Jenis Data Sumber Data Responden
4.3 Analisis Deskriptif Teori
4.2.5 Teori Konflik
Dalam teori ini, konflik yang terjadi lebih kepada ketidaknyamanan para fans loyal atas kehadiran para fans karbitan. Sebenarnya jika dikatakan menggangu, tidak juga demikian karena para fans loyal, meskipun merasa terusik, memilih untuk tidka menanggapi ocehan para fans
karbitan. Seperti yang dikatakan Ridwan, “Glory hunter ya..ya menurut gua sih itu hak mereka
lah, untuk jadi orang-orang kaya gitu, tapi jangan berharap ngomongin bola sama gua, karena
gua gak suka”, imbuhnya. Ridwan juga menyatakan bahwa fans karbitan memiliki pengetahuan yang dangkal tentang sepak bola dan timnya. “Ehh ketika dia bawel, bangga-banggain timnya,
apalagi dia fans baru, sedangkan pas ditanya tentang sejarah tim itu kaya gimana dia gak bisa
jawab, ya itu udah bego banget”, tambahnya. Serupa tapi tak sama, Nidhal juga merasa
demikian. Namun, kendati sedikit terganggu, fenomena ini menurutnya bisa jadi ajang penelanjangan mereka tentang sepak bola. Justru dengan begitu, kita semakin bisa membedakan
mana fans loyal, mana bukan. “Yaaa,, nggak ngeganggu banget sih, malah kocak bisa gua
kata-katain juga orang kaya gitu tapi ya, ya gak asik aja dia gak punya tim yang dicintai banget”,
Bab V
5.1 Kesimpulan
Fenomena sepak bola yang kini berjalan dengan pesat, berbanding lurus dengan pertumbuhan masyarakat yang menyukai sepak bola. Hal ini semakin memungkinkan semakin mudahnya akses berita mengenai sepak bola. Berbanding lurus dengan hal itu, semakin banyak pula masyarakat yang tertarik dengan sepak bola. Bahkan, orang-orang yang sama sekali tidak mengerti tentang sepak bola, bisa memiliki rasa penasaran dengan sepak bola. Saat ini, euforia akan sepak bola sedang dalam level yang cukup tinggi, terutama menjelang Piala Dunia yang akan dilaksanakan pertengahan tahun nanti. Di samping itu, liga-liga besar Eropa baru saja menyelesaikan rangkaian pertandingan mereka.
Ekspos media akan sepak bola dari Eropa sangat besar porsinya, bahkan lebih besar dari sepak bola dalam negeri. Hal positif yang timbul dari fenomena ini adalah sepak bola semakin dicintai semua kalangan, namun negatif-nya, sembarangan orang bisa mengaku sebagai fans sepak bola. Bukankah itu hak masing-masing individu untuk suka atau tidak terhadap sepak bola? Ya. Namun masalah tidak berhenti di situ, para fans yang secara tiba-tiba mengaku sebagai fans ini, mengusik fans lain dengan mengolok-olok mereka dan timnya yang bermain buruk. Sekelompok fans inilah yang kemudian disebut dengan fans karbitan. Sebenarnya mudah sekali mencari jawaban mengapa hal ini terjadi. Semua itu karena kurangnya kedalaman rasa memiliki si fans, terhadap klub yang diidolakan. Mereka asal pilih tim mana saja yang sedang bermain bagus, untuk kemudian ia dukung. Namun ketika tim itu bermain buruk, mereka akan
mencemooh tim itu karena bermain buruk. Bukankah sebagai fans, harus mendukung tim baik di saat menang atau kalah?
Ketika membicarakan suka atau tidak suka terhadap suatu klub sepak bola, sekali lagi peneliti tegaskan, itu hak masing-masing fans. Namun dibutuhkan lebih dari berharap tim yang kita dukung menang. Kita harus selalu ada untuk tim baik di saat menang atau kalah. Jika masih memikirkan menang atau kalah, jangan mengaku sebagai fans, itu artinya kita masih menjadi penonton, bukan pendukung atau penggemar. Masalah yang sering muncul dari para fans karbitan adalah mereka hanya mendukung tim ketika menang saja. Ketika tim bermain buruk, tak segan mereka bisa menyerang secara verbal tim yang didukung. Bahkan bisa bertindak anarkis. Hal yang sebaliknya terjadi jika tim idola mereka sedang dalam tren kemenangan beruntun, mereka langsung membanggakan tim mereka secara berlebihan dan pada saat yang bersamaan mereka mencemooh tim lain yang sedang bermain buruk atau kalah. Ini sangat menggangu fans lain yang sudah loyal terhadap tim idolanya masing-masing. Para fans loyal
merasa, para fans karbitan ini telah “kurang ajar” dan tidak tahu diri. “Ngomong, ngomong gede,
tapi mereka tuh,, eehhh, banyak tim yang dia pegang, ngerti gak? Ya jadi kaya, dia gak punya
tim yang dia idolain banget, dia ganti-ganti pokoknya dia cuma dukung siapa yang menang”,
komentar salah satu narasumber, Nidhal Akbar.
5.2 Saran
Dalam kacamata peneliti, sebagai seseorang yang mengaku sebagai pecinta bola, kita tetap harus menunjung tinggi nilai kebersamaan dan sportivitas agar dapat bersaing secara sehat dalam mendukung klub sepak bola masing-masing. Salain itu, sebagai fans, kita harus
berkomitmen untuk mendukung klub yang kita bela karena mendukung tim berbicara tentang loyalitas dan kedewasaan kita sebagai seorang fans. Seorang fans, harus bisa selalu hadir bersama tim baik di saat kalah atau menang. Tidak peduli seberapa terpuruk tim yang dibela.
Kita lihat yang terjadi di Istanbul tahun 2005. Pada malam itu, pertandingan final Liga Champions antara AC Milan dan Liverpool. AC Milan unggul cepat pada menit pertama, dan menutup babak pertama dengan skor 3-0. Pada saat semua terlihat menjadi milik AC Milan,
ribuan fans Liverpool yang hadir di stadion tidak henti-hentinya bernyanyi. Lagu You’ll Never
Walk Alone berkumandang keras di Attaturk Stadium. Hasilnya pada babak kedua, Liverpool berhasil menyamakan kedudukan hanya dalam waktu enam menit. Pertandingan berlanjut ke
babak adu penalti dengan Liverpool berhasil meraih trofi Liga Champions kelima mereka18. Ini
merupakan bukti nyata betapa dukungan para fans sangat berarti bagi tim. Seterpuruk apapun penampilan sebuah tim, jika suporter selalu ada di belakang para pemain untuk mendukung, pada saat yang bersamaan para pemain akan merasa termotivasi untuk tidak mengecewakan fans yang telah percaya dan mendukung mereka, seburuk apapun penampilan mereka.