• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.2. Kajian Pustaka

2.2.6. Teori Interaksi Simbolik

2.2.5.3. Disonansi Kognitif dan Persepsi

Teori disonansi kognitif ini memprediksi bahwa orang akan menghindari informasi yang meningkatkan disonansi. Ada beberapa proses perseptual yang merupakan dasar dari penghindaran ini (West,2011:142-143), yaitu :

1. Terpaan Selektif, metode ini untuk mengurangi disonansi dengan mencari informasi yang konsonan dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.

2. Perhatiaan Selektif, metode ini mengurangi disonansi dengan memberikan perhatian pada informasi yang konsonan dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.

3. Interpretasi Selektif, metode ini untuk mengurangi disonansi dengan menginterpretasikan informasi yang ambigu sehingga informasi ini menjadi konsisten dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.

4. Retensi Selektif, metode untuk mengurangi disonansi dengan mengingat informasi yang konsonan dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.

2.2.6. TEORI INTERAKSI SIMBOLIK 2.2.6.1 Pengertian Teori Interaksi Simbolik

Komunikasi merupakan bentuk interaksi. Komunikasi adalah kendaraan atau alat yang digunakan untuk bertingkah laku dan untuk memahami serta memberi makna terhadap segala sesuatu (Morissan dan Wardhany,2009:11).

Interaksi simbolik adalah suatu cara berpikir mengenai pikiran (mind), diri dan masyarakat yang telah memberikan banyak kontribusi kepada tradisi sosiokultural dalam membangun teori komunikasi (Morissan dan Wardhany,2009:74).

George Herbert Mead dipandang sebagai pembangun paham interaksi simbolik ini. Ia mengajarkan bahwa makna muncul sebagai hasil interaksi di antara manusia, baik secara verbal maupun non verbal. Melalui aksi dan respon yang terjadi, maka memberikan makna ke dalam kata-kata atau tindakan, dan karenanya dapat memahami suatu peristiwa dengan cara-cara tertentu Morissan dan Wardhany,2009:75).

2.2.6.2 Prinsip Dasar Teori Interaksi Simbolik

Menurut Blumer (Santoso dan Setiansah,2010:22-23) ada tiga prinsip dasar interaksionisme simbolik yaitu :

1. Meaning

Blumer mengawali teorinya dengan premis bahwa perilaku seseorang terhadap sebuah obyek atau orang lain ditentukan oleh makna yang dia pahami tentang obyek atau orang tersebut.

2. Languange

Seseorang memperoleh makna atas sesuatu hal melalui interaksi. Makna adalah hasil interaksi. Makna tidak melekat pada obyek, melainkan diinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Bahasa adalah bentuk dari simbol.

3. Thought

Menurut Blumer, “an individual’s interpretation of symbol is modified by his or her own thought processes”. Interaksi simbolik menjelaskan proses berpikir sebagai inner conversation. Secara sederhana proses menjelaskan bahwa seseorang melakukan dialog dengan dirinya sendiri ketika berhadapan dengan sebuah situasi dan berusaha untuk memaknai situasi tersebut. Untuk bisa berpikir maka seseorang memerlukan bahasa dan mampu untuk berinteraksi secara simbolik.

Interaksi simbolik didasarkan pada ide-ide mengenai diri dan hubungannya dengan masyarakat. Karena ide ini dapat diinterpretasikan secara luas, akan dijelaskan secara detail tema-tema teori ini, dalam prosesnya, dan dijelaskan kerangka asumsi teori ini.

Menurut Ralph LaRossa dan Donald C. Reitzes (West,2011:98) telah mempelajari teori interaksi simbolik yang berhubungan dengan kajian orang tua dan memperlihatkan tiga tema besar, yaitu :

1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia 2. Pentingnya konsep mengenai diri

3. Hubungan antara individu dengan masyarakat

1. Pentingnya Makna Bagi Perilaku Manusia

Suatu objek dapat berupa aspek tertentu dari realitas individu apakah itu benda, kualitas, peristiwa, situasi atau keadaan. Bagi Kuhn, penamaan objek adalah penting guna menyampaikan makna suatu objek (Morissan,2009:75). Menurut pandangan interaksi simbolik, makna suatu objek sosial serta sikap dan rencana tindakan tidak merupakan ssesuatu yang terisolir satu sama lain. Seluruh ide paham interaksi simbolik menyatakan bahwa makna muncul melalui interaksi. Tujuan dari interaksi menurut interaksi simbolik untuk menciptakan makna yang sama karena tanpa makna yang sama berkomunikasi akan menjadi sangat sulit , atau bahkan tidak mungkin (West,2011:99).

Menurut LaRossa dan Reitzes, ada tiga asumsi yang mendukung pentingnya makna bagi perilaku manusia yang diambil dari karya Herbert Blumer, (West,2011:99-100)yaitu :

a. Manusia Bertindak Terhadap Manusia Lainnya Berdasarkan Makna yang Diberikan Orang Lain Kepada Mereka.

Asumsi ini menjelaskan perilaku sebagai suatu rangkain pemikiran dan perilaku yang dilakukan secara sadar antara rangsangan dan respons orang berkaitan dengan rangsangan tersebut. Mereka mencari makna dengan mempelajari psikologis dan sosiologis mengenai perilaku. Menurut Rogers

Thomas, membuat makna yang sesuai dengan kekuatan sosial yang membentuk dirinya.

Makna yang kita berikan pada simbol merupakan produk dari interaksi sosial dan menggambarkan kesepakatan kita untuk menerapkan makna tertentu pada simbol tertentu.

b. Makna Diciptakan dalam Interaksi Antarmanusia

Menurut Mead, makna dapat ada hanya ketika orang-orang mempunyai interpretasi yang sama mengenai simbol yang dipertukarkan dalam interaksi. Menurut Blumer, ada tiga cara untuk menjelaskan asal sebuah makna, yaitu :

1. Makna adalah sesuatu yang bersifat intrinsik dari suatu benda

2. Makna terdapat dalam orang bukan benda, makna dijelaskan dengan mengisolasi elemen-elemen psikologis di dalam seorang individu yang menghasilkan makna.

3. Melihat makna sebagai sesuatu yang terjadi diantara orang-orang .

Makna adalah “produk sosial” atau “ciptaan yang dibentuk dalam dan melalui pendefenisian aktivitas manusia ketika mereka berinteraksi.

c. Makna Dimodifikasi Melalui Proses Interpretif

Blumer menyatakan bahwa proses interpretif ini memiliki dua langkah yaitu yang pertama, menentukan benda-benda yang mempunyai makna. Blumer berargumen bahwa bagian dari proses ini berbeda ari pendekatan psikologis dan terdiri atas orang yang terlibat di dalam komunikasi dengan dirinya sendiri. Yag kedua, melibatkan si pelaku untuk memilih, mengecek, dan melakukan transformasi makna di dalam konteks di maba mereka berada.

2. Pentingnya Konsep Diri

Konsep diri merupakan seperangkat perspektif yang relatif stabil yang dipercayai orang mengenai dirinya sendiri. Pertanyaan “siapakah saya?” dapat membentuk konsep diri. Orang-orang yang mengembangkan konsepndiri, dalam interaksi simbolik adalah orang – orang yang menggambarkan individu dengan diri yang aktif, didasarkan pada interaksi sosial. Menurut Ralph LaRossa dan Donald C. Reitzes (West,2011:101-102), ada dua asumsi mengenai konsep diri, yaitu :

a. Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain.

Asumsi ini menyatakan orang-orang tidak terlahir dengan konsep diri; mereka belajar melalui kontak dengan orang lain. Seseorang mempunyai perasaan akan diri merupakan hasil dari kontaknya dengan orangtua, guru, dan lainnya. Peneliti-peneliti awal mengenai keluarga seperti Edgar Burgess menyatakan bahwa pentingnya keluarga sebagai sebuah institusi untuk bersosialisasi. Burgess juga menyatakan bahwa anak dan orangtua berselisih paham mengenai konsep diri. Konteks sosial dan interaksi adalah suatu yang penting untuk menyelidiki siapa diri kita.

b. Konsep Diri Memberikan Motif Penting Untuk Perilaku.

Pemikiran bahwa keyakinan, nilai, perasaan, penilaian-penilaian mengenai diri mempengaruhi perilaku adalah sebuah prinsip penting dalam interaksi simbolik. Meadn berpendapat bahwa karena manusia memiliki diri, mereka memiliki mekanisme perilaku dan sikap. Mead melihat diri, sebagai sebuah proses bukan struktur . Predikasi pemenuhan diri adalah prediksi mengenai diri sendiri yang menyebabkan diri tersebut berperilaku sedemikian sehingga hal tersebut benar-benar terjadi.

3. Hubungan Antara Individu dan Masyarakat

Hubungan antara individu dan masyarakat ini merupakan hubungan kebebasan individu dan batasan sosial. Ada dua asumsi (West,2011:103-104), yaitu :

a. Orang dan kelompok dipengaruhi oleh proses budaya sosial

Asumsi ini mengakui bahwa norma-norma sosial membatasi perilaku individu. Budaya secara kuat mempengaruhi perilaku dan sikap yang dianggap penting dalam konsep diri.

b. Struktur Sosial Dihasilkan Melalui Interaksi Sosial

Interaksi simbolik mempertanyakan pandangan bahwa struktur sosial tidak berubah serta mengaku bahwa individu dapat memodifikasi situasi sosial. Interaksi simbolik percaya bahwa manusia adalah pembuat pilihan.

2.2.7. MAHASISWA INDEKOS

Dokumen terkait