• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.11 Struktur Modal 1 Pengertian Modal

2.11.5 Teori Struktur Modal

Teori struktur modal menjelaskan apakah ada pengaruh perubahan struktur modal pada nilai perusahaan jika keputusan investasi dan kebijakan dividen dipegang konstan. Dengan kata lain, seandainya perusahaan mengganti sebagian modal sendiri dengan hutang (atau sebaliknya) apakah kinerja perusahaan akan berubah, apabila perusahaan tidak merubah keputusan-keputusan keuangan lainnya.

Teori struktur modal modern pertama kali dimulai oleh Franco Modigliani dan Merton H. Miller pada tahun 1958. Modigliani-Miller (MM) menyatakan bahwa rasio utang tidak relevan dan tidak ada struktur modal yang optimal. Hasil yang diperoleh MM menunjukkan bahwa cara sebuah perusahaan akan mendanai operasinya tidak akan berarti apa-apa, sehingga struktur modal adalah suatu hal yang tidak relevan. Gitman (2006:174) menjelaskan bahwa struktur modal merupakan kumpulan dana yang dapat digunakan dan dialokasikan oleh perusahaan di mana dana

tersebut diperoleh dari utang jangka panjang dan modal sendiri. Struktur modal yang optimal adalah gabungan ekuitas yang memaksimumkan kinerja perusahaan.

2.11.5.1 Pendekatan Modigliani-Miller

Menurut pendekatan Modigliani-Miller (MM), nilai perusahaan tidak dipengaruhi oleh struktur modal. Pendapat MM tersebut didasarkan pada ide bahwa perusahaan dapat dengan bebas membagi struktur modal antara hutang, saham preferen dan saham biasa. Pernyataan tersebut didukung dengan adanya proses arbitrase, dimana nilai perusahaan yang menggunakan hutang maupun tidak menggunakan hutang pada akhirnya sama. Proses arbitrase muncul karena investor lebih menyukai investasi yang sama tetapi menghasilkan keuntungan lebih besar atau dengan investasi yang lebih kecil tapi menghasilkan keuntungan yang sama.

Menurut Sundjaja dan Barlian (2003:164), menyatakn bahwa teori Modigliani-Miller (MM) menunjukkan secara aljabar bahwa dengan asumsi pasar sempurna, struktur modal yang dipilih perusahaan tidak mempengaruhi nilainya. Artinya bahwa dalam keadaan pasar sempurna maka penggunaan hutang adalah tidak relevan dengan nilai perusahaan, tetapi dengan adanya pajak maka hutang akan menjadi relevan.

Peraturan perpajakan memperbolehkan pengurangan pembayaran bunga sebagai beban, tetapi pembayaran dividen kepada pemegang saham tidak dapat dikurangkan. Perlakuan yang berbeda ini mendorong perusahaan untuk menggunakan hutan dalam struktur modalnya. MM membuktikan bahwa karena bunga atas hutang dikurangkan dalam perhitungan paka, maka nilai perusahaan meningkat sejalan dengan makin besarnya jumlah hutang dan nilainya akan mencapai titik maksimum bila seluruhnya dibiayai dengan hutang.

2.11.5.2 Teori Trade-Off

Menurut Hanafi (2003:309), ada hal-hal yang membuat perusahaan tidak bisa menggunakan hutang sebanyak-banyaknya. Satu hal yang terpenting adalah dengan semakin tinggi hutang, akan semakin tinggi kemungkinan kebangkrutan. Semakin

tinggi hutang, semakin besar bunga yang harus dibayarkan. Kemungkinan tidak membayar bunga yang tinggi akan semakin besar. Pemberi pinjaman dapat membangkrutkan perusahaan jika perusahaan tidak dapat membayar hutang.

Teori Trade-off menyatakan bahwa struktur modal optimal diperoleh dengan menyeimbangkan keuntungan penggunaan hutang dengan financial distress (kesulitan keuangan) dan agency cost (biaya keagenan). Dari model ini dapat dinyatakan bahwa perusahaan yang tidak menggunakan pinjaman sama sekali dan perusahaan yang menggunakan pembiayaan investasinya dengan pinjaman seluruhnya adalah buruk. Keputusan terbaik adalah keputusan yang moderat dengan mempertimbangkan kedua instrument pembiayaan.

Trade-off theory mempunyai implikasi bahwa manajer akan berpikir dalam kerangka trade-off antara penghematan pajak dan biaya kesulitan keuangan dalam penentuan struktur modal. Perusahaan-perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi tentu akan berusaha mengurangi pajaknya dengan cara meningkatkan rasio utangnya, sehingga tambahan hutang tersebut akan mengurangi pajak.

Dalam kenyataannya jarang manajer keuangan yang berpikir demikian. Penelitian yang pernah dilakukan terhadap perilaku struktur modal perusahaan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi cenderung rasio hutangnya rendah. Hal ini berlawanan dengan pendapat trade-off theory.

2.11.5.3 Teori Pecking Order

Pecking order theory mengasumsikan bahwa perusahaan bertujuan untuk memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham melalui pendanaan internal. Perusahaan berusaha menerbitkan sekuritas pertama dari internal fund, retained earnings, kemudian utang berisiko rendah dan terakhir ekuitas (Darminto dan Adler, 2008:274). Pecking order theory memprediksi memiliki scenario urutan sebagai berikut :

1. Perusahaan memilih pendanaan internal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba yang dihasilkan dari kegiatan perusahaan.

2. Perusahaan menghitung target rasio pembayaran didasarkan pada perkiraan kesempatan investasi. Perusahaan berusaha menghindari perubahan dividen yang tiba-tiba dengan kata lin pembayaran dividen diusahakan konstan, walaupun berubah tetapi tidak berubah secara signifikan.

3. karena kebijakan dividen yang konstan, digabung dengan fluktuasi keuntungan dan kesempatan investasi yang tidak bisa diprediksi, akan menyebabkan aliran kas yang diterima oleh perusahaan akan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran investasi pada saat-saat tertenut dan akan lebih kecil pada saat lain. Jika kas tersebut lebih besar, perusahaan akan membayar hutang atau membeli surat berharga, begitupun sebaliknya. Jika kas tersebut kecil, perusahaan akan menggunakan kas yang dimiliki atau menjual surat berharga.

4. Jika pendanaan eksternal diperlukan, perusahaan akan mengeluarkan surat berharga yang paling aman terlebih dahulu.

Pecking order theory tidak mengindikasikan target struktur modal. Pecking

order theory menjelaskan urutan pendanaan. Manajer keuangan tidak

memperhitungkan tingkat hutang yang optimal. Kebutuhan dana ditentukan oleh kebutuhan investasi. Pecking order theory ini dapat menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan yang tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang kecil.

Teori Pecking Order yang berdasarkan asimetri informasi akan memengaruhi struktur modal perusahaan dengan cara membatasi akses pada sumber pendanaan dari luar. Asimetri informasi ini berguna bagi para investor untuk menginterpretasi bahwa sebuah situasi kurang baik apabila sebuah perusahaan mendanai investasinya dengan menerbitkan ekuitas dan ekuitas ini hanya akan dikeluarkan apabila saham dinilai tinggi (Abimbola, 1998:138).

Menurut Chirinko dan Singha (2000:417) terdapat dua bentuk dari Pecking Order Theory, yakni :

a. Strong Form, yang menyatakan bahwa dalam bentuk kuat perusahaan tidak akan pernah menerbitkan saham, hanya menggunakan pembiayaan internal dan utang.

b. Weak Form, yang menyakan bahwa dalam bentuk ini dimungkinkan untuk menerbitkan saham baru yang dapat terjadi pada dua situasi spesifik yang tidak bertentangan dengan teori ini.

2.11.5.4 Pengukuran Struktur Modal

Menurut Martono dan Agus Harjito (2007:59) bahwa struktur modal diukur dengan tingkat Debt to Equity Ratio (DER), yang merupakan perbandingan total hutang yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri (ekuitas). Martono dan Agus Harjito (2007:59) mengatakan Debt to Equity Ratio (DER) adalah perbandingan total hutang yang dimiliki oleh perusahaan dengan modal sendiri.

DER menunjukkan perbandingan dana yang disediakan perusahaan yang berasal dari kreditur perusahaan. Hal ini mengakibatkan terjadinya :

1. Para kreditur melihat modal sendiri perusahaan atau dana yang disediakan pemilik untuk menentukan besarnya margin pengalaman.

2. Dengan mencari dana yang berasal dari hutang, pemilik memperoleh manfaat mempertahankan kendali perusahaan dengan investasi terbatas.

3. Jika perusahaan memperoleh hasil yang lebih besar daripada dana yang dipinjam, maka hasil pengembalian para pemilik akan meningkat.

Rasio DER digunakan untuk mengukur tingkat penggunaan hutang terhadap shareholder’s equity yang dimiliki perusahaan dan dirumuskan sebagai berikut :

0 = ! 1

Semakin tinggi DER menunjukkan ketergantungan perusahaan terhadap pihak luar yang tinggi sehingga semakin berat beban perusahaan. Tingkat hutang yang dimiliki perusahaan akan mempengaruhi laba perusahaan. Tingginya DER akan mempengaruhi keputusan investor untuk berinvestasi di dalam perusahaan, karena investor pasti lebih tertarik pada perusahaan yang memiliki laba yang tinggi dengan beban hutang yang rendah.

Analisis debt to equity ratio penting karena digunakan untuk mengukur tingkat penggunaan hutang sebagai sumber pembiayaan perusahaan yang mancakup kewajiban lancar maupun hutang jangka panjang, dalam menilai kinerja keuangan perusahaan.

Dokumen terkait