• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori dan Konsep Konsumsi dalam Ekonomi Islam

2.1. Teori dan Konsep

2.1.3. Zakat dalam Pembangunan Ekonomi dan Pengentasan

2.1.3.2. Teori dan Konsep Konsumsi dalam Ekonomi Islam

Menurut Susanto dalam Suprayitno (2005) dalam pembahasan mengenai

konsumsi dalam ekonomi islam diasumsikan: pertama, zakat dikenakan atas semua harta perniagaan dan investasi yang dimiliki kaum muslimin, baik individu

maupun badan usaha. Kedua, pembayar zakat perniagaan cukup besar dan menguasai satu bagian tertentu dari pendapatan nasional. Ketiga, gerakan dakwah dan penyadaran zakat berhasil dengan baik, sehingga setiap umat islam yang

wajib berzakat bersedia membayar zakat. Keempat, proporsi zakat yang dibayarkan tersebut tetap, sebesar tertentu dari pendapatan nasional. Kelima, zakat yang terkumpul dibagikan kembali kepada yang berhak menerimanya. Keenam, orang yang menerima zakat mempunyai kecenderungan mengkonsumsi marjinal

(MPC) yang lebih tinggi secara signifikan dibanding pembayar zakat. Ketujuh, di satu sisi zakat pendapatan dihitung sebagai komponen pengurang penghasilan

Dalam ekonomi Islam perekonomian secara makro terdiri atas dua

karakteristik yang berbeda, yaitu muzakki dan mustahik. C1 = a + bY (1-z-f)

C2 = zY + fY

Dimana: C1 = Konsumsi muzakki (wajib zakat) C2 = Konsumsi mustahik ( penerima zakat)

C = C1 + C2 ………...…..….. (1) C = a + bY (1-z-f) + zY + fY ………..……... (2)

Dimana z adalah besarnya zakat yang dibayarkan dan f adalah besarnya

infak/shadaqoh.

Menurut Metwally (1995;50-51) fungsi konsumsi dalam ekonomi Islam,

dianggap besarnya zakat ditunjukkan oleh fungsi:

Z = zY ……….. (3)

F = fY ……….. (4)

Dimana,

0 < z+f < 1

Katakanlah βY merupakan pendapatan pembayaran zakat yang menguasai satu bagian tertentu dari pendapatan nasional; dan sisanya (1-β)Y adalah pendapatan penerima zakat, dimana : 0 < β < 1. Dimisalkan pula δ sebagai hasrat konsumsi marginal penerima zakat, dimana : 0 < β < δ < 1.

Fungsi konsumsi dalam ekonomi Islam (1) dengan mensubstitusikan persamaan

(3) dan (4) menjadi :

C = a + b (βY – zY – fY) + δ [(1-β)Y + zY + fY] ……… (5) Untuk ekonomi Islam akan diperoleh persamaan:

23   

MPC = z > 0 = bβ –zb – fb + δ (1-β) + zβ + fβ ……….…. (6)

Kurva pengeluaran konsumsi rumah tangga seperti analisis Keynes dan

ekonomi Islam ini dapat pula digambarkan ke dalam sebuah grafik seperti pada

Gambar 1. Titik E menunjukkan perpotongan antara kurva konsumsi dengan suatu

garis bantu (Y = E) yang berawal dari nol (0) dan membentuk sudut 45o terhadap

sumbu pendapatan nasional (Y). Titik E disebut dengan titik keseimbangan, yaitu

titik yang menunjukkan besarnya pendapatan sama dengan besarnya pengeluaran

konsumsi rumah tangga. Sedangkan dalam ekonomi Islam keseimbangan terjadi

pada titik EI di mana nilai Y keseimbangan atau YBEPEI terjadi lebih besar dari

YBEPC.

Sumber : Suprayitno, 2005

Gambar 1. Kurva Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga dalam Ekonomi Konvensional dan Islam

Pengaruh prinsip-prinsip Islam terhadap pengeluaran konsumsi dengan

pendapatan yang muncul dalam suatu ekonomi, dalam hal ini ada 4 hipotesa

teoritis, yaitu hipotesis pendapatan mutlak, hipotesis pendapatan relatif, hipotesis C EI  E YBEPEI YBEPC  Y C = a + bY C = C1 + C2 Y = E 0  C2 = Z + F

pendapatan permanen, dan hipotesis siklus kehidupan. Hipotesis pendapatan

mutlak, menurut Siddiqi (1988) dan Kahf (dalam Khurshid Ahmad) menyebutkan

bahwa dengan adanya zakat maka hasrat konsumsi rata-rata dan hasrat marginal

dalam jangka pendek akan menurun, akan tetapi penurunannya lebih kecil

dibandingkan dalam ekonomi konvensional dan dalam jangka panjang tingkat

konsumsi masyarakat akan mengalami peningkatan karena: 1. Taraf hidup

penerima zakat meningkat. Penurunan konsumsi disebabkan oleh permintaan akan

barang mewah menurun. 2. Permintaan akan barang-barang pokok dari

masyarakat akan meningkat seiring meningkatnya taraf hidup masyarakat yang

menerima zakat.

Menurut hipotesis pendapatan relatif, suatu usaha redistribusi pendapatan

yang menguntungkan kelompok miskin dan kelompok yang membutuhkannya

tidak menaikkan konsumsi agregat. Pengurangan pendapatan kelompok kaya

melalui redistribusi pendapatan (pembayaran zakat), tekanan pada keluarga

berpendapatan rendah yang terus mempertahankan “keep up with the Joneses” dikurangi sesuai dengan pengurangan pendapatannya. Proses ini akan berlangsung

sampai semuanya berkurang ke bawah. Zakat, infak, dan sedekah akan

mengurangi konsumsi, mengurangi ketidakmerataan. Oleh karena itu, jika

konsumsi menurut hipotesis pendapatan relatif berlaku dalam ekonomi Islam,

maka zakat, infak, sedekah dapat meningkatkan jumlah tabungan yang dapat

diarahkan untuk investasi (Metwally, 1995;55).

Hipotesis pendapatan permanen menjelaskan bahwa redistribusi

25   

memerlukannya, dan tidak memengaruhi permintaan agregat, redistribusi tersebut

memengaruhi konsumsi dan pendapatan permanen bukan konsumsi dan

pendapatan tidak tetap. Besarnya zakat adalah tetap, tidak seperti pajak. Jika

konsumsi total mengikuti hipotesis pendapatan permanen, maka perbandingan

konsumsi permanen dengan pendapatan permanen akan sama untuk setiap tingkat

pendapatan. Oleh karena itu, konsumsi permanen agregat tidak akan berpengaruh

terhadap redistribusi pendapatan.

Menurut hipotesis siklus hidup bahwa konsumsi tidak saja bergantung

pada pendapatan rumah tangga pada saat ini, tapi juga pada kekayaan dan

pendapatan yang diharapkan di masa mendatang. Hipotesis ini menunjukkan

bahwa redistribusi pendapatan menguntungkan kelompok miskin dan kelompok

yang memerlukan, namun tidak berpengaruh besar pada pengeluaran konsumsi

agregat.

2.1.3.3. Konsep Tabungan dan Investasi dalam Ekonomi Islam

Fungsi investasi dalam ekonomi Islam amat berbeda dengan fungsi

investasi dalam ekonomi konvensional. Perbedaan terjadi terutama karena

pengusaha Islam tidak menggunakan tingkat bunga dalam menghitung investasi.

Implikasi dari ajaran Islam terhadap investasi, yaitu: di negara penganut ekonomi

Islam, investasi dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu ada sanksi untuk pemegang

aset yang tidak produktif, dilarang melakukan berbagai bentuk spekulasi dan judi,

dan tingkat bunga untuk pinjaman adalah nol sebagai gantinya dipakai sistem bagi

Seorang muslim yang menginvestasikan tabungannya tidak akan terkena

zakat, tetapi ia harus membayar zakat atas hasil yang diperoleh dari investasi

tersebut. Islam juga melarang berbagai bentuk spekulasi, jual beli barang tanpa

melihat barang serta transaksi di depan. Larangan spekulasi dalam ekonomi Islam

berimplikasi terhadap perilaku ekonomi, yaitu :

• Tidak ada tabungan yang disalurkan ke usaha untuk mencari keuntungan tetapi tabungan harus dibuat aktif dengan melakukan investasi nyata.

• Permintaan uang untuk spekulasi tidak ada dalam ekonomi Islam. Maka tidak dijumpai permintaan akan uang untuk tujuan spekulasi.

• Dalam jangka pendek, tingkat keuntungan yang diharapkan dari investasi akan lebih stabil, karena tidak ada aktivitas spekulasi di pasar modal.

Metwally (1995;73), menyatakan bahwa fungsi investasi dalam ekonomi

Islam dirumuskan sebagai berikut:

I = φ (r, ZA , Zπ, m) ... (7) dan,

r = r ... (8) dimana:

I = permintaan akan investasi

r = tingkat keuntungan yang diharapkan

SI = bagian/pangsa keuntungan/kerugian investor

SF = bagian/pangsa keuntungan/kerugian peminjam dana ZA = tingkat zakat atas asset yang tidak/kurang produktif Zπ = tingkat zakat dari keuntungan investasi

m = pengeluaran lain selain zakat atas asset yang tidak/kurang produktif

Karena ZA = ZA dan Zπ = Zπ (yaitu tingkat zakat adalah tetap), maka dapat ditulis juga :

27    I = ψ (r, m ) ... (9) di mana : > 0 ... (10) >0 ... (11)

Menurut persamaan (9) maka permintaan investasi dalam ekonomi Islam

akan meningkat jika:

- Meningkatnya tingkat keuntungan yang diharapkan.

- Meningkatnya tingkat iuran terhadap aset yg tidak/kurang produktif.

Tingkat keuntungan yang diharapkan bukan sebagai variabel kontrol,

maka variabel yang dipakai sebagai instrumen oleh otoritas Islam adalah tingkat

biaya atas aset yang tidak/kurang produktif. Variabel ini merupakan alternatif

tingkat bunga yang biasa berlaku dalam negara non Islam penganut pasar bebas.

Sumber : Suprayitno, 2005

Gambar 2. Permintaan Investasi Baru dalam Ekonomi yang Diatur oleh Hukum Islam

Pada Gambar 2 menunjukkan permintaan investasi baru dalam ekonomi

yang diatur oleh hukum Islam, yaitu sebagai fungsi tingkat keuntungan yang

diharapkan. Keuntungan yang diharapkan menentukan volume investasi dalam

ekonomi yang mengenal zakat tanpa bunga. Bila keuntungan yang diharapkan

menjadi nol, maka investasi masih terus berlangsung.

Gambar tersebut juga memperlihatkan lebih jauh bahwa makin tinggi

tingkat keuntungan yang diharapkan, semakin besar volume investasinya. Dalam

ekonomi yang menerapkan hukum Islam, permintaan investasi baru akan menurun

sampai nol pada titik dimana tingkat keuntungan menjadi negatif , yaitu pada nilai

. Di atas titik tersebut, investasi menjadi suatu fungsi dari keuntungan yang

diharapkan meningkat.

Dokumen terkait