DAFTAR ISI
E. Kerangka Teoretik
2. Teori Sosial
Untuk mengkaji tindakan sosial organisasi Muhammadiyah, maka peneliti menggunakan teori Peter L. Berger dan Thomas Luckmann tentang kontruksi sosial dan sosiologi pengetahuan. Tindakan bidang sosial yang dilakukan Muhammadiyah sangat terkait dengan teori kontruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam bukunya “The Social Contruction of Reality: A Treatise in the Sociologi of Knowledge”. Teori konstruksi sosial dimulai dari sosiologi pengetahuan yang terdiri dari dua kata kunci, yaitu “kenyataan” dan “pengetahuan”. Kenyataan berarti sebagai suatu realitas yang terdapat dalam fenomena-fenomena yang dianggap sudah memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada keinginan pribadi. Sedangkan pengetahuan adalah kepastian tentang fenomena yang empiris dan memiliki karakteristik yang jelas.79
Sosiologi pengetahuan berarti berbicara tentang sesuatu yang dianggap sebagai pengetahuan di dalam suatu masyarakat tanpa memperhatikan kebenaran dan kesalahan pengetahuan tersebut. Karena itu, sosiologi pengetahuan berarti menekuni apa yang dianggap sebagai pengetahuan oleh masyarakat.80
Berger dan Thomas menaruh perhatian kepada hubungan manusia dengan suatu gejala sosial yang merupakan tempat menghadirkan pemikiran atau gagasan yang berkembang dan dilembagakan. Kenyataan tersebut dibuat secara sosial yang menghadirkan sebuah sosiologi pengetahuan untuk menganalisis
79 Peter L Berger dan Thomas Luckmann, Tafsir Sosial Atas Kenyataan:
Risalah Tentang Sosiologi Pengetahuan, Terj. Hasan Basri (Jakarta: LP3ES, 2013), 1.
34 proses terjadinya. Selain hal itu, sosiologi pengetahuan tersebut memusatkan perhatian pada struktur dunia akal sehat ( common-sense world) dimana kenyataan sosial bisa saja didekati oleh berbagai macam pendekatan, seperti pendekatan filosofis yang bercorak moralistis dan pendekatan praktis dan fungsional yang membangun sebuah struktur bangunan dunia akal sehat yang memproduksi pengetahuan kemudian dilembagakan.
Sosiologi pengetahuan bisa menghadirkan kontruksi sosial untuk membaca fenomena yang terjadi di lapangan. Teori ini merupakan kelanjutan dari teori fenomenologi yang digagas oleh Higgel, Husserl, dan Schuctz. Konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menyatakan, bahwa agama menjadi bagian dari kebudayaan yang merupakan konstruksi manusia. Teori konstruksi berarti mengandaikan suatu proses dialektika antara individu dengan fakta realitas masyarakat yang bisa dijadikan guidance (pedoman) untuk melihat bagaimana setiap individu membentuk dan dibentuk oleh teks hadis sebagai fenomena dalam aspek kehidupan sehari-hari.81 Artinya terdapat proses dialektika antara agama dan masyarakat, karena agama atau hadis merupakan sesuatu entitas yang obyektif dan berada di luar diri manusia. Agama akan mengalami proses objektivitas seperti agama dalam teks yang menjadi tata nilai, norma dan aturan bagi setiap manusia. Karena itu, agama ditafsirkan oleh masyarakat sebagai pedoman hidup (way of life), sehingga agama mengalami proses eksternalisasi yang mengawasi dan mengontrol suatu tindakan yang dilakukan oleh masyarakat. Menurut Berger, bahwa realitas kehidupan sehari-hari memiliki dua dimensi, yaitu dimensi subyekti dan obyektif. Manusia merupakan instrument kunci dalam menciptakan realitas sosial obyektif dan eksternalisasi yang berpengaruh kepada proses internalisasi. Berger melihat bahwa masyarakat sebagai produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat.
35 Masyarakat sebagai realitas obyektif, dalam hal ini Berger sependapat dengan Durkheim yang sama-sama melihat struktur sosial yang obyektif dan juga memiliki karakter sendiri, tetapi sebenarnya memiliki hubungan eksternalisasi manusia dalam struktur yang sudah terbentuk. Eksternalisasi kemudian meluas kepada struktur sosial yang ada, sehingga struktur merupakan suatu proses yang berkembang dan berkelanjutan. Sedangkan masyarakat atau individu sebagai realitas subyektif merupakan realitas yang berasal dari realitas obyektif yang ditafsirkan oleh realitas subyektif dalam setiap kegiatan sosial. Artinya, terjadi proses dialektika antara realitas obyektif dan subyektif.82
Berdasarkan konstruksi sosial Berger dan Thomas, maka realitas sosial obyektif merupakan tumpukan informasi dari hasil interaksi dalam kehidupan sehari-hari dalam suatu masyarakat kemudian dikonstruksi oleh common sense (akal) manusia sebagai realitas subyektif, kemudian dipahami dan diterima serta direspons yang menghadirkan suatu perbuatan terhadap realitas obyektif yang membentuk dan dibentuk oleh agama (teks hadis) kemudian dipraktikkan dalam kehidupan sosial.
Bentuk operasional dari teori yang ditawarkan oleh Peter L Berger dan Thomas Luckmann adalah bagaimana masyarakat menerima, memahami dan mengamalkan pengetahuan itu yang berasal dari teks. Untuk mencapai proses ini, maka dibutuhkan transmisi dan transformasi pengetahuan yang terbagi dalam tiga tahapan, yaitu eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Ketiga tahapan tersebut merupakan interaksi dan relasi sosial yang disebut oleh Peter Berger dan Thomas sebagai bagian dari kebudayaan.
Eksternalisasi adalah proses individu atau kelompok yang mempraktikkan suatu pengetahuan seseorang yang berinteraksi dengan dunia luar. Adapun objektivasi adalah penerimaan masyarakat akan pengetahuan subjektif yang akhirnya bertemu
82 Margaret M. Poloma, Sosiologi Kontemporer (Jakarta: Rajawali Pers,
36 antara pengetahuan yang subjektif personal dengan pengetahuan objektif. Kemudian internalisasi adalah mengamalkan sebuah informasi (pengetahuan agama) yang disampaikan oleh para tokoh agama yang disepakati secara bersama. Proses itu disebut transmisi dan transformasi pengetahuan yang diresepsikan oleh masyarakat secara berbeda-beda.
Perubahan sosial bisa berlangsung secara terus menerus dan mengalami perkembangan tergantung pada proses internalisasi masyarakat atau generasi berikutnya yang menerapkan informasi yang disampaikan oleh eksternalisasi yakni tokoh agama melalui teks-teks hadis yang mempengaruhi akal pemikirannya sehingga melahirkan pelembagaan sebagai respon terhadap problem sosial masyarakat.
Gambaran proses kerja teori sosiologi pengetahuan adalah sebagai berikut:
Berdasarkan teori Peter L Berger dan Thomas Luckmann tersebut, bahwa seseorang melakukan sesuatu dipengaruhi oleh dunia luar dan interaksi sosial yang terjadi di masa lalu. Teori ini tampaknya tidak menjelaskan secara detail tentang dunia luar dan interaksi sosialnya yang mempengaruhi individu atau kelompok masyarakat tertentu di dalam melakukan tindakan sosialnya. Karena itu, peneliti akan mengembangkan teori ini, yaitu seseorang melakukan segala tindakan tentu dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor ekonomi, faktor politik, faktor sosial dan faktor budaya masyarakat yang berkembang terutama
Eksternalisasi •Individu •Kelompok
Objektivasi •Masyarakat
Internalisasi •Tiap-tiap individu
37 di masa kolonial Belanda yang merespons kelompok organisasi melakukan perubahan sosial.
Teori ini akan digunakan untuk menganalisis fenomena living hadis dalam dinamika filantropi Muhammadiyah dengan menghubungkan teori living hadis yang digunakan oleh Ahmad Rafiq dengan tiga teori resepsinya yaitu resepsi exegesis, resepsi aestetis dan fungsional dengan teori sosiologi pengetahuan dan kontruksi sosial Peter L Berger dan Thomas Luckman, yaitu faktor sosial, ekonomi, politik, dan budaya masyarakat. Atas dasar dua teori tersebut, living hadis dalam gerakan filantropi Muhammadiyah dapat menginspirasi dengan segala faktor yang mengitarinya yang meliputi sosial, ekonomi, politik, dan budaya masyarakat. Karena itu, teks hadis muncul belakangan sebagai respons terhadap problem sosial di masa silam. Hal ini sesuai ungkapan David Bloor yang mengatakan bahwa sosiologi pengetahuan itu didasarkan kepada empat faktor yakni ekonomi, politik, sosial dan budaya.83 Dalam konteks ini, kajian living hadis dijelaskan sesuai realitanya tanpa melakukan pemihakan (moderat) berdasarkan data yang diperoleh baik berasal dari data literatur maupun data lapangan.
F. Metode Penelitian