Konflik Fans di Sepak Bola
Studi Kasus
Glory Hunters
Fajar Abdillah
2011041024
Ilmu Komunikasi
Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Dunia olahraga tidak pernah berhenti menarik perhatian masyarakat. Olahraga bukan lagi
menjadi sekedar menjaga kesehatan, tetapi juga bisa menjadi hiburan menarik bagi orang
banyak. Cabang-cabang olahraga berlomba-lomba untuk menjadi yang paling populer di muka
bumi. Tidak terhitung berapa pagelaran olahraga yang diadakan setiap tahunnya. Mulai dari
sepak bola, bulutangkis, basket dan lain-lain. Setiap cabang olahraga memiliki penikmat
masing-masing, tidak terkecuali sepak bola. Sepak bola, sebagai olahraga paling populer di planet ini,
memiliki basis penggemar yang terbesar diantara olahraga lainnya. Sepak bola tidak bisa
dilepaskan dari fanatisme dan suporter. Lihat berapa banyak basis suporter sepak bola di seluruh
dunia, mulai dari klub-klub lokal yang hanya dikenal di negara tertentu, hingga klub-klub top
eropa yang sudah mendunia. Suporter-suporter tersebut kemudian menamakan diri mereka sesuai
dengan klub pujaan masing-masing. Mereka dengan setia menonton tim kesayangan mereka
setiap kali bertanding, bahkan untuk laga tandang, mereka rela menempuh jarak sekian mil
hanya untuk mendukung tim kesayangan mereka bertanding.
Tidak semua fans sepak bola bisa loyal terhadap klubnya, terkadang ada seorang fans
bisa beralih mendukung klub lain ketika prestasi klub tersebut sedang menurun.1 Karena tingkat
identifikasi antara satu fans dan fans lainnya berbeda-beda. Tinggi atau rendahnya loyalitas
seorang fans terhadap klub sangat ditentukan oleh tinggi atau rendahnya tingkat identifikasi fans
tersebut terhadap sebuah tim.2 Inilah yang membedakan antara seorang fans, dan seorang penonton. Penonton hanyalah sekelompok orang yang ketika selesai menonton pertandingan,
mereka tidak peduli dan tidak memikirkan tim yang mereka tonton. Sedangkan fans, adalah
orang yang memiliki intensitas lebih daripada penonton dan akan terus mengikuti perkembangan
tim yang ditonton meskipun bukan pada hari pertandingan. Seorang fans yang memiliki
identifikasi yang dalam lebih bisa menanamkan afeksi dirinya terhadap sebuah tim yang
dianggap idolanya. Intinya, identifikasi sangat berhubungan dengan loyalitas. Karena loyalitas
bisa terjalin karena adanya rasa keterikatan emosional yang kuat bisa terus menggunakan sebuah
produk olahraga, dalam hal ini, tim sepak bola. Inilah yang tidak dimiliki oleh sekelompok orang
yang kemudian disebut dengan fans karbitan. Fans karbitan secara istilah bisa diartikan sebagai
sekelompok orang yang mendukung sebuah tim hanya ketika tim tersebut berada dalam masa
kejayaan saja. Padahal ketika performa tim tersebut masih biasa saja, jarang sekali orang yang
mengaku sebagai fans dari tim tersebut. Mereka tidak memiliki ikatan kuat untuk menjadi fans
sebuah klub. Mereka hanya ikut mendukung sebuah klub hanya karena tren yang berjalan
memang demikian. Penikmat sepak bola memang tidak semuanya menjadikan sepak bola
sebagai sesuatu yang harus dibela mati-matian, beberapa orang mengonsumsi olahraga hanya
untuk hiburan.3 Itulah mengapa ada fans yang loyal terhadap satu klub, ada juga yang masih labil
sehingga hanya ikut meramaikan tim yang sedang bagus prestasinya saja. Loyalitas terhadap
suatu klub bisa terjadi karena beberapa tahun belakangan kita melihat performa gemilang yang
ditunjukkan beberapa klub Eropa. Banyak dari tim-tim tersebut, dengan dukungan kekuatan
2 Smith, Aaron C.T. Introduction of Sports Marketing. Burlington: Elsevier, 2008.
finansial yang fantastis, menjelma menjadi kekuatan baru di kancah sepak bola Eropa bahkan
dunia. Seiring kegemilangan klub-klub tadi, mulailah bermunculan sekelompok fans dadakan
yang menyatakan diri sebagai fans dari klub-klub tertentu. Di media sosial banyak bermunculan
akun-akun fanbase dari tim-tim baru jago tadi. Padahal sebelumnya, sangat jarang sekali orang
yang mengaku sebagai fans tim tersebut. Fans labil tadi memiliki banyak sebutan di kalangan
pecinta bola, mulai dari fans karbitan, glory hunters, fans plastik dan masih ada sebutan-sebutan
lain yang intinya merujuk pada kelabilan fans tersebut. Sekelompok fans bisa menilai baik atau
tidaknya suatu klub berdasarkan raihan trofi dan performa yang diperlihatkan oleh tim tersebut.
Fans karbitan sebenarnya sudah menjadi rahasia umum di dunia sepak bola. Secara garis
besar, fans karbitan adalah sekelompok orang yang mengaku sebagai fans suatu klub ketika klub
tersebut baru atau sedang berprestasi cukup baik. Ada beberapa faktor yang menyebabkan
seseorang bisa menjadi labil dan rentan menjadi fans karbitan, salah satunya adalah karena
kurangnya identifikasi diri terhadap klub yang didukung dan juga dipengaruhi oleh naik turunnya
performa sebuah tim.
Salah satu fenomena fans dadakan yang ramai dibicarakan adalah fans dari salah satu
kontestan Liga Spanyol, Barcelona. Pada tahun 2009, Barcelona memborong enam gelar dari
enam kompetisi yang mereka jalani.4 Tidak lama setelah itu, banyak orang yang kemudian
menahbiskan diri mereka sebagai penggemar Barcelona, padahal sebelumnya fenomena tersebut
jarang sekali terjadi. Puncaknya adalah dengan didirikannya basis fans resmi Barcelona yang
42009. The magic year: Barça win six cups. 2008.
baru berdiri pada tahun 2009.5 Tujuan dari penelitian ini antara lain adalah ingin menggambarkan fenomena fans karbitan di dunia sepak bola. Permasalahan fans jenis ini dalam
dunia sepak bola adalah seringkali “menggangu” fans tim lain yang sudah lebih dulu loyal
terhadap tim idola mereka. Mereka, para fans karbitan seringkali merendahkan tim lawan dengan
pendukung loyalnya. Tidak jarang hal ini menimbulkan keributan yang sebenarnya tidak perlu
terjadi. Seperti yang terjadi di Jogjakarta beberapa waktu lalu. Seperti dikutip Kompasiana,
dalam acara nonton bareng pertandingan antara Barcelona melawan Real Madrid di Sport Hall
Kridosono, Yogyakarta. Pada insiden tersebut terjadi saling pukul antara supporter IndoBarca
Jogja, dan Madridista Jogyakarta. Sepak bola jauh lebih dalam dari persoalan menang-kalah.
Loyalitas dan saling respek adalah dua hal lain yang harus dimiliki oleh seseorang yang
menamakan diri mereka fans. Seorang fans, bukan masanya lagi untuk menilai tim dari kalah dan
menang, jika masih, maka itu bukanlah sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh seorang fans.
Sikap seperti itu adalah sikap para penonton biasa yang akan lupa dan tidak peduli apapun
setelah pertandingan usai. Kehadiran fans karbitan dikhawatirkan akan menimbulkan tren
negatif di kalangan pecinta sepak bola.
5Indonesia FC Barcelona Fans Club. Mei 1, 2013. http://www.indobarca.org/organisasi/sejarah/ (accessed
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah di atas, kami ingin mencari tahu apa yang menyebabkan seseorang
dengan mudahnya menjadi fans karbitan. Serta ingin menjabarkan masalah apa saja yang muncul
akibat adanya fans karbitan ini.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan fenomena fans karbitan yang
terjadi di dunia sepak bola, serta menjabarkan apa yang menyebabkan seseorang bisa menjadi
fans karbitan serta ingin mengetahui masalah apa saja yang sering muncul akibat adanya fans
karbitan.
1.4 Signifikansi Penelitian
1.4.1 Signifikansi Akademis
Hasil dari penelitian ini kami harapkan dapat membantu menambah pengetahuan dan
informasi bagi khalayak olahraga, khususnya sepak bola. Dalam dunia sepak bola, suporter
merupakan aspek penting bagi sebuah tim. Tanpa adanya supporter, sepak bola tidak akan
menarik. Dengan adanya penelitian ini diharapkan menumbuhkan kesadaran diantara supporter
akan pentingnya menjaga loyalitas terhadap tim yang dibela, namun di sisi lain tetap
menghormati tim lain dan para fans-nya. Menilik dari apa yang terjadi pada fenomena fans
mendukung sebuah tim yang sedang bagus penampilannya dan seringkali melecehkan tim lain
yang performanya sedang menurun.
1.4.2 Signifikansi Praktisi
Penelitian ini bertujuan untuk media referensi bagi para konsumen olahraga dalam hal ini
supporter sepak bola, agar bisa melihat fenomena yang terjadi saat ini. Untuk bisa mengelola
supporter agar bisa mengelola kelompok fans agar tetap bertahan di tengah tren sepak bola yang
terus berganti setiap beberapa tahun. Selain itu, penelitian ini diharapkan menjadi bahan acuan
Bab II
2.1 Kajian Teori
Fans karbitan, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, adalah sekelompok orang yang
mengaku sebagai fans suatu klub ketika klub tersebut baru atau sedang berprestasi cukup baik.
Kurangnya identifikasi diri terhadap tim menjadi satu faktor penting seseorang bisa menjadi fans
karbitan. 6 Memang belum ada definisi resmi secara tertulis mengenai istilah ini karena sebutan
ini lahir di tengah-tengah kehidupan bersepak bola para supporter yang merasa terganggu dengan
adanya sekelompok orang yang tiba-tiba mengakui diri sebagai bagian dari sebuah tim, dan
dengan seenaknya mengolok-olok klub lain yang sedang terpuruk pernampilannya. Ada
beberapa kacamata teori untuk mendalami lebih jauh tentang fans karbitan.
2.1.1 Teori Fenomenologi
Istilah phenomenon mengacu pada kemunculan suatu gejala sosial yang tampak di
masyarakat. Itu sebabnya, fenomenologi adalah cara yang digunakan untuk memahami dan
mendalami langsung sebuah gejala atau realita yang sedang terjadi. Dengan demikian,
fenomenologi membuat penglaman nyata sebagai data pokok sebuah realitas yang dapat kita
ketahui7.
Geliat sepak bola saat ini juga bisa dikatakan sebagai sebuah tren. Tim-tim besar Eropa
yang berlaga menjadi tontonan yang tidak asing lagi bagi kita di Indonesia. Real Madrid,
6 Smith, Aaron C.T. Introduction of Sports Marketing. Burlington: Elsevier, 2008.
Barcelona, Bayern Munich dan lainnya seakan berlomba untuk menjadi yang terdepan dalam
menancapkan hegemoni mereka di dunia sepak bola. Pemberitaan media yang gencar juga
menjadi faktor penting mengapa mereka menjadi tim yang bisa dibilang sedang nge-trend di
kalangan masyarakat. Masyarakat disuguhkan penampilan memukau dari tim-tim tersebut. Hal
ini menimbulkan fenomena baru di kalangan penggemar sepak bola, yaitu munculnya
sekelompok orang yang secara tiba-tiba menahbiskan diri mereka sebagai bagian (penggemar)
dari tim yang sedang naik daun tadi. Sekelompok orang ini kemudian disebut oleh para pecinta
bola sebagai Fans Karbitan.
Menjamurnya fans karbitan tidak terlepas dari tren olahraga yang tengah berlaku saat ini.
Hal ini sangat berkaitan dengan tren yang sedang “on” di masyarakat. Tren, menurut Henrik Vejlgaard dalam bukunya, Anatomy of a Trend (2008), masyarakat bisa merujuk pada sesuatu
yang baru atau hangat untuk bisa ikut tren yang berlaku. Ketika berbicara tentang tren, pada
umumnya masyarakat ingin tahu beberapa hal seperti apa hal yang paling baru? Apa yang sedang
bagus? Apa model terbaru yang dipakai orang-orang?8
2.1.2 Teori Brand
Brand mer upakan identitas tambahan dari suatu produk yang tidak hanya
membedakannya dari kompetitor, akan tetapi juga merupakan janji produsen kepada konsumen
dengna menjamin konsistensi bahwa sebuah produk akan selalu dapat menyampaikan nilai yang
diharapkan konsumen dari sebuah produk.
Dalam suatu brand, dikenal istilah brand equity, yaitu kekuatan merk yang menjanjikan
nilai yang diharapkan konsumen aas suatu produk sehingga akhirnya konsumen akan merasa
mendapatkan kepuasan yang lebih bila dibanding produk-priduk lainnya.
Brand equity tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi ditopang oleh elemen-elemen
pembentuk seperti brand awareness, perceived quality, brand association, dan brand loyalty.
Brand Awareness
Kesadaran merk adalah kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali atau
mengingat kembali bahwa suatu merk merupakan bagian dari kategori produk tertentu. Menurut
Simmamora (2001:74), peran brand awareness tergantung pada sejauh mana kadar yang dicapai
suatu merk.
Perceived Quality
Persepsi kualitas merupakan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau
keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkenaan dengan maksud yang diharapkan
konsumen. Persepsi terhadap kualitas keseluruhan dari suatu produk atau jasa tersebut dapat
menentukan nilai dari produk atau jasa tersebut dan berpengatuh langsung kepada keputusan
Brand Association
Asosiasi merk merupakan segala kesan yang muncul dan terkait dengan ingatan
konsumen mengenai suatu merk. Brand association mencerminnkan pencitraan suatu merk
terhadap suatu kesan tertentu dalam kaitannya dengan kebiasaan, gaya hidup, manfaat, atribut,
produk, geografis, harga, pesaing, selebriti, dan lain-lainnya.
Brand Loyalty
Loyalitas merk merupakan ukuran keterkaitan pelanggan pada sebuah merk. Ukuran ini
menggambarkan tentang mungkin tidaknya konsumen beralih ke merk lain, terutama jika merk
tersebut mengalami perubahan atribut.
Aaker (1997:56) mendefinisikan loyalitas merek (brand loyalty) sebagai suatu ukuran
keterkaitan pelanggan kepada sebuah merek. Ukuran ini mampu memberikan gambaran tentang
mungkin tidaknya seorang pelanggan beralih ke merek lain yang ditawarkan oleh kompetitor,
terutama jika pada merek tersebut didapati adanya perubahan, baik menyangkut harga ataupun
atribut lainnya. Seorang pelanggan yang sangat loyal kepada suatu merek tidak akan dengan
mudah memindahkan pembeliannya ke merek lain, apa pun yang terjadi dengan merek tersebut.
Bila loyalitas pelanggan terhadap suatu merek meningkat, kerentanan kelompok
pelanggan tersebut dari ancaman dan serangan merek produk pesaing dapat dikurangi. Dengan
dengan peluang penjualan, yang berarti pula jaminan perolehan laba perusahaan di masa
mendatang.
Begitu juga yang terjadi antara tim-tim sepak bola di Eropa dengan seluruh penggemar
mereka di seluruh dunia. Semakin seseorang tertarik dan merasa memiliki hubungan dengan
sebuah klub, akan semakin loyal pula mereka terhadap tim tersebut. Analoginya, jika sebuah
brand sudah bisa memberikan kepuasan terhadap pelangg an, maka pelanggan tersebut tidak
akan beralih ke merk lain. Begitu juga dalam industri sepak bola, jika sebuah brand (tim)
tersebut sudah bisa memberikan kepuasan terhadap para pelanggan (fans dengan gelar juara),
dijamin pelanggan (fans) tersebut tidak akan beralih ke merk (tim) lain.
Kebutuhan untuk untuk gaya pada manusia modern masa kini sudah menjadi sesuatu
yang tidak bisa dielakkan lagi. Namun, apakah ketertarikan konsumen modern terhadap tren
yang berlaku merupakan sebuah fakta? Ataukah mereka sendiri yang justru menjadi tren? Tidak,
yang pasti ini merupakan sebuah perubahan sosial yang telah diprediksi oleh seorang Psikolog
asal Amerika Serikat, Abraham Maslow, yang terkenal dengan teorinya, Hierarki Kebutuhan.
Inti dari ide Maslow adalah manusia memiliki kebutuhan yang esensial yang harus dipenuhi
sebelum mereka berpikir tentang bagaimana mewujudkan kebutuhan yang ada di puncak
hierarki.
2.1.3 Media Massa
Media Massa merupakan sarana komunikasi yang digunakan untuk berkomunikasi
dengan publik. Media Massa merupakan produk dari Komunikasi Massa yang sudah sama-sama
Mereka bisa mengetahui apa saja yang terbaru dari tim favorit mereka, siapa pemain baru yang
masuk, siapa yang keluar, siapa yang cedera, bagaimana pendapat sang pemain tentang jalannya
liga, dan sebagainya. Lebih dari itu, mereka bisa menggunakan media baru seperti internet untuk
membantu mereka melengkapi atribut-atribut tim yang mereka miliki seperti seragam klub dan
berbagai merchandise lainnya.
Dalam kasus fans karbitan, untuk mereka yang tidak mengetahui apa yang terjadi dengan
timnya di masa lalu –masa dimana mereka belum menjadi fans- , mereka mencari informasi
mengenai tim yang mereka idolai dengan menggunakan internet. Sehingga ketika ia
membicarakan mengenai timnya, ia akan terlihat hebat karena mengetahui detil-detil yang terjadi
di masa lampau. Media massa seperti internet memang menjadi cara ampuh bagi para fans
karbitan untuk menyembunyikan kedangkalan (pengetahuan) mereka tentang tim yang mereka
idolai. Karena dengan internet, mereka bisa mencari langsung data yang ingin mereka ketahui
dengan mengetik keyword pada laman web yang mereka gunakan.
Selain itu, media sosial menjadi perangkat yang tak bisa dilepaskan dari proses interaksi
antar sesama penggemar sepak bola.
2.1.4 Identitas Diri
Manusia cenderung mempersepsikan dan menggolongkan diri mereka berdasarkan
identitas personal dan sosial mereka. Lebih lanjut teori identitas sosial menyatakan ketika
dibandingkan kelompok lain, maka hal ini akan meningkatkan self-image mereka sendiri,
(Jacobson, 2006). Ketika seseorang mengidentifikasikan mereka sebagai bagian dari satu
kelompok, mereka akan menganggap bahwa kelompok mereka berbeda dengan kelompok lain. 9
Pengaruh identitas sosial terhadap perilaku individu. Identitas sosial sangat berkaitan dengan
persepsi, karena dalam proses identitas sosial peran persepsi sangat penting. Keterikatan individu
dalam suatu kelompok secara tidak langsung akan mempengaruhi persepsinya terhadap
kelompok sendiri dan kelompok lain atau dikenal. Sedangkan menurut Hogh & Vaughan (2002),
menyatakan bahwa identitas sosial adalah konsep diri suatu individu yang diperoleh dari presepsi
keanggotaannya pada kelompok sosial.
Demikian juga dengan tren sepak bola yang sedang berlaku saat ini. Kebanyakan
masyarakat ikut menjadi fans sebuah klub (baru jago), seperti Barcelona, Manchester City, dan
lainnya, karena tim-tim tersebut sedang ramai diperbincangkan di media dengan prestasi yang
cukup signifikan yang mereka tunjukkan beberapa musim terakhir. Mereka merasa, menjadi
bagian dari tim-tim yang sedang dalam puncak penampilan merupakan suatu kebanggan dan
akan terlihat keren di mata pendukung lain. Itulah sebabnya kemudian orang-orang mulai
mengidentifikasi diri mereka sesuai dengan tim-tim tersebut. Mereka mulai memakai
atribut-atribut berupa jersey,10 jaket, dan pernak-pernik lainnya. Kalau bukan krena tren, tidak mungkin
antusiasme masyarakat untuk ikut menjadi bagian dari tim tertentu akan sebesar sekarang.
Atribut seperti jersey dan jaket menjadi tren baru di kalangan masyarakat meskipun tidak semua
yang memakainya mengerti tentang tim yang seragamnya sedang mereka pakai. Jangankan untuk
mengerti tentang tim, tentang sepak bola-pun mereka hanya tahu sebatas pemain yang sering
mereka lihat di televisi. Ketidaktahuan mereka tentang sepak bola dan tim disebabkan karena
kurangnya mereka mendalami sepak bola dan tim yang mereka idolakan. Hal ini bisa
dikarenakan kurangnya dalamnya identifikasi diri mereka terhadap sebuah tim. Hanya sebatas
punya seragam saja bukan berarti orang tersebut bisa disebut sebagai fans sejati karena ukuran
fans sejati tidak bisa diukur dari berapa banyak atribut yang mereka punya, akan tetapi
kedalaman identifikasi itu sendiri. Kurangnya identifikasi diri bisa disebabkan karena sebagian
besar fans karbitan hanya melihat tim dari piala, dan kemenangan yang diraih.11
Identifikasi diri bisa dilakukan dengan mulai mencoba mendekatkan diri kita terhadap
tim yang kita dukung. Tidak hanya sekedar memiliki banyak atribut tim tertentu, kita bisa
memulai dengan tahu sejarah tim yang kita dukung, kapan saja tim itu bertanding, siapa saja
pemainnya, dan yang terpenting jangan hanya menilai tim berdasarkan performa dan piala.12
Karena dengan begitu, identifikasi diri kita terhadap tim tidak akan pernah jadi lebih dalam.
Kedalaman identifikasi diri terhadap klub bisa menentukan sejauh mana loyalitas fans tersebut
terhadap tim yang mereka dukung.13
2.1.5 Teori Konflik
Konflik menurut pengertiannya adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial
tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, akan tetapi terjadi
akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi yang berbeda dengan kondisi semula14.
Sedangkan menurut Karl Marx, Menurut Karl Marx dalam semua lapisan masyarakat terdapat
dua kelompok sosial utama: kelas penguasa dan kelas subjek. Kelas penguasa memperoleh
kekuasannya dari kepemilikan dan kontrol kekuatan-kekuatan produksi. Kelas penguasa
mengeksploitasi dan menindas kelas subjek. Akibatnya ada konflik dasar kepentingan antara dua
kelas15.
Sementara yang terjadi di dunia sepak bola, konflik-konflik juga sering terjadi. Terutama
konflik yang melibatkan dua kubu pendukung tim sepak bola. Konflik-konflik banyak berasal
dari rivalitas antar kelompok suporter tesebut. Namun tidak hanya konflik antar suporter tim
rival saja yang terjadi. Perselisihan antara fans yang disebabkan oleh fans karbitan juga sering
terjadi. Banyak dari fans loyal yang merasa terganggu dengan adanya fans karbitan yang
menurut mereka menggangu. Dianggap menggangu karena para karbitan ini mengolok-olok fans
loyal yang penampilan timnya sedang menurun.
14 Bernard Raho,Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007. hlm. 54
2.2.1 Kategori Fans Olahraga
16
16 Smith, Aaron C.T. Introduction of Sports Marketing. Burlington: Elsevier, 2008.
Tipe
Motivasi
Perilaku
Aficionado Melihat dari kualitas performa/ permainan Senang mengikuti
pertandingan daripada tim
Walaupun terkadang punya
tim favorit tertentu
Tergabung dalam
kelompok fans
Theatregoer Mencari hiburan Cukup loyal terhadap satu
tim
Ingin timnya menang Loyal terhadap tim
Loyalitas jangka pendek
Ingin tim-nya menang Loyalitas jangka pendek
Hanya loyal ketika tim
Ingin tim-nya menang Loyal walapun jarang
menonton pertandingan
Identifikasi cukup kuat
Hanya mendukung karena
Bab III
3 Reduksi data menjadi angka-angka Deskripsi naratif/kata-kata, ungkapan atau
pernyataan
8 Desain/kontrol statistik atas variabel
Pada penelitian kali ini, peneliti akan melakukan pendekatan kualitatif untuk mengambil
data dari informan yang akan dijadikan sumber data untuk penelitian kali ini. Pemilihan metode
kualitatif sebagai metode penelitian dikarenakan pada penelitian kali ini, peneliti tidak akan
merinci secara jelas, dan hasil sebenarnya dari penelitian ini baru akan diketahui setelah
penelitian selesai. Penelitian kualitatif lebih tertuju pada pencapaian pemahaman mendalam
mengenai suatu fenomena khusus yang terjadi. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk
menjelaskan secara terstuktur dan sistematis tentang kronologi dan tatanan lain yang terdapat di
dalam kasus yang sedang diteliti. Penelitian ini bersifat fleksibel sehingga peneliti bisa mendapat
hal-hal baru sejalan dengan berlangsungnya sebuah penelitian. Penelitian kualitatif bertujuan
untuk menggali lebih dalam tentang apa yang sebenarnya terjadi dan tersembunyi yang
melatarbelakangi suatu tindakan manusia. Pemaknaan perilaku ini tidak bisa begitu saja digali
dilakukan dalam metode kuantitatif. Tujuan utama dari kualitatif adalah memahami obyek,
namun tidak membuat generalisasi, akan tetapi justru melakukan ekstrapolasi atau perluasan data
dari bentuk awal, namun tetap mengikuti pola awal yang ada. Selai itu, kualitatif mengutamakan
makna, makna bisa dilihat berdasarkan persepsi terhadap suatu fenomena yang sedang terjadi.
Misalnya penelitian terhadap para glory hunters dalam dinamika supporter sepak bola si
dunia. Peneliti menggali informasi dari si fans karbitan ini untuk mencari tahu alasan
ketertarikan mereka terhadap suatu klub, mengapa kriteria tim idola bagi mereka hanya diukur
berdasarkan prestasi semata, dan sebagainya. Selain itu, sebagai penyeimbang, peneliti juga
menggali data dari fans lain yang loyal terhadap klub pujaanya, apa pandangan mereka tentang
para fans karbitan ini, dan sebagainya.
Menurut Creswell (2009), pendekatan kualitatif adalah pendekatan untuk membangun
pernyataan pengetahuan berdasarkan perspektif-kontruktif (misalnya, makna-makna yang
bersumber dari pengalaman individu, nilai-nilai sosial dan sejarah, dengan tujuan untuk
membangun teori atau pola pengetahuan tertentu), atau perspektif-partisipatori. Sementara itu
menurut Bogdan & Taylor (1990), penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan berperilaku
yang dapat diamati yang diarahkan pada latar dan individu secara holistik. Secara harfiah,
kualitatif adalah jenis penelitian yang mengharamkan presedur juantifikasi seperti statistik dan
cara-cara lainnya yan gmenjadikan grafik angka sebagai tolok ukur penelitian. Kualitas, hanya
Begitu juga penelitian yang kini sedang peneliti lakukan. Penelitian kali ini bersifat
deskriptif tentang pengamatan terhadap perilaku para glory hunters serta apa yang
melatarbelakangi seseorang bisa menjadi demikian. Kronologi dan tahapan-tahapan seseorang
menjadi glory hunters akan dijabarkan melalui penjelasan yang runut dan sistematis. Pada
penelitian kali ini akan dijelaskan bagaimana awal ketertarikan seseorang terhadap sebuah tim,
lalu kemudian seberapa konsisten mereka mendukung klub tersebut walaupun tim yang
didukung sedang tidak dalam performa bagus, dan mengapa mereka dengan begitu mudahnya
langsung mendukung tim yang menanjak grafik prestasinya dalam beberapa tahun terakhir.
3.2 Strategi Penelitian
Bentuk strategi pengumpulan data dalam metode kualitatif tidak hanya terdiri dari satu
jenis saja. Ada Teknik Wawancara Langsung, Teknik Observasi, FGD atau focus group
discussion, Teknik Dokumen, dan Triangulasi. Dalam mengumpulkan data selama penelitian berlangsung, peneliti akan Teknik Observasi Tidak Berstruktur dan Teknik Dokumentasi.
3.2.1
Observasi Tak Berstruktur
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis
tentang apa yang akan diobservasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti
tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan
instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan. Peneliti belum tahu
pengamatan bebas, mencatat apa yang tertarik, melakukan analisis dan kemudian dibuat
kesimpulan
Pemilihan tenik observasi tidak berstruktur bertujuan untuk mengamati perilaku para fans
karbitan ini secara utuh tanpa mereka tahu sedang diteliti. Karena dengan begini, orisinalitas
perilaku mereka akan terlihat dengan jelas dan alamiah. Selain itu, para fans karbitan ini tidak
menerima sebutan yang dialamatkan kepada mereka. Mereka tidak merasa sebagai fans karbitan,
karena menurut mereka, mendukung suatu klub tidak bisa dilihat sejak kapan mereka
mendukung, namun dilihat sampai berapa lama mereka bisa mendukung tim tersebut. Peneliti
akan memperhatikan bagaimana perilaku bersepakbola dari seseorang yang sudah peneliti
tetapkan menjadi sumber data primer.
3.2.2 Teknik Dokumentasi
Kemudian peneliti akan menggunakan teknik dokumentasi dalam mengumpulkan data untuk
penelitian kualitatif ini. Teknik Dokumentasi adalah cara yang paling sederhana dan terbilang
mudah untuk meneliti para fans karbitan ini. Karena data-data mengenai fans karbitan beserta
teori yang mengkerangkainya tersedia dalam banyak sumber. Dokumen merupakan catatan
peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya
monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah
kehidupan, kritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya
foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni,
yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari
3.2.2
Wawancara
Wawancara mendalam adalah proses percakapan dengan maksud untuk mengkonstruksi
mengenai orang, kejadian, kegiatan organisasi, motivasi, perasaan, dan sebagainya yang
dilakukan dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dengan
orang yang diwawancarai (interviewee). (Bungin, 2007:155)
Wawacara dilakukan secara intensif. Tujuannya adalah untuk mendapat informasi mendalam
mengenai sampel/ informan yang sedang diteliti. Pertanyaan bisa disesuaikan dengan informasi
yang ingin diperoleh dari informan.
3.3 Subjek Penelitian
Subjek penelitian pada penelitian kali ini terfokus kepada perilaku para fans sepak bola
yang ada di Indonesia, namun secara umum peneliti juga akan mengambil sampel sekunder dari
fans sepak bola yang ada di berbagai berlahan dunia. Pada penelitian kali ini, peneliti akan terjun
langsung ke para fans sepak bola yang ada di sekitar peneliti, sehingga bisa dipastikan data yang
diambil memiliki akurasi yang tinggi.
3.3.1 Obyek Penelitian
Obyek penelitian kali ini akan mengambil sampel dari para fans sepak bola yang ada di
3.4
Unit Analisis Data & Pengumpulan Data
Analisa data dalam penelitian kualitatif bertujuan untuk pengorganisasian data, pencarian
pola, yang mencoba untuk menemukan apa yang penting dan dapat dipelajari serta memutuskan
apakah layak atau tidak untuk diperlihatkan kepada orang lain. Dalam analisis ini juga termasuk
pertanyaan-pertanyaan terhadap obyek yang dituju untuk mendapat gambaran tentang obyek
penelitian.
Analisis ini ditujukan untuk menganalisis infomrasi tentang perilaku para fans karbitan
yang ada di Indonesia. Dengan menggunakan teknik analisis deskriptif peneliti dapat mengetahui
apakah data yang ditemukan sesuai atau tidak dengan kenyataan.
3.4.1 Validitas dan Otentitas Data
Untuk menguji vadilitas dan otentitas dalam penelitian ini digunakan penelitian kualitatif
yang disebut triangulasi. Menurut Edgley yang terjemahkan dalam bukunya Deddy Mulyana
“Triangulasi seyogianya digunakan, karena tidak ada suatu metode tunggal pun yang
menunjukan ciri-ciri relevan realitas empiris yang diperlukan untuk membangun suatu teori”.
(Deddy Mulyana, Metode Penelitian Kualitatif, 2001:189)
Dalam menilai kevadilitasan dan kualitas sebuah riset terletak pada kesahihannya atau
vadilitas data yang dikumpulkan selama riset. Riset kualitatif terletak pada proses sewaktu
Triangulasi Sumber
Membandingkan atau mengecek ulang derajat kepercayan informasi yang
diperoleh dari sumber yang berbeda. Misalnya, membandingkan hasil pengamatan
dengan wawancara, membandingkan apa yang ikatan umum dengan apa yang dikatakan
pribadi.
Triangulasi Waktu
Berkaitan dengan perubahan suatu proses dan perilaku manusia, karena perilaku
manusia dapat berubah setiap waktu. Karena itu periset perlu mengadakan observasi tidak
hanya satu kali.
Triangulasi Teori
Memanfaatkan dua atau lebih teori untuk diadu atau dipadu. Untuk itu diperlukan
rancangan riset, pengumpulan data, dan analisis data yang lengkap supaya hasilnya
komprehensif.
Triangulasi Periset
Menggunakan lebih dari satu periset dalam mengadakan observasi atau
wawancara. Karena masing-masing periset mempunyai gaya, sikap, dan persepsi yang
berbeda dalam mengamati fenomena, maka hasil pengamatannya bisa berbeda meski
fenomenannya sama. Pengamatan dan wawancara menggunakan dua periset akan
menentukan kriteria atau acuan pengamatan dan wawancara. Kemudian hasil pengamatan
masing-masing ditentukan.
Triangulasi Metode
Usaha mengecek keabsahan data atau mengecek keabsahan temuan riset.
Triangulasi metode dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu teknik
pengumpulan data untuk mendapatkan yang sama. (Kriyantono, 2006:70-71). Triangulasi
dibutuhkan karena peneliti menggunakan wawancara dan observasi sebagai metode untuk
menjaring data. Menurut Rachmat Kriyantono dalam buku “Riset Komunikasi”, yaitu
Dalam riset sosial, seorang periset tidak harus meriset seluruh objek yang dijadikan
pengamatan. Hal ini disebabkan keterbatasan yang dimiliki periset, baik biaya, waktu,
atau tenaga. Kenyataannya periset dapat mempelajari, memprediksi, dan menjalankan
sifat-sifat suatu objek atau fenomena hanya dapat mempelajari dari objek atau fenomena
tersebut. Sebagian dari keseluruhan objek atau fenomena yang akan diamatai inilah yang
disebut sampel. (Kriyantono, 2006:156)
Jenis Data
Sumber Data
Responden
Data Primer Fans sepak bola Observasi Tak Berstruktur
Sekunder Literatur Dokumen
3.4.2.1 Data Primer
Pada proses pengumpulan data penelitian kali ini, peneliti akan mengambil data primer
dengan teknik wawancara, observasi tak berstruktur, dan dokumen. Peneliti memperoleh data
dengan pengamatan langsung, menperhatikan, dan mencatat hasil-hasil yang didapatkan dari
teknik pengambilan data yang peneliti lakukan. Dengan metode tersebut, akan terkumpul data
yang berkaitan dengan kasus yang sedang diteliti.
3.4.2.1 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber sekunder. Data ini juga dapat
diperoleh dari data primer penelitian terdahulu telah ditelaah lebih lanjut menjadi bentuk-bentuk
seperti table, grafik, diagram, gambar dan sebagainya sehingga menjadi inforatif bagi pihak lain.
(Kriyantono, 2007:43).Data sekunder bisa digunakan untuk menjadi pelengkap data primer.
Sekumpulan orang yang disebut fans karbitan, bagi peneliti terbilang cukup familiar.
Karena dunia sepak bola merupakan salah satu dunia yang paling dekat dengan kehidupan
peneliti. Ada banyak sampel yang bisa diambil dan dijadikan data penelitian kali ini. Namun,
bukan berarti, penelitian ini tidak menemukan kendala. Penelitian ini tidak bisa dilakukan dalam
waktu singkat. Idealnya, butuh bertahun-tahun untuk menemukan secara langsung dan konkrit
realitas dari para fans karbitan yang gonta-ganti klub kesayangan tergantung dari mentereng atau
tidaknya prestasi tim tersebut. Karena, butuh waktu untuk menciptakan euforia tim yang sedang
berjaya, minimal bisa dilihat dari hasil akhir klasemen liga pada akhir musim kompetisi. Selain
itu, tidak adanya bukti artifaktual untuk membuktikan seseorang merupakan fans karbitan atau
bukan, karena bisa saja orang itu memang pendukung setia suatu klub.
4.1 Hasil Penelitian
Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan dengan narasumber, dapat diambil
kesimpulan bahwa fenomena sepak bola sekarang ini merujuk pada tim-tim yang sedang
menanjak performanya. Tim-tim seperti Real Madrid, Atletico Madrid, Bayern Munich dan
lainnya banyak menghiasi headline pada surat kabar di berbagai belahan dunia. Sepak bola pada
saat sekarang ini tidak bisa dilepaskan dari tren. Tidak dapat dipungkiri bahwa sepak bola
sekarang memang sedang hype di masyarakat.
Maraknya nobar, bersamaan dengan bombardir media yang sangat besar mengenai
pemberitaan terhadap tim-tim Eropa, memicu munculnya “anak baru” di kalangan konsumen
sepak bola. Ketidaktahuan para “anak baru” ini mengenai sepak bola, membuat mereka secara
mendadak memilih tim yang ingin mereka jadikan tim idola. Kurangnya kedalaman identifikasi
mereka terhadap tim sepak bola membuat mereka hanya mengambil satu tolok ukur untuk
memilih tim. Gelar juara. Ya, gelar juara, dan performa gemilang memang menjadi tolok ukur
yang umum digunakan oleh para fans karbitan dalam memilih sebuah tim. Karena memang tidak
ada faktor yang lain yang mungkin mereka ketahui. Pengetahuan tentang tim di masa lalu? Nol
besar. Fokus mereka hanya pada penampilan tim yang menurut mereka sedang bagus
penampilannya.
Selain itu, ketertarikan seseorang terhadap sepak bola, bisa berawal dari seorang pemain.
Seperti dua orang narasumber yang saya waancarai, keduanya menyatakan hal yang sama perihal
awak ketertarikan mereka terhadap sepak bola. Ridwan misalnya, ia mengaku awal
Manchester United melawan Chelsea, pada pertandingan itu ia menyaksikan seorang Ruud van
Nistelrooy yang menjadi pahlawan kemenangan MU 3-2 atas Chelsea. Dari situlah kemudian
dirinya mulai tertarik terhadap sepak bola, terutama Manchester United. Serupa tapi tak sama
dilontarkan oleh Nidhal, narasumber saya yang kedua. Ia jatuh cinta terhadap Chelsea pada
pandangan pertama ketika melihat pria Italia, Gianfranco Zola, bemain untuk The Blues.
Namun, kedua narasumber saya membantah jika tolok ukur mereka dalam mencintai klub sepak
bola hanya berdasarkan pemain. Menurut mereka, sebagai seorang fans, loyalitas merupakan hal
paling penting.
Meskipun pemain favorit mereka pindah ke tim lain, namun jika mengaku sebagai
penggemar suatu klub, kita harus terus mendukung klub tersebut baik di saat kalah, maupun
menang. Ketika menyebut diri kita sebagai fans, menang kalah bukan menjadi faktor utama
dalam mendukung suatu klub. Karena ketika kita merasa harus ganti mendukung klub lain ketika
klub idola kita main buruk, kita bukan seorang fans, melainkan hanya penonton. Ketika ditanya
mengenai hubungan antara performa tim yang menurun dan jumlah fans yang berkurang, Nidhal
punya komentarnya sendiri, “Kalo (fans) plastik, mungkin berkurang”, jawabnya. “Yaa,, kaya
orang-orang ngefans gara-gara cuma pas menang doang. Ya kaya karbitan-karbitan gitu lah”,
tambahnya. Fans karbitan, fokus utama penelitian ini memang ada di kalangan pecinta sepak
bola. Namun, seperti yang sudah peneliti jelaskan di atas, agak sulit memnedakan secara kasat
mata, mana fans karbitan mana yang bukan. Selain itu juga mereka menolak jika disebut sebagai
fans karbitan. “Iya, mereka malu untuk mengakuinya”, komentar Ridwan mengenai fans
karbitan. Menurut mereka (para fans), mendukung suatu klub jangan dilihat dari kapan mereka
Dunia sepak bola memang selalu menarik perhatian orang. Tua muda, pria wanita,
semuanya tahu sepak bola. Bahkan untuk orang yang sama sekali tidak mengerti tentang sepak
bola, setidaknya mereka bisa menyebutkan satu nama pesepak bola. Ini artinya sepak bola
merupakan olahraga paling dikenal di muka bumi.
Banyaknya orang yang menyukai sepak bola menunjukan betapa sepak bola dianggap
sebagai suatu hal yang wajib diketahui. Namun, dari sini kita bisa melihat bahwa banyak
bermunculan sekelompok orang yang kemudian mengaku sebagai fans dari klub tertentu.
Kemudian karena kurangnya pengetahuan bagaimana harus bersikap sebagai seorang fans,
mereka hanya memandang menang dan kalah sebagai faktor penting dalam mendukung klub
sepak bola, yang pada akhirnya mereka mengolok tim yang sedang dalam performa menurun.
Merekalah yang kini oleh para pecinta disebut fans karbitan, plastik, atau dadakan.
Sebenarnya agak sulit menyalahkan para fans karbitan dalam situasi seperti ini karena itu
merupakan hak masing-masing individu dalam memilih tim sepak bola. Namun jika mereka,
para fans memutuskan untuk masuk ke dunia “kesuporteran”, mereka harus konsisten
mendukung satu tim baik saat kalah maupun menang. Selain itu, para fans karbitan akan terlihat
semaikn bodoh ketika mereka mgolok-olok fans lain yang loyal dengan timnya karena
penampilan buruk yang ditunjukkan. Seperti katak dalam tempurung.
Nama : Ridwan Rizky Darmawan
Usia : 20 tahun
Pekerjaan : Mahasiswa
Ridwan merupakan seorang mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya, Program Studi
Teknik Sipil. Usianya baru menginjak 20 tahun. Alasan peneliti memilih Ridwan sebagai
narasumber dalam penelitian ini adalah karena Ridwan merupakan salah satu fans sepak bola
yang sangat fanatik terhadap klubnya, Manchester United. Seperti kebanyakan fans bola lainnya,
Ridwan selalu antusias jika membahas sepak bola, terutama Liga Inggris yang merupakan
kompetisi tim favoritnya bermain.
Dalam wawancara yang telah dilakukan, Ridwan menjabarkan pandangannya mengenai
persepakbolaan dunia sekarang ini, mulai dari fans,klub, dan permasalahan fans karbitan.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang bisa menyukai sepak bola, mulai
dari pemain, hingga memang orang tersebut menyukai klub sebagai identitas.
Nama : Nidhal Akbar
Usia : 21 tahun
Pekerjaan : Mahasiswa, Anggota CISC Tangerang Selatan
Nidhal Akbar nama lengkapnya, minatnya terhadap sepak bola dimulai ketika duduk di
termasuk fans yang vokal di kampus. Hampir di setiap kesempatan ia selalu membahas tim
favoritnya, Chelsea, klub yang ia idolai dengan alasan karena berwarna biru, warna favoritnya.
Selain itu, peneliti menganggap Nidhal merupakan orang yang tepat dan sesuai dengan bahasan
yang sedang peneliti garap karena ia dapat menyerap maksud yang peneliti tanyakan sehingga
peneliti tidak perlu menjelaskan lebih lanjut setiap pertanyaannya.
4.3 Analisis Deskriptif Teori
4.2.1 Teori Fenomenologi
Fenomena merupakan sebuah gejala yang timbul dalam realita masyarakat yang sekarang
ini sedang terjadi. Untuk melihat dan memahami sebuah fenomena secara langsung, diperlukan
sebuah kacamata teori, yaitu fenomenologi. Kajian fenomena di sini berfokus untuk melihat
bagaimana kegilaan masyarakat terhadap sepak bola yang sedang menanjak popularitasnya.
Sepak bola sejatinya di Indonesia memang dikenal sebagai olahraga semua kalangan,
namun sekarang ini berbeda kasusnya. Jika dulu bisa kita bedakan dengan jelas mana penggemar
bola mana bukan dari atribut yang mereka kenakan. Dulu, jika kita melihat sesorang memakai
seragam tim sepak bola, itu artinya dia adalah fans dari sebuah tim yang secara mendalam sangat
tahu mengenai sepak bola. Kini, kita tidak bisa membedakan secara kasat mata mana yang fans
bola dan mana yang bukan hanya dari jersey yang ia kenakan. Hari ini banyak orang-orang yang
Inilah yang kemudian -bagi fans bola- dikenal sebagai glory hunter, fans plastik, atau fans karbitan.
Mengapa kini tren sepak bola begitu merebak di masyarakat? Kita semua sepakat bahwa
kembali naiknya euforia sepak bola dalam negeri berawal dari ciamiknya penampilan Timnas
Indonesia pada gelaran AFF 2010 di Jakarta. Saat itu, Irfan Bachdim dkk hampir
mempersembahkan gelar bagi bumi pertiwi andai saja tidak takluk dari Malaysia dengan
aggregat 4-2 di babak final. Dari situlah kemudian marak diadakannya nobar atau nonton bareng
di berbagai daerah di Indonesia. Namun justru nobar yang kini sering diadakan adalah nobar
pertandingan liga-liga di Eropa seperti Premier League di Inggris, La Liga di Spanyol, dan Serie
A di Italia.
Menurut kedua narasumber yang telah saya wawancarai, keduanya sepakat bahwa
fenomena sepak bola sekarang ini didominasi tingginya minat masyarakat terhadap tim yang
sedang naik daun. Terutama dua minggu ke depan, publik dunia tengah bersiap menyambut
perhelatan sepak bola terbesar di planet ini, Piala Dunia 2014 di Brazil. Sepeti yang dikatakan
Nidhal,“Yaa,, rame sih gara-gara adanya World Cup sama lagi menjelang-menjelang Liga
Champions yang udah mulai,, mungkin beberapa hari lagi”, umbuhnya.
4.2.2 Teori Brand
Brand, menurut pengertiannya adalah kumpulan merk atau janji penjual untuk
menyampaikan kumpulan sifat, manfaat, dan jasa spesifik secara konsisten kepada pembeli
(Kotler, Armstrong, 1997). Setiap brand pasti memiliki pangsa pasar masing-masing, dan dari
jenisnya, ada yang setia dan ada yang tidak. Bila seseorang sudah merasa puas dengan suatu
merk, pasti iya akan terus menggunakan merk tersebut. Bahkan jika sudah merasa lebih dekat,
pelanggan akan mengidentifikasikan dirinya sebagai pengguna dari merk tersebut, dan tidak akan
beralih ke merk lain.
Begitu juga yang terjadi di sepak bola. Seorang “pelanggan”, dalam hal ini seorang fans,
ada yang loyal dan ada yang tidak. Jika dia seorang fans setia, akan terus mengidentifikasikan
dirinya sebagai bagian dari tim tertentu jika ia merasa nyaman dengan atribut yang ia kenakan
tentang klub. Apapun yang terjadi dengan tim favoritnya. Sebaliknya jika ia bukan fans setia,
atau karbitan, ia akan senantiasa gonta-ganti klub idola sesuai dengan tim mana yang sedang
dalam performa bagus. “Kalo plastik, mungkin (jumlah fansnya) berkurang, kaya orang-orang
ngefans gara-gara cuma pas menang doang. Ya kaya karbitan-karbitan gitu lah”, komentar
Nidhal, ketika ditanya mengenai fans karbitan.
4.2.3 Media Massa
Media massa menjadi medium nomor satu dalam mengakses informasi mengenai tim
yang sedang tren. Bentuk yang biasanya diakses oleh para fans sepak bola bisa berupa berita
televisi, berita internet, media sosial, koran, dan lain-lain. Namun dari kesemua media massa,
yang paling sering digunakan adalah media sosial dan internet. Kemudahan akses yang tersedia
pada internet memungkinkan para fans sepak bola mengakses berita sepak bola kapanpun, dan
dimanapun. Alasan lain penggunaan media sosial adalah jauhnya jarak antara seorang fans dan
sana, jauh di Inggris dan kita kan di Indonesia, jauh banget”, komentar Nidhal mengenai
penggunaan internet untuk mengakses berita mengenai tim favoritnya.
Hampir sama dengan Nidhal, Ridwan juga sering mengakses media massa untuk mencari
tahu informasi terbaru mengenai tim favoritnya. “Gua biasanya lewat internet, media sosial juga
sih lewat facebook, gua buka fans page-nya United, itu gua liat berita-berita update-nya tentang
tim gua kaya gimana”, komentarnya.
4.2.4 Identitas Diri
Ketika seseorang mengidentifikasikan mereka sebagai bagian dari satu kelompok, mereka
akan menganggap bahwa kelompok mereka berbeda dengan kelompok lain. 17 Pengaruh identitas
sosial terhadap perilaku individu. Identitas sosial sangat berkaitan dengan persepsi, karena dalam
proses identitas sosial peran persepsi sangat penting. Keterikatan individu dalam suatu kelompok
secara tidak langsung akan mempengaruhi persepsinya terhadap kelompok sendiri dan kelompok
lain atau dikenal.
Begitu juga dengan fans sepak bola. Seorang fans, akan merasa memiliki ikatan dengan
fans dari klub yang sama meskipun mereka tidak saling mengenal. Mereka akan memiliki
kebanggaan tersendiri ketika menunjukkan kepada orang lain bahwa ia merupakan bagian dari
tim tertentu. Cara menunjukan kepada orang lain ia bagian dari fans tertentu bisa dengan
berbagai cara, mulai dari memakai seragam tim, memasang poster di kamar, membicarakan
tentang tim dimanapun berada, dan sebagainya.
Seperti Nidhal yang mengaku sebagai fans Chelsea misalnya, ia bisa menunjukkan
kepada orang lain identitasnya sebagai fans Chelsea dengan cara memakai seragam tim,
membicarakan tentang tim favoritnya di setiap kesempatan, dan selalu membanggakan timnya.
“Yaa gua sering banget pake baju Chelsea, atau ya gua kemana-mana, juga pasti gua ngomongin
bola dan gua pasti bakal ngomongin Chelsea”, jelasnya dengan penuh antusias.
4.2.5 Teori Konflik
Dalam teori ini, konflik yang terjadi lebih kepada ketidaknyamanan para fans loyal atas
kehadiran para fans karbitan. Sebenarnya jika dikatakan menggangu, tidak juga demikian karena
para fans loyal, meskipun merasa terusik, memilih untuk tidka menanggapi ocehan para fans
karbitan. Seperti yang dikatakan Ridwan, “Glory hunter ya..ya menurut gua sih itu hak mereka
lah, untuk jadi orang-orang kaya gitu, tapi jangan berharap ngomongin bola sama gua, karena
gua gak suka”, imbuhnya. Ridwan juga menyatakan bahwa fans karbitan memiliki pengetahuan
yang dangkal tentang sepak bola dan timnya. “Ehh ketika dia bawel, bangga-banggain timnya,
apalagi dia fans baru, sedangkan pas ditanya tentang sejarah tim itu kaya gimana dia gak bisa
jawab, ya itu udah bego banget”, tambahnya. Serupa tapi tak sama, Nidhal juga merasa
demikian. Namun, kendati sedikit terganggu, fenomena ini menurutnya bisa jadi ajang
penelanjangan mereka tentang sepak bola. Justru dengan begitu, kita semakin bisa membedakan
mana fans loyal, mana bukan. “Yaaa,, nggak ngeganggu banget sih, malah kocak bisa gua
kata-katain juga orang kaya gitu tapi ya, ya gak asik aja dia gak punya tim yang dicintai banget”,
Bab V
5.1 Kesimpulan
Fenomena sepak bola yang kini berjalan dengan pesat, berbanding lurus dengan
pertumbuhan masyarakat yang menyukai sepak bola. Hal ini semakin memungkinkan semakin
mudahnya akses berita mengenai sepak bola. Berbanding lurus dengan hal itu, semakin banyak
pula masyarakat yang tertarik dengan sepak bola. Bahkan, orang-orang yang sama sekali tidak
mengerti tentang sepak bola, bisa memiliki rasa penasaran dengan sepak bola. Saat ini, euforia
akan sepak bola sedang dalam level yang cukup tinggi, terutama menjelang Piala Dunia yang
akan dilaksanakan pertengahan tahun nanti. Di samping itu, liga-liga besar Eropa baru saja
menyelesaikan rangkaian pertandingan mereka.
Ekspos media akan sepak bola dari Eropa sangat besar porsinya, bahkan lebih besar dari
sepak bola dalam negeri. Hal positif yang timbul dari fenomena ini adalah sepak bola semakin
dicintai semua kalangan, namun negatif-nya, sembarangan orang bisa mengaku sebagai fans
sepak bola. Bukankah itu hak masing-masing individu untuk suka atau tidak terhadap sepak
bola? Ya. Namun masalah tidak berhenti di situ, para fans yang secara tiba-tiba mengaku sebagai
fans ini, mengusik fans lain dengan mengolok-olok mereka dan timnya yang bermain buruk.
Sekelompok fans inilah yang kemudian disebut dengan fans karbitan. Sebenarnya mudah sekali
mencari jawaban mengapa hal ini terjadi. Semua itu karena kurangnya kedalaman rasa memiliki
si fans, terhadap klub yang diidolakan. Mereka asal pilih tim mana saja yang sedang bermain
mencemooh tim itu karena bermain buruk. Bukankah sebagai fans, harus mendukung tim baik di
saat menang atau kalah?
Ketika membicarakan suka atau tidak suka terhadap suatu klub sepak bola, sekali lagi
peneliti tegaskan, itu hak masing-masing fans. Namun dibutuhkan lebih dari berharap tim yang
kita dukung menang. Kita harus selalu ada untuk tim baik di saat menang atau kalah. Jika masih
memikirkan menang atau kalah, jangan mengaku sebagai fans, itu artinya kita masih menjadi
penonton, bukan pendukung atau penggemar. Masalah yang sering muncul dari para fans
karbitan adalah mereka hanya mendukung tim ketika menang saja. Ketika tim bermain buruk,
tak segan mereka bisa menyerang secara verbal tim yang didukung. Bahkan bisa bertindak
anarkis. Hal yang sebaliknya terjadi jika tim idola mereka sedang dalam tren kemenangan
beruntun, mereka langsung membanggakan tim mereka secara berlebihan dan pada saat yang
bersamaan mereka mencemooh tim lain yang sedang bermain buruk atau kalah. Ini sangat
menggangu fans lain yang sudah loyal terhadap tim idolanya masing-masing. Para fans loyal
merasa, para fans karbitan ini telah “kurang ajar” dan tidak tahu diri. “Ngomong, ngomong gede,
tapi mereka tuh,, eehhh, banyak tim yang dia pegang, ngerti gak? Ya jadi kaya, dia gak punya
tim yang dia idolain banget, dia ganti-ganti pokoknya dia cuma dukung siapa yang menang”,
komentar salah satu narasumber, Nidhal Akbar.
5.2 Saran
Dalam kacamata peneliti, sebagai seseorang yang mengaku sebagai pecinta bola, kita
tetap harus menunjung tinggi nilai kebersamaan dan sportivitas agar dapat bersaing secara sehat
berkomitmen untuk mendukung klub yang kita bela karena mendukung tim berbicara tentang
loyalitas dan kedewasaan kita sebagai seorang fans. Seorang fans, harus bisa selalu hadir
bersama tim baik di saat kalah atau menang. Tidak peduli seberapa terpuruk tim yang dibela.
Kita lihat yang terjadi di Istanbul tahun 2005. Pada malam itu, pertandingan final Liga
Champions antara AC Milan dan Liverpool. AC Milan unggul cepat pada menit pertama, dan
menutup babak pertama dengan skor 3-0. Pada saat semua terlihat menjadi milik AC Milan,
ribuan fans Liverpool yang hadir di stadion tidak henti-hentinya bernyanyi. Lagu You’ll Never
Walk Alone berkumandang keras di Attaturk Stadium. Hasilnya pada babak kedua, Liverpool berhasil menyamakan kedudukan hanya dalam waktu enam menit. Pertandingan berlanjut ke
babak adu penalti dengan Liverpool berhasil meraih trofi Liga Champions kelima mereka18. Ini
merupakan bukti nyata betapa dukungan para fans sangat berarti bagi tim. Seterpuruk apapun
penampilan sebuah tim, jika suporter selalu ada di belakang para pemain untuk mendukung, pada
saat yang bersamaan para pemain akan merasa termotivasi untuk tidak mengecewakan fans yang
telah percaya dan mendukung mereka, seburuk apapun penampilan mereka.
Daftar Pustaka
Smith, Aaron C.T. Introduction of Sports Marketing. Burlington: Elsevier, 2008.
t.thn. uefa.com. Diakses Juni 1, 2014. http://www.uefa.com/uefachampionsleague/season=2004/
Schlabach, Jamie. "Living in a Social World ." In-group, Out-group Bias, 1998
2013. Jabuli. 23 Januari. Diakses Mei 26, 2014. http://jabuli.wordpress.com/2013/01/23/teori-konflik-sosial/.
Johnston, David. "Consumer Loyalty Among Sport Fans." n.d.
Bernard Raho,Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007. hlm. 54
Littlejohn, Stephen W. 2008. Teori Komunikasi, Theories of Human Communication. Jakarta: Salemba Humanika
2009. The magic year: Barça win six cups. 2008. http://www.fcbarcelona.com/club/history/detail/card/2009-the-magic-year-barca-win-six-cups (accessed November 16, 2013).
1Indonesia FC Barcelona Fans Club. Mei 1, 2013. http://www.indobarca.org/organisasi/sejarah/ (accessed
November 25, 2013