamakan connecting. Thorndike mengemukakan, bahwa dalam belajar itu dapat dikemukakan adanya beberapa hukum, yaitu : (1) hukum kesiapan, (2) hukum latihan, dan (3) hukum efek. Menurut huhum ini belajar agar mencapai hasil yang baik harus ada kesiapan untuk belajar. Disamping itu agar belajar mencapai hasil yang baik harus ada latihan, makin sering dilatih maka dapat diprediksikan hasilnya akan semakin baik bila dibandingkan dengan tanpa adanya latihan. Menurut teori Skinner dalam (dalam Budianto 2010: 115) bahwa belajar adalah suatu perilaku, pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Skinner membedakan adanya dua macam respon yaitu “(1) respondent response yakni, respon yang ditimbulkan oleh perangsangperangsang tertentu yang disebut
elicting stimuli, menimbulkan respon-respon relative tetap, (2) operant response, yakni respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang
tertentu yang disebut reinforcing stimuli”. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses atau aktivitas siswa secara sadar dan sengaja, yang dirancang untuk mendapatkan suatu pengetahuan dan pengalaman yang dapat mengubah sikap dan tingkah laku seseorang.
Sehingga dapat mengembangkan dirinya kearah kemajuan yang lebih baik.
“Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri” (Budianto 2010: 102). Belajar menurut Hilgard dan Bower dalam buku Theories of learning dalam Purwanto, (2006:84) mengatakan bahwa:
belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalaman berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misal kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya).
Belajar bukan hanya menghafal dan bukan pula mengingat. Belajar adalah proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam beberapa bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, ketrampilannya, kecakapannya dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimanya dan lain-lain aspek yang ada pada individu (Sudjana, 2006:28).
Menurut Morgan (dalam Purwanto 2006: 84) “belajar merupakan perubahan
relative permanen yang terjadi karena hasil dari praktek atau pengalaman. Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi
sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman”. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku melalui berbagai pengalaman yang diperolehnya. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap. Dalan hal teori tentang belajar ini Sagala (2007: 39) mengatakan, bahwa:
belajar merupakan proses terbentuknya tingkat laku baru yang disebabkan individu merespons lingkungannya, melalui pengalaman pribadi ysng tidak termasuk kematangan, pertumbuhan atau instink. Belajar sebagai proses akan terarah kepada tercapainya tujuan (goal oriented) dari pihak siswa maupun dari pihak guru. Tujuan itu dapat diidentifikasi dan bahkan dapat diarahkan sesuai dengan maksud pendidikan. Dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir.
Dalam hubungannya dengan hal ini Purwanto (2006:85) mengatakan bahawa: perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Ini berarti harus menyampingkan perubahan-perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman atau kepekaan seseorang yang biasanya hanya berlangsung sementara”. Proses belajar yang baik harus diawali dengan perencanaan yang baik pula, yang harus pula mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar. Di antara berbagai hal yang mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah kondisi individu siswa yang memegang peranan paling penting. Kondisi individu siswa dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kondisi fisiologis dan kondisi psikologis.
Hasil belajar yang diharapkan dalam diri siswa adalah adanya perubahan pemahaman siswa terhadap sesuatu hal yang dipelajarinya, bukan pada hafalan terhadap apa yang dipelajarinya. Namun pemahaman seseorang terhadap suatu objek akan dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Ernest Hilgard (dalam Sagala 2007: 50), ada enam ciri dari belajar pemahaman, yaitu:
1. pemahaman dipengaruhi oleh kemampuan dasar, individu yang satu dengan yang lain mempunyai kemampuan dasar yang berbeda.
2. pemahaman dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang lalu yang relevan, namun pengalaman masa lalu tersebut menjamin dapat menyelesaikan problem, sebab pemecahan-pemecahan problem berarti penerapan operation yang telah dipelajari terlebih dahulu.
3. pemahaman tergantung kepada pengaturan situasi, sebab insight itu hanya mungkin terjadi apabila situasi belajar sedemikian rupa sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati.
4. pemahaman didahului oleh usaha coba-coba bukanlah hal yang jatuh dari langit dengan sendirinya, melainkan adalah hal yang harus dicari.
5. belajar dengan pemahaman dapat diulangi, jika sesuatu problem yang telah dipecahkan dengan insight lain kalau diberikan lagi kepada pelajar yang bersangkutan, maka dia akan dengan langsung dapat memecahkan problem itu lagi.
6. suatu pemahaman dapat diaplikasikan atau dipergunakan bagi pemahaman situasi lain.
Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa (faktor internal) dan faktor yang berasal dari luar individu siswa (faktor eksternal). Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri siswa dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu faktor biologis dan faktor psikologis yang dapat dikategorikan sebagai factor biologis antara lain usia, kematangan, dan kesehatan. Sedangkan yang dapat dikategorikan sebagai faktor psikologis antara lain adalah kelelahan, suasana hati, motivasi, minat dan kebiasaan belajar. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
1. Kondisi Fisiologis. Pada umumnya kondisi fisiologis sangat berpengaruh terhadap proses belajar siswa. Siswa yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berbeda dari siswa yang yang dalam keadaan kelelahan. Siswa yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya di bawah siswa yang cukup baik gizinya. Di samping kondisi fisiologis umum itu, faktor yang tidak kalah pentingnya adalah kondisi panca indera terutama penglihatan dan pendengaran. Karena pentingnya penglihatan dan pendengaran, maka dalam lingkungan formal orang melakukan berbagai penelitian untuk menemukan bentuk dan cara penggunaan alat peraga yang dapat dilihat dan didengarkan (Audio Visual Aids).
2. Kondisi Psikologis. Semua keadaan dan fungsi psikolog tentu saja berpengaruh terhadap proses belajar yang bersifat psikologis ini. Beberapa faktor psikologis tersebut antara lain: motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi untuk belajar adalah kondisi yang mendorong siswa untuk belajar. Penemuan-penemuan penelitian menunjukkan bahwa prestasi belajar meningkat jika motivasi untuk belajar bertambah. Motivasi akan lebih meningkat apabila kebutuhan yang ada meningkat dan kebutuhan yang paling kuat pada saat tertentu menggerakan aktivitas. Secara tradisional orang biasa membedakan adanya dua macam motivasi, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Movitasi intrinsic adalah dorongan yang timbul dari dalam individu siswa tanpa rangsangan atau bantuan orang lain. Misalnya siswa mau belajar agama Islam karena ingin memperoleh pengetahuan agama
Islam. Oleh karena itu, ia rajin belajar tanpa disuruh orang lain tetapi atas kesadaran sendiri. Motivasi intrinsik lebih efektif, terutama dalam mendorong siswa untuk giat belajar. Motivasi ekstrensik adalah dorongan yang timbul sebagai akibat pengaruh dari luar diri individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain.
Faktor-faktor yang bersumber dari luar individu siswa dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu faktor manusia (human) dan faktor non-manusia. Yang dapat dikategorikan sebagai faktor manusia adalah lingkungan di keluarga, di sekolah dan lingkungan di masyarakat (pergaulan). Sedangkan yang dapat dikategorikan sebagai faktor non-manusia seperti alam, benda, hewan dan lingkungan fisik. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan prestasi belajar adalah: (1) bahan yang diajarkan; (2) faktor lingkungan; (3) faktor instrumental, dan (4) faktor individu/siswa.