• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.1 Teori Sinyal ( Signalling Theory)

Menurut teori sinyal (signalling theory) adalah suatu tindakan yang diambil oleh manajemen suatu perusahaan yang memberi petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Perusahaan dengan prospek yang menguntungkan akan mencoba menghindari penjualan saham dan mengusahakan setiap modal baru yang diperlukan dengan cara-cara lain, termasuk penggunaan hutang. Signaling Theory mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik dari pada perusahaan lain.

Teori Sinyal menjelaskan mengapa perusahaan mempuyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Manager memberikan informasi melalui laporan keuangan bahwa mereka menerapkan kebijakan akuntansi konservatisme yang menghasilkan laba yang lebih berkualitas karena prinsip ini mencegah perusahaan melakukan tindakan membesar-besarkan laba dan membantu pengguna laporan keuangan dengan menyajikan laba dan aktiva yang berkualitas.

Teori signaling menekankan kepada pentingnya informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan terhadap keputusan investasi untuk pihak di luar perusahaan. Informasi merupakan unsur penting bagi investor dan pelaku bisnis karena informasi pada hakekatnya menyajikan keterangan, catatan atau gambaran baik untuk keadaan masa lalu, saat ini maupun keadaan masa yang akan datang bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan dan bagaimana pasaran efeknya (Ross,1977). Secara garis besar signalling theory erat kaitannya dengan ketersedian informasi. Laporan keuangan dapat digunakan untuk mengambil keputusan bagi para investor, laporan keuangan merupakan bagian terpenting dari analisis fundamental perusahaan.

Penggunaan teori signaling dalam penelitian ini informasi berupa rasio – rasio keuangan. Rasio keuangan yang digunakan antara lain rasio likuiditas, profitabilitas, aktifitas dan pertumbuhan. Rasio likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio Working Capital to Total Asset (WCTA). Rasio likuiditas, menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Rasio-rasio ini dapat dihitung melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan utang lancar. Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio Earning Before Interest an Tax to Total Asset (EBITTA) dan Retained Earning to Total Asset (RETA). Rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber daya yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan sebagainya.

Rasio aktifitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio Total Asset Turn

Over (TATO). Rasio aktifitas menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya, baik dalam kegiatan penjualan, pembelian, dan kegiatan lainnya.

2.1.2 Teori Modigliani dan Miller

Teori keuangan dividen yang diperkenalkan oleh Modigliani dan Miller (MM) yang juga dikenal dengan nama teori dividen tidak relevan menyatakan bahwa pembagian dividen kepada pemegang saham tidak ada pengaruhnya terhadap harga saham atau nilai perusahaan. Nilai perusahaan ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengelola aktiva hingga menghasilkan laba bersih bukan ditentukan oleh kebijakan pembagian dividen. Besar kecilnya dividen yang dibayarkan tidak relevan bila dihubungkan dengan nilai perusahaan. Dengan adanya pembayaran dividen, laba ditahan akan menjadi berkurang. Kebutuhan dana perusahaan tidak lagi bisa dipenuhi oleh laba ditahan.

Teori Modigliani dan Miller (MM) menyatakakan bahwa perusahaan bisa menerbitkan saham baru untuk memenuhi kebutuhan dana. Persentase tertentu kepemilikan saham bisa berubah dan akan menurunkan nilai perusahaan. Maka pembayaran dividen menurut MM hanya akan memindahkan atau membagi risiko dari pemegang saham yang lama kepada pemegang saham yang baru.

Penggunaan teori deviden dalam penelitian ini adalah rasio Retained Earning to Total Asset (RETA). Rasio Retained Earning to Total Asset menunjukan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva yang dimiliki perusahaan. Semakin besar rasio RETA semakin baik nilai suatu

perusahaan. Nilai perusahaan ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengelola aktiva hingga menghasilkan laba bersih bukan ditentukan oleh kebijakan pembagian dividen.

2.1.3 Teori Bird in The Hand

Teori Bird in The Hand yang dikemukan oleh Gordon dan Litner ini berlawanan dengan teori Modigliani dan Miller. Teori kebijakan deviden yang dikemukan oleh Gordon dan Lintner menyatakan bahwa biaya modal sendiri perusahaan akan naik apabila Dividen Payout rendah, karena investor lebih suka menerima dividen daripada capital gains. Tujuan investor untuk investasi di suatu perusahaan adalah mendapatkan deviden. Investor tidak ingin berinvestasi diperusahaan yang penerimaan deviden dalam jangka waktu yang lama. Investor akan bersedia membayar harga yang lebih tinggi untuk perusahaan yang membayar dividen saat ini. Penerimaan deviden saat ini resikonya lebih kecil daripada mendapatkan capital gain di masa yang akan datang. Teori ini berpendapat kas di tangan dalam bentuk deviden lebih bernilai daripada kekayaan dalam bentuk lain atau dengan istilah “ satu burung ditangan lebih berharga daripada seribu burung di udara”.

Keuntungan bila menerapkan teori bird in the hand adalah dengan memberikan deviden yang tinggi, maka nilai perusahaan akan tinggi dan harga saham perusahaan juga semakin tinggi. Kebijakan deviden perusahaan akan menarik minat para investor terutama yang memperhatikan kebijakan deviden suatu perusahaan. Kelemahan teori ini investor harus membayar pajak yang tinggi saat penerimaan deviden.

2.1.4 Kinerja Keuangan

Kinerja keuangan digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari penggunaan seluruh asset yang dimiliki oleh perusahaan. Kinerja keuangan secara umum juga digunakan untuk mengidentifikasi kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan. Analis dan investor menggunakan kinerja keuangan untuk membandingkan perusahaan serupa di industri yang sama atau untuk membandingkan industri atau sektor secara agregat. Kinerja keuangan juga merupakan hasil dari keputusan beberapa individu yang dibuat secara terus menerus oleh manajemen. Cakupan pengukuran kinerja keuangan berfokus pada nilai keuangan yang dicapai oleh perusahaan mencakup pada aktiva, kewajiban dan ekuitas, serta laba bersih yang merupakan penghasilan perusahaan. Dengan kinerja keuangan maka dapat diukur kondisi keuangan suatu perusahaan dalam satu masa pelaporan, kondisi keuangan ini yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan para manajer.

Penilaian kinerja adalah penentuan efektivitas operasional, organisasi dan karyawan berdasarkan sasaran, standard dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya secara periodik. Terdapat dua bentuk kinerja, yakni kinerja operasional dan kinerja keuangan. Kinerja operasional lebih ditekankan pada kepentingan internal perusahaan seperti kinerja cabang atau divisi yang diukur dengan kecepatan dan kedisiplinan. Kinerja keuangan biasanya diukur melalui rasio-rasio keuangan dan harga saham perusahaaan dalam pasar modal (Mulyadi, 2010).

Tujuan pengukuran kinerja keuangan menurut Munawir (2012:31) adalah:

1. Mengetahui tingkat likuiditas.

Likuiditas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera diselesaikan pada saat ditagih.

2. Mengetahui tingkat solvabilitas.

Solvabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi, baik keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.

3. Mengetahui tingkat rentabilitas.

Rentabilitas atau yang sering disebut dengan profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.

4. Mengetahui tingkat stabilitas.

Stabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutangnya serta membayar beban bunga atas hutang-hutangnya tepat pada waktunya.

2.2. Telaah Literatur 2.2.1 Rasio Likuiditas

Kelancaran kegiatan perusahaan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh ketersediannya aktiva lancar yang dapat mendanai usaha perusahaan. Namun, tidak semua aktiva lancar dapat digunakan untuk mendanai usaha pokok perusahaan, karena diperlukan juga untuk membayar hutang jangka pendek. Rasio likuiditas pada prinsipnya membandingkan aktiva lancar dengan hutang lancar.

Semakin besar jumlah aktiva lancar dari pada hutang lancar, maka semakin lancar

pula usaha dan pembayaran hutang perusahaan, namun jika jumlah aktiva lancar lebih kecil dari hutang lancar maka akan mengganggu usaha dan pembayaran hutang perusahaan, Handoko (2004). Oleh karena itu, rasio likuiditas adalah rasio yang berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka pendek.

Dalam penelitian ini digunakan salah satu rasio likuiditas yaitu rasio Working Capital to Total Asset (WCTA). Working capital adalah modal kerja bersih, yakni sebagian dari asset lancar yang real yang bisa digunakan untuk membiayai operasional perusahaan tanpa adanya gangguan likuiditasnya.

Dikatakan real karena modal kerja tersebut dihitung dari mengurangi aset atau aktiva lancar dengan utang lancar. Penentuan jumlah modal kerja yang dianggap cukup bagi suatu perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah jenis dan aktivitas perusahaan. Modal kerja dari suatu perusahaan jasa relatif akan lebih rendah dari pada kebutuhan modal kerja perusahaan industri.

Perusahaan jasa biasanya harus menginvestasikan sebagian besar modalnya pada aset tetap yang digunakan untuk memberikan pelayanan atau jasanya kepada masyarakat. Sebaliknya perusahaan industri harus mengadakan investasi yang cukup besar dalam aset lancar agar perusahaannya tidak mengalami kesulitan dalam kegiatan operasinya sehari-hari. Ukuran modal kerja bagi perusahaan sektor perdagangan eceran sangat berpengaruh untuk penilaian kinerja perusahaan. Semakin besar rasio modal kerja terhadap keseluruhan asset yang dimiliki menggambarkan semakin besar kemampuan perusahaan sektor perdagangan eceran mendapatkan pendapatan.

2.2.2. Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari modal-modal yang digunakan untuk operasi perusahaan, semakin tinggi angka rasio ini semakin baik karena hal itu menunjukan bahwa perusahaan mampu mengelola modalnya dengan baik sehingga menghasilkan laba yang optimal. Efektivitas dan efisiensi manajemen bisa dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan yang dilihat dari unsur unsur laporan keuangan. Semakin tinggi nilai rasio maka kondisi perusahaan semakin baik berdasarkan rasio profitabilitas. Nilai yang tinggi melambangkan tingkat laba dan efisiensi perusahaan tinggi yang bisa dilihat dari tingkat pendapatan dan arus kas. Rasio-rasio profitabilitas memaparkan informasi yang pentingkan dari pada rasio periode sebelumnya dan rasio pencapaian pesaing. Penelitian ini menggunakan rasio Earning Before Interest and Tax to Total Asset (EBITTA) dan Retained Earning to Total Asset Asset (RETA) sebagai rasio profitabilitas.

Rasio Earning Before Interest and Tax to Total Asset (EBITTA) dihitung dangan membagi penghasilan sebelum bunga dan potongan pajak dibagi dengan total aktiva. Rasio Earning Before Interest and Tax to Total Asset (EBITTA) merupakan ukuran produktivitas dari aktiva perusahaan yang sesungguhnya terlepas dari pajak atau faktor leverage. Tujuan perusahaan didasarkan pada kemampuan menghasilkan laba dari aktiva-aktivanya, rasio ini sering digunakan untuk yang berhubungan dengan kegagalan perusahaan. Selanjutnya keadaan bangkrut dalam pengertian kebangkrutan terjadi saat total kewajiban melebihi

penilaian wajar perusahaan terhadap aktiva perusahaan dengan nilai ditentukan oleh kemampuan aktiva menghasilkan laba.

Rasio Retained Earning to Total Asset Asset (RETA) menunjukan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva yang dimiliki perusahaan. Semakin besar rasio Retained Earning to Total Asset Asset RETA semakin baik nilai suatu perusahaan. Nilai perusahaan ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengelola aktiva hingga menghasilkan laba bersih bukan ditentukan oleh kebijakan pembagian dividen.

2.2.3. Rasio Aktifitas

Rasio aktivitas menurut Harahap (2009:308) menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian, dan kegiatan lainnya. Rasio ini dinyatakan sebagai perbandingan penjualan dengan berbagai elemen aset. Elemen aset sebagai pengguna dana seharusnya bisa dikendalikan agar bisa dimanfaatkan secara optimal. Semakin efektif dalam memanfaatkan dana semakin cepat perputaran dana tersebut, karena rasio aktivitas umunya diukur dari perputaran masing-masing elemen aset.

Dalam penelitian ini digunakan rasio Total Asset Turnover. Menurut Brigham dan Houston (2010:139), rasio Total Asset Turnover adalah rasio yang mengukur perputaran seluruh aset perusahaan, dan dihitung dengan membagi penjualan dengan total aset. Semakin efektif perputaran asset perusahaan maka akan semakin mampu perusahaan tersebut menghasilkan kinerja perusahaan yang lebih baik. Pengaruh perputaran asset didalam perusahaan sektor perdagangan

eceran sangat besar. Semakin besar rasio ini maka semakin besar kesempat perusahaan dapat menghasilkan keuntungan. Sebaliknya jika semakin kecil rasio ini maka semakin kecil kesempatan perusahaan menghasilkan keuntungan.

2.2.4. Peluang Pertumbuhan (Growth Opportunity)

Rasio pertumbuhan (Growth Ratio) menurut Kasmir (2012 : 107) merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan mempertahankan posisi ekonominya ditengah pertumbuhan perekonomian dan sektor usahanya.

Rasio pertumbuhan (Growth Ratio) menurut Brigham dan Houston (2001), mendefinisikan pertumbuhan sebagai perubahan aset tahunan dari total aktiva. Hal ini dapat dibuktikan melalui perusahaan yang tumbuh dapat dilihat dari peningkatan aktiva untuk memperbesar ukuran perusahaan. Konsep ini didasarkan pada dua argumentasi Pertama, pertumbuhan aktiva berbeda dengan pertumbuhan penjualan yang setiap usaha yang dilakukan secara langsung membawa implikasi pada penerimaan. Pertumbuhan aktiva mencerminkan waktu yang lebih panjang dari pertumbuhan penjualan. Kedua, investasi pada aktiva membutuhkan waktu sebelum dioperasikan, sehingga aktifitas yang dilakukan tidak terkait dengan penerimaan (Kaaro, 2002).

Pertumbuhan penjualan perusahaan menurut Firth (2008) merupakan salah satu proksi dari growth opportunity. Pertumbuhan perusahaan yang tinggi memungkinkan perusahaan memiliki laba yang tinggi dan memberikan sinyal yang baik kepada kreditor untuk mendanai proyek investasi perusahaan, karena perusahaan dirasa mampu untuk membayar beban bunga atas utang yang diberikan dan laba yang tinggi akan memungkinkan perusahaan memiliki cash

flow yang tinggi untuk mendanai proyek investasi. Perusahaan yang memiliki pertumbuhan penjualan tinggi, berarti perusahaan tersebut memiliki growth opportunity yang tinggi pula, yang artinya perusahaan tersebut memiliki proyek investasi yang menguntungkan atau proyek investasi dengan nilai NPV positif dalam jumlah banyak. Perusahaan yang mempunyai growth opportunity tinggi maka perusahaan tersebut mempunyai nilai investasi yang cukup besar terutama dalam aktiva tetap yang umur ekonomisnya kurang dari satu tahun. Investasi tersebut dilakukan dengan adanya pembangunan pabrik baru, pembelian mesin baru, teknologi informasi yang paling utama dan harus adanya perluasan pasar.

Dampak adanya investasi yang besar tersebut maka perusahaan yang mempunyai growth opportunity yang tinggi maka akan mempunyai profitabilitas yang tinggi pula. Semakin tinggi growth nya maka semakin tinggi pula profitabilitas perusahaanya. Perusahaan-perusahaan yang memprediksi akan mengalami pertumbuhan tinggi di masa mendatang cenderung lebih memilih menggunakan saham untuk mendanai operasional perusahaan. Sebaliknya, apabila perusahaan memperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang rendah, mereka akan berupaya membagi risiko pertumbuhan rendah dengan para kreditur melalui penerbitan utang yang umumnya dalam bentuk utang jangka panjang (Mai, 2006).

Penelitian ini mengukur variabel growth opportunity atau peluang perusahaan dengan menggunakan hasil bagi antara selisih nilai Sales tahun ke-t dengan Sales tahun ke t1 .

Growth Opportunity = Sales (t) - Sales (t-1)

Sales (t -1)

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep

Kerangka konsep dibentuk untuk menunjukkan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, dengan variabel moderating sebagai variabel penguat. Dalam penelitian ini variabel independennya yaitu rasio keuangan antara lain Working Capital to Total Asset (X1), Retained Earning to Total Asset (X2), Earning Before Interest and Tax to Total Asset (X3), Total Asset Turn Over (X4), sedangkan variabel dependennya adalah Harga Saham (Y), dengan Growth Opportunity (Z) sebagai variabel moderating. Penelitian dilakukan dengan mengambil perusahaan sektor perdagangan eceran yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai objek penelitian. Jangka waktu penelitian diambil dari tahun 2013 sd 2017.

Analisis rasio keuangan digunakan oleh dua pengguna utama laporan keuangan yaitu investor dan manajemen. Investor menggunakan rasio keuangan untuk melihat bagus atau tidak investasi disuatu perusahaan. Investor membandingkan rasio keuangan antar perusahaan dan antar industri, agar dapat menentukan investasi yang paling baik. Manajemen menggunakan rasio keuangan untuk menentukan dan mengevaluasi hasil kinerja perusahaan.

Kerangka konsep dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

Harga Saham Y Variabel Moderating

Growth Opportunity Z

Variabel Independen

Working Capital Total Asset

( X1 )

Retained Earning Total Asset

( X2 )

EBIT EBT

Total Asset ( X3 )

Current Liabilities ( X3 )

Sales Total Asset

( X4 )

Variabel Dependen

Penelitian ini mengukur rasio Working Capital to Total Asset, Retained Earning to Total Asset, Earning Before Interest and Tax to Total Asset, Total Asset Turn Over terhadap harga saham berdasarkan laporan keuangan dan annual report yang dipublish perusahaan sector perdagangan eceran ke publik.

3.2 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah serta tujuan penelitian maka hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

3.2.1 Pengaruh Rasio Working Capital To Total Assets (WCTA) Terhadap Harga Saham.

Modal kerja dibagi total asset merupakan rasio likuiditas untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan modal kerja dari keseluruhan aktiva yang dimilikinya. Perusahaan dengan modal kerja negatif kemungkinan besar menghadapi masalah dalam menutupi kewajiban jangka pendeknya karena tidak tersedianya aktiva lancar yang cukup untuk menutupi kewajiban tersebut. Investor menggunakan rasio likuiditas untuk mengetahui tingkat likuid perusahaan dalam penyediaan kas untuk operasionalnya perusahaan, karena rasio ini merupakan ukuran tingkat keamanan dalam memenuhi hutang jangka pendek.

Semakin besar likuiditas yang dimiliki perusahaan dapat meningkatkan harga saham karena menunjukan besarnya kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan operasionalnya terutama modal kerja yang sangat penting untuk menjaga kinerja perusahaan. Hal ini dapat memberikan keyakinan kepada investor untuk memiliki saham perusahaan tersebut, Prihatini (2009). Berdasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut :

H1 : Rasio Working Capital To Total Assets berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan sektor perdagangan eceran.

3.2.2 Pengaruh Rasio Retained Earning to Total Asset (RETA) Terhadap Harga Saham.

Laba ditahan dibagi dengan total asset merupakan rasio profitabilitas untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva yang dimiliki perusahaan. Laba ditahan merupakan laba yang tidak dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk deviden. Umur perusahaan secara implisit dinyatakan didalam rasio ini, semakin lama perusahaan beroperasional maka semakin besar kemungkinan akumulasi laba ditahan bertambah. Umumnya bila perusahaan mulai merugi, maka nilai dari total laba ditahan dan rasio ini akan menjadi negative. Semakin besar rasio Retained Earning to Total Asset (RETA) semakin baik nilai suatu perusahaan. Nilai perusahaan ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengelola aktiva hingga menghasilkan laba bersih bukan ditentukan oleh kebijakan pembagian dividen. Nilai perusahaan semakin naik maka harga saham perusahaan akan naik.

H2 : Rasio Retained Earning To Total Asset berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan sektor perdagangan eceran.

3.2.3 Pengaruh Rasio Earning Before Interest and Tax to Total Asset (EBITTA) Terhadap Harga Saham

Rasio Earning Before Interest and Tax to Total Asset disebut juga rasio Return On Assets. Menurut Riyadi (2006), Return On Assets (ROA) adalah perbandingan antara keuntungan sebelum biaya bunga dan pajak (EBIT = Earning

Before Interest And Taxes) dengan seluruh aktiva atau kekayaan perusahaan.

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dengan seluruh modal yang ada didalamnya untuk menghasilkan keuntungan, dengan menggunakan data yang ada pada Neraca dan Perhitungan Laba Rugi pada perusahaan tersebut.

Investor di pasar modal sangat memperhatikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan profit, jika laba perusahaan tinggi maka para investor akan tertarik untuk membeli saham tersebut, sehingga harga saham tersebut akan mengalami kenaikan. Penelitian tentang rasio profitabilitas perusahaan terhadap harga saham pernah dilakukan oleh Zuliarni (2012), hasilnya menunjukkan bahwa profitabilitas perusahaan berpengaruh positif terhadap harga saham.

H3 : Rasio Earning Before Interest and Tax to Total Asset berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan sektor perdagangan eceran.

3.2.4 Pengaruh Rasio Total Asset Turn Over (TATO) Terhadap Harga Saham Rasio Total Asset Turn Over (TATO) dinyatakan dengan perbandingan antara Sales dengan Total Asset. Rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan. Rasio ini mengukur seberapa efesien aktiva tersebut telah dimanfaatkan untuk memperoleh penghasilan. Semakin tinggi Total Assets Turn Over berarti semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan. (Brigham, 2010:137).

Rasio perbandingan Sales dengan Total Asset ini menunjukkan efisiensi manajemen dalam menggunakan aset perusahaan untuk menghasilkan penjualan dan mendapatkan laba. Nilai rasio S/TA yang rendah menunjukkan bahwa asset

yang dimiliki perusahaan terlalu besar dibandingkan dengan kemampuan untuk menghasilkan penjualan, sebaliknya jika nilai rasio S/TA tinggi menunjukkan bahwa asset dengan asset yang dimiliki dapat menghasilkan penjualan yang lebih besar. Semakin tinggi rasio ini semakin baik, karena penggunaan aktiva yang efektif dalam menghasilkan penjualan, sehingga dapat dikatakan bahwa laba yang dihasilkan juga tinggi dan dengan demikian kinerja keuangan semakin baik.

Penelitian Aldiansyah, Saryadi, Wahyu Hidayat (2013) meyatakan bahwa rasio Total Asset Turn Over berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham.

H4 : Rasio Total Asset Turn Over berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan sektor perdagangan eceran.

3.2.5 Pengaruh Rasio Growth Opportunity Terhadap Harga Saham Sebagai Variabel Moderating

Growth opportunity disebut juga kesempatan suatu perusahaan untuk tumbuh di masa yang akan datang (Brigham dan Houston, 2001). Perusahaan dengan prospek pertumbuhan tinggi biasanya lebih memilih menggunakan saham untuk mendanai operasional perusahaannya (Kartini dan Arianto, 2008) dengan harapan para pemegang saham dapat menikmati pertumbuhan tersebut.

Perusahaan dengan prospek pertumbuhan tinggi harus banyak mengandalkan modal eksternal perusahaan (Febriyani dan Srimindarti, 2010). Perusahaan dengan

Perusahaan dengan prospek pertumbuhan tinggi harus banyak mengandalkan modal eksternal perusahaan (Febriyani dan Srimindarti, 2010). Perusahaan dengan

Dokumen terkait