BAB II TINJAUAN Pustaka
2.3 Landasan Teori
2.3.2 Teori Keunggulan Komparatif
Teori keunggulan komparatif pertama kali dikemukakan oleh David Ricardo.Pendapat ekonomi ini merupakan kritikan terhadap teori keunggulan absolute oleh Adam Smith. David Ricardo mengkritik bagaimana seandainya sebuah negara tidak memiliki keunggulan mutlak sama sekali terhadap kedua batang yang diciptakan. Halini berarti negara tersebut tidak dapat melakukan perdagangan internasional dengan negara lain. Ricardo mengatakan bahwa sekalipun suatu negara mengalami kerugian absolute dalam produksi dari keduakomoditi berkenaan dengan negara lain, namunperdagangan yang saling
menguntungkan masih dapat berlangsung. Negara yangkurang efisien akan berspesialisasi dalam produksi ekspor dari komoditi dimanakerugian absolutnya adalah kecil. Melalui komoditi inilah negara mempunyaikeunggulan komparatif.
Dipihak lain, negara tersebut sebaiknya mengimpor komoditi di mana kerugian absolutnya adalah lebih besar.
David Ricardo mendasarkan hokum keunggulan komparatifnya pada sejumlah asumsi yang disederhanakan, yaitu (1) hanya terdapat dua negara dan dua komoditi, (2) perdagangan bersifat bebas, (3) terdapat mobilitas tenaga kerja yang sempurna di dalam negara namun tidak ada mobilitas antara dua negara, (4) biaya produksi konstan, (5) tidak terdapat biaya transportasi, (6) tidak ada perubahan teknologi, dan (7) menggunakan teori nilai tenaga kerja.
2.3.3 Teori Heckscher – Ohlin (H-O)
Teori H-O (Heckscher-Ohlin) menekankan pada perbedaan relatif faktor pemberian alam (factor endowments) dan harga faktor produksi antarnegara sebagai determinan perdagangan yang paling penting (dengan asumsi bahwa teknologi dan cita rasa sama). Teorema H-O (Heckscher-Ohlin) menganggap bahwa tiap negara akan mengekspor komoditi yang secara relatif mempunyai faktor produksi berlimpah dan murah, serta mengimpor komoditi yang faktor produksinya relatif jarang (langka) dan mahal.
David Ricardo mengemukakan bahwa produksi dalam model satu factor produksi yaitu tenaga kerja akan menghasilkan produk yang berbeda pada tiap Negara yang disebabkan oleh kondisi tehnologi yang tersedia,pengembangan comperative advantage,dimana tiap Negara memiliki kekhususan banyakmemiliki
input tenaga kerja atau sebaliknya banyak memiliki factor produksi capital.hal ini berarti bahwa suatu Negara menghasilkan suatu barang dengan biaya produksi lebih murah menggunakan input capital,berarti produksi padat modal.
2.3.4 Teori Ekspor-Impor
Ekspor adalah mengeluarkan barang-barang dari peredaran dalam masyarakat dan mengirimkan ke luar negeri sesuai ketentuan pemerintah dan mengharapkan pembayaran dalam valuta asing. Tujuan kegiatan ekspor adalah meningkatkan laba perusahaan melalui perluasan pasar serta memperoleh harga jual yang lebih baik (optimalisasi laba), membuka pasar baru di luar negeri sebagai perluasan pasar domestik (membuka pasar ekspor). Sedangkan impor adalah memasukkan barang-barang dari luar negeri sesuai dengan ketentuan pemerintah ke dalam peredaran dalam masyarakat yang dibayar dengan mempergunakan valuta asing. Tujuan kegiatan impor adalah memenuhi kebutuhan masyarakat akan barangbarang dengan cara mendatangkan barang yang belum tersedia di dalam negeri dari luar negeri (Amir, 2004).
2.3.5 Daya Saing
Daya saing adalah konsep perbandingan kemampuan dan kinerja perusahaan, subsektor atau negara untuk menjual dan memasok barang dan atau jasa yang diberikan dalam pasar. Daya saing sebuah negara dapat dicapai dari akumulasi daya saing strategis setiap perusahaan. Proses penciptaan nilai tambah (value added creation) berada pada lingkup perusahaan. Sementara pada ruang lingkup negara, daya saing suatu bangsa ditentukan oleh interaksi antara kinerja ekonomi makro, seberapa jauh kebijakan pemerintah kondusif bagi dunia usaha,
kinerja dunia usaha dan infrastruktur (Kuncoro, 2009). Selanjutnya untuk memiliki daya saing perlu strategi bersaing yaitu dengan cara bagaimana memahami perilaku biaya dan bagaimana menciptakan serta mempertahankan keunggulan biaya. Di samping itu, perlu mengidentifikasikan apa yang menciptakan nilai bagi pembeli melalui diferensiasi dan bagaimana melaksanakan strategi diferensiasi yang berhasil. Melalui kegiatan tersebut produsen diharapkan mempunyai kemampulabaan (profitability) dalam menjalankan usaha (Soetriono, 2006).
Berdasarkan uraian tersebut, maka daya saing dapat diartikan sebagai kemampuan atau kesanggupan komoditas pertanian untuk mempertahankan perolehan laba dan pangsa pasar sehingga produsen mempunyai kemampulabaan dalam memproduksi komoditas pertanian sehingga dapat mempertahankan kelanjutan usahanya. Upaya peningkatan kemampuan daya saing tersebut diharapkan dapat memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki secara optimal. Dalam upaya ini pemerintah berusaha meningkatkan produksi dan produktivitas serta pembatasan impor yang secara tidak langsung memberikan kesempatan kepada petani untuk dapat bersaing dengan komoditas impor (Soetriono, 2006).
Daya saing suatu komoditi dapat diukur dengan menggunakan pendekatan keunggulan komparatif dan kompetitif. Konsep keunggulan komparatif merupakan ukuran daya saing potensial dalam arti daya saing diperekonomian tidak mengalami distorsi sama sekali. Aspek yang terkait dengan keunggulan komparatif adalah kekayaan ekonomi dan terkait dengan pendekatan keunggulan kompetitif adalah kekayaan finansial dari sebuah aktivitas (Saptana, 2006).
2.3.6 Revealed Comparative Advantage (RCA)
Revealed Comparative Advantage (RCA) pertama kali diperkenalkan oleh Bela Balassa pada tahun 1965 dalam penelitian tentang pengaruh liberalisasi perdagangan luar negeri terhadap keunggulan komparatif hasil industri Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara yang tergabung dalam pasar bersama Eropa(MEE) serta pada tahun 1977 untuk negara yang sama ditambah Kanada dan Swedia (Basri dan Munandar, 2010). Pada mulanya Balassa menggunakan dua konsep pemikiran, pertama: didasarkan pada rasio impor dan ekspor, dan yang kedua: pada prestasi eksporrelatif.
Dengan alasan bahwa impor lebih peka terhadap tingkat perlindungan tarif dan pada perkembangan, selanjutnya Balassa meninggalkan ukuran yang pertama.
Balassa mengevaluasi prestasi ekspor masing-masing komoditi di negara-negara tertentu dengan membandingkan bagian relatif ekspor suatu negaradalam ekspor dunia. RCA merupakan indeks yang menjelaskan perbandingan antara pangsa pasar suatu produk dalam ekspor total suatu negaradengan pasar ekspor produk yang sama dalam total ekspor total dunia (Basri dan Munandar, 2010). Metode RCA merupakan metode analisis untuk menentukan keunggulan komparatif atau daya saing. Revealed Comparative Advantage (RCA) dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana jika ekspor suatu negara atau wilayah dari suatu jenis barang lebih tinggi daripada pangsa pasar barang yang sama di dalam jumlah ekspor dunia, berarti negara tersebut memiliki keunggulan komparatif atas produksi dan ekspor dari barang tersebut. Indeks ini paling sering digunakan dalam studi-studi empiris untuk mengukur tingkat daya saing dari suatu negara untuk suatu jenis
produk atau sekelompok produk di pasar ekspor. Semakin tinggi nilai RCA komoditi, maka semakin tangguh daya saing produk tersebut, sehingga disarankan untuk terus dikembangkan dengan melakukan spesialisasi pada komoditi tersebut (Tambunan, 2004).
Adapun metode perhitungan RCA adalah sebagai berikut (Abdullah, 2002):
RCA = Xij / Xit : Wj / Wt Keterangan :
Xij = Nilai ekspor komoditi j negara i tahun ke-t Xit = Nilai total ekspor negara i tahun ke-t
Wj = Nilai ekspor komoditi j di ASEAN tahun ke-t Wt = Nilai total ekspor ASEAN tahun ke-t
Nilai RCA suatu komoditi menunjukkan dua kemungkinan, yaitu: 1. Jika nilai RCA > 1, maka komoditi memiliki keunggulan komparatif di atas rata-rata dunia sehingga komoditi tersebut memiliki daya saing kuat. 2. Jika nilai RCA < 1, maka komoditi memiliki keunggulan komparatif di bawah rata-rata dunia sehingga komoditi tersebut memiliki daya saing lemah. Salah satu indikator yang dapat menunjukkan perubahan keunggulan komparatif adalah RCA index. Indeks ini menunjukkan perbandingan antarpangsa ekspor komoditas atau sekelompok komoditas suatu negara terhadap pangsa ekspor komoditas tersebut dari seluruh dunia. Dengan kata lain indeks RCA menunjukkan keunggulan komparatif atau daya saing ekspor dari suatu negara dalam suatu komoditas terhadap dunia.
2.3.7 Market Share Analysis
Market share (pangsa pasar) adalah persentase dari seluruh pasar untuk suatu kategori produk atau servis yang telah terpilih dan dikuasai oleh satu atau lebih produk atau servis tertentu yang dikeluarkan sebuah perusahaan dalam kategori yang sama. (Gunara: 2007)
Secara sederhana, market share merupakan besarnya bagian pasar yang bisa dikuasai oleh suatu perusahaan, dimana total penjualan perusahaan jika dibandingkan dengan total penjualan pada industri yang sejenis.
Tujuan pangsa pasar yaitu untuk mengukur indikator kunci dari daya saing pasar yaitu, seberapa baik perusahaan melakukan dibandingkan dengan pesaingnya.
Menurut Philip Kotler (2005 : 427) analisis pangsa pasar hanya dapat digunakan dengan kualifikasi sebagai berikut :
1. Asumsi bahwa kekuatan-kekuatan dari luas mempengaruhi perusahaan dengan cara yang sama, sering kali tidak besar.
2. Asumsi bahwa kinerja suatu perusahaan dinilai terhadap rata-rata prestasi semua perusahaan adalah tidak terlalu dapat diterima. Kinerja perusahaan dinilai terhadap kinerja pesaing terdekatnya. Sebuah perusahaan dengan peluang yang lebih besar dari pada rata-rata seharusnya mendapatkan pangsa pasarnya tetap, ini berarti manajemennya kurang baik dan bukan pada tingkat rata-rata.
3. Jika semua perusahaan baru memasuki industri, maka setiap pangsa pasar perusahaan-perusahaan yang telah ada dapat jatuh : suatu penurunan dalam
pangsa pasar suatu perusahaan mungkin tidak berarti bahwa prestasi perusahaan itu lebih buruk dari pada perusahaan-perusahaan lainnya.
Kehilangan pangsa perusahaan baru itu memukul pasar khusus perusahaan tadi.
4. Kadang-kadang penurunan pangsa pasar sengaja dibuat oleh perusahaan untuk meningkatkan keuntungannya, sebagai contoh : manajemen mungkin menghilangkan pelanggan atau produk yang tidak menguntungkan untuk meningkatkan keuntungan.
5. Pangsa pasar dapat berfluktuatif karena banyak alasan seperti contoh dipengaruhi oleh penjualan berskala besar, terjadi di akhir bulan atau pada permulaan bulan berikutnya. Tidak semua pergeseran dalam pangsa pasar memiliki dampak nyata dalam pemasaran.
Menghitung pangsa pasar akan membantu menentukan kekuatan suatu perusahaan. Saat diterapkan dengan benar, cara ini dapat menunjukkan prospek perusahaan di masa medatang.
Market share dapat di hitung dengan cara :
Pangsa Pasa P n alan 100 Total Penjualan
(E. Kesumademo, 2005 : 46)
Dimana total penjualan di dapat dari :
= Unit × Harga
Barang/unit yang dihitung disini adalah barang-barang yang memiliki kesamaan jenis, fungsi dan karakteristik.
2.4 Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan judul penelitian dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:
Tabel 2.3
Kinerja ekspor tembakau Indonesia memiliki keunggulan di atas rata-rata dunia. Di samping itu, bila dibandingkan dengan ASEAN 4, kinerja ekspor komoditi tembakau Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang dinamika proses spesialisasi ekspor mencatat proses konvergensi intensitas sedang dibandingkan dengan nilai rata-rata Uni Eropa, meskipun pada tahun 2011, dibandingkan dengan tahun 2000, terdapat sedikit penurunan dibandingkan untuk EU-27 dalam spesialisasi ekspor, dalam struktur distribusi keunggulan komparatif terdapat sedikit modifikasi. Salah satu penyebab utama dari turunnya sedikit derajat
Spesialisasi ekspor ini adalah penurunan spesialisasi di bidang manufaktur produk tekstil, penurunan yang tidak dapat diimbangi dengan peningkatan derajatspesialisasi di bidang
manufaktur peralatan listrik dan Produk Ekspor Provinsi Sumatera Utara
1. RCA 2. RCT A 3. ISP
metode RCA, hampir semua produk ekspor unggulan Provinsi Sumatera Utara memiliki daya saing, kecuali produk udang, kerang dan sejenisnya segar atau dingin, produk kayu lapis dan produk kayu olahan yang daya
saingnya dipasar
internasional masih rendah.
metode RCTA, tingkat daya saing produk ekspor Provinsi Sumatera Utara memiliki hasil yang berbeda dengan metode RCA. Produk ekspor unggulan Provinsi Sumatera Utara dengan metode RCTA terdapat pada produk tembakau, produk minyak, lemak nabati dan hewani olahan, produk almunium dan produk barang-barang dan perlengkapan pakaian, bukan tekstil. metode ISP yang memperoleh nilai positif, memperlihatkan semua produk ekspor unggulan Provinsi Sumatera Utara cenderung di ekspor, walaupun ada beberapa produk ekspor Provinsi Sumatera Utara yang daya saingnya lemah, seperti produk udang, kerang dan sejenisnya segar atau dingin, produk kayu lapis dan produk kayu olahan.
Ales
Reorientasi ekspor jangka panjang BRICS dari pengolahan bahan baku dasar dan dari produksi bernilai tambah rendah, menjadi barang dagangan yang lebih canggih. Utara memiliki keunggulan komparatif yang kuat, namun memiliki keunggulan kompetitif yang lemah yang merupakan indikator daya saing dan Provinsi Sumatera Utara cenderung menjadi daerah eksportir karet.
Wahyu (2018)
Analisis Penerapan
Strategi Pemasaran Dalam meningkatkan Pangsa
Hasil analisis perkembangan penjualan menunjukkan voloume penjualan motor Suzuki selalu mengalami kenaikan sebesar 2,57%. Hasil analisis Swot nampak bahwa posisi strategi pemasaran motor Suzuki pada PT.Sinar Galesong Mandiri Makassar berada pada kuadran 1. Sedangkan hasil analisis makret share bahwa setiap tahunnya
mengalami peningkatan persetase.
Produksi Kakao
Berdasarkan kajian literatul di atas, maka kerangka pemikiran yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut:
Sumber : Data Olahan Penulis 2021 Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Subsektor perkebunan merupakan subsektor penting dalam sektor pertanian yang mempunyai kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Salah satu komoditi unggulan Indonesia dalam sektor perkebunan adalah kakao.
Kakao merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan kakao maupun pelestarian
lingkungan dan sumberdaya hayati. Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang ada, namun volume dan nilai ekspor cenderung naik turun yang didukung dengan data produksi, volume dan nilai ekspor serta nilai impor kakao di Indonesia. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis daya saing kakao di daerah penelitian yang dilakukan dengan menganalisis keunggulan komparatif kakao dengan metode RCA (Revealed Comparative Advantaged), menganalisis pangsa pasar kakao dengan metode Market Share Analysis sehingga dapat diambil kesimpulan dalam penelitian ini.
33 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, dimana di dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan ilmiah terhadap keputusan manajerial dan ekonomi, dimana mengambil suatu keputusan yang mengidentifikasi bagaimana cara suatu organisasi mencapai tujuannya secara lebih efesien. Pendekatan ini berangkat dari data yang kemudian data ini diproses dan dimanipulasi menjadi informasi yang berharga bagi pengambilan keputusan (Kuncoro, 2007:1). Objek penelitian ini menganalisis daya saing ekspor kakao Indonesia di ASEAN 2012-2018.
3.2 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini menurut sumbernya adalah data runtut waktu (time series) yaitu data yang secara kronologis disusun menurut waktu pada suatu variabel tertentu (Kuncoro, 2007:24). Data dalam penelitian ini berbentuk data tahunan selama 7 tahun (2012 - 2018). Data dalam penelitian ini merupakan data sekunder yaitu data yang dikumpulkan oleh lembaga pengumpul data dan dipublikasikan kepada masyarakat pengguna data. Data penelitian ini diperoleh dari berbagai instansi yang berhubungan, seperti Badan Pusat Statistik (BPS), United Nations Comtrade, danThe Observatory of Economic Complexity (OEC) dan literatur yang mendukung penelitan ini. Data diolah menggunakan progam Microsoft Office Excel.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi, menurut Suharsimi (2006:135) metode dokumentasi merupakan suatu cara untuk memperoleh data informasi mengenai berbagai hal yang ada kaitannya dengan penelitian dengan jalan melihat kembali laporan-laporan tertulis, baik berupa angka ataupun keterangan. Selain data-data laporan tertulis, untuk kepentingan penelitian ini juga digalih berbagai data, informasi dan referensi dari berbagai sumber pustaka, media massa dan internet.
3.4 Pengolahan Data
Dalam pengolahan data, penulis melakukan pengolahan data dengan metode statistika menggunakan program computer yaitu Microsoft Office Excel.
3.5 Model Analisa Data
Untuk menganalisis identifikasi masalah 1 dan masalah 2, yaitu menganalisis keunggulan komparatif komoditi kakao hasil Indonesia digunakan metode analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) dan menganalisis pangsa pasar komoditi kakao hasil Indonesia digunakan metode analisis Market Share.
3.5.1 Metode Revealed Comparative Advantage (RCA)
Revealed Comparative Advantage (RCA) merupakan metode yang digunakan untuk mengukur kinerja ekspor komoditi tertentu dari suatu Negara dengan mengevaluasi peranan ekspor komoditi tersebut dalam ekspor total suatu Negara dibandingkan dengan pangsa komoditi tersebut dalam perdagangan dunia.
Namun, pada penelitian ini, kinerja ekspor kakao Indonesia akan diukur dengan
mengevaluasi peranan ekspor kakao dalam ekspor total Indonesia dengan pangsa kakao dalam perdagangan dunia. Nilai RCA kakao produksi Indonesia akan dihitung setiap tahun selama periode 2012-2018. Secara matematis, Revealed Comparative Advantage (RCA) dirumuskan sebagai berikut (Abdullah, 2002):
RCA = Xij / Xit : Wj / Wt Keterangan :
RCA = Keunggulan kompratif kakao Indonesia tahun ke-t Xij = Nilai ekspor kakao Indonesia tahun ke-t
Xit = Nilai ekspor total Indonesia tahun ke-t Wj = Nilai ekspor kakao ASEAN tahun ke-t Wt = Nilai ekspor total ASEAN tahun ke-t t = 2012,…,2018
Nilai RCA suatu komoditi menunjukkan dua kemungkinan, yaitu: 1. Jika nilai RCA > 1, maka komoditi memiliki keunggulan komparatif di atas rata-rata dunia sehingga komoditi tersebut memiliki daya saing kuat. 2. Jika nilai RCA < 1, maka komoditi memiliki keunggulan komparatif di bawah rata-rata dunia sehingga komoditi tersebut memiliki daya saing lemah.
3.5.2 Market Share Analysis
. Market share (pangsa pasar) adalah persentase dari seluruh pasar untuk suatu kategori produk atau servis yang telah terpilih dan dikuasai oleh satu atau lebih produk atau servis tertentu yang dikeluarkan sebuah perusahaan dalam kategori yang sama. (Gunara: 2007)
Metode ini dapat mengukur dinamis tidaknya suatu produk di pasar.
Namun, pada penelitian ini akan dianalisis pangsa pasarkomoditi kakao produksi Indonesia periode 2012- 2018 untuk tujuan pasar ekspor.
Menghitung pangsa pasar akan membantu menentukan kekuatan suatu
negara. Saat diterapkan dengan benar, cara ini dapat menunjukkan prospek negara di masa medatang.
Market share dapat di hitung dengan cara :
Market Share Kakao Indonesia = Penjualan Kakao Indonesia × 100 % Total Penjualan Kakao ASEAN
Dimana total penjualan di dapat dari :
= Unit × Harga
Barang/unit yang dihitung disini adalah barang-barang yang memiliki kesamaan jenis, fungsi dan karakteristik.
3.6 Definisi Operasional
1. Kakao adalah kakao yang diperdagangkan dengan tujuan ekspor ke pasar internasional.
2. Volume ekspor adalah besarnya jumlah kakao Indonesia yang di ekspor (ton).
3. Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau yang seharusnya diminta oleh eksportir dalam perdagangan tujuan pasar ekspor kakao Indonesia (US$).
4. Daya saing merupakan kemampuan dari komoditi kakao di Indonesia untuk menjadi lebih unggul di pasar ASEAN.
5. Market share (pangsa pasar) adalah persentase dari seluruh pasar untuk suatu kategori produk atau servis yang telah terpilih dan dikuasai oleh satu atau lebih produk atau servis tertentu yang dikeluarkan sebuah negara dalam kategori yang sama.
6. Keunggulan komparatif adalah pengukur daya saing yang dilihat dari pangsa
pasar kakao produksi Indonesia dibandingkan dengan pangsa pasar kakao yang ada di ASEAN.
7. Ekspor adalah proses penjualan komoditi kakao dari Indonesia ke suatu negara.
8. Produktivitas adalah perbandingan antara produksi yang diperoleh (output) dengan faktor-faktor produksi (input) yang dikorbankan (Kg/Ha).
9. Revealed Comparative Adventage (RCA) merupakan metode analisis untuk menentukan keunggulan komparatif atau daya saing komoditi kakao Indonesia di Pasar ASEAN.
10. Market Share merupakan metode analisis untuk menentukan pangsa pasar komoditi Kakao Indonesia di Pasar ASEAN dan Dunia.
38 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Perkembangan Produksi Kakao Indonesia
Pada tahun 2015 produksi biji kakao sebesar 593,3 ribu ton, naik menjadi 767,28 ribu ton pada tahun 2018 atau terjadi kenaikan 29,32 persen. Tahun 2019 diperkirakan produksi biji kakao akan naik menjadi 774,20 ribu ton atau sebesar 0,90 persen. (www.bps.go.id, 2019)
Produksi biji kakao terbesar tahun 2018 berasal dari Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 125,47 ribu ton atau sekitar 17,19 persen dari total produksi Indonesia. Pada tahun 2019 Provinsi Sulawesi Tenggara diperkirakan menjadi produsen biji kakao terbesar Indonesia dengan produksi 137,74 ribu ton atau 17,79 persen dari total produksi Indonesia. (www.bps.go.id, 2019)
` Berdasarkan status pengusahaannya, pada tahun 2018 sebesar 97,97 persen dari produksi biji kakao atau 751,69 ribu ton biji kakao berasal dari perkebunan rakyat, 1,03 persen atau 7,88 ribu ton dari perkebunan besar swasta dan 1,01 persen atau 7,72 ribu ton berasal dari perkebunan besar negara. Pada tahun 2019 diperkirakan sebesar 768,77 ribu ton biji kakao atau 97,29 persen berasal dari perkebunan rakyat. 3,81 ribu ton atau 0,49 persen berasal darii perkebunan besar swasta dan 1,62 ribu ton atau 0,21 persen berasal dari perkebunan besar negara.
(www.bps.go.id, 2019)
4.2 Perkembangan Luas Lahan Kakao Indonesia
Luas areal perkebunan kakao di Indonesia sebelum tahun 2019 selama empat tahun terakhir cenderung menunjukkan penurunan, turun sekitar 1,15
sampai dengan 3,93 persen pertahun. Pada tahun 2015 lahan perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 1,71 juta hektar, menurun menjadi 1,61 juta hektar pada tahun 2018 atau terjadi penurunan 5,74 persen. Pada tahun 2019 diperkirakan luas areal perkebunan kakao turun sebesar 1,14 persen dari tahun 2018 menjadi 1,59 juta hektar. (www.bps.go.id, 2019)
Selama periode tahun 2015 sampai dengan 2019 areal perkebunan kakao tersebar di 33 provinsi yaitu seluruh provinsi kecuali provinsi DKI Jakarta. Dari 33 provinsi tersebut, Provinsi Sulawesi Tengah merupakan provinsi dengan areal perkebunan kakao yang terluas di Indonesia yaitu 283,3 ribu hektar pada tahun 2018 atau 18,77 persen dari total luas areal perkebunan kakao di Indonesia. Pada tahun 2019 luas areal perkebunan kakao di Provinsi Sulawesi Tengah diperkirakan sebesar 282,73 ribu hektar. (www.bps.go.id, 2019)
Menurut status pengusahaannya, sebagian besar perkebunan kakao pada tahun 2018 diusahakan oleh perkebunan rakyat yaitu sebesar 1,58 juta hektar atau 98,33 persen. Sementara perkebunan swasta mengusahakan sebesar 14,49 ribu hektar atau 0,89 persen dan perkebunan besar negara hanya sebesar 12,38 ribu hektar atau 0,76 persen. Pada tahun 2019 perkebunan kakao yang diusahakan oleh perkebunan rakyat diperkirakan sebesar 1,57 juta hektar atau 98,85 persen, sementara perkebunan besar swasta mengusahakan 10,74 ribu hektar atau 0,67 persen dan perkebunan besar negara hanya mengusahakan 7,49 ribu hektar atau 0,47 persen. (www.bps.go.id, 2019)
4.3 Produk Turunan Kakao
Ekspor kakao Indonesia secara umum dirinci berdasarkan kelompok kode Harmony System (HS) sebagai berikut :
1. Kakao Biji / Cocoa Beans whole or broken, raw or roasted (Kode HS
1. Kakao Biji / Cocoa Beans whole or broken, raw or roasted (Kode HS