BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teoritis
3. Teori Pengujian Norma
Pengujian norma merupakan salah satu bentuk evaluasi terhadap keabsahan suatu norma, yang menurut Jimly Asshiddiqie, pengujian norma dalam praktinya dikenal tiga jenis norma hukum yang dapat diuji keabsahannya atau juga sering disebut sebagai norm control mechanism. Ketiganya sama-sama merupakan bentuk norma hukum sebagai hasil dari proses pengambilan keputusan hukum, yaitu keputusan normatif yang berisi dan bersifat pengaturang (regeling), keputusan normatif yang berisi dan bersifat penetapan administratif (beschikking), dan keputusan normatif yang
52 Loc.Cit.
berisi dan bersifat penghakiman (judgement) yang dalam bahasa Belanda sering disebut Vonnis.54 Ketiga jenis norma hukum itu masing-masing dapat diuji sesuai tingkatan dan sifatnya masing-masing. Misalnya, parlemen dalam hal ini DPR bersama Presiden mengesahkan undang-undang, dan ternyata undang-undang itu diangap bertentangan dengan undang-undang dasar yang oleh masyarakat (atau lembaga/perkumpulan/ormas yang merasa dirugikan haknya) dapat diajukan permohonan pengujian (yudicial review) kepada Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai lembaga peradilan yang berwenang untuk itu. Atau bisa juga dilakukan melalui mekanisme atau cara legislative review oleh parlemen sebagai pembuat undang-undang itu sendiri. Contoh lain misalnya, norma hukum yang berisi dan bersifat Vonnis, maka juga dapat diuji keabsahannya melalui upaya hukum (banding, kasasi, dan peninjauan kembali). Intinya setiap norma hukum itu dapat dilakukan uji keabsahan yang disebut dengan norm control mechanism.
Dalam melakukan pengujian norma terhadap ketiga jenis norma hukum tersebut, dibedakan juga beberapa istilah tergantung lembaga yang mengujinya. Jika norma hukum itu diuji melalui mekanisme pengadilan, maka yudicial review tetapi apa bila dilakukan bukan melalui mekanisme pengadilan maka tidak tepat dikatakan yudicial review. Sebutannya yang tepat tergantung kepada lembaga apa kewenangan untuk menguji atau diberikan.55 Dalam istilah lain, hak menguji disebut Toetsingsrecht.
54 Jimly Asshiddiqie, 2012. Hukum Acara Pengujian Undang-Undang. Sinar Grafika. Jakarta. Cetakan Ke-2. Hlm; 1.
Di dalam toetsingsrecht atau hak menguji itu setidaknya menyebar kepada tiga cabang kekuasaan sebagaimana yang dikenal dalam konsep trias politica, yaitu; (1) Parlemen sebagai cabang kekuasaan legislative, yaitu jika hak menguji itu diberikan kepada parlemen sebagai legislator maka disebut sebagai legislative review, (2) Pemerintah sebagai cabang kekuasaan executive, yaitu jika hak menguji diberikan kepada executive maka diesbut sebagai executive review, dan (3) Pengadilan sebagai cabang kekuasaan yudicatif, yaitu jika hak menguji diberikan kepada lembaga peradilan maka disebut sebagai yudicial review.56
Hak menguji atau toetsingsrecht dalam tulisan ini, akan dibahas lebih banyak mengenai yudicial review sebagai kaitannya dengan mekanisme pengujian perda kabupaten atau kota dengan pokok bahasan sebagai berikut; a) Pengertian Yudicial Review
Yudicial review merupakan salah satu hak menguji yang diberikan kepada lembaga pengadilan untuk menguji keabsahan suatu norma hukum. Dalam konsep pengujian undang-undang oleh lembaga peradilan misalnya misalnya, perlu juga dibedakan antara istilah yudicial review dan yudicial preview yang dalam konteks pengujian memiliki arti atau makna yang berbeda. Review berarti memandang, menilai, atau menguji kembali, yang berasal dari kata re dan view, sedangkan pre dan view atau
preview adalah kegiatan memandangi sesuatu lebih dulu dari sempurnanya keadaan objek yang dipandang itu.57
Dalam hubungannya dengan objek undang-undang, dapat dikatakan bahwa saat ketika undang-undang belum resmi atau sempurna sebagai undang-undang yang mengikat untuk umum (belum disahkan), dan saat undang-undang itu sudah resmi menjadi undang-undang (telah disahkan), maka dua keadaan tersebut adalah dua keadaan yang berbeda. Jika undang-undang itu sudah sah menjadi undang-undang, maka pengujiannya disebut yudicial review, tetapi jika statusnya masih sebagai rancangan undang yang belum secara resmi sebagai undang-undang dan dilakukan pengujian atasnya, maka disebut yudicial preview.58
b) Sistem Peradilan Bifurkasi (Bifurcation Justice System)
Dalam sistem peradilan di Indonesia yang merupakan lembaga pemegang kekuasaan yudicative, dikenal dengan sistem peradilan bifurkasi (bifurcation justice system). Di mana hal itu dapat dilihat dari ketentuan Pasal 24 ayat (2) UUD NRI Tahun 1945 bahwa; Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
57 Ibid. Hlm; 3.
Dari ketentuan Pasal 24 ayat (2) UUD NRI Tahun 1945 tersebut, dapat dipahami bahwa Indonesia menganut sistem peradilan bifurkasi, di mana MA dan MK adalah dua puncak peradilan yang sejajar. MA merupakan puncak peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata usaha negara. Sementara MK adalah puncak peradilan konstitusi (constitutional court) yang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final dan mengikat.59
Dalam hal hak pengujian norma (yudicial review), konstitusi telah mengatur dengan jelas kewenangan MA dan MK sehingga mekanisme pengujian norma sangat jelas, termasuk pula di dalamnya perda kabupaten atau kota apabila hendak diuji keabsahannya.
Kewenangan MK (termasuk pula hak pengujian norma atau yudicial review) diatur dalam ketentuan Pasal 24C ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 sebagai berikut;60
Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk;
Menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Memutus pembubaran partai politik, dan;
Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
Kemudian dilanjutkan dengan ketentuan Pasal 24C ayat (2) UUD NRI Tahun 1945 sebagai kewajiban MK bahwa Mahkamah Konstitusi
59 Marwan Mas, 2017. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi. Galia Indonesia. Bogor. Cetakan Pertama. Hlm; 2.
60 Marwan Mas, 2018. Hukum Konstitusi dan Kelembagaan Negara. Rajawali Pers. Jakarta. Cetakan Pertama. Hlm; 142.
wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurt undang-undang dasar.
Sementara kewenangan MA (termasuk pula hak pengujian norma atau yudicial review) diatur dalam ketentuan Pasal 24A ayat (1) bahwa Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang lain yang diberikan oleh undang-undang.
c) Objek Pengujian Yudicial Review
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa antara MK dan MA dalam hal hak menguji norma (yudicial review) memiliki objek pengujian yang berbeda. MK berdasarkan Pasal 24C ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 menentukan bahwa objek yudicial review MK adalah undang-undang terhadap undang-undang dasar. Sementara MA berdasarkan Pasal 24A ayat (1) menentukan bahwa objek yudicial review MA adalah peraturan perundang-undangan yang secara hierarki berada di bawah undang-undang terhadap undang-undang.
Dari semua ketentuan tersebut, sangat jelas bahwa perda kabupaten atau kota itu merupakan objek pengujian MA secara konstitusional. Pembatalan perda kabupaten atau kota yang dilakukan oleh gubernur adalah suatu hal yang bertentangan dengan konstitusi. Sehingga perlu dilakukan penyesuaian sesuai dengan ketentuan konstitusi.
d) Metode Penafsiran Hukum
Dalam melakukan yudicial review, terdapat beberapa metode penafsiran hukum yang dilakukan oleh hakim, baik oleh hakim MK maupun hakim MA. Metode penafsiran hukum oleh hakim dapat dilakukan dalam dua bentuk yaitu;61
Interpretasi hukum, yaitu penafsiran perkataan dalam undang-undang tetapi tetap berpegang pada kata-kata/atau bunyi peraturannya. Metode interpretasi hukum ini meliputi;62
- Interpretasi subsumtif, yaitu hakim menerapkan teks atau kata-kata suatu ketentuan undang-undang terhadap kasus konkrit (fakta kasus) tanpa menggunakan penalaran sama sekali dan hanya sekedar menerapkan silogisme dari ketentuan tersebut.
- Interpretasi gramatikal, yaitu menafsirkan kata-kata yang ada dalam undang-undang sesuai dengan kaidah tata bahasa.
- Interpretasi ekstensif, yaitu penafsiran yang lebih luar dari pada penafsiran gramatikal, karena memperluas makna dari ketentuan khusus menjadi ketentuan umum sesuai dengan kaidah tata bahasanya.
- Interpretasi sistematis, yaitu menafsirkan undang-undang sebagai bagian dari keseluruhan sistem peraturan perundang-undangan. - Interpretasi sosiologis atau teologis, yaitu menafsirkan makna
atau subtansi undang-undang untuk diselaraskan dengan kebutuhan atau kepentingan warga masyarakat.
- Interpretasi komparatif, yaitu membandingkan antara berbagai sistem hukum yang ada di dunia, sehingga hakim bisa mengambil putusan yang sesuai dengan perkara yang di tanganinya.
- Interpretasi restriktif, yaitu penafsiran yang sifatnya membatasi suatu ketentuan undang-undang terhadap peristiwa konkret. - Interpretasi futuristis, yaitu menjelaskan suatu undang-undang
yang berlaku sekarang (ius constitutum) dengan berpedoman pada undang-undang yang akan diberlakukan (ius constituendum). - Interpretasi historis, terbagi dua yaitu;
1) Penafsiran menurut sejarah undang-undang, mencari maksud dari pembuat undang-undang saat diundangkannya sebagai
61 Marwan Mas, 2011. Pengantar Ilmu Hukum. Galia Indonesia. Bogor. Cetakan Ke-2. Hlm; 171.
ukuran dalam menafsirkan suatu peristiwa hukum, dan sumbernya dilihat pada catatan pembahasannya di DPR. 2) Penafsiran menurut sejarah hukum, mencari makna yang
terkandung di dalam sejarah perkembangan sejarah hukum, sehingga apa tujuan hukum sehingga korupsi dilarang.
Konstruksi hukum, yaitu penalaran logis untuk mengembangkan suatu ketentuan dalam undang-undang yang tidak lagi berpegang pada kata-katanya, tetapi tetap harus memperhatikan hukum sebagai suatu sistem. Metode konstruksi hukum ini meliputi;63
- Analogi atau argumentum peranologian, yaitu penafsiran hukum yang mencari esensi dari epecies ke genius, atau dari suatu peristiwa khusus ke peristiwa umum.
- Argumentum a`contrario, yaitu penalaran terhadap suatu ketentuan undang-undang pada peristiwa tertentu, sehingga secara a`contrario ketentuan tersebut tidak boleh diberlakukan pada hal-hal lain atau kebalikannya.
- Rechtvervijnings (pengkokretan hukum, tetapi ada juga yang mengartikannya sebagai penyempitan hukum atau penghalusan hukum), yaitu mengkrongkritkan suatu ketentuan dalam undang-undang yang abstrak atau terlalu luas cakupannya sehingga perlu dikongkretkan oleh hakim.
- Fiksi hukum (fictie), yaitu penafsiran hukum dengan menggam-barkan suatu peristiwa kemudian menganggapnya ada, sehingga peristiwa tersebut menjadi suatu fakta baru.