BAB I PENDAHULUAN
1.7. Landasan Teori
1.7.3. Teori Perlindungan Hukum
Perlindungan hukum padannya dalam bahasa inggris adalah “legal protection” sedangkan dalam bahasa Belanda “rechsbecherming”. Perlindungan hukum terdiri dari dua kata, yaitu perlindungan dan Hukum.51 Perlindungan hukum tiada lain maksudnya adalah perlindungan dengan menggunakan sarana hukum atau perlindungan yang diberikan oleh hukum.52
Perlindungan hukum secara gramatikal “perlindungan” berasal dari kata lindung yang berarti mendapatkan dirinya dibawah sesuatu supaya tidak kelihatan. Arti perlindungan adalah segala upaya yang dilakukan untuk melindungi subyek tertentu, juga dapat diartikan sebagai tempat berlindung dari segala sesuatu yang mengancam.
Satjipto Raharjo mengemukakan perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman terhadap hak azasi manusia yang dirugikan oleh orang lain dan
50 Kurniawan, 2010, “Kedudukan dan Kekuatan Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), dalam Manajemen Perlindungan Hukum bagi Konsumen”, Disertai Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Brawijaya, Malang, hlm. 41.
51 Yasanegara I Gede, 2008, “Perlindungan Hukum Terahdap Istri dari Kekerasan Menurut Hukum Positif di Indonesia”, Disertasi Program Doktor Ilmu Hukum, Universitas 17 Agustus 1945,Surabaya, hlm. 19.
perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.53
Landasan pijak perlindungan hukum bagi rakyat (masyarakat atau konsumen) di Indonesia adalah Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahu 1945, karena merupaka dasar idiologi dan falsafah bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dengan menempatkan hukum sebagai panglima dn bukan kekuasaan. Penghormatan terhadap hak-hak azasi manusia dan memposisikan bangsa Indonesia sebagai Negara hukum menimbulkan konsekuensi yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh pemerintah sebagai penyelenggara Negara.
Konstitusi Negara menjamin adanya perlindungan bagi rakyat. K.C.Wehcare dalam bukunya konstitusi-konstitusi modern mengatakan pernyataan tentang hak-hak manusia jelas berkaitan dengan persoalan konstitusional. Ia berkaitan terutama dengan pembatasan kekuasaan raja dan perlindungan pada hak-hak tertentu rakyat.54
Di beberapa Negara, termasuk konstitusi Irlandia, para penyusun konstitusi mengiginkan bahwa amandemen harus menjadi proses yang disengaja, bahkan hak- hak warga Negara harus dijaga. Para penyusun konstitusi mempunyai pertimbangan bahwa hak-hak warga Negara tidak boleh dilanggar atau dihapuskan oleh eksekutif maupun legeslatif.
53 Satjipto Rahardjo,2007, “Penyelenggaraan Keadilan Dalam Masyarakat yang Sedang Berubah”, Majalah Hukum dan Pengembangan, No. 1-6 Tahun X/10/2007.
54 K.C. Wheare, 2003, Konstitusi-konstitusi Modern (Modern Constituions), (Terjemahan Muhammd Hardani), Pustaka Enreka, Surabaya, hlm. 16.
Philipus M. Hadjon dengan menggunakan konsep barat sebagai kerangka piker dan landasan pijak pada pancasila merumuskan prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia yang bersumber pada Pancasila dan prinsip Negara hukum yang berdasarkan pancasila.55
Black’s Law Dictinary memberikan pengertian protection sebagai berikut: 1. The act of protecting (tindakan melindungi), 2. Protectionism (proteksionisme), 3. Coverage (menutup),4. A document give by a notary public to sailors and other persons who travel abroad, certiviyimg that the bearer is a U.S. citizen (suatu dokumen yang diberikan oleh seorang notaries kepada pelaut atau orang lain yang melakukan perjalanan keluar negeri, yang menegaskan pemegangnya adalah warga Negara Amerika Serikat).56
Pengertian yang dikemukakan oleh para ahli dipertegas dala pasal 1 angka 1 Undang-undang Perlindungan Konsumen, bahwa perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen.
Berdasarkan definisi perlindungan konsumen yang ada dalam Undang-undang Perlindungan Konsumen, muncul kerangka-kerangka umum tentang sendi-sendi pokok pengaturan perlindungan konsumen sebagai berikut:
1. Kesepakatan antara konsumen dan pelaku usaha
55 Philipus M. Hadjon, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, Suatu Studi
Tentang Prinsip-prinsipnya, Penanggung oleh Pengadilan Dalam Linkgungan Peradilan Umum dan pembentukan peradilan administrasi Negara, PT. Bina Ilmu, Surabaya, selanjutnya disebut Philipus M. Dadjon I) hlm. 20.
56 Bryan A. Gamer 2004, (ed), Black’s Law Dictionry, Eight Edition, A Thomson Business, , hlm. 1259.
2. Konsumen mempunyai hak
3. Pelaku usaha mempunyai kewajiban
4. Pengaturan tentang perlindungan konsumen berkontribusi pada pembangunan nasional
5. Perlindungan konsumen pada bisnis yang sehat 6. Keterbukaan dalam promosi barang dan jasa 7. Pemerintah perlu berperan aktif
8. Masyarakat juga perlu berperan serta
9. Perlindungan konsumen memerlukan terobosan hukum dalam berbagai bidang
10.Konsep perlindungan konsumen memerlukan pembinaan sikap.
Salah satu fungsi hukum adalah, untuk memberikan perlindungan kepada warga masyarakat, terutama yang berada pada posisi lemah akibat hubungan hukum atau kedudukan yang tidak seimbang. Demikian halnya dengan perlindungan pada konsumen. Perlindungan hukum selalu berkaitan dengan kekuasaan. Menurut Philipus M. Hadjon ada dua kekuasaan yang menjadi perhatian, yaitu:
Kekuasaan pemerintah dan kekuasaan ekonomi, dalam hubungan dengan kekuasaan, masalah perlindungan hukum adalah menyangkut perlindungan hukum bagi rakyat (yang diperintah) terhadap yang memerintah (pemerintah). Sedangkan permasalahan perlindungan ekonomi adalah perlindungan terhadap si lemah terhadap si kuat.57
Kaitan perlindungan hukum yang dilakukan pemerintah/penguasa, Philipus M. Hadjo membedakan dalam dua macam, yaitu:58
1. Perlindungan hukum preventif adalah perlindungan hukum dimana rakyat diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan (Inspraak) atau
57 Phillipus M. Hadjon, 1984,“Perlindungan Hukum Dalam Negeri Hukum Pancasila,
Makalah pada Simposium Politik, Hak Asasi Manusia dan Pembangunan Hukum”, Lustrum VIII, Universitas Airlangga, Surabaya, selanjutnya disebut Phillipus M. Hadjon), hlm. 1.
pendapatnya sebelum sebelum sesuatu keputusan keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitive. Dengan demikian perlindungan hukum preventif bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa. Perlindungan hukum preventif sangat besar artinya bagi tindakan pemerintah yang didasarkan pada kebebasan bertindak karena dengan perlindungan hukum tersebut, pemerintah didorong untuk bersikap hati-hati dalam pengambilan keputusan.
2. Perlindungan hukum represif, yaitu upaya perlindungan hukum yang dilakukan melalui badan peradilan, baik peradilan umum maupun peradilan administrasi Negara. Perlindungan hukum represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa.
Perlindungan hukum oleh Negara /pemerintah lebih ditekankan kepada unsur Negara /pemerintah sebagai pemegang kedaulatan. Untuk itu, perlindungan hukum yang diberikan oleh Negara/pemerintah kepada warga Negara dapat dilihat dalam instrument hukum dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Perlindungan konsumen berkaitan dengan perlindungan hukum. Oleh karena itu perlindungan konsumen mengandung aspek hukum. Materi yang mendapat perlindungan konsumen bukan sekedar fisik saja melainkan hak-hak yang bersifat abstrak. Perlindungan konsumen sesungguhnya identik dengan perlindungan yang diberikan hukum terhadap hak-hak konsumen.
Menteri kehakiman Mudjono dalam dmbutanya pada pembukaan symposium Aspek-aspek Hukum Masalah Perlindungan Konsumen yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) di Jakarta pada tanggal 16-18 Oktober1980, mengemukakan dua alasan mengapa perlindungan konsumen merupakan salah satu masalah penting di dunia dewasa ini. Pertama, bahwa seluruh anggota masyarakat adalah konsumen yang perlu dilindungi dari kualitas benda dan jasa yang diberikan oleh produsen kepada masyarakat. Kedua, ternyata para
konsumen adalah pihak yang sangat menentukan dalam pembinaan modal untuk menggerakan roda perekonomian.59
Berkaitan dengan upaya pemberian perlindungan hukum terhadap konsumen, maka teoti perlindungan hukum yang dikemukakan oleh Philipus M.Hadjo sangat relevan untuk dijadikan acuan dalam penelitian ini. Perlindungan hukum yang dimaksud adalah perlindungan hukum baik yang bersifat preventif maupun represif.
Perlindungan hukum preventif pada konsumen dapat dilakukan dengan memperbanyak kegiatan sosialisasi kepada masyarakat, baik pelaku usaha maupun konsumen tentang keberadaan perangkat hukum yang mengatur tentang praktek periklanan, sehingga pihak yang bersangkutan dapat memahami hak dan kewajiban masing-masing. Pemahaman itu, nantinya diharapkan tumbuh kesadaran hukum untuk mematuhi ketentuan-ketentuan hukum yang ada.
Sementara perlindungan hukum yang bersifat represif adalah upaya perlindungan hukum terhadap konsumen apabila sudah terjadi sengketa atau perselisihan. Perlindungan hukum represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa. Kontek ini diharapkan ketentuan hukum positif dapat ditegakkan di dalam pengadialn oleh hakim. Apabila konsumen menuntut ganti kerugian, maka hal itu diharapkan dapat direalisasikan dengan menegakkan hukum melalui proses penyelesaian sengketa di pengadilan atau melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).
59 Sambutan Menteri Kehakiman RI Pada Simposium Aspek-aspek Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta 16-18 Oktober, 1980.