BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Perilaku Keselamatan Kerja
3. Teori (Model) ABC
Sebuah alat manajemen keselamatan yang dibutuhkan untuk menemukan dan mengatasi akar kecelakaan adalah hal yang penting. Semua upaya keselamatan yang berorientasi pada perilaku harus disadari apakah sudah efektif mempengaruhi perilaku karyawan. Hal ini sama pentingnya bahwa sebagian besar organisasi memiliki jumlah insentif perilaku yang sangat kuat mendukung perilaku berisiko. Analisis perilaku terapan yang membantu organisasi untuk menilai faktor-faktor yang diterapkan dalam upaya meningkatkan keselamatan ini dikenal sebagai analisis atau model ABC (Krause, 1997).
Model ini menyediakan fondasi yang kuat dari teknologi perubahan perilaku. Dalam model ini yang merupakan anteseden adalah segala sesuatu yang dapat memicu terjadinya perilaku atau perilaku yang dapat diamati. Sedangkan konsekuensi adalah setiap peristiwa yang mengikuti perilaku tersebut (Krause, 1997).
Sebaliknya anteseden menimbulkan perilaku tertentu karena memprediksi konsekuensi. Ini adalah tujuan dari model ABC untuk menemukan anteseden dan konsekuensi yang mempengaruhi perilaku tertentu. Dimana kinerja keselamatan yang bersangkutan ini berarti mencari tahu mana anteseden dan konsekuensi yang faktual yang mempengaruhi perilaku di tempat kerja. Singkatnya, model ABC melibatkan prinsip-prinsip berikut (Krause, 1997):
• Anteseden dan konsekuensi melakukannya dengan sangat berbeda,
• Konsekuensi mempengaruhi perilaku dengan kuat dan langsung, dan
• Anteseden mempengaruhi perilaku tidak langsung, terutama melayani untuk memprediksi konsekuensi.
Model ABC menetapkan bahwa perilaku dipicu oleh satu set anteseden (sesuatu yang mendahului perilaku dan kausal terkait dengan perilaku) dan diikuti oleh konsekuensi (hasil perilaku bagi individu) yang menambah atau mengurangi kemungkinan bahwa perilaku tersebut akan diulang. Analisis ABC memfasilitasi cara untuk mengidentifikasi mengubah perilaku untuk mengatur ulang dan merubah pola anteseden dan konsekuensi untuk meningkatkan frekuensi perilaku yang diinginkan (Fleming dan Lardner, 2002).
Anteseden atau aktivator ini dipengaruhi oleh tata nilai, sikap maupun kesadaran diri perilaku. Aktivator ini mengarahkan dilakukannya suatu perilaku/behavior. Perilaku ini dapat berbentuk: 1) perilaku aman atau tak aman, 2) melanggar atau patuh aturan/prosedur/standar. (Gunawan, 2013). Psikolog perilaku menggunakan istilah anteseden untuk pemicu yang terjadi sebelum perilaku dan konsekuensi bagi mereka yang mengikuti perilaku. Anteseden adalah peristiwa yang mendahului perilaku dan meminta atau isyarat terjadinya perilaku.
Konsekuensi terjadi bila ada peristiwa yang mengikuti perilaku dan kemungkinan berpengaruh bahwa perilaku akan terjadi lagi di bawah kondisi – kondisi anteseden di masa depan. Konsekuensi dapat
memperkuat atau melemahkan perilaku. Hal ini dikuatkan dengan adanya dua arah panah antara konsekuensi dan perilaku pada gambar dan itu menunjukkan bahwa konsekuensi mempengaruhi kemungkinan bahwa perilaku akan terjadi lagi. Dengan kata lain, konsekuensi dapat meningkatkan kemungkinan bahwa perilaku akan terjadi lagi di bawah kondisi yang sama atau konsekuensi dapat mengurangi kemungkinan bahwa perilaku akan terjadi lagi di bawah kondisi yang sama (McSween, 2003). Hubungan anteseden, perilaku, dan konsekuensi ditunjukkan pada gambar diagram di bawah ini:
sumber: McSween, 2003
ABC model digunakan untuk mempromosikan perilaku sehat dan selamat. Sebagai contoh, analisis ABC dapat dilakukan untuk menyelidiki mengapa para pekerja tidak menggunakan alat pelindung telinga (APT) saat bekerja di area bising dan dapat digunakan untuk mempromosikan cara penggunaan alat pelindung telinga mereka untuk mengurangi kerusakan pendengaran (Fleming dan Lardner, 2002).
a. Anteseden
Anteseden merupakan sesuatu yang mendahului dan memicu terjadinya perilaku, anteseden memiliki keduanya yaitu pengaruh langsung
Consequences Behavior
dan tidak langsung pada perilaku. Anteseden yang sangat kuat adalah sampai pada tahap dapat memprediksi konsekuensi (Krause, 1997).
Anteseden mencakup peraturan dan prosedur, peralatan dan perlengkapan yang sesuai, informasi keselamatan, keterampilan, pelatihan, dan lainnya (Fleming dan Lardner, 2002). Aktivator juga dapat mencakup hal-hal seperti tanda-tanda keselamatan, pertemuan dan peraturan (Williams, 2011). Selain itu, guna menegakkan aturan di tempat kerja, maka jenis kontrol berupa pengawasan perlu dilakukan untuk mencegah pekerja terluka (Roughton dan Mercurio, 2002).
Anteseden ini tidak menjadi jaminan perilaku akan terjadi. anteseden ini dapat dicontohkan misalnya dengan adanya peraturan dan prosedur keselamatan belum tentu perilaku yang aman akan terjadi. Anteseden yang diperlukan untuk memunculkan perilaku dapat terjadi namun pengaruhnya tidak cukup untuk memastikan perilaku tersebut dapat bertahan selamanya. Untuk mempertahankan perilaku dalam jangka panjang juga dibutuhkan konsekuensi yang signifikan untuk individu (Fleming dan Lardner, 2002).
b. Perilaku
Perilaku dalam model ABC ini adalah perilaku yang nampak atau kelihatan. Perilaku ini merupakan frase ungkapan yang digunakan untuk perilaku tidak aman untuk mengidentifikasi tindakan yang dapat diamati dari pekerja yang menempatkan mereka pada risiko cedera (Krause, 1997).
Sedangkan istilah perilaku kritis mengacu pada perilaku yang penting untuk keselamatan. Ketika melakukannya dengan selamat, perilaku kritis dapat mencegah cedera. Ketika melakukannya berisiko, perilaku kritis terdapat paparan cedera (Krause, 1997). Perilaku kritis yang terdiri dari perilaku aman dan perilaku tidak aman berpedoman berdasarkan jenis-jenis perilaku Frank E. Bird dan Germain.
c. Konsekuensi
Konsekuensi adalah sesuatu atau peristiwa yang mengikuti perilaku. Konsekuensi memiliki pengaruh langsung pada perilaku, lebih kuat dari pengaruh tidak langsung dari pendahulunya. Konsekuensi yang dilakukan soon – certain – positive consequence memiliki efek paling kuat untuk aplikasi industri dan bisnis (Krause, 1997). Berikut merupakan tiga fitur yang menentukan konsekuensi yang paling efektif menurut (Krause, 1997):
Waktu, konsekuensi yang segera mengikuti perilaku berpengaruh lebih efektif daripada konsekuensi yang muncul belakangan.
Konsistensi, konsekuensi yang pasti mengikuti perilaku berpengaruh lebih kuat daripada konsekuensi tak terduga/tidak dapat diprediksi
Signifikansi, konsekuensi positif berpengaruh lebih kuat daripada konsekuensi negatif
Frekuensi perilaku dapat ditambah atau dikurangi dengan mengubah konsekuensi dari perilaku tersebut. Konsekuensi pada umumnya
ada dua jenis yaitu penguatan dalam meningkatkan perilaku dan hukuman untuk menurunkan perilaku. Selain itu, ada pula yang menjelaskan bahwa ada tiga jenis utama dari konsekuensi yang mempengaruhi perilaku, antara lain adalah penguatan positif, penguatan negatif, dan hukuman. Penguatan positif dan penguatan negatif dapat meningkatkan terjadinya perilaku terulang, sementara hukuman mengurangi kemungkinan perilaku akan terulang (Fleming dan Lardner, 2002).
Konsekuensi ini dapat digunakan secara terpisah atau bersama-sama untuk mengubah perilaku. Menurut Fleming dan Lardner (2002), frekuensi seorang manajer dalam melakukan inspeksi melalui survei dapat ditingkatkan dengan:
Penguatan positif : atasan memuji manajer setelah melakukan inspeksi
Penguatan negatif: menghindari ejekan dari rekan-rekan bila tidak melakukan inspeksi
Hukuman: bonus manajer berkurang jika inspeksi tidak dilakukan. Meskipun penguatan positif dan penguatan negatif meningkatkan frekuensi kemunculan perilaku, keduanya tidak menghasilkan hasil yang sama. Penguatan negatif menghasilkan perilaku untuk menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan. Penguatan positif menghasilkan perilaku yang lebih dari yang diinginkan, dengan kata lain mempengaruhi penilaian individu. Upaya ini dilakukan untuk memunculkan perilaku agar perilaku muncul dari keinginannya bukan karena suatu keharusan (Fleming dan Lardner, 2002).
Penguatan dan hukuman ditentukan oleh efeknya. Jadi, jika konsekuensi tidak dapat mengurangi frekuensi perilaku bukan merupakan hukuman dan jika tidak dapat meningkatkan frekuensi perilaku bukan merupakan penguatan. Bahkan, tindakan yang sama bisa menjadi penguat untuk seseorang dalam satu situasi dan hukuman. Selain itu, konsekuensi pun dapat menimbulkan dampak yang bertentangan dengan efek yang diinginkan. Hal ini dikarenakan karena dampak konsekuensi pada perilaku tidak ditentukan oleh tindakan tertentu atau tujuan seseorang berperilaku tetapi oleh orang yang melakukan perilaku tersebut.
Sebagai contoh, seorang manajer ingin memperhatikan dan menghargai sebuah karyawan karena keterlibatan mereka dalam proyek perbaikan keselamatan. Dia mengundang karyawan untuk makan malam dan upacara penghargaan serta memberi hadiah tiket permainan golf di akhir pekan untuk dua orang. Meskipun niat manajer tersebut untuk memberikan penguatan positif, tetapi hadiah tersebut tidak memiliki efek yang diharapkan karena kemungkinan karyawan tersebut tidak memiliki orang yang bisa diajak berlibur, tidak dapat meninggalkan anaknya atau mungkin karyawan tersebut tidak bisa bermain golf (Fleming dan Lardner, 2002).
Berdasarkan gambaran contoh di atas, aspek permasalahan dalam menggunakan modifikasi perilaku untuk mengubah perilaku adalah dalam memilih konsekuensi yang menurut orang lain memberikan penguatan. Hal ini karena apa yang dipikirkan oleh kita belum tentu dapat memberikan
penguatan juga terhadap orang lain. Menurut (Fleming dan Lardner, 2002) ada beberapa strategi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi penguatan agar menjadi efektif, yakni:
Melibatkan target individu atau kelompok dalam menentukan konsekuensi
Mengamati apa yang dipilih individu atau kelompok untuk dilakukan ketika mereka memiliki pilihan. Tugas kerja yang dipilih, secara aktif dapat digunakan untuk memperkuat kegiatan lain yang kurang diinginkan.
Ketika kesalahan umum yang terjadi dilakukan dengan mempengaruhi perilaku orang lain untuk menghentikannya dengan memberikan penguatan dan dorongan ketika perilaku tersebut baru muncul. Sedangkan perilaku yang baru membutuhkan waktu dalam penguatan yang konsisten selama beberapa waktu agar dapat dilakukan secara konsisten dan menjadi kebiasaan. Sebaliknya, jika penguatan cepat segera dihilangkan, perilaku yang baru terbentuk tersebut mungkin akan hilang secara perlahan (Fleming dan Lardner, 2002).