• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Definisi Operasional

2) Teori Perilaku

Perilaku atau tingkah laku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons”. Skinner, B.F. dalam Alwisol (2012:321). Berdasarkan apa yang dinyatakan oleh Skinner di atas, maka dikenallah teori ini sebagai teori Stimulus – Respons (S – R).

b. Teori Agresif

Begitupun dengan agresif, setiap orang boleh memiliki asumsi tentang agresif, tetapi mereka harus dapat bertanggung jawab atas apa yang diyakininya. Banyak teori mengenai agresi yang dikemukakan oleh para ahli psikologi yang masing-masing dilandasi oleh kemampuan di bidangnya atau disiplin ilmunya masing-masing, sehingga melahirkan pendapat yang sangat berbeda dikarenakan pandangan dasarnya itu.

Dalam bahasan ini, akan dikemukakan beberapa teori tentang agresif. Berdasarkan pandangan para ahli teori agresif-klasik hingga agresif-kontemporer dan masih mengacu kepada tiga teori yang dianggap cukup berpengaruh. Menurut

Sarwono (2005:301): “Teori tentang agresi juga terbagi dalam beberapa kelom-

pok, yaitu kelompok bawaan atau bakat (heriditas), teori environmental atau

lingkungan, dan teori kognitif”.

Teori tentang sikap, perilaku, dan agresi yang dikemukakan di atas, selanjutnya akan dipergunakan pada penelitian ini, mengingat bahwa penelitian ini dilakukan berdasarkan pendekatan kualitatif deskriptif. Pemilihan salah satu

70

Dwi Sri Mulyono, 2013

Model Pengembangan Kecerdasan Moral Dalam Menanggulangi Perilaku Menyimpang Siswa (Studi Deskriptif Model Pembelajaran PKN Dalam Mengembangkan Nilai-Nilai Moral Siswa di SMK Negeri 2 Pontianak Provinsi Kalimantan Barat)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

teori yang tepat untuk dijadikan bahan rujukan dalam penelitian, berdasarkan pertim-bangan yang peneliti ambil merupakan sesuatu tindakan yang kurang tepat, mengingat perilaku menyimpang (agresif) yang dilakukan oleh siswa bisa saja berasal dari akar teori yang berbeda. Teori-teori yang disebutkan di atas, sekaligus sebagai bahan referensi bagi peneliti, mengingat dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah human instrument.

c. Pengertian Agresif

Tingkah laku agresi merupakan tingkah laku untuk melukai, merusak, mengganggu, menyakiti atau mencelakakan individu lain, yang terdorong untuk menghindari perlakuan tersebut.

Sebagaimana pengertian agresif yang dikemukakan Baron (Koeswara, 1998), adalah: “Tingkah laku yang dijalankan oleh individu dengan tujuan

melukai atau mencelakakan individu lain”. Sejalan dengan itu, Jahja. Y,

(2011:383), mengatakan bahwa: “Agresi adalah suatu bentuk tingkah laku yang

ditujukan untuk merusak, mengganggu atau menyakiti orang lain, yang terdorong

untuk menghindari perlakuan tersebut”.

d. Bentuk Perilaku Menyimpang

Agresi dikelompokkan ke dalam dua jenis. Kedua jenis agresi sangat berbeda sekali karena didasarkan atas tujuan yang terdapat di dalamnya. Jenis pertama, agresi hostile semata-mata untuk melampiaskan emosi, sedangkan jenis kedua, agresi instrumental dilakukan seseorang hanya untuk mencapai tujuan lain, yang bukan melampiaskan emosi. Tujuan dari agresif instrumental adalah untuk memenangkan apa yang diinginkan. Selain itu ada juga tujuan dari agresif hostile yang untuk melukai seseorang.

71

Dwi Sri Mulyono, 2013

Model Pengembangan Kecerdasan Moral Dalam Menanggulangi Perilaku Menyimpang Siswa (Studi Deskriptif Model Pembelajaran PKN Dalam Mengembangkan Nilai-Nilai Moral Siswa di SMK Negeri 2 Pontianak Provinsi Kalimantan Barat)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

e. Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang (Agresif)

Beberapa faktor penyebab perilaku menyimpang (agresi) menurut Davidoff dalam Sarwono, S.W. (2010:112), yaitu: 1) amarah; 2) Faktor Biologis: a) gen; b) sistem otak; c) kimia darah; 3) Kesenjangan Generasi; 4) Lingkungan; a) kemiskinan; b) anonimitas; c) Suhu udara yang panas; 5) Peran belajar model kekeras-an; 6) Frustrasi; dan 7) Proses pendisiplinan yang keliru.

Sedangkan menurut Kartono dalam Jahya,Y. (2011:385), menyatakan bahwa faktor-faktor penyebab perilaku agresi, antara lain: a. kondisi pribadi remaja; b. lingkungan rumah dan keluarga; c. Lingkungan masyarakat; dan d. Lingkungan sekolah.

f. Upaya Menanggulangi Perilaku Menyimpang (Agresif)

Upaya menanggulangi perilaku menyimpang (agresif) siswa. Keterlibatan guru sangatlah memegang peranan yang sangat sentral, tetapi bila peranan ini hanya menjadi simbol saja bagi siswa, maka peranan Guru akan menjadi sangat sia-sia. Artinya, keterlibatan siswa untuk merubah atau mengendalikan dirinya terhadap perilaku menyimpang (agresif) juga dituntut, hingga terjadi hubungan kausalitas antara perbuatan guru terhadap sikap penerimaan siswa dalam upayanya mengendalikan, mengontrol dirinya dari perilaku menyimpang (agresif) yang bertendensi negatif.

Upaya mengendalikan perilaku menyimpang (agresif) siswa yang sesungguhnya berada dalam posisi perkembangan. Agresif yang berlebihan selalu berada dalam masa-masa remaja (adolensensi), maka guru dalam tugasnya memberikan pembelajaran pada masa-masa ini diharapkan untuk memperhatikan perkembangan remaja.

Guru dalam peranannya sebagai pendidik mempunyai tugas-tugas yang sangat penting pada siswa/siswa dalam membentuk pengendalian dirinya terhadap perilaku menyimpang (agresif). Siswa atau siswa yang sedang belajar di sekolah,

72

Dwi Sri Mulyono, 2013

Model Pengembangan Kecerdasan Moral Dalam Menanggulangi Perilaku Menyimpang Siswa (Studi Deskriptif Model Pembelajaran PKN Dalam Mengembangkan Nilai-Nilai Moral Siswa di SMK Negeri 2 Pontianak Provinsi Kalimantan Barat)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

tidak terlepas dari tugas-tugas perkembangannya sebagai remaja. Dua hal ini; guru dan siswa/siswa mempunyai keterkaitan emosional yang seharusnya terus dibina hingga mencapai suatu kecerdasan emosional yang diharapkan, dan tentunya siswa/siswa akan menjadi manusia-manusia yang pada akhirnya memiliki kecerdasan moral.

1) Peranan Guru

2) Komponen Kinerja Profesional Guru a) Gaya Mengajar

b) Kemampuan Berinteraksi dengan Siswa (1) Komunikasi Verbal

(2) Komunikasi Non-Verbal c) Karakteristik Pribadi

3) Tugas-Tugas Perkembangan Siswa

Proses kehidupan individu terbentang dari mulai fase usia kandungan sampai dengan fase tua. Dalam menempuh setiap fase tersebut, terdapat tugas- tugas perkembangan yang seyogyanya dijalani atau dihadapi oleh setiap individu. Tugas-tugas perkembangan ini berkaitan erat dengan perubahan kematangan, persekolahan, pekerjaan pengalaman beragama, dan hal lainnya sebagai prasyarat untuk pemenuhan dan kebahagiaan hidupnya.

Kendali diri atau kontrol diri atau pengendalian diri siswa tidak terlepas dari peranan seorang guru, dan yang dimaksud dengan guru di sini adalah guru Pendidikan Kewarganegaraan (Pendidikan Kewarganegaraan ). Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada keterkaitan yang signifikan antara peranan guru dengan siswa remaja yang sedang melaksanakan tugas-tugas perkembangannya terhadap pembangunan pengendalian diri siswa dalam menanggulangi perilaku menyimpang (agresif) siswa yang ada di lingkungan sekolahnya.

73

Dwi Sri Mulyono, 2013

Model Pengembangan Kecerdasan Moral Dalam Menanggulangi Perilaku Menyimpang Siswa (Studi Deskriptif Model Pembelajaran PKN Dalam Mengembangkan Nilai-Nilai Moral Siswa di SMK Negeri 2 Pontianak Provinsi Kalimantan Barat)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

D. Pendekatan dan Metode Penelitian

Dokumen terkait