III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Teoritis
3.1.1. Teori Penawaran dan Permintaan
Penawaran suatu komoditi baik barang maupun jasa merupakan jumlah
komoditi yang ditawarkan oleh produsen kepada konsumen dalam suatu pasar
pada tingkat harga dan waktu tertentu. Lebih lanjut dikatakan bahwa antara harga
dan jumlah yang ditawarkan ini mempunyai hubungan positif yaitu jika harga
naik maka jumlah komoditi yang ditawarkan semakin banyak. Adapun sumber
penawaran meliputi produksi pada waktu tertentu dan persediaan (stok) pada
waktu sebelumnya.
Menurut Iswardono (1994), faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran
suatu komoditi dapat digambarkan dengan fungsi sebagai berikut :
QSK = f (PK, PS, PI, G, T, TX)...(3.1)
dimana :
QSK = Penawaran komoditi
PK = Harga komoditi yang bersangkutan
PS = Harga komoditi substitusi dan komplementer PI = Harga faktor produksi
G = Tujuan perusahaan
T = Tingkat penggunaan teknologi TX = Pajak dan subsidi
1. PK = Harga komoditi yang bersangkutan
Suatu hipotesa dasar ekonomi menyatakan bahwa harga sejumlah
komoditi mempunyai hubungan positif dengan jumlah yang ditawarkan yaitu
Hal ini karena peningkatan harga komoditi menyebabkan peningkatan keuntungan yang akan memacu peningkatan produksi maupun penjualan hasil produksinya.
Jadi peningkatan harga dari suatu komoditi akan menyebabkan peningkatan
penawaran komoditi tersebut. Dengan demikian perubahan harga suatu komoditi
akan menyebabkan pergerakan sepanjang kurva penawaran.
2. PS = Harga komoditi substitusi dan komplementer
Berbagai komoditi dapat disubstitusi dan juga memiliki komoditi
pendukung, baik dalam produksi maupun konsumsi. Perubahan harga pada
komoditi substitusi dan komplementer akan mempengaruhi jumlah penawaran
pada komoditi yang bersangkutan. Peningkatan harga komoditi substitusi akan
menyebabkan berkurangnya jumlah penawaran komoditi bersangkutan. Dan
sebaliknya, penurunan harga komoditi substitusi akan menyebabkan peningkatan
jumlah penawaran komoditi yang bersangkutan. Sedangkan peningkatan harga
komoditi komplementer akan menyebabkan peningkatan jumlah penawaran
komoditi yang bersangkutan, dan sebaliknya penurunan pada harga komoditi
komplementer akan menyebabkan penurunan pula pada jumlah penawaran
komoditi yang bersangkutan.
3. PI = Harga faktor produksi
Harga suatu faktor produksi merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh
perusahaan. Dengan meningkatnya harga faktor produksi maka keuntungan yang
diterima perusahaan akan berkurang. Hal ini menyebabkan perusahaan akan
mengurangi jumlah produksinya. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan harga faktor produksi yang digunakan untuk memproduksi suatu
4. G = Tujuan perusahaan
Jumlah komoditi yang ditawarkan juga tergantung apa tujuan perusahaan.
Tujuan suatu perusahaan tidak semata-mata memaksimumkan keuntungan saja.
Jika perusahaan lebih mementingkan volume produksi, perusahaan dapat
menghasilkan dan menjual lebih banyak.
5. T = Tingkat penggunaan teknologi
Teknologi berkorelasi positif dengan jumlah yang ditawarkan. Jika
perusahaan menggunakan teknologi baru, fungsi produksi akan bergeser ke atas
yang berarti produksi meningkat dan kurva biaya akan bergeser ke bawah yang
berarti biaya produksi berkurang. Keuntungan yang akan diperoleh menjadi lebih
besar. Jadi dapat disimpulkan, jumlah komoditi yang ditawarkan dipengaruhi oleh
tingkat penggunaan teknologi dalam proses produksinya.
6. TX = Pajak dan Subsidi
Adanya pajak seperti pajak penjualan, pajak penghasilan akan
mengakibatkan kenaikan pada ongkos produksi sehingga mengurangi insentif
untuk berproduksi. Maka penawaran komoditi tersebut akan berkurang.
Sebaliknya, pemberian subsidi akan mengurangi ongkos produksi dan
meningkatkan keuntungan, sehingga penawaran komoditi tersebut akan
meningkat.
Dalam pasar persaingan sempurna dengan menganggap faktor-faktor lain
tetap (cateris paribus) kecuali harga barang atau jasa yang bersangkutan,
perubahan harga komoditi tersebut dapat menyebabkan pergerakan sepanjang kurva penawaran atau terjadi perubahan jumlah komoditi yang ditawarkan dalam
Menurut Pappas dan Hirschey (1995), permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang rela dan mampu dibeli oleh konsumen selama periode tertentu.
sebagai berikut :
QDK = f (PK, PS, I, S, PD)...(3.2)
dimana :
QDK = Permintaan Komoditi PK = Harga komoditi itu sendiri PS = Harga komoditi lain
I = Pendapatan
S = Selera
PD = Populasi Penduduk
1. PK = Harga komoditi itu sendiri
Dengan asumsi cateris paribus, peningkatan harga komoditi yang
bersangkutan akan menurunkan permintaannya, dan sebaliknya. Permintaan dan
harga komoditi yang bersangkutan memiliki hubungan yang negatif.
2. PS = Harga komoditi lain
Perubahan harga komoditi substitusi akan mempengaruhi permintaan atas
komoditi yang bersangkutan secara positif. Kenaikan harga komoditi substitusi
akan meningkatkan permintaan atas komoditi yang bersangkutan, dan sebaliknya.
Sedangkan perubahan harga barang komplementer dapat mengubah permintaan
komoditi yang bersangkutan secara negatif. Semakin tinggi harga barang
komplementer, semakin rendah permintaan atas komoditi yang bersangkutan. 3. I = Pendapatan
Kenaikan pendapatan cenderung meningkatkan permintaan untuk
4. S = Selera
Salah satu hal yang berpengaruh terhadap permintaan adalah selera.
Perubahan selera terjadi dari waktu ke waktu, dan cepat atau lambat akan
meningkatkan permintaan pada periode tertentu dan tingkat harga tertentu.
5. PD = Populasi Penduduk
Peningkatan jumlah penduduk dapat meningkatkan permintaan atas suatu
komoditi. Hal ini diakibatkan semakin banyak jumlah penduduk maka semakin
banyak konsumen yang menginginkan suatu komoditi.
3.1.2. Elastisitas
Suatu ukuran daya tanggap yang diperlukan dalam keseluruhan
pengambilan keputusan manajerial adalah elastisitas, yang didefinisikan sebagai
persentase perubahan dalam variabel dependen Y, yang dihasilkan dari perubahan
satu persen dalam nilai variabel independen X. Persamaan tersebut dapat
dirumuskan sebagai berikut :
Elastisitas Y terhadap X = persentase perubahan dalam Y persentase perubahan dalam X
Sumber : (Pappas dan Hirschey, 1995)
Menurut Tomek dan Robinson (1987), elastisitas penawaran adalah
persentase perubahan jumlah yang ditawarkan sebagai respon terhadap perubahan
satu satuan harga dengan asumsi faktor lain dianggap konstan. Bila elastisitas
bernilai nol maka jumlah yang ditawarkan tetap dan tidak ada respon kuantitas
terhadap perubahan harga. Kondisi ini disebut inelastis sempurna. Sedangkan
penawaran yang elastis memiliki nilai lebih dari satu dan persentase perubahan
kuantitasnya lebih besar daripada persentase perubahan harganya. Penawaran
tenggang waktu antara waktu menanam dengan waktu memanen sehingga jumlah yang ditawarkan tidak segera mengikuti perubahan harga yang terjadi.
Nicholson (2002) menjelaskan, nilai elastisitas penawaran terbagi menurut
rentang waktu pengambilan keputusan produsen, yaitu jangka pendek dan jangka
panjang. Jangka pendek mengacu pada periode waktu dimana produsen harus
mempertimbangan inputnya secara absolut bersifat tetap dalam mengambil
keputusan. Sebaliknya jangka panjang merupakan periode waktu dimana
produsen mempertimbangkan seluruh inputnya bersifat variabel dalam membuat
keputusan.
Sebagai contoh, elastisitas luas areal terhadap harga (EAP) adalah angka
yang menunjukkan persentase perubahan luas areal akibat perubahan harga
sebesar satu persen. Misalnya EAP bernilai 2, berarti setiap peningkatan harga
kedelai sebesar satu persen mengakibatkan perubahan peningkatan luas areal
sebesar dua persen, atau setiap penurunan harga kedelai satu persen
mengakibatkan penurunan luas areal sebesar dua persen. EAP bernilai -2, berarti
setiap peningkatan harga kedelai sebesar satu persen mengakibatkan penurunan
luas areal sebesar dua persen, atau setiap penurunan harga kedelai sebesar satu
persen mengakibatkan peningkatan luas areal sebesar dua persen.