• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Teori Manajemen Kebidanan

Manajemen Kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah. Proses penatalaksanaan asuhan kebidanan atau manajemen kebidanan merupakan langkah-langkah yang berurutan dimulai dari pengumpulan data dasar dan diakhiridengan evaluasi (Rismalinda, 2014). Dalam penyusunan studi kasus ini, penulis akan menerapkan manajemen kebidanan asuhan yang diberikan kepada ibu hamil dengan abortus imminens menggunakan 7 langkah varney yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang terjadi dan bagaimana asuhan yang diberikan kepada ibu hamil dengan abortus imminens. Proses menurut Varney memiliki 7 langkah yang dimulai dari pengumpulan data dasar sampai pada evaluasi asuhan yang diberikan. Dimana 7 langkah Varney tersebut adalah :

1. Langkah I : PENGKAJIAN

Pengkajian adalah langkah pertama yang dipakai dalam menerapkan asuhan kebidanan yang bertujuan untuk mengumpulkan semua informasi

yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien (Rismalinda, 2014).

a. Data Subyektif

Data subyektif adalah data yang berhubungan atau masalah dari sudut pandang pasien. Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan keluhan yang dicatat sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang akan berhubungan langsung dengan diagnosis (Rismalinda, 2014). Data subyektif pada kasus abortus imminens adalah ibu mengeluh nyeri perut bagian bawah, mules-mules, dan mengeluarkan darah sedikit-sedikit (Rukiyah, 2014).

1) Identitas Klien dan suami menurut (Romauli,2011) a) Nama

Untuk dapat mengenal atau memanggil nama ibu dan bapak untuk mencegah kekeliruan bila ada nama yang sama. b) Umur

Dalam waktu reproduksi sehat, dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun.

c) Agama

Dalam hal ini berhubungan dengan perawatan penderita yang berkaitan dengan ketentuan agama.

d) Suku bangsa

Untuk mengetahui kondisi sosial budaya ibu yang mempengaruhi perilaku kesehatan.

e) Pendidikan

Untuk mengetahui tingkat intelektual, tingkat pendidikan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang.

f) Pekerjaan

Hal ini untuk mengetahui taraf hidup dan sosial ekonomi agar nasehat kita sesuai.

g) Alamat

Untuk mengetahui ibu tinggal dimana, menjaga kemungkinan bila ada ibu yang namanya bersamaan.

2) Keluhan utama

Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan (Romauli, 2011). Adapun keluhan pada kasus abortus imminens adalah nyeri perut bagian bawah, mulas-mulas, keluar darah sedikit-sedikit (Rukiyah, 2014).

3) Riwayat menstruasi

Data ini digunakan untuk mendapatkan gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksi pasien. Beberapa data yang diperoleh dari riwayat menstruasi adalah menarche, siklus menstruasi, volume darah yang menunjukkan berapa banyak darah menstruasi yang dikeluarkan (Romauli, 2011).

4) Riwayat hamil ini

Untuk mengetahui hari pertama haid terakhir, hari perkiran lahir, umur kehamilan sekarang, jenis kehamilan, jenis persalinan yang lalu, komplikasi persalinan dan keadaannya (Mufdillah, 2009).

5) Riwayat penyakit

a) Riwayat penyakit sekarang

Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan

adanya penyakit yang diderita pada saat ini yang ada hubungan pada saat kehamilan (Ambarwati dan Wulandari, 2009).

b) Riwayat penyakit sistemik

Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya riwayat atau penyakit akut, atau kronisseperti : jantung, DM, asma, hipertensi (Ambarwati dan Wulandari, 2009). c) Riwayat penyakit keluarga

Beberapa data penting tentang riwayat kesehatan pasien yang perlu diketahui adalah apakah pasien pernah atau sedang menderita penyakit, seperti jantung, diabetes mellitus, ginjal, hipertensi, dan hepatitis (Romauli, 2011). d) Riwayat keturunan kembar

Untuk mengetahui ada tidaknya keturunan kembar dalam keluarga (Sulistyawati, 2009).

e) Riwayat operasi

Untuk mengetahui riwayat operasi yang pernah dijalani ibu (Nugroho, 2011).

6) Riwayat perkawinan

Untuk mengetahui usia nikah pertama kali, status nikah syah atau tidak, lama pernikahan, ini suami yang ke berapa (Sulistyawati, 2009).

7) Riwayat keluarga berencana

Untuk mengetahui alat kontrasepsi apa yang dipakai dan berapa lama memakai alat kontrasepsi dan apakah ada keluhan selama menggunakan kontrasepsi (Ambarwati& Wulandari, 2009). 8) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yanglalu

Informasi essensial tentang kehamilan terdahulu mencakup bulan dan tahun kehamilan tersebut berakhir, usia gestasi pada saat itu, tipe persalinan, lama persalinan, berat lahir, jenis kelamin, dan komplikasi lain, kesehatan fisik, dan emosi terakhir harus diperhatikan (Romauli, 2011).

9) Pola kebiasaan sehari-hari a) Nutrisi

Ini penting untuk diketahui supaya kita mendapatkan gambaran bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya selama hamil. Kita bisa menggali dari pasien tentang

makanan yang disukai dan yang tidak disukai (Romauli, 2011).

b) Eliminasi

Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan buang air besar meliputi frekuuensi, jumlah, konsistensi, dan bau serta kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna dan jumlah (Ambarwati dan Wulandari, 2009).

c) Istirahat

Untuk mengetahui kebiasaan ibu supaya diketahui hambatan ibu yang mungkin muncul jika didapatkan data yang senjang tentang pemenuhan kebutuhan istirahat (Romauli, 2011). Pada abortus imminens dianjurkan istirahat atau tirah baring secara total.

d) Hubungan seksual

Untuk menggali aktifitas seksual seperti frekuensi berhubungan dalam seminggu dan gangguan/keluhan apa yang dirasakan (Romauli, 2011).

e) Personal hygiene

Data ini perlu dikaji karena bagaimanapun, kebersihan akan

mempengaruhi kesehatan pasien dan janinnya (Romauli, 2011).

f) Aktivitas

Mengkaji kebiasaan sehari-hari pasien karena data ini memberikan gambaran tentang seberapa berat aktivitas yang bisa dilakukan oleh pasien dirumah (Romauli, 2011). g) Perokok dan pemakaian obat-obatan

Merokok, minum alkohol, dan minum obat-obatan tanpa indikasi perlu untuk diketahui (Sulistyawati, 2009).

h) Psikososial budaya

Untuk mengetahui pasien dan keluarga yang menganut adat istiadat yang akan menguntungkan atau merugikan khususnya pada masa hamil, misalnya pada kebiasaan pantangan makanan (Ambarwati & Wulandari, 2009). b. Data Obyektif

Data obyektif adalah data berasal dari hasil observasi yang jujur dari pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan diagnostik lainnya (Rismalinda, 2014).

1) Status Generalis

Untuk mengetahui keadaan baik yang normal maupun menunjukkan kelainan, yaitu meliputi :

a) Keadaan umum

Untuk mengetahui keadaan umum ibu dan tingkat kesadaran pasien meliputi tekanan darah, suhu, nadi dan

pernafasan (Mufdillah, 2009). Pada kasus abortus imminens keadaan umum pasien adalah lemah (Rukiyah, 2014). b) Kesadaran

Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien (Sulistyawati, 2009). Pada kasus abortus imminens kesadaran pasien adalah composmentis (Rukiyah, 2014). c) Tekanan darah

Tekanan darah dikatakan tinggi bila lebih dari 140/90 mmHg (Romauli, 2011).

d) Nadi

Untuk mengetahui nadi pasien yang dihitung dalam waktu 1 menit, dalam keadaan santai denyut nadi ibu sekitar 60-80 x/menit (Romauli, 2011).

e) Respirasi

Untuk mengetahui fungsi sistem pernafasan, normalnya 16-24x/menit (Romauli, 2011).

f) Suhu

Suhu tubuh yang normal 36-37,5oC (Romauli, 2011). g) Tinggi badan

Untuk mengetahui tinggi badan pasien kurang dari 145 cm atau tidak, termasuk resti atau tidak (Romauli, 2011).

h) Berat badan

Untuk mengetahui penambahan berat badan ibu. Normalnya berat badan tiap minggu adalah 0,5 kg dan penambahan berat badan selama hamil 6,5 sampai 16,5 kg (Romauli, 2011).

i) LILA

Pada bagian kiri: LILA kurang dari 23,5 cm merupakan indikator kuat untuk status gizi ibu kurang/ buruk (Romauli, 2011).

2) Pemeriksaan sistematis

Pemeriksaan dengan melihat dari ujung kaki sampai ujung rambut (Romauli, 2011).

a) Kepala

(1) Rambut

Untuk mengetahui apakah rambutnya bersih atau kotor, pertumbuhan, warna, mudah rontok atau tidak (Romauli, 2011).

(2) Muka

Keadaan muka pucat atau tidak, adakah kelainan, adakah oedema (Romauli, 2011).

(3) Mata

Bentuk simetris, konjungtiva normal merah muda, bila pucat menandakan anemia. Sklera normal berwarna

putih, bila kuning menandakan ibu mungkin terinfeksi hepatitis (Romauli, 2011).

(4) Hidung

Normal, tidak ada polip, kelainan bentuk, kebersihan cukup (Romauli, 2011).

(5) Telinga

Untuk mengethui telinga normal atau tidak, ada serumen yang berlebihan atau tidak, tidak berbau, bentuk simetris (Romauli, 2011).

(6) Mulut/gigi/gusi

Untuk mengetahui apakah ada sariawan atau tidak, apakah ada caries, dan keadaan gusi (Romauli, 2011). b) Leher

Untuk mengetahui apakah ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, dan tidak ditemukan bendungan vena jugularis (Romauli, 2011).

c) Dada dan axilla

Untuk mengetahui ada tidaknya benjolan atau massa pada payudara, hiperpigmentasi areola, puting susu bersih dan menonjol (Romauli, 2011).

(1) Mammae

Untuk mengetahui adanya pembesaran atau tidak, simetris atau tidak, puting susu menonjol atau tidak, adanya benjolan atau tidak (Mufdillah, 2009).

(2) Axilla

Untuk mengetahui adanya pembesaran atau tidak, nyeri tekan atau tidak (Mufdillah, 2009).

d) Ekstermitas

Dikaji ekstermitas atas dan bawah. Atas dikaji ada atau tidak gangguan/ kelainan dan bentuk. Bawah dikaji bentuk, oedema, dan varices (Sulistyawati, 2009).

3) Pemeriksaan khusus Obstetri (Lokalis) a) Abdomen

(1) Inspeksi

Memeriksa dengan cara melihat atau memandang. Tujuannya untuk melihat keadaan umum pasien meliputi, rambut, muka, mata, hidung, telinga, mulut, gigi, leher, dada, abdomen, vagina, anus dan ekstermitas (Romauli, 2011).

(2) Palpasi, menurut ( Romauli, 2011) yaitu :

(a) Leopold I : untuk mengetahui tinggi fundus uteri dan bagian yang berada di fundus. Pada kasus abortus

imminens tinngi fundus uteri sesuai umur kehamilan (Maryunani, 2009). (b) Leopold II : untuk mengetahui batas kiri/kanan

pada uterus ibu yaitu punggung pada letak bujur dan kepala pada letak lintang

(c) Leopold III : untuk mengetahui presentasi atau bagian terbawah janin yang ada di sympisis ibu.

(d)Leopold IV : untuk mengetahui seberapa masuknya bagian bawah janin kedalam rongga panggul.

(3)Auskultasi

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendengarkan denyut jantung bayi meliputi frekuensi dan keteraturannya (Romauli, 2011).

b) Pemeriksaan panggul

Untuk mengetahui ukuran distantia spinarum, distantia kristarum, conjugata eksterna, dan lingkar panggul (Mufdillah, 2009).

c) Anogenital

Untuk mengetahui adanya varices atau tidak, mengetahui adanya pembengkakan kelenjar bartholini, mengetahui

pengeluaran yaitu perdarahan dan flour albus (Prawirohardjo, 2009). Vulva vagina pada abortus imminens tidak ada oedema dan varices pada vagina. Pada kasus abortus imminens dilakukan pemeriksaan dalam yang didapatkan hasil berupa ostium uteri eksternum (OUE) tertutup, Gestasional Sac (GS) masih utuh sehingga tidak ada cairan amnion ataupun jaringan yang keluar, fetus masih hidup (Nugroho, 2012).

4) Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang adalah pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan laboratorium, rontgen, dan USG (Astuti, 2012). Pemeriksaan penunjang pada abortus imminens dengan menggunakan USG untuk mendeteksi adanya GS dan keadaan janin(Nugroho, 2012). Hasil pemeriksaan USG pada abortus imminens adalah buah kehamilan masih utuh, dan ada kehidupan janin (Rukiyah, 2014).

2. Langkah II : INTERPRETASI DATA

Interpretasi data adalah langkah kedua yang dilakukan untuk mengidentifikasi yang benar terhadap diagnosis/masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas dasar data-data yang telah dikumpulkan (Rismalinda, 2014)

a) Diagnosa Kebidanan

Diagnosa yang ditegakkan oleh profesi (bidan) dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur (tata nama) diagnosis kebidanan (Rismalinda, 2014). Diagnosa yang dapat ditegakkan pada kasus abortus imminens yaitu Ny.X G...P....A....Umur ...Tahun Umur kehamilan...minggu dengan abortus imminens.

b) Data dasar

(1) Data Subyektif

Data yang berhubungan atau masalah dari sudut pandang pasien. Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan keluhan yang dicatat sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang akan berhubungan langsung dengan diagnosis (Rismalinda, 2014). Data subyektif pada kasus abortus imminens adalah nyeri perut bagian bawah, mules-mules, keluar darah sedikit-sedikit (Rukiyah, 2014).

(2) Data Obyektif

Pendokumentasian hasil observasi yang jujur, hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan dignostik lain (Rismalinda, 2014).

Menurut Rukiyah (2014), data obyektif yang didapatkan pada kasus abortus imminens adalah :

(b) Kesadaran composmentis (c) Tanda- tanda vital

(d) Tinggi fundus uteri sesuai umur kehamilan (e) Pengeluaran pervaginam berupa bercak darah

(f) Pemeriksaan USG buah kehamilan masih utuh dan ada kehidupan janin

(g) Pemeriksaan abdomen

(1)Palpasi : Leopold 1: Tinggi fundus uteri sesuai kehamilan

c) Masalah

Masalah adalah permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan pasien (Ambarwati dan Wulandari, 2009).

Masalah pada abortus imminens adalah perasaan cemas karena ada rasa mules/kontraksi dan mengalami perdarahan bercak (Maryunani, 2009).

d) Kebutuhan

Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya. Kebutuhan pasien pada kasus abortus imminens adalah dorongan moral dan memberikan informasi tentang abortus imminens (Sulistyawati, 2009).

3. Langkah III : DIAGNOSA POTENSIAL

Dalam langkah ini digunakan untuk mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa

yang telah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, bidan dapat bersiap-siap bila diagnosis atau masalah potensial benar-benar terjadi (Rismalinda,2014). Pada kasus ibu hamil dengan abortus imminens diagnosa potensial yang kemungkinan dapat terjadi pada ibu hamil adalah abortus inkomplit (Rukiyah, 2014).

4. Langkah IV : ANTISIPASI

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lainnya sesuai dengan kondisi klien. Data baru dikumpulkan dan dievaluasi kemungkinan bisa terjadi kegawatdaruratan dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu dan anak (Rismalinda, 2014).

Pada abortus imminens perlu tindakan segera yang dilakukan pada kasus abortus imminens adalah bedrest total (istirahat) (Rukiyah, 2014). Serta melakukan kolaborasi dengan dr. SpOG untuk pemberian sedative, tokolisis dan progesteron, preparat hematimik (Maryunani, 2009).

5. Langkah IV : PERENCANAAN

Pada langkah ini melakukan perencanaan menyeluruh yang merupakan kelanjutan dari manajemen terhadap diagnosis atau masalah yang telah diidentifikasi atau diantisipasi (Rismalinda, 2014).

Menurut Nugroho (2011), asuhan kebidanan yang dilakukan untuk abortus imminensyaitu :

a. Istirahat ditempat tidur, agar aliran darah ke uterus meningkat dan rangsang mekanik berkurang.

b. Pemeriksaan USG.

c. Penderita bisa pulang setelah perdarahan pervaginam berhenti dengan hasil dari pemeriksaan kehamilan baik.

d. Bila perlu diberi penenang phenobarbital 3x30 mg/hari, dan spasmolitika misalnya papaverin atau tokolitik per infus atau peroral. e. Menganjurkan untuk kontrol kembali 2 minggu kemudian.

6. Langkah VI : PELAKSANAAN

Rencana asuhan yang menyeluruh dilakukan secara efisien dan aman. Pada saat bidan berkolaborasi untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka bidan bertanggung jawab terhadap pelaksanaannya rencana asuhan yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang efisien akan menyingkat waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien (Rismalinda, 2014).

Menurut Nugroho (2011), pelaksanaan asuhan kebidanan yang dilakukan untuk abortus imminens yaitu :

a. Istirahat ditempat tidur, agar aliran darah ke uterus meningkat dan rangsang mekanik berkurang.

b. Pemeriksaan USG.

c. Penderita bisa pulang setelah perdarahan pervaginam berhenti dengan hasil dari pemeriksaan kehamilan baik.

d. Bila perlu diberi penenang phenobarbital 3x30 mg/hari, dan spasmolitika misalnya papaverin atau tokolitik per infus atau peroral. e. Menganjurkan untuk kontrol 2 mingu kemudian.

7. Langkah VII: EVALUASI

Melakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan sesuai dengan kebutuhan sebagaimana yang telah teridentifikasi didalam masalah dan diagnosis (Rismalinda, 2014).

Menurut Rukiyah (2014), hasil evaluasi atas pelaksanaan yang dilakukan yaitu kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan. Halam kondisi ini, ditandai dengan perdarahan yang terhenti, servik tertutup, uterus sesuai usia gestasi, tidak ada kontraksi.

DATA PERKEMBANGAN

Menurut Rismalinda (2014), data perkembangan untuk asuhan kebidanan menggunakan metode SOAP, yaitu :

S : Subyektif

Data yang berhubungan atau masalah dari sudut pandang pasien. Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan keluhan yang dicatat sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang akan berhubungan langsung dengan diagnosa.

O : Obyektif

Pendokumentasian hasil observasi yang jujur, pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan diagnostik lain.

A : Assessment

Pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi dari data subyektif dan data obyektif.

P : Planing

Membuat rencana asuhan saat ini dan akan datang,untuk mengusahakan tercapainya kondisi pasien yang sebaik mungkin atau menjaga atau mempertahankan kesejahteraannya.

Dokumen terkait