LANDASAN TEORI
B. Teori Pembiayaan Murabahah
a. Pengertian Murabahah
Secara bahasa, murabahah adalah bentuk mutual (bermakna: saling) dari kata ribh yang artinya keuntungan.8 Menurut para fuqahah, murabahah didefinisikan sebagai penjualan biaya atau harga pokok (cost) barang tersebut ditambah dengan mark-up atau margin keuntungan yang disepakati. Karakteristik murabahah adalah bahwa penjual harus memberi tahu pembeli mengenai harga pembelian produk dan menyatakan jumlah keuntungan yang ditambahkan pada biaya (cost) tersebut.9 Margin keuntungan merupakan selisih harga jual dikurangi harga asal yang merupakan pendapatan atau keuntungan bagi penjual. Akad ini merupakan salah satu bentuk natural certainty contracts, karena dalam murabahah ditentukan berapa required rate of profit-nya (keuntungan yang ingin diperoleh).10
Murabahah adalah satu jenis jual beli yang dibenarkan oleh syariah dan merupakan implementasi muamalat tijariah (interasi bisnis).11 Pada murabahah, penyerahan barang dilakukan pada saat transaksi sementara pembayarannya secara cicilan atau berangsur. Secara istiah, sebenarnya transaksi yang dilakukan dengan pembayaran tangguh disebut bai al-muajjal, sedangkan dicicil disebut bai ut-taksid.12
8
Shalah ash-Shawi dan Abdullah al-Muslih, Fikih Ekonomi Keuangan Islam (Jakarta: Darul Haq, 2004)
9
Wiroso, Jual Beli Murabahah, (Yogyakarta: UII Press, vol.1, 2005) h.13
10
Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuntungan, Ed.3 (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007) h.113
11
Ah. Lathif Azharuddin, Fiqh Muamalat, (Jakarta: UIN Jakarta Press, cet.1, 2005) h.118
12
Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI Nomor: 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah, pada bagian pertama tentang ketentuan umum murabahah dalam bank syariah:
1. Melakukan akad murabahah yang bebas riba.
2. Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syariat Islam.
3. Membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya.
4. Bank membeli barang yang dibutuhkan oleh nasabah atas nama bank sendiri, dan pembeli ini harus sah dan bebas dengan riba.
5. Bank harus menyampaikan semuanya yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara hutang.
6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai dengan harga beli ditambah keuntungannya. Dalam hal ini bank harus memberitahukannya secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.13
b. Landasan Hukum Syariah Murabahah
“…padahal Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba...” (QS. Al-Baqarah 1:275)
“… Nabi bersabda ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara
tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan jerawut
untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual…” (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib)
13
Indonesia, Fatwa Dewan Syariah Nasional tentang Murabahah, No. 04/DSN-MUI/IV/2000, bagian pertama angka 1 s/d 6.
c. Rukun dan Syarat Murabahah Rukun Murabahah: 1. Penjual (bai‟) 2. Pembeli (musytari‟) 3. Barang/objek (mabi‟) 4. Harga (tsaman) 5. Ijab qabul (sighat)14
Syarat Murabahah: 1) Syarat yang berakad
1. Cakap Hukum
2. Sukarela (ridha), tidak dalam keadaan dipaksa/terpaksa/di bawah tekanan
2) Objek yang diperjualbelikan
1. Tidak termasuk barang yang diharamkan 2. Bermanfaat
3. Penyerahan dari penjual ke pembeli dapat dilakukan 4. Merupakan hak milik penuh yang berakad
5. Sesuai dengan spesifikasi antara yang diserahkan penjual dan yang diterima pembeli.
14
3) Akad sighat
1. Harus jelas dan disebutkan secara spesifikasi dengan siapa berakad 2. Antara ijab qabul (serah terima) harus selaras baik dalam spesifikasi
barang maupun harga yang disepakati
3. Tidak mengandung klausul yang bersifat menggantungkan keabsahan transaksi pada hal atau kejadian yang akan datang
4. Tidak membatasi jangka waktu
d. Jenis-jenis Pembiayaan Murabahah
Pada pelaksanaan pembiayaan murabahah pada bank atau lembaga keuangan syariah, terdapat dua jenis pembiayaan murabahah yaitu:
1. Pembiayaan murabahah produktif
Pembiayaan murabahah pada jenis ini bertujuan dalam rangka memperlancar kegiatan produksi ini mencakup antara lain pembiayaan untuk pembelian bahan baku dan pembelian alat-alat produksi.
2. Pembiayaan murabahah konsumtif
Pembiayaan murabahah konsumtif merupakan pembiayaan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan debitor dalam rangka membeli barang atau kebutuhan konsumtif, seperti pembiayaan untuk pembelian rumah, kendaraan atau kebutuhan rumah tangga.15 Dan pada dasarnya pembiayaan murabahah konsumtif ini diberikan untuk memenuhi kebutuhan pokok nasabahnya atau memenuhi kebutuhan sehari-hari.
15
Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004) h.109-110
e. Manfaat dan Resiko Murabahah
Ba‟i al Murabahah memberi banyak manfaat bagi lembaga keuangan syariah, salah satunya adalah adanya keuntungan yang muncul dari selisish harga beli dari penjual dengan harga jual kepada nasabah. Selain itu ba‟i al murabahah juga sangat sederhana, sehingga memudahkan penanganan administrasinya di lembaga syariah tersebut.16 Selain memberikan manfaat, ba‟i al murabahah ini juga memiliki berbagai resiko yang harus diantisipasi, diantaranya:17
1. Default atau kelalaian, nasabah sengaja tidak membayar angsuran.
2. Fluktuasi harga komparatif, ini terjadi bila harga suatu barang di pasar naik setelah bank atau lembaga keuangan tersebut membeli untuk nasabah, dan bank tidak bisa mengubah harga jual beli tersebut.
3. Penolakan nasabah, barang yang dikirim bisa saja ditolak oleh nasabah karena beberapa sebab, seperti: barang rusak dalam perjalanan sehingga nasabah tidak mau menerimanya, atau spesifikasi dari barang tersebut berbeda dengan yang dipesan. Dalam hal ini bank atau lembaga keuangan tersebut telah menandatangani kontrak pembelian dengan penjualnya, maka barang tersebut menjadi milik bank atau lembaga keuangan. dengan demikian bank mempunyai resiko untuk menjualnya kepada pihak lain. 4. Dijual, karena ba‟i al murabahah bersifat jual beli dengan hutang, maka
ketika kontrak ditandatangani barang itu menjadi milik nasabah. Nasabah bebas melakukan apapun terhadap asset miliknya, termasuk untuk menjualnya.
16Muhammad Syafi‟I Antonio, Bank Syariah Suatu Pengenalan Umum, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001) h.151
17Muhammad Syafi‟I Antonio, Bank Syariah Suatu Pengenalan Umum, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001) h.151-152
f. Aplikasi dan Skema Murabahah
Secara umum aplikasi ba‟i al murabahah dapat digambarkan dalam sekema berikut ini :
Gambar 2.118
Skema Pembiayaan Murabahah
1. Negosiasi dan Persyaratan
3a. Akad Murabahah
3b. Serah terima abarang
4. Bayar Kewajiban
2. Beli Barang Tunai 3c. Kirim Barang
Keterangan:
1) Nasabah atau Mitra pembiayaan dan Bank atau Lembaga Keuangan Syariah melakukan negosiasi harga dan spesifikasi barang.
2) Bank atau Lembaga Keuangan Syariah membeli barang yang dibutuhkan nasabah atau mitra pembiayaan secara tunai kepada supplier atau penjual.
3) a) Pihak bank atau lembaga keuangan syariah dan nasabah atau mitra pembiayaan melakukan perjanjian transaksi jual beli dengan akad murabahah.
b) Terjadinya serah terima barang antara bank atau lembaga keuangan syariah dengan nasabah atau mitra pembiayaan.
18
Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Jakarta: Rajawali Press,2011) edisi.1, cet.3, h.83 Bank Syariah / Lembaga Keuangan Syariah Nasabah / Mitra Pembiayaan Supplier / Penjual
c) Supplier atau penjual mengirim barang kepada nasabah atau mitra pembiayaan.
4) Nasabah atau mitra pembiayaan membayar kewajibannya kepada bank atau lembaga keuangan syariah sesuai dengan kesepakatan.