• Tidak ada hasil yang ditemukan

8. Tentang Pasien - Impression Management Verbal dan Nonverbal pada Pelayan Kesehatan (Studi Kasus Impression Management Verbal dan Nonverbal pada Pelayan Kesehatan di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "8. Tentang Pasien - Impression Management Verbal dan Nonverbal pada Pelayan Kesehatan (Studi Kasus Impression Management Verbal dan Nonverbal pada Pelayan Kesehatan di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan)"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

Draft Interviews

Identitas Pelayan Kesehatan:

Nama :

Poli. Bertugas :

Usia :

Suku :

Agama :

Status :

Pendidikan :

Lama Bekerja :

Jabatan :

1. Bagaimana perasaan Anda pertama sekali berkerja di rumah sakit ini? 2. Bagaimana kondisi rumah sakit ini?

3. Bagaimana kesan Anda selama ditempatkan di masing-masing ruangan tersebut? 4. Apakah penilaian Anda tentang rumah sakit ini sama dengan pandangan Anda

sebelum bekerja di rumah sakit ini?

5. Kenapa Anda memilih Rumah Sakit Adam Malik sebagai tempat Anda bekerja? 6. Apakah Anda pegawai tetap atau tenaga honor di rumah sakit ini?

a. Bagaimana Anda menyesuaikan diri dengan kondisi disini?

b. Butuh berapa lama Anda menyesuaikan diri dengan semua yang ada di panti ini?

7. Bagaimana pengalaman Anda selama merawat pasien di rumah sakit ini? 8. Tentang Pasien

a. Berapa orang rata-rata pasien yang melahirkan di tempat ini? b. Berasal dari mana saja mereka?

c. Faktor-faktor apa yang menyebabkan pasien-pasien masuk ke rumah sakit/ di unit obgyn ini? (Biasanya pasien sakit parah yang tidak mampu ditangani di rumah sakit daerah sehingga dirujuk ke RSUP H. Adam Malik).

d. Bagaimana kegiatan yang dilakukan perawat/dokter terhadap pasien di unit ini?

e. Berapa rata- rata usia pasien di unit ini?

f. Bagaimana Anda memandang pasien di unit ini? 9. Mengenai Pelayanan

(2)

b. Bagaimana dengan aturan-aturan yang ada di rumah sakit ini antara perawat/dokter- dengan pasien?

c. Mengapa aturan tersebut dibuat?

d. Apakah Anda tahu semua nama pasien yang ada di rumah sakit ini? Bagaimana Anda mengetahuinya? Jika tidak, mengapa?

e. Bagaimana Anda mengetahui latar belakang semua pasien sampai mengalami kondisi seperti ini?

f. Seberapa dekat Anda dengan pasien atau keluarga pasien? g. Bagaimana usaha Anda untuk mendekatkan diri dengan mereka?

h. Bagaimana jika pasien atau keluarga pasien disini tidak turut membantu (tidak dapat bekerja sama) atau tidak mempersulit kinerja Anda sebagai perawat/dokter?

i. Bagaimana respon Anda ketika pasien atau keluarga pasien sulit diatur (tidak dapat bekerja sama)?

j. Bagaimana yang Anda lakukan jika sewaktu-waktu pasien atau keluarga pasien tidak bisa mengontrol emosi mereka, misalnya karena panik atau khawatir akan kondisi pasien?

k. Bagaimana cara Anda memerintah/ menyuruh mereka supaya menuruti arahan yang Anda berikan?

l. Kegiatan apa yang sering Anda lakukan dan pasien atau keluarga pasien di unit ini secara bersama-sama (mis: mengajari melap, mengatur tempo infus, dll?

m. Bagaiman jika pasien atau keluarga pasien sharing dengan Anda?

n. Sejauh mana Anda mengenali karakter mereka satu persatu? Dari mana Anda tahu?

o. Pendekatan yang bagaimana yang Anda lakukan terhadap mereka?

p. Bagaiman cara berbicara Anda dengan masing- masing pasien atau keluarga pasien di tempat ini?

q. Adakah strategi khusus dalam hal berkomunikasi dengan pasien atau keluarga pasien ketika Anda menyampaikan pesan yang harus dilakukan untuk penyembuhan pasien?

10. Impression Management

a. Bagaimana jika Anda merasa kurang percaya diri ketika menghadapi (berkomunikasi) pasien atau keluarga pasien?

b. Apakah Anda pernah mendengar atau mempelajari mengenai pengelolaan kesan?

c. Bagaimana pendapat Anda tentang pengelolaan kesan tersebut?

d. Bagaimana menurut Anda pentingnya pengelolaan kesan yang Anda lakukan sebagai seorang perawat/ dokter?

(3)

f. Bagaiman gaya berbicara (formal/ nonformal) dan bahasa yang Anda gunakan (daerah/ Indonesia/ slenk) ketika berkomunikasi dengan pasien atau keluarga pasien dibandingkan dengan keseharian Anda?

g. Bagaimana Anda mengatur sedemikian rupa penampilan (gaya rambut, pakai kaca mata tidak berbingkai, riasan wajah, aksesoris yang digunakan mis stetoskop, dll) ketika bekerja terkait untuk menunjukkan kredibilitas/ nilai positif Anda sebagai perawat/dokter?

h. Bagaimana bentuk pengelolaan kesan yang pernah Anda lakukan?

i. Ketika seperti apa (keadaan) bentuk pengelolaan kesan itu Anda lakukan? j. Seperti apa keluhan pasien atau keluarga pasien selama ini ketika sedang

dirawat? Bagaimana Anda menjelaskannya?

k. Bagaimana cara Anda menanggapi jika hal yang dituntut tersebut tidak dapat atau tidak layak untuk diterima?

l. Apakah Anda pernah mempelajari tipe komunikasi terapeutik/ penyembuhan? m. Bagaimana pendapat Anda mengenai strategi komunikasi ini?

n. Bagaimana Anda menggunakan komunikasi terapeutik dalam merawat pasien?

o. Apakah komunikasi terapeutik penting dilakukan oleh seorang perawat/ dokter ketika melakukan perawatan kepada pasien terkait kesembuhan pasien?

p. Bagaimana cara Anda melakukan komunikasi terapeutik ini, apakah Anda turut mengelola kesan pada diri Anda?

q. Bagaimana kesulitan yang menghambat Anda untuk melakukan komunikasi terapeutik ini (mis: banyaknya jumlah pasien, kurangnya tenaga perawat/dokter, waktu yang kurang, dll? Apakah kesulitan tersebut benar-benar menghalangi kinerja Anda sesuai dengan yang Anda harapkan?

r. Bagaimana pengevaluasian kinerja perawat/dokter di Poli ini per- periodenya?

11. HAMBATAN

a. Apakah sejauh ini Anda merasa kesulitan dalam merawat pasien di Poli ini?

- Dalam hal apa

- Mengapa?

b. Bagaimana usaha Anda untuk mengatasi masalah tersebut?

c. Bagaimana yang Anda lakukan jika hambatan tersebut terus menerus tidak bisa diatasi?

d. Seberapa sering hambatann tersebut mempengaruhi Anda?

e. Dari mana saja hambatan itu sering terjadi (dari pasien, keluarga pasien, sesama perawat, dokter, aturan rumah sakit, atau bahkan dari diri Anda ? 12. PEMULIHAN

(4)

b. Berapa lama kira-kira pasien dirawat di Poli. ini? c. Apa kriteria pasien bisa diperbolehkan pulang?

d. Apakah pasien yang sudah bisa pulang benar-benar bisa sembuh? e. Bagaimana dengan pasien yang penyakitnya kambuh lagi?

f. Apakah menurut Anda ada pengaruh perawat/dokter terhadap kesembuhan pasien?

13. HARAPAN DAN MOTIVASI

a. Bagaimana harapan Anda untuk rumah sakit ini khususnya di Poli. Anda bertugas?

b. Bagaimana harapan Anda untuk pasien atau keluarga pasien di unit ini? c. Bagaimana harapan Anda untuk perawat/dokter di tempat ini?

(5)

Hasil Wawancara Informan Utama Informan I

Ibu Fatimah, SST Wawancara I

Tanggal wawancara : 9 Februari 2015 Waktu : 11.13

Lokasi wawancara : Poliklinik Onkologi OBGIN RSUP HAM Peneliti : Bu, ibu sudah berapa lama di RS Adam Malik?

F : Tahun „89 sampai „91 saya di Pirngadi, sejak ‟91-nya itu saya di Adam

Malik.

Peneliti : Bu, ruangan yang belakang ini ruangan apa?

F : Ruangan periksa pasien, periksa dalam, tapi dibelakang ada banyak lagi ruangan-ruangan lainnya. (sambil melanjutkan pekerjaan)

Peneliti : Disini kegiatan perawatnya hanya menensi sama surat-menyurat aja, ya? F : Membantu dokter, melakukan tindakan.

Peneliti : Tapi, di sini gak ada perawatnya ya bu?

F : Kami di sini gak ada perawat. Panggillah “perawat” si bidannya. Peneliti : Di sini dokter spesialisnya hanya dua orang ya, bu?

F : Gak, kan ganti-gantian. Kan gak mungkinlah semua sekali masuk… gantinya per- sebulan sekali gantian. Untuk sebulan ini hanya dua dokter itu aja, untuk di sini (penekanan suara). Kalau yang lain beda lagi, beda-bedakan ruangannya, (poliklinik obgin yang lainnya) beda lagi dokternya. Yang di sini dokter spesialis Onkologi. Ada dr. Riza Rivany, dr. Deri. Gelarnya, ahli Onkologi, SpOG. OG-nya itu, obstetri dan ginekologi. Kalau spesialisnya di onkologi, Onk.

Peneliti : Bagaimana faktor penyebab pasien yang dirawat di sini, bu?

F : Penyebab utama gak diketahui. Gak bisa diketahui. (masuk pasien baru ke

ruangan) Bentar, yah…

Mau berobat di sini, kan? Ia-, ia, belum siap? Oh, nanti, ya berarti masih assesment namanya. Yaudah Senin aja nanti datang, langsung aja. Awas jatuh suratnya, nanti hilang. Jadi, ibu harus sabar. Di sini penyakitnya kan beda-beda, bu, gak semua sama… (suara lebih lembut) Karena banyak faktornya.

Peneliti : Bu, pasiennya yang datang kesini per- berapa kali?

F : Tengok-tengok anjuran dokternya lah. Kalau kemo itu ada yang seminggu sekali, ada yang dua minggu sekali. Mereka harus di dampingi keluarganya. Lihat kondisinya juga lagi ya, kan. Di sini semua rujukan, dari rumah sakit daerah.

Lama pasien di sini berobat, tergantung. Kalau lama, mau berbulan-bulan. Kan, tergantung jadwal dari sana nya.

(6)

F : Ada. Itu hak pasien, cuman kita menerangkan. Kan kita kasih tau semua, kok lama, kenapa penyebabnya, kok begini gini gini, “aku udah berobat ke

sana kok jadi begini gini gini” (mempraktikkan gaya bicara pasien). Kan

ada tata caranya, kita bilang. Datang bukan langsung operasi. Peneliti : Ibu pernah dengar pengelolaan kesan?

F : Pengelolaan kesan? Enggak, apa itu?

Peniliti : Gini, bu. Ibu disaat bekerja pasti ada perbedaannya dengan sehari-harinya ibu rumah, kan? Misalnya dari cara berbicara, penampilan.

F : Itu sebenarnya kek gini, kalau kita di rumah lagi, hm, kita menghadapi pasien ya, mungkin biasa aja sih. Tapi kalau misalnya ada seseorang yang membuat kecewa, yah, gak bisa dibawakan langsung. Karena kita, periksa di rumah, kitakan gak boleh menunjukkan kekesalan kita itu. Masalah di rumah, kita gak bisa membawanya itu. Karena apa? Nantikan dampaknya sama pasiennya gak enak.

Misalnya gini, saya kadang kecewanya gini, saya sudah siap-siap pakaian, buru-buru mau berangkat, ada pasien yang mau berobat. “Ih… jangan

sekarang, ya. Nanti sore ajalah, bu.” (mimik wajah kesal)

Kalau kayak jilbab. Biasanya sih saya pakai, kecuali kalau di ruangan saya sendiri sih, enggak. Iya, misalnya lagi jaga pasien, saya tetap pakai itu. Peneliti : Pernah gak, bu ketika berhadapan dengan pasien ibu merasa kurang

percaya diri?

F : (diam beberapa saat) Pernah juga. Yah, mungkin kesalnya gini, saya misalnya, saya sedang masak. Tapi, ntah cemana, kita takutnya pasiennya gak puas kan. Dia mau, kadang mau curhat dia. Hmm… (menganggukkan kepala) pasien ini kan seringnya kayak gitu. Ia… yang di sini pun mau

juga. Ada… (dokter PPDS menanyakan kelanjutan proses pengobatan

pasien, Ibu Fatimah mengarahkan pasien, menanyakan kondisi pasien dengan bidan lainnya)

Peneliti : Bagaimana jika ada pasien yang menuntut dari segi pelayanan di sini, bu?

F : Yah, sering. Iya. Yah sekarang gini, hmm, “Kami kan sesuai dengan, apa

namanya? Antrian. Dan nanti kalaupun dipanggil semua, sementara dokter yang lain juga pegang pasien. Sabarlah, bu.” Udah, gitu ajanya.

(7)

tekennya. Kemudian, yang adanya pasien-pasien lama, “Bu Fatimah, bu Fatimah…” Langsunglah disitu aku nangis, udah gitu aja. Pasienkan juga udah banyak yang saling kenal. Pasien-pasien ini, dari sini, udah itu aja. Udah itu, datang pulak keluarganya, “Bu, minta maaf ya bu, ya.” Cuman, say-, saya gak bisa ngomong. Saya diam aja, langsung saya pergi. Disitu kesal saya tuh. Gak tau saja, kok bisa nangis gitu. Karena saya emang gak suka kayak gitu. Pasien kayak gitu, cemana ya mau dibilang.

Lagian, jarangnya ada kayak gitu. Orang itu menganggap karena dirinya itu di sini, bisa selesai semua. Gak tentu, gak bisa. Orang itu kayak gitu keknya. Mungkin kita aja yang kayak gini, kalau kita membilangkan sama pasien yah, dia yah mungkin akan marahlah, gitu. (seorang dokter PPDS menanyakan soal atap yang bocor)

Sebenarnya gak pernah ada masalah kayak gitu, itu dia menganggap karena dia di sini bisa selesai semua. Gak tentu.

Peneliti : Bagaimana, bu dengan pasien yang kurang mengerti atau kurang paham begitu, ada bu?

F : Ada, ada juga yang kayak gitu. Cuman kan, yah tergantung dimana dia periksa. Ya, kalau di sini kita layani mana yang kurang mengerti, kan gitunya. (pasien baru datang, ibu Fatimah menensi lalu melanjutkan pekerjaan beliau)

Wawancara II

Tanggal wawancara : 17 Februari 2015 Waktu : 11.34 wib

Lokasi wawancara : Poliklinik Onkologi OBGIN RSUP HAM Peneliti : Bu, kita lanjut boleh ya?

F : Ya, tapi sambil-sambil, ya. (bekerja)

Peneliti : Seperti yang Sondang bilang kemarin, kita bisa aja mengatur penampilan kita sedemikian rupa ketika ingin bekerja. Misalnya, dari cara berpakaian, make up, itu ibu atur setiap harinya?

F : Kayak gini aja. Kebetulan terletak jam, biasanya terletak bukan aku yang pakai, anak aku yang pakai. Gitu aja. Bekerja, supaya nanti aku dalam bekerja aku bisa tegar dalam menghadapi segala hal. Sebenarnya butuh untuk kebutuhan bekerja, tapi aku gak hobi sebenarnya. Karena kebetulan aja tadi ini. (melanjutkan mengisi data pasien)

Peneliti : Bagaimana ibu menghadapi pasien yang mau mengeluh dengan pelayanan di sini, bu?

(8)

Belum lagi minta jadwal operasi, minta deluan, deluan takut semakin membesar.

Selain itu, biaya. Mereka kan tinggal di luar, “Nge-kos mahal kali, bu.

Bisa gak opname?”. Minta opname, kan gak mungkin. Biaya hidup pasiennya, bukan kita. Dia itu datang ke mari bukannya disitu datang langsung operasi, kita punya kriteria untuk itu. Ada. Salah satunya kalau kondisi HB-nya rendah, sel darah-nya lemah. Ketika menghadapi pasien dengan berbagai tuntutan itu kita biasa aja. Rugi apa coba kita, bukannya mengeluarkan materi, tenaga apa yang kita keluarkan, paling bicara.

Peneliti : Bagimana ibu memposisikan diri ketika menghadapi pasien, misalnya merasa apa gitu?

F : Iba? Ya, memanglah. (diam beberapa saat) Seperti pasien yang semalam, itu pasien dari sebelah (Poli Ginekologi, tahun lalu Ibu Fatimah ditugaskan di Poli Ginekologi) tahun lalu, sampai dia memberikan sesuatu sama saya. Seprai dikasih, ingat saya. Itu saya sendiri dikasih. Jadi, gak ada menuntut. Kalau saya kadang-kadang ada pasien yang diam-diam mau mengasih, saya gak mau terima. Ya, kalaupun dia mau memberi seandainya, selesaikan dulu kalau badannya udah mulai sehat teruslah dibantu.

Peneliti : Komunikasi terapeutik selalu ibu lakukan dalam menghadapi pasien, bu? F : Yah, sekarang kan yang dikatakan kalau komunikasi terapeutik itu, itu kan

sekarang sesuai dengan keluhan dia, kan? Ya, bisa dilihat sendiri lah, kadang-kadang di bilang, kadang lupa. Ah, kadang gak begitu, cuman

“Apa kabar, bu? Sehat? Bla… bla…”, gitu ajanya.

Sebenarnya tergantung orang yang melihat aja, kita kan gak bisa harus begini-begitu. Dari diri sendiri ajanya itu, kan? Ah… Gak bisa istilahnya, dibuat-buat gitu, “aku harus begini.” Pokonya saya bekerja sebaik mungkin, mudah-mudahan hmm… memberikan yang terbaik buat pasien. Jadi, gak mesti dibuat-buat sama pasien gitu. Udah bawaannya sendiri kayak gitu. Kadang ya kalau mau gak enak, ya kadang diam. Jadikan gak bisa kita pastikan harus, ada pasien tersenyum, gak ada pasien merengut. Peneliti : Hambatan dalam melakukan komunikasi terapeutik karena apa aja, bu? F : Sebenarnya mungkin udah sering dilakukan cuman, dibilang lupa sih gak

tahu. Tapi, yah itulah yang kami lakukan. Gini aja, kamukan bisa melihat. Jadi, gak bisa kita pastikan. Kan gak bisa kamu tanya, terus saya bilang

“Iya”. Ternyata pas kamu lihat sendiri ternyata enggak. (suara memelan).

Gak pula bisa kita pastikan, kadang mau lupa, kalau misalnya saya jawab macam-macam kan, gak enak.

Peneliti : Berapa lama rata-rata pasien yang berobat di sini, bu?

F : Tergantung penyakitnya. Belum bisa dipastikan. Paling cepatnya 6 bulan, mau juga sampai bertahun. Gak bisa diterka-terka.

(9)

F : Di mana? Di sini? Di sini gak ada yang gak kanker lah. Inikan bagian kanker. Yah sesuai dengan apanyalah, hasil pemeriksaannya.

Kalau ada pasien yang penyakitnya kambuh lagi, penanganannya sesuai dengan tindakannya, sesuai dengan penyakitnya di sinilah. Kemo-kah, sinar-nyakah. Kemo bisa, sinar bisa.

Pokoknya kemunginan pasien di poli ini untuk sembuh, itu ada.

Peneliti : Kalau menurut ibu, pengaruh komunikasi seorang bidan terhadap kesembuhan pasien itu gimana, bu?

F : Ada. Tapi, sebesar apa itu tergantung penerimaan dari pasien. Kan yang udah terkena ini kadang-kadang merasa minder gitu, padahalkan gak ada masalah. Kita kasih motivasi, harus semangat, mesti kuat. Semua penyakit pasti bisa disembuhkan.

Peneliti : Harapan ibu untuk rumah sakit ini gimana, bu?

F : Semoga menjadi rumah sakit yang semakin bermutu. Dalam segala hal, baik dalam penelitian, pendidikan, dan pelayanan.

Sebenarnya di sini bukan sulit, hanya rumit. Bukan dipersulit karena baru-baru pertama pasien datang, prosedurnya aja yang agak rumit gitu. Sebenarnya kalau yang udah paham gampang. Ya sekarang aja udah gak pala sulit lagi, dulu-dulu iya. Yah, semoga semua pasien yang diobati cepat sembuh.

Peneliti : Oh ya, bu di sini rokernya per berapa kali, bu?

F : Kadang gini, selama ini enam bulan sekali, terus ada yang bilang tiga bulan sekali, sekarang satu bulan sekali. Tapi, kalau ada lagi perubahan bisa bertahan di sini gitu.

Peneliti : Ibu sebelumnya pernah bekerja dimana aja, bu?

F : Di Pirngadi. Tahun „89 sampai „91. Di sini langsung jadi PNS, kan

CPNSnya udah di Pringadi. Ruangan pertama sekali di tugaskan di sini di bagian Obgin gitu. Di ruangan kebidanan-lah..

Peneliti : Nama lengkap ibu siapa? Fatimah aja, bu? F : SST.

Peneliti : Apa ini, bu?

F : Sarjana Sains Terapan. Peneliti : Ibu bukan dari bidan?

F : Bidan, kan linearnya ngambil apa. Peneliti : Tempat, tanggal lahir ibu?

F : Medan, 18 Juni „68.

Peneliti : Suku ibu? F : Minang.

Peneliti : Berarti ibu ini lulusan D III?

F : Pertama SPK- bidan, bidan D III, D III sampai D VI. Peneliti : Tempat tinggal ibu dimana?

F : Padang bulan, simpang Pos. Peneliti : Jumlah anak ibu?

F : Tiga.

(10)

Informan II

Novida Herawati Dewi Siregar, AmKeb Wawancara I

Tanggal wawancara : 11 Februari 2015 Pukul : 14.10 WIB

Lokasi wawancara : Ruang Bidan, Poliklinik Ibu Hamil OBGIN RSUP HAM

Peneliti : Bu Novi, bisa ngomong-ngomong sedikit, bu?

N : Tunggulah dulu ya, dk. Jadi maksudnya kenapa, dek?

Peneliti : Mengenai penelitianku tentang pengelolaan kesan. Misalnya gini, kakak ketika berhadapan dengan pasien cara bicaranya diperlembut.

N : Ah, itu Ibu Pulung itu yang jago memotivasi itu. Persepsinya motivasi itu kan, kita kasih supaya dia. Ia, semangat untuk sembuh.

Peneliti : Kakak sudah berapa lama kerja di RS Adam Malik ini?

N : Sejak tahun „97. Awalnya di ruangan inap Obgin. Terus di Onko satu

tahun, baru ke Gineko satu tahun, terus inilah di sini. Ganti-gantilah pokoknya. Setiap tahun dulu dioper-oper, tapi sekarang katanya jadi setiap bulan sekali. Di seputar Obgin ini aja, ya. (sambil memainkan komputer) Ah, apa lagi?

Peneliti : Di sini berapa orang rata-rata pasiennya, kak?

N : Lima sampai sepuluh orang. Kadang yah, paling maksimalnya 10 orang. Karena pasien di sini kan spesifik, di sini hanya perempuan, gak semua orang bisa hamil, dan gak semua orang yang hamil itu ada penyakitnya. Biasanya mereka dari daerahlah kan, dek. Inikan rumah sakit rujukannya ini. Tapi, terkadangkan ada juga pasiennya yang datang dari Medan ini juga.

Peneliti : Faktor apa saja yang menyebabkan pasien dirawat di unit ini, kak?

N : Yah, masalah kehamilanlah. Semua pasien yang datang ke mari itu awalnya karena memang dia hamilnya. Misalnya itu kan melahirkan dengan HIV, penyempitan rahim, hamil dengan miom, banyaklah…

Peneliti : Kak, sewaktu rapat membahas tentang pasien ajakah atau ada sesuatu tujuan yang ingin dicapai dihari selanjutnya misalnya dari strategi-strategi tertentu gitu?

N : Gak adalah, dek. (suara lebih lembut dan memelas) Kita langsung membahas apa yang pentingnya aja.

(11)

N : Kalau sama teman awak mau awak batasin mau bersenda gurau, ya bersenda guraulah. Kalau waktu apa, hm, kalau waktu apa yah, jam kayak gini.

Peneliti : Bagaimana dengan pasien dalam menerima makna dari pesan yang kakak sampaikan?

N : Gak semua pasien nyambung. Itu yang sering terjadi. Ada yang gak pande Bahasa Indonesianya, banyak. (menekankan kembali dengan suara lebih kuat) Banyak. Capek kita bertekak, dijelaskan, dia gak ngerti juga. Tiap hari ada aja nanti kayak gitu. (ada beberapa bidan dan pegawai yang keluar masuk ruangan ini, Ibu Novi berbicara sebentar dengan mereka sambil bercanda)

Gak mengerti, ada yang pekak, ada yang apa. Macemlah namanya manusia, segala macam. Ya, ya, ada yang gak mengerti, mungkin udah kita jelaskan, “Ngerti, bu?” kita bilang, “Apa?”, katanya, udah bingung dia.

Peneliti : Jadi, strategi kakak mengatasi untuk menjelaskan itu gimana?

N : Ya, gimana, yah. dipanggilah keluarganya. “Ibu bawa keluarga, bu? Kalau

enggak bawa yah.. kalau ada bawa ke sini dulu ya, bu biar kami jelaskan”. Nantikan udah capek kami menjelaskan, gak ngerti.

Peneliti : Di Poli Ibu Hamil keluaraga boleh masuk juga kan, kak? Kegiatan apa aja yang dilakukan dengan pasien, kak?

N : Ya, bolehlah. Di tensi, di USG, iya bisa di palpasi. Di palpasi itu diperiksa perut, dipalpasi, diukur berapa tinggi fundus uteri.

Ada lagi? Sebelum aku ngapain, hmm… pasienku.

Peneliti : Ada, kak. Saat menensi pasien, kakak memakai stetoskopnya teruskah atau gimana?

N : Buka-tutuplah, dilepas-lepas. Siap dipake, diletakkan.

Peneliti : Bagaimana ekspresi wajah kakak ketika berkomunikasi dengan pasien yang kurang mengerti seperti tadi, kak?

N : Ya, sambil senyumlah. Tapi kadang datang juga emosi. (berbicara lagi sebentar dengan ibu sesama bidan mengenai anak-anak mereka beberapa menit)

Peneliti : Bu, ibu gak mau ke ruangan aja? (Poliklinik Ibu Hamil)

N : Oh, yoklah, yok… (berjalan keluar Poliklinik Ginekologi menuju

Poliklinik Ibu Hamil)

Peneliti : Pasien di sini berapa banyak per harinya kak?

N : Gak tentu, (sambil duduk) kadang enam, kadang sepuluh, gak tentu, kadang lima rata-rata lima sampai sepuluh.

Peneliti : Ruangan-ruangan ini ruangan apa aja kak?

N : Ruangan periksa, bidan mendampingi dokter yang pegang. Terus itu ruang ganti perban. Hm, ruang pemberian injeksi.

(12)

N : Gimana ya, (berpikir sebentar) karena itu kan individual. Harapan itu, itu kan sekarang, pendidikan, pendidikan dari dasar dari si pasien. Bahasa Indonesianya pun kadang kurang. (mengerutkan dahi) Kadang kan, ini dek, orang tahunya ini kan pasien pusat rumah sakit rujukan khusus orang Sumatera Utara. Jadikan, orang ke mari mengertinya itu, pikirannya kan. Kadang orangnya memang yah, orang yang kurang mengerti. Taulah kau kan, dek. Pasien di sini kan dari kalangan apa, (terputus) mereka pun berobat ke sini dari tingkat ekonominya kan. Kalau di sini pu, mau dia kelas satu pun gaknya jauh beda kali, kan. Orangnya kan memang dari kalangan, ya kau taulah. Yang di VIV pun paling orang-orang pegawai negeri.

Peneliti : Terus, kak bagaimana cara kakak mengatasi pasien yang menuntut gitu? N : Maksudnya? Yah.. kan kalau ada pasien yang mengeluh, menuntut gitu, ya

kita dengarlah pulak dulu penjelasannya gimana.

Peneliti : Kalau kakak udah terbawa emosi gitu gimana kak cara menanganinya? N : Kan ada teman, kita kan ada tim. Kita kan apa, kita gak sanggup, ya kita

kasih sama kepala. Kepala gak sanggup, kasi sama kepala yang lain. Kalau udah parah ya kasi ke direktur. Itulah gunanya.

Peneliti : Harapan kakak untuk Poli Ibu Hamil sendiri, gimana kak?

N : Cukupnya, cuman. Kalau peralatannya, yah udah ada tapi maunya ya, hm, lebih bagus, lebih modern gitu.

Peneliti : Sehubungan dengan kakak sebagai pekerja, harapan kakak terhadap rumah sakit ini gimana?

N : (batuk-batuk) Enak sih enak, tapi tuntutan kerja banyak, (mengulangi) tuntutan kerja banyak. Tuntutan dari, hm, pasienkan banyak, banyaklah pulak tuntutan ini ke sini, macamlah itu, banyak lah buat ini dan ini. Administarisinya lah. Tapi, kesejahteraan kami saya rasa masih kurang. Udah lah dulu ya dek, ok? (dengan suara lebih lembut)

Wawancara II

Tanggal wawancara : 18 February 2015 Pukul : 11.04 wib

Lokasi wawancara : Poliklinik Ibu Hamil OBGIN RSUP HAM Peneliti : Oh ya, kak. Kakak sebelumnya kerja dimana?

N : Eng..gak. Eh, pernah. Di daerah. Rumah sakit daerah. (sambil mengisi status pasien)

Peneliti : Berapa lama kakak bekerja di situ?

N : (diam beberapa saat) Bentar ya, sayang. (suara lembut) Tiga tahun. Sebelum sembilan tujuh.

Peneliti : Pendidikan terakhir kakak, apa?

(13)

N : Pelita empat. (bunyi sepeda motor yang keras, melanjutkan mengisi status pasien.)

Peneliti : Kak ini apa? (kertas yang berisi poin-poin untuk pasien)

N : “Bu, luka, mandi, cuci di bawahnya, cuci ini, ini dibersihkan ya, bu. Ah…

potong kukunya, bu.” Inilah di sini dituangkan. (menunjukkan kertas

tersebut) Ini namanya edukasi. Lain lagi dengan kok sio, xio itu kau melakukan currage bertingkat. Atau kau mau, mau pasang injeksi, itu lain lagi. Tindakan pakai piso, tindakan pakai alat, yang namanya alat berat. Itu harus pakai, pasien tanda tangan lagi.

Kalau ini (terus menunjuk-tunjuk kertas edukasi), apa pun namanya, mengantarkan pasien, membilangkan apa dianya, mau ke mana, mau apa, mau ber*k dia, istilahnya inilah dia. Mau minum dia, “Bu, minum banyak. Makan telur.” Di sini semua dituangkan. Itulah namanya edukasi.

Peneliti : Kakak pernah dengar pengelolaan kesan? Kita melakukan segalanya atas dasar berbagai pertimbangan, seperti cara berbicara, penampilan. Itu ada kakak lakukan?

N : Gak pernah dengar. Itukan ada sebenarnya, kayak apa namanya. Ini harus rapi, rapi kayak orang Bank itu. Udah, kami kan ada kami lakukan. (datang pasien baru)

Peneliti : Kakak selama di RS Adam Malik ini, di ruangan apa aja kak sebelum di PIH?

N : Kami semua rata-rata dari ruangan (dengan nada sedikit keras), dari ruangan baru ke poli. Kami di poli bergilirlah, (suara lebih lembut) tiap bulan berganti. Gantianlah, onko lama dulu sampai setahun, baru ke gineko setahun, balek lagi, besok, bulan depan lain lagi. Bulan depan pindah lagi kami, ke onko lagi balek. Roker tiap bulan.

Peneliti : Oh ya, kak. Kakak emang ingin masuk RS Adam Malik sejak sekolah ya, kak?

N : Yah, enggak lah. (batuk beberapa kali) Ibarat dimana SK ditempatkannya. Kami mana ada dulu beda-beda jalur kayak gitu. Kami dari Kemenkes dulu, ngelamar yah sudah ditempatkan di daerah, eh di sini. Kami kan ngelamar dari, untuk pusat dulu. Pusat memperbantukan, buka di sini dari pusat dulu baru ke mari. Ah… buka untuk Adam Malik dari pusat, yah… dibantulah kami ke mari.

Emang istilahnya kita melamar PNS, melamar jadi apa, (memegang jam tangan) jatuhlah ke mari. Sumatera Utarakan buka, buka untuk pusat. Ah… gitu. Pokoknya, Sumatera Utara buka untuk pusat, kita melamar dari pusat, pusat menempatkan ke mari.

(14)

N : Yah, macamlah, dek. (melihat ke peneliti) Banyak lika likunya. Tapi serulah, yah ialah namanya banyak masalah. Macem-macemlah, ada kasus yang gak bisa diceritain.

Peneliti : Apa saja faktor yang menyebabkan pasien dirawat di poli ini, kak?

N : Ibu hamil, yah pokonya dengan kehamilanlah. Macamlah itu, seperti itu ada yang kehamilan dengan miom, ada yang hamil dengan HIV, banyak kasus. (diam beberapa saat) Gak taulah kita bilang prediksinya, karena masing-masing orang berbeda-beda. Beda-beda setiap pasien.

Peneliti : Kegiatan apa aja yang dilakukan bidan selama perawatan dengan pasien, kak?

N : Yah, kan… gak kau tanya rupanya? Kan sama, dek. (mengerutkan dahi)

Data pasien, semua kayak di Onko juga. Mendata semua dari a sampai z. memeriksa tensi, apa tindakan, ganti perban, yang injeksi, yang apa, semualah. Banyak, dekku semualah. Yang currage lah, apalah, semua dikerjai. Gineko, onko pun currage-nya.

Peneliti : Berapa rata-rata umur pasien di sini, kak?

N : Berapa yah… ada yang tua, ada yang muda. Gak bisa kita prediksi. Ada

yang dibawah umur, ada yang delapan belas dia udah kawin, tujuh belas dia udah kawin. Gak tahu kita, tergantung resiko eemm… individu. Sekarang kan per- individu. Ada yang 12 tahun, 13 tahun udah kawin dia. Ada, ada yang umur 14 tahun.

Peneliti : Bagaimana sih kak cara kakak melihat, menilai pasien-pasien itu, kak? N : Kita merasa mereka membutuhkan, itu pasti dong. Yah, kita di sini

melayani itu aja sistemnya. Itu jawabannya. Kita bekerja melayani, melayani, bekerja. (menunduk)

Peneliti : Jadi, di sini pasiennya mudah di ajak bekerja sama gak, kak? Misalnya ketika ada sesuatu yang harus dilakukan, mereka mengerjakannya atau malah sulit, gitu kak.

N : Yah, sekarang tergantung si pa-, si pasien. (batuk lagi, salah seorang dokter PPDS meledek, “Interview, nieee…”) Kamu dengan badan si A, dengan badan aku sama, gak? Itu apa jawabannya? Beda, kan? Kebutuhan kau dengan kebutuhan si C, dengan badan si B sama, gak? (diam sebentar) Beda. Yaudah itu jawabannya. Yah, kan sekarang kita lihat kebutuhan si luka ini kayak gimana. Perlu gak sama dia ini? Kalau semua kita bilang enggak, gak perlu, kan nengok individunya.

Peneliti : Apa saja sih kak kegiatan yang dilakukan di sini bersama dengan pasien? N : Kita mengajari me-lap, gitu. Namanya edukasi, itu namanya edukasi,

penjelasan (suara lebih lembut)

Peneliti : Oh ya, kak. Pasien di sini mau juga kak sharing selain dari masalah penyakitnya?

(15)

itu. Kadang anaknya, ada nanti anaknya, diluar dari… (terhenti), yang di rumahnya pun kadang nanti mau juga diceritainya.

Kadang-kadang, “Udah selesai, bu?” (suara lebih lembut saat mempraktikkan pembicaraan dengan pasien) Udah, yah. Karena pasien yang lain mau datang. Pasien yang lain nanti keberatan, bu.” Gitulah, “Kita lihat waktu ya, bu”, kita bilang gitu.

Peneliti : Ada gak kak, cara khusus dari kakak ketika berkomunikasi dengan pasien agar pasien tenang, percaya gitu kak?

N : Kita palingkan kita bilang, kita kasih penjelasan, “Bu, kita suntik ya, bu.”

“Dimana?” “Di daerah perut”, atau di mana gitu. Yah, kita bilanglah. Peneliti : Kak, pasien begini harus terus konsul atau gimana?

N : Haruslah. Nanti bisa buta dia, ntah kabur dia nanti, ntah kayak gimana. (suara sangat pelan) Udah la ya, dek. Lagi gak di sini pikiranku ini.

Informan III

dr. Deri Edianto, M.Ked (OG), SpOG.K Wawancara I

Tanggal wawancara : 16 Februari 2015 Pukul : 13.04 wib

Lokasi wawancara : Ruang rapat dokter di Poliklinik OBGIN.

Peneliti : Siang, dok. Saya Sondang mahasiswa USU yang melakukan penelitian di RS Adam Malik ini mengenai pengelolaan kesan. Jadi, dokter salah satu informannya, bisa wawancara sebentar, dok?

D : Oh, yaudah. Sinilah, sini, sini! Biar cepat tamat kau. (tertawa dan masuk ke dalam ruangan rapat dokter) Ah, duduklah kau. Kalau bisa ku jawab, ya ku jawab.

Peneliti : Dokter di RS H. Adam Malik udah berapa lama bekerja?

D : Tahun berapa mulai, ya? (sambil berpikir dan mengingat-ingat) Saya tamat ‟96, spesialisnya. Paling entah ‟97 lah kalau gak salah ya. Ia ‟97. (sambil memukul-mukul tangan sembari menghitung dan mengingat-ingat) Kalau gak salah saya ‟97, ‟97, ya? Kau lahir, sembilan tujuh „97?

Peneliti : Ditugaskan langsung di obgin gitu, ya?

D : Ia lah. Oh, ya kan semua kan, ruangan sama poli kan juga termasuk bagian dari onko. Saya hanya di bagian onko saja.

Hmm, „98 saya di sini. (mengayunkan tangan membuat lambang menolak

perkataan sebelumnya) Eh, gak, gak lah, „97. (diam sebentar mengingat kembali) ‟96? ‟97lah kira-kira. ‟97, ‟97. Sebentar-sebentar, 2015, 15, berarti 18 tahun.

Peneliti : Dok, dokter di sini langsung di tugaskan di poli dulu?

(16)

bergilir saja, semuanya dapat tugas. Jadi, bukan berarti misalnya yang baru masuk di poli, yang udah senior di ruangan, yang senior kali di kamar pasien. Gak seperti itu. Itu hanya, masalah… (terputus) Hah.

Perputarannya semuanya, supaya dapat jatah semua, jangan di poli saja, jangan di ruangan saja. Supaya kenak semua ya diputar, tapi, tapi,gak ada, gak ada istilahnya, dia udah seperti itu. Ya, emang supaya dia, tugas itu terbagi rata. Sama aja, kan udah sama-sama spesialis, kan udah, udah bisa kerja sendiri bukan, bukan pemula. Jadi, dia bekerja itu supaya, yah memegang semua (diam beberapa saat) pelayanan. Ah… Pelayanan poli, kan gak mungkin orang di poli aja, di ruangan, ruangan aja. Bergilir, gitu. Hanya masalah bergilirannya aja.

Peneliti : Kalau kriteria dari pasien yang berobat rawat jalan di Poli Onkologi, apa dok?

D : Yang rawat di ruangan itu kan pada umumnya keadaannya jelek, yang tidak mungkin, tidak mungkin berobat jalan. Yang selebihnya, ya berobat jalan. Yang, yang diopname itu kan yang keadaan umumnya jelek. (menjelaskan dengan suara yang jelas)

Peneliti : Itu kemungkinan untuk sembuh besar, dok? D : Gak. Tergantung stadiumnyalah.

Peneliti : Kalau dua B itu gimana, dok?

D : Dua B… (diam beberapa saat, memukul pelan meja) udah jelek.

Maksudnya dua B apanya ini mu kau? Dua B apa? Serviks? Kalau serviks kurang bagus.

Peneliti : Ketika berhadapan dengan pasien ada gak pendekatan latar belakang si pasien gitu, dok atau langsung bahas penyakitnya?

D : Ya sekalian lah. Kan, kan sekalian, kan kalau kita kan nanyaknya kan gak lagi… seperti mahasiswa nanyak, “Bu, tinggal dimana?... ”, gak seperti itu. Sekarang, se-, se-Kan bisa saja sambil, sambil nanyak “Bu, anaknya berapa? Bla--- bla--- bla--- Suaminya dimana? Bla--- bla--- bla--- Kerja suami apa? Bla--- bla--- bla---...”, sambil sambil periksa kan, “Bu,

keluhannya apa?”, kan jadi tidak lagi terkotak-kotak.

Peneliti : Jadi, itu dokter ingat juga latar belakang pasiennya itu?

(17)

Jadikan, saya akan menanya faktor sosialnya yang berhubungan saja. Kan saya sudah tahu diagnosanya, gitu aja. Jadi, gak lagi banyak-banyak, gitulah.

Peneliti : Pernah gak, dok ada pasien yang tidak bisa menerima diagnosa dari dokter?

D : Gak ada. Senang kali pun mereka saya periksa. Semua-, semuanya kita

bilang, terima saja… (masih memukul-pukul pelan meja)

Peneliti : Bagaimana tindakan dokter kalau ada pasien kurang paham gitu? D : Ya, dijelaskan dong sampai dianya paham.

Peneliti : Kalau pasien yang pakai bahasa daerah ada, dok?

D : Ada. Bisa, bisa, gak apa-apa. Bisa-, bisa bahasa daerah. Saya kan bisa bahasa daerah. Saya kan kalau kamu sering lihat, pasien yang Bahasa Aceh- saya Bahasa Aceh, Bahasa Batak- saya Bahasa Batak. Pasien yang bisanya Bahasa Aceh saya transletternya. Iya… (tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala)

Di sini yang tahu Bahasa Aceh Cuma berapa? Yang tahu Bahasa Batak bejibun, Bahasa Karo bejibun, nah begitu yang tahu Bahasa Aceh cuma saya yang tahu sendirian. Gak apa-apa. Soalnya pasien-pasien itu kan, malu-malu dia kadang-kadang. Kan ada yang gak-, gak tahu Bahasa Indonesia itu, ya kan? Gak apa-apa saya Bahasa Aceh, selesai. Pas-, pas

saya Bahasa Aceh kau gak ada… (suara yang lebih kuat dan memukul

pelan meja) Itu salahnya kau. Berapa kali saya ngomong di situ sama pasien. Yang-, yang saya baca Aceh? Kau gak ada. Ah… itu kau. Pernah

ada disini pasien Bahasa Aceh, habis payah kali… jelaskannya. Bahasa

Indonesianya gak nyambung. Nah terus, apa lagi?

Peneliti : Bagaimana sih dok gaya berbicara dokter ketika berbicara dengan pasien dengan berbicara sehari-harinya, seperti di rumah atau sama dokter lain? D : Ya, sama aja gak ada beda. Sama aja. (bunyi telephon seluler dokter,

melihat telephone, dan mengabaikannya) Nah, terus, terus… gak ada beda, sama aja.

Peneliti : Maksudnya, waktu dokter ngomong sama pasien lebih lembutkah atau gimana?

D : Gadak, sama aja, kan. Emangnya saya terus lembut, saya gak pernah gak lembut. Sama siapa aja saya lembut.

Peneliti : Jadi dokter gak ada mengelola dari dokternya, cara bicaranya gitu?

D : Gak, emang gitu aslinya, ngapain mesti basa-basi. Kan gak-, gak ada kan ngomongnya yang gak-, gak-, tidak lembut, semua lembut, kan? Kalau pas-, pasiennya-, pasiennya melawan, ya saya lawan. Gak lah, gak lah… (tertawa) Enggaklah, gak ada apa-apa.

Peneliti : Maksudnya apakah semenjak jadi dokterlah jadinya seperti ini?

(18)

Inilah kan, ibu ini.. (Ibu pegawai yang beberapa saat yang lalu masuk menunggu dokter) Walaupun ibu ini ibu kepala di sini-. Kalau saya ia, ia. Kalau tidak, ya tidak. (tertawa). Ini bos di sini, ini. (tertawa lagi)

Terus-, terus-, terus-…?

Peneliti : Kalau dari cara berpakaian, dok?

D : Gak ada, saya gak pernah pakai apa-apa. Kamu tengok saya mewah, gak? Emang gini saya, orangnya se-, sederhana. Saya tinggal nunggu peningkatan gaji, ya bu ---, yah? (melihat ke ibu pegawai yang menunggu, tersenyum kecil)

Kau tengok-, kau tengok saya? Saya pakai baju apa yang ada. (memukul pelan meja) Apa yang ada. Suka hati, apa yang ada. Jadikan, gak ada. Saya pakai pakaian suka hati, apa yang disit-, dicuci istri saya itu yang saya pakai.

Peneliti : Komunikasi terapeutik, komunikasi penyembuhan, komunikasi terhadap pasien yang dilakukan secara bertahap dari perkenalan, ijin dalam melakukan tindakan ke pasien, apakah itu dokter lakukan?

D : Ya, ijin lah. Yah-, ya ijin lah. Biasanya pasien kan sudah-, sudah ikhlas. Terutama yang saya minta ijinkan (penekanan suara) kali kalau saya mau minta mahasiswa periksa. Itu tetap, eemm… itu khusus sekali saya minta

ijin. “Bu-“. Kalimatnya pun sangat nyaman, “Bu, saya mo-, mohon bu,

saya minta mahasiswa saya mohon periksa ibu. Boleh gak, bu?”, (mempraktikkan dengan suara yang lebih lembut dan mimik wajah yang layaknya memohon) minta ijin sama dia. Kalau dia bilang gak boleh… baru saya bilang, “Bu, kalau mereka gak ibu kasi kesempatan… maka, mereka gak akan pernah tahu. Nah, kalau dia gak tahu, nanti, besok-besok lebih dulu saya meninggal dari mereka, begitu saya meninggal maka gak ada orang Indonesia yang bisa ngobatin ibu di Indonesia lagi.” Gitu, jadi, begitu dia. (tersenyum dan memukul pelan meja untuk penekanan per kata yang disebutkan)

Peneliti : Dok, tapi kalau gitu itu kan berarti pengelolaan kesan juga, dong.

D : Ya, saya bilang begitu. Kalau pasiennya ngomong berarti pasiennya ikhlas. Tapi, tengok-tengoklah. Jadi, tidak semua kasus. Artinya, yang saya berikan orang megang itu yang kalau mereka yang me-, megang masih okay. Kalau yang kira-kira bermasalah saya tidak akan kasih. Kalau dia masih okay, saya akan minta, dan saya akan kasih tahu seperti itu, minta ijin tetap itu betul-betul minta ijin kepada pasien dan pasiennya ikhlas karena saya tak abaikan, “Mereka ini perlu untuk menggantikan saya”. (mengganggukkan kepala)

Peneliti : Di Onkologi pasiennya kan lebih sensitif, hal itu pernah gak membuat dokter kurang percaya diri?

(19)

Peneliti : Ada gak, dok atauran-aturan dari rumah sakit antara dokter ke pasien? D : Di-, dia harusnya kenal sama PPDS. Itu prosedur pendidikan emang seperti

itu. Jadi semua, semua- kan presiden harus kerja, mahasiswa harus pegang, PPDS harus pegang. Itu harus seperti itu. Di-, di seluruh dunia kalau program pendidikan kek-, kek-, kek- kau kalau enggak aku kasih nengok macam mana kau? Kalau gurumu udah hafal semua. Ka-, kalau kau gak di kasih masuk kapan mau jadi, bisa jadi tamat sekolah? Harus seperti itu. Jadi Rumah Sakit Pendidikan itu harus, emang seperti itu. Jadi, gak seperti kalau gak mau pasien, gak diperiksa. Mana bisa. Mana bisa pasien gak mau diperiksa. (mengerutkan wajah)

Nah, itulah. Mana bisa bilang tidak. Kalau dia gak mau yah disuruh di luar. Dimana-mana seluruh dunia, dimana-mana memang seperti itu. Kalau enggak, ah… kelian ngapain anak sekolah kalau enggak saya kasih pegang. Berdiri-diri aja, jaga-jaga pintu gawang? Kan, pasien harus mau. Seperti itu…

Peneliti : Jadi, begitu ada gak, dok pasien yang menolak?

D : Ada, itukan nolak satu. Saya suruh paksa, kalau gak, gak mau gak bisa. (dengan mimik wajah kesal) Pasienkan harus-, harus ikuti prosedurlah. Gak ada, gak bisa di Rumah Sakit Pendidikan ada pasien yang gak mau

diperikasa oleh peserta didik. Gitu… (mengangguk-angguk)

Peneliti : Dok, di sini ada rapat pengevaluasian per periodenya?

D : Kami kan ada tiap hari Rabu di sini. (ruangan rapat dokter tempat melangsungkan wawancara pada saat itu) Kami aja (dokter) ada kan, tiap hari Rabu. Nanti kita ketemu lagi (keluar ruangan).

Wawancara II

Tanggal wawancara : 23 Februari 2015 Pukul : 12.33 wib

Lokasi wawancara : Ruangan Rapat Bidan OBGIN RSUP HAM Peneliti : Dok, mau lanjut yang kemarin bisa, dok?

D : (keluar dari ruang pemeriksaan Poliklinik Onkologi, melihat kepada peneliti) Apa yang kurang, hah, apa yang kurang? Ayo, ngebut. Saya mau kerja lagi. Kak Juli, mana yang sudah siap? Ayok ngebut, ngebut. (duduk) Peneliti : Soal pengelolaan kesan yang saya jelaskan kemarin, itu dokter lakukan

dalam pelayanan, dok? Seperti saya lihat, dokter kenapa gak pakai jas dokter gitu ya, dok?

D : Ah? Ah… Iya, ya. Ah, itu jas mengganggu.

Peneliti : Bagaimana keluhan pasien selama ini terkait pelayanan di sini, dok?

D : Ah, pasti itu ada. Misalnya seperti menuntut dioperasi. Mereka kan maunya cepat, sementara jadwal operasinya sudah ada.

(20)

D : Ah… iya. Ada. (tersenyum, menggeleng-geleng kepala) Oh iya… gak ada, gak ada, gak ada, gak ada. Yang sering mengganggu kinerja saya itu, kepala instalasi (kepala instalasi sedang berada di ruangan yang sama) Gak ada, gak ada, gak ada. (senyum).

Sejauh ini lancar. Semua bisa diatasi. Peneliti : Oh, berarti ada, dok.

D : Yah, bisa diatasi. Itu sekali-sekali aja.

Gak ada masalah merasa rendah hati. Orang sakit yah, kadang bisa aja emosi. Yah, paling kita, dari pengalaman aja, kita buat teknik-teknik menghilangkan rasa sakit si pasien.

Peneliti : Hambatan itu biasanya berasal dari mana dok?

D : Dari mana saja bisa. Dari semua. Dari pasien, dari rumah sakit, dari sana, semua bisa. (penekanan di setiap kata)

Peneliti : Bagaimana dengan kemungkinan sembuh dari pasien, dok? D : Gak bisa kita bilang banyak, kita tak punya angka.

Peneliti : Berapa lama kira-kira penyembuhan pasien, dok?

D : Oh… gak bisa dihitung. Gak bisa kita hitung. Pasien onko itu gak bisa di

estimasi. (dokter lain lewat dan berbicara sedikit dengan dr. Deri) Gak bisa, kanker itu gak bisa kita bilang berapa lama dirawat. Ada yang dirawat cuman satu hari meninggal, ada yang dirawat sudah sampai sepuluh tahun, hidup. (mengetuk-ketuk meja)

Kemungkinannya sedemikian, sedemikian luas. Gak bisa di-, di-, di-, dibayangin atau di pastikan gitu. Gak seperti penyakit-penyakit yang lain. Jadi, perlakuannya sangat (penekanan suara) khusus.

Peneliti : Bagaimana dengan pasien yang penyakitnya semakin buruk, dok?

D : Diobati. Pasien kambuh diobati lagi, pengobatannya menjinakkan sangat sulit. Ini kasus yang, sangat spesifik. (penekanan suara) Nanti saya jelaskan, ini perlu cerita yang panjang lebar. Kau gak punya basic kedokteran gak bisa disampaikan. Anak-anak mahasiswa kedokteran aja gak selesai-selesai. Udah, apa lagi?

Peneliti : Menurut dokter, adakah pengaruh cara berkomunikasi, pengelolaan kesan dokter untuk kesembuhan pasien?

D : Mana ada komunikasi menyembuhkan pasien. Emangnya hipnotis itu? Gak ada. Pasien sembuh hanya dengan obat-obatan. Gak ada karena cakap-cakap. (diam sebentar)

Bisa, bisa dong. Masing-masing tergantung keadaan. Pentinglah, penting kalilah. Pasienkan stress, jadi kita buat pasien santai, jadi pemeriksaan lebih mudah, komunikasi lebih lancar dengan pasien.

(21)

D : Harapan saya, menjadi rumah sakit yang lebih bagus, lebih lapang, lebih segar, menyamankan, menyenangkan, tidak mengecewakan, tidak dicereweti, tidak direpeti, udah pening kepalaku. Udah itu. (seisi ruangan tertawa)

Yah, meningkatkan kualitas pelayanan, meningkatkan kesejahteraan karyawan, meningkatkan hmm, eh, pendidikan berkelanjutan, itu aja. Jadi rumah sakit yang lebih baiklah, pulak. Kualitas, kualitas internasional. Rumah sakit-, rumah sakit yang terstandarisasilah. Sembuh pasiennya semua.

Peneliti : Untuk sesama tenaga medis, seperti bidan dan dokternya, dok?

D : Bidannya cepat dinaikkan gajinya. (tersenyum), naikkan gaji sama yang perawat-perawat. Yah, bukanlah. (suara lebih lembut) Yah, pelayanan

mereka hmm, lebih… profesionalisme lebih ditingkatkan, gitu. (disahut

oleh ibu bidan)

Ibu Juli : Sering diajak jalan-jalan…

D : Sering diajak jalan-jalan? Enggak, enggak. Suasana, suasana udah panas ini. (tertawa)

Kemarin enggak, kemarin kami gak jalan-jalan, Jul. Siapa yang bilang kami jalan-jalan coba kemarin? Gak jalan-jalan, ih. Kami berenang. (seisi ruangan tertawa)

Ibu Juli : Ternyata, hahaha… (tebahak-bahak)

D : Mana jalan-jalan kami. Ah, enggak… kan kami ke Sabang. Coba kau tanya si Novi, mana mungkin kami jalan-jalan. Berenanglah di situ. Kalau jalan gawatlah.

Udah, habis? Udah? (senyum) Peneliti : Udah. Makasi ya, dok.

D : (berjalan ke ruangan dokter dan menegur yang menghidupkan air toilet sampai meluap)

Informan VI Pulung Sembiring

Tanggal wawancara : 27 Februari 2015 Pukul : 14.24 wib

Lokasi wawancara : Poliklinik Ginekologi OBGIN RSUP HAM Peneliti : Bu, ibu jadi informan penelitianku, ya?

P : Masalah apa itu? Peneliti : Pengelolaan kesan, bu.

P : Oh, iya… (membaguskan jilbab)

Peneliti : Ibu sudah berapa lama bekerja di sini?

P : Udah berapa tahun, ya? Udah sejak tahun „90.

(22)

P : Ah… bikin ajalah tahun „91 di sini. Karena beroperasi rumah sakit ini

tahun ‟91-nya. Tahun „91, „97 (menghitung-hitung dengan jari) 2015,

udah berapa tahun itu? 23 tahun? Dua puluh berapa?

Ia, ia. Hmm, pertama saya di ruangan, di IGD pernah, baru kemana-mana. Ruangan, IGD, balik lagi ke ruangan baru ke mari. Tetap di kebidananlah gak boleh di ruangan lain. Itulah.

Peneliti : Bu, ibu memang bercita-cita jadi bidan?

P : Yah, iya lah. Zaman dulu nengok baju putih pengen awak jadi bidan kan. (tertawa) Gitu…

Peneliti : Ibu taunya RS Adam Malik ini dari mana?

P : Sebelum saya, deluan saya tamat dari Adam Malik ini. Jadi, saya, SK saya khusus ditempatkan di Adam Malik. Ia. Sesudah buka Adam Malik memang kami penempatan pertama di sini, di Adam Malik. Iya.

(melihat ke ibu bidan lain) Sembilan puluh (‟90) memang, kan. Tapi buka Adam Malik tahun sembilan satu (‟91). Tapi, memang untuk pegawai Adam Malik langsung dari pusatkan itu. Memang pertama di tempatkan di Pirngadi, sementara. (bernostalgia dengan ibu bidan lain disaat pertama sekali bekerja) Udah, apa lagi itu tadi?

Peneliti : Jadi, gimana perasaan ibu pertama kali di tugaskan di sini?

P : Hmm, perasaan ibu pertama kali? Kami takut di sini, orang belum ada jalan. Angkot belum ada, lampu belum ada. Jalan seginilah, ah (mengandaikan jarak tersebut dengan ke dua tangan berjarak beberapa senti) ah… (ibu bidan lain menambah cerita bagaimana kondisi awal RS. Adam Malik) Cemanalah kalau dilarikan awak waktu itu, ya? Angkutan

belum ada. Tahun sembilan puluh… (melihat ke langit-langit) dualah

kalau gak salah itu baru ada. Tahun „91, 6 bulan kami ke sini jalan kaki.

Lalang.

Peneliti : Jadi bagaimana pasiennya, bu?

P : Ada satu tahun pasien cuman berobat jalan di sini aja, di depan. Gak ada ruangan, kami cuman dua orang, tiga orang di belakang sana kadang-kadang sebelum beroperasi. Dokternya satu-satu datang dari Pirngadi. IGD pada saat itu buka. Jadikan, di situ, di IGD itu ada juga kan

orang-orang yang melahirkan pun ada. Sempat juga kami menolong partus di depan, di IGD. Di ruangan pun bisa, tapi masih terbatas pasiennya. Pasiennya sikit sekali, kan. Pegawainya pun masih sikit, karena pegawainya pun ke mana-mana masih gabung-gabung, “Ayok ke sana,

yok! Ke belakang, yok!” Masih diteman-temani. Udah besar di situ

gedungnya. Gak ada Rindu A, (diam beberapa saat) Rindu B yang belum bangun. Rindu B belum ada. (disahut oleh ibu bidan lain)

(23)

orang, orang berantam, keluarlah biji matanya. Aku juga udah jago di situ (tertawa kecil, diiyakan ibu bidan lain) Yang mati di depan ini lagi, berantam.

Peneliti : Bagaimana pengalaman ibu selama melayani pasien di rumah sakit ini? P : Yah, kek mana. Yah, kayak seperti tugas rutinitaslah. Maksudnya,

pengalaman gitu? Pengalamannya udah gak bisa lagi diceritakan. Karena kayak gitu-gitulah. Udah itulah kerjaan, datang kemari, selesaikan kerjaan,

pulang. Udah kek… enjoy ajalah. Biasa-biasa aja.

Peneliti : Berapa banyak rata-rata pasien di Poli Gine ini, bu?

P : Kalau hari itu katanya udah lima puluh satu hari rata-ratanyalah. Paling lumayan 50. Rata-rata, kan?

Faktor penyebab pasien berobat ke sini, kalau bagian gine aja, yah itu tadilah. Pada umumnya, yah bagian penyakit kandungan yang tidak ada keganasan, yah di sini. (memakan permen karet) Kalau ada keganasan yah dikirim ke sana, itu aja. (menunjuk ke Poliklinik Onkologi) Yah, banyaklah, ada kista ovarium, mioma uteri. Ntah apa-apalah, banyak. Namanya yang jenis-jenis penyakit kandunganlah di sini. Kalau enggak ganas, yah di sini.

Peneliti : Bagaimana kemungkinan sembuh pasiennya, bu?

P : Kalau yang di sini? Kalau menurut saya yah, kemungkinan untuk sembuhnya memang ya, (diam beberapa saat) harus sembuhlah. Kalau di Onko susah, ya. Karena dia harus kemotherapi, harus sinar, yah?

Peneliti : Jadi, kegiatan di sini apa aja, bu?

P : Di mana, di sini? Di sinilah yang paling banyak apanya, di sinikan tempat penerimaan pasien yang pemula. Pasien datang dengan tidak mengetahui apa sakitnya kan keluhannya disampaikan di sini. Di sinilah diolah. Di periksa, di USG oh, ternyata ada tumor. Yah, diperiksa ulang lagi, ganas apa tidak. Kalau ganas dikirim ke sana. Kalau gak ganas di bikin tindakan operasi di sini. Memilahnya di sinilah dia.

Di dalam ini (ruangan pemeriksaan Poliklinik Ginekologi) yah pemeriksaan dalam, ya. Baru kalau ada apa, di USG. Kalau emang dia perlu tindakan di kirim ke belakang. Kalau hanya pengobatan aja, pengobatan dari sini, diresep sama dokter.

Peneliti : Faktor penyebab pasien yang sakit di sini apa aja, bu?

(24)

Kecuali ya kalau memang karena Tuhan. Kan bisa ajanya. Daya tahan tubuhnya yang lemah, gampang terkena, kan gitu.

Peneliti : Biasanya di sini berapa lama penyembuhan pasiennya, bu?

P : Penyembuhan pasien? Di sini? Biasanya yang operasi tujuh hari udah pulang, udah sehat. Tujuh hari, hari ke tujuh dianyakan ganti perban. Siap operasi, ya hari ke tujuh udah, udah selesai, udah sembuh. Kalau gak ada keganasan. Tapi yah harus tetap konsullah beberapa kali. Gak sebanyak di Onko, karena di onkokan perlu tindak lanjut lagi, kemo, sinar. Perlu kemotherapi.

Peneliti : Bagaimana sih bu saat berkomunikasi dengan pasien, mudah diarahkan atau terkadang ada juga yang mengeluh, menuntut sesuatu gitu?

P : Yah itulah, namanya juga pasien ya. Gak ada masalah. Dia marah pun kadang-kadang itu yah, udah lumrah, namanya pasien.

Peneliti : Dari mana asal pasien biasanya, bu?

P : Enggak, gak, gak tentu. Ada yang dari Aceh, ada Pekanbaru, pokoknya seluruh wilayah bagian Tengah dan Timur (tertawa), pokoknya jauh-jauh.

Aceh banyak, dari Riau ada, Pekanbaru, dari… pokoknya itulah yang saya

tahu.

Peneliti : Berapa usia rata-rata pasien, bu?

P : Banyak. Dua puluh satu ada, empat lima ada, tiga tujuh, semua sama aja. Di sini anak SMP pun ada. Segala umur bisa kena.

Peneliti : Jadi, bagaimana cara ibu memandang pasien?

P : Seperti yang saya bilang tadi. Gak bisa kita, yah melakukan pelayanan seperti biasa aja. Namanya pasien berobat, yah kita bantu. Yah sebagai rutinitas yang ke-, yah gak ada masalahlah. Kita dengan pasien, kita dekat dengan dia. Sejauh ini sama pasien saya gak pernah marah, itu ajanya. Ini tengok aja, paling marah dikit aja, gak pala marah. Dia kurang mengerti yah kita jelaskan. Kalau komunikasi, komunikasi kita lancar, bagus. Paling kalau enggak jelas, kita jelaskan. Kan itu aja, nya.

Peneliti : Bagaimana kalau pasiennya mengeluh soal pelayanan, misalnya lamanya pengobatan gitu, bu?

(25)

Peneliti : Kalau seperti itu pasien menuntut karena lamanya pelayanan bagaimana tanggapan ibu?

P : Banyak yang menuntut, dipercepat, minta dioperasi, iya… antriannya

lama, karena mau periksa darah. Entah lagi itu dia antriannya yang paling lama, tapi harus ulang lagi dari awal karena udah lewat tanggal pemeriksaan. Hmm, sering gitu. (pasien datang memberitahu hasil pemeriksaan, diarahkan apa yang selanjutnya harus dilakukan) Yah, saya jelaskan kasih pandangan ajalah. Tapi, kalau kita di sini enggak, gak, kalau rame, ada gak ada pasien kita selalu ada di sini.

Kadang yah, itulah yang aku gak bisa menanganinya. Kalau saya sih, kalau boleh pasien itu disitu datang, pemeriksaan darah, langsung dioperasi dia,

yah… (mengangguk-anggukkan kepala) Mau saya sih gitu. Tapi, kok

belum bisa? Ini pasien datang, diperiksa darahnya, langsung hari ini juga maunya dokter itu langsung memegang pasien, siap, pulang dua hari aja di sini. Biar siap, sehat, kalau mau saya sih kayak gitu. Saya risih… sekali sebenarnya tapi, gimana? Itulah, suami saya berobat kemarin udah hampir dua minggu kami di sini, periksa darah, periksa ini. Setelah itu baru di buka. Padahal kenapa gak langsung dibuka aja, orang sehat-sehat aja, kok. Kalau yang biasa-biasa langsung juga di situ di bedah, kenapa? Bertele-tele, itulah prosedur kita. Itukan prosedur, kalau gak kayak gitu gak bisa. Nantikan dokter takut kalau ada sesuatu kan kenak dia. Bisa masuk penjara

dia. Itulah… Maunya. Tapi, gak seperti itu. Nanti yang sakit ginjal,

diperiksalah dulu ginjal, udah siap periksa ginjal belum siap jadwal.

Mungkin gak sakit aja yang memengaruhi ini, … (diam beberapa saat)

Tapi, yah saya gak begitu sampai pendidikan saya untuk ini. (tertawa) Saya sebagai pegawai biasa, perawat pelaksana yang paling terendah. (senyum)

Peneliti : Jadi, kalau seperti yang tadi status pasien gak datang-datang.

P : Inilah kita kadang-kadang, itu bukan tugas kita. Ngambil status dari bagian sana. Jadi, sebenarnya itu kita hanya mengambil inisiatif sendiri. Kalau kita ambil pun kadang gak ada salahnya, kan. Kalau gak kita ambil, kita perlu. Kita memang membantu tugas orang lain, itu bukan tugas kita. Tugas kita, kita kerjakan.

Peneliti : Bagaimana dengan pasien yang kurang paham mengenai penyakitnya, atau tulisan dokter yang kurang jelas?

P : Sejauh ini saya rasa, sudah dijelaskan sama dokternya. Bukan masalah tulisan. Dia, apa yang dilaksanakan, bagaimana dia akan dibuat, apa yang akan dikerjakan, sebelum nya sudah dijelaskan dokter deluan. Kan ada, ada apanya, edukasi namanya. Jadi begitu dia masuk, dioperasi eh, dioperasi. Diperiksa, di-USG, diperiksa darah, diketahui penyakitnya, dijelaskan itu. “Ibu akan dibikin seperti ini, tindakannya ini, ini, iya…” Ada nanti yang ditandatangani mereka, dan ada yang ditulis itu setiap harinya.

(26)

Peneliti : Bagaimana ibu berkomunikasi dengan pasien yang tahunya hanya bahasa daerah?

P : Oh, ada. Ada yang dari mana itu kemarin, Aceh yah? Dia gak tahu berbahasa Indonesia. Mesti adalah juru bicaranya. Yang tahu bahasanya, yah dialah dibawa. Kalau ada orang Karo, bahasa Karo saya. Kalau ada yang bahasa Batak, yah pake bahasa Batak. Ikut sama pasiennya, yah sejauh sama yang kita bisa kita laksanakan. Kalau enggak, yah gak kita tolak… kan gak ada masalah.

Peneliti : Itu pertama sekali komunikasi dengan pasien ibu pakai bahasa formalkah atau giman?

P : Yah sebenarnya kita bawa santai, tapi formal ya. Nanti pasien kita sambut, kita memperkenalkan diri kita, kita tanyakan apa. Kan ada formatnya yang akan kita isi, kan? Yah memang harus formallah, tapi yah dengan santai. Peneliti : Bagaimana cara ibu mengarahkan pasien untuk melakukan apa,

pengobatan gitu?

P : Caranya, yah kita sampaikan inilah. Gimana supaya enaknya didengar, yah kayak gitu. Iya. Janganlah pulak kita suruh makan rendang setiap hari sementara keuangannya tidak cukup, gitu. Kan masih ada yang lain, entah seafood kek. (tertawa)

Peneliti : Kegiatan apa saja yang dilakukan bidan bersama-sama dengan pasien, bu? P : Pasien yang di sini kan pasien yang berobat jalan. (berpikir beberapa saat)

Oh… ini, cuci tangan. Yah, cuci tangan untuk mencegah infeksi rumah sakit, infeksi nasokomial ah gitu, kan. Kita kasih edukasi pasien itu, mengajari kayak gimana caranya cuci tangan. “Begini caranya, bu. Ini, begini.” Banyaklah, yah memang yang bukan harus, hmm… personal higinnya, gizinya. Kita kasih edukasi dia sesuai dengan yang dibutuhkan, apa yang kita lihat sesuai dengan keadaan si pasien itu.

Peneliti : Pasien mau gak sharing gitu diluar kondisi kesehatannya, bu?

P : Kalau soal itu, saya gak mau hmm, mengorek masalah pribadi pasien. Karena kita kan, waktu kita kan singkat. Untuk satu pasien berapa?

Kadang kalau ada pasien yang bercerita yah , sah-sah saja. Kita tanggapi. Kalau sejauh kita bertanya, sejauh itu gak-, enggak kami apalah, dek kalau di sini. Sebagian ada yang mau cerita langsung, kayak pasien yang tadi

kan, “Saya gini-gini, gono-gono.” Katanya. Itunya, sah-sah ajanya.

Peneliti : Ada gak strategi komunikasi yang khusus dari ibu dalam menghadapi pasien?

P : Yah, kedekatan kita ajanya menurut saya. Kalau kita dekat sama dia, kita anggap dia seperti keluarga kita, dia pun percaya sama kita, ya udah. Sesuai dengan kebutuhannya kita laksanakan, tugas kita, kewajiban kita. Apa yang perlu kita lakukan untuk dia, kita jelaskan.

(27)

P : Seperti yang saya bilang tadi, melihat tingkat pendidikannyalah. Ada kadang yang kita jelaskan lima kali, dia gak tahu. Ada yang disitu kasih tahu, dia sudah mengerti. Bedalah.

Peneliti : Komunikasi terapeutik dipelajari sama bidan juga, bu?

P : Ah? Komunikasi terapeutik? Hmm, berarti dengan bicara kita dengan dia udah menjadi pengobatan bagi dia, gitu?

Peneliti : Gini, bu. Komunikasi terapeutik itu ada beberapa tahapan, yang pertama ibu bahas kondisi dia, perkenalan diri, perawatan atau fase kerja, sampai penyembuhan gitu, bu.

P : Udah jelas, memang udah secara komplit. Udah ada (penekanan) memang begitu di status kan. Kita memperkenalkan diri, kita jelaskan apa yang hendak kita lakukan, kan udah secara otomatis kan itu memang udah di situnya. Saya rasa udah mengarah ke situnya itu. Kan kita memperkenalkan, “Ibu, selamat siang, bu. Nama saya ibu Pulung. Saya begini, bigini, begono… Ibu nanti begini ya bu, ya.” Dan di dalam pun (ruangan pemeriksaan) kita lakukan juga. Dia percaya, pengobatan juganya itu. Biar rasa nyaman dia. Ialah… Itu dari cara berkomunikasi kita pun itu udah diajarnya.

Peneliti : Menurut ibu penting gak komunikasi terapeutik itu, bu?

P : Penting sekali. Kalau pasien itu, ditengoknya ajapun wajah kita udah sembuh. Itulah yang paling penting. “Oi, ibu Pulung!” “Ia, bu. Masuk, bu.

Ia…” Besok-besok, “Mana ibu Pulung? Dikasihnya kue sama kita, senang

dia lihat kita. Udah gak jadi dia sakit. Tadinya cuman sakit senggugutnya dia, besoknya gak datang lagi dia karena udah sembuh. Ia… udah kita jelaskan, “Ini gini, gini aja, bu. Ibu makan ini, ini aja nanti” “Oh, iya?” Besoknya gak datang lagi dia, udah membaik. Banyak juganya kayak gitu pasien yang datang di sini. Cuman sakit sedikit mengeluh dia. Kan, psikisnya itu. Psikologisnya itu. Kalau naik tensinya melihat kita, gak operasilah dia, gak sembuh-sembuhlah dia.

Peneliti : Ibu tahu gak tentang pengelolaan kesan?

P : Hmm? Gimana pengelolaan kesan? Saya gak tahu, apa itu?

Peneliti : Gini, bu. Disaat kita berkomunikasi sama seseorang, kita memposisikan diri sebagai orang yang ingin didengar, yang dipercaya gitu. Jadi, kita kelolahlah diri kita dari cara bicara kita, cara berpakaian, dari penampilan gitu.

P : Yah, semaksimal mungkin memang kita, keinginan kita yah emang seperti itulah. Yah apa adanya, seperti yang, yang bisa kita laksanakan. Kalau saya apa adanya, menggunakan yang biasa saja, yang memang bisa kita laksanakan. Karena menurut saya bukan itu yang bikin orang percaya sama kita, mesti pakai jam tangan untuk penampilan.

(28)

sudah terbiasa dengan penampilan saya sendiri. Saya, yah saya. Bukan orang lain, si Pulung.

Peneliti : Ibu, Pulung itu bahasa daerah ya, bu?

P : Itu, yah nama saya. Bahasa daerah, kalau zaman dahulu kan kita terbenam. (tersenyum) Itulah dia. Itu bahasa, itu mungkin nama yang terindah dirasa orang tua kita sehingga itulah nama yang dibuat untuk kita, kan gitu. Kita hargailah itu. Jangan mentang-mentang jelek, si Pulung namanya gak berharga kita rasa. Hmm… mamakku mahal rasanya itu. Dipikirkannya itu loh kalimat-kalimat yang lain untuk membikin nama saya si Pulung. Berguna itu namanya, mahal itu. (seisi ruangan tertawa) Itulah yang tercantik yang dipilih pada waktu itu. (tertawa)

Peneliti : Kalau misalnya dari cara bicara gitu, bu?

P : Oh, kalau itu dari cara bicara dengan pasien yah, lebih lembut. Saya usahakan, pasien mengerti, tidak kasar, kita bisa diterima pasien, dia menyenangi kita. Itu memang selalulah kita usahakan. Kalau boleh sama pasien, itu kita gak boleh marah. Kalau saya gak mau marah saya sama pasien. Itu menurut saya, yah. Gak tahu kalau menurut orang lain, kadang kan mau datang emosinya. Bisa dilihat sendiri, saya gak pernah mau marah, “Gini ya, bu. Ini, ini, ini.”

Kesal mungkin pernah, tapi saya gak mau sampai marah. Karena saya gak menganggap apa, karena dia membutuhkan kita. Kalau boleh diarahkan, dan kita bantu. Itu aja. Marah itu kan, bisa kita yang mengatur. Itukan emosi yang tidak teratur. Untuk apa kita marah? Karena dia belum mengerti, belum tahu. Menurut saya, tapi orang-orang yang lain gak tahulah, ya. Saya gak pernah bisa marah sama orang lain.

Saya suka omong-omongi pasien yang lagi nunggu gitu, kan. Biar kompak kita sama pasien, biar kenal dia sama kita. Jadi kalau mau tanya, “Bu, mana statusku?” Sejauh bisa kita ambil, kita ambil, kita senangkan dia. Kan tugas kita di sini merawat. Kan bisa juga kita cari pahala dengan membuat pasien itu senang, kita pun senang. Wajar kalau menurut saya, gak tahu entah yang lain. Kalau gak tahu yah, kita arahkan. Dia marah, kita jelaskan. Itu memang tugas kita. Kan dua puluh empat tahun di sini, apa yang kita kerjakan? Ininya yang kita makan, sebagai kerjaan kita, rutinitas kita, sejauh bisa kita laksanakan yah, kita laksanakan, dan sebaik mungkin.

Peneliti : Sejauh apa masalah kesehatan atau masalah pribadi memengaruhi pelayanan ibu dengan pasien?

P : Masalah pribadi kita di rumah, itu kadang ada juga. Kadang terbawa, terbawa tapi saya ke pasien enggak. Kalau ke kawan saya mungkin saya marah. Kalau saya terlambat, anak saya sakit, “Kak, teken ini!” katanya

sama saya, bisa saya marah sama dia. “Tunggu dulu. (mempraktikkan

(29)

pernah, sama pasien gak pernah saya marah. Saya lawan, maksudnya yah kalau bisa kita kerjakan yah, kita kerjakan. Pasien kita hargai. Tapi, kita juga punya privasi, kan. Kalau rasanya ini, ini, ini, kita kerjakan. Melawan sama atasan saya gak mau, gak pernah saya melawan. Gitu-gitu ajanya. Kalau telat saya dimarahi, ia diam, kuat suaranya, ia-ia, saya diam-diam aja.

Peneliti : Bagaimana ibu dengan bau-bauan dari pasien? Karena bidannya saya lihat juga gak pakai masker gitu, bu.

P : Itu namanya mereka sakit, wajar saja dia berbau. Kalau mereka sehatkan gak berbau. Diakan datang ke mari kan karena ada bermasalah. Ya udah, sejauh kita bisa kan kita bantu. (mengerutkan dahi)

Kalau saya enggak, gak pakai masker. Karena menjauhkan jarak kita dengan si pasien, kalau saya enggak. Tiap hari adanya masker, tapi saya gak pakai masker, satu kotak itu tahan itu satu bulan. Ada, hal tertentu yang kita pakai masker. Misalnya abu yang banyak, menimbulkan penyakit bagi kita. Ia… tapi kalau baunya, enggaklah. Pasien itu pun kan tersinggung.

Itu pun bisa juga melihat keadaan si pasien seberapa parah. Kita tahu itu, mana yang-, baunya aja kita bisa tahu mana Ca. serviks, mana tidak. Kayak orang sakit gigi, gigi kita berlobang kalau bau, kita tahunya itu oh

ini berlobang giginya. Ah… (tertawa) Jelaslah, emang gitunya. Di sini pun

gitu, baunya khas itu setiap penyakit.

Tapi, yah udah terbiasalah di sini begitu. Namanya pun udah dua puluh lima tahun, dua puluh empat tahun, yah wajar.

Peneliti : Sebelum bekerja di sini, ibu pernah bekerja di mana?

P : Pernah, di swasta. 25 tahun saya bekerja di swasta. Di praktik dokter, di poliklinik.

Peneliti : Bagaimana cara ibu menyesuaikan diri pertama sekali bekerja di sini? P : Hah? Biasa aja. Saya gini, saya sebelum ke mari kan udah kerja lima tahun

di swasta, udah biasalah. Namanya udah biasa. Ia, karena saya tetap di bagian kebidanan.

Peneliti : Mau gak ada pasien yang merasa takut ketika diperiksa?

(30)

Tetangga saya ada, disenggak suaminya aja dia pingsan. Kau jangan nanti kayak gitu. Ia, dimarah-marahi suaminya aja dia udah pingsan, biru sampai bibirnya. Dipanggillah saya, “Bu, bu, pingsan istri saya, bu. Tolonglah, bu. Tolonglah, bu.” Tiap hari. “Heh, bodoh! Tolol, bangun kau, minum kau jangan gara-gara gini aja pingsan kau.” “Ia, bu. Ia, bu.” Besok udah jalan

-jalan dia sama suaminya. Itulah… (Ibu bidan lain menanyakan udah

makan atau belum ibu Pulung)

Apa lagi, apa? Biar cepat kau tamat, biar jadi orang yang berguna. Itulah, sejauh kami bisan kami bantu, gini-gini, kami jawab.

Peneliti : Hambatan selama ini yang mempengaruhi ibu dalam pelayanan kepada pasien apa saja, bu?

P : Hambatan, gak adanya hambatan. Namanya juga kita ibu rumah tangganya yang punya rutinitas di rumah, di sini pun komplit semua kehidupan itu. Namanya kita manusia, punya keterbatasan sendiri. Kalau untuk rumah sakit ini, gak adanya hambatannya. Hambatan untuk saya pribadi, kadang anak saya masih kecil susah dikasih makan, terlambat jadinya wajar-wajar aja. (tertawa terbahak-bahak) Awak rasakannya kayak gitu, payah dia makan. Kalau gak dikasih makan dia, pingsan, step dia, demam.

Peneliti : Udah berapa anak ibu?

P : Anak saya tiga. Anak saya yang paling kecilnya, laki-laki rentan kali sakit. Makan payah, kalau gak dikasih makan dia senang. Tapi, pulang nanti awak udah demam, berobatlah. Makannya bukan satu jam, dua jam setengah. Masih tiga tahun. Yah, seperti yang saya bilang tadi, kita punya masalah pribadi di rumah gak bisa kita-, kek ginilah terlambat datang kita nanti, diam ajalah. (tertawa kecil) Jadi, masing-masing itu punya kekurangan. Dalam hidup ini gak semuanya kita sempurnah. Nanti yah kayak gitu, apa yang harus kita kerjakan, yah kita kerjakan. Tapi, disiplin itu kadang latar belakang kita di rumah kita bawa juga. Gak bisa kita apakan-, secara komplitnya. Gak mungkin dielakkan, itulah hidup. Jadi, itu adalah seni di dalam hidup. Senilah, saya anggap itu seni kalau gak saya bisa stress. Yang penting yang kita kerjakan didalam hidup kita itu yang terbaik. Untuk diri kita, untuk rumah tangga kita, pekerjaan kita, semampu kita. Itulah namanya hidup, jadi disitulah namanya seni. Gak membawa untuk stress, enggak. Kita mau selalu ingin baik, itu sajalah.

Halangan-halangan itukan sebenarnya mendorong kita untuk lebih dewasa dalam hidup. (tertawa)

Peneliti : Di sini ada pengevaluasian kinerja gitu gak bu per- periodenya?

P : Oh, itu adalah. Itu haruslah. Ibu apa ini kalau saya terlambat yah, merepetlah dia. Kepala ruangan itu kan, itu kerjanya. Kadang malah setiap hari, dalam seminggu mau kadang dipanggil kita tiga kali.

Referensi

Dokumen terkait

Saya, Hendry, mahasiswa semester VI yang sedang menjalani pendidikan kedokteran di Universitas Sumatera Utara, akan mengadakan penelitian dengan judul “Gambaran Tekanan Darah

Analisis Biaya Pengggunaan Antibiotika Pada Pasien Pneumonia di Instalasi Rawat Inap IRNA Anak RSUP DR.. Jurnal

Dalam: Departemen Gizi dan kesehatan Masyarakat Fakultas Keehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.. Gizi dan Kesehatan

Riana Miranda Sinaga, dan juga semua teman-teman PPDS Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu

Saat ini saya sedang melakukan penelitian tentang “Koping pada Pasien Kanker Kolorektal saat Menjalani Perawatan Post Kolostomi di RSUP H.. Adam

tentang koping pada yang digunakan pasien kanker kolorektal saat menjalani. perawatan kolostomi di Indonesia, khususnya di

Kedua saya akan menjelaskan kepada saudara tentang hak-hak sebagai responden/ objek peneliti sebelum dilaksanakan tindakan, jika saudara menyetujui selanjutnya saya akan memberikan

pasien stroke fase akut yang meninggal pada hari 0-9 terjadinya. serangan, 12 kematian disebabkan oleh