BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Teori Interaksionisme Simbolik
Simbol merupakan esensi dari teori interaksionisme simbolik. Teori ini menekankan pada hubungan antara simbol dan interaksi. Teori interaksionisme simbolik merupakan sebuah kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan manusia lainnya, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana dunia ini, dan bagaimana nantinya simbol tersebut membentuk perilaku manusia. Teori ini juga membentuk sebuah jembatan antara teori yang berfokus pada individu-individu dan teori yang berfokus pada kekuatan sosial.
Charon (1998) memaparkan interaksionisme simbolik adalah perspektif teoritis dimana perilaku manusia dijelaskan dengan memahami proses interaksi sosial yang terjadi pada sebuah masyarakat. Doherty menyatakan banyak orang yang belajar tentang perbaikan diri serta bagaimana meningkatkan hubungan keluarga. Perhatian pada kerangka konsep interaksionisme simbolik adalah pada self-concept, komunikasi, dan pentingnya hubungan untuk kesejahteraan individu berhubungan dengan ide-ide yang popular pada masa itu (dalam Bidwell dan Vandel Mey, 2000).
Blumer mengemukakan tiga prinsip dasar interaksionisme simbolik yang berhubungan dengan meaning (makna), language (bahasa), dan thought (pemikiran). Premis ini kemudian mengarah pada kesimpulan tentang pembentukan diri seseorang (person’s self) dan sosialisasinya dalam komunitas yang lebih besar.
1. Meaning (makna): Konstruksi Realitas Sosial.
Blumer mengawali teorinya dengan premis bahwa perilaku seseorang terhadap sebuah objek atau orang lain ditentukan oleh makna yang dia pahami tentang objek atau orang tersebut.
2. Language (bahasa): Sumber Makna.
Seseorang memperoleh makna atas sesuatu hal melalui interaksi. Sehingga dapat dikatakan bahwa makna adalah hasil interaksi social. Makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Bahasa adalah bentuk dari simbol. Oleh karena itu, teori ini kemudian disebut sebagai interaksionisme simbolik. Berdasarkan makna yang dipahaminya, seseorang kemudian dapat memberi nama yang berguna untuk membedakan suatu objek, sifat atau tindakan dengan objek, sifat atau tindakan lainnya. Dengan demikian premis Blumer yang kedua adalah manusia memiliki kemampuan untuk menamai sesuatu. Simbol, termasuk nama, adalah tanda yang arbiter. Percakapan adalah sebuah media pencitaan makna dan pengembangan wacana. Pemberian nama secara simbolik adalah basis terbentuknya masyarakat. Para interaksionis meyakini bahwa upaya mengetahui sangat tergantung pada proses pemberian nama, sehingga dikatakan bahwa interaksionisme simbolik adalah cara kita belajar menginterpretasikan dunia.
Proses pengambilan peran orang lain. Premis ketiga Blumer adalah interpretasi simbol seseorang dimodifikasi oleh proses pemikirannya. Interaksionisme simbolik menjelaskan proses berpikir sebagai inner conversation,
Mead menyebut aktivitas ini sebagai minding. Secara sederhana proses ini
menjelaskan bahwa seseorang melakukan dialog dengan dirinya sendiri ketika berhadapan dengan sebuah situasi tersebut. Untuk bisa berpikir maka seseorang memerlukan bahasa dan harus mampu untuk berinteraksi secara simbolik.Bahasa adalah software untuk bisa mengaktifkan mind (dalam Bidwell dan Vandel Mey, 2000).
Pendangan lain dari Mead yaitu bagaimana untuk memahami proses berpikir adalah pendapatnya yang menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan yang unik untuk memerankan orang lain (taking the role of the other). Sebagai contoh, pada masa kecilnya, anak-anak sering bermain peran sebagai orang tuanya, berbicara dengan teman imajiner dan secara terus menerus sering menirukan peran-peran orang lain. Pada saat dewasa seseorang akan meneruskan untuk menempatkan dirinya pada posisi orang lain dan bertindak sebagaimana orang itu bertindak. Mengambil orang lain sebagai model untuk ia tiru dalam setiap tindak tanduk keseharian.
Setelah memahami konsep meaning, language dan thought, maka kita dapat memperkirakan konsep Mead tentang diri (self). Mead menolak anggapan bahwa seseorang bisa megetahui siapa dirinya melalui introspeksi. Ia menyatakan bahwa untuk mengetahui siapa diri kita maka kita harus melukis potret diri kita melalui sapuan kuas yang datang dari proses pengambilan peran (taking the role of the
other). Proses ini berusaha membayangkan apa yang dipikirkan orang lain tentang
diri kita. Para interaksionis menyebut gambaran mental ini sebagai the looking glass self dan hal itu dikonstruksi secara sosial.
Interaksi simbolis dapat digunakan dalam berbagai cara untuk menjelaskan dan mengartikan masalah atau persoalan dalam keluarga. Konsep-konsep seperti kelompok primer pada sebuah lingkungan sosial, peran sosial, konsep diri sendiri, situasi atau keadaan keluarga, dan pembicaraan internal, semuanya itu digunakan untuk menentukan dinamika yang terjadi dalam keluarga.
Interaksionisme simbol menyebutkan beberapa premis yang digunakan untuk merumuskan teori ini yaitu :
1. Manusia adalah makhluk yang unik karena dapat membuat dan memanipulasi
simbol. Kemampuan untuk berpikir dalam hal simbol yang abstrak memungkinkan individu untuk mengklasifikasikan pengalaman mereka, mengingat peristiwa masa lalu, dan memprediksi apa yang mungkin terjadi di masa depan.
2. Arti simbol dibuat dalam interaksi sosial. Interaksi simbolis menegaskan bahwa semua orang, benda dan peristiwa sampai batas tertentu mendapatkan makna melalui proses interaksi sosial. Dengan kata lain individu dalam memandang suatu benda, suatu peristiwa yang mempengaruhi perilaku manusia ataupun peristiwa yang melekat pada dirinya permanen. Melainkan dapat berubah dari waktu ke waktu dan dalam situasi yang berbeda-beda
3. Persepsi situasi mempengaruhi perilaku manusia. Dalam Thomas (1928) perilaku manusia sepenuhnya baik dalam keadaan objektif dan penafsiran subjektif dari situasi harus di analisa.
4. Manusia dilahirkan menjadi masyarakat yang sedang berlangsung. Perilaku
manusia dipengaruhi oleh norma sosial dan nilai sosial tertentu. Untuk itu seorang individu harus belajar melalui sosialisasi agar memahami norma-norma dan nilai- nilai budaya mereka.
5. Individu tidak dilahirkan dengan rasa tetapi mengembangkan konsep diri melalui interaksi sosial. Looking glass self oleh Cooley (1902) memiliki tiga elemen utama: imajinasi kita tentang bagaimana kita muncul dihadapan orang lain, imajinasi kita tentang bagaimana orang lain menilai penampilan kita, dan perasaan diri seperti kebanggaan atau rasa malu, bahwa hasil dari bagaimana kita membayangkan orang lain telah dievaluasi oleh kita.
6. Diri adalah proses dan objek yang baik. Mead (1934) “I” (sebagai proses) dan“me” (sebagai objek) berargumen bahwa konsep diri terus-menerus diperoleh seperti kita berinteraksi dengan orang lain kemudian kita dapat merefleksikan sendiri, kita berpikir tentang perilaku dan apa yang orang lain mungkin berpikir dari kita.
7. Manusia harus mempelajari lingkungan alam mereka dan konteks budaya. Manusia adalah makhluk yang unik karena perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan dan tidak dapat dipahami secara terpisah dari konteks budaya.