• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Landasan Teori

2.2.5. Teori Penawaran Uang

2.2.5.1. Teori Penawaran Uang

Teori penawaran uang yang paling sederhana adalah merupakan gambaran dari sistem standar emas. Disini emas dianggap sebagai satu-satunya alat pembayaran. Uang Beredar atau uang yang ditawarkan di masyarakat.

Jumlah uang (emas) beredar bisa turun apabila, misalnya emas dikirim keluar negeri untuk menutup defisit neraca pembayaran yaitu untuk membayar barang-barang yang diekspor atau karena industri-industri yang menggunakan emas dalam proses produksinya menyedot emas yang ada sehingga mengurangi jumlah emas yang tersedia untuk alat pembayaran atau karena produksi emas meningkat (misalnya ditemukannya tambang baru).

Dalam sistem moneter seperti ini uang beredar benar-benar ditemukan oleh proses pasar. Pada suatu perekonomian tertutup yang menggunakan emas untuk alat pembayaran, penawaran uang hanya bertambah apabila orang memproduksi emas (baru). semakin bertambahnya jumlah emas yang tersedia dan sesuai dengan hukum pasar, akan menyebabkan turunnya harga emas begitu sebaliknya. Apabila harga emas turun, produksi emas berkurang atau berhenti dan ini cenderung untuk menghentikan penurunan harga. (Boediono, 1998 : 117-118).

Gambar 2 : Kurva Penawaran Uang Tingkat bunga (%)

LM

0 y0 y1 Pendapatan Nasional (Y)

Sumber : Nopirin, 1992. Ekonomi Moneter. Buku 1 hal 137 r1

2.2.5.2. Teori Penawaran Uang Modern

Dalam perekonomian modern, para produsen emas tidak lagi mempunyai peranan moneter yang penting seperti dahulu dalam sistem standar emas. Dalam sistem standar kertas, sumber dari terciptanya uang beredar adalah Otorita Moneter (pemerintah dan bank sentral) dan lembaga keuangan (keduanya bersama-sama disebut sebagai “sistem moneter”).Otorita moneter keuangan (perbankan) merupakan supplier

uang sekunder bagi masyarakat.

Proses penciptaan uang beredar adalah merupakan “proses pasar” artinya hasil interaksi permintaan dan penawaran dan bukan sekedar pencetakan uang atau suatu keputusan pemerintah belaka. Misalnya pada suatu waktu permintaan akan uang inti tidak “klop” dengan penawaran uang inti, maka para pelaku dalam pasar uang masing-masing akan melakukan “penyesuaian” berupa tindakan-tindakan di sub-pasar uang inti sehingga akhirnya terjadi keseimbangan antara permintaan dan penawaran. (Boediono, 1998: 121).

Tindakan-tindakan ini tidak lain berupa usaha dari para pelaku tersebut untuk mengubah struktur dan komposisi dari kekayaan yang ia pegang menuju ke arah struktur dan komposisi yang ia inginkan.

Seandainya pasar uang inti dari otorita moneter kepada masyarakat, misalnya pemerintah tiba-tiba menaikkan pembelanjaa karena kenaikan gaji pegawai Negeri. Pada putaran pertama, tambahan uang inti tersebut akan diterima oleh masyarakat dalam bentuk tambahan uang tunai (kartal) yang mereka pegang. Tindakan penyesuaian mereka adalah menyimpan

kelebihan uang tunai berarti cadangan bank menjadi lebih besar dari sebelumnya. Bank merasa kelebihan cadangan (uang tunai), kemudahan mereka mungkin menanamkan kelebihan cadangan tersebut untuk membeli SBI.

Kita lihat bahwa tambahan-tambahan uang inti yang berawal dari pemerintah (otorita moneter), kembali kepada Bank Indonesia (otorita moneter)meskipun tidak seluruhnya. (Boediono,1998: 122).

Tambahan uang inti dalam contoh diatas akhirnya akan menambah jumlah uang beredar (M1 dan M2) setelah terjadi banyak kali putaran penyesuaian. Beberapa besar tambahan jumlah uang beredar yang akhirnya tercipta, tergantung pada sifat dari putaran-putaran penyesuaian tersebut. Biasanya, tambahan uang beredar yang akhirnya diakibatkan oleh tambahan uang inti adalah besar daripada tabungan uang inti tersebut. Melalui proses penyesuaian portofolio tersebut sebenarnya telah terjadi semacam “pelipatan” uang beredar atau terjadi proses multiplier. Proses inikah yang merupakan inti dari teori mengenai penawaran uang. (Boediono, 1998 : 76).

2.2.6. GDP (Gross Domestic Product)

GDP (Gross Domestic Product) adalah salah satu faktor ekonomi makro yang merupakan suatu indikasi pertumbuhan ekonomi suatu Negara yang di hitung berdasarkan nilai produk dari seluruh hasil industri suatu negara. Dengan demikian GDP ini bisa di artikan sebagai indikasi kemakmuran masyarakat suatu Negara. Disamping itu sebagai Negara pengimpor, pertumbuhan ekonomi dalam

Negeri yang tercermin dalam GDP sangat besar pengaruhnya terhadap besar kecilnya konsumsi masyarakat. (Boediono, 1981 :12)

Menurut Nodharus (2004:99) GDP (Gross Domestic Product) merupakan pengukuran yang paling luas dari total out put barang dan jasa suatu Negara. Ini merupakan jumlah nilai konsumsi ( C ), investasi Bruto ( I ), Pembelanjaan Pemerintah atas barang dan jasa ( G ), dan Ekspor netto ( X ) yang di hasilkan di dalam suatu Negara selama satu tahun tertentu.

Rumus GNP = C + I + G + X

GDP (Gross Domestic Product) adalah cara yang di gunakan untuk mengukur perkembangan perekonomian berdasarkan nilai pasar barang dan jasa akhir yang di produksi selama satu tahun oleh sumber daya yang ada di suatu Negara.

Dari beberapa pengertian diatas dapat di tarik sebuah kesimpulan bahwa

Gross Domestic Product (GDP) ialah indikasi pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran masyarakat yang di hitung berdasarkan nilai produksi ( out put ) dari seluruh hasil barang dan jasa suatu Negara dalam suatu periode tertentu dan biasanya ialah satu tahun.

Gambar 3 : Alur Melingkar dari Kegiatan Ekonomi Makro $

Belanja Untuk Konsumsi (a)

Barang – barang jadi dan jasa – jasa (roti,computer,potong rambut, dll)

(b) Jasa – jasa

(Tenaga kerja, tanah, dll) Gaji, sewa, keuntungan, dll

$

Gambar : Gross Domestic Product dapat diukur sebagai (a) Alur Produk – produk Jadi, atau secara Ekuivalen sebagai (b) Alur Biaya

Pada putaran bagian atas, para pembeli membeli barang jadi dan jasa. Total aliran dolar dari pembelanjaan mereka setiap tahun merupakan satu ukuran dari Produk Domestik Bruto. Putaran bagian bawah mengukur aliran tahunan dari biaya output: penghasilan yang di bayarkan bisnis balam upah, uang sewa, bunga deviden, dan keuntungan.

2.2.6.1. Dua Ukuran Produk Nasional: Alur Barang dan Alur Penghasilan Seperti di tunjukkan dalam gambar, GDP dapat di ukur baik sebagai alur produk maupun sebagai jumlah penghasilan.

Penjual Rumah Tangga

Untuk menunjukkan cara yang berbeda dalam mengukur GDP kita mulai dengan membayangkan dunia yang amat di sederhanakan di mana tidak ada pemerintahan, perdagangan asing, atau investasi. Untuk saat ini, perekonomian kita yang kecil hanya menghasilkan barang – barang konsumsi, yang merupakan barang barang yang di beli oleh rumah tangga untuk memuaskan keinginan mereka.(catatan penting: Contoh pertama di sederhanakan untuk menunjukkan gagasan dasar. Dalam contoh – contoh realistis selanjutnya, kita akan menambahkan investasi, pemerintahan, dan sektor asing) .

2.2.6.2. Pendekatan Alur Produk.

Setiap tahun masyarakat mengkonsumsi berbagai ragam barang jadi dan jasa: seperti apel, perangkat lunak computer, dan blue jeans; jasa seperti perawatan medis dan pangkas rambut.dalam kasus ini kita hanya memasukkan barang jadi (barang yang dibeli dan di gunakan langsung oleh konsumen). Rumah tangga membelanjakan pendapatan mereka untuk barang – barang konsumen ini, seperti nampak pada putaran bagian atas gambar 1. dengan menambahkan semua anggaran konsumsi yang di belanjakan pada barang – barang jadi, kita akan sampai pada total GDP ekonomi yang di sederhanakan ini.

Jadi, dalam perekonomian kita yang sederhana, kita dapat dengan mudah menghitung pendapatan atau produk nasional dengan jumlah alur tahunan dari barang – barang jadi dan jasa: ( harga Blue jeans X jumlah Blue Jeans). Di tambah ( Harga apel X Jumlah apel) dan seterusnya untuk

semua barang jadi lainya.PDB di tetapkan sebagai total nilai uang dari alur barang jadi yang di hasilkan oleh Negara tersebut.

2.2.6.3. Pendekatan Penghasilan atau Pendekatan Biaya

Cara kedua dan yang sama untuk menghitung GDP adalah pendekatan penghasilan atau pendekatan biaya. Hal tersebut terlihat pada putaran bagian bawah gambar 1. lewat pendekatan ini mengalir semua biaya dalam upah yang di bayarkan kepada tenaga kerja, uang sewayang di bayarkan kepada tanah, keuntungan yang di bayarkan kepada capital, dan seterusnya. Tetapi biaya – biaya bisnis ini juga merupakan penghasilan yang di terima rumah tangga dari perusahaan- perusahaan. Dengan mengukur alur tahunan penghasilan atau pendapatan ini, para ahli statistic kembali akan sampai pada GDP.

Oleh karena itu, cara kedua untuk menghitung GDP adalah sebagai total penghasilan faktor (upah, uang sewa, dan laba) yang merupakan biaya dalam menghasilkan produk – produk jadi masyarakat. (Samuelson dan Nordhaus,2004).

2.2.7 Kurs valuta asing

Perbandingan antara dua mata uang beredar di sebut kurs valuta asing (Foreign Exchange Rate ) (Nopirin, 1993 : 139 )

Kurs sebagai harga sifatnya sama saja dengan pembentukan harga barang2 yaitu pembentukan berdasaran kekuatan permintaan dan penawarn. Harga atau nilai tukar mata uang di tentukan oleh permintaan dan penawaran mata uang tersebut , dan dalam hal ini kondisi di Indonesia penawaran mata uang asing pada umumnya

US Dollar pada khususnya, jauh lebih kecil di banding permintaannya, sehinga harga mata uang asing menjadi mahal .

Perbedaan tingkat kurs timbul karena perbedaan hal antara lain: (Nopirin , 1993 :164 )

1 .Perbedaan tingkat kurs beli dan kurs jual oleh para pedagang valas/bank. Kurs beli adalah kurs yang di pakai apabila para pedagang valas/bank membeli valas.

Sedangkan kurs jual adalah pada saat mereka menjual valas . Dan selisih antara Kurs tersebut merupakan keuntungan bagi para pedagang .

2. Perbedaan kurs yang di akibatkan oleh perbedaannya di dalam pembayarannya valuta asing yang lebih cepat akan memilikikurs yang lebih tinggi .

3. Perbedaan karena tingkat keamanaan dalam penerimaan hak pembayaran. Kebijakan kurs mata uang asing, di hubungkan dengan tiga system dan kebijakan tentang kurs mata uang yaitu : ( Jamli, 1996 : 189 )

1. Sistem Nilai tukar Tetap ( Fixed Rate System )

Dalam system dan kebijaksanaan nilai tukar tetap , pemerintah atau otoritas moneter negara yang bersangkutan turut campur tangan secara aktif dalm bursa valas dengan membeli atau menjual mata uang dalam negeri atau valuta asing bilamana kurs mata uangnya menyimpang dari nilai tertentu telah di tetapkan .

Gambar 4 : Kurva System Kurs Tetap

S0

D2 SI = SO + I

Do D1

L1 = $2,82 Titik intervensi atas

L1 = $2,80 Nilai Par

0 Q0 Q1 Q2=Q1+11 £

Sumber : Jamli, Ahmad 1996, Keuangan Internasional , BPFE, UGM, Yogjakarta, hal 192.

Pada gambar 4 yang di sebabkan oleh peningkatan ekspor inggris ke US atau modal aliran modal masuk dari US kenaikan kurs dari titik ( B ) ke titik ( C ) . Yang terletak di luar titik intervensi atas sebesar 1 = $2.82 . Otoritas harus campur tangan di pasar untuk mencegah perubahan di luar titik tersebut dengan memberikan bantuan pemerintah berupa peningkatan penawaran poundsterling . Hal tersebut di tunjukkan dengan pergeseran kurva penawaran ke kanan ( SI ), yang sekarang menjadi kurva penawaran pasar ( SO ) di tambah intervensi

pemerintah (I ) dan berperan mempertahankan kurs pada titik intervensi atas ( D ) menjadi lebih besar .

2.Sistem Nilai Tukar Menggambang Bebas ( Free Floating Rate System )

Berdasarkn gambar 5 di bawah ini, dimana permintaan valuta asing Do dan penawaran So urs valuta dollar akan mencapai ekuilibrium setinggi 0Ko . Pada kurs setinggi 0Ko ini jumlah valuta asing yang di hasilkan oleh penduduk negara tersebut persatuan waktunya waktunya adalah sebanyak 0Vo. Jumlah ini akan sama dengan jumlah valuta asing dolar yang diminta oleh penduduk Negara tersebut.dengan adanya kesamaan jumlah valuta asing yang ditawarkan dengan jumlah valuta asing yang berarti kurs valuta asing maupun neraca pembayaran berada dalam keadaan ekuilibrium.

Gambar 5

Apabila suatu Negara memakai system nilai tukar mengambang bebas , Bank sentral tidak melakukan campur tangan secara aktif di dalam valas . Disini nilai tukar suatu mata uang relative terhadap mata uang Negara lain di tentukan sepenuhnya oleh permintaan dan penawaran yang berlangsung

di bursa valas .

Sumber, 2000, Ekonomi Internasional; Pengantar Lalu Lintas Pembayaran Internasional, Penerbit, Liberty, Yogyakrta, hal 167 .

Adapun pengertian valas/bursa valas adalah pasar pertukaran kurs valas yang mempunyai fungsi pokok dalam membantu kelancaran lalu lintas pembayaran internasional antara lain :

1. Mempermudah penukaran valas serta pemindahan dana dari suatu Negara ke Negara lain .

2. Memberikan kemudahan untuk di laksanakan perjanjian / kontrak jual beli dengan kredit .

3. Mempermudah di lakukannya hedging yaitu membantu pedagang yang melakukan transaksi jual beli valas di pasar yang berbeda, yang bertujuan untuk menghilangkan / mengurangi resiko akibat kerugian perbandingan kurs

( Nopirin, 1995 : 165-166 )

2.2.7.1 Hubungan Kurs Valuta Asing Terhadap Jumlah Uang Beredar

Makin tinggi tingkat pertumbuhan ( relative terhadap Negara lain ), makin besar kemungkinan untuk impor yang berarti makin besar pula permintaan akan valuta asing, Kurs valuta asing cenderung naik (harga mata uang sendri turun). Dengan juga inflasi, akan menyebabkan impor naik dan ekspor turun yang mengakibatkan kurs valuta asing naik . Kenaikan tingkat bunga dalam negeri cenderung menarik modal masuk dari luar negeri . Kurs valuta asing akan turun ( nilai mata uang sendiri naik relative terhadap valuta asing ) . (Nopirin, 19993:173-174 ) .

2.2.8. Investasi

2.2.8.1.Pengertian Investasi

Kata Investasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu “Investment”, apabila dalam bahasa Indonesia Investasi adalah “penanaman modal” Investasi adalah suatu kegiatan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu kegiatan usaha, karena ini sangat dibutuhkan sebagai faktor penunjang di dalam memperlancar proses produksi.

Menurut pendapat Prof. Robinson yang dikutip oleh Suherman Rosyidi dalam bukunya yang berjudul Pengantar Teori Ekonomi mengatakan bahwa investasi itu penambahan barang-barang modal baru, sedangkan membeli selembar kertas saham bukanlah Investasi (Rosyidi, 1994: 158).

Investasi adalah pengeluaran yang ditunjukkan untuk meningkatkan atau mmpertahankan stok barang modal. Stok barang modal terdiri dari pabrik mesin dan produk-produk tahan lama yang digunakan dalam proses produksi. (Dornbusch dan Fischer, 1995: 46).

Menurut Sukirno (2001: 107), investasi diartikan sebagai pengeluaran atau pembelanjaan penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian. Dalam prakteknya, suatu usaha untuk mencatat nilai penanaman modal yang dilakukan dalam suatu tahun tertentu, yang digolongkan sebagai investor (atau pembentukan modal atau penanaman modal), meliputi pengeluaran atau pembelanjaan sebagai berikut:

a. Pembelian berbagai jenis barang modal, yaitu mesin-mesin dan peralatan produksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industri dan perusahaan.

b. Pembelanjaan untuk membangun rumah tempat tinggal, bangunan kantor, bangunan pabrik, dan bangunan-bangunan lainnya.

c. Pertambahan nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan mentah dan barang yang masih dalam proses produksi pada akhir tahun perhitungan pendapatan nasional. (Sukirno, 2001: 107).

Dari berbagai penjelasan diatas tentang definisi Investasi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Investasi adalah pengeluaran yang disediakan untuk meningkatkan atau mempertahankan barang-barang modal, selain itu bisa diartikan sebagai uasaha membina industri supaya dapat lebih maju dan merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup usaha sebagai faktor penunjang di dalam memperlancar proses produksi.

2.2.8.2. Teori Investasi

Masalah Investai adalah suatu masalah yang langsung berkaitan dengan besarnya pengharapan akan pendapatan dari barang modal dimasa depan. Pengharapan dimasa depan inilah yang menjadi faktor terpenting untuk penentu besarnya Investasi menurut Suparmoko (2000: 84) terdapat 2 teori, yaitu:

a.Teori Klasik

Teori klasik tentang Investasi didasarkan atas teori produktivitas batas

(marginal productivity) dari faktor produksi modal. Menurut teori ini besarnya modal yang akan diinvestasikan dalam proses produksi ditentukan oleh produktivitas batasnya dibandingkan dengan tingkat bunga-bunganya. Sehingga Investasi ini akan terus dilakukan bilamana produktivitas batas dari Investasi itu masih lebih tinggi daripada tingkat bunga yang akan diterimanya bila seandainya modal itu dipinjamkan dan tidak di Investasikan.

Dengan teori produktivitas batas, maka masalah Investasi oleh para-para ahli ekonomi klasik dipecahkan atas dasar prinsip maksimalisasi laba dari perusahaan-perusahaan industri. Sebab suatu perusahaan akan memaksimalisasi labanya dalam suatu persaingan sempurna. Bila perusahaan itu menggunakan modalnya sampai pada jumlah produksi marginal kapitalnya sama dengan harga capital yaitu suku bunga, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:

1. Suatu Investasi akan dijalankan apabila pendapatan dari Investasi lebih besar dari tingkat bunga. Pendapatan dari Investasi merupakan jumlah pendapatan yang akan diterima setiap akhir tahun selama barang modal digunakan dalam produksi.

2. Investasi dalam modal adalah menguntungkan bila biaya ditambah bunga lebih kecil dari pendapatan yang diharapkan dari Investasi itu.

b. Teori Keynes

Masalah Investasi baik penentu jumlah maupun kesempatan untuk melakukan Investasi oleh Keynes didasarkan atas konsep

Marginal Efficiency of Investment (MEI), yaitu bahwa investasi itu akan dijalankan apabila MEI lebih tinggi dari pada tingkat suku bunga. Menurut garis MEI ini antara lain disebabkan oleh 2 hal, yaitu (Suparmoko, 2000: 84):

1. Bahwa semakin banyak Investasi yang terlaksana dalam masyarakat, maka semakin rendah efisiensi marginal Investasi itu, semakin banyak Investasi yang terlaksana dalam lapangan ekonomi maka semakin sengitlah persaingan para investor sehingga MEI menurun.

2. Semakin banyak Investasi dilakukan, maka biaya dari barang modal menjadi lebih tinggi.

2.2.8.3. Macam-Macam Investasi

Macam-macam Investasi dibagi menjadi 4 kelompok, yang pembagiannya sebagai berikut:

1.Autonomous Invesment dan Induced Investment

Autonomous Investment ( Investasi otonomi ) adalah investasi yang besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh pendapatan, tetapi dapat berubah oleh karena adanya perubahan faktor-faktor di luar pendapatan. Faktor-faktor lain diluar selain pendapatan yang mempengaruhi tingkat investasi

seperti itu, misalnya tingkat teknologi, kebijaksanaan pemerintah, harapan para pengusaha dan sebagainya.

Sedangkan Induced Investment atau ( Investasi terpengaruh ) adalah investasi yang besar kecilnya sangat di pengaruhi oleh tingkat pendapatan , makin tinggi tingkat pendapatan maka makin tinggi pula investment .

2. Public Investment dan Private Investment

Public Investment adalah Investasi atau penanaman modal yang dilakukan oleh pemerintah (baik pusat maupun daerah). Public Investment tidak dilakukan oleh pihak-pihak yang bersifat personal, Investasi ini bersifat impersonal atau resmi. Sedangkan Private Investment adalah investasi yang dilakukan oleh pihak swasta. Di dalam private investment, unsur-unsur seperti keuntungan yang akan diperoleh dimasa depan penjualan dan sebagainya merupakan peranan yang sangat penting dalam menentukan volume investasi. Sementara dalam penentuan volume Investasi, pertimbangan itu lebih diarahkan kepada melayani atau menciptakan kesejahteraan bagi rakyat banyak.

3. Domestic Investment dan Foreign Investment

Domestic investment adalah penanaman modal di dalam Negeri, sedangkan Foreign Investment adalah penanaman modal asing. Sebuah negara yang memiliki banyak sekali faktor produksi alam atau faktor produksi tenaga manusia namun tidak memiliki faktor produksi modal (capital) yang cukup untuk mengelolah sumber- sumber yang

dimiliki, maka mengundang modal asing agar sumber-sumber yang ada termanfaatkan.

4.Gross Investment dan Net Investment

Gross Investment (Investasi Bruto) adalah total seluruh Investasi yang diadakan atau yang dilaksanakan pada suatu ketika. Dengan demikian investasi bruto dapat benilai positif ataupun nol (yaitu ada atau tidak ada Investasi sama sekali) tetapi tidak akan bernilai negatif. Sedangkan Net Investment (Investasi Netto) adalah selisih antara Investasi bruto dengan penyusutan. Apabila misalnya Investasi bruto tahun ini adalah Rp. 25 juta sedangkan penyusutan yang terjadi selama tahun yang lalu adalah sebesar Rp. 10 juta, maka itu berarti bahwa Investasi netto tahun ini adalah sebesar Rp. 15 juta. (Rosyidi, 1994: 161).

2.2.8.4Faktor – Faktor Yang Menentukan Investasi

a. Ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang.

Kegiatan perusahaan untuk mendirikan industri dan memasang barang-barang modal dinamakan kegiatan memakan waktu. Dan apabila Investasi tersebut telah selesai dilaksanakan, yaitu pada waktu industri atau perusahaan itu sudah mulai menghasilkan barang dan jasa yang menjadi produksinya, maka para pemilik modal biasanya akan melakukan kegiatan terus selama beberapa tahun. Oleh karena itu dalam menentukan apakah semua kegiatan yang akan dan dikembangkan itu dapat memperoleh atau menimbulkan kerugian,

maka para pemilik modal harus membuat ramalan-ramalan mengenai keadaan dimasa mendatang.

b.Tingkat bunga.

Bagi perusahaan yang bijaksana hendaknya selalu mengikuti dan memperhatikan perkembangan pasar, terutama tentang perkembangan tingkat bunga yang dapat mempengaruhi beropeasinya setiap perusahaan oleh karena itu tingkat bunga dapat digolongkan sebagai salah satu faktor penting yang akan menentukan besarnya Investasi yang akan dilakukan oleh para pengusaha.

Menurut Ari Sudarman terdapat hubungan berkebalikan antara tingkat suku bunga dan pengeluaran, yaitu semakin tinggi suku bunga pinjaman, maka semakin rendah keinginan pengusaha untuk melakukan Investasi. Sebaliknya apabila tingkat suku bunga rendah. Secara grafis, hubungan antara tingkat suku bunga dan pengeluaran Investasi dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 6 : Hubungan antara Suku Bunga dan Pengeluaran Investasi

r2 A

r1 B Kurva Investasi

12 11 pengeluaran Investigasi

Sumber : Sudarman, 2004, Pengantar Ekonomika Makro, PT. Media Global Edukasi, Jakarta, hal 47.

Keterangan :

Pada saat Tingkat suku Bunga sebesar r1, pengeluaran konsumsi hádala I1. tingkat Suku Bunga mengalami kenaikan menjadi r2, maka pengeluaran Investasi akan mengalami penurunan sebesar I2. Tingkat Suku Bunga perbankan disuatu negara merupakan salah satu cerminan baiknya sistem perbankan di Negara yang bersangkutan. Dengan tingginya tingkat suku bunga akan berdampak pada rendahnya minat investor untuk melakukan Investasi sehingga akan mengakibatkan kelesuan disektor riil yang pada akhirnya mengurangi jumlah barang dan jasa yang dihasilkan.

b. Perubahan dan perkembangan teknologi.

Kegiatan yang dikembangkan dalam kegiatan produksi atau usaha lain, maka hal demikian itu ditanamkan ditanamkan mengadakan pembaharuan. Pada umumnya semakin banyak perkembangan ilmu dan teknologi, maka semakin banyak pula jumlah kegiatan pembaharuan yang dilakukan oleh para pengusaha.

c. Tingkat pendapatan Nasional dan perubahan-perubahannya.

Sejarah perkembangan ekonomi dunia menunjukkan bahwa akhir-akhir ini berbagai penemuan dan pembaharuan sangat besar peranannya. Kenyataan yang ada menggambarkan bahwa hubungan antara pendapatan nasional dan Investasi merupakan cenderung untuk mencapai tingkat yang lebih besar apabila pendapatan nasional

semakin besar jumlahnya. Demikian pula sebaliknya, apabila pendapatan nasional rendah biasanya nilai Investasinya juga rendah. d. Keuntungan yang dicapai perusahaan.

Setiap perusahaan yang sangat berkembang salah satu faktor penting yang dapat menentukan untuk kegiatan atau pengembangan Investasi adalah keuntungan yang diperolehnya. Apabila

Dokumen terkait