• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

2.2 Kajian Teoritis

2.2.9 Teori Integrasi

2.2.10 Pajak Dalam Perspektif Islam

Wasitho (2011), dalam istilah bahasa Arab pajak dikenal dengan nama

رشُعلا (Al-Usyr) atau سْكَملا (Al-Maks), atau bisa juga disebut ةَبْي ِرّضل

(Adh-Dribah), yang artinya adalah “Pungutan yang ditarik dari rakyat oleh para penarik pajak”. Atau suatu ketika bisa disebut ُُجا َر َخلا (Al-Kharaj) yang

37

artinya pajak bumi, akan tetapi hanya bisa digunakan untuk pungutan-pungutan yang berkaitan dengan tanah secara khusus. Sedangkan para pemungutnya disebut ُِسْكَملااُبِحاَص (Shahibul Maks). Adapun ahli bahasa,

pajak adalah “ suatu pembayaran yang dilakukan kepada pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan dalam hal menyelenggarakan jasa-jasa untuk kepentingan umum ”. Imam Al-Ghazali (Ihya Ulumuddin), pajak adalah apa yang diwajibkan oleh penguasa (pemerintahan muslim) kepada orang-orang kaya dengan menarik dari mereka apa yang dipandang dapat mencukupi (kebutuhan negara dan masyarakat secara umum).

Pandangan dalam Islam telah dijelaskan bahwa pajak tidak boleh sama sekali dibebankan kepada kaum muslimin, karena kaum muslimin sudah dibebani kewajiban zakat. Dengan dalil-dalil yang jelas, baik secara umum atau khusus masalah pajak itu sendiri. Adapun dalil secara umum dalam potongan Qur’an surat Anisa ayat 29 , firman Allah:

ِلِطاَبْلاِب ْمُكَنْ يَ ب ْمُكَلاَوْمَأ اوُلُكْأَت َلَ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأ اَي

....

﴿

۹۲

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil...” (Qs. An-Nisa : 29)

Dalam tafsir qur’an (aljalalain : 210) dijelaskan bahwa (Hai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu makan harta sesamamu dengan jalan yang batil) artinya jalan yang haram menurut agama seperti riba dan gasab/merampas. Berdasarkan ayat di atas Allah melarang hambanya saling

memakan harta dengan jalan yang dibenarkan. Dan pajak adalah salah satu jalan yang batil untuk memakan harta sesamanya.

Dalam sebuah hadits yang shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

0

.

:ملس و هيَلَع للها لأ وُسَر لاَق,رمع نب هَلِدبَع ْنَع

ِبيِطِب الَإ ٍمِلْسُم ٍئِرْما ُلاَم ُّلَِيَ َلَ

6

.

ُهْنِم ٍسْفَ ن

راد دأد وبا ةاور(

)تىق

“Tidak halal harta seseorang muslim kecuali dengan kerelaan dari pemiliknya” (HR. Abu Daud dan Daruquthi, disahihkan oleh syaikh

al-Albani dalam Jami’ no. 7662)

Kedua menyatakan kebolehan mengambil pajak dari kaum muslimin, jika menurut Imam Al-Ghozali menyatakan pajak boleh diambil dari kaum muslimin, jika memang negara sangat membutuhkan dana dan untuk menerapkan kebijaksanaan ini pun harus terpenuhi beberapa syarat. Diantara ulama yang membolehkan pemerintah Islam mengambil pajak dari kaum muslimin adalah Abu Hamid al-Ghazali dalam al-Mustashfa dan asy-syatibhi dalam al-I’tisham ketika mengemukakan diantara syarat itu adalah kas Negara yang kosong akan sangat mebahayakan kelangsungan negara, baik adanya ancaman dari luar maupun dari dalam. Rakyat pun akan memilih kehilangan harta yang sedikit karena pajak dibandingkan kehilangan harta keseluruhan karena negara jatuh ketangan musuh. Kemudian untuk Negara membatu orang yang kurang mampu. Sedangkan dalam Al-Qur’an juga terdapat kewajiban membayar pajak yaitu Qur’an surat At-Taubah : 29, yang berbunyi.

39

َو ُهُلوُسَرَو ُهَّللا َمَّرَح اَم َنوُمِّرَحُي َلََو ِرِخ ْلْا ِمْوَ يْلاِب َلََو ِهَّللاِب َنوُنِمْؤُ ي َلَ َنيِذَّلا اوُلِتاَق

َلَ

ىَّتَح َباَتِكْلا اوُتوُأ َنيِذَّلا َنِم ِّقَحْلا َنيِد َنوُنيِدَي

ُطْعُ ي

َنوُرِغاَص ْمُهَو ٍدَي ْنَع َةَيْزِجْلا او

“ Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk “. (QS. At-Taubah : 29)

Menurut tafsir Quraish Shihab Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 29 adalah Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir dari kalangan Ahl al-Kitâb yang tidak beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar, serta tidak mempercayai hari kebangkitan dan hari pembalasan dengan benar, tidak meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, tidak memeluk agama yang benar, yaitu Islam. Perangilah mereka sampai mereka beriman atau menyerahkan jizyah(1) dengan tunduk dan taat serta tidak membangkang, agar mereka menyumbang untuk menguatkan anggaran belanja negara Islam. (1) Jizyah adalah salah satu sumber utama dalam anggaran negara Islam. Pajak ini berkisar antara 48 dan 12 dirham untuk satu orang, yang diambil dari orang-orang Yahudi dan Nasrani dan orang-orang yang memiliki status hukum yang sama dengan mereka. Jizyah ini diwajibkan atas laki-laki, baligh, sehat badan dan akal dengan syarat dia mempunyai harta yang dipakai untuk membayar apa yang

diwajibkan atasnya. Dan yang dibebaskan darinya adalah wanita, anak-anak dan orang-orang tua, karena perang tidak diumumkan bagi mereka. Orang buta, lemah (untuk berperang) juga tidak diwajibkan untuk membayar, kecuali apabila mereka kaya. Dan juga orang-orang fakir, miskin dan hamba-hamba sahaya dan para rahib yang menjauhkan diri dari manusia.

Sesuai dengan hadist yang diriwayatkan dari Fatimah Binti Qais, bahwa dia juga mendengar Rasulullah SAW bersabda:

)يزمريت ةاور( ِةاَكَّزلا ئَوِس اَّقَحَل ِلاَملا يِف َّنِا : ملس و هيَلَع للها لأ وُسَر لاَق ,سيق ِتنب ْهَمِتَف ْنَع

“ Sesungguhnya pada harta ada kewajiban/hak (untuk dikeluarkan) selain

zakat” HR Tirmidzi, no: 595, didalamnya ada rawi : Abu Hamzah

(Maimun).

2.2.6.2 Pendapatan Daerah

Perolehan sumber-sumber pendapatan negara bergantung pada kebijakan negara disebabkan tidak adanya aturan pasti Islam dan berkembangnya daerah-daerah kekuasaan. Demikian juga pentarifan sumber-sumber pokok kontributor pendapatan negara selain zakat. Sumber pendapatan Negara Islam salah satunya adalah fa’i (harta rampasan) yang didapat dari kekayaan orang-orang kafir yang dikuasai oleh kaum muslimin tanpa peperangan. Seperti yang dijelaskan dalam A-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 7.

41

ىَلَع ُهَّللا َءاَفَأ اَم

ىَرُقْلا ِلْهَأ ْنِم ِهِلوُسَر

ِلَو ِلوُسَّرلِلَو ِهَّلِلَف

ىَبْرُقْلا يِذ

ىَماَتَيْلاَو

ِنْباَو ِنيِكاَسَمْلاَو

ْمُكْنِم ِءاَيِنْغَْلأا َنْيَ ب ًةَلوُد َنوُكَي َلَ ْيَك ِليِبَّسلا

ُ ۚ

ُهْنَع ْمُكاَهَ ن اَمَو ُهوُذُخَف ُلوُسَّرلا ُمُكاَتآ اَمَو

اوُهَ تْ ناَف

ُ ۚ

َهَّللا اوُقَّ تاَو

ُ ۚ

ِباَقِعْلا ُديِدَش َهَّللا َّنِإ

﴿

٧

“ Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. ”(Q.S

Al-Hasyr : 7)

Pengertian menurut tafsir Quraish Shihab Harta penduduk kampung yang Allah serahkan kepada Rasul-Nya, Kerabat Nabi, anak yatim, orang miskin, dan ibn sabil (musafir di jalan Allah). Hal itu dimaksudkan agar harta tidak hanya berputar dikalangan orang kaya diantara kalian saja. Hukum-hukum yang dibawa oleh Rasulullah itu harus kalian pegang, dan larangan yang ia sampaikan harus kalian tinggalkan. Hindarilah diri kalian dari murka Allah. Sesungguhnya Allah benar kejam siksa-Nya.

42

BAB III