ANALISIS DAYA SAING KAKAO INDONESIA DI PASAR ASEAN TAHUN 2012-2018
OLEH
AIDIL FUADI 170501021
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
i TAHUN 2012-2018
Tujuan dari penelitian ini ialah untuk melihat bagaimana daya saing kakao produksi Indonesia di Pasar ASEAN serta pangsa pasar kakao produksi Indonesia di Pasar ASEAN pada tahun 2012-2018. Dimana jenis penelitian ini ialah deskriptif kuantitatif berlandaskan kepada filsafat positivis. Metode analisa data menggunakan Revealed Comparative Adventage (RCA) serta metode market share.
Hasil penelitian dengan menggunakan metode Revealed Comparative Adventage (RCA) menunjukkan bahwa kakao produksi Indonesia pada tahun 2012-2018 yaitu memiliki daya saing di atas rata-rata di Pasar ASEAN.
Sedangkan hasil penelitian dengan menggunakan metode market share, pangsa pasar kakao produksi Indonesia di Pasar ASEAN cukup baik, walaupun hanya berada di urutan kedua setelah negara Malaysia. Namun kakao hasil produksi Indonesia juga sempat berada di peringkat pertama pada tahun 2015 setelah mengungguli kakao hasil produksi negara Malaysia.
Kata Kunci : Revealed Comparative Adventage, Market Share, Daya Saing, Kakao Hasil Produksi Indonesia dan Ekspor.
ii 2012-2018
The purpose of this study is to saw how the competitiveness of Indonesian cocoa production in the ASEAN Market and the market share of Indonesian cocoa production in the ASEAN Market in 2012-2018. Where this type of research is quantitative descriptive based on positivist philosophy. Data analysis method using Revealed Comparative Adventage (RCA) and market share method.
The results of the study using the Revealed Comparative Adventage (RCA) method show that Indonesian cocoa production in 2012-2018 has above average competitiveness in the ASEAN Market.
While the results of the research using the market share method, the market share of Indonesian cocoa produced in the ASEAN Market is quite good, although it is only in second place after Malaysia. However, cocoa produced by Indonesia was also ranked first in 2015 after outperforming cocoa produced by Malaysia.
Keywords : Revealed Comparative Adventage, Market Share, Competitiveness, Indonesian Cocoa Production and Exports.
iii
memberikan kesempatan, kesehatan, Rahmat beserta Hidayah-Nya bagi penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Daya Saing Kakao Indonesia di Pasar ASEAN Tahun 2012-2018”. Dimana penulis menyadari bahwasanya skripsi ini dapat diselesaikan atas bimbingan dan bantuan berbagai pihak terutama kedua orang tua saya yaitu Alm. Bapak Riswandi dan Ibu Aida yang terus memberikan bimbingan, motivasi dan dukungan selama proses perkuliahan dan pengerjaan skripsi ini.
Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan terima kasih sebesar- besarnya dan memberikan penghargaan yang tulus kepada :
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Fadli, S.E, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dr. Raina Linda Sari, SE M.Si selaku Ketua Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan juga selaku dosen pembanding II saya yang memberikan banyak saran dan arahan dalam penyempurnaan skripsi ini.
4. Ibu Inggrita Gusti Sari Nasution S.E, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara .
5. Bapak Paidi, S.E, M.Si selaku Dosen Pembimbing saya yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan fikiran untuk membimbing penulisan skripsi saya dari awal sampai akhir.
6. Bapak Prof. Dr. Hasan Basri Tarmizi, SE, SU. Selaku dosen Pembanding I saya yang memberikan banyak saran dan arahan dalam penyempurnaan skripsi ini.,
7. Seluruh Dosen dan Staff Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah membagi pengalaman dan ilmu pengetahuan bagi saya.
8. Seluruh Pegawai dan Staf Administrasi Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah membantu saya dalam penyelesaian urusan administrasi.
9. Kedua orang tua saya, Alm. Riswandi dan Aida yang telah memberikan doa, motivasi dan dukungan moral dalam mengerjakan skripsi ini.
10. Kedua kakak saya, Risda Anggraini dan Riswinda Anggraini yang terus memberikan semangat kepada saya dalam mengerjakan skripsi ini.
11. Seluruh teman-teman dan pihak yang telah membantu hingga selesainya penulisan skripsi ini.
iv
semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini dapat memberi manfaat dan menambah pengetahuan bagi berbagai pihak.
Medan, Penulis
Aidil Fuadi 170501021
v
Halaman
ABSTRAK i
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI... V DAFTAR TABEL ... Vii DAFTAR GAMBAR... Viii DAFTAR Lampiran... Ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 12
1.3 Tujuan Penelitian ... 12
1.4 Manfaat Penelitian ... 12
BAB II TINJAUAN Pustaka ... 14
2.1 Kakao ... 14
2.2 Perdagangan Internasional ... 16
2.3 Landasan Teori ... 18
2.3.1 Teori Keunggulan Absolut ... 18
2.3.2 Teori Keunggulan Komparatif... 20
2.3.3 Teori Hecksher-Ohlin (H-O) ... 21
2.3.4 Teori Ekspor-Impor ... 22
2.3.5 Daya Saing... 22
2.3.6 Revealed Comparative Advantage (RCA)... 24
2.3.7 Market Share... 26
2.4 Penelitian Terdahulu ... 28
2.5 Kerangka Pemikiran ... 31
BAB III METODE PENELITIAN ... 33
3.1 Jenis Penelitian ... 33
3.2 Jenis dan Sumber Data... 33
3.3 Metode Pengumpulan Data... 34
3.4 Pengolahan Data ... 34
3.5 Metode Analisa data ... 34
3.6 Definisi Operasional ... 36
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 38
4.1 Perkembangan Produksi Biji Kakao... 4.2 Perkembangan Luas Lahan Kakao Indonesia... 4.3 Produk Turunan Kakao... 4.4 Daya Saing Kakao Hasil Indonesia di Pasar ASEAN... 38 38 40 41 4.5 Analisis Revealed Comparatif Advantage (RCA) ... 43
vi
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………...………. 54
5.1 Kesimpulan ………..……… 54
5.2 Saran ………..……….. 54
DAFTAR PUSTAKA ……….. 56 LAMPIRAN
vii
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
Tabel 1.1 Provinsi Produksi Kakao Tertinggi di Indonesia 2019 ... 8
Tabel 2.1 Perbandingan Keunggulan Absolut di Kedua Negara ... 20
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu ... 28
Tabel 4.1 Nilai Ekspor Kakao dan Total dari Indonesia dan ASEAN ... 42
Tabel 4.2 Hasil Estimasi Nilai RCA Kakao Indonesia Tahun 2012-2018 ... 44
Tabel 4.3 Nilai ekspor kakao di beberapa negara kawasan ASEAN Dalam (000U$) ... 46
viii
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
Gambar 1.1 Jumlah Luas dan Produksi Kakao Indonesia 2015-2019 ... 6
Gambar 1.2 Luas Areal Perkebunan Kakao Indonesia menurut Status Pengusahaan Tahun 2019... ... 7
Gambar 1.3 Perbandingan Volume Ekspor Kakao menurut Negara 7Tujuan, 2019 ... ... 9
Gambar 1.4 Perkembangan Ekspor Biji Kakao 2019 ... ... 10
Gambar 1.5 Volume dan Nilai Ekspor Biji Kakao Indonesia 2012-2018. ... 11
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ... 31
Gambar 4.1 Hasil Estimasi Market Share Kakao Indonesia Tahun 2012 ... 47
Gambar 4.2 Hasil Estimasi Market Share Kakao Indonesia Tahun 2013 ... 48
Gambar 4.3 Hasil Estimasi Market Share Kakao Indonesia Tahun 2014 ... 49
Gambar 4.4 Hasil Estimasi Market Share Kakao Indonesia Tahun 2015 ... 50
Gambar 4.5 Hasil Estimasi Market Share Kakao Indonesia Tahun 2016 ... 51
Gambar 4.6 Hasil Estimasi Market Share Kakao Indonesia Tahun 2017 ... 52
Gambar 4.7 Hasil Estimasi Market Share Kakao Indonesia Tahun 2018 ... 53
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul
Lampiran 1 Berat dan Nilai Ekspor Kakao menurut Kode Harmony Sistem Tahun 2018-2019
Lampiran 2 Berat dan Nilai Ekspor Kakao menurut Negara Tujuan Tahun 2018 dan 2019
Lampiran 3 Luas Areal dan Produksi Biji Kakao Perkebunan Indonesia menurut Provinsi dan Status Pengusahaan 2019
Lampiran 4 Luas Areal menurut Status Tanaman, Produksi Biji Kakao dan Produktivitas Perkebunan Indonesia menurut Provinsi Tahun 2019 Lampiran 5 Produksi Kakao Menurut Status Pengusahaan 2011-2019
Lampiran 6 Negara Tujuan Utama Ekspor Kakao Indonesia 2019
Lampiran 7 Luas Areal Perkebunan Kakao Menurut Status Pengusahaan di Indonesia 2015 – 2019
Lampiran 8 Total Nilai Ekspor Indonesia Tahun 2012-2018
Lampiran 9 Nilai Ekspor Kakao ASEAN dan Total Nilai Ekspor ASEAN Lampiran 10 Data Nilai Ekspor Kakao Dunia 2012-2018.
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masyarakat Ekonomi ASEAN dilakukan melalui empat kerangka strategis, yaitu pencapaian pasar tunggal dan kesatuan basis produksi, kawasan ekonomi yang berdaya saing, pertumbuhan ekonomi yang merata dan terintegrasi dengan perekonomian global. Langkah penting yang harus dilakukan adalah melakukan liberalisasi produksi dan distribusinya dapat berlangsung lebih efisien sekaligus meningkatkan daya saing perekonomian ASEAN. Salah satu keputusan strategis yang diambil oleh para pemimpin ASEAN untuk melakukan integrasi ekonomi adalah mempercepat proses integrasi terhadap 12 sektor prioritas yaitu terdiri dari produk pertanian, angkutan udara, otomotif, e-ASEAN, elektronik, perikanan, kesehatan, produk hasil karet, tekstil, dan apparel, pariwisata, produk kayu, dan jasa logistik. ( Winantyo, R., dkk 2008 )
Sebelum tahun 1980, analisis mengenai perdagangan internasional didominasi oleh teori tradisional mengenai keunggulan komparatif, seperti model Ricardian yang menyatakan bahwa perdagangan internasional terjadi karena adanya perbedaan teknologi, model Heckscher-Ohlin yang menyatakan bahwa perdagangan internasional terjadi karenqa adanya faktor sumber daya tertentu yang melimpah di suatu negara, dan teori Krugman mengenai konsep spesialisasi produksi. Pada periode ini perdagangan dunia didominasi oleh perdagangan antarproduk dari industri yang berbeda (inter industry trade). ( Winantyo, R., dkk 2008 )
Setiap negara ASEAN memiliki keunggulan komparatif paling tidak pada satu sektor prioritas (Oktaviani, Rifin, dan Reinhardt, 2007). Dengan menggunakan metode Revealed Comparative Advantage (RCA), Thailand merupakan negara yang memiliki paling banyak keunggulan komparatif yaitu pada 7 sektor, disusul Indonesia (5 sektor), Malaysia dan Filipina (4 sektor), Vietnam dan Laos (3 sektor), Singapura (2 sektor), dan Brunei dan Kamboja (1 sektor). ( Winantyo, R., dkk 2008 )
Indonesia sebagai salah satu negara yang juga memiliki tingkat integrasi tinggi di sektor elektronik dan keunggulan komparatif pada sektor berbasis sumber daya alam berpeluang besar mengembangkan industri di sektor-sektor tersebut. Untuk itu berbagai upaya untuk lebih meningkatkan daya saing produk agar tidak tertinggal dari negara-negara ASEAN lainnya perlu terus dilakukan. ( Winantyo, R., dkk 2008 )
ASEAN menjadikan peluang maupun basis produksi yang menjanjikan.
Indonesia sebagai salah satu negara anggota dapat memanfaatkan daya tarik kawasan sehingga berkontribusi positif bagi perekonomian domestik. Indonesia perlu melihat peluang-peluang yang ada sehingga bisa berperan sebagai pemain, bukan hanya menjadi tempat pemasaran negara ASEAN lainnya. ( Winantyo, R., dkk 2008 )
Dari sisi pasar produksi, besarnya penduduk kawasan dan prospek perekonomian yang menjanjikan membuat kawasan ASEAN sebagai tujuan ekspor Indonesia. Indonesia secara kumulatif 1973-1983 baru mengekspor 26 persen dari total ekspor intra-ASEAN. Artinya, Indonesia mempunyai produk
yang bisa ditawarkan di ASEAN dan mempunyai potensi untuk meningkatkan pangsanya di ASEAN dan mendiversifikasi negara tujuann ekspornya ( Winantyo, R., dkk 2008 )
Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan yang berlimpah ini terbukti dengan kondisi tanah Indonesia yang sangat subur. Dimana letak astronomis 6˚LU-11˚LU dan 95˚BT-141˚BT dan letak geografis yang diapit oleh 2 Benua yaitu Benua Asia dan Benua Australia, 2 Samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dan terletak di daerah tropis dan dilewati 2 gunung api sehingga menjadikan Indonesia negara yang sangat subur dan mempunyai kekayaan alam yang berlimpah. Bila dibandingkan dengan negara kondisi di Afrika dimana masyarakatnya mengalami keadaan tanah yang kekeringan dan kelaparan.
Suburnya tanah di Indonesia, mengakibatkan sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang penting bagi perkembangan perekonomian negara Indonesia. Besarnya potensi di sektor pertanian, mengakibatkan Indonesia sebagai negara agraris.
World Economic Forum (WEF) tentang Global Competitiveness Report 2019 dalam laporannya merilis peringkat daya saing 141 negara dunia. Hasilnya Indonesia berada pada peringkat 50 tahun 2019 atau tepatnya turun 5 peringkat dari 2018, yang dimana menyatakan bahwa daya saing Indonesia turun.
Dalam persaingan internasional khususnya didalam daya saing produk ekspor, ada tiga situasi yang harus diamatiyaitu sebagai berikut : 1. Harga, dalam menawarkan sesuatu produk harga haruslah sama atau lebih rendah dari harga
yang ditawarkan pesaing, atau biaya produksinya lebih rendah dari harga yang ditawarkan pesaing atau biaya produksinya lebih rendah dari biaya produksi di negara tujuan. 2. Mutu Produk, mutu yang ditawarkan harus memenuhi atau sesuai dengan selera konsumen. 3. Waktu penyerahan, harus sesuai dengan situasi dan kondisi pasaran di negara tujuan. Keterlambatan pengapalan harus dan penyerahan barang dapat berakibat fatal karena memungkinkan produk tersebut tidak lagi dipasarkan yang akhirnya dapat mengurangi selera dan permintaan akan produk tersebut.(Amir, 2003:281)
Perdagangan yang terjadi antara negara A dan negara B dilandaskan pada keunggulan absolute (absolute advantage) jika negara lebih efesien dari pada negara yang lain memproduksi komoditi lainnya. Keunggulan bersaing secara komparatif maupun keunggulan bersaing secara kompetitif adalah keunggulan suatu komoditas yang dihasilkan dalam berproduksi yang efesien secara ekonomi maupun efisien secara financial, sehingga memiliki keunggulan bersaing di pasar domestik maupun internasional diukur berdasarkan kondisi faktor sumberdaya, industri terkait dan pendukung, faktor permintaan, dan pangsa dan struktur pasar.(Adam Smith, dalam Salvatore : 1997)
Teori keunggulan bersaing komparatif yang lebih modern yaitu menekankan pada perbedaan bawaan faktor produksi antar negara sebagai determinasi perdagangan yang paling penting. (Heckscher Ohlin :1993, dalam Lindert dan Kindelberger :1993). Sektor pertanian memiliki peranan yang sangat penting bagi kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini bisa diamati dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang sangat besar yaitu 12,72 persen
pada tahun 2019 atau merupakan peringkat ketiga setelah sektor Industri Pegolahan dan Perdagangan Besar dan Eceran 19,70 persen, dan Reparasi Mobil dan Motor 13,01 persen. (www.bps.go.id, 2019)
Sektor pertanian memiliki peranan yang penting dalam pembangunan nasional disaat situasi krisis melanda sekitar tahun 2000-an. Sektor pertanian menyediakan kebutuhan bahan pangan pokok, pendapatan devisa melalui ekspor, menampung tenaga kerja khususnya di daerah pedesaan yang notabene populasi terbesar saat itu. (Mardianto : 2001)
Salah satu sub sektor di bidang pertanian yang memiliki potensi yang besar yaitu sub sub sektor perkebunan yang memiliki peranan dalam PDB yaitu sekitar 3,27 persen pada tahun 2019. Sub sektor ini yaitu penyediaan bahan baku untuk sektor industri, penyerap tenaga kerja, dan penghasil devisa. Salah satu komoditas yang memiliki peranan yang sangat penting adalah Kakao. Kakao adalah salah satu hasil perkebunan Indonesia yang memiliki potensi yang sangat baik dan merupakan salah satu komoditi yang di ekspor. Kakao juga salah satu komoditas ekspor Indonesia yang sangat penting untuk penghasil devisa negara selain minyak dan gas. Indonesia menduduki peringkat ketiga negara produsen dan eksportir kakao terbesar di dunia setelah Ghana dan Pantai Ganding pada tahun 2019.(www.bps.go.id, 2019).
Adapun jumlah luas dan lahan kakao produksi Indonesia tahun 2015-2019 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai berikut :
Sumber : Badan Pusat Statistik 2015-2019 Gambar 1.1
Jumlah Luas dan Produksi Kakao Indonesia 2015-2019
Dari tabel dan gambar diatas dapat dilihat bahwa Adapun luas areal perkebunan kakao di Indonesia sebelum tahun 2019 selama empat tahun terakhir cenderung menunjukkan penurunan, turun sekitar 1,15 sampai dengan 3,93 persen pertahun. Pada tahun 2015 lahan perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 1,71 juta hektar, menurun menjadi 1,61 juta hektar pada tahun 2018 atau terjadi penurunan 5,74 persen. Pada tahun 2019 diperkirakan luas areal perkebunan kakao turun sebesar 1,41 persen dari tahun 2018 menjadi 1,59 juta hektar.
Pada tahun 2015 produksi biji kakao sebesar 593,3 ribu ton, naik menjadi 767,28 ribu ton pada tahun 2018 atau terjadi kenaikan 29,32 persen. Tahun 2019 diperkirakan produksi biji kakao akan naik menjadi 774,20ribu ton atau sebesar 0,90 persen. Produksi biji kakao terbesar tahun 2018 berasal dari Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 125,47 ribu ton atau sekitar 17,19 persen dari total
2015 2016 2017 2018 2019
Luas (Ha) 1709284 1720773 1653116 1611014 1592562
Produksi (Ribu Ton) 593331 658399 585246 767280 774195
produksi Indonesia. Pada tahun 2019 Provinsi Sulawesi Tenggara diperkirakan menjadi produsen biji kakao terbesar Indonesia dengan produksi sekitar 137,74 ribu ton atau 17,79 persen dari total produksi Indonesia.
Selama periode tahun 2015 sampai dengan 2019 areal perkebunan kakao tersebar di 33 Provinsi yaitu seluruh provinsi kecuali DKI Jakarta. Dari ke 33 provinsi tersebut, Provinsi Sulawesi Tengah merupakan provinsi dengan areal perkebunan kakao terluas di Indonesia yaitu 28,3 ribu hektar pada tahun 2018 atau 18,77 persendari total areal perkebunan kakao di Indonesia. Pada tahun 2019 luas areal perkebunan kakao di Provinsi Sulawesi Tengah diperkirakan sebesar 282,73 ribu hektar.
Adapun luas areal perkebunan kakao Indonesia menurut status pengusahaannya tahun 2019 yaitu sebagai berikut :
Gambar 1.2
Sumber : Badan Pusat Statistik 2019
Luas Areal Perkebunan Kakao Indonesia Menurut Status Pengusahaan Tahun 2019
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa, Menurut status pengusahaannya, sebagian besar perkebunan kakao pada tahun 2018 diusahakan oleh perkebunan rakyat yaitu sebesar 1,58 juta hektar atau 98,33 persen, sementara perkebunan swasta mengusahakan 14,49 ribu hektar atau 98,33 0,89 persen dan perkebunan besar negara hanya sebesar 12,38 ribu hektar atau 0,76 persen. Pada tahun 2019 perkebunan kakao yang diusahakan oleh perkebunan rakyat diperkiraan sebesar 1,57 juta hektar atau 98,85 persen, sementara perkebunan besar swasta mengusahakan 10,74 ribu hektar atau 0,67 persen dan perkebunan besar negara hanya mengusahakan 7,49 ribu hektar atau 0,47 persen.
Adapun 5 provinsi produksi kakao tertinggi di Indonesia tahun 2019 menurut Badan Pusat Statistik yaitu sebagai berikut :
Tabel 1.1
5 Provinsi Produksi Kakao Tertinggi di Indonesia 2019
Provinsi Total Produksi
Sulawesi Tenggara 137.737 (Ton)
Sulawesi Tengah 127.669 (Ton)
Sulawesi Selatan 118.775 (Ton)
Sulawesi Barat 71.543 (Ton)
Sumatera Barat 58.582 (Ton)
Sumber : Badan Pusat Statistik 2019
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa 5 Provinsi produksi kakao tertinggi di Indonesia. Dimana peringkat pertama yaitu Provinsi Sulawesi Tenggara dengan
total produksi yaitu sebesar 137.737 (Ton). Selanjutnya, peringkat kedua yaitu ProvinsiSulawesi Tengah dengan total produksi yaitu sebesar 127.669 (Ton).
Selanjutnya, peringkat ketiga yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dengan total produksi 118.775 (Ton), selanjutnya, peringkat keempat yaitu Provinsi Sulawesi Barat dengan total produksi yaitu sebesar 71.543 (Ton) dan selanjutnya peringkat kelima yaitu Provinsi Sumatera Barat dengan total produksi sebesar 58.582 (Ton).
Adapun perbandingan volume ekspor kakao Indonesia menurut negara tujuan tahun 2019, sebagai berikut :
Sumber : Badan Pusat Statistik 2019 Gambar 1.3
Perbandingan Volume Ekspor Kakao menurut Negara Tujuan, 2019
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa, produksi kakao Indonesia sebagian besar diekspor ke mancanegara dan sisanya dipasarkan di dalam negeri. Ekspor kakao Indonesia menjangkau lima benua yaitu, Benua Asia, Benua Amerika, Benua Eropa, Benua Afrika dan Benua Australia dengan pangsa utama yaitu Asia.
Pada tahun 2019, lima besar negara pengimpor kakao Indonesia adalah Malaysia, Amerika, India, China, dan Belanda. Volume ekspor ke Malaysia mencapai 80,59
Malaysia; 80590 Lainnya; 143290
Amerika; 61770
Belanda; 20380 India;
28850
China; 23600
ribu ton atau 22,48 persen dari total volume ekspor kakao Indonesia dengan nilai US$ 172,58 juta. Peringkat kedua adalah Amerika Serikat dengan volume Ekspor sebesar 61,77 ribu ton atau 17,23 persen dari total volume kakao Indonesia dengan nilai US$ 285,68 juta. Peringkatr ketiga adalah India, dengan volume ekspor sebesar 28,85 ribu ton atau 8,05 persen dari total volume ekspor kakao Indonesia dengan nilai US$ 82,25 juta. Peringkat keempat adalah China dengan volume ekspor 23,60 ribu ton atau sekitar 6,58 persen dari total volume ekspor kakao Indonesia dengan nilai US$84,50 juta. Peringkat kelima adalah Belanda dengan volume ekspor 20,38 ribu ton atau 5,68 persen dari total volume ekspor kakao dengan nilai US$106,87 juta.
Adapun perkembangan ekspor biji kakao Indonesia tahun 2019 menurut jenisnya, yaitu sebagai berikut :
Sumber : Badan Pusat Statistik 2019 Gambar 1.4 Perkembangan Ekspor Biji Kakao 2019
Dari grafik diatas dapat dilihat, bahwa pada tahun 2019, urutan volume ekspor biji kakao adalah kakao Butter (HS 18040000) sebesar 40, 44 persen dari total ekspor, Tepung Kakao (HS 18050000) sebesar 24,47 persen, Kakao Paste (HS 18032000) sebesar 13,89 persen, dan Biji Kakao (HS 18010000) sebesar 8,60persen.
Adapun volume dan nilai ekspor kakao Indonesia tahun 2012-2018 menurut Badan Pusat Statistik yaitu sebagai berikut :
Sumber : Badan Pusat Statistik 2012-2018 Gambar 1.5
Volume dan Nilai Ekspor Kakao Indonesia 2012-2018
Dari gambar diatas dapat dilihat,bahwa volume dan nilai ekspor biji kakao dari tahun 2012-2018 selalu mengalami perubahan volume yang fluktuatif (naikturun).
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan suatu penelitian dengan judul “Analisis Daya Saing Kakao Indonesia di Pasar ASEAN 2012-2018”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana daya saing komoditi kakao Indonesia di pasar ASEAN?
2. Bagaimana market share komoditi kakao Indonesia di kawasan ASEAN?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menganalisis daya saing komoditi kakao Indonesia di pasar ASEAN.
2. Untuk menganalisis market share komoditi kakao Indonesia di kawasan ASEAN.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Bagi Penulis
Penelitian ini diharapkan untukmendapatkan pengembangan dan melatih diri dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dan untuk belajar bagaimana cara menganalisis maupun bagaimana tata cara penelitian yang baik.
2. Bagi Pembaca
Penelitian ini diharapkan menjadi tambahan informasi dan bermanfaat bagi pembacanya terkhusus dalam hal daya saing kakao Indonesia di pasar ASEAN.
3. Bagi Akademisi dan Peneliti Selanjutnya
Adapun manfaat penelitian ini adalah menjadi bahan rujukan referensi, perbandingan, dan bahan studi bagi kalangan akademis dan peneliti dalam melakukan pembelajaran maupun dengan topik yang terkait.
14 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kakao
Menurut Sunanto (1992) sistematika tanaman kakao adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae, Devisi : spermatophyta, Class : Dicotyledonae, Ordo : malvales, family : sterculiaceae, Genus : Theobroma, Spesies: Theobroma cacao L Kakao atau yang disebut “makanan para dewa” (the food of the gods), dikenal sebagai bahan pembuat kue, permen cokelat, maupun keperluan lainnya. Kakao yang dibudidayakan secara luas di Indonesia sekitar tahun 1970. Kakao kini menjadi salah satu andalan ekspor non migar terutama dalam krisis ekonomi (Wardani, 1988)
Indonesia membudidayakan dua jenis kakao yaitu jenis lindak (bulk) dan mulia (fine-flavoured). Melihat kemudahan menanam, cepatnya berbuah, kuatnya pertumbuhan, kemudahan pengolahan menjadi hasil yang lebih baik dan besarnya peluang pasar maka ditetapkan bahwa pengembangan kakao rakyat dititik beratkan pada kakao lindak. Jenis kakao yang dibudidayakan pada perkebunan swasta umumnya adalah kakao mulia dan sebagian besar biji kakao yang diekspor adalah kakao mulia (Wardani,1988).
Perusahaan Perkebunan adalah pelaku usaha perkebunan warga negara Indonesia atau badan hukum yang didirikan menurut hukum di Indonesia dan berkedudukan di Indonesia yang mengelola usaha perkebunan dengan skala tertentu.
Perkebunan Besar adalah perkebunan yang diselenggarakan atau dikelola secara komersial oleh perusahaan yang berbadan hukum. Perkebunan besar terdiri atas Perkebunan Besar Negara (PBN) dan Perkebunan Besar Swasta (PBS) Nasional/Asing. Perkebunan Rakyat (PR) (tidak berbadan hukum) adalah perkebunan yang diselenggarakan atau dikelola oleh rakyat/pekebun yang dikelompokkan dalam usaha kecil tanaman perkebunan rakyat dan usaha rumah tangga perkebunan rakyat.
Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) adalah tanaman yang sampai pada saat pengamatan belum pernah memberikan hasil, karena masih muda atau tanaman sudah cukup umur tetapi belum dapat menghasilkan karena tidak cocok dengan iklim, ketinggian tempat, kondisi tanah dan sebagainya.
Tanaman Menghasilkan (TM) adalah tanaman yang sebelum saat pengamatan pernah memberikan hasil dan masih akan memberikan hasil, meskipun pada saat pengamatan sedang tidak menghasilkan.
Tanaman Tidak Menghasilkan/Tua/Rusak (TTM) adalah tanaman yang sampai dengan saat pengamatan tidak pernah memberikan hasil atau tidak akan memberikan hasil lagi disebabkan tua, rusak atau mandul. Produksi Kakao yang disajikan pada publikasi ini berupa produksi olahan yaitu produksi primer yang telah diolah menjadi suatu bentuk barang jadi atau barang setengah jadi, sehingga nilai ekonomisnya lebih tinggi, dalam hal ini biji kering kakao (cocoa beans).
2.2 Perdagangan Internasional
Pada era globalisasi seperti saat ini, perdagangan internasional sangat perlu untuk di terapkan, dimana dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di suatu negara. Salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yaitu dengan melakukan proses perdagangan internasional. Melalui proses perdagangan internasional antar Negara, maka akan terjadi proses pertukaran antar barang yang sangat dibutuhkan oleh tiap-tiap Negara yang saling melakukan kegiatan perdagangan tersebut, sebab sebagaimana yang kita pelajari bersama bahwasanya tidak semua Negara dapat memenuhi semua kebutuhannya sendiri karena adanya kendala oleh beberapa hal seperti terbatasnya faktor-faktor produksi yang berasal dari negara tersebut seperti sumber daya alam, sumber daya manusia, modal, dan teknologi untuk menghasilkan suatu produk komoditi.
Perdagangan internasional atau perdagangan luar negeri adalah kegiatan memperdagangkan output barang dan jasa, yang dilakukan suatu negara dengan negara lainnya. Perdagangan tersebut dilakukan dalam prinsip sukarela tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.
Perdagangan atau pertukaran mempunyai arti khusus dalam ilmu ekonomi.
Perdagangan diartikan sebagai proses tukar-menukar yang didasarkan atas kehendak sukarela dari masing-masing pihak. Pertukaran yang terjadi karena paksaan, ancaman perang dan sebagainya tidak termasuk dalam arti perdagangan yang dimaksud disini masing-masing pihak harus mempunyai kebebasan untuk menentukan untung rugi pertukaran tersebut dari sudut kepentingan masing- masing, dan kemudian menentukan apakah ia mau melakukan pertukaran atau
tidak (Boediono, 2001:10).
Perdagangan antar negara atau lebih dikenal dengan perdagangan internasional, sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu, namun dalam ruang lingkup dan jumlah yang terbatas, dimana pemenuhan kebutuhan setempat (dalam negeri) yang tidak dapat di produksi, dipenuhi dengan cara barter. Pada proses awalnya perdagangan internasional merupakan pertukaran dalam arti perdagangan tenaga kerja dengan barang dan jasa lainnya, yang selanjutnya diikuti dengan perdagangan barang dan jasa sekarang dengan kompensasi barang dan jasa kemudian hari. Akhirnya berkembang hingga pertukaran antar negara/internasional dengan asset-aset mengandung resiko seperti saham, valuta asing, dan obligasi yang saling menguntungkan kedua belah pihak, bahkan semua negara terkait di dalamnya sehingga memungkinkan setiap negara melakukan diversifikasi atau penganekaragaman kegiatan perdagangan yang dapat meningkatkan pendapat mereka (Halwani, 2002:17)
Perdagangan internasional dapat terjadi karena beberapa alas an, (Heriyanto, 1999) yaitu :
1. Keanekaragaman kondisi produksi.
2. Penghematan biaya.
3. Perbedaaan selera.
4. Prinsip keunggulan komparatif (comparative advantage)
Habeler (Salavatore, 1997 : 426), mengemukakan keuntungan-keuntungan positif yang diberikan oleh perdagangan internasional bagi pembangunan ekonomi Negara-negara berkembang dewasa ini. Adapun keuntungan-keuntungan
itu antara lain adalah :
1. Perdagangan dapat meningkatkan pendayagunaan sumber-sumber daya domestic di suatu negara berkembang.
2. Perdagangan internasional dapat menciptakan pembagian kerja dan skala ekonomis (economics of scale) yang lebih tinggi.
3. Sebagai wahana transmisi gagasan-gagasan baru, teknologi yang lebih baik, serta kecakapan manajerial dan bidang-bidang keahlian lainnya yang diperlukan bagi kegiatan bisnis.
4. Perdagangan antar negara juga merangsang dan memudahkan mengalirnya arus modal internasional dan negara maju ke Negara berkembang.
5. Adanya produk baru dari negara berkembang memberikan inspirasi dan membuka lahan-lahan bisnis baru yang menguntungkan bagi para produsen setempat.
6. Merupakan instrument yang efektif untuk mencegah monopoli.
2.3 Landasan Teori
2.3.1. Teori Keunggulan Absolut
Dalam tahun 1776, Adam Smith menerbitkan bukunya yang terkenal The Wealth of Nations, yang menyerang pandangan orang-orang merkantilis, dan sebaliknya menganjurkan perdagangan bebas sebagai suatu kebijaksanaan yang paling baik untuk negara-negara di dunia, Smith berpendapat bahwa dengan perdagangan bebas, setiap negara dapat berspesialisasi dalam produksi komoditi yang mempunyai keunggulan absolut (atau dapat memproduksi lebih efisien
dibanding negara-negara lain) dan mengimpor komoditi yang mengalami kerugian absolut (atau memproduksi dengan cara yang kurang efisien). Spesialisasi internasional dari faktor-faktor produksi ini akan menghasilkan pertambahan produksi dunia yang dapat dimanfatkan bersama-sama melalui perdagangan antarnegara. Dengan demikian keuntungan suatu negara tidak diperoleh dari pengorbanan negara-negara lain dimana semua negara dapat memperolehnya secara serentak. Kemudian spesialisasi produk sebagai konsentrasi yang mempunyai keunggulan dan kedua Negara melakukan perdagangan dan saling memberi keuntungan.pada akhirnya volume perdangan maupun konsumsi kedua Negaratersebut akan meningkat,demikian juga terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat kedua Negara berdagang.
Berdasarkan teori keunggulan absolut (absolute advantage) yang telah dikemukakan oleh Adam Smith tersebut, dapat kita simpulkan bahwa suatu negara akan melakukan perdagangan ekspor dengan negara lain, apabila suatu negara tersebut dapat menghasilkan suatu komoditi barang ekspor dengan lebih efisien dalam hal penggunaan jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk memproduksi suatu barang bila dibandingkan dengan negara lain yang menghasilkan suatu komoditi barang ekspor dengan kurang efisien, artinya memerlukan jumlah tenaga kerja yang lebih banyak dalam proses produksinya.
Tabel 2.1
Perbandingan Keunggulan Absolut di Kedua Negara
Produk Jepang Indonesia
Mobil 2 orang 4 orang
Sepeda motor 3 orang 1 orang
Sumber : Data Olahan Penulis 2021
Sebagai contoh, Negara Jepang secara mutlak lebih efisien dalam mobil, sedangkan Indonesia secara mutlak lebih efisien dalam produksi sepeda motor sehingga Indonesia akan mengekspor sepeda motor ke Jepang dan Jepang akan mengekspor mobil ke Indonesia. Sepeda motor Indonesia cenderung lebih murah daripada sepeda motor Jepang dan mobil Jepang cenderung lebih murah daripada mobil Indonesia. Barang yang lebih murah akan mendesak barang yang lebih mahal dari pasaran, sehingga Indonesia akan cenderung mengkhususkan diri dalam produksi dan ekspor sepeda motor, sedangkan Jepang mengkhususkan diri dalam produksi dan ekspor mobil.
2.3.2 Teori Keunggulan Komparatif
Teori keunggulan komparatif pertama kali dikemukakan oleh David Ricardo.Pendapat ekonomi ini merupakan kritikan terhadap teori keunggulan absolute oleh Adam Smith. David Ricardo mengkritik bagaimana seandainya sebuah negara tidak memiliki keunggulan mutlak sama sekali terhadap kedua batang yang diciptakan. Halini berarti negara tersebut tidak dapat melakukan perdagangan internasional dengan negara lain. Ricardo mengatakan bahwa sekalipun suatu negara mengalami kerugian absolute dalam produksi dari keduakomoditi berkenaan dengan negara lain, namunperdagangan yang saling
menguntungkan masih dapat berlangsung. Negara yangkurang efisien akan berspesialisasi dalam produksi ekspor dari komoditi dimanakerugian absolutnya adalah kecil. Melalui komoditi inilah negara mempunyaikeunggulan komparatif.
Dipihak lain, negara tersebut sebaiknya mengimpor komoditi di mana kerugian absolutnya adalah lebih besar.
David Ricardo mendasarkan hokum keunggulan komparatifnya pada sejumlah asumsi yang disederhanakan, yaitu (1) hanya terdapat dua negara dan dua komoditi, (2) perdagangan bersifat bebas, (3) terdapat mobilitas tenaga kerja yang sempurna di dalam negara namun tidak ada mobilitas antara dua negara, (4) biaya produksi konstan, (5) tidak terdapat biaya transportasi, (6) tidak ada perubahan teknologi, dan (7) menggunakan teori nilai tenaga kerja.
2.3.3 Teori Heckscher – Ohlin (H-O)
Teori H-O (Heckscher-Ohlin) menekankan pada perbedaan relatif faktor pemberian alam (factor endowments) dan harga faktor produksi antarnegara sebagai determinan perdagangan yang paling penting (dengan asumsi bahwa teknologi dan cita rasa sama). Teorema H-O (Heckscher-Ohlin) menganggap bahwa tiap negara akan mengekspor komoditi yang secara relatif mempunyai faktor produksi berlimpah dan murah, serta mengimpor komoditi yang faktor produksinya relatif jarang (langka) dan mahal.
David Ricardo mengemukakan bahwa produksi dalam model satu factor produksi yaitu tenaga kerja akan menghasilkan produk yang berbeda pada tiap Negara yang disebabkan oleh kondisi tehnologi yang tersedia,pengembangan comperative advantage,dimana tiap Negara memiliki kekhususan banyakmemiliki
input tenaga kerja atau sebaliknya banyak memiliki factor produksi capital.hal ini berarti bahwa suatu Negara menghasilkan suatu barang dengan biaya produksi lebih murah menggunakan input capital,berarti produksi padat modal.
2.3.4 Teori Ekspor-Impor
Ekspor adalah mengeluarkan barang-barang dari peredaran dalam masyarakat dan mengirimkan ke luar negeri sesuai ketentuan pemerintah dan mengharapkan pembayaran dalam valuta asing. Tujuan kegiatan ekspor adalah meningkatkan laba perusahaan melalui perluasan pasar serta memperoleh harga jual yang lebih baik (optimalisasi laba), membuka pasar baru di luar negeri sebagai perluasan pasar domestik (membuka pasar ekspor). Sedangkan impor adalah memasukkan barang-barang dari luar negeri sesuai dengan ketentuan pemerintah ke dalam peredaran dalam masyarakat yang dibayar dengan mempergunakan valuta asing. Tujuan kegiatan impor adalah memenuhi kebutuhan masyarakat akan barangbarang dengan cara mendatangkan barang yang belum tersedia di dalam negeri dari luar negeri (Amir, 2004).
2.3.5 Daya Saing
Daya saing adalah konsep perbandingan kemampuan dan kinerja perusahaan, subsektor atau negara untuk menjual dan memasok barang dan atau jasa yang diberikan dalam pasar. Daya saing sebuah negara dapat dicapai dari akumulasi daya saing strategis setiap perusahaan. Proses penciptaan nilai tambah (value added creation) berada pada lingkup perusahaan. Sementara pada ruang lingkup negara, daya saing suatu bangsa ditentukan oleh interaksi antara kinerja ekonomi makro, seberapa jauh kebijakan pemerintah kondusif bagi dunia usaha,
kinerja dunia usaha dan infrastruktur (Kuncoro, 2009). Selanjutnya untuk memiliki daya saing perlu strategi bersaing yaitu dengan cara bagaimana memahami perilaku biaya dan bagaimana menciptakan serta mempertahankan keunggulan biaya. Di samping itu, perlu mengidentifikasikan apa yang menciptakan nilai bagi pembeli melalui diferensiasi dan bagaimana melaksanakan strategi diferensiasi yang berhasil. Melalui kegiatan tersebut produsen diharapkan mempunyai kemampulabaan (profitability) dalam menjalankan usaha (Soetriono, 2006).
Berdasarkan uraian tersebut, maka daya saing dapat diartikan sebagai kemampuan atau kesanggupan komoditas pertanian untuk mempertahankan perolehan laba dan pangsa pasar sehingga produsen mempunyai kemampulabaan dalam memproduksi komoditas pertanian sehingga dapat mempertahankan kelanjutan usahanya. Upaya peningkatan kemampuan daya saing tersebut diharapkan dapat memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki secara optimal. Dalam upaya ini pemerintah berusaha meningkatkan produksi dan produktivitas serta pembatasan impor yang secara tidak langsung memberikan kesempatan kepada petani untuk dapat bersaing dengan komoditas impor (Soetriono, 2006).
Daya saing suatu komoditi dapat diukur dengan menggunakan pendekatan keunggulan komparatif dan kompetitif. Konsep keunggulan komparatif merupakan ukuran daya saing potensial dalam arti daya saing diperekonomian tidak mengalami distorsi sama sekali. Aspek yang terkait dengan keunggulan komparatif adalah kekayaan ekonomi dan terkait dengan pendekatan keunggulan kompetitif adalah kekayaan finansial dari sebuah aktivitas (Saptana, 2006).
2.3.6 Revealed Comparative Advantage (RCA)
Revealed Comparative Advantage (RCA) pertama kali diperkenalkan oleh Bela Balassa pada tahun 1965 dalam penelitian tentang pengaruh liberalisasi perdagangan luar negeri terhadap keunggulan komparatif hasil industri Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara yang tergabung dalam pasar bersama Eropa(MEE) serta pada tahun 1977 untuk negara yang sama ditambah Kanada dan Swedia (Basri dan Munandar, 2010). Pada mulanya Balassa menggunakan dua konsep pemikiran, pertama: didasarkan pada rasio impor dan ekspor, dan yang kedua: pada prestasi eksporrelatif.
Dengan alasan bahwa impor lebih peka terhadap tingkat perlindungan tarif dan pada perkembangan, selanjutnya Balassa meninggalkan ukuran yang pertama.
Balassa mengevaluasi prestasi ekspor masing-masing komoditi di negara-negara tertentu dengan membandingkan bagian relatif ekspor suatu negaradalam ekspor dunia. RCA merupakan indeks yang menjelaskan perbandingan antara pangsa pasar suatu produk dalam ekspor total suatu negaradengan pasar ekspor produk yang sama dalam total ekspor total dunia (Basri dan Munandar, 2010). Metode RCA merupakan metode analisis untuk menentukan keunggulan komparatif atau daya saing. Revealed Comparative Advantage (RCA) dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana jika ekspor suatu negara atau wilayah dari suatu jenis barang lebih tinggi daripada pangsa pasar barang yang sama di dalam jumlah ekspor dunia, berarti negara tersebut memiliki keunggulan komparatif atas produksi dan ekspor dari barang tersebut. Indeks ini paling sering digunakan dalam studi-studi empiris untuk mengukur tingkat daya saing dari suatu negara untuk suatu jenis
produk atau sekelompok produk di pasar ekspor. Semakin tinggi nilai RCA komoditi, maka semakin tangguh daya saing produk tersebut, sehingga disarankan untuk terus dikembangkan dengan melakukan spesialisasi pada komoditi tersebut (Tambunan, 2004).
Adapun metode perhitungan RCA adalah sebagai berikut (Abdullah, 2002):
RCA = Xij / Xit : Wj / Wt Keterangan :
Xij = Nilai ekspor komoditi j negara i tahun ke-t Xit = Nilai total ekspor negara i tahun ke-t
Wj = Nilai ekspor komoditi j di ASEAN tahun ke-t Wt = Nilai total ekspor ASEAN tahun ke-t
Nilai RCA suatu komoditi menunjukkan dua kemungkinan, yaitu: 1. Jika nilai RCA > 1, maka komoditi memiliki keunggulan komparatif di atas rata-rata dunia sehingga komoditi tersebut memiliki daya saing kuat. 2. Jika nilai RCA < 1, maka komoditi memiliki keunggulan komparatif di bawah rata-rata dunia sehingga komoditi tersebut memiliki daya saing lemah. Salah satu indikator yang dapat menunjukkan perubahan keunggulan komparatif adalah RCA index. Indeks ini menunjukkan perbandingan antarpangsa ekspor komoditas atau sekelompok komoditas suatu negara terhadap pangsa ekspor komoditas tersebut dari seluruh dunia. Dengan kata lain indeks RCA menunjukkan keunggulan komparatif atau daya saing ekspor dari suatu negara dalam suatu komoditas terhadap dunia.
2.3.7 Market Share Analysis
Market share (pangsa pasar) adalah persentase dari seluruh pasar untuk suatu kategori produk atau servis yang telah terpilih dan dikuasai oleh satu atau lebih produk atau servis tertentu yang dikeluarkan sebuah perusahaan dalam kategori yang sama. (Gunara: 2007)
Secara sederhana, market share merupakan besarnya bagian pasar yang bisa dikuasai oleh suatu perusahaan, dimana total penjualan perusahaan jika dibandingkan dengan total penjualan pada industri yang sejenis.
Tujuan pangsa pasar yaitu untuk mengukur indikator kunci dari daya saing pasar yaitu, seberapa baik perusahaan melakukan dibandingkan dengan pesaingnya.
Menurut Philip Kotler (2005 : 427) analisis pangsa pasar hanya dapat digunakan dengan kualifikasi sebagai berikut :
1. Asumsi bahwa kekuatan-kekuatan dari luas mempengaruhi perusahaan dengan cara yang sama, sering kali tidak besar.
2. Asumsi bahwa kinerja suatu perusahaan dinilai terhadap rata-rata prestasi semua perusahaan adalah tidak terlalu dapat diterima. Kinerja perusahaan dinilai terhadap kinerja pesaing terdekatnya. Sebuah perusahaan dengan peluang yang lebih besar dari pada rata-rata seharusnya mendapatkan pangsa pasarnya tetap, ini berarti manajemennya kurang baik dan bukan pada tingkat rata-rata.
3. Jika semua perusahaan baru memasuki industri, maka setiap pangsa pasar perusahaan-perusahaan yang telah ada dapat jatuh : suatu penurunan dalam
pangsa pasar suatu perusahaan mungkin tidak berarti bahwa prestasi perusahaan itu lebih buruk dari pada perusahaan-perusahaan lainnya.
Kehilangan pangsa perusahaan baru itu memukul pasar khusus perusahaan tadi.
4. Kadang-kadang penurunan pangsa pasar sengaja dibuat oleh perusahaan untuk meningkatkan keuntungannya, sebagai contoh : manajemen mungkin menghilangkan pelanggan atau produk yang tidak menguntungkan untuk meningkatkan keuntungan.
5. Pangsa pasar dapat berfluktuatif karena banyak alasan seperti contoh dipengaruhi oleh penjualan berskala besar, terjadi di akhir bulan atau pada permulaan bulan berikutnya. Tidak semua pergeseran dalam pangsa pasar memiliki dampak nyata dalam pemasaran.
Menghitung pangsa pasar akan membantu menentukan kekuatan suatu perusahaan. Saat diterapkan dengan benar, cara ini dapat menunjukkan prospek perusahaan di masa medatang.
Market share dapat di hitung dengan cara :
Pangsa Pasa P n alan 100 Total Penjualan
(E. Kesumademo, 2005 : 46)
Dimana total penjualan di dapat dari :
= Unit × Harga
Barang/unit yang dihitung disini adalah barang-barang yang memiliki kesamaan jenis, fungsi dan karakteristik.
2.4 Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan judul penelitian dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:
Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu Nama
Peneliti
Judul penelitian Metode Peneliti
an
Hasil Penelitian
Dwi Agustin (2005)
Analisis Keunggulan Komparatif Perdagangan Komoditi Tembakau (SITC 221) Indonesia dengan Empat Negara ASEAN (Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina) Periode 1993- 2002
1. ISP 2. RCA
Kinerja ekspor tembakau Indonesia memiliki keunggulan di atas rata-rata dunia. Di samping itu, bila dibandingkan dengan ASEAN 4, kinerja ekspor komoditi tembakau Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang
lebih tinggi di pasar komoditi tembakau dunia.
Oana Ancua Stangaci ua, Eugenia Harja (2013)
Dynamics of the Comparative Advantages in Romania Exports
Compared to
the European Union
1. RCA 2. RSCA
Di Romania, Pada tingkat ruas- ruas yang tercantum dalam Nomenklatur Gabungan, dinamika proses spesialisasi ekspor mencatat proses konvergensi intensitas sedang dibandingkan dengan nilai rata- rata Uni Eropa, meskipun pada tahun 2011, dibandingkan dengan tahun 2000, terdapat sedikit penurunan dibandingkan untuk EU-27 dalam spesialisasi ekspor, dalam struktur distribusi keunggulan komparatif terdapat sedikit modifikasi. Salah satu penyebab utama dari turunnya sedikit derajat
Spesialisasi ekspor ini adalah penurunan spesialisasi di bidang manufaktur produk tekstil, penurunan yang tidak dapat diimbangi dengan peningkatan derajatspesialisasi di bidang
manufaktur peralatan listrik dan alat angkut.
Budi Ramand a
Bustami, Paidi Hidayat, SE,M.Si (2013)
Analisis Daya Saing Produk Ekspor Provinsi Sumatera Utara
1. RCA 2. RCT A 3. ISP
metode RCA, hampir semua produk ekspor unggulan Provinsi Sumatera Utara memiliki daya saing, kecuali produk udang, kerang dan sejenisnya segar atau dingin, produk kayu lapis dan produk kayu olahan yang daya
saingnya dipasar
internasional masih rendah.
metode RCTA, tingkat daya saing produk ekspor Provinsi Sumatera Utara memiliki hasil yang berbeda dengan metode RCA. Produk ekspor unggulan Provinsi Sumatera Utara dengan metode RCTA terdapat pada produk tembakau, produk minyak, lemak nabati dan hewani olahan, produk almunium dan produk barang- barang dan perlengkapan pakaian, bukan tekstil. metode ISP yang memperoleh nilai positif, memperlihatkan semua produk ekspor unggulan Provinsi Sumatera Utara cenderung di ekspor, walaupun ada beberapa produk ekspor Provinsi Sumatera Utara yang daya saingnya lemah, seperti produk udang, kerang dan sejenisnya segar atau dingin, produk kayu lapis dan produk kayu olahan.
Ales Kocourek
(2015)
Structural Changes in Comparative Advantages
of the BRICS
1. RCA 2. RSCA
Reorientasi ekspor jangka panjang BRICS dari pengolahan bahan baku dasar dan dari produksi bernilai tambah rendah, menjadi barang dagangan yang lebih canggih.
Rini Silvia Dewi (2016)
Analisis Daya Saing Karet (Hevea brasisiliensis) Sumatera Utara di Pasar Ekspor
1. RCA 2. EPD 3. ISP
karet hasil produksi Sumatera Utara memiliki keunggulan komparatif yang kuat, namun memiliki keunggulan kompetitif yang lemah yang merupakan indikator daya saing dan Provinsi Sumatera Utara cenderung menjadi daerah eksportir karet.
Wahyu (2018)
Analisis Penerapan
Strategi Pemasaran Dalam meningkatkan Pangsa Pasar Pada PT. Sinar Galesong Mandiri Makassar
1. Analisi s Perkem b angan Penjual an 2. SWOT 3. Market Share
Hasil analisis perkembangan penjualan menunjukkan voloume penjualan motor Suzuki selalu mengalami kenaikan sebesar 2,57%. Hasil analisis Swot nampak bahwa posisi strategi pemasaran motor Suzuki pada PT.Sinar Galesong Mandiri Makassar berada pada kuadran 1. Sedangkan hasil analisis makret share bahwa setiap tahunnya
mengalami peningkatan persetase.
Produksi Kakao Indonesia
Volume Ekspor Kakao Indonesia
Total Volume Ekspor Kakao
Dunia
Total Volume Ekspor Asean
Total Volume Ekspor Indonesia
Total Volume Kakao Asean
Daya Saing Kakao Indonesia
Revealed Comparative Advantage (RCA)
Market Share Analisys
Kesimpulan
2.5 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan kajian literatul di atas, maka kerangka pemikiran yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut:
Sumber : Data Olahan Penulis 2021 Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Subsektor perkebunan merupakan subsektor penting dalam sektor pertanian yang mempunyai kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Salah satu komoditi unggulan Indonesia dalam sektor perkebunan adalah kakao.
Kakao merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan kakao maupun pelestarian
lingkungan dan sumberdaya hayati. Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang ada, namun volume dan nilai ekspor cenderung naik turun yang didukung dengan data produksi, volume dan nilai ekspor serta nilai impor kakao di Indonesia. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis daya saing kakao di daerah penelitian yang dilakukan dengan menganalisis keunggulan komparatif kakao dengan metode RCA (Revealed Comparative Advantaged), menganalisis pangsa pasar kakao dengan metode Market Share Analysis sehingga dapat diambil kesimpulan dalam penelitian ini.
33 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, dimana di dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan ilmiah terhadap keputusan manajerial dan ekonomi, dimana mengambil suatu keputusan yang mengidentifikasi bagaimana cara suatu organisasi mencapai tujuannya secara lebih efesien. Pendekatan ini berangkat dari data yang kemudian data ini diproses dan dimanipulasi menjadi informasi yang berharga bagi pengambilan keputusan (Kuncoro, 2007:1). Objek penelitian ini menganalisis daya saing ekspor kakao Indonesia di ASEAN 2012-2018.
3.2 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini menurut sumbernya adalah data runtut waktu (time series) yaitu data yang secara kronologis disusun menurut waktu pada suatu variabel tertentu (Kuncoro, 2007:24). Data dalam penelitian ini berbentuk data tahunan selama 7 tahun (2012 - 2018). Data dalam penelitian ini merupakan data sekunder yaitu data yang dikumpulkan oleh lembaga pengumpul data dan dipublikasikan kepada masyarakat pengguna data. Data penelitian ini diperoleh dari berbagai instansi yang berhubungan, seperti Badan Pusat Statistik (BPS), United Nations Comtrade, danThe Observatory of Economic Complexity (OEC) dan literatur yang mendukung penelitan ini. Data diolah menggunakan progam Microsoft Office Excel.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi, menurut Suharsimi (2006:135) metode dokumentasi merupakan suatu cara untuk memperoleh data informasi mengenai berbagai hal yang ada kaitannya dengan penelitian dengan jalan melihat kembali laporan-laporan tertulis, baik berupa angka ataupun keterangan. Selain data-data laporan tertulis, untuk kepentingan penelitian ini juga digalih berbagai data, informasi dan referensi dari berbagai sumber pustaka, media massa dan internet.
3.4 Pengolahan Data
Dalam pengolahan data, penulis melakukan pengolahan data dengan metode statistika menggunakan program computer yaitu Microsoft Office Excel.
3.5 Model Analisa Data
Untuk menganalisis identifikasi masalah 1 dan masalah 2, yaitu menganalisis keunggulan komparatif komoditi kakao hasil Indonesia digunakan metode analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) dan menganalisis pangsa pasar komoditi kakao hasil Indonesia digunakan metode analisis Market Share.
3.5.1 Metode Revealed Comparative Advantage (RCA)
Revealed Comparative Advantage (RCA) merupakan metode yang digunakan untuk mengukur kinerja ekspor komoditi tertentu dari suatu Negara dengan mengevaluasi peranan ekspor komoditi tersebut dalam ekspor total suatu Negara dibandingkan dengan pangsa komoditi tersebut dalam perdagangan dunia.
Namun, pada penelitian ini, kinerja ekspor kakao Indonesia akan diukur dengan
mengevaluasi peranan ekspor kakao dalam ekspor total Indonesia dengan pangsa kakao dalam perdagangan dunia. Nilai RCA kakao produksi Indonesia akan dihitung setiap tahun selama periode 2012-2018. Secara matematis, Revealed Comparative Advantage (RCA) dirumuskan sebagai berikut (Abdullah, 2002):
RCA = Xij / Xit : Wj / Wt Keterangan :
RCA = Keunggulan kompratif kakao Indonesia tahun ke-t Xij = Nilai ekspor kakao Indonesia tahun ke-t
Xit = Nilai ekspor total Indonesia tahun ke-t Wj = Nilai ekspor kakao ASEAN tahun ke-t Wt = Nilai ekspor total ASEAN tahun ke-t t = 2012,…,2018
Nilai RCA suatu komoditi menunjukkan dua kemungkinan, yaitu: 1. Jika nilai RCA > 1, maka komoditi memiliki keunggulan komparatif di atas rata-rata dunia sehingga komoditi tersebut memiliki daya saing kuat. 2. Jika nilai RCA < 1, maka komoditi memiliki keunggulan komparatif di bawah rata-rata dunia sehingga komoditi tersebut memiliki daya saing lemah.
3.5.2 Market Share Analysis
. Market share (pangsa pasar) adalah persentase dari seluruh pasar untuk suatu kategori produk atau servis yang telah terpilih dan dikuasai oleh satu atau lebih produk atau servis tertentu yang dikeluarkan sebuah perusahaan dalam kategori yang sama. (Gunara: 2007)
Metode ini dapat mengukur dinamis tidaknya suatu produk di pasar.
Namun, pada penelitian ini akan dianalisis pangsa pasarkomoditi kakao produksi Indonesia periode 2012- 2018 untuk tujuan pasar ekspor.
Menghitung pangsa pasar akan membantu menentukan kekuatan suatu
negara. Saat diterapkan dengan benar, cara ini dapat menunjukkan prospek negara di masa medatang.
Market share dapat di hitung dengan cara :
Market Share Kakao Indonesia = Penjualan Kakao Indonesia × 100 % Total Penjualan Kakao ASEAN
Dimana total penjualan di dapat dari :
= Unit × Harga
Barang/unit yang dihitung disini adalah barang-barang yang memiliki kesamaan jenis, fungsi dan karakteristik.
3.6 Definisi Operasional
1. Kakao adalah kakao yang diperdagangkan dengan tujuan ekspor ke pasar internasional.
2. Volume ekspor adalah besarnya jumlah kakao Indonesia yang di ekspor (ton).
3. Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau yang seharusnya diminta oleh eksportir dalam perdagangan tujuan pasar ekspor kakao Indonesia (US$).
4. Daya saing merupakan kemampuan dari komoditi kakao di Indonesia untuk menjadi lebih unggul di pasar ASEAN.
5. Market share (pangsa pasar) adalah persentase dari seluruh pasar untuk suatu kategori produk atau servis yang telah terpilih dan dikuasai oleh satu atau lebih produk atau servis tertentu yang dikeluarkan sebuah negara dalam kategori yang sama.
6. Keunggulan komparatif adalah pengukur daya saing yang dilihat dari pangsa
pasar kakao produksi Indonesia dibandingkan dengan pangsa pasar kakao yang ada di ASEAN.
7. Ekspor adalah proses penjualan komoditi kakao dari Indonesia ke suatu negara.
8. Produktivitas adalah perbandingan antara produksi yang diperoleh (output) dengan faktor-faktor produksi (input) yang dikorbankan (Kg/Ha).
9. Revealed Comparative Adventage (RCA) merupakan metode analisis untuk menentukan keunggulan komparatif atau daya saing komoditi kakao Indonesia di Pasar ASEAN.
10. Market Share merupakan metode analisis untuk menentukan pangsa pasar komoditi Kakao Indonesia di Pasar ASEAN dan Dunia.
38 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Perkembangan Produksi Kakao Indonesia
Pada tahun 2015 produksi biji kakao sebesar 593,3 ribu ton, naik menjadi 767,28 ribu ton pada tahun 2018 atau terjadi kenaikan 29,32 persen. Tahun 2019 diperkirakan produksi biji kakao akan naik menjadi 774,20 ribu ton atau sebesar 0,90 persen. (www.bps.go.id, 2019)
Produksi biji kakao terbesar tahun 2018 berasal dari Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 125,47 ribu ton atau sekitar 17,19 persen dari total produksi Indonesia. Pada tahun 2019 Provinsi Sulawesi Tenggara diperkirakan menjadi produsen biji kakao terbesar Indonesia dengan produksi 137,74 ribu ton atau 17,79 persen dari total produksi Indonesia. (www.bps.go.id, 2019)
` Berdasarkan status pengusahaannya, pada tahun 2018 sebesar 97,97 persen dari produksi biji kakao atau 751,69 ribu ton biji kakao berasal dari perkebunan rakyat, 1,03 persen atau 7,88 ribu ton dari perkebunan besar swasta dan 1,01 persen atau 7,72 ribu ton berasal dari perkebunan besar negara. Pada tahun 2019 diperkirakan sebesar 768,77 ribu ton biji kakao atau 97,29 persen berasal dari perkebunan rakyat. 3,81 ribu ton atau 0,49 persen berasal darii perkebunan besar swasta dan 1,62 ribu ton atau 0,21 persen berasal dari perkebunan besar negara.
(www.bps.go.id, 2019)
4.2 Perkembangan Luas Lahan Kakao Indonesia
Luas areal perkebunan kakao di Indonesia sebelum tahun 2019 selama empat tahun terakhir cenderung menunjukkan penurunan, turun sekitar 1,15
sampai dengan 3,93 persen pertahun. Pada tahun 2015 lahan perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 1,71 juta hektar, menurun menjadi 1,61 juta hektar pada tahun 2018 atau terjadi penurunan 5,74 persen. Pada tahun 2019 diperkirakan luas areal perkebunan kakao turun sebesar 1,14 persen dari tahun 2018 menjadi 1,59 juta hektar. (www.bps.go.id, 2019)
Selama periode tahun 2015 sampai dengan 2019 areal perkebunan kakao tersebar di 33 provinsi yaitu seluruh provinsi kecuali provinsi DKI Jakarta. Dari 33 provinsi tersebut, Provinsi Sulawesi Tengah merupakan provinsi dengan areal perkebunan kakao yang terluas di Indonesia yaitu 283,3 ribu hektar pada tahun 2018 atau 18,77 persen dari total luas areal perkebunan kakao di Indonesia. Pada tahun 2019 luas areal perkebunan kakao di Provinsi Sulawesi Tengah diperkirakan sebesar 282,73 ribu hektar. (www.bps.go.id, 2019)
Menurut status pengusahaannya, sebagian besar perkebunan kakao pada tahun 2018 diusahakan oleh perkebunan rakyat yaitu sebesar 1,58 juta hektar atau 98,33 persen. Sementara perkebunan swasta mengusahakan sebesar 14,49 ribu hektar atau 0,89 persen dan perkebunan besar negara hanya sebesar 12,38 ribu hektar atau 0,76 persen. Pada tahun 2019 perkebunan kakao yang diusahakan oleh perkebunan rakyat diperkirakan sebesar 1,57 juta hektar atau 98,85 persen, sementara perkebunan besar swasta mengusahakan 10,74 ribu hektar atau 0,67 persen dan perkebunan besar negara hanya mengusahakan 7,49 ribu hektar atau 0,47 persen. (www.bps.go.id, 2019)
4.3 Produk Turunan Kakao
Ekspor kakao Indonesia secara umum dirinci berdasarkan kelompok kode Harmony System (HS) sebagai berikut :
1. Kakao Biji / Cocoa Beans whole or broken, raw or roasted (Kode HS 18010000)
2. Kakao Buah / Cocoa Shells, husk, skins and oth cocoa waste (Kode HS 18020000)
3. Kakao Paste / Cocoa Paste, deffated (Kode HS 180310000)
4. Kakao Paste/ Cocoa Paste, wholy or partly defatted (Kode HS 180320000) 5. Kakao Butter / Cocoa butter, fat and oil (Kode HS 18032000)
6. Tepung Kakao / Cocoa powder, not containing added sugar or other sweetening matter (Kode HS 18040000)
7. Tepung Kakao / Cocoa powder, containing added sugar orm other sweetening matter (Kode HS 18050000)
8. Cokelat Bentuk Blok / Chocolate confectionary in blocks, slabs or bars, weighing > 2kg (Kode HS 18062010)
9. Cokelat Bentuk Blok / Oth. Chocolate & Oth Food Preparations, Co Nt.
Cocoa, Weighing > 2kg ( Kode HS 18062090)
10. Cokelat Bentuk Blok lainnya / Filled chocolate confectionary in blocks, slabs, bars, weight_2kg (Kode HS 18063100)
11. Cokelat Bentuk Blok lainnya / Chocolate confectionary in blocks, slabs, bar, not filled, weight_2kg (Kode HS 18063200)
12. Makanan lainnya / Chocolate confectionary in tablets or pastilies
(Kode HS 18069010)
13. Olahan makanan / Food Preparations of floor, meal, starch, malt extract, cont 40 % _ cocoa < 50% (Kode HS 18069030)
14. Olahan makanan / Food Preparation of head 0401-0404,5%_cocoa (Kode HS 18069040)
15. Olahan makanan / Food preparations of flour, meal, starch cont. 40% <=
cocoa <50%, for retail (Kode HS 18069090)
Adapun perkembangan ekspor biji kakao di Indonesia pada tahun 2019, urutan volume ekspor biji kakao adalah Kakao Butter (HS 18040000) sebesar 40,44 persen dari total ekspor, Tepung Kakao (HS 18050000) sebesar 24,47 persen, Kakao Paste (HS 18032000) sebesar 13,89 persen, dan Biji Kakao (HS 18010000) sebesar 8,60 persen. (www.bps.go.id, 2019)
4.4 Daya Saing Kakao Hasil Indonesia di Pasar ASEAN
Pasar ekspor merupakan suatu pasar dilakukannya transaksi antara 2 negara atau lebih baik antara pelaku ekspor dan pelaku impor, individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Kegiatan transaksi tersebut tidak hanya dilakukan oleh dua negara saja, tetapi dilakukan oleh negara-negara lain. Hal ini menyebabkan adanya persaingan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Daya saing merupakan salah satu kriteria yang menentukan keberhasilan suatu negara di dalam perdagangan internasional.
Salah satu indikator daya saing suatu komoditi ialah pangsa pasar.
Disebutkan bahwa jika pangsa pasar suatu komoditi meningkat, berarti daya saing
komoditi itu meningkat. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis daya saing kakao hasil produksi Indonesia yang secara umum dilakukan dengan menggunakan pendekatan pangsa pasar dan pertumbuhan pasar yang dihitung berdasarkan nilai ekspor. Tabel berikut memperlihatkan nilai ekspor kakao dan nilai ekspor total dari Indonesia, dan ASEAN.
Tabel 4.1
Nilai Ekspor Kakao dan Nilai Ekspor Total dari Indonesia dan ASEAN Tahun 2012-2018
Tahun
Nilai Ekspor (000 US$) Total Nilai
Ekspor Kakao Indonesia
Total Nilai Ekspor Indonesia
Total Nilai Ekspor Kakao ASEAN
Total Nilai Ekspor ASEAN
2012 1.053.533 190.020,28 2.068.827.595 929.682.907.676 2013 1.151.494 182.551,81 1.962.701.106 939.801.632.482 2014 1.244.530 175.979,98 2.513.706.509 963.772.828.095 2015 1.307.771 150.336,29 2.436.508.352 884.626.203.938 2016 1.239.581 144.433,50 2.369.916.511 875.909.029.811 2017 1.120.765 168.828,19 2.192.725.732 1.012.892.811.758 2018 1.245.794 180.012,67 2.364.713.715 1.089.950.445.396 Sumber : *) Badan Pusat Statistik Indonesia, 2012-2018
**) UNComtrade, 2012-2018
Daya saing yang baik dapat dilihat jika komoditi tersebut memiliki keunggulan komparatif dan pangsa pasar yang baik di dalamnya. Maka dari itu, pada penelitian ini digunakan metode analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Market Share Analysis. Metode RCA digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif sedangkan metode CMSA digunakan untuk mengukur pangsa pasar kakao hasil produksi Indonesia periode 2012-2018.