BAB II URAIAN TEORITIS
2.5 Teori dan Model Komunikasi Kelompok
Kelompok adalah sekumpulan orang-orang yang terdiri dari dua atau tiga orang bahkan lebih. Dalam konteks organisasi, kelompok yang dimaksudkan adalah komunitas dalam kelompok kecil yang pada umumnya terdiri dari 2-15 orang . Kelompok memiliki hubungan yang intensif di antara mereka, merupakan persyaratan utama yang dilakukan oleh orang-orang dalam kelompok tersebut. Kelompok memiliki tujuan dan aturan-aturan yang dibuat sendiri dan merupakan kontribusi arus informasi di antara mereka sehingga mampu menciptakan atribut kelompok sebagai bentuk karakteristik yang khas dan melekat pada kelompok itu.
Kelompok yang baik adalah kelompok yang dapat mengatur sirkulasi tatap muka yang intensif di antara anggota kelompok, serta tatap muka itu pula yang akan mengatur sirkulasi komunikasi makna di antara mereka, sehingga mampu melahirkan sentimen-sentimen kelompok serta kerinduan di antara mereka.
Dengan indikasi,
Terminologi tatap muka, yang mengandung makna bahwa setiap anggota kelompok harus dapat mengatur umpan balik secara verbal maupun nonverbal dari setiap anggotanya.
Persepsi tujuan dan pencapaian tujuan yang sama, walaupun masing- masing individu memiliki tujuan sendiri-sendiri untuk tergabung dalam kelompok kecil. Tujuan individu harus sejalan dengan tujuan kelompok, sedangkan tujuan kelompok harus memberi kepastian kepada tercapainya tujuan-tujuan individu. Sebuah kelompok akan bertahan lama apabila dapat memberi kepastian bahwa tujuan individu dapat dicapai melalui kelompok, sebaliknya individu setiap saat dapat meninggalkan kelompok apabila ia menganggap kelompok tidak memberi kontribusi bagi tujuan pribadinya.
Kelompok juga memberi identitas terhadap individu. Melalui identitas ini setiap anggota kelompok secara tidak langsung berhubungan satu sama lain. Melalui identitas ini, individu melakukan pertukaran fungsi dengan individu lain dalam kelompok. Pergaulan ini akhirnya menciptakan aturan-aturan yang harus ditaati oleh setiap individu dalam kelompok sebagai sebuah kepastian hak dan kewajiban mereka dalam kelompok. Aturan-aturan inilah bentuk lain dari karakter sebuah kelompok yang dapat dibedakan dengan kelompok lain dalam masyarakat.
Ada empat elemen kelompok yang dikemukakan oleh Adler dan Rodman (Senjaja, 2002:3.5, Bungin, 2006:266), yaitu interaksi, waktu, ukuran, dan tujuan. 1. Interaksi dalam kelompok, artinya setiap orang dalam kelompok tersebut
mengadakan pertukaran pesan.
2. Waktu yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat sementara.
4. Tujuan yang mengandung pengertian, bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang menjadi anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih tujuannya.
2.5.2 Karakteristik Komunikasi Kelompok
Ditentukan melalui norma dan peran. Norma adalah kesepakatan dengan perjanjian tentang bagaimana orang-orang dalam suatu kelompok berhubungan dan berperilaku satu dengan lainnya. Severin dan Tankard (2005:220, Reno, Cialdini dan Kallgren, 1993, Bungin, 2006, 267) mengatakan, norma-norma sosial (social norm) terdiri dari dua jenis, yaitu deskriptif dan perintah. Norma oleh para sosiolog disebut juga dengan ‘hukum’ (law) ataupun ‘aturan’ (rule), yaitu perilaku-perilaku apa saja yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan dalam suatu kelompok. Tiga kategori norma kelompok, yaitu norma sosial, prosedural, dan tugas.
Norma sosial mengatur hubungan di antara para anggota kelompok. Norma prosedural menguraikan dengan lebih rinci bagaimana kelompok harus beroperasi, seperti bagaimana suatu kelompok harus membuat keputusan, apakah melalui suara mayoritas ataukah dilakukan pembicaraan sampai tercapai kesepakatan. Norma tugas memusatkan perhatian pada bagaimana suatu pekerjaan harus dilakukan (Sendjaja, 2002:3.6, Bungin, 2006:267).
Peran adalah aspek dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peran (Soekanto, 2002:242, Bungin, 2006:267). Peran dibagi
menjadi tiga, yaitu peran aktif, peran partisipatif, dan peran pasif. Peran aktif adalah peran yang diberikan oleh anggota kelompok karena kedudukannya di dalam kelompok sebagai aktivis kelompok, seperti pengurus, pejabat, dan sebagainya. Peran partisipatif adalah peran yang diberikan oleh anggota kelompok pada umumnya kepada kelompoknya, partisipasi anggota macam ini akan memberi sumbangan sangat berguna bagi kelompok itu sendiri. Sedangkan peran pasif adalah sumbangan anggota kelompok yang bersifat pasif. Seseorang telah memberi sumbangan kepada terjadinya kemajuan dalam kelompok atau memberi sumbangan kepada kelompok agar tidak terjadi pertentangan dalam kelompok karena adanya peran-peran yang kontradiktif.
2.5.3 Fungsi Komunikasi Kelompok
Keberadaan suatu kelompok dalam masyarakat, dicerminkan oleh adanya fungsi-fungsi yang akan dilaksanakannya. Fungsi tersebut mencakup fungsi hubungan sosial, pendidikan, persuasi, pemecahan masalah dan pembuatan keputusan, serta fungsi terapi (Sendjaja, 2002:3.8, Bungin, 2006:268), antara lain: 1. Hubungan sosial yaitu bagaimana suatu kelompok mampu memelihara dan
memantapkan hubungan sosial di antara para anggotanya, seperti bagaimana suatu kelompok secara rutin memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk melakukan aktivitas yang informal, santai, dan menghibur.
2. Pendidikan, yaitu bagaimana sebuah kelompok secara formal maupun informal bekerja untuk mencapai dan mempertukarkan pengetahuan. Namun demikian, fungsi pendidikan tergantung pada tiga faktor, yaitu jumlah
informasi baru yang dikontribusikan, jumlah partisipan dalam kelompok, serta frekuensi interaksi di antara para anggota kelompok. Fungsi pendidikan ini akan sangat efektif jika setiap anggota kelompok membawa pengetahuan yang berguna bagi kelompoknya. Tanpa pengetahuan yang berguna bagi kelompoknya dan tanpa pengetahuan baru yang disumbangkan masing-masing anggota, mustahil fungsi edukasi ini akan tercapai.
3. Persuasi, yaitu fungsi dalam kelompok yang berupaya memersuasi anggota lainnya supaya melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Seseorang yang terlibat usaha-usaha persuasif dalam suatu kelompok, membawa resiko untuk tidak diterima oleh para anggota lainnya. Misalnya, jika usaha-usaha persuasif tersebut terlalu bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok, maka justru orang yang berusaha memersuasi tersebut akan menciptakan suatu konfllik, dengan demikian malah membahayakan kedudukannya dalam kelompok.
4. Problem solving, yaitu fungsi kelompok yang dicerminkan dengan kegiatan- kegiatannya untuk memecahkan persoalan dan membuat keputusan- keputusan. Pemecahan masalah (problem solving) berkaitan dengan penemuan alternatif atau solusi yang tidak diketahui sebelumnya; sedangkan pengambilan keputusan (decision making) berhubungan dengan pemilihan antara dua atau lebih solusi. Jadi, pemecahan masalah menghasilkan materi atau bahan untuk perbuatan keputusan.
5. Terapi. Obyek dari kelompok terapi adalah membantu setiap individu mencapai perubahan personalnya. Artinya, dalam suasana yang mendukung
setiap anggota dianjurkan untuk berbicara secara terbuka tentang apa yang menjadi permasalahannya. Jika muncul konflik antara anggota dalam diskusi yang dilakukan, orang yang menjadi pemimpin atau yang memberi terapi yang akan mengaturnya.