2.2 Landasan Teori
2.2.3 Teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF)
Teori lain yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF) yang dikemukakan oleh Halliday. Hal ini didasarkan oleh karena teori LSF ini merupakan teori linguistik yang paling relevan dengan penerjemahan. Di samping itu, fungsi bahasa menurut Halliday juga akan dikemukakan pada bagian ini mengingat bahwa kajian penerjemahan dan teori LSF melibatkan bahasa.
Selain itu, teori Linguistik Sistemik Fungsional merupakan teori yang memandang bahwa kajian bahasa tidak dapat terlepas dari konteksnya. Konsep LSF yang digunakan dalam penelitian ini adalah berdasarkan pandangan M.A.K. Halliday dalam bukunya yang berjudul Language as Social Semiotics yang diterbitkan tahun 1978. Buku lain yang dirujuk yaitu buku Halliday dan Hassan yang berjudul
Language, Context, and Text: Aspect of Language in a Social Semiotic Perspective
Halliday (1978:2) mengemukakan bahwa konteks sebagai wadah makna dipertukarkan tidak terlepas dari nilai-nilai sosial; dan konteks bahasa itu sendiri merupakan konstruk semiotik. Menurut Halliday bahasa sebagai semiotik sosial terdiri dari tiga unsur (tingkatan), yakni „arti‟, „bentuk‟, dan „ekspresi. Secara teknis, ketiga unsur tersebut dinamakan semantik, tata bahasa (lexicogrammar), dan fonologi (lisan), grafologi (tulisan), atau isyarat (sign).
Selanjutnya, Halliday juga memandang bahasa wujud dalam konteks sosial yang mencakup unsur situasi, budaya, dan ideologi. Dalam hal ini, hubungan bahasa dengan konteks sosial adalah hubungan yang timbal balik dengan pengertian bahwa konteks sosial menentukan bahasa dan pada gilirannya bahasa menentukan konteks sosial. Dengan kata lain, Halliday menganggap bahwa terdapat hubungan yang erat antara bahasa dan konteks.
Konteks sebagai wadah terjadinya peristiwa bahasa terdiri dari tiga lapisan, yakni konteks situasi, konteks budaya, dan konteks ideologi” (Martin dalam Lubis, 2009:23). Sehubungan dengan hal itu, Lubis menegaskan bahwa “ketiga konsep ini mengitari teks secara bertingkat dan membentuk hubungan semiotik bertingkat. Oleh sebab itu makna sebuah teks akan dipahami dengan pertama-tama memahami konteks situasi, kemudian konteks budaya, dan pemahaman terhadap konteks budaya ditentukan oleh ideologi” (Lubis, 2009: 31). Dengan demikian maka hubungan bahasa dengan konteks dapat digambarkan sebagai berikut:
Ideologi
Budaya
Situasi
Teks
Sebuah teks menurut Halliday dan Hasan (1985:8-9) adalah bahasa yang fungsional dalam konteks. Dengan kata lain, bahasa yang memberi arti kepda pemakainya disebut bahasa yang fungsional. Hal ini berarti sebuah teks merupakan unit arti atau unit semantik dan bukan unit tata bahasa. Jadi, bahasa itu berfungsi di dalam konteks sosial.
Sehubungan dengan hal tersebut, Lubis dalam disertasinya memberikan contoh sebuah tulisan pendek pada rambu lalu lintas di sebuah persimpangan jalan “Turn left at any time with care” adalah sebuah teks yang sedang berfungsi dalam konteks. Di sini konteksnya ialah jalan itu sendiri dan pemakai jalan. Namun bila tulisan yang sama ditulis pada papan tulis oleh seorang guru bahasa untuk menganalisis strukturnya, tulisan itu tentu saja bukanlah sebuah teks karena tidak sedang berfungsi (Lubis, 2009: 26). Dengan kata lain, sebuah teks itu berfungsi dalam konteks. Maka setiap teks dibentuk oleh konteks situasi. Dalam hal ini, seorang penutur dapat berbicara secara ringkas atau panjang lebar dengan cara memaksa
ataupun membujuk, tegas atau ragu-ragu, kasar atau lembut, dengan bahasa umum atau teknis dan sebagainya, masing-masing pilihan ditentukan oleh konteks situasi.
Kemudian, selain bersifat fungsional, dalam perspektif LSF, bahasa juga adalah kontekstual. Prinsip kontekstual bahasa mengimplikasikan bahwa bahasa merealisasikan dan direalisasikan oleh konteks yang berada di luar bahasa tempat bahasa itu digunakan. Halliday dan Hassan (1985:10) menambahkan bahwa bahasa adalah kontekstual karena pemahaman tentang bahasa terletak dalam kajian teks. Jadi ada teks, dan ada teks lain yang menyertainya. Teks lain inilah yang disebut dengan konteks.
Konteks dalam teori LSF terbagi atas konteks linguistik dan konteks sosial. Konteks linguistik merujuk pada bahasa itu sendiri, sedangkan konteks sosial terdiri dari konteks situasi, konteks budaya, dan konteks ideologi.
Konteks situasi menurut Halliday (1978:110) terdiri atas tiga unsur yakni:
field (apa yang sedang dibicarakan); dalam situasi atau peristiwa apa partisipan
terlibat, tenor atau siapa yang sedang berbicara atau siapa yang terlibat dalam peristiwa termasuk peranan dan status mereka, mode yaitu bagaimana pembicaraan itu dilakukan, misalnya secara lisan atau tulisan.
Dengan menggunakan kata tanya apa, siapa, dan bagaimana dapat mendeskripsikan konteks situasi menurut Halliday. Apa mengacu kepada peristiwa yang sedang terjadi, aktivitas verbal dan non verbal apa yang sedang dilakukan oleh
partisipan pada saat itu misalnya musyawarah, proses belajar-mengajar di dalam kelas, dan sebagainya. Siapa mengacu kepada partisipan apa yang terlibat dalam peristiwa verbal tersebut, bagaiman status masing-masing partisipan, peran dan sifat hubungan antara satu partisipan dan partisipan lainnya. Misalnya hubungan hirarkis seperti antara atasan dengan bawahan atau hubungan horizontal seperti antara dua orang sejawat yang memiliki hubungan yang setara. Bagaimana mengacu kepada cara apa partisipan melakukan aktivitas verbal tersebut, misalnya dengan menggunakan bahasa lisan atau tulis, hanya satu orang yang berbicara (monolog) seperti pidato, khotbah, dalam bentuk interaksi di antara sesama partisipan (dialog), dan gaya bahasa yang dipakai (formal atau tidak formal). Dalam hal ini, yang menjadi objek kajian penelitian adalah konteks situasi yang terfokus kepada unsur tenor (siapa/pelibat/partisipan). Untuk meneliti unsur tenor atau pelibat wacana ini perlulah
kita mengetahui fungsi bahasa.
Selanjutnya peneliti memilih menggunakan teori LSF ini adalah pertama-tama karena teori ini merupakan teori yang memandang bahwa kajian bahasa itu tidak terlepas dari konteksnya. Berkaitan dengan penelitian ini, kajian penerjemahan (translasi) juga tidak terlepas dari kajian terhadap teks dan konteks. Selain itu, topik penelitian ini berfokus kepada unsur tenor (pelibat wacana) yang mana unsur tersebut terdapat dalam bahasa dilihat dari konteks sosialnya, yakni konteks situasi. Selanjutnya adanya konsep yang menyatakan bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari konteksnya dan kajian penerjemahan adalah kajian yang melibatkan dua bahasa
yang juga berkaitan erat dengan konteks bahasa tersebut membuat peneliti menjadikan teori LFS ini sebagai teori pendukung dalam penelitian ini. Dengan kata lain, menurut peneliti, untuk memahami bahasa dan penerjemahan, maka sebaiknyalah memahami konteksnya terlebih dahulu.