Proposal Skripsi
Studi Kasus : Perilaku Seksual “
Dating Couples”
di Kota Medan
Disusun Oleh:
Monica Christy S
NIM. 090901056
DEPARTEMEN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
Perselingkuhan merupakan suatu kedekatan antara laki-laki dan perempuan
secara emosional dimana didalamnya tidak terikat oleh pernikahan yang akan
menimbulkan masalah ataupun konflik. Masalah rumah tangga bisa bersumber dari
mana saja, bisa dari suami, isteri, bahkan dari pihak ketiga. Karena itu, ketika rumah
tangga diterpa masalah, bukan hanya suami yang dituntut untuk menyikapi dan
mencari jalan keluar, isteripun harus ikut aktif dalam menyelesaikannya.
Teori interaksionisme simbolik menunjukan adanya simbol-simbol yang
diberikan oleh “dating couples”. Simbol-simbol tersebut diberikan dalam
berinteraksi dengan perilaku-perilaku menyimpang dalam sebuah pernikahan,
dimana mereka terlibat dalam sebuah masalah keluarga dan mengalihkannya kepada
hubungan khusus dengan orang lain yang bukan suami ataupun isterinya. Pengalihan
interaksi oleh “dating couples” mengarah kepada hal yang bertentangan dengan
norma-norma sosial sehingga menimbulkan suatu penyimpangan sosial. Perilaku
yang menyimpang tersebut merupakan aktivitas perselingkuhan yang pada awalnya
untuk menghilangkan beban dipikiran dengan kesenangan-kesenangan dari pihak
ketiga. Jenis penelitian yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif dengan metode
studi kasus.
Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya pola tempat tinggal “dating
couples” yaitu 1) berasingan rumah tetapi mempunyai rumah untuk tempat bertemu,
2) tanpa rumah tempat tinggal bersama, tetapi menjadikan rumah keluarga sebagai
tempat pertemuan, 3) satu rumah bersama tanpa status pernikahan, 4) tanpa rumah
yang dibina bersama, pertemuan hanya di warung remang-remang dan hotel, 5)
tanpa rumah tempat tinggal, tanpa berhubungan seksual hanya bertemu hanya di
warung remang-remang. Adanya pola pertemuan yang terlihat dalam “dating
couples”, dimana mereka bertemu di 1) rumah salah satu “dating couples”, 2)
warung remang-remang, 3) bungalow atau hotel kelas melati. Terlihat pula rutinitas
pertemuan dalam “dating couples” yang disesuaikan dengan kegiatannya, yaitu ; 1)
pertemuan dengan jadwal tertentu, 2) pertemuan dengan waktu yang tidak tertentu,
3) pertemuan setiap hari. Beberapa alasan yang menjadi latar belakang perilaku
terpengaruh kondisi lingkungan 3) kebutuhan seksual yang tidak seimbang. Kualitas
untuk bertahannya suatu hubungan terikat pada suatu komitmen yang dijalani
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
limpahan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
Studi Kasus Perilaku Seksual “Dating Couples” di Kota Medan. Keluarga
merupakan sosialisasi primer dimana di dalam keluarga terdiri dari ayah, ibu dan
anak-anak yang diawali dengan sebuah pernikahan. Kesenjangan sebuah pernikahan
dalam keluarga sering sekali terjadi dikarenakan beberapa faktor yang menimbulkan
suatu perbedaan-perbedaan, hal ini menyebabkan suami ataupun isteri mencari
kesenangan sendiri agar dapat terlepas dari segala beban yang berawal dari rumah
tangga.
Berdasarkan hal tersebut diatas penulis membuat judul skripsi Studi Kasus
Perilaku Seksual “Dating Couples” di Kota Medan yang merupakan syarat dalam
memenuhi tugas akhir mengikuti perkuliahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP-USU).
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
Prof.Dr.Badaruddin, M.Si selaku dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara dan Dra.Lina Sudarwaty, M.Si selaku Ketua Departemen
Sosiologi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan masukan dan bantuan
sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan. Prof. Rizabuana, M.Phil., Ph.D.,
selaku dosen pembimbing yang dengan kesabarannya membimbing penulis. Untuk
itu penulis sangat berterima kasih dan semoga penulis berharap dapat membalas jasa
dosen pembimbing.
Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih Ayah tercinta Alm.
Halomoan Situmorang serta Ibunda Agustina Tamba dan Papa tersayang Drs. Telah
Tarigan dan kakak tercinta Monalisa Gabriella Situmorang yang telah memberikan
semangat dan kasih sayang sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.
Terima kasih banyak buat sahabat-sahabat sosiologi Ledy Yakin Ambarita,
Lydia Melissa Bukit, Bertha Manurung, Nonni Tambunan, Angeline Sitompul,
Pestauli Sitinjak, Dewi Septriya, May Yuliarti, dan teman-teman departemen
sosiologi lainnya atas segala kebersamaan selama perkuliah hingga akhirnya
menyelesaikan skripsi ini. Terlebih lagi kepada rekan kerja Coffee Cangkir Ahmad
Fauzi, Hotbina Simanjuntak, Desvan Baruna dan Moch Zein yang ikut serta dalam
membantu penelitian dan penyusunan tugas akhir ini. Tidak lupa penulis
mengucapkan terima kasih kepada Erickson Siboro ST dengan segala ketulusan dan
kesabarannya memberikan dukungan dan bantuan dalam penelitian untuk
penyusunan tugas akhir ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini
dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap kerangka acuan skripsi ini dapat
memberikan wawasan dan pengetahuan kepada para pembaca pada umumnya dan
pada penulis pada khususnya.
Medan, 18 Agustus 2013
Penulis
Monica Christy S
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFATAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR PETA ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 6
1.3. Tujuan Penelitian ... 6
1.4. Manfaat Penelitian ... 7
1.4.1. Manfaat Teoritis………..……….. . 7
1.4.2. Manfaat Praktis ... 7
1.5. Definisi Konsep ... 7
1.5.1. Perilaku Seksual ..………… ... 7
1.5.2. “Dating Couple” ... 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12
2.1. Penelitian TerdahulU ... 12
2.2. Landasan Teori ... 18
2.2.1. Teori Interaksionisme Simbolik ... 18
2.2.2 Teori Penyimpangan Sosial ... 22
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 25
3.1. Jenis Penelitian………..……... ... 25
3.4.1. Deskripsi Wilayah dan Lokalisasi Prostitusi………27
3.4.1.1. Keadaan Geografis Kota Medan………... 28
3.4.1.2. Lokalisasi di Kota Medan……… ... 28
3.4.1.2.1. Jalan Nibung Raya dan Jalan Gajah Mada atau Jalan Iskandar Muda antara Mall Ramayana dan Medan Plaza.. ... 30
3.4.1.2.2. Hotel antara Jalan Jamin Ginting menuju Pancur Batu ... 32
3.4.1.2.3. Bandar Baru Medan ... 35
3.4.1.3. Sejarah Prostitusi ... 41
3.5. Jadwal Kegiatan... ... 44
BAB IV Perilaku Seksual “Dating Couples” di Kota Medan ... 45
4.1. Mengenal Para Responden ... 45
4.1.1. Informan I, AT (Ibu Rumah Tangga) ... 45
4.1.2. Informan II CS (Pegawai Negeri) ... 47
4.1.3. Informan III, HS (Ibu Rumah Tangga) ... 48
4.1.4. Informan IV, US (Penyanyi di Warung Remang-remang) ... 50
4.1.5. Informan V, MJ (Ibu Rumah Tangga) ... 51
4.1.6. Informan VI, SAN (Wiraswasta) ... 52
4.1.7. Informan VII, BP ( Polantas ) ... 54
4.1.8. Informan VIII, ES ( Polisi ) ... 55
4.1.9. Informan IX, ALI ( Pemulung) ... 55
4.1.10.Informan X, RP (Ibu Rumah Tangga) ... 57
4.2. Pola Tempat Tinggal “Dating Couple……… ... 57
4.2.1. Berasingan Rumah Tetapi Mempunyai Rumah untuk Tempat Bertemu ... 60
4.2.2. Tanpa Rumah Tempat Tinggal Bersama, Tetapi Menjadikan Rumah Keluarga Sebagai Tempat Pertemuan... ... 65
4.2.3. Satu Rumah Bersama Tanpa Status Pernikahan... ... 67
4.2.4. Tanpa Rumah yang Dibina Bersama, Pertemuan Hanya di Warung Remang-remang dan Hotel... ... 70
4.2.5. Tanpa Rumah Tepat Tinggal, Tanpa Berhubungan Seksual Hanya Bertemu di Warung Remang-remang... ... 72
4.3. Pola Pertemuan “Dating Couples” ………..…………... ... 75
4.3.1. Lingkungan Tempat bertemunya “Dating Couples”... ... 80
4.3.1.1. Rumah Salah Satu “Dating Couples”... ... 80
4.3.1.2. Warung Remang-remang... ... 82
4.3.1.3. Bungalow atau Hotel kelas Melati... ... 85
4.3.2. Waktu Pertemuan... ... 88
4.3.2.1. Pertemuan dengan Jadwal Tertentu ... 89
4.3.2.2. Pertemuan dengan Waktu yang Tidak Tertentu ... 92
4.3.2.3. Pertemuan Setiap Hari... ... 96
4.4. Perilaku Seksual……… ... 101
4.4.1. Perilaku Intim... ... 102
4.4.2. Perilaku Menyenangkan... ... 105
4.5. Latar Belakang “Dating Couples” Melakukan Perilaku Seksual ... 108
4.5.1. Pekerjaan Suami yang Berada di Luar Kota... .. 108
4.5.2. Tepengaruh Kondisi Lingkungan... ... 111
4.5.3. Kebutuhan Seksual yang Tidak Seimbang... ... 113
4.6. Komitmen “Dating Couples” dalam Sebuah Hubungan ... 115
4.6.1. Saling Percaya, Saling Menjaga Perasaan dan Komunikasi ... 115
4.6.2.Tetap Menjaga Hubungan dengan Keluarga Walaupun Memiliki Hubungan Gelap... ... 117
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 119
5.1. Kesimpulan ... 119
5.2. Saran ... 122
INTERVIEW GUIDE ... 123
DAFTAR PUSTAKA ... 126 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
1.1. Latar Belakang ... 3 3.5. Jadwal Kegiatan ... 44
DAFTAR PETA
3.4.1.1. Keadaan Geografis Kota Medan – Peta Sumatera Utara ... 27 3.4.1.1. Keadaan Geografis Kota Medan – Peta Kecamatan Sumatera Utara ... 28
DAFTAR GAMBAR
3.4.1.2.2. Hotel antara Jalan Jamin Ginting menuju Pancur Batu ... 32
3.4.1.2.3. Bandar Baru Medan – Hotel ... 35
3.4.1.2.3. Bandar Baru Medan – Kondom ... 39
4.2.3. Informan III, HS (Ibu Rumah Tangga) ... 49
4.2.4. Informan IV (Penyanyi di Warung Remang-remang) ... 50
4.2.9. Informan IX, ALI ( Pemulung) ... 56
4.2. Pola Tempat Tinggal “Dating Couple” ... 57
4.2.1. Berasingan Rumah Tetapi Mempunyai Rumah untuk Tempat Bertemu – Tempat Tinggal HS ... 61
4.2.1. Berasingan Rumah Tetapi Mempunyai Rumah untuk Tempat Bertemu – HS dan Kekasihnya ... 62
4.2.1. Berasingan Rumah Tetapi Mempunyai Rumah untuk Tempat Bertemu – Rumah Salah Satu “Dating Couples” ... 63
4.3. Pola Pertemuan “Dating Couples” ... 76
4.3.1.1. Rumah Salah Satu “Dating Couples” ... 80
4.3.1.2. Warung Remang-remang ... 82
4.3.1.3. Bungalow atau Hotel kelas Melati ... 85
4.3.1.3. Bungalow atau Hotel kelas Melati - Bungalow Latersia, Berastagi ... 87
ABSTRAK
Perselingkuhan merupakan suatu kedekatan antara laki-laki dan perempuan
secara emosional dimana didalamnya tidak terikat oleh pernikahan yang akan
menimbulkan masalah ataupun konflik. Masalah rumah tangga bisa bersumber dari
mana saja, bisa dari suami, isteri, bahkan dari pihak ketiga. Karena itu, ketika rumah
tangga diterpa masalah, bukan hanya suami yang dituntut untuk menyikapi dan
mencari jalan keluar, isteripun harus ikut aktif dalam menyelesaikannya.
Teori interaksionisme simbolik menunjukan adanya simbol-simbol yang
diberikan oleh “dating couples”. Simbol-simbol tersebut diberikan dalam
berinteraksi dengan perilaku-perilaku menyimpang dalam sebuah pernikahan,
dimana mereka terlibat dalam sebuah masalah keluarga dan mengalihkannya kepada
hubungan khusus dengan orang lain yang bukan suami ataupun isterinya. Pengalihan
interaksi oleh “dating couples” mengarah kepada hal yang bertentangan dengan
norma-norma sosial sehingga menimbulkan suatu penyimpangan sosial. Perilaku
yang menyimpang tersebut merupakan aktivitas perselingkuhan yang pada awalnya
untuk menghilangkan beban dipikiran dengan kesenangan-kesenangan dari pihak
ketiga. Jenis penelitian yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif dengan metode
studi kasus.
Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya pola tempat tinggal “dating
couples” yaitu 1) berasingan rumah tetapi mempunyai rumah untuk tempat bertemu,
2) tanpa rumah tempat tinggal bersama, tetapi menjadikan rumah keluarga sebagai
tempat pertemuan, 3) satu rumah bersama tanpa status pernikahan, 4) tanpa rumah
yang dibina bersama, pertemuan hanya di warung remang-remang dan hotel, 5)
tanpa rumah tempat tinggal, tanpa berhubungan seksual hanya bertemu hanya di
warung remang-remang. Adanya pola pertemuan yang terlihat dalam “dating
couples”, dimana mereka bertemu di 1) rumah salah satu “dating couples”, 2)
warung remang-remang, 3) bungalow atau hotel kelas melati. Terlihat pula rutinitas
pertemuan dalam “dating couples” yang disesuaikan dengan kegiatannya, yaitu ; 1)
pertemuan dengan jadwal tertentu, 2) pertemuan dengan waktu yang tidak tertentu,
3) pertemuan setiap hari. Beberapa alasan yang menjadi latar belakang perilaku
terpengaruh kondisi lingkungan 3) kebutuhan seksual yang tidak seimbang. Kualitas
untuk bertahannya suatu hubungan terikat pada suatu komitmen yang dijalani
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) “selingkuh” diartikan sebagai
kebiasaan suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus
terang, tidak jujur, curang, serong. Perselingkuhan merupakan salah satu perbuatan
curang yang dilakukan dimana seseorang merusak kepercayaan dari pasangan
hidupnya yang berdampak pada kekecewaan oleh pasangan yang telah merasa
dikhianati. Perselingkuhan merupakan suatu kedekatan antara laki-laki dan
perempuan secara emosional dimana didalamnya tidak terikat oleh pernikahan yang
akan menimbulkan masalah ataupun konflik dalam pernikahan masing-masing pihak
yang terlibat didalamnya.
Debbie Then (1998) memaparkan beberapa penelitian menunjukan bahwa
dibanyak tempat di Amerika kurang lebih 25 - 90% lelaki telah mengkhianati isteri
mereka. Penelitian yang sama juga menyatakan bahwa 30 - 60% perempuan pernah
atau tengah melakukan hubungan gelap di luar nikah. Perbedaan presentase yang
besar di atas terjadi karena jika bicara tentang perilaku seksual, kaum laki-laki
cenderung melebih-lebihkan aktivitas mereka sementara para perempuan cenderung
merendahkannya. Berapapun angka presentase yang benar, yang jelas jumlah
hubungan gelap yang melibatkan mereka yang telah menikah ternyata besar.
Menurut Great Australian Sex and Relationship Survey yang dilakukan oleh News
Ltd (1996) ternyata 30 % perserta survei pernah terlibat dalam hubungan gelap
jangka pendek, 25 % pernah mempunyai keterlibatan emosional jangka panjang
dengan orang ketiga, 10 % peserta survei terlibat dalam hubungan gelap dan yang
paling menarik 30 % peserta mengakui bahwa mereka pernah “naksir” seseorang dan
Ada beberapa sifat buruk seorang isteri ataupun suami menurut Sarumpet
(1973:56) sehingga pasangan melakukan perselingkuhan, walaupun ini hanya alasan
yang dicari-cari.
Sifat buruk seorang isteri, menurut pandangan dari suami selingkuh adalah :
1. Sifat Malas, salah satu contohnya adalah keadaan rumah yang tidak bersih dan
tidak teratur, makanan tidak menarik dan anak yang tidak terurus.
2. Pemarah. Seorang isteri pemarah akan mengalami kesukaran bukan dia saja yang
ditimpa kerugian karena marahnya itu melainkan anak-anak dan suaminya
bahkan orang-orang lain yang bergaul dengan dia.
3. Kebiasaan boros. Membelanjakan uang tanpa memperhitungkan keseimbangan
dan mengeluarkan uang dengan membeli pakaian lux tanpa memperhitungkan
kebutuhan seluruh keluarga sepanjang bulan adalah pemborosan.
4. Tidak melaksanakan tanggung jawab. Isteri yang mengerti tugasnya, akan
mengatur keseimbangan makanan keluarga serta berusaha mencocokan
masakannya dengan selera anak-anak dan suami.
5. Tidak mendidik anak. Mendidik anak adalah tugas yang paling mulia yang
pernah diamanatkan Tuhan kepada ibu bapak. Pengaruh ibu terhadap anak-anak
adalah yang terkuat di dunia ini itu karena akan terus hidup di hati anak.
Sedangkan sifat buruk seorang suami menurut pandangan isteri selingkuh adalah :
1. Mementingkan diri sendiri, suami seharusnya memikirkan lebih dahulu makanan
anak-anak dan isteri daripada untuk dirinya sendiri.
2. Terlalu kasar. Banyak isteri yang menderita batin karena suami terlalu kasar dan
buas. Suara membentak sangat menyinggung perasaan seorang wanita
3. Malas. Banyak isteri yang menderita karena suami yang malas. Suami yang tidak
mau bertanggungjawab membiayai rumah tangga. Suami yang belum mengetahui
pikulan seorang suami dalam rumah tangga.
4. Bergaul terlalu bebas. Hal ini dapat merugikan nama baik suami tersebut,
mengganggu kerukunan rumah tangga dan mencemarkan nama wanita yang
digauli itu.
5. Tidak menghiraukan program rumah tangga. Banyak suami oleh sebab terlalu
sibuk dengan tanggung jawab dan pergaulan sosial diluar, sehingga tidak sempat
Pada penelitian yang pernah dilakukan oleh Ni Luh Putu Suciptawati (2005)
dan Sarumpet (1973) memaparkan beberapa penyebab dari perselingkuhan yaitu :
No Faktor Penyebab %
1 Tidak Adanya Ketentraman dalam Rumah Tangga 4-8
2 Faktor Ekonomi 8-16
3 Kurangnya Perhatian dan Kebutuhan Batin 10-20
4 Kurangnya Komunikasi 11-22
5 Faktor yang Lainnya 17-34
Beberapa alasan perselingkuhan di atas menjelaskan
1. Ambisi yang Tinggi dari Pasangan
2. Orang yang melakukan perselingkuhan sering kali memberi alasan bahwa tidak
ada kecocokan antara satu dan yang lainnya sehingga menganggap tidak adanya
rasa kenyamanan. Padahal pasangan dianggap baik jika bisa memperbaiki sifat
dari pasangan hidupnya bukan menjadikan sikapnya untuk memperburuk
keadaan yang ada. Faktor Ekonomi
3. Tidak terpenuhinya kebutuhan dalam rumah tangga dikarenakan adanya rasa
ketidakpuasan terhadap apa yang sudah dimiliki dan menginginkan untuk
mendapatkan yang lebih. Penghasilan yang berlebih juga bisa membuat salah
satu pihak sering menghabiskan waktunya diluar rumah tanpa pasangan
resminya. Kurangnya Perhatian kepada Pasangan terhadap Kebutuhan Batin
Perselisihan yang disebabkan ketidakselarasan persetubuhan sering
timbul oleh sebab nafsu seks suami tidak sama besarnya dengan nafsu seks isteri.
Dalam hal ini baik suami maupun isteri harus mempelajari tinggi rendahnya
dorongan seks partnernya. Masing-masing patut mengadakan penyesuaian diri.
Masing-masing wajib berusaha untuk memberi kepuasan seksual kepada
partnernya.
4. Kurangnya Komunikasi
Beberapa pasangan yang ada sering terlihat berusaha untuk menjauhi
keadaan dari suatu masalah. Suami yang berakal budi akan memberikan
kesempatan kepada isteri untuk memberikan pendapatnya dan sebaliknya.
karena suara yang bernada tinggi merusak suasana ketentraman rumah
tangga.Suara dapat menyakiti hati suami atau isteri.
5. Faktor yang lainnya
Faktor yang dimaksudkan pihak ketiga sebagai tempat bertukar pikiran
dan mampu memberikan rasa kenyamanan dari permasalahan yang ada. Baik
suami maupun isteri harus membatasi diri untuk tidak bergaul terlalu bebas
dengan orang lain, apalagi jika perlakuan itu menyakiti hati partner sendiri.
Selain pergaulan terlalu bebas menimbulkan kecurigaan dan cemburu, itu dapat
menjerumuskan seseorang kepada orang yang melanggar sumpah serapah
perkawinan. Banyaklah suami yang akhirnya melakukan pergaulan bebas
dikarenakan bergaul terlalu bebas.
Adapun akibat-akibat yang disebabkan oleh perselingkuhan menurut
Lindsay (2008) antara lain :
1. Perselingkuhan mempunyai dampak psikologis yang sangat negatif dan sangat
menyakitkan yang pernah dirasakan seorang individu dewasa.
2. Mempunyai peringkat kedua setelah kesedihan akibat meninggalnya seorang
anak.
3. Dampak psikologis ini akibat hilangnya harga diri, rasa hormat, rasa aman,
kenyamanan dan kepercayaan yang telah bertahun-tahun dibangun serta rasa
dilecehkan oleh pasangannya yang bersekongkol dengan orang ketiga.
4. Hubungan yang retak tidak mungkin menjadi utuh kembali.
Pandangan lain dari Adriana (2009) (dalam Weiner-Davis, 1992; Glass &
Staeheli, 2003; Subotnik & Harris, 2005; Snyder, Baucom, & Gordon, 2008;
Hargrave, 2008; & Gordon, 2008;) yang merupakan beberapa dampak
perselingkuhan antara lain :
1. Terkejut dan tidak percaya.
Keengganan suami untuk terbuka tentang detil-detil perselingkuhan membuat
istri semakin marah dan sulit percaya pada pasangan. Namun keterbukaan suami
seringkali juga berakibat buruk karena membuat istri trauma dan mengalami
mimpi buruk berlarut-larut.
Perselingkuhan berarti pula penghianatan terhadap kesetiaan dan hadirnya wanita
lain dalam perkawinan sehingga menimbulkan perasaan sakit hati, kemarahan
yang luar biasa, depresi, kecemasan, perasaan tidak berdaya, dan kekecewaan
yang amat mendalam.
3. Membicarakan masalah perkawinan dengan suami.
Tidak sedikit yang kemudian berakhir dengan perceraian karena istri merasa
tidak sanggup lagi bertahan setelah mengetahui bahwa cinta mereka dikhianati
dan suami telah berbagi keintiman dengan wanita lain.
4. Memperbaiki kondisi perkawinan.
Mereka mengalami konflik antara tetap bertahan dalam perkawinan karena masih
mencintai suami dan anak-anak dengan ingin segera bercerai karena perbuatan
suami telah melanggar prinsip utama perkawinan mereka.
Rumah tangga bahagia merupakan dambaan setiap pasngan suami-isteri.
Namun pada kenyataannya, jalannya tidak semulus seperti yang didamba. Perbedaan
pandangan antara suami-isteri merupakan hal wajar dan tidak ada alasan takut
mengahadapinya. Tapi, perselisihan terus-menerus dan cenderung tak berujung,
sikap tidak mau saling mengalah, serta lebih mengedepankan emosi, merupakan satu
hal yang tidak boleh ditolelir, apapun alasnnya. Disinilah diperlukan hati lapang dan
pikiran terbuka. Sehingga segala bentuk kebijakan dan keputusan yang diambil
benar-benar objektif dan menguntungkan semua pihak demi mempertahankan rumah
tangga.
Masalah rumah tangga bisa bersumber dari mana saja, bisa dari suami, isteri,
bahkan dari pihak ketiga. Karena itu, ketika rumah tangga diterpa masalah, bukan
hanya suami yang dituntut untuk menyikapi dan mencari jalan keluar, isteripun harus
ikut aktif dalam menyelesaikannya. Bahkan tidak jarang isteri dituntut untuk
mengambil keputusan yang pasti dan tepat dalam menghadapi persoalan yang
menghimpit keluarganya sehingga dia bisa menyelamatkan biduk rumah tangga yang
dibangun bersama dan orang terdekatnya (Ghoffar, 2006:2).
Whitehead, seorang Psikolog AS yang meneliti tentang hubungan suami istri,
beranggapan bahwa munculnya selingkuh (perselingkuhan) dikarenakan luapan
kebahagiaan justru menjatuhkan mereka ke dalam jurang kekecewaan, sehingga
ketika harapan tidak tampak maka masing-masing mulai mencari pasangan baru
yang dirasa lebih pas.
yang melibatkan orang lain diluar pasangan sahnya dalam perkawinan (suami/istri)
dengan memberi atau menerima perlakuan yang seharusnya diberikan pada pasangan
yang sah yaitu membentuk perlakuan dengan hubungan seksual antara 2 (dua) orang.
Beberapa pakar juga berpendapat, selingkuh tidak hanya soal hubungan
seksual. Ada keterlibatan asmara antara dua pasangan yang bukan pasangan resmi
bisa dikatakan sebagai bentuk perselingkuhan, misalnya kissing, pengungkapan
perasaan cinta dan komunikasi intensif yang melibatkan perasaan.
1.2. Perumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan hal yang paling penting dalam suatu
penelitian, hal ini diperlukan agar batasan masalah menjadi jelas sehingga dapat
dijadikan pedoman dalam melakukan penelitian. Melalui pemaparan latar belakang
di atas maka penulis mengidentifikasikan perumusan masalah yang dijadikan sarana
penelitian adalah bagaimana perilaku seksual yang dilakukan oleh pasangan“dating
couples” secara sosiologis, perilaku seksual yang dikaji tidak terbatas pada konsep
touching, kissing, dan petting tetapi juga ingin melihat apa yang menjadi latar
belakang pasangan ini melakukan hal tersebut yang dikaji melalui pola-pola
pertemuan, komitmen yang terjadi diantara kedua pasangan serta perasaan kasih
sayang yang mereka wujudkan dalam kehidupan sehari-harinya.
1.3. Tujuan Penelitian:
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
perilaku seksual “dating couples” di Kota Medan dan latar belakang pasangan yang
1.4. Manfaat Penelitian
Gambaran tentang penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
1.4.1. Manfaat Teoritis
Untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan pada umumnya
dan menambah sumber pengetahuan serta dapat digunakan sebagai bahan referensi
dan informasi bagi peneliti lain yang berminat mengkaji masalah-masalah yang
berhubungan dengan perilaku “dating coupeles” di kafe remang-remang kota Medan
dalam rangka menambah wawasan dan perbandingan dengan lokasi penelitian
lainnya.
1.4.2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan yang berguna bagi
pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang sosiologi keluarga dan juga
dapat menjadi sumbangan terutama yang berminat dan mempunyai perhatian
terhadap pada perilaku “dating coupeles”. Di samping itu juga merupakan prasyarat
bagi penyelesaian studi di perguruan tinggi, sesuai dengan disiplin ilmu yang
digeluti.
1.5. Definisi Konsep 1.5.1. Perilaku Seksual
Herri Zan Pieter (2010) membagi aspek-aspek perilaku ke dalam beberapa
bagian yaitu:
1. Pengamatan, dimana pengamatan adalah pengenalan objek dengan cara melihat,
mendengar, meraba, membau, dan mengecap. Kegiatan-kegiatan ini biasanya
disebut dengan modalitas pengamatan.
2. Perhatian, Natoatmodjo (2007) mengatakan bahwa perhatian adalah kondisi
pemusatan energi psikis yang tertuju kepada suatu objek dan merupakan
kesadaran seseorang dalam aktivitas.
3. Tanggapan adalah gambaran dari hasil suatu penglihatan, sedangkan
pendengaran dan penciuman merupakan aspek yang tinggal dalam ingatan.
Sementara, tanggapan-tanggapan negatif mendorong orang untuk meninggalkan
atau mengubah perilakunya.
4. Fantasi adalah kemampuan untuk membentuk tanggapan yang telah ada. Namun
tidak selamanya tanggapan baru selalu sama dengan
tanggapan-tanggapan sebelumnya.
5. Ingatan (memory). Segala macam kegiatan belajar melibatkan ingatan. Jika
seseorang tidak dapat mengingat apa pun mengenai pengalamannya berarti dia
tidak dapat belajar apapun. Dengan ingatan orang mampu merefleksikan dirinya.
6. Berpikir. Berpikir adalah aktivitas idealis menggunakan simbol-simbol dalam
memecahkan masalah berupa deretan ide dan bentuk bicara. Berpikir menjadi
ukuran keberhasilan seseorang dalam belajar, berbahasa, berpikir, dan
memecahkan masalah.
7. Motif. Motif adalah dorongan dalam diri yang mengarahkan seseorang
melakukan kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan. Motif tidak dapat diamati,
namun dapat terlihat melalui bentuk-bentuk perilakunya.
Seksual berasal dari kata “sex” biasanya kita akan teringat dengan alat
kelamin, jenis kelamin atau hubungan seks. Seksualitas artinya lebih luas, yaitu
bagaimana seseorang laki-laki atau perempuan berperilaku sebagai laki-laki atau
perempuan. Termasuk juga bagaimana mereka berinteraksi dengan satu sama lain
dan bagaimana mereka memegang tangan, merangkul, laki-laki membuka pintu buat
perempuan dan mendahulukannya. Seksualitas juga bagaimana cara perempuan
memandang laki-laki, memegang pundaknya dan menyandarkan kepala padanya,
bagaimana mereka berdua saling mengungkapkan perasaan-perasaan, sampai dengan
melakukan hubungan seksual. Relasi suami isteri di luar kamar tidur mempengaruhi
relasi mereka di dalam kamar. Semua orang mempunyai seksualitas, baik yang sudah
menikah maupun yang belum. Dalam hal ini, seksualitas dalam arti kata yang luas,
bukan hubungan seks saja, tetapi bagaimana kita sebagai laki-laki atau perempuan
berperilaku terhadap orang lain dengan perbedaan jenis kelamin lain (Maramis,
2006:196).
Dorongan seksual mempunyai dua aspek, yaitu aspek daya kemampuan dan
maksud seksual.Pada kedua aspek itu daya-kemampuan dan arah-tujuan, dapat saja
terjadi gangguan yang ternyata tidak saling berhubung, yaitu gangguan pada satu
aspek bukan karena ada gangguan pada aspek lain, umpanya homoseksualitas
(gangguan arah tujuan) bukan karena hiperseksualitas (gangguan daya kemampuan)
(Maramis, 2006:196).
Dorongan seksual yang berlebihan umumnya disebut hiperseksualitas
terdapat pada pria dan wanita, biasanya pada akhir masa remaja atau pada dewasa
muda; kalau karena ada gangguan primer, umpama gangguan afektif atau semensia,
maka ini yang harus didiagnosis dan diobati. Pada kedua-duanya, pria dan wanita,
mungkin keinginan atau dorongan seksual itu hanya kecil atau sebaliknya besar.
Bilamana hal ini sudah patologis, sukar sekali dikatakan.Sebagai patokan dapat
dipakai keluhan dari mereka sendiri atau dari partnernya, artinya bila mereka sendiri
atau partnernya sudah merasa terganggu karenanya (Maramis, 2006:196).
Reiss (dalam Duvall & Miller 1985), membagi bentuk perilaku seks pranikah
itu menjadi beberapa kategori, yaitu:
1. Bersentuhan (touching), antara lain berpegangan tangan, berpelukan.
2. Berciuman (kissing), batasan dari perilaku ini adalah mulai dari hanya sekedar
kecupan (light kissing), sampai dengan (french kiss) yaitu adanya aktivitas atau
gerakan lidah di mulut (deep kissing).
3. Bercumbu (petting), yaitu merupakan bentuk dari berbagai aktivitas fisik secara
seksual, antara pria dan perempuan, yang lebih dari sekedar berciuman atau
berpelukan yang mengarah kepada pembangkit gairah seksual, namun belum
sampai berhubungan kelamin. Pada umumnya bentuk aktivitas yang terlibat
dalam petting ini, melibatkan perilaku mencium, menyentuh atau meraba,
menghisap, dan menjilat pada daerah-daerah pasangan; seperti mencium
payudara pasangan perempuan, atau mencium alat kelamin pasangan pria.
4. Berhubungan kelamin (sexsual intercourse), yaitu adanya kontak antara penis
1.5.2. Dating Couple
Dating Couple berasal dari dua suku kata ”dating” dan “couple”. Dimana
dalam pengartian secara harafiah kata “dating” berasal dari kata “date” yang berarti
kencan, sedangkan “couple” memiliki arti pasangan. Dating Couple sendiri memiliki
arti sebagai pasangan yang sedang berkencan atau lebih dikenal dengan pacaran.
Pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan
berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan
be
tersebut masih sangat jauh dari tujuan yang sebenarnya.
variasi dalam pelaksanaannya dan sangat dipengaruhi oleh tradisi individu-individu
dalam masyarakat yang terlibat. Dimulai dari proses pendekatan, pengenalan pribadi,
hingga akhirnya menjalani hubungan afeksi yang ekslusif. Perbedaan tradisi dalam
pacaran, sangat dipengaruhi oleh
Menurut persepsi yang salah, sebuah hubungan dikatakan pacaran jika telah
menjalin hubungan cinta kasih yang ditandai dengan adanya aktivitas
tidak memahami makna kehormatan diri perempuan, tradisi seperti ini dipengaruhi
oleh
perempuan. Sampai sekarang, tradisi berpacaran yang telah nyata melanggar
secara turun-temurun dari generasi ke generasi yang mememiliki pengetahuan untuk
menjaga kehormatan dan harga diri yang semestinya mereka jaga dan pelihara.
Agoes (2004) mengatakan masa pacaran dianggap sebagai masa pendekatan
antar individu dari kedua lawan jenis, yaitu ditandai dengan pengenalan pribadi baik
kekurangan dan kelebihan dari masing-masing individu. Adanya kedekatan intimasi
dimana adanya hubungan akrab, intim, menyatu, saling percaya dan saling menerima
yang satu dengan yang lainnya.Selain itu ada juga aspek passion yakni adanya
hubungan antarindividu tersebut, lebih dikarenakan oleh unsur-unsur biologis,
ketertarikan fisik, atau dorongan seksual. Dengan adanya faktor ini, maka para ahli
Dalam penelitian ini “Dating couples” merupakan pasangan perselingkuhan
yang dilakukan oleh individu yang masing-masing atau salah satu individu masih
memiliki status pernikahan dengan pasangan hidupnya yang sah. Penelitian ini
mengkaji pasangan yang berkencan pada kelompok orang yang sudah menikah,
dibatasi pada usia 35-55 dan memiliki pasangan kencan yang tidak disertai oleh
pengakuan yang sah dari institusi negara dan agama. Dimana dalam penelitian ini
pasangan tersebut masing-masing telah memiliki anak-anak dalam rumah tangganya
dan merupakan pasangan yang dalam rumah tangganya masih tinggal bersama,
pasangan yang dalam rumah tangganya tinggal berpisah namun tidak memiliki status
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
Penelitian-penelian yang pernah dilakukan berhubung dengan perilaku
seksual “dating couples”: penelitian yang dilakukan oleh Zakiah Sholihah Nusya
(2003) melihat adanya beberapa aspek perilaku selingkuh yaitu perselingkuhan fisik
dan perselingkuhan emosional. Sedangkan aspek kepuasan perkawinan adalah
sebagai berikut : (1) kesesuaian penilaian terhadap perkawinan yang dijalani dengan
kriteria yang diidealkan oleh masyarakat; (2) kepuasan terhadap perkawinan secara
umur; (3) ungkapan kasih sayang dan pengertian yang diberikan oleh pasangan; (4)
kerjasama untuk memecahkan masalah dan kemampuan mencari penyelesaian pada
perselisihan; (5) kesediaan dalam menggunakan waktu bersama; (6) kesepakatan
dalam mengatur keuangan rumali tangga; (7) aktivitas seksual bersama; (8)
persamaan orientasi peran yang dipakai sebagai orang tua; (9) kesamaan dalam cara
mendidik anak hasil perkawinan. Subjek pokok pada penelitian ini adalah laki-laki
yang sudah menikah dan memiliki anak menunjukan bawa semakin tingginya
kepuasan perkawinan, maka semakin rendah intensi selingkuh pada suami, demikian
sebaliknya semakin rendah kepuasan perkawinan, akan semakin tinggi intense
selingkuh pada suami dikarenakan.
Purdiningsih (2008) melakukan penelitan untuk mengetahui penyebab dan
dampak perselingkuhan. Dalam setiap rumah tangga biasanya diwarnai dengan
adanya permasalahan permasalahan antara suami dan istri akibat adanya konflik
diantara mereka. Konflik dalam rumah tangga ada yang dapat mereka selesaikan dan
juga tidak. Dengan adanya konflik yang berlarut-larut dalam keluarga membuat salah
satu pihak mencari jalan penyelesaian dengan mencari solusi di luar rumah. Seperti
halnya dengan melakukan komunikasi dengan pihak lain di luar rumah hingga
Penelitian ini menunjukan penyebab utama perselingkuhan adalah faktor
komunikasi yang kurang, adanya perkawinan yang terpaksa, adanya trauma
pengalaman masa lalu, self esteem yang rendah dalam pergaulan sehingga mudah
terpengaruh dan juga sifat arogan yang dimiliki subyek atau pasangan.Dan juga
kurangnya perhatian pada pasangan serta pemahaman agama yang kurang pada
subyek. Disamping juga karena pengaruh kepentingan untuk menuntut karier yang
menyebabkan subyek kurang memiliki waktu untuk mengurusi keluarganya.
Perselingkuhan itu mengakibatkan dampak yang cukup berarti pada subyek dan
keluarganya. Adapun dampak itu adalah adanya ketidakharmonisan keluarga, aib
sosial, depresi pada pasangan, ucapan talak dari pasangan dan juga anak anak yang
benci pada subyek. Dan dampak pada subyek adalah kehamilan, aborsi, stress karena
perasaan cemas dan khawatir serta pernikahan siri tanpa ijin pasangannya.
Dian dan Sri (2010) melihat bagaimana mengukur hubungan skema
perselingkuhan dalam pernikahan dengan intensi untuk menikah pada wanita dewasa
muda yang orang tuanya selingkuh. Dalam penelitian ini menunjukan bahwa
hubungan skema perselingkuhan dalam pernikahan dengan intensi untuk menikah
tidak signifikan. Selain itu juga diketahui bahwa meskipun skema perselingkuhan
dalam pernikahan yang dimiliki responden adalah negatif tetapi intensi untuk
menikah tetap cenderung tinggi.
Dari penelitian yang dilakukan tidak ditemukan adanya hubungan
perselingkuhan orang tua terhadap pernikahan pada wanita dewasa muda, hal ini
memperlihatkan bahwa kejadian perselingkuhan orang tua yang diketahui oleh anak
merupakan dasar untuk mengantisipasi masa depan dan membuat rencana dan tujuan
yang lebih matang. Perselingkuhan orang tua menyebabkan seorang anak
mengetahui pasangan seperti apakah yang memiliki kecenderungan lebih besar untuk
melakukan perselingkuhan, keadaan apa saja yang dapat menyebabkan munculnya
perselingkuhan dalam pernikahan, kerugian apa saja yang dirasakan oleh seseorang
yang pasangannya selingkuh, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan perselingkuhan
dalam pernikahan. Adanya dasar untuk mengantisipasi terjadinya perselingkuhan
depan, menyebabkan anak yang orang tuanya berselingkuh tidak terpengaruh dengan
kejadian tersebut.
Hepi (2009) bahwa perselingkuhan itu sendiri tidak hanya didominasi oleh
para pria, tetapi juga wanita sehingga dalam perselingkuhan tidak menutup
kemungkinan siapa yang berselingkuh, bisa suami ataupun isteri. Jika isteri
berselingkuh maka perselingkuhan itu akan membawa dampak moral yang harus
ditanggung suami karena masyarakat memang belum dapat mentoleransi keadaan itu,
yaitu rasa malu dan harga diri yang rendah dimana kehormatannya sebagai laki-laki
dan sebagai suami terancam pihak lain, menahan penghinaan semacam itu dari
masyarakat dan keluarga bukan hal yang mudah, maka suami akan merasa
terperangkap dalam keadaan yang sangat sulit untuk dilakukan. Namun pada
kenyataannya masih ada beberapa suami yang berusaha mempertahankan
pernikahannya dengan istri yang berselingkuh.
Penelitian ini menunjukan bahwa faktor yang melatarbelakangi suami
mempertahan pernikahannya dengan istri yang berselingkuh adalah karena merasa
harapan terhadap perkawinannya telah terpenuhi dan hal itu merupakan rasionalisasi
subjek terhadap konflik yang dihadapi. Selain itu, alasan yang lain yaitu keberadaan
anak, standar keberhasilan dan kegagalan perkawinan, serta keyakinan subjek bahwa
istri tidak berselingkuh dan hal itu merupakan mekanisme pertahanan subjek
terhadap perselingkuhan istrinya dalam bentuk prngingkaran, dan karena perasaan
takut terabaikan serta rasa cinta. Banyaknya faktor-faktor yang merupakan alasan
seorang suami mempertahankan pernikahan karena merasa segala apa yang telah
dilalui bersama adalah kewajiban oleh pihak suami maupun isteri dalam
menanggungjawabi sebuah keluarga.
Yohan, dkk (2010) menunjukkan hasil penelitiannya untuk mengenal pasti
apakah faktor kesepian dan keperluan menjalin hubungan rapat dengan orang lain
akan mempengaruhi perilaku curang pada isteri yang suaminya bekerja di luar kota.
Dalam penelitian ini menunjukkan wanita yang melakukan perbuata curang
berdasarkan pada usia yaitu berusia 26 tahun hingga 30 tahun terdapat 16 orang,
wanita yang berumur 20 tahun hingga 25 tahun dan 36 tahun hingga 40 tahun
sebanyak tiga orang. Sedangkan dari kuantitas lamanya memiliki hubungan gelap
terdapat 30 wanita telah berselingkuh selama lebih enam bulan, dan lima wanita yang
berselingkuh selama kurang dari sebulan.
Selain itu, Yohan dkk menemukan perselingkuhan berdasarkan data
pekerjaan yang dimiliki oleh suami, dimana sebagian besarnya suami bekerja sebagai
wirausaha sebanyak 20 orang. Namun, terdapat juga wanita dengan suami bekerja
sebagai pegawai pemerintahan dan pegawai swasta sebanyak 15 orang. Suami yang
bekerja di luar kota sebanyak 21 orang dan 14 orang mengatakan bahwa suaminya
jarang ke luar kota. Dalam data ini memperlihatkan bahwa isteri yang berselingkuh
yang disebabkan oleh suami yang sering berpergian ke luar kota. Berdasarkan data
tempat tinggal yang diperoleh dalam penelitian ini sebanyak 19 orang isteri tinggal
sendirian di rumah dan sebanyak tiga isteri yang memilih untuk tinggal bersama
pembantunya.
Penelitian Yohan dkk juga menunjukkan adanya ras kesepian yang dimiliki
seorang suami yang bekerja di luar kota, adanya kebutuhan untuk berhubungan
intim, dan adanya kecendrungan untuk berselingkuh. Berdasarkan hasil perhitungan
dalam analisis regresi diketahui nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,722, berarti
hubungan variabel kesepian dan keperluan untuk berhubungan intim cendrung tinggi
karena memiliki nilai 0,722 > 0,5.
Wanita yang melakukan perselingkuhan dikarenakan tidak adanya sosok
pasangan yang sebenarnya sangat diharapkan untuk selalu hadir dalam berbagai
situasi, sehingga seorang isteri mencari pengganti suami yang membuat mereka ikut
terlibat dalam hubungan intim. Wanita yang berselingkuh menunjukkan bahwa
lemahnya suatu keimanan seorang bukan dengan alasan kesepian, karena
menunjukkan isteri juga tinggal bersama pembantunya.
Widya Asriana (2012) menunjukkan bahwa perselingkuhan berawal dari
media yang menimbulkan suatu kecemburuan. Terdapat empat hasil utama dari
penelitian ini, pertama adalah terdapat perbedaan yang signifikan pada partisipan
seksual melalui internet dimana partisipan perempuan lebih merasa cemburu dalam
menghadapi perselingkuhan emosional daripada seksual. Kedua adalah terdapat
perbedaan yang signifikan pada partisipan laki-laki dalam kecemburuan menghadapi
tipe perselingkuhan emosional dan seksual melalui internet, dimana partisipan
laki-laki akan lebih merasa cemburu dalam menghadapi perselingkuhan emosiaonal
daripada seksual. Ketiga, terdapat perbedaan yang signifikan pada laki-laki dan
perempuan dalam kecemburuan menghadapi tipe perselingkuhan emosional melalui
internet dimana perempuan akan lebih merasa cemburu daripada laki-laki jika
pasangannya melakukan perselingkuhan emosional. Keempat, adalah tidak terdapat
perbedaan yang signifikan dalam laki-laki dan perempuan dalam kecemburuan
menghadapi tipe perselingkuhan seksual melalui internet, dengan kata lain
perempuan maupun laki-laki akan merasakan cemburu jika pasangannya melakukan
perselingkuhan seksual.
Hasil penelitian Widya Asriana (2012) menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan pada partisipan perempuan dalam kecemburuan
menghadapi tipe perselingkuhan emosional dan seksual melalui internet dimana
partisipan perempuan akan lebih merasa cemburu dalam menghadapi perselingkuhan
emosional daripada seksual. Mengenai kecendrungan perempuan untuk lebih merasa
cemburu pada perselingkuhan emosional jika dibandingkan dengan perselingkuhan
seksual. Namun, jika pasangan terlibat secara emosional dengan perempuan tersebut
maka perselingkuhan tersebut dapat memberikan resiko pada perempuan bahwa
sumber daya yang dimiliki pasangannya seperti energi, komitmen, investasi akan
terbagi dengan adanya kehadiran orang ketiga tersebut. Dengan adanya alasan
tersbut, perempuan akan lebi merasa cemburu apabila pasangannya melakukan
perselingkuhan emosional daripada seksual.
Penelitian ini juga melihat adanya perbedaan yang signifikan pada laki-laki
dan perempuan dalam menghadapi tipe perselingkuhan emosional melalui internet
dimana perempuan akan mersa lebih cemburu daripada laki-laki jika pasangannya
melakukan perselingkuhan emosional melalui media internet. Selain iti penelitian ini
memperlihatkan bahwa tidak terdapat perbedaan dalam menghadapi tipe
cemburu daripada laki-laki jika pasangannya melakukan perselingkuhan emosional
melalui media internet.
Novika Sari dan Heppy Wahyuni (2006) melakukan penelitian yang menguji
apakah ada hubungan negatif antara kepuasan seksual terhadap perselingkuhan yang
dilakukan suami ataupun isteri. Dimana pria dan wanita yang menikah diatas lima
tahun menjadi subjek dalam penelitian ini. Penelitian ini menunjukkan secara
empirik hipotesis dapat dibuktikan dengan rxy = 0,404 hubungan negatif degan hasil
korelasi 0,002 (p < 0,01). Semakin rendahnya kepuasan seksual yang terdapat dalam
hubungan suami isteri maka akan semakin tinggi perselingkuhan yang terjadi pada
sebuah rumah tangga. Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya korelasi antara
komunikasi dan penyikapan seksual terhadap perselingkuhan yang melibatkan
perasaan. Namun, tidak memiliki hubungan antara keseimbangan seksual diantara
keduanya.
Hasil penelitian ini melihat bahwa kepuasan seksual dengan mean empirik
63,36 dan mean hepotetik 50. Selain itu presentase subjek tentang kepuasan seksual
sebanyak 60 % (30 orang) memperoleh skor tinggi dan 40 % (20 orang) memperoleh
skor sedang. Berdasarkan hasil ketegorisasi skor tersebut dapat disimpulkan bahwa
sebagian besar subjek memiliki kepuasan seksual yang tinggi. Selanjutnya hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa perselingkuhan dengan mean empirik 47,26 dan
mean hipotetok 52,5. Selain itu presentase subjek yang memiliki persepsi sebanyak
12 % (6orang) memperoleh skor rendah. Hal ini berarti perselingkuhan mendapat
perhatian kurang banyak dari subjek penelitian meskipun dari presentase yang
dihasilkan bervariasi namun dominan skor yang diperoleh subjek adalah sedang dan
cenderung sedikit.
Dalam sebuah pernikahan seks merupakan hal yang kecil dalam hubunagan
pernikahan, tetapi hal tersebut merupakan suatu hal yang penting untuk
mempertahankan suatu keharmonisan di dalam rumah tangga. Banyak keluhan yang
terjadi adalah mengenai ketidakpuasan seksual terhadap pasangannya karena adanya
tanggapan atas kebutuhan seksual serta masalah-masalah yang lainnya yang tidak
dikomunikasikan dalam berhubungan seksual.
Kartika (2012) melakukan penelitian untuk mengungkapkan bagaimana
upaya seorang isteri dalam mengembalikan keutuhan keluarga dan bagaimana usaha
yang dilakukan untuk memberikan maaf terhadap perselingkuhan yang dilakukan
oleh suami. Adanya ketidakterbukaan oleh penghasilan suami merupakan awal dari
masalah yang terdapat dalam penelitian ini dan adanya daya tarik sesaat serta disertai
dengan ketertarikan emosional.
Perselingkuhan yang terjadi dikarenakan adanya respon suami yang selalu
menyangkal dan menghindar untuk menyelesaikan masalah. Perilaku memaafkan
isteri hanya ditunjukkan dalam kegiatan mereka sehari-hari saja, tetapi isteri masih
memiliki rasa kecewa kepada suami. Isteri masih melayani kebutuhan suami seperti
menyediakan sarapan sampai kepada kegiatan seksual.
Proses bertahannya pernikahan dalam penelitian ini dikarenakan adanya anak
dalam keluarga dan ketergantungan ekonomi terhadap suami. Perceraian dan
pernikahan yang baru tidak menjanjikan bahwa seorang isteri mendapatkan yang
lebih baik lagi dari pada suaminya walaupun suaminya telah mengkhianati
kepercayaan dalam suatu perikahan
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Teori Interaksionisme Simbolik
Simbol merupakan esensi dari teori interaksionisme simbolik. Teori ini
menekankan pada hubungan antara simbol dan interaksi. Teori interaksionisme
simbolik merupakan sebuah kerangka referensi untuk memahami bagaimana
manusia, bersama dengan manusia lainnya, menciptakan dunia simbolik dan
bagaimana dunia ini, dan bagaimana nantinya simbol tersebut membentuk perilaku
manusia. Teori ini juga membentuk sebuah jembatan antara teori yang berfokus pada
Charon (1998) memaparkan interaksionisme simbolik adalah perspektif
teoritis dimana perilaku manusia dijelaskan dengan memahami proses interaksi sosial
yang terjadi pada sebuah masyarakat. Doherty menyatakan banyak orang yang
belajar tentang perbaikan diri serta bagaimana meningkatkan hubungan keluarga.
Perhatian pada kerangka konsep interaksionisme simbolik adalah pada self-concept,
komunikasi, dan pentingnya hubungan untuk kesejahteraan individu berhubungan
dengan ide-ide yang popular pada masa itu (dalam Bidwell dan Vandel Mey, 2000).
Blumer mengemukakan tiga prinsip dasar interaksionisme simbolik yang
berhubungan dengan meaning (makna), language (bahasa), dan thought (pemikiran).
Premis ini kemudian mengarah pada kesimpulan tentang pembentukan diri seseorang
(person’s self) dan sosialisasinya dalam komunitas yang lebih besar.
1. Meaning (makna): Konstruksi Realitas Sosial.
Blumer mengawali teorinya dengan premis bahwa perilaku seseorang
terhadap sebuah objek atau orang lain ditentukan oleh makna yang dia pahami
tentang objek atau orang tersebut.
2. Language (bahasa): Sumber Makna.
Seseorang memperoleh makna atas sesuatu hal melalui interaksi.
Sehingga dapat dikatakan bahwa makna adalah hasil interaksi social. Makna
tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa.
Bahasa adalah bentuk dari simbol. Oleh karena itu, teori ini kemudian disebut
sebagai interaksionisme simbolik. Berdasarkan makna yang dipahaminya,
seseorang kemudian dapat memberi nama yang berguna untuk membedakan
suatu objek, sifat atau tindakan dengan objek, sifat atau tindakan lainnya.
Dengan demikian premis Blumer yang kedua adalah manusia memiliki
kemampuan untuk menamai sesuatu. Simbol, termasuk nama, adalah tanda yang
arbiter. Percakapan adalah sebuah media pencitaan makna dan pengembangan
wacana. Pemberian nama secara simbolik adalah basis terbentuknya masyarakat.
Para interaksionis meyakini bahwa upaya mengetahui sangat tergantung pada
proses pemberian nama, sehingga dikatakan bahwa interaksionisme
simbolik adalah cara kita belajar menginterpretasikan dunia.
Proses pengambilan peran orang lain. Premis ketiga Blumer adalah
interpretasi simbol seseorang dimodifikasi oleh proses pemikirannya.
Interaksionisme simbolik menjelaskan proses berpikir sebagai inner conversation,
Mead menyebut aktivitas ini sebagai minding. Secara sederhana proses ini
menjelaskan bahwa seseorang melakukan dialog dengan dirinya sendiri ketika
berhadapan dengan sebuah situasi tersebut. Untuk bisa berpikir maka seseorang
memerlukan bahasa dan harus mampu untuk berinteraksi secara simbolik.Bahasa
adalah software untuk bisa mengaktifkan mind (dalam Bidwell dan Vandel Mey,
2000).
Pendangan lain dari Mead yaitu bagaimana untuk memahami proses berpikir
adalah pendapatnya yang menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan yang
unik untuk memerankan orang lain (taking the role of the other). Sebagai contoh,
pada masa kecilnya, anak-anak sering bermain peran sebagai orang tuanya, berbicara
dengan teman imajiner dan secara terus menerus sering menirukan peran-peran orang
lain. Pada saat dewasa seseorang akan meneruskan untuk menempatkan dirinya pada
posisi orang lain dan bertindak sebagaimana orang itu bertindak. Mengambil orang
lain sebagai model untuk ia tiru dalam setiap tindak tanduk keseharian.
Setelah memahami konsep meaning, language dan thought, maka kita dapat
memperkirakan konsep Mead tentang diri (self). Mead menolak anggapan bahwa
seseorang bisa megetahui siapa dirinya melalui introspeksi. Ia menyatakan bahwa
untuk mengetahui siapa diri kita maka kita harus melukis potret diri kita melalui
sapuan kuas yang datang dari proses pengambilan peran (taking the role of the
other). Proses ini berusaha membayangkan apa yang dipikirkan orang lain tentang
diri kita. Para interaksionis menyebut gambaran mental ini sebagai the looking glass
self dan hal itu dikonstruksi secara sosial.
Interaksi simbolis dapat digunakan dalam berbagai cara untuk menjelaskan
dan mengartikan masalah atau persoalan dalam keluarga. Konsep-konsep seperti
kelompok primer pada sebuah lingkungan sosial, peran sosial, konsep diri sendiri,
situasi atau keadaan keluarga, dan pembicaraan internal, semuanya itu digunakan
Interaksionisme simbol menyebutkan beberapa premis yang digunakan untuk
merumuskan teori ini yaitu :
1. Manusia adalah makhluk yang unik karena dapat membuat dan memanipulasi
simbol. Kemampuan untuk berpikir dalam hal simbol yang abstrak
memungkinkan individu untuk mengklasifikasikan pengalaman mereka,
mengingat peristiwa masa lalu, dan memprediksi apa yang mungkin terjadi di
masa depan.
2. Arti simbol dibuat dalam interaksi sosial. Interaksi simbolis menegaskan bahwa
semua orang, benda dan peristiwa sampai batas tertentu mendapatkan makna
melalui proses interaksi sosial. Dengan kata lain individu dalam memandang suatu
benda, suatu peristiwa yang mempengaruhi perilaku manusia ataupun peristiwa
yang melekat pada dirinya permanen. Melainkan dapat berubah dari waktu ke
waktu dan dalam situasi yang berbeda-beda
3. Persepsi situasi mempengaruhi perilaku manusia. Dalam Thomas (1928) perilaku
manusia sepenuhnya baik dalam keadaan objektif dan penafsiran subjektif dari
situasi harus di analisa.
4. Manusia dilahirkan menjadi masyarakat yang sedang berlangsung. Perilaku
manusia dipengaruhi oleh norma sosial dan nilai sosial tertentu. Untuk itu seorang
individu harus belajar melalui sosialisasi agar memahami norma-norma dan
nilai-nilai budaya mereka.
5. Individu tidak dilahirkan dengan rasa tetapi mengembangkan konsep diri melalui
interaksi sosial. Looking glass self oleh Cooley (1902) memiliki tiga elemen
utama: imajinasi kita tentang bagaimana kita muncul dihadapan orang lain,
imajinasi kita tentang bagaimana orang lain menilai penampilan kita, dan perasaan
diri seperti kebanggaan atau rasa malu, bahwa hasil dari bagaimana kita
membayangkan orang lain telah dievaluasi oleh kita.
6. Diri adalah proses dan objek yang baik. Mead (1934) “I” (sebagai proses)
dan“me” (sebagai objek) berargumen bahwa konsep diri terus-menerus diperoleh
seperti kita berinteraksi dengan orang lain kemudian kita dapat merefleksikan
sendiri, kita berpikir tentang perilaku dan apa yang orang lain mungkin berpikir
7. Manusia harus mempelajari lingkungan alam mereka dan konteks budaya.
Manusia adalah makhluk yang unik karena perilaku manusia dipengaruhi oleh
lingkungan dan tidak dapat dipahami secara terpisah dari konteks budaya.
2.2.2 Teori Penyimpangan Sosial
Pandangan terhadap penyimpangan sosial tentu berangkat dari kebudayaan
atau pandangan hidup. Oleh sebab itu terdapat perbedaan mengenai penyimpangan
sosial antar satu peradaban dengan peradaban lain. Akan tetapi akan ada hal
kesamaan apabila penyimpangan sosial dikembalikan kepada standar yang dapat
diterima oleh semua manusia. Nilai yang dapat memiliki kesamaan antar peradaban
yaitu tentang larang perilaku seks yang menyimpang. Semua agama di dunia pasti
melawan perbuatan seks yang berlebihan, akan tetapi nilai tersebut yang seharusnya
melekat pada diri semua orang telah bergeser. Hal tersebut menjadi biasa terjadi
karena memang pergaulan kumpul kebo atau free sex mendapatkan dukungan dari
berbagai media barat dan media-media lain.
Durkheim melihat bahwa penyimpangan sosial bisa terjadi karena penekanan
hidup yang sangat besar. Kesibukan pekerjaan dan masalah-masalah sosial yang
selalu datang setiap hari membuat masyarakat menjadi stress. Anomi atau teori
penyimpangan sosial secara sederhana bisa disebut sebagai perilaku yang jauh dari
norma atau perilaku tanpa norma. Anomi adalah bentuk penyimpangan yang murni
muncul dari gejala sosial masyarakat.
Hidup tentu akan diukur dengan baik atau buruknya suatu tindakan. Bagi
sebagian orang hal yang dapat membahagiakan dirinya dianggap sebagai suatu yang
baik. Kesenangan menjadi alat ukur seseorang melakukan perbuatan, tidak perduli
norma disekitarnya melarang. Apabila kesenangan yang menjadi acuan, maka
masyarakat akan melakukan perbuatan apapun walau perbuatan itu termasuk
perbuatan yang menyimpang.
Dalam teori penyimpangan sosial, kesadaran umum merupakan langkah
untuk mencegah penyimpangan itu. Kesadaran umum meliputi norma-norma atau
Membangun kesadaran umum akan nilai-nilai sosial yang mulia membutuhkan
keseriusan dari berbagai pihak.
Menurut Merton, dalam setiap masyarakat terdapat tujuan-tujuan tertentu
yang ditanamkan kepada seluruh warganya. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat
sarana-sarana yang dapat dipergunakan.Tetapi dalam kenyataan tidak setiap orang
dapat menggunakan sarana-sarana yang tersedia. Hal ini menyebabkan penggunaan
cara yang tidak sah dalam mencapai tujuan. Dengan demikian akan timbul
penyimpangan-penyimpangan dalam mencapai tujuan. Dalam perkembangan
selanjutnya. Merton tidak lagi menekankan pada tidak meratanya sarana-sarana yang
tersedia, tetapi lebih menekankan pada perbedaan-perbedaan struktur kesempatan.
Dalam setiap masyarakat selalu terdapat struktur sosial. Struktur sosial, yang
berbentuk kelas-kelas, menyebabkan adanya perbedaan-perbedaan kesempatan
dalam mencapai tujuan. Keadaan-keadaan tersebut (tidak meratanya sarana-sarana
serta perbedaan perbadaan struktur kesempatan) akan menimbulkan frustasi di
kalangan para warga yang tidak mempunyai kesempatan dalam mencapai tujuan.
Dengan demikian ketidakpuasan, konflik, frustasi dan penyimpangan muncul karena
tidak adanya kesempatan bagi mereka dalam mencapai tujuan. Situasi ini akan
menimbulkan keadaan di mana para warga tidak lagi mempunyai ikatan yang kuat
terhadap tujuan serta sarana-sarana atau kesempatan-kesempatan yang terdapat
dalam masyarakat. Hal inilah yang dinamakan anomi. Merton mengemukakan lima
cara untuk mengatasi anomi, yaitu:
1. Konformitas (conforming), yaitu suatu keadaan dimana warga
masyarakat tetap menerima tujuan-tujuan dan sarana-sarana yang terdapat
dalam masyarakat karena adanya tekanan moral;
2. Inovasi (innovation) , yaitu suatu keadaan di mana tujuan yang terdapat
dalam masyarakat diakui dan dipelihara tetapi mereka mengubah sarana-
sarana yang dipergunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Misalnya
untuk mendapatkan / memiliki uang yang banyak seharusnya mereka
menabung. Tetapi untuk mendapatkan banyak uang secara cepat mereka
3. Ritualisme (ritualism) , adalah suatu keadaan di mana warga masyarakat
menolak tujuan yang telah ditetapkan dan memilih sarana-sarana yang
telah ditentukan;
4. Penarikan Diri (retreatism) merupakan keadaan di mana para warga
menolak tujuan dan sarana-sarana yang telah tersedia dalam masyarakat;
5. Pemberontakan (rebellion) adalah suatu keadaan di mana tujuan dan
sarana-sarana yang terdapat dalam masyarakat ditolak dan berusaha untuk
mengganti atau mengubah seluruhnya (dalam Siti Nuraini, 2012).
Terkait dengan hal ini pasangan “dating couple” memperlihatkan bagaimana
simbol-simbol yang diberikan dalam berinteraksi dengan perilaku-perilaku
menyimpang dalam sebuah pernikahan. Pasangan “dating couple” mempunyai
cara-cara tersendiri untuk menutupi kejenuhan dalam diri mereka dari masalah yang
terdapat dalam kehidupan rumah tangga. Hal ini dimulai dengan pemberian penilaian
negatif kepada pasangan mereka sendiri dikarenakan adanya suatu ketidakpuasan
dan penolakan terhadap kekurangan yang dimiliki oleh pasangan hidupnya baik itu
berupa kebutuhan batin maupun materi.
Cara-cara atau simbol-simbol yang diberikan oleh pasangan merupakan
perilaku yang menyimpang dalam sebuah pernikahan sehingga semakin
menimbulkan jarak antara kedua belah pihak yang melanggar sumpah dalam sebuah
pernikahan. Perilaku yang menyimpang tersebut merupakan aktivitas perselingkuhan
yang pada awalnya untuk menghilangkan beban dipikiran dengan
kesenangan-kesenangan dari pihak ketiga. Namun ternyata, hal perilaku tersebut berkelanjutan
dan menyebabkan salah satu pasangan lebih menikmati kehidupan bersama pasangan
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif dengan metode
studi kasus. Penelitian kualitatif adalah metode yang bermaksud untuk memahami
apa yang dialami oleh subjek peneliti secara holistik dengan cara deskriptif dalam
kata-kata dan bahasa pada konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan
metode ilmiah (Burhan,2003:35). Penelitian dilakukan dengan menggunakan
metode studi kasus dimana penelitian hanya terbatas pada usaha-usaha untuk
mengungkapkan kebenaran dari suatu permasalahan, keadaan, atau peristiwa
sebagaimana yang terjadi secara menyeluruh, intensif, dan mendalam.
3.2. Unit Analisis dan Informan 3.2.1. Unit Analisis
Unit analisis adalah hal-hal yang diperhitungkan menjadi subjek penelitian atau
unsur yang menjadi fokus penelitian (Bugin, 2007:76). Unit analisis dalam penelitian
ini adalah ”dating couples” yang mengunjungi warung remang-remang di Kecamatan
Selayang.
3.2.2.Informan
Informan merupakan subjek memahami permasalahan penelitian sebagai
pelaku maupun orang yang memahami permasalahan penelitian (Bungin, 2007:76).
Dalam penelitian ini informan adalah orang yang berkunjung secara rutin dan yang
dianggap penikmat warung remang-remang di sekitar Kecamatan Selayang. Lebih
lanjut, informan yang akan diwawancarai terdiri dari:
Penyanyi cafe
3.3. Teknik Pengumpulan Data 3.3.1. Data Primer
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik pengumpulan data
primer dimana data langsung diperoleh dari sumber data pertama di lokasi penelitian
atau objek penelitian (Bungin, 2004). Untuk mendapatkan data primer dilakukan dua
metode yaitu observasi dan wawancara mendalam.
1. Observasi
Observasi atau pengamatan kegiatan adalah setiap kegiatan untuk melakukan
pengukuran, pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan yang berarti
tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan, observasi berstruktur dimana peneliti
memusatkan perhatian pada tingkah laku “dating couples” pada siang hari di
rumah dan menghabiskan waktu malamnya di kafe remang-remang.
2. Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam dimana adanya proses tanya jawab secara dari peneliti
terhadap informan mengenai masalah-masalah yang terkait secara lengkap dan
mendalam. Wawancara yang dilakukan dengan memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan informasi yang ingin diperoleh dari “dating
couples” yang berkunjung ke warung remang-remang.
3.3.2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua atau sumber
sekunder dari data yang kita butuhkan (Burhan Bungin, 2007). Data Sekunder
diperoleh dengan mengumpulkan data dan mengambil informasi dari beberapa
literature diantaranya adalah buku-buku referensi, dokumen, majalah, jurnal, serta
internet yang dianggap relevan dengan masalah yang ingin diteliti. Oleh karena itu,
sumber data sekunder diharapkan dapat berperan membantu mengungkapkan data
yang diharpkan membantu member keterangan sebagai pelengkap atau bahan
3.4. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Medan - Sumatra Utara. Dengan fokus penelitian
pada beberapa warung remang-remang di sekitar Kecamatan Selayang karena daerah
tersebut secara fisik telah banyak berdiri warung yang terbuat dari tepas-tepas untuk
dijadikan sarana penampung para pecinta kehidupan malam, hampir secara
keseluruhan bangunan yang ada dipinggiran jalan raya Kecamatan Selayang adalah
warung remang-remang dengan hiburan-hiburan melalui alunan musik yang
berbunyi keras disertai lampu-lampu yang berkerlip dengan aneka macam warnanya.
Lokasi ini terdapat dipinggir jalan di sekitar Kecamatan Selayang, selain itu lokasi
ini relatif mudah dijangkau oleh peneliti karena jumlah sarana transportasi umum
yang melintas relatif banyak. Warung remang-remang yang akan menjadi tempat
untuk meneliti diantaranya ialah Tante Café, Palar Café, Mexico Café, Bamboo Café,
dan Sembada Café. Selain itu penelitian juga dilakukan dirumah-rumah “dating
couples” karena lingkungan rumah para “dating couples” berdekatan dengan rumah
peneliti, dimana rumah tersebut dijadikan sebagai tempat berkumpul “dating
couples” pada siang hari.
3.4.1. Deskripsi Wilayah dan Lokalisasi Prostitusi 3.4.1.1.Keadaan Geografis Kota Medan
Kota Medan memiliki luas 26.510 hektar (265,10 km²) atau 3,6% dari
keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan
kota/kabupaten lainya, Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil dengan
jumlah penduduk yang relatif besar. Secara geografis kota Medan terletak pada 3° 30'
– 3° 43' Lintang Utara dan 98° 35' - 98° 44' Bujur Timur. Untuk itu topografi kota
Medan cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian 2,5 - 37,5 meter di atas
permukaan laut. Luas wilayah, letak astronomis, batasan utara, selatan, timur dan
barat.
Kota Medan dipimpin oleh seorang
3.4.1.2. Lokalisasi di Kota Medan
Kota Medan sendiri merupakan kota yang terpadat penduduknya dengan
jumlah 4.144.583 jiwa setelah kota Jakarta (Jabotabek) 28.019.545 jiwa dan
Surabaya 9.115.485 jiwa. Akibatnya Kota Medan sudah memasuki tahapan wilayah
metropolitan dengan kehidupan yang serba ada, mall, hotel, hiburan malam serta
restoran-restoran sudah berdiri dimana-mana. Akibatnya model Kota Medan sudah
mendekati kota metropolitan dimana segala kebutuhan sudah bisa didapatkan dengan
serba instan.
Dari kepadatan kota yang hampir seluruh sudut jalan terlihat bangunan
raksasa menuntut masyarakat untuk memiliki keinginan menghibur diri dari segala
aktifitas sehari-hari. Di lain sisi banyak masyarakat di kota Medan memiliki
perekonomian yang dibawah normal sehingga sulitnya masyarakat untuk menikmati
sarana-sarana hiburan yang berkualitas yang disediakan oleh pemerintah. Sementara
pada masyarakat dewasa kini hiburan yang sangat dibutuhkan adalah hiburan yang
mengarah kepada seksualitas, akibatnya banyak sekali menjamur tempat-tempat
prostitusi di berbagai tempat yang ada di Kota Medan.
Munculnya prostitusi menunjukkan benar Kota Medan memiliki
perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan tersebut dapat terlihat dari
perkembangan bangunan-bangunan raksasa yakni berdiri megahnya hotel serta
penginapan seperti bungalow serta motel, club malam, loungs, discotique, warung
remang-remangg dan tempat hiburan lainnya.
Memberi ijin kepada tempat prostitusi merupakan hal yang bertentangan
dengan norma-norma sosial karena dalam berbagai sudut pandang dan pemahaman
apapun kegiatan prostitusi tetap merupakan pelanggatan dalam nilai-nilai
kemanusiaan terutama etika masyarakat Indonesia yang dikenal menjunjung tinggi
nilai-nilai adat dan budaya yang masih mendarah daging. Begitupula suatu lokalisasi
dimana suatu tempat dilegalkan untuk tempat mencurahkan nafsu seksualnya kepada
lawan jenis yang bukan suami ataupun isterinya.
Praktik-praktik prostitusi yang masih berjalan sampai saat ini di lokalisasi
menimbulkan pro dan kontra di dalam masyarakat. Masyarakat yang pro ataupun