• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab I Pendahuluan

C. Kerangka Teori

III. Teori Perdagangan Internasional

Thomas Mun adalah seorang cendekiawan Inggris dan putera seorang

bukunya yang berjudul England’s Treasure by Foreign Trade yang memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap teori perdagangan internasional. Mun

berpendapat bahwa untuk meningkatkan kekayaan negara, cara yang biasa

dilakukan adalah melalui jalur perdagangan dan karena itu pedoman yang harus

dipegang teguh oleh suatu negara adalah mengusahakan agar nilai ekspor ke luar

negeri harus lebih besar dibandingkan dengan yang di impor oleh negara itu.

Keuntungan bersih menurutnya akan diperoleh melalui selisih dari hasil penjualan

yaitu ekspor dengan pembelian yaitu impor dan dengan demikian jumlah uang

emas dan perak yang akan diterima akan semakin besar tiap tahunnya. Mun juga

berpendapat jika suatu negara melalui jalur perdagangan memperoleh banyak

uang, jangan sampai modal itu hilang justru karena uang itu tidak dipergunakan

untuk berdagang lagi. (http//www.brookesnews.com diakses pada 18, April, 2010)

Dari argumen Mun dapatlah ditarik sebuah kesimpulan bahwa bahkan

dalam suatu tata ekonomi perdagangan, uang baru merupakan kekayaan yang

berarti hanya bila uang tersebut digunakan sebagai alat tukar menukar, dan uang

akan menjadi beban suatu negara jika uang hanya disimpan saja. Sumbangan Mun

yang tidak kalah pentingnya adalah terciptanya suatu kerangka dasar neraca

pembayaran suatu negara pada tahun tertentu. Walaupun neraca pembayaran pada

saat itu angka-angka itu memang tidak disusun teliti, namun yang terpenting Mun

telah menunjukkan kerangka dasar neraca pembayaran dengan baik sekali.

Julukan merkantilisme pada dasarnya diberikan kepada aliran atau paham

ini oleh para kritikus ekonomi khususnya Adam Smith. Sebutan merkantilisme

mengandung makna menyamakan suatu bangsa atau negara dengan kebijakan

menjual dibandingkan dengan apa yang dikeluarkannya ketika membeli dan

dengan demikian meningkatkan kekayaan perusahaannya. (Ibid)

Ekonomi klasik resmi berdiri ketika Adam Smith mengeluarkan bukunya

yang berjudulAn Inquiry into Nature and Causes of the Wealth of Nation s, yang biasa disingkat dengan Wealth of Nations. Dalam bukunya, Adam Smith menjelaskan apa yang merupakan pokok masalah ekonomi modern yakni

bagaimana meningkatkan kekayaan suatu negara dan bagaimana kekayaan

tersebut didistribusikan. (Krugman, 2003:31)

Menurut Adam Smith, kekayaan suatu negara akan bertambah searah

dengan peningkatan keterampilan dan efisiensi para tenaga kerja, dan sejalan

dengan persentase penduduk yang terlibat dalam proses produksi. Kesejahteraan

ekonomi setiap individu tergantung pada perbandingan antara produksi total

dengan jumlah penduduk. Smith juga menganjurkan adanya spesialisasi kerja dan

penggunaan mesin-mesin sebagai sarana utama untuk peningkatan produksi. Dia

juga memperkenalkan konsep invisible hand-nya di mana setiap orang yang melakukan kegiatan di dalam perekonomian dituntun oleh sebuah “tangan yang tidak terlihat” sehingga dia dengan mengejar kepentingannya sendiri dia kerap

justru lebih efektif memajukan kepentingan masyarakat.

Adam Smith mengajukan teori perdagangan internasional yang dikenal

dengan teori keunggulan absolute. Dia berpendapat bahwa jika suatu negara menghendaki adanya persaingan, perdagangan bebas dan spesialisasi di dalam

negeri, maka hal yang sama juga dikehendaki dalam hubungan antar bangsa.

Karena hal itu dia mengusulkan bahwa sebaiknya semua negara lebih baik

yang absolute dan mengimpor saja komoditi-komoditi lainnya.( (Krugman, Ibid) Apa yang dimaksud dengan keunggulan yang absolute? Maksudnya seperti ini, jika negara A dapat memproduksi kentang untuk 8 unit per tenaga kerja

sedangkan negara B untuk komoditi yang sama hanya dapat memproduksi 4 unit

per tenaga kerja, sedangkan untuk komoditi lain misalnya gandum, negara A

hanya dapat memproduksi 6 unit per tenaga kerja sedangkan untuk negara B dapat

memproduksi 12 unit per tenaga kerja, maka dapat disimpulkan bahwa negara A

mempunyai keunggulan absolute dalam produksi kentang dibandingkan dengan negara B, sedangkan negara B dapat dikatakan mempunyai keunggulan absolut

dalam produksi gandum dibandingkan negara A. Perdagangan internasional yang

saling menguntungkan antara kedua negara tersebut jika negara A mengekspor

kentang dan mengimpor gandum dari negara B, dan sebaliknya negara B

mengekspor gandum dan mengimpor kentang dari negara A.

Teori perdagangan internasional yang lain diperkenalkan oleh David

Ricardo (Anwar,1997:88). Teorinya dikenal dengan nama teori keunggulan

komparatif. Berbeda dengan teori keunggulan absolute yang mengutamakan keunggulan absolute dalam produksi tertentu yang dimiliki oleh suatu negara dibandingkan dengan negara lain, teori ini berpendapat bahwa perdagangan

internasional dapat terjadi walaupun satu negara tidak mempunyai keunggulan

absolute, asalkan harga komparatif di kedua negara berbeda. Ricardo berpendapat sebaiknya semua negara lebih baik berspesialisasi dalam komoditi-komoditi di

mana dia mempunyai keunggulan komparatif dan mengimpor saja komoditi-

komoditi lainnya. Teori ini menekankan bahwa perdagangan internasional dapat

absoluteatas suatu komoditi seperti yang diungkapkan oleh Adam Smith, namun cukup memiliki keunggulan komparatif di mana harga untuk suatu komoditi di

negara yang satu dengan yang lainnya relative berbeda. Walaupun ada

beberapa perbedaan pandangan mengenai perdagangan internasional, namun pada

dasarnya keberadaan pandangan ekonomi klasik ini merupakan oposisi terhadap

teori-teori yang beraliran merkantilistik abad ke-17 dan 18. Kaum merkantilis

pada pokoknya mengutamakan perdagangan luar negeri, di mana mereka berpikir

tipikal kapitalis yang keuntungannya datang dari membeli murah dan menjual

mahal. Sedangkan tema pokok dalam ekonomi klasik adalah pembahasan tentang

laba dan sewa dalam dalam pengertian surplus yang datang dari produksi. Surplus

itu sendiri nantinya akan masuk ke tangan para kapitalis atau pemilik tanah

sebagai tambahan untuk akumulasi modalnya.

Ada cukup banyak kontroversi tentang model dari perbandingan

keuntungan dan penerapan untuk bisnis internasional, khususnya sebagai panduan

untuk negara sukses dan atau perusahaan di pasar internasional. Persepsi ini dari

ketidak bergunaan model keunggulan komparatif telah mengakibatkan pakar

bisnis internasional untuk mengembangkan model baru, atau apa yang disebut

kerangka kerja, untuk menganalisis potensi keberhasilan perusahaan dan atau

negara di pasar internasional. Kerangka kerja yang dikenal sebagai model dari

"keunggulan kompetitif.

a) Comparative Advantage

Literatur tentang perdagangan internasional dan kebijakan berisi sejumlah

alasan mengapa negara mungkin memiliki keuntungan dalam mengekspor

diklasifikasikan menjadi : (1) teknologi superior, (2) sumbangan sumber daya, (3)

pola permintaan, dan (4) kebijakan komersial. Teknologi Unggulan Adam Smith,

prinsip "keuntungan absolut" dan Ricardo prinsip Keunggulan komparatif", pada

umumnya, didasarkan pada keunggulan teknologi dari satu negara atas negara lain

dalam memproduksi komoditas. keuntungan absolut mengacu pada negara yang

memiliki produktivitas lebih tinggi (mutlak) atau menurunkan jumlah biaya dalam

memproduksi komoditas dibandingkan dengan negara lain. Namun, keuntungan

mutlak dalam produksi sebuah komoditas adalah tidak perlu dan tidak cukup

untuk perdagangan yang saling menguntungkan. Sebagai contoh, negara mungkin

mengalami kerugian mutlak dalam produksi semua komoditas dibandingkan

dengan negara lain, namun negara bisa memperoleh manfaat dengan terlibat

dalam perdagangan internasional dengan negara-negara lain, karena relatif

(komparatif) keuntungan dalam produksi beberapa komoditas vis-a-vis negara- negara lain. Demikian pula, keunggulan absolut dalam produksi komoditi tidak

cukup, karena negara mungkin tidak relatif (komparatif) keuntungan dalam

produksi komoditas itu.

Menurut Ricardo prinsip keunggulan komparatif tidak memerlukan

produktivitas mutlak lebih tinggi tetapi hanya produktivitas relatif lebih tinggi

dalam memproduksi komoditas perdagangan. Model Ricardian mengasumsikan

produktivitas konstan, karena hanya ada satu faktor produksi (buruh), dan karena

itu konstan biaya yang mengarah untuk menyelesaikan spesialisasi.

Sedangkan prinsip keunggulan komparatif David Ricardo menguraikan itu

dikemas dalam hal keunggulan teknologi, dengan prinsip, ketika diungkapkan

antara negara cukup umum untuk mencakup berbagai situasi. Selanjutnya,

meskipun penjelasan Ricardo keunggulan komparatif itu dalam hal statis,

keunggulan komparatif merupakan konsep dinamis. Keuntungan komparatif

sebuah negara dalam produk dapat berubah dari waktu ke waktu karena perubahan

salah satu faktor penentu keuntungan komparatif termasuk sumbangan sumber

daya, teknologi, pola permintaan, spesialisasi, praktek bisnis, dan kebijakan

pemerintah.

kemampuan manusia juga dapat dianggap sebagai sumber daya. Negara-

negara dengan keterampilan manusia berlimpah relatif akan memiliki keunggulan

komparatif lebih intensif dalam produk yang menggunakan keterampilan manusia.

Beberapa produk seperti elektronik memerlukan tenaga kerja terampil (seperti

teknisi, programer, desainer, dan profesional lainnya). produk tersebut dapat

memperoleh keuntungan komparatif di negara-negara (seperti Taiwan, Singapura,

Hong Kong) mempuyai tenaga kerja yang relatif lebih baik dan terampil.

(Keesing, 1966:54).

Selain itu, Skala ekonomi dapat memberikan keunggulan komparatif

dengan menurunkan biaya produksi. Eksternal ekonomi yang beroperasi dengan

menggeser biaya rata-rata perusahaan, sebenarnya dapat terjadi karena kebijakan

industri atau peran proaktif dari pemerintah dalam menyediakan infrastruktur

yang lebih baik dan tenaga kerja terdidik atau terlatih. Skala ekonomi tersebut

sejalan dengan model Ricardian dan faktor proporsi model. Skala ekonomi

(internal) dicapai melalui adanya sebuah pasar dan beberapa kebijakan

aksesibilitas terhadap pasar yang lebih besar di luar negeri juga berarti biaya

keunggulan komparatif untuk industri.(Venon,1966:81) Hipotesis Siklus Produk

menekankan pentingnya sifat dan ukuran permintaan produk baru di negara-

negara industri.

Perdagangan internasional, melalui alokasi sumber daya yang lebih baik,

meningkatkan pendapatan, tabungan, dan investasi, sehingga memungkinkan

negara untuk mewujudkan pertumbuhan yang lebih tinggi. Selain itu, untuk

negara-negara berkembang, perdagangan dapat memungkinkan mereka untuk

mentransformasi barang konsumsi dan bahan baku menjadi barang modal serta

keuntungan teknologi tahu bagaimana teknologi negara-negara maju.

b) Competitive Advantage

Dalam sebuah artikel (Neary,2003:4), berusaha untuk memajukan teori

keunggulan komparatif dengan adanya ketidak sempurnaan pasar untuk

pemahaman umum keunggulan kompetitif dalam ekonomi.

Perbandingan keuntungan secara luas diyakini untuk menjadi kunci

penentu produksi dan pola perdagangan internasional, tapi biasanya non-ekonom

berpikir sebaliknya. Sesuatu yang harus dilakukan dengan pasar yang kompetitif

lebih kepada hambatan lebih rendah atau hanya sejumlah besar perusahaan dapat

memberikan suatu industri keuntungan dalam bersaing dengan pesaing asing.

Berlainan dengan itu keunggulan kompetitif adalah sinonim untuk keuntungan

absolute, beberapa kebijakan superioritas (seperti pajak yang lebih rendah atau fleksibilitas pasar tenaga kerja lebih besar) yang mengurangi biaya untuk semua

sektor. Sebuah pendekatan yang berbeda untuk memahami keuntungan

menggunakan studi kasus untuk mengidentifikasi faktor, yang mendorong

perusahaan negara untuk mencapai pasar saham dunia yang tinggi di industri

mereka. Untuk sebagian besar, ekonom mengabaikan pendekatan Porter atau

menganggapnya sebagai sekadar penyajian kembali keunggulan komparatif

(Warr, 1994:14)

Setelah pembangunan Porter dari konsep keunggulan kompetitif, litelatur

produktif telah menjamur pada subjek (Hoffman, 2000:4) dan referensi di

dalamnya untuk dikutip. Namun, tidak ada suara bulat pada makna dan sumber

keunggulan kompetitif. (Porter,1985:96) Porter menekankan daya saing di tingkat

perusahaan dalam hal kompetitif sebagai strategi biaya rendah dan diferensiasi

produk. Namun, dia mendeskripsikan daya saing tidak memerlukan definisi

konseptual formal. Seperti yang dicatat oleh Cho (Cho,1998:1)

Mengembangkan sebuah definisi keuntungan kompetitif yang

berkelanjutan berdasarkan Barney bersama-sama dengan arti masing-masing

kamus istilah sebagai sebuah keuntungan kompetitif adalah manfaat

berkepanjangan menerapkan beberapa nilai untuk menciptakan strategi tidak

secara simultan dilaksanakan oleh setiap atau potensi pesaing saat ini sepanjang

dengan ketidakmampuan untuk menduplikasi manfaat dari strategi.

(Barney,1991:17)

Definisi ini menekankan daya saing dari suatu perusahaan berdasarkan

faktor-faktor spesifik perusahaan dan dengan demikian mengabaikan aspek makro

keunggulan komparatif. Sejumlah penulis pada keunggulan kompetitif yang telah

difokuskan pada penentu atau sumber keunggulan kompetitif seperti atribut

ketidakmampuan untuk diganti (Barney,Ibid) potensi sumber daya penting

diklasifikasikan sebagai keuangan, fisik, hukum, manusia, organisasi, informasi,

dan rasional (Hunt dan Morgan, 1995:59)

Kerangka Pemikiran

Dalam bagan kerangka pemikiran diatas bisa dilihat korelasi antara

ekonomi Cina dan ekonomi AS yang bersaing dalam perdagangan internasional,

sehingga melalui perdagangan internasional itu bisa dilihat gross domestic product(GDP) dari masing-masing negara, AS melihat bahwa GDP Cina mengalami peningkatan secara konstan dan bahkan menigkata dalam setiap

tahunnya, sehingga AS merasa khawatir jika peningkatan ekonomi Cina ini terus

dibiarkan meningkat maka akan mengancam legitimasi AS sebagai negara super

power dunia, oleh sebab itu AS mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk

menghambat laju pertumbuhan ekonomi Cina.

Dokumen terkait