• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Teori Corporate Social Responsibility

Dengan melakukan social disclosure, perusahaan merasa keberadaan

dan aktivitasnya terlegitimasi. Dalam perspektif ini, perusahaan akan

menghindarkan adanya peregulasian suatu aspek, yang dirasakan akan lebih

berat dari sisi cost karena mereka melakukan secara sukarela.

Sayekti dan Wondabio (2007) mengemukakan Legitimacy theory bahwa

usahanya berdasarkan nilai-nilai justice, dan bagaimana perusahaan

menanggapi berbagai kelompok kepentingan untuk melegitimasi tindakan

perusahaan. Corporate social responsibility disclosure dalam laporan keuangan

tahunan diharapkan mampu membantu perusahaan untuk memperoleh

legitimasi sosial dan memaksimalkan keuangannya dalam jangka panjang,

serta terjadi keseimbangan antara sistem nilai perusahaan dengan nilai

masyarakat, karena apabila terjadi ketidakseimbangan maka perusahaan akan

kehilangan legitimasinya dan akan mengancam keberlangsungan perusahaan

tersebut

2.3.2 Teori Stakeholder (Stakeholders Theory)

Teori Stakeholders ini dikemukakan oleh Ullmann (1985) dan Roberts,

R.W. (1992) dalam Gray et, al (1995) yang mengasumsikan bahwa eksistensi

perusahaan ditentukan oleh para stakeholders. Perusahaan berusaha mencari

pembenaran dari para stakeholders dalam menjalankan operasi

perusahaannya. Semakin kuat posisi stakeholders, semakin besar pula

kecenderungan perusahaan mengadaptasi diri terhadap keinginan para

stakeholdersnya.

Januarti dan Apriyanti (2005) mengemukakan bahwa terdapat

beberapa alasan yang mendorong perusahaan perlu memperhatikan

kepentingan stakeholders, yaitu : (1) Isu lingkungan melibatkan kepentingan

berbagai kelompok dalam masyarakat yang dapat mengganggu kualitas

diperdagangkan harus bersahabat dengan lingkungan; (3) Para investor dalam

menanamkan modalnya cenderung untuk memilih perusahaan yang memiliki dan

mengembangkan kebijakan dan program lingkungan; (4) LSM dan pecinta

lingkungan semakin vokal dalam melakukan kritik terhadap perusahaan-

perusahaan yang kurang peduli terhadap lingkungan

2.3.3 Corporate Social Responsibility

Konsep Corporate Social Responsibility pertama kali dikemukakan oleh

Howard R. Bowen pada tahun 1953 dan sejak itu hingga sekarang telah

mengalami ‘pengayaan’ konsep. Perkembangan konsep corporate social

responsibility yang terjadi selama kurun waktu lima puluh tahun tersebut, tak pelak lagi telah banyak mengubah orientasi corporate social responsibility.

(Ardianto dan Machfudz, 2011). Bila pada awalnya aktivitas corporate social

responsibility lebih dilandasi oleh kegiatan yang bersifat ‘filantropi’, maka saat ini kita melihat bahwa corporate social responsibility telah dijadikan sebagai salah

satu strategi perusahaan untuk meningkatkan ‘citra perusahaan’ yang akan turut

mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan.

Penerapan corporate social responsibility di perusahaan menjadi semakin

penting dengan munculnya konsep Sustainable Development oleh The World

Business Council for Sustainable Development (WBCSD). Seiring dengan itu maka konsep corporate social responsibility mengalami penyesuaian dan

dikembangkan dalam bingkai sustainable development. Hal ini tercermin dari

defenisi yang diberikan oleh WBCSD yakni Corporate Social Responsibility

perusahaan didefinisikan sebagai komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi

karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas setempat maupun

masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang

bermanfaat baik bagi bisnis sendiri maupun untuk pembangunan.

Menurut Hasibuan (2001) Corporate Social Responsibility adalah

mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan

perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke dalam operasinya dan interaksinya

dengan stakeholders, yang melebihi tanggung jawab organisasi di bidang

hukum. Dengan konsep ini, kendati secara moral tujuan perusahaan untuk

mengejar keuntungan adalah sesuatu yang baik, tetapi tidak dengan sendirinya

perusahaan dibenarkan untuk mencapai keuntungan itu dengan mengorbankan

kepentingan pihak-pihak lain.

Konsep Corporate Social Responsibility melibatkan tanggung jawab

kemitraan antara pemerintah, lembaga sumberdaya masyarakat, serta komunitas

setempat (lokal). Kemitraan ini tidaklah bersifat pasif dan statis. Kemitraan ini

merupakan tanggung jawab bersama secara sosial antara stakeholders.

Pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan di dalam laporan yang

disebut Sustainibility Reporting. Sustainibility Reporting adalah pelaporan

mengenai kebijakan ekonomi, lingkungan dan sosial, pengaruh dan kinerja

organisasi dan produknya di dalam konteks pembangunan berkelanjutan

(sustainable development). Sustainibility Reporting harus menjadi dokumen

strategis yang berleval tinggi yang menempatkan isu, tantangan dan peluang

Sustainibility Development yang membawanya menuju kepada core business dan sektor industrinya.

2.3.4 Pengungkapan Sosial dalam Laporan Tahunan

Hendriksen (1991:203) mendefinisikan pengungkapan (disclosure)

sebagai penyajian sejumlah informasi yang dibutuhkan untuk pengoperasian

secara optimal pasar modal yang efisien. Pengungkapan ada yang bersifat wajib

(mandatory) yaitu pengungkapan informasi wajib dilakukan oleh perusahaan yang

didasarkan pada peraturan atau standar tertentu, dan ada yang bersifat sukarela

(voluntary) yang merupakan pengungkapan informasi melebihi persyaratan

minimum dari paraturan yang berlaku.

Setiap unit/pelaku ekonomi selain berusaha untuk kepentingan pemegang

saham dan mengkonsentrasikan diri pada pencapaian laba juga mempunyai

tanggung jawab sosial, dan hal itu perlu diungkapkan dalam laporan tahunan.

Nurlela dan Islahudin (2008) mengungkapkan bahwa corporate social

responsibility yang dilakukan oleh perusahaan umumnya bersifat sukarela (voluntary), belum diaudit (unaudited), dan tidak dipengaruhi oleh peraturan

tertentu (unregulated).

Corporate Social Responsibility (CSR) disclosure merupakan pengungkapan yang dilakukan perusahaanberkaitan dengan aktivitas

lingkungan dan sosial di dalam laporan tahunan perusahaan (Rakhiemah dan

Agustia, 2009 dalam Djuitaningsih dan Ristiawati, 2011). Pengukuran CSR

Disclosure padapenelitian ini menggunakan indeks, dimana instrumen

pengukuran checklist yang digunakan mengacu pada instrumen yang telah

ditetapkan oleh Global Reporting Initiative (GRI) dalam Sustainability

Reporting Guidelines (SRG). Instrumen ini mengelompokkan informasi CSR kedalam 7 kategori, yakni lingkungan, energi, keselamatan tenaga kerja, lain-

lain tenaga kerja, produk, keterlibatan masyarakat, dan umum. Pengukuran ini

2008), serta (Rakiemah dan Agustia, 2009). Kategori ini terbagi dalam 90 item

pengungkapan. Berdasarkan peraturan Bapepam No. VIII G.2, tentang laporan

tahunan, maka dilakukan penyesuaian atas item-item tersebut untuk dapat

diaplikasikan di Indonesia, sehingga tersisa 78 item pengungkapan. Jumlah

ini kemudian disesuaikan kembali dengan masing-masing sektor industri.

Pendekatan untuk mengukur CSRDI pada dasarnya menggunakan pendekatan

dikotomi, yaitu setiap item CSR dalam instrumen penelitian diberi nilai 1

jika diungkapkan, dan nilai 0 jika tidak diungkapkan. Skor dari tiap item

kemudian, dijumlahkan untuk mendapatkan keseluruhan skor untuk setiap

perusahaan. Sehingga menghasilkan suatu rasio nilai corporate social

responsibility.

Dokumen terkait